Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Umum Gairah Mbak Ina....

Diskusi di 'Cerita Cerita Seru' dimulai oleh boygame, 28 Jul 2007.

  1. boygame

    boygame Mania

    Joined:
    24 Nov 2006
    Pesan:
    254
    Likes Yg Diperoleh:
    4
  2. Minkalimin

    Minkalimin Senior

    Joined:
    6 Jun 2007
    Pesan:
    1.946
    Likes Yg Diperoleh:
    324
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    kenapa ga di copy paste disini aja bro
  3. hofa

    hofa Banned

    Joined:
    21 May 2007
    Pesan:
    1.919
    Likes Yg Diperoleh:
    4
    kenapa harus disimpan rapat gitu bro?
  4. BlackJohn

    BlackJohn Junior

    Joined:
    29 Apr 2006
    Pesan:
    23
    Likes Yg Diperoleh:
    4
    ni untuk cerita di atas enjoy;)

    GAIRAH MBAK INA

    Sepulang dari pertemuan di Yogya, Mbak Ina tetap bersikap
    biasa-biasa padaku di kantor. Aku juga tidak berusaha
    memancing percakapan yang bersifat pribadi atau memandangnya
    dengan tatapan sayang, agar tidak menimbulkan kecurigaan
    teman-teman sekantor. Begitulah, di lingkungan kantor ia tetap
    seorang Ibu Ina yang tegas, tetapi ramah, baik kepada karyawan
    dan setia pada keluarga. Tetapi dalam hatiku ia kuanggap
    sebagai kekasih.


    Empat bulan setelah penugasan ke Yogya, aku dipanggil oleh
    Direktur Utama. "Saudara Agus, saya memanggil saudara untuk
    memberitahukan bahwa minggu depan ada pertemuan sangat penting
    tentang quality control of product untuk regional Asia di
    Singapura. Lamanya 3 hari. Orang yang saya percayai untuk
    hadir pada pertemuan itu adalah Ibu Ina dan saudara Agus.
    Mengapa? Sebab berdasarkan catatan psikolog perusahaan dan
    rekomendasi dari Ibu Ina serta memperhatikan kinerja saudara
    selama ini, saudara sudah mampu bekerja pada bagian yang Ibu
    Ina pimpin. Dan sepulang dari Singapura, saudara akan kami
    berikan tugas baru sebagai Manager Assisstant Ibu Ina,
    tentunya dengan standar penghasilan dan fasilitas sebagaimana
    mestinya. Kami harap saudara bersedia menerima tugas dan
    promosi ini."


    "Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya,
    Pak, tapi saya minta ijin untuk melakukan adaptasi dalam waktu
    2 minggu agar dapat mempelajari hal-hal yang menjadi kewajiban
    saya. Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan Bapak dan pimpinan
    lain atas kepercayaan yang diberikan," aku menjawab dengan
    riang, apalagi membayangkan berduaan lagi dengan Mbak Ina.


    Pada hari yang ditentukan, Mbak Ina berangkat denganku menuju
    Singapura. Kami masih memiliki waktu sehari untuk bersiap-siap
    mengikuti pertemuan regional tersebut. Waktu berada di
    pesawat, Mbak Ina berbisik padaku, "Gus, jangan lupa ya, tiap
    malam kamu harus tidur di kamarku lho, walaupun kita tetap
    menyewa dua kamar hotel."


    "Tentu saja, Mbak. Dengan senang hati," balasku.


    Setiba di Singapura, kami naik taxi menuju hotel yang telah
    dipesan dari Jakarta. Kami diantar oleh room boy hotel ke
    kamar masing-masing. Baru lima belas menit di kamar, telepon
    berdering, "Hello, Dik Agus, ke kamarku aja dulu sekarang ya?"
    kudengar suara Mbak Ina.


    "Iya Mbak. Ha.. ha.. sabaarr, ojo kesusu yo Mbak!" godaku
    sambil tertawa.


    "Iiihhh, ngomong kesusu, udah ngeres aja kamu ya? Hi ... hi
    ... hi ..." sambutnya terkikik lembut. "Pokoknya buruan, lewat
    dari sepuluh menit, pintu tidak dibuka lagi," ancamnya.


    "Daulat Tuan Puteri, hamba akan segera datang memenuhi
    panggilan Tuanku," kujawab ancamannya dengan rayuan.


    Agar tidak ada yang curiga apabila memergoki aku masuk ke
    kamar wanita yang bukan isteriku, aku datang menenteng tas
    berisi notebook dan berpakaian rapi. Tidak sampai lima menit,
    aku sudah berdiri di depan kamarnya dan mengetuk. Aku terpana,
    tanganku ditarik masuk dan dengan cepat pintu telah ditutup
    oleh Mbak Ina yang sudah berdiri di depanku dengan hanya
    mengenakan celana dalam dan BH. Tubuhnya yang langsing begitu
    sexy, pinggulnya begitu indah dan pantatnya yang padat serta
    dada yang agak membusung meskipun payudaranya tidak begitu
    besar, membuat mataku cepat mengirimkan info ke otak. Aku
    merasa darahku mengalir semakin cepat di sekujur tubuhku.
    Wajahku langsung memerah melihat penampilannya dan desakan di
    pangkal pahaku semakin sempit terasa karena reaksi alami.


    "Kita mandi dulu yuk," ajaknya sambil membukai dasi, baju dan
    celanaku, hingga aku hanya benar-benar telanjang bulat di
    hadapannya. "Luar biasa! Mbak Ina yang sangat berwibawa di
    kantor, rela memberikan tubuhnya bagiku," batinku. Ditariknya
    tanganku setengah menyeret dan dengan cepat ia melepaskan
    celana dalam dan BH-nya, sehingga kami berdua berjalan ke
    kamar mandi bagaikan dua bayi raksasa yang siap berendam di
    bathtub.


    Sesampainya di dalam, kulihat air hangat di bathtub telah
    penuh dan wangi-wangian rempah begitu semerbak memenuhi kamar
    mandi tersebut. Rupanya Mbak Ina sebelumnya membawa bekal
    untuk menambah sensasi kebersamaan kami. Kami pun bergandengan
    tangan masuk ke dalam bathtub. Dalam keadaan masih berdiri
    kami berpelukan dan berciuman dengan ganas, maklum telah empat
    bulan berlalu sejak kejadian di Yogya, kami sama-sama rindu
    suasana penuh kegilaan itu lagi. Sambil terus berciuman kami
    duduk berhadapan di bathtub, tangan kami saling mengelus tubuh
    yang lain. Payudaranya kuremas-remas dengan lembut, putingnya
    kubelai-belai. Ia membalik tubuhnya dan duduk di pangkuanku.
    Penisku kurasa sudah begitu tegang apalagi waktu pantatnya
    turun menindih kedua belah pahaku. Kedua pahanya agak dibuka
    dan memberi ruang bagi penisku untuk bersentuhan dalam air
    dengan rambut-rambut kemaluannya. Aku mengambil sabun dan
    menyabuni bahu, punggung, pinggulnya, kemudian tanganku
    bergerak ke bagian depan tubuhnya menyabuni pundak depannya,
    turun ke payudara, di situ kedua tanganku mengelus-elus kedua
    puting payudaranya, juga meremas kedua belah payudaranya
    dengan gerakan melingkar, hingga ia mendesah-desak nikmat.


    "Oohhh, ya .... ya, gitu Gus. Ssshhh...., addduuuhhh .... enak
    .... oughhh nikmatnya Gus?" serunya sambil tangannya
    mengelus-elus penisku yang dijepit oleh kedua pahanya yang
    kupangku.


    Erangannya semakin meninggi sewaktu tangan kananku turun ke
    arah perutnya, mengusap-usap rambut kemaluannya yang halus dan
    mengait-ngait klitorisnya perlahan-lahan. Tangan kiriku terus
    merabai kedua puting dan payudaranya secara bergantian dan
    kadang-kadang bersamaan. Kurasakan deburan jantungnya semakin
    kencang dan pantatnya menggeliat-geliat di atas pahaku.


    "Ohhh ... shhhh ... udah dulu Gus, aku sudah tak tahan ...
    ntar kita teruskan ... di ranjang. Aku mulai kedinginan nih,"
    tiba-tiba ia bangkit berdiri dan membilas tubuhnya dengan air
    yang mengucur dari shower. Kubiarkan ia meraih handuk dan
    melap tubuhnya sambil berjalan keluar. Aku pun segera
    menyelesaikan mandi, mengambil handuk dan dengan cepat
    mengeringkan tubuhku.


    Kulihat ia sudah berbaring di ranjang di bawah selimut. Aku
    melompat ke ranjang dengan bertelanjang, hingga ia tersenyum
    melihat ulahku. Kubuka selimutnya dan masuk ke bawah selimut
    bersama-sama dengan Mbak Ina. Wah, ternyata ia sama saja
    denganku, sama-sama bertelanjang. Tiba-tiba kedua tangannya
    meraih kepalaku dan menciumi pipiku, hidungku dan berhenti di
    bibirku. Kami saling melumat dengan ganas dan lidah kami
    saling memilin. Geliatnya semakin tak menentu saat tanganku
    meremas kedua bulatan di dadanya, terlebih lagi waktu
    jari-jariku bermain di putingnya dan melumatnya dengan
    bibirku.


    "Ahh... ekhh ... sshhh... Gus .... terus .... terusss....
    shhh," rintihnya.


    Agak lama kubenamkan wajah di payudaranya dan tiba-tiba aku
    bangkit dan menarik kedua kakinya di atas pahaku dan
    menempatkan wajahku di pangkal pahanya. Aku begitu bernafsu
    melihat gundukan kecil yang ditumbuhi rambut-rambut tipis di
    pahanya. Kugerai rambut kemaluannya sambil mencari-cari
    klitorisnya yang sudah begitu kurindukan. Setelah kutemukan
    tonjolan sebesar kacang yang semakin tegang, kubelai-belai
    dengan gerakan dari atas ke bawah, lalu membuat gerakan
    memutar dengan telunjuk kananku. Lidahku kujulurkan menyentuh
    klitorisnya dan mengulas-ulasnya sehingga bola matanya kulihat
    membeliak menahan nikmat yang semakin melanda dirinya. Isapan
    mulutku pada klitorisnya ditambah dengan tusukan jari-jariku
    memasuki liang vaginanya yang semakin lembab membuatnya
    semakin meracau.


    "Sshhh ... ukhhh .... ahhhh... sssshhh ..... oookhhh .... say
    .... ekkhhh .... ouggghhhh," rintihannya semakin kuat dan
    sesekali ia menjerit di kala klitorisnya kuisap kuat.


    Lidahku bermain turun dari klitorisnya, kedua belah bibir
    bawahnya tak luput dari jilatan dan kuluman lidah dan
    permainan bibirku. Dengan jari-jariku, kukuakkan kedua
    labianya ke kanan kiri sehingga terlihat warna merah merona
    vaginanya yang indah. "Akkkhh ... nikmattthhh ....
    Guuusss..... oooohhhhhhhhhhhhhhhh ...." jeritnya sewaktu
    lidahku kusapukan ke bagian dalam vaginanya yang terpampang
    lebar karena kedua labianya kutarik ke kanan kiri. Ia
    terengah-engah karena rasa nikmat yang semakin memuncak.
    Kulihat keringat mulai menetes di lehernya, juga dada, perut
    dan pinggangnya.


    Lidahku terus turun hingga melewati ujung bawah vaginanya.
    Kini sasaranku adalah lubang analnya. Kuarahkan hidung
    mengendus-endus analnya. Ia menggeliat kegelian, tetapi tidak
    berusaha menolakkan kepalaku. Bibirku mulai menciumi tepi-tepi
    analnya dan lidahku mulai mencari-cari lubang analnya.
    Jari-jariku kupakai untuk membuka analnya lebih lebar sehingga
    lidahku masuk ke analnya. Mendapat perlakuan demikian,
    pantatnya tiba-tiba terangkat ke atas dan rintihannya semakin
    keras mengatasi suara televisi yang sedang menyiarkan warta
    berita. "Ihhhhh .... nikmaaaaattthhhhh ...." Analnya terus
    kujilati sambil jari-jariku terus mengusap-usap labia dan
    klitorisnya.


    "Okkhhhhh ..... ssshhhhh ... Gussss, aku tak kuuuu....att
    ..... ahhhhhh..... aku mau ... ke .... kelll.....luarrrrr
    ....." ia menjerit-jerit sambil menggeliat-geliat. Tiba-tiba
    kurasakan vaginanya membanjir dengan cairan yang cukup banyak.
    Tak mau kehilangan momentum yang menentukan, kuarahkan bibir
    dan mulutku ke vaginanya dan menyedot dengan rakusnya cairan
    kenikmatan yang dihasilkannya. Telunjuk kiriku masuk ke
    vaginanya, menusuk dalam-dalam sedangkan telunjuk tangan
    kananku dengan cepat menembus analnya hingga lebih setengah
    jariku ditelan analnya yang berdenyut-denyut menjepit jariku.


    "Sayannnnngggg ...oohhh .... akkk ..... ku keluarrrrr ....."
    teriaknya sambil kepalanya dihempas-hempaskan ke kiri dan
    kanan. Tangannya meremas-remas kedua buah dadanya dengan ganas
    dan pahanya dirapatkan dengan jariku masih terjepit dalam
    analnya.


    Sesudahnya ia tergolek lemas dengan senyum manis dan tatapan
    sayu ke arahku. Aku membalas dengan mengecup bibirnya berbagi
    cairan kenikmatannya yang masih tersisa di mulutku. Ia amat
    bergairah menyambut ciumanku dan tidak merasa jijik menjilati
    cairannya yang ada di mulutku.


    Tubuhku kuletakkan miring memeluk dirinya dari belakang.
    Sambil kuelus-elus bahu, pinggang dan pinggulnya, penisku
    mengambil posisi tepat di belakang pantatnya. Kurenggangkan
    sedikit pahanya dan perlahan-lahan penisku mencari-cari lubang
    analnya. Karena begitu sempit, kugunakan lagi jari-jariku
    meraba dan menusuk analnya setelah membasahinya dengan
    ludahku. Ia tersentak dengan style yang kupakai sekarang.
    Analnya semakin membesar saat topi baja kepala penisku
    memasuki sedikit demi sedikit. Kuhunjamkan penisku semakin
    dalam dan ia kembali mengerang. Kembali birahinya naik
    menyambut tusukan-tusukan mautku dan remasan jari-jariku di
    payudaranya. Karena posisinya demikian kritis, penisku masuk
    sebagian saja ke dalam analnya. Merasa kurang sreg, aku
    menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap dan penisku masuk
    seluruhnya hingga ia mendongakkan kepala dengan jeritan kuat,


    "Gus .... ohhhhh ... pelan-pelan, oohhh .... ssshhhh ....
    sssaaakiiittt...."


    "Tenang say, ntar lagi juga bakal enak kau rasakan ...."
    hiburku sambil menarik penisku dan memasukkannya lagi dengan
    gerakan yang lebih lambat.


    Benar saja, bukannya merasa sakit, perlahan-lahan Mbak Ina
    merasakan nikmat yang tak terhingga saat penisku kembali masuk
    keluar analnya, apalagi jari-jari tanganku turut merogoh
    vaginanya dari depan merangsang klitoris dan labianya yang
    membanjir dengan cairan kenikmatan. "Sssrrrt.... crrett ...
    ssrrrt ... crrrtt," terdengar suara yang aneh saat penisku
    melesak maju mundur dalam analnya.


    "Sssshhh .... aaahhh ..... ekkk ...... sssshhh......
    ooooougggghhhhh....." lenguhnya berusaha menahan agar tidak
    cepat-cepat orgasme. Tapi ia tak kuasa menahan lebih lama
    lagi, pantatnya yang menjepit penisku dalam analnya bergetar
    hebat hingga kurasa penisku tak dapat kutarik mundur maju
    lagi, terjepit dengan ketatnya dalam analnya; dan dengan suatu
    sentakan luar biasa, ia merapatkan bongkah pantatnya dengan
    telak ke arah penisku. "Ooouwww ............... sshhhh .....
    aaaaahhhhhkkk .... aku dapat Gussss....!" teriaknya kuat
    hingga aku sendiri terkejut mendengar jeritan birahinya.


    "Crot .... crrooootttt ... crrooootttt ..." penisku tak mampu
    lagi kutahan, dengan hebat menyemprotkan air mani dalam
    analnya. "Ahhhhhhh.... akkkkuuuuu .... keluar Mbbbbaakkkkk!"
    desahku sambil menghunjamkan dalam-dalam penis ke dalam
    bongkahan pantatnya yang sangat merangsang.


    Masih menindih tubuhnya yang menelungkup dari atas, aku mulai
    meredakan napas dan mengatur detak jantungku yang begitu
    kencang, dan berguling ke sampingnya dengan tetap memeluk
    pinggulnya hingga terlentang dengan tubuhnya kini berada di
    atasku.


    Ia benar-benar menikmati posisi tubuhnya yang demikian di atas
    tubuhku, apalagi tangannya mengusap-usap pangkal penis dan
    menjemput testisku. Sambil meresapi elusannya yang lembut,
    kubelai-belai payudara dan putingnya yang masih tegang.
    Sementara di bawah, kurasakan tetesan air maniku turun dari
    lubang analnya yang masih dipenuhi penisku, membasahi batang
    penisku dan menetes ke sprei ranjang Mbak Ina. Aku begitu
    nyaman merangkul tubuhnya yang menindih tubuhku.


    "Gus, Gus, kamu tidak berat ditindih badanku begini?" tanya
    Mbak Ina.


    "Hmmm, nggak apa-apa, Mbak. Apalagi ada kompensasinya koq,
    penisku
    masih menikmati kuluman analmu," jawabku.


    "Iihhhhh jorok ...., nyebut-nyebut anal," katanya.


    "Biarin jorok, yang penting nikmat, Mbak ...." aku menimpali
    ucapannya,
    "Kalau begini terus tiap malam di Singapura ini, wah ...
    rasanya seperti berbulan madu dong Mbak?"


    "Enak aja kamu Gus! Kita kemari kan buat kerja," tandasnya
    mengingatkan maksud kami datang ke Singapura. "Ini kan
    selingan buat menumpahkan rindu sejak pulang dari Yogya,"
    tambahnya.


    Aku tersenyum mendengar kata-katanya. "Iya deh Mbak. Tugas
    tetap tugas, tapi pacaran juga jalan terus kan?" gurauku.


    Ia tertawa kecil dan sambil menggulingkan tubuhnya ke
    sampingku ia bertanya, "Kamu senang ikut tugas kantor
    denganku, Gus?" Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia berkata
    lagi, "Aku yang mendesak pimpinan agar kamu ditaruh pada
    bagianku dan menjadi asistenku. Tadinya ada manajer lain yang
    memintamu ke bagiannya, tapi berkat argumentasiku dan didukung
    oleh evaluasi dari bagian personalia, kamu disetujui pindah ke
    tempatku."


    "Aku sempat kaget, Mbak. Koq tiba-tiba ditawari posisi baru
    padahal masih ada beban kerja di bagianku yang harus
    kuselesaikan tahun ini," kataku. "Rupanya Mbak Ina yang
    menjadi dalang di balik semua ini?"


    "Jadi kamu nggak suka atas ulahku memindahkanmu?" desisnya
    sambil memandangku tajam. "Wah, keluar galaknya," pikirku.


    "Ouww, jangan salah sangka, Mbak. Aku justru sangat senang dan
    berterima kasih mendapat promosi. Cuma tidak menduga
    sebelumnya bahwa Mbak turut berperan atas hal ini," kataku
    sambil mencium bibirnya lembut. Ia membalas ciumanku dan
    mengulum serta mengisap lidahku.


    Kami kemudian tidur sambil berpelukan di bawah berselimut.
    Kira-kira sejam kemudian aku tersentak mendengar dering
    telepon. Ingin kuraih, tapi khawatir itu untuknya, maka
    kuguncang-guncangkan bahunya agar menerima telepon tersebut.


    "Hallo, I am Mrs. Ina," katanya menjawab nada panggilan di
    seberang sana.


    Aku memeluk tubuhnya yang telanjang dari belakang dan
    kudekatkan telingaku ke telinganya, lalu kudengar suara dari
    seberang sana. Rupanya dari Direktur Utama kami.


    "Bagaimana perjalanan kalian? Apakah semuanya berjalan baik?"


    "Yes, oh ... ya .. ya, Pak, kami baik-baik saja. Perjalanan
    kami lancar dan kami sudah berada di hotel untuk mempersiapkan
    diri pada pertemuan besok," jawabnya.


    "Saya berkali-kali menelepon ke kamar Agus, tapi tidak
    diangkat. Apakah ia keluar hotel?"


    "Celaka, rupanya The Big Boss mencari jejakku," pikirku.


    "Tadi begitu tiba di hotel, ia minta ijin tidak mau diganggu,
    Pak. Katanya semalam ia tidur larut malam karena mempersiapkan
    presentasi kami untuk pertemuan besok. Mungkin ia sedang
    bermimpi indah di kamarnya, Pak," jawabnya berbohong. Gila
    benar, cepat sekali si Cantik ini memberi argumentasi yang
    membuat atasan kami senang.


    "Baiklah, jika demikian, silakan beristirahat agar penampilan
    kalian besok benar-benar prima. Sampaikan salam saya kepada
    Agus. Sukses ya!" kembali suara Direktur Utama kami terdengar.


    "Ok Pak, saya sampaikan salam Bapak nanti dan doakan kami agar
    tidak mengecewakan Bapak dan perusahaan. Salam kami kembali
    buat Bapak," katanya menutup pembicaraan dan meletakkan gagang
    telepon.


    Masih memeluk pinggangnya dari belakang, bibirku menghembuskan
    napas di belakang telinganya hingga ia kegelian lalu lidahku
    menjilati lehernya yang jenjang hingga turun ke kuduknya. Di
    situ kubuat kecupan agak kuat hingga ia mendesah-desah.
    Apalagi sewaktu bahunya kuciumi dan kujilati dengan lembut. Ia
    mengerang dan desahannya seperti orang kepedasan karena makan
    cabai. Ciuman dan jilatanku semakin turun ke punggung,
    pinggang dan pinggulnya. Ia semakin menjadi-jadi
    meliuk-liukkan tubuhnya. Kudengar suaranya sambil mendesah,


    "Gus, apakah kamu pernah melakukan seperti ini dengan
    perempuan lain selain isterimu dan aku?"


    "Mbak, Mbak, mana berani aku berbuat begini. Dengan Mbak aja
    hanya karena "gayung bersambut" maka aku mau. Aku takut kena
    penyakit kelamin, Mbak," jawabku.


    "Jadi kamu jujur nih tidak pernah begini dengan yang lain?"
    desaknya,
    "Soalnya aku tak mau kalau suatu waktu kena penyakit karena
    tertular darimu yang pernah main dengan perempuan lain.
    Apalagi kita cuma bisa main anal, karena aku tak mau kau
    coblos vaginaku."


    "Jujur Mbak," kataku. Memang aku tak pernah berpikir jajan
    atau berbuat begini dengan yang lain, bahkan ada beberapa
    gadis di kantor yang pernah menggodaku atau menaksirku baik
    terang-terangan maupun secara diam-diam, tidak pernah
    kugubris. "Aku cuma setia padamu dan istriku, Mbak Ina
    sayang," rayuku.


    "Aku perlu kejujuranmu agar tiada sesal diantara kita kelak,"
    ungkapnya. "Biar saja Tuhan Sendiri yang menyaksikan kebinalan
    kita, tetapi rumah tangga kita tetap kita pelihara," katanya
    lagi.


    Aku terdiam dan menghentikan elusan tangan dan permainan bibir
    dan lidahku sambil merenungkan kata-katanya barusan.


    "Lho, koq jadi diam? Tersinggung dengan kata-kataku barusan
    ya?" ia bertanya sambil menoleh ke belakang hingga hidungnya
    menyentuh pipi dan hidungku. "Terusin dong ..." rajuknya
    sambil tangannya meraih tanganku yang memeluk pinggangnya agar
    naik meraba payudaranya kembali.


    "Aku terharu aja Mbak," kataku. "Mbak tidak menuntut apa-apa
    dariku selain kebersihan diri seperti itu, walaupun aku sadari
    dosaku menggoda Mbak."


    "Sssttt, jangan bicara begitu. Tidak ada yang salah. Bukan kau
    yang menggodaku, justru aku yang harus tahu diri dan tidak
    menggodamu," bantahnya. "Tak perlu menyesali semua yang
    sudah-sudah. Yang penting kita berdua pandai-pandai membawa
    diri agar hanya kitalah yang tahu dan Tuhan bahwa kita saling
    menyayangi dan ingin berbagi kasih. Itupun tidak tiap kali
    kita melakukan hal begini. Paling-paling saat keluar kota atau
    keluar negeri seperti sekarang. Yang kuminta padamu Agus
    sayang, adalah jangan keterusan bersetubuh denganku lewat
    vaginaku, agar setidak-tidaknya masih ada bagian yang tersisa
    pada tubuhku yang hanya boleh dimiliki dan dinikmati oleh
    suamiku."


    "Ya Mbak. Aku memang tergoda melihat vaginamu dan payudaramu
    serta seluruh organ tubuhmu yang sangat menawan. Bahkan waktu
    di Yogya aku sangat berhasrat memasukkan penisku ke dalam
    vaginamu. Untungnya aku masih sadar dan menahan diri. Entah
    nanti. Tapi kuharap jangan segan-segan menamparku apabila aku
    tak dapat menguasai diri, mana tahu Mbak kupaksa dan kuperkosa
    suatu waktu," pintaku.


    "Justru itu Gus. Aku tak ingin ada kekasaran diantara kita.
    Biarlah kita menikmati kasih ini dengan cara kita sendiri
    tanpa harus menggunakan yang satu itu. Aku rela jika kau minta
    terus-terusan memasukkan penismu di mulutku atau analku, tapi
    ke vaginaku kuharap tidak kau lakukan, kecuali jika hanya
    bagian kepala hingga leher penismu saja masuk ke vaginaku.
    Bagaimana Gus, kau mau berjanji padaku?" tuntutnya sambil
    melingkarkan kedua tangannya ke leherku.


    "Aku tidak mau berjanji, Mbak, sebab janji adalah hutang. Tapi
    aku akan selalu berusaha untuk menahan diri agar tidak
    mengecewakan dirimu Mbak. Mudah-mudahan hubungan aneh kita ini
    tidak membuat kita saling menyakiti kelak dan tidak ada yang
    akan dipermalukan diantara kita berdua. Semoga hubungan gelap
    kita ini hanya Tuhan dan kita berdua yang tahu dan biarlah Dia
    memaafkan kita atas perbuatan kita ini. Sebab aku tulus
    mengasihi Mbak dan tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah
    Mbak tanamkan padaku," tekadku.


    Mbak Ina memelukku erat-erat dan mengecup leherku. Agak lama
    ia berbuat demikian hingga kurasakan ada aliran air hangat
    membasahi leherku turun ke dadaku. "Mungkin ia menangis,"
    pikirku. Benar saja, kemudian ia melepaskan wajahnya dari
    leher dan dadaku. Kupandang matanya berair dan sebagian
    membasahi pipinya. "Mengapa Mbak menangis?" aku bertanya lugu.


    "Aku terharu, Gus. Masih ada pria sebaik dirimu yang
    mengasihiku dengan tulus, tidak menuntut yang bukan-bukan.
    Andaikan dengan lelaki lain, barangkali sudah sejak di Yogya
    aku tak punya muka lagi melihat dunia karena melakukan
    persetubuhan dengan pria yang bukan suamiku. Mana ada buaya
    menolak bangkai, bukan? Pasti ajakanku menemani sekamar saja
    sudah diartikan untuk melakukan hubungan badan, iya nggak?"
    katanya.


    "Aku senang karena mencintai perempuan sebaik Mbak Ina,"
    kataku.
    "Memang sukar untuk tidak melakukan persetubuhan apalagi jika
    melihat wanita secantik Mbak. Aku justru karena
    sungguh-sungguh menyayangi Mbak sejak awal masuk perusahaan,
    sehingga tidak pernah berpikiran merusak diri Mbak." lanjutku.




    "Ok sayang, sekarang ... mumpung masih ada waktu tersedia
    sebelum kita bekerja besok, mari kita reguk kenikmatan
    kembali," ajaknya sambil menghujani dadaku dengan
    ciuman-ciuman yang menggairahkan. Putingku dilumat oleh
    lidahnya dan bibirnya mengecup kedua putingku bergantian
    hingga kulihat ada cupang berwarna kemerah-merahan bekas
    kecupan bibirnya. Birahiku kembali membuncah mendapat
    perlakuan demikian. Kubalas dengan menaruh kedua pahanya di
    atas pahaku dan memeluk dirinya erat-erat sambil meremas-remas
    kedua buah dadanya. Kembali ia mengerang dan mendesah-desah.
    Vaginanya bergerak-gerak di bagian bawah penisku seakan-akan
    meminta diterobos oleh batang kenikmatanku. Diarahkannya
    penisku menguakkan rambut-rambut kemaluannya. Tetapi aku sadar
    akan percakapan kami tadi dan tidak berusaha memasukkan
    penisku ke dalam vaginanya yang semakin lembab. Ia berbisik di
    telingaku, "Gus, masukkan penismu dikit ya, atur agar cuma
    sampai leher penismu masuk dalam vaginaku. Soalnya aku
    terangsang banget. Biar klitoris dan labiaku nikmati tusukan
    kepala penismu ya sayang?" pintanya. Kuturuti permintaannya
    dan menekan lembut ke liang vaginanya, tapi jari-jari tangan
    kananku kupakai menggenggam penisku, sehingga batangnya dapat
    kukendalikan tidak masuk dan hanya kepala hingga leher penisku
    yang menekan-nekan rambut kemaluannya.


    Dengan sedikit geliat, ia berhasil membuat kepala penisku
    tepat berada di depan klitorisnya yang semakin tegang.
    Sekonyong-konyong ia merebahkan badannya terlentang di bawahku
    dengan kedua belah pahanya masih ditumpangkan di atas pahaku
    dan menggerakkan pahanya ke arah tubuhku sehingga kepala
    penisku menancap telak di mulut vaginanya. Untunglah aku tetap
    menggenggam batang penis hingga ke pangkalnya hingga tidak
    terbawa masuk akibat gerakannya yang tiba-tiba.


    "Ayo Gus, aaahhhh .... ssshhh ....ayo ... sayangggg....
    gerakkan kepala penismu menggesek-gesek klitoris dan permukaan
    vegy-ku," erangnya.


    Dengan setengah berlutut, kugerakkan pantatku maju mundur agar
    kepala penisku benar-benar memberikan gesekan nikmat bagi
    klitoris dan labianya yang semakin basah.


    "Ahhhh ... ssshhhh ..... ooooohhhh ..... ooouuuwwww ..... yang
    cepat Gus ... lebih cepat lagi sayanggggg ..... aaahhhhhhhhhh
    ..." desisnya sambil melemparkan kepalanya ke kanan kiri dan
    ke atas hingga rambutnya semakin awut-awutan, tapi justru
    menambah kecantikannya sebab wajahnya semakin merah merona dan
    kedua tangannya terus meremas-remas puting dan payudaranya
    karena tanganku kupakai meremas-remas kedua belah pantatnya
    dan mengelus-elus pahanya.


    Gerakan kepala penisku sekarang kupusatkan pada bagian
    klitorisnya dengan cara memutar hingga membuatnya semakin
    menggeliat-geliat sambil merintih sambil meraih kenikmatan.
    Kemudian kubuat variasi gerakan dengan mengulas-ulas labianya
    menggunakan kepala penisku hingga bibir bawahnya semakin
    terbuka memperlihatkan warna merah dengan cairan-cairan putih
    bening yang keluar dari lipatan-lipatan dalam vaginanya.


    Tiba-tiba pantatnya diangkat tinggi hingga kulepaskan penisku
    dan kedua belah pahanya menjepit leherku kuat-kuat,
    denyut-denyut di vaginanya semakin kencang dan dengan
    jari-jariku kuterobos liang kenikmatannya dalam-dalam sambil
    mengisap kuat-kuat klitorisnya. Dengan jari telunjuk kanan,
    kuterobos vaginanya mencari-cari letak G-spotnya. Agak ke atas
    di belakang klitorisnya kutemukan suatu titik lembut yang
    ketika kutekan membuatnya makin merintih-rintih nikmat.
    Sedangkan telunjuk tangan kiriku pelan-pelan merambat ke dalam
    analnya hingga ia semakin menggelinjang-gelinjang.


    Saat gerakannya semakin liar, kumasukkan lagi dua jariku
    bersama-sama telunjuk masuk membenam ke dalam vaginanya dan
    kurasakan bagaimana lorong vaginanya meremas-remas ketiga
    jariku dengan kuatnya dan dengan dorongan yang luar biasa ia
    menyemprotkan cairan vaginanya hingga muncrat ke wajahku.
    "Guuuuusssss ....." hanya itu kata-kata yang dapat ia
    lantunkan di puncak orgasmenya. Dengan cepat kubenamkan
    wajahku, bibirku dan lidahku menjilati cairannya yang kini
    bukan hanya di seputar vaginanya, tapi juga mengenai rambut
    dan dadaku bahkan sebagian mengenai sprei. Luar biasa
    banyaknya. Rasanya gurih, sedikit asin, dan aku terus dengan
    keasyikanku menjilati semua cairannya.


    "Oohhhh ..... Agus sayangggg ..... enak ... nikmat sekali
    sayang, aaaakhhhh. Kau apakan vaginaku sampai begitu banyak
    menyemprotkan maniku?" erangnya sambil mengelus-elus kepala
    dan rambutku. "Begitu lama aku kawin dengan suamiku, tetapi
    baru sekali ini kurasakan semprotan vaginaku yang luar biasa,"
    katanya lagi.


    "Sayang .... apa kau tidak tahu? Itu kan G-spot-mu yang
    kutekan tadi bersama-sama klitoris dan liang vaginamu,"
    jawabku sambil mencium bibirnya.


    "Ehh ... ya ... aku sendiri walaupun sudah menikah lebih dari
    sepuluh tahun, rasanya masih banyak yang harus kupelajari
    tentang seks," gumamnya. "Anehnya, aku malah bisa begitu
    nikmat kamu puasi, padahal suamiku termasuk orang yang rutin
    berhubungan badan, tetapi pemahamannya tentang tubuh wanita
    sepertinya kalah dari kamu," lanjutnya.


    Sampai sore hari kami masih bermain dua kali dan setelah makan
    malam, kami kembali bergulat di kamarnya sampai pukul
    sembilan. Untunglah kami ingat harus beristirahat agar tampil
    bugar pada pertemuan besok.


    Selama mengikuti pertemuan dengan rekanan, kami berdua
    memperlihatkan sikap biasa-biasa di depan orang lain, tidak
    terkesan bahwa kami punya hubungan intim. Namun malam harinya,
    seperti hari pertama di Singapura, aku rutin menemani Mbak Ina
    di kamarnya. Tentu saja bukan sekadar tidur, tetapi setidaknya
    bermain cinta secara unik dengannya paling sedikit dua kali;
    bahkan pernah kami melakukan sampai ia mencapai orgasme
    sebanyak 5 kali dan aku sebanyak 3 kali.
  5. BlackJohn

    BlackJohn Junior

    Joined:
    29 Apr 2006
    Pesan:
    23
    Likes Yg Diperoleh:
    4
    Malam terakhir kami di Singapura benar-benar kami habiskan
    berdua di kamarnya. Begitu usai makan malam dengan Mr. Chow,
    salah seorang manager pada perusahaan rekanan kami, dengan
    dalih akan beristirahat, Mbak Ina sudah pamit lebih dulu
    meninggalkanku bersama rekanan kami yang masih mengajakku
    ngobrol. Aku sudah ingin cepat-cepat pergi, apalagi sudah
    sepuluh sms Mbak Ina masuk, minta aku segera datang, tapi
    karena tak enak hati pada rekanan kami, aku cuma membalas
    singkat, "Masih ada yang dibicarakan, sabar sayang!" Tepat
    pukul 9 malam, barulah aku pamit dengan dalih sudah mengantuk
    dan membuat gerakan menguap beberapa kali. Kusms Mbak Ina,
    "Tuan Putri, hamba segera datang ke peraduanmu." Sesampai di
    kamar, kuangkat gagang telepon untuk berbicara dengan Direktur
    Utama melaporkan kegiatan kami. "Semua beres, Pak. Laporan
    selengkapnya secara tertulis akan Ibu Ina dan saya selesaikan
    agar dapat Bapak terima sesegera mungkin," janjiku. Pimpinan
    kami menjawab dengan nada puas, "Baiklah, saya percaya akan
    kinerja kalian. Silakan beristirahat karena kalian tentu sudah
    sangat lelah beberapa hari ini. Bila perlu tak perlu
    cepat-cepat pulang besok agar dapat sehari lagi berjalan-jalan
    di Sinagapura. Mengenai hal ini, sudah saya pesankan tadi
    kepada Ibu Ina, sehingga tak perlu kuatir akan adanya tambahan
    biaya, semua akan ditanggung oleh perusahaan. Ok, sampai
    jumpa." Aku senang sekali mendengar ucapan Direktur Utama kami
    itu. "Wah, kalau Mbak Ina setuju, berarti besok kami dapat
    seharian mereguk anggur kenikmatan di atas ranjangnya,"
    pikirku.


    Setelah itu, kuputar nomor telepon rumahku. Begitu diangkat,
    kudengar suara istriku, "Hallo, selamat malam! Mau bicara
    dengan siapa?" Kukatakan pada istriku, "Mama sayang, bagaimana
    kabarmu?" Jawabnya, "Oh Papa ya? Aku baik-baik saja, tapi
    sudah rindu banget. Jadi pulang besok, Pa? tanyanya.


    "Itulah yang mau kukatakan. Aku belum tahu bagaimana Bu Ina
    selaku pimpinanku. Tadi Boss kami katakan agar kami menambah
    waktu untuk melakukan beberapa hal lain mumpung masih di
    Singapura, sehingga kami tak dapat pulang besok, paling cepat
    lusa. Mudah-mudahan Bu Ina memperbolehkan aku pulang duluan,
    abis udah kangen pada Mama sih! Tapi jika tidak diijinkan,
    Mama sabar aja ya nunggu Papa pulang lusa," kataku dengan nada
    merayu. Sebetulnya tak enak juga berbohong seperti itu
    padanya, tapi karena adanya peluang diberi Pimpinan, kucoba
    gunakan.


    "Ahhh, Papa jahat deh! Jadi besok belum bisa melepas rindu
    dong?" rajuk istriku manja.


    "Jangan marahin Papa dong, Mama sayang ... kan Papa hanya
    bawahan yang harus tunduk pada atasan. Apalagi Papa sudah
    bilang bahwa tugas kali ini berkaitan dengan promosi jabatan
    Papa sepulang ke Jakarta nanti. Kalau sudah balik ke Jakarta,
    Mama minta berapa ronde pun kulayani deh ..." kucoba
    meyakinkan dengan melontarkan jurus-jurus rayuan maut.


    "Kalau begitu, Papa harus belikan Mama oleh-oleh yang bagus
    .... dan jangan lupa, kangen Mama harus dirapel beberapa ronde
    yaaaa???" kembali suara manja istriku terdengar.


    "Baik, Papa akan carikan souvenir indah buat Mama, tapi janji
    jangan musuhin Papa dan jangan buat Papa lecet-lecet waktu
    melepas rindu nanti ya?" jawabku. "Ok Mama, selamat malam,
    selamat tidur ya. Kiss bye," sambungku menutup percakapan
    kami.


    "Cup ... cup ... met malam. Salam kangen banget ya Pa!" desah
    istriku.


    Baru saja kuletakkan gagang telepon, tiba-tiba telepon itu
    berdering.


    "Kriiingg ... krrrinngg ... krrinnggg ...." Kuangkat telepon,
    dan benar dugaanku, Mbak Ina. Pasti ia sedang uring-uringan.
    "Koq lama banget sih. Sibuk terus teleponmu! Apa kamu punya
    pacar baru ya?" semprotnya.


    "Maaf Mbak, tadi abis bicara dengan Mr. Chow, aku telepon Boss
    kita di Jakarta melaporkan pertemuan kita."


    "Ngapain kamu mesti telepon Pimpinan kita, kan tadi sore kamu
    dengar sendiri aku bicara per telepon dengannya?" katanya
    ketus.


    "Jangan marah gitu dong, Mbak? Aku kan juga mau tambahkan
    percakapan informal kami dengan Mr. Chow tadi sekaligus
    memberitahu beliau bahwa laporan pertemuan kita akan sesegera
    mungkin saya siapkan."


    "Ohh gitu, abis teleponmu sibuk terus sih, padahal sms-mu tadi
    bilang mau langsung ke kamarku? gerutunya sambil melanjutkan
    dengan nada yang sudah semakin datar, "Nah, tadi beliau
    katakan agar kita tidak buru-buru pulang. Jika ada yang masih
    perlu dipelajari dari rekanan kita di luar pertemuan formal
    beberapa hari ini, kita dapat menambah waktu sehari lagi di
    sini. Bagaimana, kamu tidak keberatan?"


    "Ah, aku sih bagaimana Mbak aja. Apalagi tokh tiap malam Mbak
    selalu memberikan service khusus buatku?" candaku demi
    mendengar suaranya sudah mulai mendatar.


    "Tapi bagaimana dengan istrimu, apa tidak curiga jika kita
    nambah waktu di sini?" tanyanya menyelidik. "Kalau aku sih,
    sudah langsung kutelepon suamiku tadi memberitahu kemungkinan
    pulang masih lusa dari sini."


    "Beres, Mbak. Tadi istriku sudah kubilangin kalau masih ada
    tugas kita, sehingga belum bisa pulang besok," jawabku.


    "Gila lu, tugas apa tugas nih?" oloknya sambil tertawa kecil.
    "Udah buruan, aku sudah kedinginan sendirian di kamarku.
    Jangan pake mandi lagi, cepat ya! Kutunggu dalam sepuluh
    detik," ancamnya menggoda.


    "Ha ... ha ... ha ... jangankan sepuluh detik, Mbak. Sekarang
    pun aku sudah di kamarmu karena masuk lewat saluran telepon
    ..." balasku sambil meletakkan telepon dan bergegas ke
    kamarnya.


    Sesaat kemudian aku sudah di depan kamarnya. Waktu kuketuk
    pintunya, ternyata pintunya sedikit terbuka, "Masuk Gus!" Aku
    mengomelinya, "Gila, koq pintumu tidak dikunci sih Mbak? Nggak
    takut ada orang lain masuk?" Kulihat lampu kamarnya
    remang-remang dan ia berbaring di ranjang dengan selimut
    menutupi tubuhnya, sementara pesawat televisi di kamarnya
    menyajikan film dewasa semi porno. Batinku, "Wah, udah ngeres
    rupanya dia nonton film beginian?"


    "Ah ngapain takut? Tokh cuma kamu yang tahu kalau pintu itu
    agak terbuka. Dari tadi ada yang lewat kudengar tapi mana
    berani masuk?" tangkisnya.


    "Aku mandi dulu ya Mbak, gerah banget nich seharian duduk,
    sore tadi cuma mandi koboi," kucoba bercanda melihat reaksinya
    terhadap ucapanku.


    "Ehhh .... belum pernah lihat televisi dilempar ke wajahmu,
    ya? Kan udah kubilang tadi tak usah pake mandi. Alasan aja,
    padahal mau godain aku... Sini, naik ke dekatku!" serunya
    dengan nada memerintah.


    Kulepaskan baju dan celana panjangku dan kusampirkan di
    gantungan baju di lemarinya. Dengan hanya mengenakan celana
    dalam dan kaos singlet, kudekati dia dan membuka selimut masuk
    ke baliknya berbaring di dekatnya. Sekilas kulihat ia hanya
    mengenakan baju tidur tipis tanpa mengenakan BH, entah celana
    dalamnya karena selimutnya tidak kubuka lebar.Belum sempat
    rebah dengan baik, ia sudah memelukku dan melumat bibirku
    dengan buas. Tangannya meraih kepalaku dan bahuku, hingga aku
    tak bisa mengelak dari ciuman-ciuman mautnya. Lidahnya
    disusupkan masuk ke dalam mulutku membelit lidahku dan
    mengait-ngait rongga mulutku sambil bibirnya menutup
    penuh-penuh mulutku. Buah dadanya yang padat begitu liat
    dengan putingnya yang kulihat sudah tegang, menekan dadaku
    hingga birahiku naik dengan cepat.


    "Sebentar Gus, kamu jangan melawan, ikuti saja kemauanku ..."
    paksanya tiba-tiba sambil menyeret tubuhku ke pinggir
    ranjangnya, sementara selimut yang kami pakai sudah terlempar
    ke bawah ranjang. Ditariknya kedua kakiku hingga berjuntai ke
    lantai dan pantatku tepat di tepi ranjangnya, sementara di
    bawah kepalaku ia letakkan sebuah bantal. Lalu dengan cepat ia
    menempatkan diri berjongkok di antara kedua pahaku dan
    mengelus-elus rambut kemaluanku. Bibirnya mulai ia gunakan
    menciumi lututku, naik ke pahaku dan kedua testisku. Lidahnya
    mulai menjulur membasahi pori-pori tubuhku seolah-olah tidak
    mau menyisakan se-inci pun luput dari lumatan bibir dan
    tusukan lidahnya yang menimbulkan seribu satu sensasi. Aku
    mulai mengerang mendapat pelayanan yang begitu memuaskan.
    "Ekhhhh... sshhh .... ahhh ... Mbakkkk .... nik .. mat ...
    Ougghh .. sayaangggg...." Kembali kusaksikan bukan seorang Ibu
    Ina yang sangat disegani di lingkungan kerja, tetapi yang ada
    kini hanyalah seorang wanita yang benar-benar tahu apa yang
    harus ia lakukan untuk memenuhi kodratnya sebagai seorang
    wanita terhadap kekasihnya.


    Perlahan-lahan lidahnya menjilati batang penisku dan melakukan
    gerakan memutar sambil menggunakan sebelah tangannya memegangi
    pangkal kemaluanku dan tangannya yang lain mengelus-elus
    testisku yang menjadikanku menggeliat-geliat. Di bagian leher
    penisku, lidahnya bermain dengan lincah melakukan manuver
    keliling dan "Oouuuwww ...!" aku menjerit ketika ujung
    lidahnya mengulas-ulas lubang penisku dan memasukkan kepala
    penis ke dalam rongga mulutnya sambil terus menerus melakukan
    gerakan simultan dengan kedua tangannya.


    Aku semakin terengah-engah manakala ia memasukkan seluruh
    penisku hingga pangkalnya masuk ke mulutnya. Kurasakan
    bagaimana ujung penisku menyentuh kerongkongannya, aku tidak
    tahu apakah itu amandelnya, tapi yang jelas ada benda yang
    lunak di sana memberikan rangsangan yang luar biasa bagi
    kepala penisku. Sambil menelan seluruh penisku dalam-dalam,
    lidahnya tetap menjilati batang penis dan kepala penisku,
    hingga aku terbeliak karena menahan nikmat yang tak
    terkatakan. Aksinya belum berhenti, tangan kanannya
    menggenggam batang penisku dan melakukan kocokan-kocokan maut
    sambil terus mulutnya melakukan gerakan memasukkan dan
    mengeluarkan kepala penisku semakin cepat dan semakin cepat.
    Tangan kirinya kembali meremas-remas, kini sasarannya adalah
    kedua belah pahaku dan entah kapan cairan ludahnya ia ambil
    dari mulutnya, kurasakan jari telunjuk kirinya mulai melakukan
    eksplorasi ke liang analku. Mula-mula masih di permukaan
    analku ia oleskan ludahnya, tetapi kemudian ia mulai
    memasukkan sedikit demi sedikit jarinya ke dalam analku.
    Lonjakan pantatku semakin hebat, bahkan hingga bergetar
    merasakan rangsangan yang dahsyat hingga tanpa kusadari kedua
    bongkah pantatku kuangkat hingga penisku semakin kutekankan ke
    mulutnya. Jarinya yang masuk ke analku pun masuk semakin dalam
    bahkan sampai seluruhnya dan kurasakan ia melakukan gerakan
    memutar di dalam analku, bahkan kadang-kadang ujung jarinya
    mengait-ngait bagian dalam analku hingga kurasakan betapa
    denyutan analku semakin kencang menjepit jarinya.
    "Penyiksaannya" pada penis, kedua testis dan analku membuatku
    semakin horny, hingga kurasa tak lama lagi akan mencapai
    klimaks. Gerakannya semakin cepat demi melihat reaksiku yang
    sudah seperti cacing kepanasan, menggeliat-geliat sambil
    merintih. Dengan suatu erangan nikmat, aku memuntahkan cairan
    hangat ke mulutnya.


    "Akkkhhh ... Ak ... kuuu keluar Mbakk sayangg?" Kurasakan
    betapa kuatnya desakan maniku menyemprot dalam rongga mulutnya
    yang ia sambut dengan penuh perasaan. Kuamati wajahnya, ia
    sedang terpejam sambil menikmati air maniku dengan pipi yang
    kempot karena kuatnya mengisap penisku. Lidahnya terus
    merangsang lubang penisku yang masih menyemprotkan mani.


    "Ohhh ... hebat ... jepitan analmu sungguh hebat Gus!" pujinya
    sambil menjilati air maniku yang menetes di bibirnya,
    sementara jarinya pada analku masih ia hunjamkan
    sedalam-dalamnya.


    Denyut jantungku yang memacu dengan kencang dan napasku yang
    terengah-engah tidak membuatku surut. "Sekarang rasakan
    pembalasanku," pikirku sambil menegakkan tubuh berdiri di tepi
    ranjangnya dan dengan gerakan yang tak ia duga, mendorongnya
    jatuh ke ranjang lalu menarik kedua kakinya ke tepi ranjang
    persis seperti yang ia lakukan bagiku.


    "Lho, ada apa Gus? Pelan-pelan dong?" katanya terkejut.


    "Emang cuma Mbak yang bisa bikin begitu? Giliranku sekarang,
    ayo ... nikmati aja say!"


    Kulucuti gaun tidurnya dan ternyata memang tidak ada lagi
    apa-apa di baliknya, hingga kini kami berdua sudah dalam
    keadaan telanjang tanpa selembar benang pun melekat di tubuh
    masing-masing. Kuciumi mulutnya dan kugelitik rongga mulutnya
    dengan memasukkan lidahku dalam-dalam ke mulutnya, lalu ciuman
    dan jilatanku turun ke lehernya yang jenjang terus ke
    payudaranya. Putingnya kulumat sambil mengisap buah dadanya
    sebanyak yang dapat kutelan dalam rongga mulutku sambil
    jari-jariku meremas-remas payudaranya yang sebelah lagi.
    Bergantian kulakukan seperti itu hingga ia semakin merintih.
    "Gusss.... ohhh....nikmat ... ahhh... terus ... ya gitu
    say.... ooohhhh .... teruskan remas susuku ...." desahnya.


    Usai menggeluti kedua buah dada dan kedua putingnya yang sudah
    tegang mencuat ke atas, kutelusuri perutnya, pinggang dan
    pinggulnya dengan bibir dan lidahku. Ia memejamkan mata sambil
    terus merintih hingga suara rintihannya terdengar begitu
    memilukan, tapi aku tahu, ia tidak kesakitan melainkan karena
    merasakan nikmat yang semakin memuncak. Lidahku semakin liar
    menjilati seputar kemaluannya dengan memulainya pada bagian
    labianya yang sudah basah. Rambut kemaluannya kuraba dengan
    jari-jariku sambil mencari-cari klitorisnya. Begitu kutemukan
    klitorisnya, lidahku dengan ganasnya melakukan isapan dan
    jilatan yang membuatnya semakin liar menggelinjang. Kedua
    tangannya meremas-remas rambutku bahkan sesekali menarik
    rambutku karena gemas. Jari-jari tangan kananku menekan-nekan
    labianya dan telunjukku kumasukkan ke liang vaginanya hingga
    membuatnya terhenyak kaget dan mengangkat kedua belah
    pantatnya tinggi. Kukuakkan kedua labianya lebar-lebar ke kiri
    kanan dan lidahku terhunjam dengan gerakan buas memasuki
    vaginanya. Kukait-kait klitoris dan vaginanya sambil
    jari-jariku melakukan eksplorasi lebih lanjut mencari
    G-spotnya. Tak sulit lagi mencarinya karena pengalaman
    beberapa malam yang lalu. Aksiku menggumuli klitoris,
    G-spotnya, labia liang vaginanya kurasa belum cukup, sehingga
    jari tengah tangan kiriku kumasukkan ke analnya setelah
    kuolesi cairan vaginanya yang semakin membanjir.
    "Oooohhhh Gus... sayyyangggg!" teriaknya dengan mata
    terbelalak, tapi aku tahu ia tidak marah karena itu adalah
    ungkapan kenikmatan.


    "Sabar Mbak sayang, bentar lagi kuantar ke gerbang kenikmatan
    ...." ujarku sambil meneruskan aksiku.


    "Aguuuusssss ..... sayangggkuuu .. ooohhhh," jeritnya.


    Dengan suatu geraman tinggi, ia menghentakkan pantatnya
    tinggi-tinggi dan begitu kurasakan bahwa ia akan orgasme
    kutekan wajahku dalam-dalam ke vaginanya sambil terus mengocok
    vagina dan analnya dengan jari-jariku. "Croott.. crooot ...
    crooot ..." cairan hangat terasa membasahi wajahku dan sempat
    kutarik wajahku hingga kulihat betapa kuatnya semprotan cairan
    kenikmatannya bahkan kupikir melebihi semprotan penisku saat
    orgasme. Begitu ia rasakan kutarik wajahku dari vaginanya,
    kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat hingga
    kembali terbenam ke vaginanya yang merekah. Maka sibuklah aku
    menyedot dan menjilati cairan vaginanya hingga kurasa mulutku
    penuh dengan cairan gurih. Jariku di analnya masih merasanya
    denyutan-denyutan hebat, begitu pula jariku di vaginanya masih
    terjepit dan kurasakan remasan-remasan otot-otot vaginanya
    menjepit jariku.


    "Ahhh... aku capek Gus... kita istirahat dulu ya sayang?"
    katanya sambil memelas.


    Kuangkat tubuhnya ke atas dan kutempatkan diriku berbaring di
    sampingnya sambil saling berciuman meredakan gelora nikmat
    yang menguasai dirinya dan diriku. Kini kami berdua bagaikan
    dua bayi raksasa yang tergolek siap untuk saling berbagai
    kepuasan.


    Jari-jari kami saling meremas dan kaki kami membelit satu sama
    lain. Tak berapa lama kulihat matanya terpejam. "Ah, biarlah
    ia tidur dulu, kasihan jika kupaksa untuk main tanpa jeda,"
    pikirku. Aku pun memicingkan mata dan mencoba tidur sambil
    merenung mengapa kami bisa begitu binal.


    Jelang tengah malam, aku terbangun karena Mbak Ina bangkit
    menuju kamar mandi. Kudengar suara air gemercik mengisi
    bathtub. Karena penasaran menunggunya tidak balik ke ranjang,
    aku bangun dan berjalan ke kamar mandi, kubuka pelan pintu
    yang tidak ia tutup. Kulihat Mbak Ina sedang berendam sambil
    menutup mata dalam bathtub yang sudah mulai berisi air.
    Melihat sebagian tubuhnya berendam demikian, birahiku kembali
    menggelegak, aku masuk ke dalam kamar mandi dan kudekati dia.
    "Oh kamu udah bangun, Gus? Mau mandi air hangat bareng
    denganku?" ajaknya. "Iya Mbak, biar fresh untuk sesi
    berikutnya," jawabku sambil masuk ke bathtub. "Uihhh, makin
    kelihatan kalau kamu sebetulnya mata keranjang," katanya
    sambil mencipratiku dengan air. Kami mandi berdua, saling
    meremas, saling menggosok dan menyabuni satu sama lain. Usai
    mengeringkan badan, dengan bertelanjang kami berdua kembali ke
    ranjang. Kami duduk bersisian dengan saling peluk dan cium
    sambil menonton film dewasa yang belum juga usai. Kami
    sama-sama melihat sepasang pria dan wanita yang telanjang
    dalam posisi sedang duduk berpelukan melakukan hubungan badan.
    Tidak terlihat penis si pria masuk keluar kemaluan si wanita,
    tetapi gerakan-gerakan tubuh mereka di mana si wanita dalam
    pose menduduki kemaluan si wanita mengesankan bahwa mereka
    sedang mendaki puncak kenikmatan. Tiba-tiba si pria mengangkat
    si wanita, sambil berdiri di lantai, si pria menggendong si
    wanita dengan menahan kedua pantatnya sedang kedua paha si
    wanita memeluk erat-erat pinggang si pria. Posisi ini yang
    disebut sebagai monyet menggendong anaknya. Kuperhatikan
    dengan ekor mataku mata Mbak Ina memandangi adegan itu dengan
    tajam dan kurasakan jari-jarinya tidak lagi meremas tanganku
    tetapi berpindah ke pangkal pahaku dan mulai membelai penisku
    yang mulai bangkit kembali sejak kami mandi berdua. Elusan
    jari-jarinya membuat gairahku semakin naik kembali.


    "Gus, enak banget kali gaya begitu ya?" desahnya di telingaku.
    "Udah pernah nyoba dengan istrimu?" tanyanya.


    "Belum Mbak."


    "Ehmmm, enak mungkin ya? Tapi gimana ya?" desahnya sambil
    melirik aku.
    "Tapi gimana ya? Aku justru maunya gini aja denganmu, penismu
    tidak sampai penetrasi ke vaginaku kayak gitu?"


    "Nggak apa-apa Mbak, kita tetap main anal seperti biasanya,
    cuma dengan posisi begitu, bagaimana?" kataku menantang,
    sambil menarik tangannya turun dari ranjang.


    Sambil tersenyum dengan wajah tak mengerti akan ajakanku, ia
    bertanya,
    "Ada apa sih Gus? Koq pake turun ranjang segala?"


    Aku tidak menjawab, tapi kuatur tubuhnya berdiri sambil
    membungkuk, bertopang kedua tangannya ke kursi di depan TV,
    kemudian kutempatkan diriku persis di belakang tubuhnya dan
    mulai mengusap-usap lubang analnya. Kuambil ludahku dan
    kuoleskan di mulut analnya sambil tanganku yang lain merabai
    payudaranya di depan. Ia mulai mendesah geli campur nikmat,
    "Sssshhhh, ohhh ... kau kuat banget sih Gus? Udah minta lagi?"


    Kepala penisku mulai mengambil posisi tepat di mulut analnya
    dan dengan perlahan-lahan kudorong masuk ke analnya. "Sstt...
    eeekhhh .... pe..lan Gus, jangan kuat-kuat, ehhh ... shhh ..."
    katanya sambil sebelah tangannya mencoba menahan laju pantatku
    agar tidak maju mundur dengan cepat.


    "Tenang aja, Mbak. Aku takkan menyakitimu. Nikmati saja,
    sayang ..." gumamku pelan sambil terus memaju-mundurkan
    pantatku hingga penisku masuk lebih dalam ke dalam analnya.


    Nafsunya kembali naik seiring dengan gerakan penisku yang
    semakin intens ke dalam analnya dan kedua tanganku tidak
    tinggal diam, kadang-kadang meremas kedua belah pantatnya,
    juga bergantian menjangkau vagina dan klitorisnya serta
    payudaranya. Desahannya mulai berganti dengan rintihan yang
    semakin kuat.
    "Sshhhh .... aakkkhhh ... enakkkkhhh ... Gus .... Ahhhh sayang
    .... terus ... teruusssss .... ooukhhhh ...." geliat tubuhnya
    semakin menggairahkan apalagi sesekali kurapatkan tubuhku ke
    punggungnya dan menjilati kuduknya bahkan menggigit
    pelan-pelan. Bibir dan lidahku bermain juga di pundak,
    sela-sela ketiaknya dan turun ke lengan atasnya.


    Saat rintihannya semakin kuat, penisku kuhentikan tepat
    menghunjam sedalam-dalamnya ke analnya dan kuhentikan
    gerakanku untuk melihat reaksinya.


    "Oukhhh .... ada apa Gus? Koq kamu diam sih? Sengaja mau
    menyiksaku ya? tanyanya.


    Tanpa menjawab pertanyaannya, tiba-tiba kuletakkan kedua
    tanganku di bawah pahanya dan kutopang dengan kedua tanganku,
    lalu dengan kekuatan tanganku kunaik-turunkan pahanya,
    sehingga bunyi analnya menelan penisku semakin sedap
    kedengaran, "Slepp .... sleepp ... sslep ..." Ia
    mengerang-erang kenikmatan. "Guuussss ...." hanya itu
    suaranya. Kulihat kedua tangannya meremas-remas payudaranya
    menambah rasa nikmat yang ia terima akibat permainan penisku.
    "Ssshhh .... ahhh ... aku hampir dapat Gus!" rintihnya semakin
    kuat.


    "Sabar Mbak, ntar bareng dengan aku," bujukku sambil
    merebahkannya terlentang di tempat tidur. Wajahnya nampak
    kesal karena tiba-tiba kucabut penisku dari analnya. "Ada apa
    lagi sih Gus? Koq dicabut, padahal aku hampir klimaks?"
    gerutunya sambil cemberut.


    "Kita ganti posisi, biar Mbak lebih santai," kataku sambil
    berlutut di dekat pahanya dan mengangkat paha kanannya ke atas
    paha kiriku. Kuambil ludahku dan kuoleskan lagi di mulut
    analnya kemudian penisku kuarahkan kembali ke analnya masuk
    keluar.


    "Ahhh... kau pinter banget bikin variasi. Shhh ... ohhhgg ...
    terusss Gus ... aduh nikmatnya ..." erangnya sambil
    menggeliat-geliatkan pantatnya.


    Kuayunkan pantatku mendorong penis masuk keluar analnya.
    Dengan kaki kanannya di atas paha kiriku, ia berbaring agak
    miring sehingga dengan bebas tangan kananku dapat merabai
    klitoris dan vaginanya.


    "Ssshhh ... nikmattt Gus, te..rus ... ohhh ... lebih cepat
    lagi Gus?"


    "Yang mana yang lebih cepat, Mbak? Tanganku di analmu atau
    yang di vegy-mu nich?" godaku sambil mempercepat ayunan
    pantatku.


    "Semuanya enak Gus, aduh ... kau suka banget sih bikin aku
    keqi? .... shhh .... akkkhh" rintihnya.


    Jari-jari tangan kananku semakin cepat menggesek-gesek
    labianya dan ketika kuraba klitorisnya yang sudah begitu
    tegang, kubuat jepitan kecil dengan jari telunjuk dan jari
    tengah. Kemudian kedua jari tersebut kumasukkan ke liang
    vaginanya sambil jempol kananku mengelus-elus klitorisnya.


    "Auhhhh ... enakkkhhhh ... Guuussss ...." rintihannya makin
    meninggi.
    "Akkkhuu hampir keluarrr .... oookhhhh ...."


    "Sekalian denganku Mbak, ssshhhh ... akkkhhh ... aku juga udah
    mau keluar .... Bareng Mbak .... aaakkhhh ..." desahku sambil
    mempercepat genjotan penisku pada analnya dan jari-jari tangan
    kanan pada kemaluannya sedangkan tangan kiri meremas-remas
    payudara dengan putingnya yang amat tegang.


    Dengan suatu hentakan kuhempaskan dalam-dalam penis ke dalam
    analnya, paha kanannya melilit erat pinggangku, kurasakan
    denyutan luar biasa pada analnya juga liang vaginanya yang
    mpot-mpotan meremas-remas jari telunjuk dan tengah tangan
    kananku. Pantatnya dengan kuat menggelinjang-gelinjang hingga
    membuat penisku semakin erat dikulum oleh liang analnya.
    "Ggguuuuuussss! rintihannya berubah menjadi teriakan yang kuat
    di ruang kamar itu.
    "Mbaaakkk sayangggg ..." sambutku sambil terus
    menggoyang-goyangkan pantat menikmati orgasme yang bersamaan
    tiba. Kurasakan penisku menyemprotkan air mani kuat-kuat ke
    dalam analnya. Setelah beberapa saat, kutarik penisku dan
    kulihat cairan putih bening menetes turun ke pahanya.


    Kami berdua berbaring miring sambil berpelukan dan berciuman.
    Bibirku dikulumnya dengan sangat erat, bahkan sempat
    digigitnya lidahku saking gemasnya. Setelah orgasme kami
    berdua mereda, kami berbaring sambil bergenggaman tangan dan
    tertidur dalam keadaan telanjang.
    "Kita tidur dulu ya sayang, besok masih bisa kita lanjutkan.
    Masih ada waktu sehari penuh buat kita," katanya sambil
    memicingkan mata.


    "Iya Mbak, yuk tidur sayang! Met malam ya!" ujarku sambil
    mencium bibirnya.


    Keesokan harinya masih kami isi dengan berbagai gaya permainan
    ranjang meskipun tetap tanpa melakukan penetrasi ke dalam
    vaginanya. Tenaga kami benar-benar terkuras, karena ingat di
    Jakarta tak mungkin kami berbuat demikian.


    Itulah pengalamanku dengan Mbak Ina yang cantik dan penuh
    gairah. Hingga kini kami berdua masih tetap tidur bersama jika
    kebetulan bertugas keluar kota atau keluar negeri hanya
    berdua, paling tidak 4-8 kali kami memperoleh tugas luar
    semacam itu. Uniknya, hingga kini kami hanya bermain anal,
    tetapi kenikmatan yang kami rasakan tak ubahnya seperti
    permainan seks biasa. Lucunya lagi, akibat permainanku, Mbak
    Ina mulai coba-coba minta suaminya pun main di analnya, tetapi
    ia mengakui style-ku selalu lebih hot daripada suaminya.
    Rahasia kami berdua tetap tersimpan erat dan tidak pernah ada
    orang di perusahaan yang tahu hubungan kami, karena di kantor
    kami tetap berbuat sebagaimana wajarnya karyawan biasa. Orang
    hanya tahu ia sebagai atasanku dan aku sebagai asistennya
    selalu berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan.
    Mereka tidak pernah tahu, bahwa keberhasilan itu juga sangat
    didukung oleh hubungan mesra di antara kami.


    [FONT=Arial Black, sans-serif]<TAMAT>[/FONT]​
  6. DonkDonk

    DonkDonk Junior

    Joined:
    27 Jul 2007
    Pesan:
    10
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    extension .odt dibuka pake apa sich?
  7. HaReuDaNG

    HaReuDaNG Addict

    Joined:
    5 Dec 2006
    Pesan:
    1.325
    Likes Yg Diperoleh:
    76
    Jenis Kelamin:
    Cowok

    extension .odt harus dibuka menggunaka OpenOffice.org (Versi OpenSource dari ms office.

    Demikian sekilas informasinya....
  8. ketahun

    ketahun Addict

    Joined:
    4 Feb 2007
    Pesan:
    227
    Likes Yg Diperoleh:
    3
    Luar biasa alur ceritanya. .. :D
  9. niceman

    niceman Junior

    Joined:
    23 May 2007
    Pesan:
    5
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    jago berat bro ceritanya...
    konsisten masukin anal...padahal gue bayangin endingnya ngwe lewat depan....pasti ada lanjutnya...mantap dehh
  10. lightdesire

    lightdesire Junior

    Joined:
    24 May 2007
    Pesan:
    11
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    Ruuar biasa bro...kerenz

Share This Page

Something Useful About Us