Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Umum Koleksi Bajad (m'sia)

Diskusi di 'Cerita Cerita Seru' dimulai oleh bajad, 16 Mar 2009.

  1. bajad

    bajad Junior

    KEKASIHKU SAUDARA KEMBAR

    Bukan aku memuji diri tapi orang sekelilingku yang mengatakannya. Aku memiliki wajah yang manis dan kacak. Dengan ketinggian lima kaki lapan inci aku sentiasa didekati oleh gadis-gadis cantik. Mereka ingin menjadikan aku kekasih mereka. Dengan kerjaku yang bagus dan pendapatan lima digit tidak menghairankan aku digilai oleh gadis, andartu dan isteri orang. Aku memang bangga dengan diriku.

    Banyak kisahku yang menarik yang boleh aku kongsi dengan anda semua, tapi kali ini aku ingin memaparkan kisahnya berkasih dengan seorang gadis cantik yang ternyata mempunyai saudara kembar. Kembar seiras, segala-galanya sama. Rambutnya, bentuk tubuhnya, suaranya, warna kulitnya dan segala-galanya sama sehinga ayah dan ibunya pun kadang-kadang boleh tersasul. Apalagi aku yang baru saja mengenali mereka, memang kerap aku salah sapa. Pendek kata saudara kembar ini bagaikan melihat arca di dalam cermin.

    Kekasihku itu namanya Nurul Dina Syuhada dipanggil Dina dan dia mempunyai saudara kembar yang bernama Nurul Dini Syafiqa dipanggil Dini. Aku dan Dina berkenalan secara tidak sengaja ketika sama-sama beratur di kaunter Kentucky Fried Chicken. Ada seorang budak kecil berlari dan melanggarku dari belakang. Aku hilang keseimbangan dan melanggar belakang Dina. Dina menyinga melihatku tapi bila saja aku tersenyum dan memohon maaf dengan sopan, kemarahannya mencair. Kemudiannya kami duduk semeja dan saling bertukar nombor handphone.

    Dua hari selepas kejadian di KFC itu tiba-tiba handphoneku berdering. Nombor Dina terpapar di skrin. Kami berbuah dan diakhir perbualan Dina mengajak aku bertandang ke rumahnya. Petang Sabtu itu seperti dijanjikan akuberangkat ke rumah Dina. Di rumah Dina berpakaian santai sahaja. Ternyata Dina itu adalah gadis yang menarik dan mempunyai wajah yang membangkitkan nafsu. Alis matanya begitu indah dan tubuhnya sungguh seksi. Dina menyambutku penuh ceria. Lalu dia mempersilakan aku masuk dan kami berbual-bual kosong di rumahnya. Waktu itu kami berdua duduk bersebelahan di sofa panjang. Aku sering mencuri pandang wajahnya yang cantik, dia juga begitu.

    "Kamu cantik," kataku memecah kesunyian.

    "Kamu juga kacak," jawabnya.

    Aku benar-benar ingin menciumnya, aku sudah tak tahan ingin merasakan bibirnya yang seksi itu. Mata kami tetap saling bertatapan.

    "Aku suka mata kamu, bibir kamu.." pujiku sambil mataku memandang ke arah bibirnya yang mungil.

    Dina hanya tersenyum mendengar kataku itu. Lalu aku mulai mendekatkan wajahku perlahan dan Dina juga melakukan hal yang sama. Kami mulai berciuman, saling menikmati dan merasakan. Mulanya ciuman kami begitu hangat tapi lama-lama terasa ada nafsu dalam ciuman kami. Aku mulai menggigit bibirnya yang mungil dan lidah kami beradu, lidahku mulai menari dalam bibirnya lalu aku mulai merasa lidahku seakan tertarik masuk ke dalam mulutnya, kami berdua mulai tak kuasa mengendalikan diri, desah nafasnya makin membara, matanya terpejam dan wajahnya yang cantik itu mulai merona merah, kedua tangannya mencakar rambutku seakan menahan nafsu yang ingin meledak.

    Sambil berciuman kami mulai berganti posisi, Dina duduk di pangkuanku dan tanganku mulai nakal meraba dan meramas-ramas buah dadanya yang montok. Kurasakan kedua pahanya menjepit erat pinggangku ketika bibirku memciumi lehernya dan lidahku menjilati dan menghisap daun telinganya. Sementara itu tanganku mulai turun meramas-ramas punggungnya yang empuk.

    Desahannya terdengar makin kuat, satu tangannya mulai berani memegang pelirku yang mengeras dari luar celana. Puas mencium lehernya, tanganku membuka bajunya dan melepas colinya, lalu kuhisap buah dadanya dan kusedut masuk kedalam mulutku, sementara itu lidahku kuputar-kuputar di puting susunya.

    "Uhh" desahnya menikmati rangsanganku.

    Tangannya mulai berani membuka zip celanaku dan mengeluarkan pelirku dari dalam celana, tangannya yang kecil itu mulai menggosok pelirku yang besar perlahan-perlahan. Aku ikut memberanikan diri melondehkan celana dan seluar dalamnya. Lalu tangan kiriku meramas-ramas punggungnya yang pejal dan tangan kananku meraba-raba vaginanya, terasa bulunya begitu halus dan jariku terasa basah terkena lendir dari vaginanya. Jari telunjukku kemudian kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah dan licin itu dan kutarik maju mundur perlahan, sementara itu mulutku terus merangsang puting susunya yang kecil.

    "Ahh..shh.." desahnya tak tertahankan, nafasnya tersengal-sengal menderu.

    Kemudian Dina mendekatkan badannya semakin merapat ke tubuhku sambil tangannya menggosok-gosokkan pelirku di luar vaginanya. Zakarku terasa geli ketika terkena bulu kemaluannya yang halus itu. Aku sudah tak tahan ingin memasukkan tongkat saktiku ke vaginanya, tapi aku cuma diam saja mengikuti rentak permainannya.

    "I ingin buat seks dengan you" ajaknya sambil tersenyum malu-malu.

    "Sekarang di rumah you ada siapa? Bagaimana nanti ada orang lihat," jawabku.

    "Jangan risau, orang my parent ke rumah nenek, adikku keluar shopping. Keadaan aman", jawabnya sedikit memaksa sambil tangannya terus meramas pelirku yang tegang sejak tadi.

    Tanpa menuggu jawabanku, Dina mulai berdiri dengan lututnya sambil tangannya menggosok-gosokkan pelirku di bibir vaginanya. Wajahnya tampak begitu seksi ketika itu. Topi jerman kepala pelirku mulai terasa basah terkena lendirnya. Kemudian pingulnya mulai turun perlahan-lahan, terasa bahagian kepala pelirku masuk di dalam vaginanya. Lalu Dina mulai bergerak naik turun perlahan, rasanya pelirku sedikit sulit masuk seluruhnya meskipun vaginanya sudah pun licin kerana pelirku terlalu besar. Tapi Dina terus memaksa, pinggulnya turun terus, akhirnya pelirku mulai masuk seluruhnya ke dalam, rasanya pelirku seperti dipicit-picit dan di sedut oleh vaginanya. Kami berdua mendesah pelan menahan kenikmatan itu.

    "Aahh.. Ohh" suaranya semakin membangkitkan birahiku.

    Pinggulnya mulai bergerak lagi naik turun perlahan kemudian bergerak semakin cepat, tanganku meramas punggung Dina sambil membantunya bergerak agar lebih cepat. Puting susunya terus kulumat dan kuhisap penuh geram. Dina terus bergerak naik turun. Perasaanya menjadi tidak keruan. Pedih terasa kepalaku bila rambutku ditarik-tarik. Kepalaku ditarik dan disembamkan ke buah dadanya. Aku sudah tak dapat menahan orgasmeku yang hampir ke puncak, sementara tubuh Dina bergetar dan pahanya terasa menjepit erat pinggangku. Gerakannya sedikit tertahan tapi dia terus bergerak naik turun, matanya terpejam sambil bibirnya makin mendesah keras.

    Lalu terasa pelirku makin hangat dan basah di dalam vaginanya. Rupanya Dina telah orgasme, gerakannya mulai terasa amat perlahan, tapi tanganku terus mengangkat punggung Dina naik turun kerana aku juga hampir orgasme, akhirnya zakarku memancutkan spermaku ke dalam vaginanya. Dina ikut bergerak lagi membantuku mencapai puncak kenikmatan. Rasanya pahaku basah kuyup kena cairan orgasme kami berdua. Kemudian Dina berdiri lalu bertinggung di depanku, tangannya melancap pelirku, lidahnya sekali-sekala menjilat sisa spermaku, benar-benar suatu kenikmatan yang tak mampu terucap dengan kata-kata.

    Setelah selesai dan zakarku mulai lembik, Dina duduk di sebelahku, kepalanya bersandar di bahuku sementara tanganku membelai rambutnya. Kami berdua berusaha mengatur nafas setelah kepenatan bercinta. Kemudian kami memakai pakaian kami kembali. Kami berdua tak pasti kalau-kalau ada yang mengintip kami sedang bercinta di sofa.

    "You, jangan anggap Dina perempuan murahan ya..?” Pintanya manja padaku.

    "Tidak, saya tidak pernah berfikir seperti itu," jawabku menenangkan hatinya, lalu Dina tersenyum manis sambil memelukku lebih erat.

    "Malam dah larut, you pulang dulu. Besok pagi jangan lupa hantar I kuliah,” pintanya padaku, aku cuma mengangguk.

    Akhirnya aku pulang ke rumah dan langsung tidur karena keletihan.

    Besoknya..

    Ahh... mati aku, sekarang dah pukul 11.00 pagi. Aku berjanji untuk menghantar Dina kuliah jam 8.00 pagi. Kerana keletihan aku bangun meninggi hari. Aku bingkas bangun dan menuju ke bilik mandi. Sepantas kilat aku memecut keretaku ke rumah Dina. Aku berharap Dina belum berangkat ke kampus.

    Sesampai di rumah Dina aku langsung masuk karena aku tahu orangtuanya belum pulang dari rumah neneknya. Aku menolak pintu yang tak berkunci dan di ruang tamu Dina sedang berbaring di sofa. Dina cuma tersenyum melihatku.

    "Eh! You tak kuliah atau sudah pulang dari kampus. Sorry kerana keletihan bercinta dengan you saya terlambat bangun. You buat I kewalahan,” alasanku supaya dia tidak marah.


    "Oh, tak apa-apa. Lagipun Dina juga tak kekuliah kerana keletihan. You juga ganas malam tadi. I tak dapat mengimbangi kehebatan you.” jawabnya santai dan tersenyum manja.


    "Sini, duduk sebelah I, Dina rindu you" ajaknya manja.

    Aku langsung berbaring di sampingnya sambil memeluknya. Aku cium pipinya yang licin.


    "Mari kita bercinta lagi" ajaknya membuatku terkejut. Aku langsung saja mengiakan penuh girang.


    “Kali ini foreplaynya lebih lama, okey?” pintanya manja.

    Aku cuma tersenyum dan langsung mengambil posisi di atas tubuhnya. Kemudian kami berciuman penuh nafsu, tapi terasa ada kelainannya kerana tindakannya berbeza dengan yang semalam. Tapi aku tak peduli, fikirku yang penting bercinta. Dina kali ini terasa kasar waktu berciuman, lidahku digigit cukup keras sementara tangannya mencakar bahagian belakangku. Ahh.. tak kisahlah, mungkin kali ini Dina amat bernafsu selepas menikmatinya malam tadi.


    "Pelan-pelan Dina, tak lari gunung dikejar," ujarku sedikit rimas.


    Tetapi dia seakan tidak memperdulikannya, tindakannya makin ganas. Tangannya mencengkam kepalaku dan mendorong kepalaku ke bawah, tepat di atas gundukan vaginanya. Aku lihat vaginanya kali ini dicukur bersih, persis kamaluan kanak-kanak. Tapi aku menyukainya kerana tundunnya meninggi membengkak memperlihatkan sepaang bibir luar yang tembam dan bibir dalam yang merekah warna merah. Berkilat dibasahi air nikmat yang keluar dari rongga vaginanya.

    Dina sangat bernafsu menggosok-gosokkan kepalaku di vaginanya yang amat basah, terasa hidung dan bibirku basah kena cairannya, lidahku langsung kumainkan menjilati kelentitnya sambil tanganku terus meramas-ramas puting susunya. Aroma vaginanya semerbak menerpa lubang hidungku. Baunya segar dan amat menyelerakan.

    "Ahh.. Ahh.. terus, terus jangan stop," desahnya manja, terus saja lidahku kumasukkan dan kuputar-putar di dalam vaginanya, terasa cairannya masuk ke dalam mulutku dan kutelan.


    "Ohh.. sedapnya sayang," rintihnya tanpa malu-malu sambil mengecai-ngecai rambutku.


    Tangannya makin mendorong kepalaku, membenamkan wajahku ke vaginanya, aku terus menjilat vaginanya makin cepat, kemudian terasa pahanya menjepit keras kepalaku, tubuhnya bergetar keras, sambil tangannya menarik-narik rambutku. Kemudian terasa mulutku disembur cairannya banyak sekali, bau khas wanita orgasme menerawang ke udara. Tubuhnya makin mengejang dan tersentak-sentak hingga orgasmenya berakhir.

    Setelah itu Dina menarik tubuhku dan menjilat cairannya sendiri di mulutku, setelah puas Dina tanpa lengah mendorong tubuhku. Aku merebahkan diri di sofa, sementara itu Dina bergerak liar membuka pakaianku. Dina meramas dan melancap zakarku dengan cepat, wajahnya kelihatan liar amat bernafsu ketika itu. Lalu mulutnya mengulum pelirku, memasukkan batang butuhku hingga ke kerongkongnya, kemudian menghisap dan menyedut dengan penuh ghairah. Aku cuma terpejam menikmati rangsangan yang luar biasa nikmat itu.

    Nafsuku amat bergelora, lalu kurebahkan tubuhnya dengan kasar dan langsung menindihnya. Kepala pelirku langsung kusodok-sodok dengan cepat ke dalam vaginanya yang basah dan licin. Geli rasanya kepala pelirku.


    "Ahh.. Ahh.. Ahh" rintihnya menahan gempuran kepala pelirku yang teramat keras.

    Bila kepala pelirku mula terbenam, terus saja kugoyang dengan cepat punggungku maju mundur. Dina semakin merintih sambil mengayak punggungnya kiri kanan. Gerakan dan erangannya itu menambahkan nafsuku. Kupeluk tubuhnya erat dan mulutku mengemut buah dadanya yang kenyal dan mekar. Putingnya yang mengeras menjadi habuan mulutku.


    Selepas sepuluh minit menikmati lubang vagina yang sempit dengan ototnya meramas-ramas batang pelirku, aku mulai merasa seperti lubang vagina yang sempit bertambah sempit sambil menyedut-nyedut kepala pelirku. Gerakan menyedut itu seperti meminta agar aku menyemburkan maniku. Kenikmatan dan kelazatan menjalar ke seluruh tubuhku, batang pelirku bertambah geli dan aku dapat merasai spermaku mengalir di dalam urat pelirku. Beberapa saat kemudian air maniku memancut-mancut menyirami pangkal rahim Dina. Serentak itu juga Dina kembali mengejang dan terketar-ketar bila dia juga mengalami orgasme.

    Badanku lemah, pelukanku ke tubuh Dina tetap kemas hingga kemudiannya aku menarik keluar pelirku yang belendir dari vagina Dina. Aku rebah di sampingnya sambil hidungku menempel di pipinya yang mulus. Mataku masih terpejam rapat dengan nafasku masih tidak teratur iramanya.

    “Hoi, gila kamu. Apa yang you lakukan dengan adik I?” terdengar suara dalam nada marah.

    Suara tersebut mengejutkan. Aku membuka mata dan melihat ke pintu. Di sana berdiri Dina dengan muka merah dan menyinga marahnya. Aku melihat ada dua orang Dina. Seorang dalam pelukanku dan seorang lagi sedang terpacak dengan perasaan marah.

    Dengan perasaan bingung kutoleh bergantian wajah mereka satu persatu. Wajah kedua mereka sungguh mirip cuma yang membezakan satu wajahnya terlihat marah dan satunya lagi terlihat ketakutan.

    "Ahh... yang mana satu Dina?", kataku kebingungan.

    Akhirnya aku tahu kalau aku telah bercinta dengan adiknya Dini dan Dina memaafku kerana sebelumnya dia tidak menceritakan yang dia mempunyai adik kembar. Sementara Dini pula mengambil kesempatan diatas kebodohan diriku.


    Aku meneruskan percintaanku dengan kedua adik beradik kembar tersebut tanpa pengetahuan Dina. Kedua-dua adik beradik tersebut memang hebat. Yang membezakannya ialah Dina agak lembut permainannya sementara Dini agak kasar dan buas. Aku menyukai permainan mereka berdua. Atas permintaanku mereka mengekalkan rupa bentuk vagina masing-masing. Yang satu ditumbuhi bulu yang dirawat rapi sementara yang satu lagi gundul tanpa seurat bulu. Itulah kekasihku, Dina dan Dini.
     
  2. bajad

    bajad Junior

    DATIN ROSEMARY LIM

    Sejak mendapat belaian Amir tempoh hari, Datin Rosemary Lim atau biasa dipanggil Datin Rose sentiasa berkhayal seorang diri akan kehangatan seks dengan lelaki muda keturunan melayu tersebut. Datin Rose yang masih muda memerlukan belaian lelaki tetapi Datuk Lim yang berumur 60 tahun sudah tidak berdaya memenuhi kehendaknya. Datin Rose adalah isteri kedua Datuk Lim dan umurnya sebaya anak bongsu Datuk Lim. Dalam usianya awal 30-an Datin Rose masih cantik apalagi dia sentiasa menjaga kesihatan dan bentuk badannya.

    Datuk Lim sebenarnya mengakui bahawa isterinya yang muda itu masih cantik. Malah orang tak percaya Datin Rose adalah isteri Datuk Lim. Bila berjalan bersama Datin Rose kelihatan seperti anak Datuk Lim. Kulitnya masih licin dan gebu, putih bersih dan senyumannya sentiasa menawan. Boleh cair iman lelaki yang memandangnya. Lenggang-lenggoknya amat mengiurkan. Sebagai bekas pragawati dan model, Datin Rose memang menawan. Tapi Datin Rose tetap kesunyian walaupun dirinya dilimpahi dengan wang dan emas berlian. Datuk Lim yang sudah tua tak mampu mengimbangi kehebatan Datin Rose. Zakar Datuk Lim tak mampu bangun walaupun digoyang, dilancap maupun dihisap. Datin Rose kecewa kerana Datuk Lim tak mampu mengisi kekosongan hidupnya.


    Sudah sekian lama Datin Rose tidak mendapat belaian suaminya. Nafsunya telah berada diubun-ubun. Miangnya menjadi-jadi. Dari pagi vaginanya mengemut tak henti-hentinya. Malas rasanya Datin Rose untuk keluar dan makan. Yang diingininya waktu itu ialah zakar lelaki. Zakar lelaki yang besar panjang yang akan memberinya kepuasan. Datin Rose selalu membayangkan zakar lelaki negro yang besar dan panjang. Miang yang dialaminya kali ini hebat sekali. Datin Rose melihat keluar tingkap. Sami tukang kebunnya tidak kelihatan. Telah beberapa kali Sami mengisi kekosongan batin Datin Rose.

    Datin Rose menghubungi Amir. Amir yang berusia 25 tahun itu adalah pemandu merangkap bodyguard Datuk Lim. Setengah jam kemudian pintunya berdering. Dengan wajah ceria Datin Rose menerpa ke pintu hadapan. Tercegat di sana Amir yang ditunggu-tungunya. Dengan mesra Datin Rose memeluk dan mencium pipi Amir, lelaki melayu yang bertubuh tegap dan atletis. Amir melirik Datin Rose yang hanya mengenakan baju tidur tipis. Puting tetek terbayang di bawah kain nipis. Tiada baju dalam. Mata Amir menoleh ke bawah. Terlihat bayangan hitam. Sah Datin Rose tidak memakai seluar dalam. Tangan Amir mesra menepuk tundun Datin Rose. Basah. Amir faham Datin Rose telah terangsang. Datin Rose sudah dikuasai nafsu.

    Amir keturunan melayu adalah diantara yang disukai Datin Rose. Malah Datin Rose yang menggatal hingga Amir dengan senang saja dapat menikmati tubuh Datin Rose yang masih pejal itu. Datin Rose geramkan Amir lantaran keistimewaan lahir pada diri anak muda itu. Ketampanan serta handsomenya Amir memang sukar ditemui pada lelaki lain. Dan apabila telah merasakan Amir punya, semakin sayang Datin Rose pada jejaka melayu tersebut.

    “Your’s is the best among the best”, bisik Rose ke telinga Amir ketika menikmati Amir punya di kali pertama. Tak dapat nak diucapkan oleh Datin Rose betapa lazatnya sewaktu Amir membenamkan batang paling hebat ke dalam celah kelangkangnya. Hingga sendat saluran nikmat Rose kena sumbat dengan batang Amir yang melengkung macam pisang tanduk itu. Terangkat-angkat punggung Datin Rose dek kelazatan yang tidak terhingga. Sampai merah telinga Amir digigitnya bila terasa terlalu sedap.

    Datin Rose tak tertahan lagi. Amir langsung ditarik ke dalam bilik tidurnya yang luas dan berbau harum itu. Katil besar king size bertilam empuk itu akan menjadi gelanggang perjuangan mereka. Amir melirik ke sekeling bilik tidur. Cantik dan rapi. Sudah beberapa kali Amir bertandang ke bilik ini. Bilik tidur itu sentiasa rapi dan ceria. Amir hanya tersenyum.

    Datin Rose seperti kerasukan. Wajah Amir yang segak itu dicumbu mesra. Amir tahu bahawa Datin Rose telah dikuasi nafsu. Sengaja Amir melengah-lengah tindakan kerana ingin menguji Datin Rose. Datin Rose yang sudah hilang kesabaran kerana sudah dikuasi nafsu birahi melepaskan pakaian tidurnya yang dipakai sejak tadi. Datin Rose sudah telanjang bulat bagaikan patung. Amir menelan air liur melihat batang tubuh Datin Rose yang amat mengiurkan. Satu persatu Datin Rose melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Amir. Akhirnya tubuh sasa berotot-otot itu terdedah. Lelaki berkulit ********** itu kelihatan sungguh gagah.

    Wajah Datin Rose ceria. Matanya bercahaya bila melihat batang Amir yang sentiasa menjadi idamannya. Datin Rose tahu zakar Amir belum sepenuhnya keras kerana belum sepenuhnya tegak. Batang panjang yang melengkung macam pisang tanduk itu diperhati penuh geram. Datin Rose tersenyum penuh nafsu melihat batang Amir yang besar panjang itu telah bersedia untuk memberi kepuasan kepadanya. Batang coklat gelap itu kelihatan gagah, amat berbeza dengan batang Datuk Lim yang pucat.

    Atas katil bertilam empuk itu mereka mula berpelukan melepas kerinduan. Mereka bergomol membuat persediaan untuk belayar. Amir bertindak ke atas buah dada serta punggung ketika bergomolan itu. Kulum mengulum lidah antara keduanya juga tidak ketinggalan.

    Mereka kemudian menggayakan kedudukan 69 dimana mereka berlawanan hala – muka Amir bertemu bawah pusat Datin Rose dan muka Datin Rose bertemu bawah pusat Amir. Mereka membelai alat sulit satu sama lain dengan mulut. Amir dapat mellihat isi di dalam, merah, basah dan segar. Ia kemudian memainkan lidah di situ. Amir suka membelai dan menghidu vagina Datin Rose kerana Datin Rose sentiasa menjaga dengan baik. Vaginanya sentiasa dicuci dengan feminine wash. Aromanya tidaklah harum macam parfum tetapi menerbitkan bau wanita yang membangkitkan nafsu Amir.

    Datin Rose pula membalas tindakan Amir. Batang besar yang melengkung macam pisang tanduk dilurut-lurut. Datin Rose sungguh geram melihat zakar Amir yang berkepala besar itu. Datin Rose yang berasa hairan pertama kali melihat zakar Amir yang bersunat amat berbeza dengan zakar Datuk Lim yang tak berkhatan. Tiada kulit kulup yang menutup kepala zakar Amir. Datin Rose ingat semua zakar lelaki berkulup seperti zakar suaminya. Zakar Amir sentiasa kering dan tidak lembab macam kepala zakar suaminya. Kepala zakar Amir kelihatan bersih sungguh berbeza dengan kepala zakar Datuk Lim yang berbau. Kadang-kadang terdapat kepingan putih menghiasi kepala zakar Datuk Lim. Datin Rose tidak gemar mengulum zakar suaminya tapi dia amat merindui untuk mengulum zakar Amir. Datin Rose menjadi ketagih selepas pertama kali menikmatinya.

    Mata Datin Rose akan bercahaya bila melihat kepala zakar Amir yang bulat tegang. Zakar berurat-urat itu dihisap dan dinyonyotnya. Hujung lidahnya bermain-main di lubang kecil di hujung kepala. Berkelip-kelip mata Amir menahan kesedapan dan nikmat bila kepala zakarnya dibelai penuh kasih sayang oleh Datin Rose. Kepakaran Datin Rose bermain lidah di hujung kepala bulat amat digemari Amir. Setelah puas membelai kepala bulat, Datin Rose memasukkan kesemua batang panjang ke mulutnya. Kadang-kadang sampai susah Datin Rose nak bernafas kerana hujung zakar Amir merodok kerongkongnya.

    Setelah Datin Rose benar-benar basah dan merayu-rayu, Amir bangun untuk memulakan pelayaran. Dia mencecah hujung alatnya ke pintu muara. Kepala licin sebesar telur ayam itu digesel-geselkan buat seketika. Datin Rose tambah tak tahan dan melahirkan rintihan.

    “Fuck me....”, sambil memaut pinggang Amir dengan kedua tumitnya.

    Amir menekan dan membenamkan pisang tanduknya perlahan-lahan. “Aaaahhhhh......”, rintihan kesedapan pula kedengaran. Amir dapat merasakan lubang Datin Rose masih sempit. Ditekan perlahan-lahan dan Amir dapat merasakan kehangatan lurah Datin Rose. Direndam seketika. Dengan gerakan perlahan ditarik keluar. Lorong nikmat Datin Rose masih ketat. Amir dapat merasa batang zakarnya diramas-ramas. Bila hampir tercabut dibenam kembali batang keras tersebut. Batang berurat diramas oleh liang nikmat Datin Rose yang kenyal bergetah itu. Sungguh nikmat bila ditarik dan ditolak berulang kali.

    Amir menggelepar kesedapan. Licin dan hangat lorong nikmat Rose. Terasa seperti terbakar kulit kepala yang sensitif itu. Datin Rose pula dapat merasai betapa besarnya alat yang masuk. Datin Rose benar-benar puas hati. Besar dan panjang seperti itulah yang menjadi idamannya. Batang panjang yang melengkung itu menggesel kuat dinding vaginanya. Datin Rose terasa seperti lubang vaginanya terkelupas bila ditekan kuat oleh Amir. Datin Rose menggelupur penuh nikmat.

    Datin Rose dapat merasakan dinding lorong nikmatnya seperti digaru-garu. Kepala besar bertakok itu sungguh nikmat bila digerak keluar masuk. Kepala besar yang mekar bagai kudup cendawan tersebut seperti menggaru-garu bila Amir menyorong dan menarik butuhnya yang besar panjang itu. Datin Rose seperti terbang di langit ketujuh penuh nikmat dan lazat. Tak mampu diungkap dengan kata-kata betapa sedap dan nikmat.

    Bermacam-macam gaya mereka lakukan. Ada gaya duduk, ada gaya mengiring, ada gaya Datin Rose di atas dan macam-macam lagi. Amir memang pandai merobah-robah gaya. Datin Rose amat senang dengan apa yang dilakukan pemuda berumur 25 tahun itu. Teknik dan pengalamannya mengalahkan Datuk Lim. Pemandunya itu bukan saja cekap memandu kereta tapi handal juga memadu asmara.

    Pelayaran semakin hampir ke pengkalan. Bagai nak roboh katil bila pertarungan mula sengit. Amir seterusnya menarik Datin Rose ke pinggir katil dan dia berdiri di bawah. Cara begitu amat sedap dirasakan keduanya. Amir melihat alatnya keluar masuk. Taman rahsia Datin Rose yang dijaga rapi itu jelas dapat dilihat Amir. Tundun menonjol tembam. Bulu-bulunya dipangkas rapi, hanya sejemput kecil disimpan di bahagian atas kelentit yang merah mekar sebesar biji jagung.

    Amir menekan-nekan biji jagung merah dengan kepala zakarnya yang licin basah. Licin dan berlendir dapat dirasai oleh Amir. Datin Rose mengerang dan mengangkat-ngangkat tundunnya meminta Amir membenamkan tongkat saktinya. Kasihan melihat Datin Rose yang merintih-rintih, Amir membenam pisang tanduknya sampai ke pangkal. Terketar-ketar punggung Datin Rose menahan nikmat. Kakinya menendang-nendang angin dan bergetar. Amir menarik perlahan batangnya dan tampak alat besarnya itu berlumuran dengan air Datin Rose. Gerakan Datin Rose mula mengendur. Amir yakin Datin Rose telah puas memandangkan reaksi Datin Rose tidak seganas tadi.

    Amir melajukan ayunannya. Celup celup bunyinya. Telurnya yang labuh itu memukul bibir kemaluan Datin Rose yang mekar bagai kelopak bunga raya. Air kepuasan dari Datin Rose telah memenuhi lubuk nikmat dan melimpah keluar. Basah bulu kedua-keduanya oleh air yang membanjir itu.

    Kesudahannya terpancut deras air nikmat dari batang paip Amir yang keras bagai besi khursani. Datin Rose dapat merasakan ketika Amir melepaskan pancutan sebab begitu deras dan amat banyak. Hangat terasa dipangkal rahimnya bila benih-benih Amir menyiramnya. Keluhan nikmat Amir bersatu dengan rintihan dan erangan kepuasan dari belahan bibir Datin Rose yang mekar itu.

    Pasangan kekasih itu mematikan diri buat beberapa ketika setelah kepuasan. Datin Rose malas nak pergi ke bilik air lalu dikesat saja tempat-tempat yang basah dengan kain cadar.

    Amir tidur di rumah Datin Rose atas desakan Datin Rose sendiri. Sepanjang malam mereka asyik bercumbu mesra kemudian main. Begitulah hingga tiga kali mereka lakukan. Bila tenaga dah terperah habis mereka tidur pulas hingga meninggi hari.

    Bila terbangun Datin Rose melihat jam menunjukkan pukul 10.30 pagi. Amir terbaring nyenyak. Pisang tanduk Amir terkulai di pangkal paha. Datin Rose memerhati batang yang memberi nikmat kepadanya itu. Dipegangnya mesra batang yang tak bermaya itu. Terlihat campuran lendir mereka berdua berlepotan sekitar takuk kepala yang telah mengendur. Datin Rose menghidu dan menjilat cairan lendir sekitar takuk zakar Amir. Nikmat rasanya
     
  3. smalldick

    smalldick Junior

    malay punya story nich
    rada pusing sich bacanye btw ane jadi horny bro
     
  4. lasan

    lasan Junior

    Mantaaafffff bro....kalo bisa lanjut lagi donk...............hidup ...Malay......******* trus Malay
     
  5. willy4987

    willy4987 New Member

    iya nihh dilanjut donk.
    dapat dari mana yhhh
     
  6. bajad

    bajad Junior

    Thanks for those who like my posting, i'll keep posting... give me thanks...

    All my posting are my private collection

    Thanks....
     
  7. bajad

    bajad Junior

    DENDAM MEMBARA

    Pedih. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kotak fikirannya. Bagaikan sembilu tajam menghiris perasaannya. Lukanya amat dalam dan darahnya terasa mengalir tanpa henti.

    “Kamu ni tak ada kerja ke selain merempit. Anak muda zaman sekarang hanya pandai buang masa.”

    Perkataan itulah yang didengarinya sebaik saja dia melangkah masuk ke bilik doktor itu. Rasanya ingin melangkah keluar tetapi kesakitan yang dirasainya amat perih. Ditambah lagi dengan kata-kata doktor muda tersebut pedihnya bertambah-tambah, bagaikan luka dibubuh garam.


    “Duduk, awak sakit apa?” Sapa doktor muda itu.

    “Saya jatuh motor, doktor,” Amir menjawab lemah.


    “Saya tahu awak jatuh motor, awak merempit. Saya tanya di mana awak sakit.” Doktor muda tersebut masih bersuara sambil melihat kad rawatan di hadapannya.


    Doktor muda tersebut memang celupar. Kata-katanya tak sepadan dengan wajahnya. Dia tak menyangka doktor yang akan memeriksanya adalah wanita. Malu rasanya memperlihatkan bahagian badannya yang luka untuk diperiksa. Doktor cina muda itu sungguh cantik. Doktor ini patut jadi pragawati atau model, fikir Amir.

    Amir memandang ke dinding di belakang doktor yang memakai baju pink dan overcoat warna putih. Di dalam frame terlihat ijazah doktor berkenaan. Dr. Tan Ying Ying, MD (USM).

    “Saya sakit di sini doktor,” jawab Amir malu sambil menunjukkan celah kelangkangnya.

    “Kenapa jadi begitu?” tanya doktor amoi tersebut.

    “Saya terbabas dan melanggar pembagi jalan,” jawab Amir terketar-ketar menahan malu.

    Amir masih ingat malam kejadian tersebut. Kerana cabaran rakan-rakannya dia memecut laju di satu kawasan yang sunyi. Jalannya memang lebar tapi berliku-liku dan agak gelap. Dia mendahulu perlumbaan tersebut. Di satu selekoh dia terlambat untuk mengurangkan laju dan akibatnya dia terbabas. Dia terbang di udara dan jatuh di jalan raya. Paha dan kakinya terseret di jalan aspal. Untung dia memakai helmet yang bermutu, kalau tidak nyawanya mungkin melayang. Dia menyesal menyertai kawan-kawannya merempit.

    “Awak buka seluar dan baring di situ,” Doktor Tan bersuara.


    “Apa doktor?” tanya Amir tergagap-gagap. Sebentar tadi dia hilang dalam lamunannya.


    “Awak berkhayal ya? Awak ambil dadah?”


    “Tidak doktor,” malu rasanya Amir bila dikatakan penagih dadah.


    “Awak buka seluar dan baring di situ,” Doktor Tan mengulangi kata-katanya sambil tangannya menunjukkan sebuah katil kecil yang dijadikan tempat pemeriksaan.


    Amir membuka seluar yang dipakainya dan berbaring di katil seperti yang diarahkan oleh doktor amoi tersebut. Dr. Tan memeriksa dan memegang batang pelir Amir dengan tangannya yang dibungkus sarung tangan getah.

    “Ini salah awak. Kalau awak tak buang kulit yang membungkus kepala penis awak tentu tak jadi begini.” Dr. Tan bersuara sambil mengelus kepala licin yang lecet.


    Amir berfikir. Salahkah aku kerana aku bersunat. Doktor amoi ini menyalahkan aku kerana kulit kulupku telah dibuang.


    “Awak tak tau ke kulit foreskin berperanan melindung kepala penis. Yang kau orang buang tu buat apa?” Dr. Tan masih mengomel.

    “Saya suka perempuan melayu, kepala mereka ditutup dengan baik. Saya tak suka penis melayu, kulit penutup kepala malah dibuang.”

    Amir sungguh geram bila penisnya dihina seperti itu. Perasaan marahnya tidak ditunjukkan kerana lukanya sedang diperiksa. Kalau diturutkan hati mau saja diterajang doktor cina itu. Malunya berganda bila pembantu doktor tersebut senyum-senyum bila Dr. Tan terus-terusan mengomel.


    “Mary! Suami kau bersunat ke?”


    “Tidak, doktor,” jawab Mary yang berketurunan india.

    “Kau suka yang bersunat atau tak bersunat?” tanya Dr. Tan lagi.

    “Saya tak kisah doktor. Asal cukup keras dan boleh memuaskan saya.” Jawab Mary selamba.


    Amir geram. Doktor ni nak merawat aku yang sakit atau nak berborak dengan pembantunya.


    “Saya kalau berkahwin nanti nak pilih yang tak bersunat,” Dr. Tan bercakap tanpa rasa malu kepada Amir yang sedang dirawatnya. Atau doktor amoi ini sengaja nak menunjuk-nunjuk.


    “Kalau dia bersunat macam mana doktor?” tanya Mary.

    “Sebelum bertunang saya pasti akan periksa penisnya terlebih dulu. Saya perlu uji keperkasaannya.”


    “Doktor tak kisah ke nanti bila bersanding doktor tak virgin lagi?”


    “Sekarang pun saya dah tak virgin.”

    Celupar saja mulut doktor muda itu.
    Amir diam saja di atas katil pemeriksaan. Perasaan geramnya masih bersisa. Malu pun ada bila doktor cina ini memperkecilkan kepunyaannya. Doktor itu terus menyapu ubat ke bahagian kepala pelir Amir yang luka. Pedih rasanya ubat yang disapu. Geli juga ada bila kapas ubat merayap di kepala pelirnya.

    “Okey, dah siap. Penis awak ni kecil sangat. Tak ada perempuan yang suka.” Sempat pula doktor muda ini menyindir Amir.

    Perasaan Amir kembali membara. Kalaulah dia tak sakit waktu itu juga doktor cina itu akan dirogolnya. Kata-kata doktor tersebut menghiris perasaannya. Amir rasa terhina.


    “Aku rasa terhina dengan dokor anak haram tu.” Amir menceritakan halnya kepada Razak kawannya seminggu selepas pemeriksaan dengan maki hamunnya.

    “Apa kau nak buat sekarang?” tanya Razak.

    “Aku nak balas dendam, biar dia rasa batang butuh aku ni,” Amir masih menyinga.


    “Kau nak ikut aku?” tanya Amir kepada kawan rapatnya itu.


    “No problem, aku nak rasa burit amoi tu.”

    Pukul sepuluh malam itu Amir dan Razak sedang menunggu di hadapan kllinik Dr. Tan. Satu persatu pembantu doktor tersebut meninggalkan klinik. Sepuluh minit menunggu kelibat Dr. Tan muncul. Dia memegang kunci untuk menutup kliniknya. Dengan pantas Amir dan Razak menyerbu dan memeluk doktor tersebut dari belakang. Sambil mulutnya dipekup badan doktor tersebut di tolak ke dalam klinik.
    Amir dibantu Razak menarik doktor amoi tersebut ke dalam bilik pemeriksaan. Lampu dibuka terang dan doktor tersebut di baringkan di atas katil pemeriksaan. Amir mengeluarkan pisau kecil yang di simpan dalam koceknya dan hujungnya dirapatkan ke pipi licin doktor tersebut.

    “Jika kau menjerit pisau ini akan menoreh pipi kau yang cantik ini.” Amir memberi amaran kepada Dr. Tan.

    “Kalau mahu selamat ikut saja perintah kami,” sampuk Razak.


    Dengan penuh ketakutan Dr. Tan mengikut saja tanpa berupaya melawan. Lelaki melayu dua orang yang berbadan kekar ini boleh melakukan apa saja ke atas dirinya.
    Amir memegang erat paha Dr. Tan yang memakai skirt pendek. Dr. Tan hanya memejamkan matanya apabila skirt mininya diselak oleh Amir. Airmata kelihatan menitis dari kelopak matanya apabila Amir menanggalkan skirt yang dipakainya dan menampakkan peha dan kakinya yang amat putih. Amir menjilat-jilat lidahnya menikmati pemandangan indah di hadapannya.

    “Minggu sudah kau menghina butuh aku. Kau kata butuh bersunat tak cantik. Kau kata butuh aku kecil, tak ada perempuan mau. Sekarang aku mau kau rasa butuh aku ini.”


    Dengan perasaan yang masih takut Dr. Tan mula mengingati lelaki di hadapannya. Dr. Tan masih ingat pemuda yang terkengkang-kengkang berjalan masuk ke bilik pemeriksaannya. Dr. Tan mula menyesal kerana menyindir pemuda ini. Tak sangka pemuda ini berdendam kepadanya. Akhirnya seluar dalam Dr. Tan berwarna putih itu telah dapat dilihat oleh Amir dan Razak.

    Amir pun mencium-cium dari hujung kaki hingga sampai ke seluar dalam Dr. Tan. Mengeliat-geliat Dr. Tan diperlakukan begitu. Amir kemudiannya merentap seluar dalam Dr. Tan dan menampakkan tundun putih gebu ditutupi dengan bulu-bulu halus warna hitam dan amat menyelerakan.
    Amir pun terus menekup mukanya ke celah rekahan burit Dr. Tan dan menjilat-jilatnya dengan penuh bernafsu. Ada sedikit bau hancing, mungkin doktor cina ini tak basuh selepas kencing.

    Mengeliat-ngeliat Dr. Tan diperlakukan begitu. Buritnya terasa geli dijilat Amir. Walau pun tanpa rela tapi lidah Amir yang menyeksa kelentitnya membuat nafsunya membara juga. Sambil menjilat kemaluan Dr. Tan, tangan Amir tak henti-henti meraba-raba paha dan seluruh tubuh Dr. Tan. Dr. Tan menjerit-jerit kecil apabila Amir menghisap biji kelentitnya yang sedap itu.

    Terangkat-angkat punggung Dr. Tan menahan sengsara tapi nikmat.
    Amir tak kisah dengan burit amoi yang berbau kencing itu. Mungkin Dr. Tan tak basuh buritnya selepas kencing. Amir mula mengganas dan ingin mengerjakan bahagian atas tubuh Dr. Tan pula.

    Dengan bantuan Razak baju dan coli yang menutupi buah dada Dr. Tan itu pun ditanggalkan. Buah dada indah Dr. Tan akhirnya terburai dan Dr. Tan kini telah telanjang bulat.
    Bibir Dr. Tan kini menjadi mangsa ciuman Amir dan jari-jemarinya meramas buah dada padat milik Dr. Tan. Kelihatan pipi Dr. Tan yang lembut dan putih itu bertukar menjadi kemerah-merahan apabila Amir makin bertindak ganas.

    Amir mula membuka pakaian dan selaur jeansnya. Amir pun menanggalkan seluar dalamnya dan mengeluarkan batang butuhnya yang telah lama mengeras. Butuh enam inci itu terhangguk-hangguk menunggu mangsanya.


    “Jangan, jangan buat macam nie, saya minta maaf,” kata Dr. Tan lagi memohon belas kasihan.


    “Dah terlambat kau nak minta maaf. Sekarang kau rasa butuh bersunat aku ni.” Amir gelak kecil.


    Amir melurut batang butuhnya. Kepala bulat warna coklat tua itu berkilat. Sengaja didekatkan ke muka amoi cantik. Dr. Tan tak menyangka pelir kecil dan pendek waktu diperiksa dulu boleh mengembang sebesar itu.

    “Sekali kau rasa butuh bersunat kau akan ketagih. Kau rasa kesedapannya.”

    Amir terus mengangkangkan Dr. Tan yang tidak berdaya itu lalu kelihatan lubang buritnya terbuka luas dan bersedia untuk dikerjakan. Amir tidak berlengah lagi lalu menusukkan batang butuh yang pernah dihina ke dalam liang faraj Dr. Tan yang masih sempit itu. Amir merasakan kenikmatan yang tidak terhingga apabila batang pelirnya masuk ke dalam burit si amoi.

    Dr. Tan hanya menekup mukanya apabila Amir telah berjaya menguasai dirinya dengan sepenuhnya. Berdecup-decup bunyi burit Dr. Tan dikongkek oleh Amir.
    Razak yang tadinya hanya menonton mula beraksi bila nafsunya juga membara. Tetek wanita cina yang pejal itu diramas-ramas. Ketiak licin doktor cina itu dicium dan dihidu. Wangi pula ketiak doktor muda ini. Dr. Tan kegelian bila lidah Razak mula berlegar di kulit ketiaknya yang licin.

    Amir meneruskan aksinya. Batang pelirnya di tarik dari lubang burit Dr. Tan. Dicempung doktor muda itu dan diletak ke lantai. Di arah doktor cina itu supaya merangkak. Butuhnya yang basah dengan lendir burit Dr. Tan dijoloknya dari belakang.
    Dr. Tan hanya mampu mengerang. Terhayun-hayun teteknya yang tergantung. Razak yang memerhati saja tingkah laku Amir dan Dr. Tan tak dapat lagi mengawal nafsunya. Seluarnya dilondeh dan terpacaklah butuhnya yang sama besar dengan butuh Amir. Butuh bersunat itu dihalakan ke mulut Dr. Tan.

    “Sekarang hisap butuh bersunat pula. Nanti tentu kau rasa sedapnya,” usik Razak sambil mengacahkan butuhnya yang besar dan panjang itu ke muka Dr. Tan. Dr. Tan hanya mampu melihat tanpa berani melawan.


    “Buka mulut dan hisap, tunggu apa lagi,” perintah Razak dengan suara keras.


    Dr. Tan membuka mulut tanpa daya dan mula merasa kepala licin bentuk topi jerman menerobos ke mulutnya. Dr. Tan mengisap dan mengemut batang besar hingga Razak mengerang-ngerang kesedapan.
    Lama-kelamaan Dr. Tan telah keletihan dan hanya mampu menuruti sahaja perlakuan Amir dan Razak terhadapnya. Akhirnya Dr. Tan tidak mampu bertahan lagi dengan asakan butuh Amir dan dia pun berpeluh-peluh kerana hampir klimaks. Mata Dr. Tan kelihatan amat kuyu dan keletihan sementara buah dadanya menegang tajam kerana merasai orgasme yang amat hebat, maklumlah kali pertama kena kongkek oleh lelaki melayu bersunat. Butuh yang diperkecil-kecilkannya dirasa sungguh hebat.

    Akhirnya Dr. Tan klimaks dan air mazinya terkeluar juga dengan banyaknya dan kelihatan meleleh keluar di liang farajnya. Kali pertama Dr. Tan mendapat orgasme dilayan butuh berkhatan. Sebelum ini teman lelakinya yang berkulup yang melayannya. Mengerang sakan bila dia mengalami klimaks. Menggigil badannya merasa kelazatan yang amat sangat. Amir juga turut orgasme apabila melihat doktor muda yang cantik yang ditutuhnya itu klimaks dan dia meraung kuat apabila orgasme sambil memancut-mancutkan air jantannya ke dalam liang burit Dr. Tan.

    Perempuan cina itu dapat merasai cairan panas menerpa laju ke rongga rahimnya. Pangkal rahimnya terkemut-kemut menyedut benih melayu yang amat banyak. Mungkin dua sudu besar sperma Amir memancut mengosongkan pundi simpanannya.
    Razak juga tak tertahan lagi bila mulut comel yang hangat itu membelai batang pelirnya. Razak yang belum pernah merasai perempuan tak dapat bertahan lama dan memancutkan maninya ke dalam mulut Dr. Tan. Dr. Tan dengan lemah menelan semua mani Razak. Terasa hanyir tapi di telan juga.

    “Sekarang kau rasa butuh yang kau hina. Kau kata tak teringin butuh bersunat. Apa rasanya?”

    “Sedap,” Dr. Tan menjawab dengan perasaan malu.


    Sekarang Dr. Tan mengakui batang melayu dua orang ini lebih sedap dari batang teman lelakinya. Dia telah salah sangka. Dan dia rasa silap kerana menghina butuh lelaki ini. Tapi bila difikirkan ada pula hikmahnya. Dia dapat menikmati batang pelir yang dipotong kulit tudungnya. Rasanya juga sedap. Dr. Tan mula berfikir untuk menyuruh teman lelakinya berkhatan.


    Razak dan Amir mengenakan pakaian dan meninggalkan doktor cina tersebut terbaring kelesuan di lantai. Sempat pula Razak memcapai seluar dalam doktor cina tersebut. Untuk kenang-kenangan dan modal melancap, katanya.

    “Tak sempat aku merasa burit amoi. Hisapannya dahsyat, aku tak dapat tahan.” Razak mengeluh perlahan.

    “Kau jangan sedih. Minggu depan kita kerjakan lagi doktor cina tu.”
    Amir dan Razak ketawa berderai dalam kereta.
     
  8. bajad

    bajad Junior

    DENDAM MEMBARA 2

    Razak tak puas hati. Hajatnya untuk merasai burit amoi yang cantik tidak kesampaian. Hari itu maninya tak dapat ditahan-tahan. Kemutan mulut doktor amoi itu membuat dia tak dapat mengawal diri. Ghairahnya malam itu benar-benar membakar dirinya, pelbagai petua diikutinya tapi maninya cepat saja terpancut. Sungguhpun dia rasa puas tapi dendamnya untuk menikmati burit doktor cina itu tidak menjadi kenyataan. Razak memasang angan-angan dan berazam untuk merasai juga burit cina muda tersebut.

    Amir dan Razak membuat perancangan seterusnya. Apalagi Razak merayu-rayu untuk menikmati burit amoi yang cantik itu. Kali ini mereka akan mengajak teman rapat mereka yang juga ingin merasai burit amoi yang ketat itu. Maklum saja bujang terlajak dua orang ini belum pernah merasai nikmatnya *******. Hanya melancap saja yang mereka tahu, itupun dah terasa nikmat yang tak terhingga.

    Bila diapi-apikan oleh Amir bahawa hubungan seks itu teramatlah nikmatnya maka Razak dan Halim sudah memasang angan-angan untuk kongkek gadis cina yang solid molid itu. Dulu pun Razak sudah terasa nikmatnya bila batangnya dikulum oleh doktor muda itu. Bila Amir mengiklankan bahawa lubang burit sepuluh kali ganda lebih sedap dari lubang mulut maka Razak sudah tak sabar-sabar nak merasai lubang burit amoi tersebut.

    Amir, Razak dan Halim berbincang di kedai kopi Pak Shariff petang itu. Kali ini mereka bercadang untuk melanyak si amoi tersebut di rumahnya sendiri. Halim ditugaskan mengintip dimana doktor amoi itu tinggal. Halim dengan senang hati menerima tugasan tersebut. Di otaknya telah terbayang batang pelirnya akan bermain-main dalam lubang nikmat amoi cantik.

    Malam itu Halim sudah menunggu di hadapan klinik Dr. Tan. Sepuluh minit kemudian Dr. Tan meninggalkan klinik dan menuju ke arah kereta Honda Accord yang diparkir di hadapan klinik. Bila Dr. Tan bergerak, Halim juga bergerak mengekori kereta mewah tersebut dengan motor kapcainya. Sepuluh minit kemudian Dr. Tan menghentikan keretanya di hadpan sebuah restoran KFC.

    Sepuluh minit menunggu, Dr. Tan keluar menjinjing sebuah bungkusan plastik. Ia terus menuju ke keretanya dan terus bergerak menyusuri jalan yang agak sesak. Lima belas minit kemudian Dr. Tan menghala ke arah taman perumahan mewah. Di taman itu banglonya besar dan cantik melambangkan status penghuninya yang kaya.

    Halim mengikut dari jauh Honda Accord hitam metalik doktor muda itu. Menghampiri sebuah banglo tiba-tiba pintu terbuka. Halim berfikir pasti Dr. Tan mengguna remote control membuka pintu pagarnya. Halim memperlahankan motornya dan memanjangkan lehernya mengawasi rumah Dr. Tan. Rumah itu kelihatan sunyi dan gelap. Tiada kereta lain di sana. Halim tersenyum seorang diri. Dr. Tan pastinya tinggal seorang diri.

    “Ini berita baik,” kata Halim bila Amir dan Razak berkumpul di kedai kopi Pak Shariff petang esoknya.

    “Apa yang baiknya?” tanya Amir sambil mengunyah karipap.

    “Amoi tu duduk sorang diri. Ini peluang baik.” Halim menambah.

    “Ini baik punya. Dapatlah aku merasa burit amoi.” Razak mengangkat ibu jarinya ke atas. Dia masih penasaran kerana tak berpeluang membenamkan batang pelirnya ke dalam burit doktor cina itu.

    Pada malam yang dijanjikan mereka bertiga telah menunggu berhampiran banglo Dr. Tan dalam kereta Proton Saga kepunyaan Amir. Sepuluh minit kemudian cahaya terang dari lampu kereta menghampiri mereka. Bila kereta tersebut melintasi mereka mereka mengikutinya perlahan. Lampu kereta mereka tidak dinyalakan.

    Bila pintu pagar terbuka dan kereta Honda Accord melewatinya dengan pantas mereka memecut masuk ke halaman rumah. Dr. Tan tidak perasan ada kereta lain mengikutinya. Dengan selamba dia keluar dan membuka pintu rumah. Begitu saja pintu terbuka, tiga sekawan menyerbu masuk dan menolak Dr. Tan ke dalam. Dr. Tan amat terkejut bila tubuhnya dipeluk erat oleh tiga lelaki tersebut.

    “Jangan menjerit. Ikut perintah kami, kalau tidak pisau ini akan menembusi perut awak.”

    Dr. Tan merasai benda tajam menikam belakangnya. Dia terkaku dan lidahnya kelu kerana teramat takut.

    “Masuk bilik awak.”

    Dr. Tan menurut. Dia melangkah longlai menapak anak tangga satu demi satu. Bilik tidurnya ada di tingkat atas. Ketiga lelaki tersebut masih memegang kedua tangannya. Pintu bilik dibuka dan lampu dipasang. Ketiga lelaki tersebut terpegun melihat bilik mewah doktor cina tersebut. Katilnya luas dengan hiasan cantik. Bilik tersebut berbau harum.

    “Awak selamat jika menurut arahan kami. Jika awak membantah nyawa awak akan melayang.” Amir mengacu pisau tajam ke muka si amoi.

    Oleh kerana ketakutan diancam hendak dibunuh, akhirnya Dr. Tan tidak berani berteriak keras-keras dan pasrah dengan nasibnya. Tanpa membuang masa tiga sekawan itu langsung mendekati Dr. Tan dan menolaknya ke katil. Dr. Tan terbaring lemah di atas tilam empuk. Ketiga lelaki tersebut mulai mengerumuninya. Amir langsung mencium muka Dr. Tan, mula-mula hidung dan pipinya dijilat-jilatnya, seakan-akan sedang menikmati betapa licin dan mulusnya pipi Dr. Tan tersebut, akhirnya bibir mungil amoi tersebut dilumatnya dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan nafsu meraba-raba buah dada yang mulus padat itu, kemudian meramas-ramasnya dengan sangat bernafsu.

    “Awak masih kenal saya? Pemuda yang awak hina dulu. Awak kata butuh saya kecil.”

    Dr. Tan hanya mampu bersuara lemah, "Aahh... jangan, jangan. Saya minta ampun.”

    Amir, Razak dan Halim hanya tertawa mendengar rayuan si amoi tersebut. Kali ini mereka akan lanyak amoi ini habis-habis. Mulut celupar dokor muda itu mesti ditutup. Disumbat dengan batang butuh bersunat yang dihina dulu.

    “Sekarang kau merayu. Dulu bila kepala butuhku luka kau hina. Kau kata butuhku kecil. Kau kata kau benci butuh bersunat. Kau hanya suka butuh berkulup. Kami datang memang nak membalas dendam.”

    “Saya silap, maafkan saya.”

    “Maaf diterima tapi sebelum itu kami nak rasa lubang burit kau tu dulu.” Razak tersenyum lebar melihat doktor cina itu yang menggigil.

    Halim yang tidak terlibat minggu lalu amat teruja menikmati tubuh si amoi yang langsing dan bergetah. Memang benar kata-kata Amir, doktor muda ini sepatutnya jadi model atau artis. Wajah dan badannya memang aduhai.

    "Tenang saja, kami datang nak memberi nikmat kepada awak. Kata orang win win situation. Kami enak awak enak,” Halim berhujah sambil tangannya memicit-micit tetek si amoi yang padat. Macam orang politik saja cakapnya. Mentang-mentanglah dia tukang panjat pokok tampal poster pada pilihanraya lepas.

    ”Awak rasa butuh bersunat, nanti awak compare dengan butuh kulup tunang awak tu. Bulan depan kami datang lagi.” Amir tak habis-habis menyeksa minda doktor cina yang celupar.


    Dr. Tan terperanjat mendengar kata-kata Amir. Seksa hari ini belum selesai dia telah diberi temujanji untuk bulan depan pula. Dendam pemuda ini membuat fikirannya bercelaru dan takut. Sampai bila dia akan diseksa kerana mulut lasernya dulu.

    Halim sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh mungil amoi muda. Gadis cina itu direnung. Nafsu dan ghairahnya sememangnya telah menyala sejak dari tadi. Tubuh doktor muda itu di uli. Badan Dr. Tan menggeliat-geliat, tapi dia tidak dapat menghindar karena kedua teman Halim masing-masing memegang kaki dan tangannya erat-erat sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mau kalah dengan Halim, Amir yang memegang kedua kaki Dr. Tan langsung menyingkap dan menarik skirt pendek Dr. Tan, sehingga terlihat celana dalam merah muda dan kedua belah paha Dr. Tan yang putih mulus.

    Kemudian sambil menduduki kedua kaki Dr. Tan, kedua tangan orang tersebut segera mengelus-elus kedua paha Dr. Tan yang sudah separuh terbuka. Tangan Amir mula-mula hanya bermain-main di kedua paha, naik turun, tapi akhirnya secara perlahan-lahan mulai mengelus-elus belahan di antara kedua pangkal paha Dr. Tan yang masih ditutupi seluar dalam itu. Tidak cukup sampai di situ, bahkan salah satu jari tengahnya dimasukan ke celana dalam Dr. Tan dan dipaksakan masuk kedalam kemaluan Dr. Tan yang masih sangat rapat itu.

    Badan Dr. Tan hanya mampu menggeliat-geliat saja dan punggungnya bergerak ke kiri ke kanan cuba menghindari tangan-tangan yang meraba paha dan kemaluannya itu. Buah dadanya yang pejal dan terpacak gagah menjadi mangsa tangan-tangan kasar pemuda melayu yang disindirnya dulu.

    “Jangan apa-apakan saya. Tolong,” Dr. Tan masih cuba merayu sungguhpun dia tahu rayuannya hanya sia-sia.

    “Jangan siksa saya, tolong!” Suara Dr. Tan kedengaran lemah. Dari kedua matanya mengalir air mata putus asa, kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri ke kanan, menahan rasa geli yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Secara perlahan-lahan pada bahagian celana dalamnya yang menutupi belahan buritnya mulai terlihat membasah.

    Dr. Tan tidak dapat menyembunyikan perasaan terangsangnya. Walaupun dipaksa tetapi bila taman larangannya diusik-usik ghairahnya meledak juga. Cairan hangat mula mengalir keluar dari lubang nikmatnya. Bila mulut, dada dan tundunnya dikerjakan serentak, Dr. Tan makin terangsang. Bibir basahnya yang merah itu dilumat oleh Halim, teteknya yang mengkal kenyal diramas Razak dan lubang merekahnya dibelai Amir. Tindakan serentak di tiga daerah ini sungguh nikmat rasanya.


    Amir bertindak lagi. Baju yang dipakai Dr. Tan dikoyaknya. Di tubuh putih gebu itu hanya tinggal coli dan seluar dalam. Separuh bogel Dr. Tan telentang di tengah-tengah katil lebar. Amir meraba-raba dan mengelus-elus buah dada Dr. Tan yang masih tertutup coli. Cangkok coli jenama Triumph itu dibuka dan terdedahlah sepasang gunung kembar itu. Terpesona tiga pasang mata menatap payudara Dr. Tan yang sangat indah itu. Buah dada Dr. Tan putih mulus, tidak terlalu besar, masih pejal berdiri tegak dengan ujung putingnya yang coklat muda yang telah mengeras kerana terangsang.

    “Sedap kalau dihisap tetek ni,” kata Halim.

    Halim dan Razak mengusap-usap payudara Dr. Tan dengan perlahan-lahan. Halim terpesona. Pertama kali dia melihat buah dada indah, putih dan halus. Amir tak mahu ketinggalan. Buah dada yang mengkal itu diraba-raba dan diramas-ramas perlahan dan lembut. Terasa kenyal seperti bola getah bila dipicit. Lelaki bertiga itu benar-benar menikmati gunung kembar indah. Dr. Tan hanya pasrah. Tiada lagi suara dari mulut mungilnya.

    Halim kelihatan tak sabar dengan mangsa yang terbaring itu. Celana merah muda ditarik ke bahagian kaki doktor muda itu. Seluar dalam itu dipegang dan diramas. Lembut saja kainnya. Bahagian tengahnya kelihatan basah. Halim menghidu bahagian basah itu dan batang pelirnya semakin tegang. Aroma burit Dr. Tan membakar nafsunya.

    Dr. Tan terbaring bogel. Tiada lagi pakaian yang menutup dirinya. Tiga pasang tangan membelai dan meneroka tubuh indah itu. Tiap lekuk tubuh muda di usap dan diuli.
    Bahagian bawah tubuh Dr. Tan yang membukit kecil di antara kedua pahanya yang putih mulus itu menjadi tatapan tiga pasang mata yang bercahaya penuh nafsu. Tundun bengkak dan lurah kecil berbentuk garis memanjang yang menggelembung pada kedua pinggirnya, tampak ditutupi oleh bulu kemaluan yang lebat yang berwarna coklat muda.


    “Cantiknya burit. Aku suka bulu yang lebat,” Halim kembali bersuara.

    Amir langsung meraba-raba dan mengelus-elus bulu kemaluan sambil membuka kedua paha Dr. Tan makin melebar. Terlihatlah lurah buritnya yang masih rapat. Tangan kasar itu segera menjamah liang yang sempit itu sambil digosok-gosok. Tonjolan daging kecil yang terletak di bagian atasnya dielus-elus dengan jari telunjuk. Halim tak sabar untuk menikmati burit Dr. Tan yang kelihatan merah dan merekah basah. Bibir bahagian dalam sungguh lembut dan berwarna merah menyala. Bagi Halim daging nipis dua keping itu sungguh indah.

    “Bagi aku cium burit amoi ni,” pinta Halim.

    “Kesian Si Halim ni. Sudah tua begini belum pernah merasa burit. Bagi dia hidu burit amoi tu,” kata Amir kepada Razak.

    Halim membenamkan batang hidungnya ke dalam lurah yang merekah merah. Ditarik dalam-dalam nafasnya menikmati aroma burit gadis cina. Puas menghidu lidahnya pula menjilat biji kacang di bahagian atas. Badan Dr. Tan meliuk-lintuk bila Halim mengulum kelentitnya. Basah lidah dan hidung Halim dengan lendir yang keluar dari rongga burit amoi.

    “Oohh.. begini rupanya bau burit,” Halim bersuara sambil hidungnya masih di celah kelangkang si amoi.


    “Kenapa, kau ingat bau burit macam minyak wangi Avon,” Amir menjawab lirih sambil tertawa.

    “Yalah bukan macam bau Avon tapi baunya buat butuh aku keras.” Halim masih bersuara.

    “Itulah bau burit. Busuk tapi lelaki suka. Kau bukan tak tahu amoi cina bukan basuh burit bila kencing,” Razak menyampuk.

    “Bukan hanya orang, lembu jantan pun suka bau burit. Kau tak tengok lembu jantan suka cium bau burit lembu betina.” Amir berceloteh sambil tangannya tak tinggal diam mengganyang badan si amoi.

    “Syoklah kulum kelentit amoi ni, besar dan panjang.”

    “Memanglah kelentit cina besar panjang. Mereka tak bersunat. Mungkin kerana tu amoi ni suka butuh tak bersunat.”

    “Kau ingat amoi ni bini kau, nak berlama-lama. Cepatlah kerjakan amoi ni. Aku dah tak sabar nak rasa burit,” Halim makin teruja dengan burit merah yang basah.

    Amir bangun membuka seluar dan baju yang dipakainya. Tampaklah batang kemaluannya yang telah tegang, berwarna coklat kehitaman, besar dengan bagian kepalanya yang bulat mengkilat dan bagian batangnya yang dikelilingi oleh urat-urat menonjol. Batang ini telah dirasanya dulu tapi Dr. Tan masih ngeri dengan bentuknya. Setelah selesai melepaskan seluruh pakaiannya, dengan cepat Amir kembali naik ke tempat tidur dan merangkak di atas badan Dr. Tan. Amir merangkak di antara kedua paha Dr. Tan, yang dengan paksa dibuka melebar oleh Razak yang memegang kedua kaki Dr. Tan.

    ”Boleh tak awak pakai kondom, saya tak mau hamil,” rayu Dr. Tan.


    “Kami tak bawa kondom,” kata Amir.

    “Ada dalam laci tu, ambillah,” Dr. Tan menunjuk ke arah laci di hujung kepala katilnya. Dia selalu menyimpan bekalan kondom di rumahnya. Tunangnya selalu mengguna kondom bila mereka bersenggama.

    “Tak apa, nanti kami pancut luar.”

    “Awak semua kena janji.”

    “Kami janji. Kalau kami tak sempat cabut awak kandunglah anak kami,” Amir senyum sinis sambil memandang muka doktor cina itu.

    “Banyak cakap pula amoi ni. Amir cepatlah, kami dah tak sabar ni,” celah Halim yang telah memegang batang pelirnya yang telah lama mengeras.

    Dengan tangan kiri bertumpu pada tilam empuk di samping badan Dr. Tan, tangan kanan Amir memegang batang butuhnya dan dengan perlahan-lahan digosok-gosokkannya pada bibir kemaluan Dr. Tan. Begitu kepala pelir coklat tua menyentuh kelentit Dr. Tan, terlihat badan Dr. Tan menjadi kejang dan bergetar. Amir terus melakukan kegiatannya menggosok-gosok kepala pelir pada bibir kemaluan Dr. Tan, yang akhirnya menjadi licin dan basah oleh cairan yang keluar dari muncung pelir Amir dan juga dari dalam lubang burit Dr. Tan sendiri.

    “Ohh.. awak telah terangsang juga nampaknya,” kata Amir bila menyedari bibir kemaluan Dr. Tan yang telah basah.

    Kemudian dengan perlahan-lahan Amir mulai menekan kepala butuhnya membelah bibir kemaluan Dr. Tan. Mendapat tekanan dari kepala pelir Amir, bibir kemaluan Dr. Tan tertekan ke bawah dan mulai terbuka. Oleh kerana kemaluan Dr. Tan telah basah, akhirnya kepala pelir Amir mulai terbenam ke dalam lubang syurga Dr. Tan dengan mudahnya.

    “Sedap tak butuh bersunat?” tanya Amir sambil batang pelirnya terendam dalam lubang hangat.

    Dr. Tan tak berkata apa-apa. Matanya terpejam bila dirasai ada batang bulat besar telah bersarang dalam lubang buritnya. Amir tak puas hati bila Dr. Tan diam saja. Satu tamparan hinggap di muka gadis cina itu. Dr. Tan terkapa-kapa.

    “Aku tanya butuh sunat sedap atau tidak,” jerkah Amir.

    “Sedap, sedap. Penis bersunat sedap,” jawab Dr. Tan tergagap-gagap. Kulit pipinya terasa pedih.

    “Mana lebih sedap, yang bersunat atau berkulup.”

    “Yang bersunat lebih sedap,” Dr. Tan menjawab lemah. Dia bimbang Amir akan menamparnya lagi.

    Disebabkan pelir Amir agak besar, maka kelentit Dr. Tan ikut tertarik masuk kedalam lubang kemaluannya dan tersepit oleh batang pelir Amir yang berurat menonjol itu. Keadaan ini menimbulkan perasaan geli dan sekaligus nikmat yang amat sangat pada diri Dr. Tan. Badannya yang menggeliat-geliat, meliuk-lintuk dan spontan dari mulutnya terdengar suara mengerang sakan.


    “Oohh... aahh... oohh... aahh..”

    Bila terasa sedap dan nikmat, Amir melajukan gerakan batang pelirnya keluar masuk. Kedua paha si amoi terlihat mengejang dengan kuat. Tanpa lengah Amir menekan habis hingga ke pangkal batang kerasnya itu. Terjerit Dr. Tan bila kepala pelir Amir menyentuh pangkal rahimnya. Dua butir telurnya berlabuh santai di atas lurah Dr. Tan. Dua pasang paha beradu. Paha Amir yang hitam itu menekan dengan ketat paha putih mulus Dr. Tan yang terkangkang itu.

    Memang ini bukan pertama kalinya Dr. Tan disetubuhi, telah beberapa kali tunangnya meneroka taman pusakanya itu. Tetapi kerana balak Amir jauh lebih besar dan panjang daripada butuh tunangnya, maka terasa ketat bila Amir menggerakkan batang butuhnya itu. Tanpa mengenal belas kasihan, Amir mulai memaju-mundurkan punggungnya, sehingga balaknya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang ke dalam kemaluan Dr. Tan.


    “Ketat sungguh lubang amoi ni. Sedap,” Amir bersuara.

    Razak dan Halim masih terus mengerjakan tetek dan bibir Dr. Tan. Mereka tertawa mendengar ucapan Amir.

    “Tak sabar aku nak merasa burit amoi,” Razak masih menunggu gilirannya. Batangnya mengeras di dalam seluar.

    Semakin laju Amir menggerakkan pelirnya keluar masuk semakin enak dan nikmat dirasai oleh Dr. Tan. Sambil tertawa-tawa Amir menutuh Dr. Tan habis-habisan. Dr. Tan hanya mampu merintih dan menjerit-jerit penuh nikmat. Macam kucing betina mengawan, fikir Halim. Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus. Badan Dr. Tan tiba-tiba mengejang dengan hebat sehingga bagian pinggangnya terlipat ke atas. Tanpa boleh ditahan Dr. Tan mengalami orgasme dengan hebat. Beberapa saat lamanya badannya tersentak-sentak dan akhirnya Dr. Tan terkulai layu dengan kedua kakinya terkangkang lebar. Benar-benar Dr. Tan mengalami kenikmatan yang hebat sungguhpun diluar kerelaannya. Kenikmatan luar biasa yang belum pernah dirasainya bila bersama tunangnya.

    Melihat si amoi yang sudah longlai, Amir memegang kedua pinggul Dr. Tan dan menariknya ke atas, sehingga punggung Dr. Tan terangkat dari tilam. Dengan posisi ini Amir dengan leluasa membenamkan pelirnya dalam-dalam ke lubang kemaluan Dr. Tan tanpa halangan. Sambil punggungnya dimaju-mundurkan, sekali-sekali Amir menekan punggung Dr. Tan rapat-rapat ke tubuhnya dan memutar-mutar punggung Dr. Tan, sehingga kemaluan Dr. Tan meramas-ramas pelir Amir yang terbenam habis di dalamnya.

    Sementara Amir menikmati lubang burit Dr. Tan sambil meramas-ramas kedua payudaranya, Halim dan Razak ikut menggosok-gosok pelir masing-masing pada tubuh Dr. Tan. Kepala bulat bentuk kudup cendawan itu ditenyeh-tenyeh pada ketiak dan pipi si amoi. Razak seronok bila kepala pelirnya beradu dengan tunggul-tungul bulu ketiak Dr. Tan. Tunggul-tunggul kasar itu menimbulkan perasaan geli.

    Halim yang tak tahan melihat bibir merah dan basah mula menenyehkan kepala butuhnya ke sepasang bibir Dr. Tan. Halim seronok bila bibir lembut itu mengusap kepala butuhnya. Halim sengaja tak mahu memasukkan ke dalam mulut Dr. Tan kerana bimbang dia akan memancutkan maninya. Dia ingin memancutkan benihnya ke dalam burit Dr. Tan. Peristiwa Razak yang terpancutkan maninya dalam mulut Dr. Tan tak akan diulanginya.

    Tikaman demi tikaman masih berlangsung. Amir berpeluh-peluh mengerjakan burit sempit amoi cina. Kali ini permainannya lebih seronok daripada peristiwa di klinik minggu lepas. Perasaan nikmat menjalar ke seluruh urat-urat sarafnya. Tak lama kemudian Amir mengalami ejakulasi dan memancutkan seluruh spermanya ke dalam vagina Dr. Tan. Tubuh si amoi tersentak-sentak bila benih-benih melayu yang panas menerpa rongga rahimnya. Badan Dr. Tan dipeluknya erat sementara badannya menghempap badan si amoi yang langsing itu. Seminit kemudian Amir rebah terkulai keletihan di sebelah Dr. Tan yang baring terlentang.

    Melihat Amir yang telah mengalah maka Razak mula mengambil gilirannya. Dicelapak tubuh Dr. Tan dan mula membetulkan kepala torpedonya. Kaki Dr. Tan dikangkang luas
    hingga bibir-bibir burit Dr. Tan ternganga. Ditenyeh-tenyeh kepala butuhnya di lurah yang telah banjir. Geli rasanya bila kulit kepala pelir yang nipis itu menggelungsur di rekahan burit muda. Razak tak mampu lagi berlama-lama. Dibetulkan kepala pelirnya ke celah burit dan ditekan kuat. Mudah saja batang balaknya menyelam hingga ke pangkal. Dan bermulalah acara sorong tarik. Lima minit kemudian memancutlah cairan pekat putih menerpa pangkal rahim Dr. Tan. Terangkat-angkat punggung Dr. Tan menyambut semburan cairan mani yang hangat.

    Melihat Razak telah mengalah maka Halim mengambil giliran. Dia rapat ke badan Dr. Tan dalam posisi melutut di celah kangkang Dr. Tan. Dihalakan kepala pelirnya yang sudah keras sejak lama ke arah bibir-bibir lembut yang merekah. Sekali tekan seluruh balaknya terbenam dalam lubang burit. Mudah saja pelirnya meluncur masuk kerana lubang burit Dr. Tan telah dipenuhi dengan mani Razak dan Amir.

    Mungkin kerana pertama kali mengadakan hubungan kelamin maka Halim tak dapat bertahan lama. Perasaan geli yang teramat sangat pada kepala pelirnya membuatkan maninya tak sabar-sabar ingin keluar. Dicuba sedaya upaya bertahan tetapi tak sampai lima minit aktiviti sorong tarik berlangsung maka terpancut juga air nikmatnya. Menggigil badan Halim macam orang demam kura. Beberapa saat kemudian tergeletaklah Halim di sebelah Dr. Tan.

    Dr. Tan rasa dirinya tak bermaya. Tenaganya terkuras habis. Berkali-kali dia mengalami orgasme. Lutut dan seluruh anggotanya lemah tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Badannya terkulai, terkapar lesu di atas tilam.

    “Macam ayam saja kau Halim. Sekejap saja dah selesai.”

    “Gelilah, aku tak tahan.”

    “Kalau macam ni isteri kau lari ikut lelaki lain. Mungkin ikut mat bangla.”

    “Okeylah, mari kita blah. Lain kali kita ulang lagi.”

    “Nah Halim kau ambil coli amoi. Aku nak simpan seluar dalamnya untuk kenangan.” Razak meramas-ramas seluar dalam warna merah muda itu. Dicium dan dihidu aroma yang terpalit di seluar dalam perempuan cina itu.

    “Kau orang nak buat apa khazanah tu,” tanya Amir.

    “Nak buat modal melancap,” jawab Razak dan Halim serentak.

    Lelaki bertiga itu tertawa puas.
     
  9. bajad

    bajad Junior

    DENDAM MEMBARA 2

    Razak tak puas hati. Hajatnya untuk merasai burit amoi yang cantik tidak kesampaian. Hari itu maninya tak dapat ditahan-tahan. Kemutan mulut doktor amoi itu membuat dia tak dapat mengawal diri. Ghairahnya malam itu benar-benar membakar dirinya, pelbagai petua diikutinya tapi maninya cepat saja terpancut. Sungguhpun dia rasa puas tapi dendamnya untuk menikmati burit doktor cina itu tidak menjadi kenyataan. Razak memasang angan-angan dan berazam untuk merasai juga burit cina muda tersebut.

    Amir dan Razak membuat perancangan seterusnya. Apalagi Razak merayu-rayu untuk menikmati burit amoi yang cantik itu. Kali ini mereka akan mengajak teman rapat mereka yang juga ingin merasai burit amoi yang ketat itu. Maklum saja bujang terlajak dua orang ini belum pernah merasai nikmatnya *******. Hanya melancap saja yang mereka tahu, itupun dah terasa nikmat yang tak terhingga.

    Bila diapi-apikan oleh Amir bahawa hubungan seks itu teramatlah nikmatnya maka Razak dan Halim sudah memasang angan-angan untuk kongkek gadis cina yang solid molid itu. Dulu pun Razak sudah terasa nikmatnya bila batangnya dikulum oleh doktor muda itu. Bila Amir mengiklankan bahawa lubang burit sepuluh kali ganda lebih sedap dari lubang mulut maka Razak sudah tak sabar-sabar nak merasai lubang burit amoi tersebut.

    Amir, Razak dan Halim berbincang di kedai kopi Pak Shariff petang itu. Kali ini mereka bercadang untuk melanyak si amoi tersebut di rumahnya sendiri. Halim ditugaskan mengintip dimana doktor amoi itu tinggal. Halim dengan senang hati menerima tugasan tersebut. Di otaknya telah terbayang batang pelirnya akan bermain-main dalam lubang nikmat amoi cantik.

    Malam itu Halim sudah menunggu di hadapan klinik Dr. Tan. Sepuluh minit kemudian Dr. Tan meninggalkan klinik dan menuju ke arah kereta Honda Accord yang diparkir di hadapan klinik. Bila Dr. Tan bergerak, Halim juga bergerak mengekori kereta mewah tersebut dengan motor kapcainya. Sepuluh minit kemudian Dr. Tan menghentikan keretanya di hadpan sebuah restoran KFC.

    Sepuluh minit menunggu, Dr. Tan keluar menjinjing sebuah bungkusan plastik. Ia terus menuju ke keretanya dan terus bergerak menyusuri jalan yang agak sesak. Lima belas minit kemudian Dr. Tan menghala ke arah taman perumahan mewah. Di taman itu banglonya besar dan cantik melambangkan status penghuninya yang kaya.

    Halim mengikut dari jauh Honda Accord hitam metalik doktor muda itu. Menghampiri sebuah banglo tiba-tiba pintu terbuka. Halim berfikir pasti Dr. Tan mengguna remote control membuka pintu pagarnya. Halim memperlahankan motornya dan memanjangkan lehernya mengawasi rumah Dr. Tan. Rumah itu kelihatan sunyi dan gelap. Tiada kereta lain di sana. Halim tersenyum seorang diri. Dr. Tan pastinya tinggal seorang diri.

    “Ini berita baik,” kata Halim bila Amir dan Razak berkumpul di kedai kopi Pak Shariff petang esoknya.

    “Apa yang baiknya?” tanya Amir sambil mengunyah karipap.

    “Amoi tu duduk sorang diri. Ini peluang baik.” Halim menambah.

    “Ini baik punya. Dapatlah aku merasa burit amoi.” Razak mengangkat ibu jarinya ke atas. Dia masih penasaran kerana tak berpeluang membenamkan batang pelirnya ke dalam burit doktor cina itu.

    Pada malam yang dijanjikan mereka bertiga telah menunggu berhampiran banglo Dr. Tan dalam kereta Proton Saga kepunyaan Amir. Sepuluh minit kemudian cahaya terang dari lampu kereta menghampiri mereka. Bila kereta tersebut melintasi mereka mereka mengikutinya perlahan. Lampu kereta mereka tidak dinyalakan.

    Bila pintu pagar terbuka dan kereta Honda Accord melewatinya dengan pantas mereka memecut masuk ke halaman rumah. Dr. Tan tidak perasan ada kereta lain mengikutinya. Dengan selamba dia keluar dan membuka pintu rumah. Begitu saja pintu terbuka, tiga sekawan menyerbu masuk dan menolak Dr. Tan ke dalam. Dr. Tan amat terkejut bila tubuhnya dipeluk erat oleh tiga lelaki tersebut.

    “Jangan menjerit. Ikut perintah kami, kalau tidak pisau ini akan menembusi perut awak.”

    Dr. Tan merasai benda tajam menikam belakangnya. Dia terkaku dan lidahnya kelu kerana teramat takut.

    “Masuk bilik awak.”

    Dr. Tan menurut. Dia melangkah longlai menapak anak tangga satu demi satu. Bilik tidurnya ada di tingkat atas. Ketiga lelaki tersebut masih memegang kedua tangannya. Pintu bilik dibuka dan lampu dipasang. Ketiga lelaki tersebut terpegun melihat bilik mewah doktor cina tersebut. Katilnya luas dengan hiasan cantik. Bilik tersebut berbau harum.

    “Awak selamat jika menurut arahan kami. Jika awak membantah nyawa awak akan melayang.” Amir mengacu pisau tajam ke muka si amoi.

    Oleh kerana ketakutan diancam hendak dibunuh, akhirnya Dr. Tan tidak berani berteriak keras-keras dan pasrah dengan nasibnya. Tanpa membuang masa tiga sekawan itu langsung mendekati Dr. Tan dan menolaknya ke katil. Dr. Tan terbaring lemah di atas tilam empuk. Ketiga lelaki tersebut mulai mengerumuninya. Amir langsung mencium muka Dr. Tan, mula-mula hidung dan pipinya dijilat-jilatnya, seakan-akan sedang menikmati betapa licin dan mulusnya pipi Dr. Tan tersebut, akhirnya bibir mungil amoi tersebut dilumatnya dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, dengan nafsu meraba-raba buah dada yang mulus padat itu, kemudian meramas-ramasnya dengan sangat bernafsu.

    “Awak masih kenal saya? Pemuda yang awak hina dulu. Awak kata butuh saya kecil.”

    Dr. Tan hanya mampu bersuara lemah, "Aahh... jangan, jangan. Saya minta ampun.”

    Amir, Razak dan Halim hanya tertawa mendengar rayuan si amoi tersebut. Kali ini mereka akan lanyak amoi ini habis-habis. Mulut celupar dokor muda itu mesti ditutup. Disumbat dengan batang butuh bersunat yang dihina dulu.

    “Sekarang kau merayu. Dulu bila kepala butuhku luka kau hina. Kau kata butuhku kecil. Kau kata kau benci butuh bersunat. Kau hanya suka butuh berkulup. Kami datang memang nak membalas dendam.”

    “Saya silap, maafkan saya.”

    “Maaf diterima tapi sebelum itu kami nak rasa lubang burit kau tu dulu.” Razak tersenyum lebar melihat doktor cina itu yang menggigil.

    Halim yang tidak terlibat minggu lalu amat teruja menikmati tubuh si amoi yang langsing dan bergetah. Memang benar kata-kata Amir, doktor muda ini sepatutnya jadi model atau artis. Wajah dan badannya memang aduhai.

    "Tenang saja, kami datang nak memberi nikmat kepada awak. Kata orang win win situation. Kami enak awak enak,” Halim berhujah sambil tangannya memicit-micit tetek si amoi yang padat. Macam orang politik saja cakapnya. Mentang-mentanglah dia tukang panjat pokok tampal poster pada pilihanraya lepas.

    ”Awak rasa butuh bersunat, nanti awak compare dengan butuh kulup tunang awak tu. Bulan depan kami datang lagi.” Amir tak habis-habis menyeksa minda doktor cina yang celupar.


    Dr. Tan terperanjat mendengar kata-kata Amir. Seksa hari ini belum selesai dia telah diberi temujanji untuk bulan depan pula. Dendam pemuda ini membuat fikirannya bercelaru dan takut. Sampai bila dia akan diseksa kerana mulut lasernya dulu.

    Halim sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh mungil amoi muda. Gadis cina itu direnung. Nafsu dan ghairahnya sememangnya telah menyala sejak dari tadi. Tubuh doktor muda itu di uli. Badan Dr. Tan menggeliat-geliat, tapi dia tidak dapat menghindar karena kedua teman Halim masing-masing memegang kaki dan tangannya erat-erat sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mau kalah dengan Halim, Amir yang memegang kedua kaki Dr. Tan langsung menyingkap dan menarik skirt pendek Dr. Tan, sehingga terlihat celana dalam merah muda dan kedua belah paha Dr. Tan yang putih mulus.

    Kemudian sambil menduduki kedua kaki Dr. Tan, kedua tangan orang tersebut segera mengelus-elus kedua paha Dr. Tan yang sudah separuh terbuka. Tangan Amir mula-mula hanya bermain-main di kedua paha, naik turun, tapi akhirnya secara perlahan-lahan mulai mengelus-elus belahan di antara kedua pangkal paha Dr. Tan yang masih ditutupi seluar dalam itu. Tidak cukup sampai di situ, bahkan salah satu jari tengahnya dimasukan ke celana dalam Dr. Tan dan dipaksakan masuk kedalam kemaluan Dr. Tan yang masih sangat rapat itu.

    Badan Dr. Tan hanya mampu menggeliat-geliat saja dan punggungnya bergerak ke kiri ke kanan cuba menghindari tangan-tangan yang meraba paha dan kemaluannya itu. Buah dadanya yang pejal dan terpacak gagah menjadi mangsa tangan-tangan kasar pemuda melayu yang disindirnya dulu.

    “Jangan apa-apakan saya. Tolong,” Dr. Tan masih cuba merayu sungguhpun dia tahu rayuannya hanya sia-sia.

    “Jangan siksa saya, tolong!” Suara Dr. Tan kedengaran lemah. Dari kedua matanya mengalir air mata putus asa, kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri ke kanan, menahan rasa geli yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Secara perlahan-lahan pada bahagian celana dalamnya yang menutupi belahan buritnya mulai terlihat membasah.

    Dr. Tan tidak dapat menyembunyikan perasaan terangsangnya. Walaupun dipaksa tetapi bila taman larangannya diusik-usik ghairahnya meledak juga. Cairan hangat mula mengalir keluar dari lubang nikmatnya. Bila mulut, dada dan tundunnya dikerjakan serentak, Dr. Tan makin terangsang. Bibir basahnya yang merah itu dilumat oleh Halim, teteknya yang mengkal kenyal diramas Razak dan lubang merekahnya dibelai Amir. Tindakan serentak di tiga daerah ini sungguh nikmat rasanya.


    Amir bertindak lagi. Baju yang dipakai Dr. Tan dikoyaknya. Di tubuh putih gebu itu hanya tinggal coli dan seluar dalam. Separuh bogel Dr. Tan telentang di tengah-tengah katil lebar. Amir meraba-raba dan mengelus-elus buah dada Dr. Tan yang masih tertutup coli. Cangkok coli jenama Triumph itu dibuka dan terdedahlah sepasang gunung kembar itu. Terpesona tiga pasang mata menatap payudara Dr. Tan yang sangat indah itu. Buah dada Dr. Tan putih mulus, tidak terlalu besar, masih pejal berdiri tegak dengan ujung putingnya yang coklat muda yang telah mengeras kerana terangsang.

    “Sedap kalau dihisap tetek ni,” kata Halim.

    Halim dan Razak mengusap-usap payudara Dr. Tan dengan perlahan-lahan. Halim terpesona. Pertama kali dia melihat buah dada indah, putih dan halus. Amir tak mahu ketinggalan. Buah dada yang mengkal itu diraba-raba dan diramas-ramas perlahan dan lembut. Terasa kenyal seperti bola getah bila dipicit. Lelaki bertiga itu benar-benar menikmati gunung kembar indah. Dr. Tan hanya pasrah. Tiada lagi suara dari mulut mungilnya.

    Halim kelihatan tak sabar dengan mangsa yang terbaring itu. Celana merah muda ditarik ke bahagian kaki doktor muda itu. Seluar dalam itu dipegang dan diramas. Lembut saja kainnya. Bahagian tengahnya kelihatan basah. Halim menghidu bahagian basah itu dan batang pelirnya semakin tegang. Aroma burit Dr. Tan membakar nafsunya.

    Dr. Tan terbaring bogel. Tiada lagi pakaian yang menutup dirinya. Tiga pasang tangan membelai dan meneroka tubuh indah itu. Tiap lekuk tubuh muda di usap dan diuli.
    Bahagian bawah tubuh Dr. Tan yang membukit kecil di antara kedua pahanya yang putih mulus itu menjadi tatapan tiga pasang mata yang bercahaya penuh nafsu. Tundun bengkak dan lurah kecil berbentuk garis memanjang yang menggelembung pada kedua pinggirnya, tampak ditutupi oleh bulu kemaluan yang lebat yang berwarna coklat muda.


    “Cantiknya burit. Aku suka bulu yang lebat,” Halim kembali bersuara.

    Amir langsung meraba-raba dan mengelus-elus bulu kemaluan sambil membuka kedua paha Dr. Tan makin melebar. Terlihatlah lurah buritnya yang masih rapat. Tangan kasar itu segera menjamah liang yang sempit itu sambil digosok-gosok. Tonjolan daging kecil yang terletak di bagian atasnya dielus-elus dengan jari telunjuk. Halim tak sabar untuk menikmati burit Dr. Tan yang kelihatan merah dan merekah basah. Bibir bahagian dalam sungguh lembut dan berwarna merah menyala. Bagi Halim daging nipis dua keping itu sungguh indah.

    “Bagi aku cium burit amoi ni,” pinta Halim.

    “Kesian Si Halim ni. Sudah tua begini belum pernah merasa burit. Bagi dia hidu burit amoi tu,” kata Amir kepada Razak.

    Halim membenamkan batang hidungnya ke dalam lurah yang merekah merah. Ditarik dalam-dalam nafasnya menikmati aroma burit gadis cina. Puas menghidu lidahnya pula menjilat biji kacang di bahagian atas. Badan Dr. Tan meliuk-lintuk bila Halim mengulum kelentitnya. Basah lidah dan hidung Halim dengan lendir yang keluar dari rongga burit amoi.

    “Oohh.. begini rupanya bau burit,” Halim bersuara sambil hidungnya masih di celah kelangkang si amoi.


    “Kenapa, kau ingat bau burit macam minyak wangi Avon,” Amir menjawab lirih sambil tertawa.

    “Yalah bukan macam bau Avon tapi baunya buat butuh aku keras.” Halim masih bersuara.

    “Itulah bau burit. Busuk tapi lelaki suka. Kau bukan tak tahu amoi cina bukan basuh burit bila kencing,” Razak menyampuk.

    “Bukan hanya orang, lembu jantan pun suka bau burit. Kau tak tengok lembu jantan suka cium bau burit lembu betina.” Amir berceloteh sambil tangannya tak tinggal diam mengganyang badan si amoi.

    “Syoklah kulum kelentit amoi ni, besar dan panjang.”

    “Memanglah kelentit cina besar panjang. Mereka tak bersunat. Mungkin kerana tu amoi ni suka butuh tak bersunat.”

    “Kau ingat amoi ni bini kau, nak berlama-lama. Cepatlah kerjakan amoi ni. Aku dah tak sabar nak rasa burit,” Halim makin teruja dengan burit merah yang basah.

    Amir bangun membuka seluar dan baju yang dipakainya. Tampaklah batang kemaluannya yang telah tegang, berwarna coklat kehitaman, besar dengan bagian kepalanya yang bulat mengkilat dan bagian batangnya yang dikelilingi oleh urat-urat menonjol. Batang ini telah dirasanya dulu tapi Dr. Tan masih ngeri dengan bentuknya. Setelah selesai melepaskan seluruh pakaiannya, dengan cepat Amir kembali naik ke tempat tidur dan merangkak di atas badan Dr. Tan. Amir merangkak di antara kedua paha Dr. Tan, yang dengan paksa dibuka melebar oleh Razak yang memegang kedua kaki Dr. Tan.

    ”Boleh tak awak pakai kondom, saya tak mau hamil,” rayu Dr. Tan.


    “Kami tak bawa kondom,” kata Amir.

    “Ada dalam laci tu, ambillah,” Dr. Tan menunjuk ke arah laci di hujung kepala katilnya. Dia selalu menyimpan bekalan kondom di rumahnya. Tunangnya selalu mengguna kondom bila mereka bersenggama.

    “Tak apa, nanti kami pancut luar.”

    “Awak semua kena janji.”

    “Kami janji. Kalau kami tak sempat cabut awak kandunglah anak kami,” Amir senyum sinis sambil memandang muka doktor cina itu.

    “Banyak cakap pula amoi ni. Amir cepatlah, kami dah tak sabar ni,” celah Halim yang telah memegang batang pelirnya yang telah lama mengeras.

    Dengan tangan kiri bertumpu pada tilam empuk di samping badan Dr. Tan, tangan kanan Amir memegang batang butuhnya dan dengan perlahan-lahan digosok-gosokkannya pada bibir kemaluan Dr. Tan. Begitu kepala pelir coklat tua menyentuh kelentit Dr. Tan, terlihat badan Dr. Tan menjadi kejang dan bergetar. Amir terus melakukan kegiatannya menggosok-gosok kepala pelir pada bibir kemaluan Dr. Tan, yang akhirnya menjadi licin dan basah oleh cairan yang keluar dari muncung pelir Amir dan juga dari dalam lubang burit Dr. Tan sendiri.

    “Ohh.. awak telah terangsang juga nampaknya,” kata Amir bila menyedari bibir kemaluan Dr. Tan yang telah basah.

    Kemudian dengan perlahan-lahan Amir mulai menekan kepala butuhnya membelah bibir kemaluan Dr. Tan. Mendapat tekanan dari kepala pelir Amir, bibir kemaluan Dr. Tan tertekan ke bawah dan mulai terbuka. Oleh kerana kemaluan Dr. Tan telah basah, akhirnya kepala pelir Amir mulai terbenam ke dalam lubang syurga Dr. Tan dengan mudahnya.

    “Sedap tak butuh bersunat?” tanya Amir sambil batang pelirnya terendam dalam lubang hangat.

    Dr. Tan tak berkata apa-apa. Matanya terpejam bila dirasai ada batang bulat besar telah bersarang dalam lubang buritnya. Amir tak puas hati bila Dr. Tan diam saja. Satu tamparan hinggap di muka gadis cina itu. Dr. Tan terkapa-kapa.

    “Aku tanya butuh sunat sedap atau tidak,” jerkah Amir.

    “Sedap, sedap. Penis bersunat sedap,” jawab Dr. Tan tergagap-gagap. Kulit pipinya terasa pedih.

    “Mana lebih sedap, yang bersunat atau berkulup.”

    “Yang bersunat lebih sedap,” Dr. Tan menjawab lemah. Dia bimbang Amir akan menamparnya lagi.

    Disebabkan pelir Amir agak besar, maka kelentit Dr. Tan ikut tertarik masuk kedalam lubang kemaluannya dan tersepit oleh batang pelir Amir yang berurat menonjol itu. Keadaan ini menimbulkan perasaan geli dan sekaligus nikmat yang amat sangat pada diri Dr. Tan. Badannya yang menggeliat-geliat, meliuk-lintuk dan spontan dari mulutnya terdengar suara mengerang sakan.


    “Oohh... aahh... oohh... aahh..”

    Bila terasa sedap dan nikmat, Amir melajukan gerakan batang pelirnya keluar masuk. Kedua paha si amoi terlihat mengejang dengan kuat. Tanpa lengah Amir menekan habis hingga ke pangkal batang kerasnya itu. Terjerit Dr. Tan bila kepala pelir Amir menyentuh pangkal rahimnya. Dua butir telurnya berlabuh santai di atas lurah Dr. Tan. Dua pasang paha beradu. Paha Amir yang hitam itu menekan dengan ketat paha putih mulus Dr. Tan yang terkangkang itu.

    Memang ini bukan pertama kalinya Dr. Tan disetubuhi, telah beberapa kali tunangnya meneroka taman pusakanya itu. Tetapi kerana balak Amir jauh lebih besar dan panjang daripada butuh tunangnya, maka terasa ketat bila Amir menggerakkan batang butuhnya itu. Tanpa mengenal belas kasihan, Amir mulai memaju-mundurkan punggungnya, sehingga balaknya yang besar itu, keluar masuk berulang-ulang ke dalam kemaluan Dr. Tan.


    “Ketat sungguh lubang amoi ni. Sedap,” Amir bersuara.

    Razak dan Halim masih terus mengerjakan tetek dan bibir Dr. Tan. Mereka tertawa mendengar ucapan Amir.

    “Tak sabar aku nak merasa burit amoi,” Razak masih menunggu gilirannya. Batangnya mengeras di dalam seluar.

    Semakin laju Amir menggerakkan pelirnya keluar masuk semakin enak dan nikmat dirasai oleh Dr. Tan. Sambil tertawa-tawa Amir menutuh Dr. Tan habis-habisan. Dr. Tan hanya mampu merintih dan menjerit-jerit penuh nikmat. Macam kucing betina mengawan, fikir Halim. Suara jeritannya makin lama makin lemah, diganti oleh suara mendengus-dengus. Badan Dr. Tan tiba-tiba mengejang dengan hebat sehingga bagian pinggangnya terlipat ke atas. Tanpa boleh ditahan Dr. Tan mengalami orgasme dengan hebat. Beberapa saat lamanya badannya tersentak-sentak dan akhirnya Dr. Tan terkulai layu dengan kedua kakinya terkangkang lebar. Benar-benar Dr. Tan mengalami kenikmatan yang hebat sungguhpun diluar kerelaannya. Kenikmatan luar biasa yang belum pernah dirasainya bila bersama tunangnya.

    Melihat si amoi yang sudah longlai, Amir memegang kedua pinggul Dr. Tan dan menariknya ke atas, sehingga punggung Dr. Tan terangkat dari tilam. Dengan posisi ini Amir dengan leluasa membenamkan pelirnya dalam-dalam ke lubang kemaluan Dr. Tan tanpa halangan. Sambil punggungnya dimaju-mundurkan, sekali-sekali Amir menekan punggung Dr. Tan rapat-rapat ke tubuhnya dan memutar-mutar punggung Dr. Tan, sehingga kemaluan Dr. Tan meramas-ramas pelir Amir yang terbenam habis di dalamnya.

    Sementara Amir menikmati lubang burit Dr. Tan sambil meramas-ramas kedua payudaranya, Halim dan Razak ikut menggosok-gosok pelir masing-masing pada tubuh Dr. Tan. Kepala bulat bentuk kudup cendawan itu ditenyeh-tenyeh pada ketiak dan pipi si amoi. Razak seronok bila kepala pelirnya beradu dengan tunggul-tungul bulu ketiak Dr. Tan. Tunggul-tunggul kasar itu menimbulkan perasaan geli.

    Halim yang tak tahan melihat bibir merah dan basah mula menenyehkan kepala butuhnya ke sepasang bibir Dr. Tan. Halim seronok bila bibir lembut itu mengusap kepala butuhnya. Halim sengaja tak mahu memasukkan ke dalam mulut Dr. Tan kerana bimbang dia akan memancutkan maninya. Dia ingin memancutkan benihnya ke dalam burit Dr. Tan. Peristiwa Razak yang terpancutkan maninya dalam mulut Dr. Tan tak akan diulanginya.

    Tikaman demi tikaman masih berlangsung. Amir berpeluh-peluh mengerjakan burit sempit amoi cina. Kali ini permainannya lebih seronok daripada peristiwa di klinik minggu lepas. Perasaan nikmat menjalar ke seluruh urat-urat sarafnya. Tak lama kemudian Amir mengalami ejakulasi dan memancutkan seluruh spermanya ke dalam vagina Dr. Tan. Tubuh si amoi tersentak-sentak bila benih-benih melayu yang panas menerpa rongga rahimnya. Badan Dr. Tan dipeluknya erat sementara badannya menghempap badan si amoi yang langsing itu. Seminit kemudian Amir rebah terkulai keletihan di sebelah Dr. Tan yang baring terlentang.

    Melihat Amir yang telah mengalah maka Razak mula mengambil gilirannya. Dicelapak tubuh Dr. Tan dan mula membetulkan kepala torpedonya. Kaki Dr. Tan dikangkang luas
    hingga bibir-bibir burit Dr. Tan ternganga. Ditenyeh-tenyeh kepala butuhnya di lurah yang telah banjir. Geli rasanya bila kulit kepala pelir yang nipis itu menggelungsur di rekahan burit muda. Razak tak mampu lagi berlama-lama. Dibetulkan kepala pelirnya ke celah burit dan ditekan kuat. Mudah saja batang balaknya menyelam hingga ke pangkal. Dan bermulalah acara sorong tarik. Lima minit kemudian memancutlah cairan pekat putih menerpa pangkal rahim Dr. Tan. Terangkat-angkat punggung Dr. Tan menyambut semburan cairan mani yang hangat.

    Melihat Razak telah mengalah maka Halim mengambil giliran. Dia rapat ke badan Dr. Tan dalam posisi melutut di celah kangkang Dr. Tan. Dihalakan kepala pelirnya yang sudah keras sejak lama ke arah bibir-bibir lembut yang merekah. Sekali tekan seluruh balaknya terbenam dalam lubang burit. Mudah saja pelirnya meluncur masuk kerana lubang burit Dr. Tan telah dipenuhi dengan mani Razak dan Amir.

    Mungkin kerana pertama kali mengadakan hubungan kelamin maka Halim tak dapat bertahan lama. Perasaan geli yang teramat sangat pada kepala pelirnya membuatkan maninya tak sabar-sabar ingin keluar. Dicuba sedaya upaya bertahan tetapi tak sampai lima minit aktiviti sorong tarik berlangsung maka terpancut juga air nikmatnya. Menggigil badan Halim macam orang demam kura. Beberapa saat kemudian tergeletaklah Halim di sebelah Dr. Tan.

    Dr. Tan rasa dirinya tak bermaya. Tenaganya terkuras habis. Berkali-kali dia mengalami orgasme. Lutut dan seluruh anggotanya lemah tak berdaya. Matanya terpejam rapat. Badannya terkulai, terkapar lesu di atas tilam.

    “Macam ayam saja kau Halim. Sekejap saja dah selesai.”

    “Gelilah, aku tak tahan.”

    “Kalau macam ni isteri kau lari ikut lelaki lain. Mungkin ikut mat bangla.”

    “Okeylah, mari kita blah. Lain kali kita ulang lagi.”

    “Nah Halim kau ambil coli amoi. Aku nak simpan seluar dalamnya untuk kenangan.” Razak meramas-ramas seluar dalam warna merah muda itu. Dicium dan dihidu aroma yang terpalit di seluar dalam perempuan cina itu.

    “Kau orang nak buat apa khazanah tu,” tanya Amir.

    “Nak buat modal melancap,” jawab Razak dan Halim serentak.

    Lelaki bertiga itu tertawa puas.
     
  10. bajad

    bajad Junior

    URURAWAT MASYARAKAT

    Di kampungku ada sebuah klinik desa yang berfungsi memberi rawatan kesihatan peringkat asas kepada penduduk kampung. Fokus utama klinik desa tersebut ialah memberi rawatan kepada ibu-ibu mengandung, ibu lepas bersalin dan anak kecil. Di klinik tersebut ditugaskan seorang jururawat masyarakat. Beliau akan melawat rumah-rumah orang kampung dengan menaiki motorsikal.

    Kebetulan pula klinik desa di kampungku sedang dalam proses ubahsuai. Klinik desa tersebut merupakan sebuah bangunan dua tingkat, bahagian bawah berfungsi sebagai klinik sementara bahagian atas adalah kuarters untuk kediaman jururawat masyarakat. Kerana proses ubahsuai tersebut yang dijangka memakan masa tiga bulan maka jururawat masyarakat tersebut perlu berpindah bagi memudahkan kerja-kerja ubahsuai.

    Rumahku bersebelahan dengan klinik tersebut dan kebetulan aku dan ibuku tinggal berdua saja selepas kematian ayahku. Adikku tinggal di asrama. Atas dasar kasihan ibuku membenarkan Cik Azlina menumpang sementara di rumahku. Cik Azlina baru enam bulan bertugas di klinik desa tersebut dan ibuku merupakan kawannya yang akrab.

    Di rumahku ada empat bilik. Masing-masing kami mendapat satu bilik. Adalah privacy kerana masing-masing tidak mengganggu yang lainnya. Aku dengan caraku dan mereka yang lain dengan cara masing-masing. Biasanya aku lebih selesa di dalam bilik menghadap komputerku. Biasalah anak muda maka kerap juga aku melayari internet dan memasuki laman-laman lucah. Dan biasanya aku akhiri dengan melancap memuaskan nafsuku sendiri.

    Sekali sekala aku berbual juga dengan Cik Azlina. Orangnya ramah dan baik hati. Aku suka cara Cik Azlina berbual. Tutur katanya teratur, bahasanya indah dan yang teramat menarik ialah wajahnya yang cantik dan manis. Aku selalu memerhati Cik Azlina yang berkulit putih, berpinggang ramping dan berpunggung sederhana besar. Dalam seragam putihnya Cik Azlina kelihatan anggun. Bagiku yang berumur 17 tahun waktu itu segala-galanya amat menarik tentang Cik Azlina.

    Dari perbualanku dengan jururawat muda itu aku dapat tahu bahawa Cik Azlina sudah lapan bulan berkahwin dan suaminya seorang tentera yang sedang bertugas di perbatasan. Dua bulan selepas berkahwin dia ditukarkan ke kampungku kerana jururawat sebelumnya telah bersara pilihan kerana mengikut suaminya ke luar negara.

    Bila aku ke dapur aku akan melintasi bilik Cik Azlina. Naluri anak muda maka aku selalu mengintip melalui lubang pintu melihat ke dalam bilik jururawat muda yang cantik tersebut. Satu malam aku mengintip seperti biasa melalui lubang pintu. Terkejut aku bila melihat Cik Azlina sedang menggosok-gosok kemaluannya. Baju tidur yang dipakainya tersingkap hingga ke pangkal paha. Daging kecil di sudut atas diuli dengan jari-jarinya. Aku seronok melihat pameran di depanku. Makin lama aku lihat gerakan tangan Cik Azlina makin laju. Tundun berbulu halus itu digosok-gosok dengan tangannya.

    Cik Azlina hanya berbaju tidur tanpa coli dan seluar dalam waktu itu. Nafsuku tiba-tiba memuncak. Terasa pelirku mengeras di dalam kain pelikat yang aku pakai. Aku raba-raba dan gosok-gosok pelirku bila melihat Cik Azlina merenggangkan pahanya. Kebetulan Cik Azlina berbaring dengan kaki menghala ke pintu. Dengan jelas aku dapat melihat ke celah kangkangnya yang mula basah.

    Gerakan tangan Cik Azlina makin laju. Suara erangan mula terdengar. Pastinya Cik Azlina sedang merasai kesedapan. Gosokan tanganku juga makin laju. Batang pelirku berdenyut-denyut. Selepas mengusap farajnya beberapa ketika maka tangan Cik Azlina mula beralih ke teteknya. Baju tidur nipis diselak. Terlihat dengan jelas dua bukit kembar terpacak indah putih melepak. Putingnya yang sebesar jari itu berwarna agak kemerahan. Cik Azlina meramas kedua teteknya dengan kedua-dua belah tangan. Erangan makin kuat terdengar dan kulihat mata Cik Azlina terpejam rapat.

    Mungkin iblis merasukku maka aku memulas tombol pintu. Pintu terbuka dan aku meluru masuk ke dalam bilik. Paha Cik Alina yang terbuka luas aku kuak. Aku sembamkan mukaku ke tundun berbulu Cik Azlina. Aku cium dan jilat cipap Cik Azlina yang telah basah. Aku jilat kelentit yang tertonjol di bahagian atas. Cik Azlina mengerang makin kuat. Teteknya diramas makin kuat. Aku menjilat makin pantas. Cairan yang berlendir dari muara kemaluan Cik Azlina aku sedut.

    Bila melihat tiada sebarang tindak balas dan penentangan dari Cik Azlina maka aku makin berani. Pada mulanya aku takut juga kalau-kalau Cik Azlina akan menjerit. Sungguhpun ibuku tiada di rumah malam itu tapi aku bimbang juga. Bila Cik Azlina mula mengangkat-ngangkat punggungnya maka aku bertambah berani. Aku hidu bau faraj Cik Azlina dan hatiku berkata begini rupanya bau kemaluan wanita. Baunya tidaklah harum tapi membangkitkan nafsuku.

    Makin lama aku menjilat vagina Cik Azlina aku perasan yang cairan hangat makin banyak keluar dari lubang burit. Cairan berlendir itu tak berbau dan aku sedut tiap kali ia keluar dari dalam. Bila saja lidahku menempel ke kelentit Cik Azlina aku nampak kedua paha Cik Azlina mula bergetar. Tiap kali aku menjilat daging kecil itu Cik Azlina akan mengangkat punggungnya ke atas. Kerana nafsuku tak terkawal lagi aku makin ganas menjilat dan menghisap faraj Cik Azlina hingga bibir dan mukaku basah dengan lendir nikmat yang keluar membuak-buak dari lubang sempit di antara dua bibir merah yang lembab.

    “Sedap Din, jilat lagi Din,” terdengar suara Cik Azlina perlahan. Rambatku ditarik-tarik dan diramas-ramas oleh tangan Cik Azlina.

    Aku terkejut juga bila Cik Azlina memanggil namaku. Rupanya Cik Azlina sedar apa yang aku lakukan. Bagaikan mendapat lampu hijau daripada Cik Azlina maka aku makin berani. Apa yang aku lihat dalam web lucah aku praktikkan kepada Cik Azlina. Tiap perlakuan watak yang aku lihat aku tiru. Aku kuak makin luas paha Cik Azlina. Bibir merah terbuka luas dan aku terus menjilat-jilat lurah licin tersebut.

    Sambil menjilat aku perhati dengan perasaan ingin tahu. Di sudut atas kelentit Cik Azlina sudah basah lencun. Di lurah yang merkah aku lihat ada dua lubang kecil. Aku ingat kembali pelajaran biologi yang aku pelajari. Yang atas agak kecil dan aku tahu ini adalah lubang kencing. Yang bawah lubangnya kelihatan seperti berdenyut-denyut dan menyedut-nyedut. Aku tahu ini pastinya lubang vagina sebab aku pernah lihat punggung ayam pun berdenyut-denyut macam ini.

    “Fuck me, fuck me,” antara dengar dengan tidak Cik Azlina bersuara.

    Aku tahu Cik Azlina dah tak tertahan lagi. Akupun dah tak tertahan lagi ingin merasa kemaluan perempuan. Kain pelikat yang aku pakai aku londeh ke lantai. Pelirku terpacak keras menunggu saat untuk menyerang. Aku gementar juga kerana aku sememangnya tak ada pengalaman. Aku hanya biasa melihat vcd lucah dan majalah porno bersama kawan-kawanku.

    Aku bangun dan menghalakan kepala pelirku yang sudah basah ke muara cipap yang merah juga basah. Dengan perasaan penuh debar aku menolak perlahan batang balakku. Kepala konek mencecah lubang lembab. Lubang lembab yang berdenyut seperti menyedut kepala konekku. Aku menekan lebih kuat dan aku rasa seluruh kepala konek terbenam. Sungguh hangat lubang burit Cik Azlina. Aku menarik dan menekan lagi lebih kuat dan separuh batang pelirku yang berukuran lima inci itu masuk.

    Aku rasa seperti kepala pelirku terbakar. Lubang nikmat Cik Azlina sungguh hangat. Sungguh nikmat rasanya dan aku menekan makin kuat hingga seluruh batang pelirku terbenam. Cik Azlina mengerang makin kuat. Aku merapatkan badanku mendakap badan Cik Azlina. Aku memeluk erat tubuh gebu itu sambil mulutku menyonyot tetek pejal yang terpacak teguh bagai Gunung Kinabalu.

    Badan Cik Azlina seperti bergetar. Mulutku menghisap puting tetek sementara balakku terbenam dalam lorong nikmat Cik Azlina. Aku menggerakkan punggungku naik turun dan terasa batang kemaluanku seperti diramas-ramas dan dielus-elus. Kemutan-kemutan dinding vagina Cik Azlina sungguh lazat. Kesedapannya tak dapat diucap dengan kata-kata.

    Gerakan-gerakan badan Cik Azlina makin kuat. Getaran pinggulnya makin terasa. Kaki Cik Azlina seperti menendang-nendang udara. Mulutnya makin kuat mengerang dan matanya tertutup rapat. Aku yang pertama kali merasa nikmat bersetubuh tak dapat bertahan lagi. Batang pelirku seperti diperah-perah. Aku hanya bertahan lima minit dan dan terasa pelirku akan meledak. Sekali tekanan kuat maka terpancutlah maniku menerpa rahim Cik Azlina. Kepala pelirku terasa ngilu tapi nikmat.

    Serentak pancutan maniku aku terdengar Cik Azlina mengeluh kuat dan badanku dipeluk kemas. Cik Azlina menggelepar seperti ayam di sembelih. Badan Cik Azlina mengejang dan beberapa saat kemudian pelukan ke badanku mengendur. Cik Azlina terkulai lemah di atas tilam. Aku masih terkapuk lemah di atas badan Cik Azlina.

    Badanku terasa lemah. Aku jatuh terbaring di sisi Cik Azlina. Cik Azlina meraba-raba badanku. Aku juga meraba-raba perut dan tetek Cik Azlina yang tetap keras kenyal.

    “Terima kasih Din, akak puas,” terdengar suara Cik Azlina di cupingku.

    “Akak tak marah?” tanyaku takut-takut.

    “Kita kan sama-sama menikmatinya, buat apa marah.”

    Sambil tersenyum aku bangun sambil mengambil kain pelikat yang berada di lantai. Sebelum meninggalkan bilik aku mencium lembut pipi Cik Azlina. Cik Azlina tersenyum sambil mengenyitkan matanya kepadaku.

    “Kalau Din sunyi datanglah ke bilik akak.” Cik Azlina bersuara manja.

    Aku mengangguk dan tersenyum. Jururawat muda ini telah memberi laluan dan lampu hijau. Peluangku menikmati tubuh mungil Cik Azlina terbuka luas. Aku berjalan lemah sambil menutup perlahan pintu bilik. Kenangan indah yang tak pernah aku lupakan.
     
  11. bajad

    bajad Junior

    AKU KEHAUSAN

    Nama saya Salina berumur 25 tahun berkahwin dengan seorang Datuk tinggal di sebuah banglo mewah di KL. Datuk selalu tidak berada di rumah kerena mengurus perniagaannya dan selalu keluarga negara. Kadang-kadang sampai berbulan-bulan aku ditinggal sendirian. Sebagai wanita muda maka nafsu seksku tidak dilayan sepatutnya dan aku sentiasa kegersangan. Mungkin suamiku sudah puas di luar tapi aku di rumah sentiasa kesepian.

    Bagi menjaga keselamatan banglo kami yang luas dan terpencil di kaki bukit, suamiku mendapatkan khidmat pengawal dari sebuah syarikat keselamatan. Syarikat tersebut telah menghantar seorang pengawal gurkha yang berbadan tegap bekulit hitam dan bemisai tebal berumur lewat 50-an. Gurkha bernama Guna itu adalah seorang bekas tentera yang datang ke Malaysia mencari kerja dan diambil kerja oleh sebuah syarikat keselamatan.

    Bila aku tinggal seorang diri aku tiba-tiba teringat peristiwa yang berlaku kepada diriku sebulan yang lalu. Peristiwa dimana dua orang perompak yang masuk ke rumahku dan memaksa aku berbogel dan dipaksa aku mengisap batang butuh gurkha tua yang sepatutnya menjaga keselamatan diriku dan bangloku.


    Terbayang di ruang mindaku mucung pistol perompak yang diacu ke kepalaku dan aku jadi takut dan kecut. Kemudian kedua perompak itu menyuruh aku melucutkan pakaian aku satu demi satu dan aku tidak berdaya melawan. Satu demi satu pakaian yang menutupi tubuhku yang segar ini aku lucutkan ke lantai sehingga aku menjadi bogel bulat. Sekujur tubuhku tidak ditutupi oleh seurat benangpun dan dada aku yang montok dan gebu itu mekar dengan putingnya yang merah jambu sementara 'lembah madu' aku yang ditutupi oleh roma yang halus di cukur itu menjadi jamahan mata-mata liar. Tiga pasang mata memandang dan menikmati keayuan tubuhku.

    Terbayang di mataku bila mereka memaksa Guna berbogel di hadapanku. Guna yang berbadan tegap berkulit hitam dan berbulu lebat dan kasar tegak berdiri telanjang bulat di hadapan aku dan kedua perompak yang kulihat tersengih dan tersenyum gembira. Sungguhpun Guna telah berumur senjatanya memang dalam keaadan baik kerana sebaik sahaja dia melucutkan seluar dalamnya aku dapat melihat balaknya yang terpacak dalam keadaan tegang sekali. Ini tentu sekali kerana rangsangan tubuhku yang berbogel dihadapanya.

    Dan segala-galanya bergerak pantas bila aku dipaksa mengulum dan menghisap balak Guna yang berkulup dan seluruh dadaku dibanjiri oleh mani Guna. Mani gurkha yang hanyir itu seperti masih terbau di hidungku. Bau mani dan bayangan balak hitam legam dan besar panjang yang memenuhi mulutku mula menggoda nafsuku dan tiba-tiba rongga kemaluanku terasa seperti digaru-garu dan cairan hangat mula mengalir keluar dari terowong nikmatku. Terbayang di fikiranku pastinya enak bila balak besar panjang itu keluar masuk dalam lubang buritku yang sentiasa gersang ini. Pasti banjir besar bila Guna melepaskan benih-benih gurkhanya ke dalam rahimku yang belum pernah hamil.

    Aku memandang keluar dan di senja hari itu Guna masih mengawal di pintu pagar. Aku memanggil Guna dan menggamit memberi isyarat agar masuk ke rumahku. Pantas Guna mematuhi arahanku dan sekelip saja dia sudah berdiri di hadapanku di ruang tamu. Dalam pakaian kelabu pengawal keselamatan Guna berdiri tegak bagai askar menunggu arahanku selanjutnya.

    Aku menghampiri Guna. Aku yang setinggu 5’5” hanya separas bahunya sahaja. Aku meraba dadanya dan kancing baju yang dipakainya aku lepaskan satu persatu. Agaknya Guna tahu maksudku maka baju yang dipakainya ditanggal dan dicampak ke lantai. Bila tanganku memegang kepala tali pinggang yang dipakainya, Guna membantuku dan melepaskan seluar panjang yang dipakainya. Hanya tinggal seluar dalam warna kelabu yang melekat di tubuhnya. Aku menarik seluar dalamnya ke lutut dan terbentang di hadapanku balak Guna separuh tegang tergantung berjuntai di pangkal pahanya. Aku bertinggung di hadapan Guna dan selaur dalam yang separas lutut aku tarik ke kaki. Guna membantu memudahkan seluar kecil tersebut lepas dari badannya.

    Batang pelir gurkha tua hanya beberapa inci saja dari mukakaku. Bau lelaki menerpa hidungku. Aku memegang lembut balak Guna yang separuh keras hitam legam macam keropok lekor yang banyak terdapat di Pasar Payang, Kuala Terengganu. Kepala bulat yang masih terbungkus kulit kulup itu aku pandang. Aku tak terkejut lagi memandangnya kerana ini adalah kali kedua aku berhadapan dengan batang butuh tak bersunat. Kepalanya belum lagi kelihatan kerana senjata Guna belum sepenuhnya keras. Lubang kencingnya sudah sedikit kelihatan mengintip dari muncung kulup.

    Aku ramas-ramas batang hitam tesebut dan pantas saja balak itu mengembang dan membesar di dalam tanganku. Mungkin Guna dapat merasakan keenakan bila kulit tanganku yang halus membelai lembut batangnya yang jarang digunakan. Itupun perasaanku saja kerana Guna meninggalkan anak isterinya di Nepal. Sudah lebih setahun dia berada di Malaysia.

    Terangsang degan tindakanku, batang pelir Guna sekarang telah benar-benar keras. Batang tua itu terpacak macam tiang bendera. Kepala bulat yang licin seperti tak sabar meronta-ronta ingin keluar dari kulit yang membungkusnya. Dengan bantuan tanganku aku menolak kulup ke belakang dan kepala bulat licin dengan bebasnya melepaskan dirinya. Aku cium kepala licin tersebut dan bau khas kepala pelir menyelinap ke rongga hidungku. Aku sedut lama-lama kerana sudah berbulan suamiku tidak melayanku. Aroma kepala pelir Guna menyebabkan buritku mengemut. Terasa bibir kemaluanku mula banjir.

    Puas menghidu kepala dan batang hitam berurat itu aku mula menjulurkan lidahku ke kepala licin. Ku jilat-jilat kepala pelir dan memainkan lidahku di sekeliling kepala dan kemudian mengarah ke batang. Ku kucup batang zakar yang panjangnya 8” itu dengab rakus. Aku dengar erangan-erangan nikmat keluar dari mulut gurkha tua yang masih berdiri tegak.

    Segera ku masukkan batang pelir pengawal keselamatanku itu ke dalam rongga mulut ku. Ku sedut-sedut batang keras itu dengan nafsuku yang sudah membuak-buak bagai lahar gunung berapi. Sambil kepalanya aku hisap, batang hitam itu aku lancap dengan menggunakan tangan ku. Sungguh nikmat batang besar itu berlegar-legar dan menyentuh kulit pipiku bahagian dalam. Tiba-tiba terasa ada lendiran masin keluar dari hujung kepala pelir Guna. Air mazi Guna aku jilat dan telan. Enak rasanya.


    Aku sudah tak tertahan. Aku mahu balak Guna bersarang dan mengairi lubang nikmatku yang telah lama gersang. Aku berdiri dan melepaskan baju tidur yang kupakai dan menarik Guna yang telanjang bulat ke bilikku. Dalam keadaan telanjang bulat aku merangkul dan memeluk Guna sambil berjalan ke katilku yang akan menjadi gelanggang perjuangan kami sebentar nanti.

    Aku melompat ke katil bertilam empuk dan tidur telentang. Aku sengaja mengangkang kakiku menunggu Guna membenamkan batang berkulup yang menjadi idamanku. Aku menarik Guna agar segera memuaskan nafsuku yang seperti membakar seluruh tubuhku. Guna faham maksudku dan dia menghampiri taman rahsiaku yang ternganga merah berbulu halus.

    Aku terpukau bila Guna menerkam buritku dan dengan rakus menghidu dan menjilat kemaluanku. Kelentitku dicium dan dijilat dengan lidahnya yang kasar. Bibir lembut kemaluanku dikulum dan dinyonyot. Aku yang berada dipuncak ghairah meronta-ronta kegelian dan nikmat. Beberapa saat saja aku rasa badanku mengejang dan cairan panas terpancar keluar dari lubang kemaluanku. Aku mengalami orgasme pertama dan perjuanganku melemah dan badanku terasa longlai.

    Guna masih saja meneruskan perjuangannya dengan membelai, menjilat dan memasukkan lidah kasarnya ke dalam rongga buritku. Hanya beberapa minit kemudian nafsuku kembali membara. Kali ini aku mahu Guna memberi kenikmatan kepadaku dengan batang besarnya pula. Aku menarik tangan Guna memberi isyarat agar dia membenamkan balaknya ke guaku yang tak sabar menanti.

    Faham kehendakku, Guna menghampiri kelangkangku dengan kepala pelir terloceh garang. Kulit kulupnya sekarang sepenuhnya tertarik ke belakang memberi keizinan agar kepala licin dapat masuk ke rongga buritku dengan selesa tanpa penutup. Pelan-pelan Guna menekan kepala licin yang besar itu ke muara buritku. Ditekan dan ditarik sehingga sedikit demi sedikit kepala licin meluncur masuk. Kesan dari cairan nikmatku yang telah banjir, kepala besar itu tak susah menyelam ke terowong nikmatku.

    Beberapa kali tekan tarik, dengan agak ketat seluruh batang 8” itu tebenam hingga ke pangkal. Sunguh nikmat rasanya bila Guna mula menggerakkan maju mundur batang balaknya. Sekarang batang balak gurkha dari pergunungan Himalaya terbenam kukuh dalam burit melayu muda dari Malaysia. Pahaku bergetar dan kakiku meronta-ronta menendang udara kerana nikmat yang tak terhingga. Gurkha tua yang telah lama berpisah dengan isterinya itu cukup berpengalaman melayanku. Ghairahnya juga membuak-buak bila berhadapan dengan diriku yang muda dan cantik.

    Guna merapatkan tubuhnya yang kekar ke tubuhku yang genit. Bulu dadanya menggesel ke tubuhku dan kedua gunung kembarku. Aku rasa sungguh geli dan aku meronta-ronta nikmat. Sambil menghayun batang pelirnya di buritku, mulutnya mula bertindak di tetekku. Dihisap puting muda kepunyaanku dan aku rasa geli dan nikmat. Aku tak mampu lagi menahan gelora nikmat dan akhirnya sekali lagi aku mengejang dan kepala licin yang berada dalam rongga buritku aku sembur dengan cairan hangat.

    Mungkin kerana dapat merasakan aku telah klimaks maka Guna mula melajukan hayunannya dan beberapa minit kemudian terasa badan Guna mula menggigil dan dengan suara rengusan kuat dia melepaskan cairan maninya ke pangkal rahimku. Terasa sungguh banyak dan hangat benih gurkha menyiram mulut rahimku. Terasa kepala pelir mengembang dan membesar bila semburan demi semburan keluar dari batang keramatnya.

    Aku membiarkan saja Guna memelukku keletihan. Batang pelirnya masih direndam di dalam lubang buritku yang teramat banjir dan becak. Terasa cairan cinta kepunyaanku yang bercampur dengan cairan cinta Guna mengalir hangat membasahi bibir-bibir kemaluanku dan menetes ke cadar katilku. Keringat Guna yang mengalir deras dari rongga-ronga liang romanya menitik membasahi badanku yang juga berkeringat. Bau jantan benar-benar mempesonaku bersama rembesan peluh Guna. Terasa seperti berada di syurga dunia.

    Kejadian hari itu berterusan bila ada peluang. Bila aku ditinggalkan Datuk bersendirian di rumah, Guna sentiasa mengawal, membelai dan meniduriku. Tiap kali itu juga nafsuku yang gersang dilayan penuh ghairah oleh lelaki gurkha dari kaki Gunung Everest. Dan balak Guna yang hitam berurat itu terpacak macam Gunung Everest juga. Aku merindui Gunung Everest Guna bila Gunung Kinabalu kepunyaan Datuk tak berfungsi dengan baik...
     
  12. bajad

    bajad Junior

    BUDAK BENGGALI

    Aku seorang surirumah berumur 24 tahun. Tinggal di rumah sewa di suatu taman perumahan bersama seorang anak kecil berusia 2 tahun. Suamiku seorang pembantu nakhoda kapal perdagangan dan sentiasa tiada di rumah. Sekali belayar mengambil masa enam bulan, kemudian bercuti di darat selama tiga bulan.

    Selama tiga bulan di darat aku benar-benar bahagia. Suamiku melayan keperluan lahir batinku dengan sempurna. Tetapi apabila suamiku belayar, aku kesunyian dan nafsuku memuncak tak terkawal. Sering aku melancap bagi meredakan perasaan ghairahku. Kadang-kadang aku melihat video lucah yang dibagi oleh kawanku yang juga kesunyian kerana suaminya seorang askar yang bertugas di perbatasan.

    Aku amat tertarik menonton wanita kulit putih mengerang-ngerang kesedapan menerima tikaman batang besar panjang lelaki negro. Batang hitam panjang berurat-urat keluar masuk lubang merah basah di celah kelangkang wanita putih berambut perang. Kedua-dua kaki panjang putih mulus bergetar, punggung dilonjak-lonjak ke atas dan mulut mengerang-mengerang menikmati batang besar panjang keluar masuk lubang cipap yang sempit. Bibir cipap lembut merah jambu mengelus dan membelai lembut batang keras berurat dan berotot pejal.

    Melihat pemandangan menghairah tersebut, tanpa sadar aku menggosok-gosok kelentitku hingga aku mencapai klimaks. Aku terkulai lemah tetapi kesedapannya tak seberapa berbanding gosokan batang konek. Aku mula membayangkan konek hitam panjang keluar masuk cipapku yang basah kuyup. Bayangan lelaki negro melayan wanita putih sentiasa berlegar di fikiranku.

    Setiap pagi seorang budak lelaki benggali datang ke rumahku menghantar surat khabar. Budak benggali bernama Pritam Singh berumur 17 tahun tersebut sedang menunggu keputusan SPM. Bagi membantu bapanya dan mengisi masa, Pritam berbasikal keliling taman perumahan menghantar akhbar setiap pagi. Aku mula membayangkan konek hitam Pritam meneroka cipapku yang merah jambu.

    Satu pagi aku menunggu kedatangan Pritam. Aku memanggilnya masuk ke rumah untuk membantuku. Budak benggali ini memang baik orangnya dan sentiasa menolong sesiapa sahaja. Tanpa curiga dia masuk ke ruang tamuku. Di layar tv ada adegan asmara yang aku sengaja buka. Aku menyuruhnya duduk di sofa sementara aku ke dapur mengambil minuman untuk Pritam.

    Sambil berjalan membawa segelas minuman, aku melihat mata Pritam melotot adegan di layar tv. Satu bonjolan membengkak di celah paha Pritam. Aku pasti Pritam terangsang dengan adegan asmara di tv. Pada waktu itu aku hanya memakai baju tidur jarang tanpa coli dan seluar dalam. Aku duduk di sebelah Pritam sambil memegang tangannya. Pritam malu-malu bila aku mengelus-ngelus tangannya yang berbulu.

    “Pritam pernah melakukan seperti itu?” tanyaku sambil menunjuk ke layar tv.

    “Belum pernah,” jawab Pritam lembut. “Tapi saya pernah mengintip kakak saya melakukannya dengan suaminya,” tambah Pritam lagi.

    “Kau mau mencubanya?” soalku lagi.

    “Saya tak biasa, auntie,” pelan Pritam bersuara.

    “Kalau tak biasa auntie boleh mengajarnya,” kataku memujuk sambil membawa tangan Pritam ke tetekku yang pejal masih ditutupi baju tidur tipis.

    Masih segan-segan Pritam mula meramas tetekku. Kedua-dua tetekku dibelai dengan lembut. Aku kegelian. Nafsuku sememangnya sudah memuncak sejak tadi. Tanpa lengah aku membuka baju tidurku sehingga aku telanjang bulat. Kulihat mata Pritam tak berkelip melihat badanku yang putih bersih dan masih solid. Minyak wangi yang kupakai merangsang nafsu Pritam. Aku menarik tangan Pritam ke celah pahaku. Tangan anak muda tersebut membelai cipapku yang telah basah. Bulu-bulu halus cipapku menjadi sasaran tangan Pritam.

    Kulihat jari-jari Pritam basah dengan cairan cipapku. Pritam mencium jarinya. Bau cipapku yang segar dihidunya. Mungkin kerana terangsang, Pritam menyembamkan mukanya ke celah kangkangku. Cipapku dihidu puas-puas dan akhirnya lidah kasar budak benggali tersebut mula meneroka kelentitku. Pandai juga budak ini, fikirku. Mungkin dia selalu melihat kakaknya bersetubuh dengan abang iparanya.

    Bila aku tak tertahan lagi, aku menyuruh Pritam menanggalkan baju dan seluar yang dipakainya. Pritam berdiri mengikut perintahku menaggalkan baju dan seluarnya. Yang tinggal hanya seluar dalam warna putih. Tanpa lengah aku menarik seluar dalamnya ke bawah. Tiba-tiba saja batang hitam panjang melenting keluar dari seluar dalamnya.

    Aku terpaku melihat senjata Pritam yang besar dan panjang. Walaupun baru 17 tahun umurnya, senjata miliknya lebih panjang dan besar daripada kepunyaan suamiku. Memang padan dengan susuk tubuhnya yang tinggi walaupun kurus. Konek Pritam mengacung kaku keras. Konek Pritam lebih hitam daripada konek suamiku yang berwarna coklat. Kulit kulupnya separuh tertarik ke belakang memperlihatkan kepala konek separuh terbuka berkilat. Memang aku tahu lelaki benggali tidak berkhatan. Bentuknya sama dengan batang lelaki negro yang sering kulihat.

    Kepala separuh terbuka menjadi sasaranku. Kucium kepala licin. Kuhidu aroma yang terbit dari kepala konek Pritam. Aku benar-benar terangsang. Kutarik kulit kulup ke belakang hingga seluruh kepala konek terdedah. Kulit kulup tersangkut di takok berkedut-kedut seperti simpai melingkari batang keras. Kucium takok konek Pritam yang berbentuk seperti topi askar Jerman. Dan akhirnya aku jilat, kulum dan hisap konek besar hingga Pritam mengeliat kesedapan.

    Sambil berlutut di depan Pritam yang sedang berdiri tegak, kugigit-gigit lembut batang keras, kusedut kulit telur yanag berkedut dan kemudiannya kukulum kepala licin hingga cairan masin mula keluar dari hujung konek. Kutelan cairan masin tersebut. Sekarang aku tahu Pritam sudah sedia bertarung.

    Kuarahkan Pritam agar berbaring di atas permaidani di ruang tamu. Sekujur tubuh hitam berbulu terbaring di lantai. Konek hitam panjang terpacak keras seperti tiang bendera. Aku mengambil inisiatif kerana Pritam belum berpengalaman. Kuurut-urut konek keras. Kuamabil kondom di atas meja untuk disarungkan ke konek keras. Kukoyak bungkusnya dan terbuka kondom berbentuk duit siling berbingkai. Kondom saiz M berminyak dan mempunyai muncung kupegang. Aku tak mahu mengandung.

    Kutahu konek tak berkhatan lebih sensitif daripada konek berkhatan. Mereka akan cepaat pancut kerana terlebih geli. Jadi bagi melayan Pritam yang masih mentah, aku melurut kulupnya supaya menutup kembali kepala licin. Sekarang hampir seluruh kepala konek tertutup semula. Dengan cara itu mengurangkan sedikit kegelian pada kepala konek. Sekarang kusarungkan kondom ke batang keras. Kondom membungkus batang keras dengan kulup tetap utuh menutup kepala konek. Kondom saiz M hanya menutup tiga perempat sahaja konek Pritam yang panjang. Bahagian hujung kondom terjulur seperti puting tetek.

    Badan Pritam aku kangkangi. Mukaku menghadap Pritam. Tetekku yang pejal tergantung kemas di dadaku. Pritam geram melihat tetek berkembarku yang sedang mekar. Aku menurunkan badanku pelan-pelan. Muara cipap merah basah merapati batang hitam keras terpacak terbungkus getah nipis. Batang Pritam menunggu penuh sabar. Bibir halus cipapku mengelus-elus lembut kepala licin berkilat. Muara yang telah lembab mengucup lembut kepala licin hitam berkilat berbungkus getah nipis. Pritam melihat bibir merah basah mula menelan batang hitamnya. Punggungku makin rendah hingga seluruh kepala zakar Pritam berada dalam lubang hangat. Cipapku mengemut pelan. Aku turunkan lagi pantatku. Seluruh batang keras Pritam terbenam ke gua keramatku.

    Tetekku dipegang dan diramas lembut. Kedua-dua tangann Pritam bekerja keras. Tangan kasar budak benggali membelai tetek pejal berkulit halus kepunyaanku. Aku rasa keenakan bila tetekku diramas.

    Punggungku kugerak naik turun dengan laju. Ku perlahankan gerakan bila terlihat Pritam akan pancut. Kucuba kawal agar Pritam tidak terasa amat geli. Kutahu kulit kulupnya mengurangkan sedikit kepekaannya. Aku ingin menikmati keenakan selama yang boleh. Batang besar Pritam penuh padat mengisi rongga sempitku. Aku mengemut makin laju.

    Selepas 20 minit Pritam tak tertahan, badannya bertambah kejang, maninya berkumpul dihujung konek, pancutan tak terkawal lagi. Pritam melepaskan pancutan dalam cipapku yang lembab, tapi maninya terkumpul di hujung belon getah yang dipakainya. Enam das dtembaknya. Tiba-tiba aku menjerit keras, “Ahh.... Ohhh....Arghhh... enak Pritam, enak”. Cairan panas menyirami kepala konek Pritam. Aku mengalami orgasme kali kedua. Lututku terasa lemah. Kepala konek basah kuyup disirami air nikmat.

    Aku benar-benar puas. Aku terkulai lemas di dada berbulu Pritam. Selepas tenagaku pulih, aku bangun. Konek hitam terkulai lemas di paha. Kondom yang berisi cairan putih pekat kucabut. Akan kusimpan sebagai kenangan.

    Hari-hari berikutnya Pritam sentiasa mengganti suamiku memenuhi keperluan nafsuku. Aku benar-benar puas. Konek hitam panjang berkulup memang nikmat.
     
  13. bajad

    bajad Junior

    LANGKAWI YANG TAK KULUPA

    Kepalaku pening. Hatiku gelisah. Perasaanku marah. Dan segala macam perasaan bercampur aduk bila aku mengenangkan perbuatan Megat Khairul Azam. Megat tiba-tiba memutuskan pertunangan kami yang telah setahun termeterai. Bila kutanya sebabnya, dia hanya menyatakan tiada jodoh. Bila kurisik dari kawan-kawan, Megat sebenarnya telah terpikat dengan seorang janda yang jauh lebih berumur darinya. Kata orang Megat telah terkena guna-guna janda tersebut.

    Bagi mengubati hatiku yang runsing, aku mengambil cuti dari tempat kerjaku. Aku ke Langkawi dan menyewa sebuah chalet di kawasan tepi pantai. Aku menyewa sebuah chalet yang mempunyai dua bilik lengkap dengan dapur dan ruang tamu yang selesa.

    Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur. Aku hanya mengenakan baju tidur nipis agar diriku lebih selesa. Puas bergolek kiri kanan, mataku tak mahu juga terlelap. Aku ke ruang tamu menonton tv sambil membaca majalah hiburan yang aku bawa.


    Aku menelefon ke kaunter receptionist memohon bantuan agar mengirim seseorang untuk memperbaiki air-con di bilikku yang tidak berfungsi. Setengah jam kemudian aku mendengar bunyi motorsikal dan seminit kemudian pintu chaletku di ketuk. Aku membuka pintu dan muncul seorang lelaki dan memperkenal dirinya sebagai juruteknik untuk meperbaiki air-con.

    Aku mengarahkan lelaki tersebut ke bilikku. Aku masih terus di bilik tamu menonton tv. Setengah jam kemudian lelaki tersebut muncul ke ruang tamu.

    “Air-connya dah ok, Cik.”

    Aku mendongak mukaku ke arah suara yang garau tersebut. Tersengih saja lelaki yang menurut perkiraanku berumur dalam lingkungan 50-an. Berderau darahku bila melihat lelaki tersebut memegang dan menghidu seluar dalam warna pink. Aku perasan seluar dalam tersebut kepunyaanku. Seluar dalam tersebut aku campak saja ke atas katil sewaktu aku mandi petang tadi.

    “Sedap baunya seluar ni. Kalau dapat cium barang Cik tentu lebih sedap.” Lelaki tersebut masih tersengih miang di hadapanku. Dia berjalan mendekatiku dengan mata penuh nafsu.

    "Eh...! Apa yang awak lakukan...?" Aku mendorong tubuh lelaki itu kuat-kuat sehingga dia terdorong ke belakang. Segera aku menutup tubuhku yang hanya memakai baju tidur nipis. Salahku juga kerana terlupa mengenakan coli dan seluar dalam. Keadaanku seperti ini telah mengubah sikap lelaki tersebut menjadi buas.

    "Tenang, saya tertarik dengan tubuh Cik yang cantik tu...!"

    Lelaki tersebut kembali menghampiriku. Tanganku dipegangnya dan badanku dirangkul.


    "Pergi...!" bentakku. "Atau saya akan menjerit!"

    "Silahkan menjerit! Sia-sia saja Cik menjerit. Tidak ada orang yang mendengarmu. Jadi lebih baik Cik turuti saja keinginanku!" Lelaki tersebut tersenyum sinis.


    Aku semakin ketakutan ketika lelaki separuh baya kembali mendekatiku. Segera saja aku berlari ke dalam bilik tidur. Tapi malang lelaki tersebut lebih pantas mengekoriku sebelum aku sempat menutup pintu. Dengan cepat, ia memelukku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. Kedua tangannya mencengkam kuat lenganku ke atas dinding. Kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sukar untuk bergerak. Aku mencuba untuk meronta sekuat tenaga. Namun sia-sia, tenaga lelaki itu memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.


    Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkaman lelaki tersebut.

    "Tolong, jangan apa-apakan saya!" aku menangis dan merayu kepada lelaki tersebut.


    Namun tiada hasilnya. Beliau tidak mendengar rayuanku. Bahkan semakin ganas lelaki tersebut bertalu-talu menciumku. Makin aku meronta makin penat aku rasa. Lama kelamaan tanagaku makin terhakis. Tubuhku menjadi lemah. Aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang boleh aku lakukan hanyalah menyerah dan menuruti perlakuan lelaki tersebut.

    Perlahan-lahan cengkaman lelaki tersebut mulai mengendur. Perlakuannya yang tadinya kasar mulai berubah menjadi lembut. Bahkan aku mulai mengikuti irama permainannya ketika dengan lembut lelaki tersebut mulai menggesel-geselkan batang kejantanannya ke pahaku. Seketika itu kakiku terasa lemah dan longlai. Aku tak kuat lagi menyokong berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. Namun dengan pantas, lelaki tersebut memeluk tubuhku, mengangkat dan membaringku ke atas katil.

    Dalam keadaan terlentang dia mencelapak ke atas badanku. Ditariknya baju tidur yang kupakai. Mau tidak mau aku membantu lelaki itu melepaskan baju yang akau pakai. Kalau aku membantah mungkin saja dia meretap bajuku dan terkoyak akhirnya.

    “Cantik tubuh Cik. Macam patung yang selalu saya lihat di butik.”

    Terlihat di wajah lelaki tersebut sebuah senyuman kemenangan. Tubuhku di rangkul dan mula menciumiku. Aku membantah tapi kudratku tak mampu menandinginya. Kemudian dengan lembut ia mulai mengucup bibirku. Entah kenapa aku tidak berdaya untuk menolaknya. Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas aksinya itu.

    Menyedari aku tidak lagi melawan, lelaki itu mulai mencumbuiku. Ciumannya mulai menjalar melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku. Misai tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku seperti terbang ke angkasa.


    Ciuman dan jilatan lelaki separuh baya itu terus bergerak turun. Sementara tangan kirinya meramas-ramas buah dadaku, tangan kanannya sibuk di pangkal pahaku membuat lingkaran-lingkaran yang kurasa nikmat.


    "Jangan, jangan perkosa saya!" rayuku dengan suara makin lemah.

    “Saya tak perkosa Cik, saya nak memberi nikmat pada Cik.”

    Lelaki tersebut tidak memperdulikan permintaanku. Malah dia makin ganas mengganyang bulu lembut yang menghiasi indah bibir dan tundun kemaluanku.

    "Cantik burit Cik. Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. Oh..., sungguh mempesona. Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti Cik merawatnya dengan baik. Burit tercantik yang pernah saya lihat.” Sempat pula lelaki itu bermadah.


    Perlahan-lahan lelaki itu menjulurkan lidahnya dan meraba permukaan kelentitku. Terasa kasar dan hangat. Tapi nikmat! Bibir-bibir kemaluanku yang sepasang itu dicium dan dijilat. Selesa saja hidungnya meneroka lurah keramat pusaka nenek moyang.

    “Baunya lebih sedap daripada seluar dalam Cik. Barang asli ini memang harum baunya.”

    Apa lelaki tersebut ingat kemaluanku bukan asli. Ada ke kemaluan tiruan yang dipasang pada kelangkang perempuan. Baunya yang harum? Aku tak pasti. Bagiku bau kemaluanku bukan harum, biasa saja bau khas kemaluan perempuan. Tapi tak tahulah kalau bau ini disukai lelaki. Tapi yang pasti kebersihan dan kesihatan alat kelaminku menjadi keutamaan. Aku sentiasa cuci dengan feminine wash agar kemaluanku yang sentiasa lembab itu bersih dan segar.

    Aku fikir lelaki ini tak mau berlama-lama. Mungkin waktu yang ada baginya amat terhad. Diseksanya kemaluanku dengan mulutnya hingga aku terasa juga nikmatnya walaupun aku cuba membantah. Tanpa sedar cairan hangat mula terbit membasahi bibir dan permukaan kemaluanku.

    “Ahh.. dah banjir Cik. Sedap rasanya lendir yang keluar dari burit Cik.”

    Menyadari aku telah banjir, lelaki tersebut melakukan tindakan penyudahannya. Seluar yang dipakainya di londeh. Secara curi-curi aku melihat batang kemaluannya yang tegang sungguh besar dan panjang. Batang gelap itu berdenyut-denyut dengan kepala bulatnya sudah dibasahi dengan air mazi. Sebagai salam pengenalan lelaki itu hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan hujung kepala pelirnya di atas bibir buritku. Terasa geli. Sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini walaupun aku pernah melakukannya dengan Megat.

    Aku sudah tak tahan diseksa seperti itu. Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kudup cendawan yang sudah membengkak. Faham dengan kemahuanku lelaki tersebut mula membenamkan batang pelirnya ke lurah yang telah lama merkah.


    "Aaarrrghhh...!" aku menjerit kecil ketika batang butuh yang besar itu menembus liang kemaluanku. Awalnya terasa ketat dan ngilu, kerana ukuran butuh lelaki itu memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik Megat. Namun setelah tongkat sakti itu tertanam beberapa ketika di dalam liang buritku, rasa pedih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.

    Perlahan-lahan lelaki itu mula menghayunkan punggungnya naik dan turun. Terasa batang besar berurat itu keluar masuk dalam lorong nikmatku. Aku cuba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan lelaki tersebut. Geseran-geseran halus antara batang butuh dengan dinding kemaluanku terasa begitu nikmat.


    “Ahh.. sedap Cik, saya belum merasai kesedapan seperti ini.” Sempat pula lelaki itu memuji.

    Lelaki itu tampak begitu menikmati permainan kami. Kulihat wajahnya mendongak dengan mata terpejam, seolah-olah sedang menikmati sedutan dan ramasan dari rongga buritku. Sesekali dari bibirnya terdengar desisan kenikmatan.

    Akupun juga menikmati sondolon-sondolon mantap batang kekar lelaki itu. Terasa nikmat bila dia memeluk erat badanku. Makin bertambah nikmat bila mulutnya mula membelai gunung kembarku dan putingnya yang telah mengeras dihisap dan dinyonyot seperti bayi. Aku tidak menyangka, lelaki setengah abad ini masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku tercungap-cungap menghadapi goyangan dan tujahan mautnya. Mungkin lelaki ini mengamalkan meminum air tongkat ali atau air gamat. Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku.


    "Ooohh...aahh..oohh.” Aku tidak mampu lagi menahan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam rahimku. Serentak itu juga memancar keluar cairan nikmat yang banyak dan hangat keluar membasahi kepala dan batang pelir lelaki itu. Aku rasa lelaki itu menyadari yang aku telah mencapai orgasme lalu makin laju mendayung. Makin cepat dan pantas batang pelir keluar masuk dan menikam-nikam lubang buritku. Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang butuh lelaki itu mulai berdenyut-denyut dan kepalanya makin membesar didalam kemaluanku.


    Akhirnya dengan satu hentakan padu dan dengusan kuat aku merasai pangkal rahimku diterpa dan disembur dengan cairan hangat. Aku pasti lelaki tersebut telah melepaskan cairan maninya ke dalam rahimku. Badan lelaki itu menggigil seperti orang demam kura sewaktu dia memancutkan benih-benihnya.

    “Sedap Cik, sedap.” Beberapa kali perkataan itu keluar dari mulut lelaki yang tak kukenali itu.

    Nafasnya tampak termengah-mengah seperti orang dikejar ****** ganas. Tubuhku dipeluk erat. Kemaluannya masih direndam dalam lubang buritku yang becak dan basah lencun dengan air nikmat kami.

    Akhirnya lelaki itu terkulai dan terbaring di sebelahku. Kelihatan batang butuhnya yang tadinya garang tergeletak tak bermaya di celah paha lelaki itu. Batang hitam itu basah dan berlendir. Kudup cendawan yang tadinya kembang mekar mula mengecil.

    Beberapa minit kemudian lelaki itu mengenakan kembali pakaiannya dan membiarkan aku terlentang keletihan di atas tilam. Sebelum meninggal chaletku sempat pula lelaki itu mencium pipiku sambil berbisik di telingaku.

    “Terima kasih, Cik.”
     
  14. bajad

    bajad Junior

    LANGKAWI YANG TAK KULUPA

    Kepalaku pening. Hatiku gelisah. Perasaanku marah. Dan segala macam perasaan bercampur aduk bila aku mengenangkan perbuatan Megat Khairul Azam. Megat tiba-tiba memutuskan pertunangan kami yang telah setahun termeterai. Bila kutanya sebabnya, dia hanya menyatakan tiada jodoh. Bila kurisik dari kawan-kawan, Megat sebenarnya telah terpikat dengan seorang janda yang jauh lebih berumur darinya. Kata orang Megat telah terkena guna-guna janda tersebut.

    Bagi mengubati hatiku yang runsing, aku mengambil cuti dari tempat kerjaku. Aku ke Langkawi dan menyewa sebuah chalet di kawasan tepi pantai. Aku menyewa sebuah chalet yang mempunyai dua bilik lengkap dengan dapur dan ruang tamu yang selesa.

    Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur. Aku hanya mengenakan baju tidur nipis agar diriku lebih selesa. Puas bergolek kiri kanan, mataku tak mahu juga terlelap. Aku ke ruang tamu menonton tv sambil membaca majalah hiburan yang aku bawa.


    Aku menelefon ke kaunter receptionist memohon bantuan agar mengirim seseorang untuk memperbaiki air-con di bilikku yang tidak berfungsi. Setengah jam kemudian aku mendengar bunyi motorsikal dan seminit kemudian pintu chaletku di ketuk. Aku membuka pintu dan muncul seorang lelaki dan memperkenal dirinya sebagai juruteknik untuk meperbaiki air-con.

    Aku mengarahkan lelaki tersebut ke bilikku. Aku masih terus di bilik tamu menonton tv. Setengah jam kemudian lelaki tersebut muncul ke ruang tamu.

    “Air-connya dah ok, Cik.”

    Aku mendongak mukaku ke arah suara yang garau tersebut. Tersengih saja lelaki yang menurut perkiraanku berumur dalam lingkungan 50-an. Berderau darahku bila melihat lelaki tersebut memegang dan menghidu seluar dalam warna pink. Aku perasan seluar dalam tersebut kepunyaanku. Seluar dalam tersebut aku campak saja ke atas katil sewaktu aku mandi petang tadi.

    “Sedap baunya seluar ni. Kalau dapat cium barang Cik tentu lebih sedap.” Lelaki tersebut masih tersengih miang di hadapanku. Dia berjalan mendekatiku dengan mata penuh nafsu.

    "Eh...! Apa yang awak lakukan...?" Aku mendorong tubuh lelaki itu kuat-kuat sehingga dia terdorong ke belakang. Segera aku menutup tubuhku yang hanya memakai baju tidur nipis. Salahku juga kerana terlupa mengenakan coli dan seluar dalam. Keadaanku seperti ini telah mengubah sikap lelaki tersebut menjadi buas.

    "Tenang, saya tertarik dengan tubuh Cik yang cantik tu...!"

    Lelaki tersebut kembali menghampiriku. Tanganku dipegangnya dan badanku dirangkul.


    "Pergi...!" bentakku. "Atau saya akan menjerit!"

    "Silahkan menjerit! Sia-sia saja Cik menjerit. Tidak ada orang yang mendengarmu. Jadi lebih baik Cik turuti saja keinginanku!" Lelaki tersebut tersenyum sinis.


    Aku semakin ketakutan ketika lelaki separuh baya kembali mendekatiku. Segera saja aku berlari ke dalam bilik tidur. Tapi malang lelaki tersebut lebih pantas mengekoriku sebelum aku sempat menutup pintu. Dengan cepat, ia memelukku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. Kedua tangannya mencengkam kuat lenganku ke atas dinding. Kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sukar untuk bergerak. Aku mencuba untuk meronta sekuat tenaga. Namun sia-sia, tenaga lelaki itu memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.


    Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkaman lelaki tersebut.

    "Tolong, jangan apa-apakan saya!" aku menangis dan merayu kepada lelaki tersebut.


    Namun tiada hasilnya. Beliau tidak mendengar rayuanku. Bahkan semakin ganas lelaki tersebut bertalu-talu menciumku. Makin aku meronta makin penat aku rasa. Lama kelamaan tanagaku makin terhakis. Tubuhku menjadi lemah. Aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang boleh aku lakukan hanyalah menyerah dan menuruti perlakuan lelaki tersebut.

    Perlahan-lahan cengkaman lelaki tersebut mulai mengendur. Perlakuannya yang tadinya kasar mulai berubah menjadi lembut. Bahkan aku mulai mengikuti irama permainannya ketika dengan lembut lelaki tersebut mulai menggesel-geselkan batang kejantanannya ke pahaku. Seketika itu kakiku terasa lemah dan longlai. Aku tak kuat lagi menyokong berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. Namun dengan pantas, lelaki tersebut memeluk tubuhku, mengangkat dan membaringku ke atas katil.

    Dalam keadaan terlentang dia mencelapak ke atas badanku. Ditariknya baju tidur yang kupakai. Mau tidak mau aku membantu lelaki itu melepaskan baju yang akau pakai. Kalau aku membantah mungkin saja dia meretap bajuku dan terkoyak akhirnya.

    “Cantik tubuh Cik. Macam patung yang selalu saya lihat di butik.”

    Terlihat di wajah lelaki tersebut sebuah senyuman kemenangan. Tubuhku di rangkul dan mula menciumiku. Aku membantah tapi kudratku tak mampu menandinginya. Kemudian dengan lembut ia mulai mengucup bibirku. Entah kenapa aku tidak berdaya untuk menolaknya. Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas aksinya itu.

    Menyedari aku tidak lagi melawan, lelaki itu mulai mencumbuiku. Ciumannya mulai menjalar melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku. Misai tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku seperti terbang ke angkasa.


    Ciuman dan jilatan lelaki separuh baya itu terus bergerak turun. Sementara tangan kirinya meramas-ramas buah dadaku, tangan kanannya sibuk di pangkal pahaku membuat lingkaran-lingkaran yang kurasa nikmat.


    "Jangan, jangan perkosa saya!" rayuku dengan suara makin lemah.

    “Saya tak perkosa Cik, saya nak memberi nikmat pada Cik.”

    Lelaki tersebut tidak memperdulikan permintaanku. Malah dia makin ganas mengganyang bulu lembut yang menghiasi indah bibir dan tundun kemaluanku.

    "Cantik burit Cik. Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. Oh..., sungguh mempesona. Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti Cik merawatnya dengan baik. Burit tercantik yang pernah saya lihat.” Sempat pula lelaki itu bermadah.


    Perlahan-lahan lelaki itu menjulurkan lidahnya dan meraba permukaan kelentitku. Terasa kasar dan hangat. Tapi nikmat! Bibir-bibir kemaluanku yang sepasang itu dicium dan dijilat. Selesa saja hidungnya meneroka lurah keramat pusaka nenek moyang.

    “Baunya lebih sedap daripada seluar dalam Cik. Barang asli ini memang harum baunya.”

    Apa lelaki tersebut ingat kemaluanku bukan asli. Ada ke kemaluan tiruan yang dipasang pada kelangkang perempuan. Baunya yang harum? Aku tak pasti. Bagiku bau kemaluanku bukan harum, biasa saja bau khas kemaluan perempuan. Tapi tak tahulah kalau bau ini disukai lelaki. Tapi yang pasti kebersihan dan kesihatan alat kelaminku menjadi keutamaan. Aku sentiasa cuci dengan feminine wash agar kemaluanku yang sentiasa lembab itu bersih dan segar.

    Aku fikir lelaki ini tak mau berlama-lama. Mungkin waktu yang ada baginya amat terhad. Diseksanya kemaluanku dengan mulutnya hingga aku terasa juga nikmatnya walaupun aku cuba membantah. Tanpa sedar cairan hangat mula terbit membasahi bibir dan permukaan kemaluanku.

    “Ahh.. dah banjir Cik. Sedap rasanya lendir yang keluar dari burit Cik.”

    Menyadari aku telah banjir, lelaki tersebut melakukan tindakan penyudahannya. Seluar yang dipakainya di londeh. Secara curi-curi aku melihat batang kemaluannya yang tegang sungguh besar dan panjang. Batang gelap itu berdenyut-denyut dengan kepala bulatnya sudah dibasahi dengan air mazi. Sebagai salam pengenalan lelaki itu hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan hujung kepala pelirnya di atas bibir buritku. Terasa geli. Sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini walaupun aku pernah melakukannya dengan Megat.

    Aku sudah tak tahan diseksa seperti itu. Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kudup cendawan yang sudah membengkak. Faham dengan kemahuanku lelaki tersebut mula membenamkan batang pelirnya ke lurah yang telah lama merkah.


    "Aaarrrghhh...!" aku menjerit kecil ketika batang butuh yang besar itu menembus liang kemaluanku. Awalnya terasa ketat dan ngilu, kerana ukuran butuh lelaki itu memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik Megat. Namun setelah tongkat sakti itu tertanam beberapa ketika di dalam liang buritku, rasa pedih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.

    Perlahan-lahan lelaki itu mula menghayunkan punggungnya naik dan turun. Terasa batang besar berurat itu keluar masuk dalam lorong nikmatku. Aku cuba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan lelaki tersebut. Geseran-geseran halus antara batang butuh dengan dinding kemaluanku terasa begitu nikmat.


    “Ahh.. sedap Cik, saya belum merasai kesedapan seperti ini.” Sempat pula lelaki itu memuji.

    Lelaki itu tampak begitu menikmati permainan kami. Kulihat wajahnya mendongak dengan mata terpejam, seolah-olah sedang menikmati sedutan dan ramasan dari rongga buritku. Sesekali dari bibirnya terdengar desisan kenikmatan.

    Akupun juga menikmati sondolon-sondolon mantap batang kekar lelaki itu. Terasa nikmat bila dia memeluk erat badanku. Makin bertambah nikmat bila mulutnya mula membelai gunung kembarku dan putingnya yang telah mengeras dihisap dan dinyonyot seperti bayi. Aku tidak menyangka, lelaki setengah abad ini masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku tercungap-cungap menghadapi goyangan dan tujahan mautnya. Mungkin lelaki ini mengamalkan meminum air tongkat ali atau air gamat. Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku.


    "Ooohh...aahh..oohh.” Aku tidak mampu lagi menahan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam rahimku. Serentak itu juga memancar keluar cairan nikmat yang banyak dan hangat keluar membasahi kepala dan batang pelir lelaki itu. Aku rasa lelaki itu menyadari yang aku telah mencapai orgasme lalu makin laju mendayung. Makin cepat dan pantas batang pelir keluar masuk dan menikam-nikam lubang buritku. Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang butuh lelaki itu mulai berdenyut-denyut dan kepalanya makin membesar didalam kemaluanku.


    Akhirnya dengan satu hentakan padu dan dengusan kuat aku merasai pangkal rahimku diterpa dan disembur dengan cairan hangat. Aku pasti lelaki tersebut telah melepaskan cairan maninya ke dalam rahimku. Badan lelaki itu menggigil seperti orang demam kura sewaktu dia memancutkan benih-benihnya.

    “Sedap Cik, sedap.” Beberapa kali perkataan itu keluar dari mulut lelaki yang tak kukenali itu.

    Nafasnya tampak termengah-mengah seperti orang dikejar ****** ganas. Tubuhku dipeluk erat. Kemaluannya masih direndam dalam lubang buritku yang becak dan basah lencun dengan air nikmat kami.

    Akhirnya lelaki itu terkulai dan terbaring di sebelahku. Kelihatan batang butuhnya yang tadinya garang tergeletak tak bermaya di celah paha lelaki itu. Batang hitam itu basah dan berlendir. Kudup cendawan yang tadinya kembang mekar mula mengecil.

    Beberapa minit kemudian lelaki itu mengenakan kembali pakaiannya dan membiarkan aku terlentang keletihan di atas tilam. Sebelum meninggal chaletku sempat pula lelaki itu mencium pipiku sambil berbisik di telingaku.

    “Terima kasih, Cik.”
     
  15. bajad

    bajad Junior

    PONDOK DURIAN
    [FONT=&quot]
    S
    eperti biasa setiap musim durian luruh aku akan ditugaskan oleh emak aku menunggu dusun. Buah-buah durian yang gugur akan aku kumpul. Dusun kami agak luas juga dipenuhi pokok durian, cempedak, duku, langsat dan rambai. Dusun kami agak jauh di kaki bukit. Untuk sampai ke sana aku terpaksa melalui dusun En. Sulaiman yang biasa kami panggil Pak Leman. Biasanya aku, Kak Farah, emak dan abah hanya berjalan kaki saja bila ke dusun. Kami akan melewati dangau Pak Leman sebelum sampai ke pondok menunggu durian kepunyaan kami.

    Hari itu abah seperti biasa ke bandar menjalankan tugasnya sebagai ketua kerani di sebuah jabatan kerajaan. Ibu sibuk di dapur dan aku disuruh ke dusun mengutip durian yang sedang jujuh berguguran. Hari itu hari pertama cuti sekolah. Kak Farah juga sedang bercuti selepas habis peperiksaan SPM. Aku juga baru saja habis peperiksaan PMR. Aku meminta Kak Farah pergi dahulu ke dusun kerana aku akan ke rumah kawanku kerana mengembalikan buku yang aku pinjam minggu lalu.

    Selesai mengembalikan buku, aku berjalan malas menuju ke dusun. Bila melewati pondok Pak Leman aku lihat pintunya tertutup. Keadaannya sunyi. Biasanya Pak Leman sentiasa di pondoknya melakukan kerja membersih halaman. Pak Leman sentiasa ada di dusunnya kerana itu saja kerja rutin hariannya selepas bersara. Aku pun tak pasti apa kerja Pak Leman sebelum bersara. Mungkin Pak Leman ke bandar membeli keperluan hariannya, fikirku.

    Aku berjalan terus ke pondok durian kami. Aku lihat pintu pondok tertutup rapat dan kelibat Kak Farah tak kelihatan. Aku melilau memerhati ke sana ke mari mencari Kak Farah. Tak kelihatan. Akhirnya aku memutuskan terus ke pondok. Tiba-tiba jantungku berdenyut kencang bila melihat dua pasang selipar berada di pangkal tangga. Yang sepasang aku kenal. Itu selipar Kak Farah. Tapi yang satu lagi siapa yang punya. Oleh kerana pintu tertutup aku berjalan perlahan mengintip melalui celah dinding.

    Tersirap darahku apabila melihat Pak Leman sedang merangkul tubuh genit Kak Farah di dalam pondok durian. Terlihat Kak Farah juga membalas pelukan Pak Leman. Pak Leman meramas-ramas punggung besar Kak Farah. Mereka lalu berkucupan penuh nafsu, lidah bertemu lidah berkulum-kuluman. Selepas puas melumat bibir Kak Farah, Pak Leman beralih pula kepada pipi dan leher kakakku. Jantungku berdegup pantas melihat peristiwa yang tak kuduga itu. Dua insan berlainan jenis merangkul antara satu sama lain. Yang lelaki seusia ayahku dan yang perempuan kakakku yang masih belia berumur 17 tahun.

    Kak Farah mengeliat kegelian bila Pak Leman mencium dan menjilat leher jenjangnya. Sebagai tindak balas tangan Kak Farah menyeluk ke dalam seluar Pak Leman. Kak Farah melondehkan seluar longgar Pak Leman dan menarik batang pelirnya keluar. Aku terpegun melihat batang pelir Pak Leman keras terpacak menghala ke kakakku. Batang Pak Leman sungguh panjang dilingkari urat-urat dan berwarna hitam legam. Kepala pelirnya bulat hitam berkilat. Kulihat mata Kak Farah bersinar melihat batang pelir Pak Leman yang terpacak keras berdenyut-denyut. Batang keras itu dipegang dan diurut-urut penuh mesra. Pak Leman membiarkan Kak Farah mengocok-ngocok batang pelirnya.

    Pak Leman kemudian menyelak t-shirt Kak Farah lalu meramas-ramas dan mengusap tetek Kak Farah. Aku lihat Kak Farah tidak memakai coli. Tidak puas dengan itu, Pak Leman terus menjilat dan menghisap puting tetek Kak Farah silih berganti. Kak Farah mendesis kecil lalu memaut rapat kepala Pak Leman ke dadanya. Gayanya seolah-olah menyuruh Pak Leman menelan keseluruhan teteknya yang mengkal dan kenyal sebesar penumbuk. Putingnya yang berwarna kemerahan terpacak kaku. Genggaman tangan Kak Farah pada batang pelir Pak Leman semakin erat dan Kak Farah semakin melajukan tangannya melancap batang pelir Pak Leman.

    Selepas beberapa ketika, Pak Leman berhenti menghisap tetek Kak Farah dan kembali mengucup bibir kak longku itu. Bibir tebal dan hitam Pak Leman memagut bibir merah dan nipis kepunyaan Kak Farah. Kak Farah menjadi semakin tidak keruan. Dia melepaskan tangannya dari batang pelir dan memeluk Pak Leman dengan eratnya. Agak lama juga mereka berkucupan sambil berdiri. Pak Leman melepaskan kucupan lalu berdiri di belang Kak Farah. Pangkal leher Kak Farah dicium dan dijilat penuh nafsu. Kak Farah mengeliat kegelian. Pak Leman merapatkan tubuhnya dan menggesel-geselkan batang pelirnya pada belahan punggung Kak Farah yang masih lagi memakai seluar slack. Pak Leman mengeselkan batangnya turun naik sambil menjilat dan mengucup tengkuk dan telinga Kak Farah. Kak Farah mengeliat kenikmatan. Punggungnya yang sedia tonggek itu semakin menonggek kebelakang menekan batang pelir Pak Leman lebih rapat sambil membiarkan tangan Pak Leman melingkari tubuh dan meramas-ramas teteknya.

    Tangan Pak Leman kemudian turun kepinggul Kak Farah. Pak Leman meramas-ramas sambil menariknya ke belakang membuatkan punggung Kak Farah semakin rapat menekan batang pelirnya. Pak Leman pula yang semakin tidak keruan dengan reaksi punggung Kak Farah itu. Pak Leman terus melutut dan membalikkan Kak Farah menghadap ke arahnya. Seluar Kak Farah ditarik ke bawah dan terlihat tumpukan bulu hitam menghiasi tundun Kak Farah yang membusut. Pak Leman menarik Kak Farah rapat ke arahnya dan dengan penuh nafsu membenam batang hidungnya ke tumpukan bulu di tundun Kak Farah. Tundun gadis belasan tahun dicium penuh ghairah oleh Pak Leman yang separuh abad. Mata Kak Farah terpejam, bibir terbuka dan nafas Kak Farah seperti orang berlari seratus meter.

    Pak Leman menghidu aroma burit muda. Ditarik nafas dalam-dalam supaya aroma burit Kak Farah memenuhi seluruh rongga paru-parunya. Pak Leman rasa sungguh bertuah menikmati tubuh muda Kak Farah. Mungkin dah lama Pak Leman tak bersama isterinya. Mak Som yang sama usia Pak Leman mungkin sudah tak ada nafsu. Pernah aku dan Kak Farah melihat Pak Leman berdiri di sebalik pokok durian dan melancap batang pelirnya hingga memancutkan cairan pekat berwarna putih. Aku lihat mata Kak Farah tak berkedip sambil pahanya dirapatkan. Tak kusangka Kak Farah menyimpan perasaan ingin menikmati batang pelir Pak Leman.

    Pak Leman meneruskan tindakannya. Mukanya disembamkan ke belahan paha Kak Farah yang sudah melebar. Belahan warna merah terlihat. Batang pelirku juga mengeras bila melihat rekahan merah di celah kangkang Kak Farah. Begini rupanya burit perempuan. Biasanya aku melihat burit lembu betina yang juga merah. Tapi batang pelir lembu jantan warna merah sungguhpun kulitnya hitam. Tapi batang pelir Pak Leman hitam legam berurat-urat. Bulu-bulu hitam lebat di pangkalnya. Batang pelir Pak Leman makin keras bila hidungnya berada pada belahan burit Kak Farah. Puas menghidu, Pak Leman terus menjulurkan lidahnya bermain-main di celah kelangkang Kak Farah. Lidah Pak Leman yang merah berlegar-legar di rekahan basah yang juga merah. Kak Farah mengeliat keenakan. Badan Kak Farah makin bergetar bila lidah Pak Leman berlegar-legar pada daging merah sebesar kacang. Baru kutahu ini yang dipanggil kelentit.

    Semakin lama Pak Leman menjilat kelangkang Kak Farah semakin membuatkan Kak Farah bertambah tidak keruan. Kedua-dua tangannya mencapai kepala Pak Leman dan terus menariknya supaya makin rapat ke celah pahanya. Perlakuan Kak Farah itu menambahkan ghairah Pak Leman. Kelentit Kak Farah dijilat dan disedut. Puas menyedut, Pak Leman lalu bangun dan menghunuskan batang pelirnya yang terpacak kaku. Pantas kulihat Kak Farah pula yang mencangkung menghadap Pak Leman. Diraih batang pelir yang melengkung macam pisang tanduk itu. Kepala bulat hitam berkilat itu dicium mesra oleh Kak Farah. Puas mencium kepala dan batang pelir hitam macam keropok lekor itu, Kak Farah menjilat pula lubang kencing Pak Leman. Puas menjilat Kak Farah mengulum dan menghisap penuh ghairah. Mata Pak Leman terpejam sambil mulutnya mendesis nikmat. Aku geli melihat batang pelir hitam dinyonyot bibir merah gadis manis 17. Tapi kulihat Kak Farah tak geli tapi seronok menikmatinya. Malah batang berurat dan telur Pak Leman yang berkedut itu dicium dan disedut penuh ghairah.

    Lama juga kulihat Kak Farah menikmati ais krim Pak Leman. Akhirnya Kak Farah melepaskan batang berurat itu. Terlihat bebenang bening di hujung lidah Kak Farah memanjang ke lubang kencing di hujung kepala pelir Pak Leman. Kak Farah menelan penuh nikmat. Aku tak tahu apa rasanya tapi Kak Farah menelannya keenakan. Aku terpegun melihat tindak balas kakakku. Mungkin sudah lama kak Farah berhubung dengan Pak Leman. Kulihat Kak Farah penuh pengalaman. Atau Kak Farah mempelajarinya dari laman web lucah yang selalu dilayarinya secara sembunyi-sembunyi.

    Beberapa ketika aku lihat Pak Leman menarik Kak Farah supaya berdiri. Dipeluk Kak Farah dari belakang penuh nafsu. Batang pelir Pak Leman terhangguk-hangguk. Pak Leman menarik sedikit paha kanan Kak Farah. Batang pelirnya diarahkan ke celah lurah pada belahan punggung Kak Farah. Pak Leman menggeselkan kepala pelirnya berulang kali pada celahan pantat Kak Farah membuatkan kakak kandungku semakin kuat mengerang.

    Perlahan-lahan Pak Leman menyumbatkan batang pelirnya kedalam lubang pantat Kak Farah. Kepala bulat mula menyelam ke dalam rekahan merah. Batang pelir Pak Leman yang hitam berkilat itu semakin dalam menjunam di celah belahan pantat Kak Farah. Kak Farah berterusan mendesah kenikmatan. Tanpa membuang masa lagi Pak Leman mulai menghayun batang pelirnya keluar masuk sambil Kak Farah yang masih berdiri itu semakin melentikkan tubuhnya memudahkan batang pelir Pak Leman keluar masuk dari belakang. Adegan sorong tarik ini berlangsung agak lama. Badan Pak Leman yang hitam itu menempel rapat ke belakang Kak Farah. Lidahnya bermain-main di cuping Kak Farah. Rengekan Kak Farah semakin kuat. Dulu aku lihat pelir lembu jantan masuk ke dalam burit lembu betina, sekarang batang pelir Pak Leman pula keluar masuk lubang burit kakakku. Batang hitam berlendir berbuih putih lancar keluar masuk lubang merah di celah kelangkang Kak Farah. Tak kusangka sama sekali.

    Tiba-tiba tubuh Kak Farah mengejang dan menggigil. Kak Farah menarik tangan Pak Leman supaya memeluknya lebih erat. Pak Leman memberhentikan hayunannya. Batang pelirnya ditekan rapat supaya masuk lebih dalam sambil memeluk Kak Farah. Dua insan berlainan jenis itu terangkul kaku. Kak Farah dah sampai ke puncak nikmat. Kak Farah terkulai layu tapi Pak Leman kelihatan masih gagah. Beberapa ketika kemudian Pak Leman merangkul tubuh genit Kak Farah lalu membaringkan telentang di lantai papan pondok menunggu durian. Aku dapat melihat dengan jelas gayanya yang sangat mengghairahkan itu.

    Pak Leman menanggalkan terus seluarnya yang masih tersangkut dilututnya. Kak Farah juga turut melorotkan seluarnya. T-shirt yang dipakai juga dibuka. Lelaki separuh baya dan gadis 17 tahun telanjang bulat. Pak Leman berbaring disebelah Kak Farah. Mulut mereka kembali bersatu. Pak Leman naik keatas tubuh Kak Farah dan menindihnya. Kedua paha Kak Farah dibuka luas. Kedua paha Kak Farah ditekuk. Kedua kaki Kak Farah berada di atas bahu Pak Leman. Terlihat burit Kak Farah ternganga. Bibir merah macam kerang terbuka cengkerangnya. Belahan burit merah basah lencun. Pantas Pak Leman merapatkan kepala hitam ke lurah merah. Ditekan perlahan sehinga kepala bulat hilang ditelan burit Kak Farah. Kak Farah mengerang keenakan. Suaranya makin kuat bila batang pelir Pak Leman makin dalam terbenam. Penuh nikmat Pak Leman terus menghayun keluar masuk batang pelirnya yang sudah lama berpuasa ke dalam lubang muda yang masih sempit.

    Agak lama juga Pak Leman menghenjut lubang pantat Kak Farah yang terus mengerang menahan asakan berahi Pak Leman itu. Henjutan Pak Leman semakin laju dan diselang seli dengan hentakan padu. Akhirnya sekali lagi tubuh Kak Farah menggigil dan mengejang. Di peluknya tubuh Pak Leman rapat-rapat. Pak Leman mencium dan menjilat leher serta cuping telinga Kak Farah berkali-kali membuatkan Kak Farah bertambah kuat memeluk Pak Leman disertakan suara erangan yang kuat dan tidak terkawal. Dada Pak Leman digigit-gigitnya. Bagaikan gagak sendang bergomol dengan bangau. Agak lama juga tubuh Kak Farah mengejang hinggalah keadaan agak reda sedikit, barulah dia melonggarkan pelukannya.

    Aku lihat Pak Leman masih kuat. Orang tua ini tak mudah menyerah. Dicabut batangnya yang berlendir dan masih keras dari lubang burit Kak Farah. Pak Leman menyuruh Kak Farah menonggeng di lantai papan beralas tikar mengkuang. Walaupun masih lemah Kak Farah patuh. Dia merangkak di lantai. Tanpa banyak bicara, Pak Leman menyontot pantat Kak Farah dari belakang. Doggy style. Dihentak dan ditarik batang berlendir keluar masuk lubang merah. Tetek Kak Farah terhayun-hayun. Gerakan Pak Leman makin laju. Kedengaran bunyi plap, plap, plap bila telur labuh Pak Leman memukul daging punggung Kak Farah. dan membalunnya sepuas-puas hati. Akhirnya Pak Leman sudah tidak dapat bertahan lagi. Satu tujahan kuat dengan suara erangan panjang Pak Leman memancutkan benihnya ke rahim Kak Farah. Akhirnya Pak Leman menghempap badan Kak Farah yang sedang meniarap tak berdaya. Pelirnya masih berada dalam rekahan burit Kak Farah.

    Tanpa kusedari tanganku menari laju di batang pelirku. Serentak Pak Leman memancutkan benihnya ke rahim kakakku, aku juga memancutkan benihku ke dinding pondok durian.
    [/FONT]
     
  16. bajad

    bajad Junior

    PONDOK DURIAN 2

    Seperti biasa setiap musim durian luruh aku akan ditugaskan oleh emak aku menunggu dusun. Buah-buah durian yang gugur akan aku kumpul. Dusun kami agak luas juga dipenuhi pokok durian, cempedak, duku, langsat dan rambai. Dusun kami agak jauh di kaki bukit. Untuk sampai ke sana aku terpaksa melalui dusun En. Sulaiman yang biasa kami panggil Pak Leman. Biasanya aku, Kak Farah, emak dan abah hanya berjalan kaki saja bila ke dusun. Kami akan melewati dangau Pak Leman sebelum sampai ke pondok menunggu durian kepunyaan kami.

    Hari itu seperti biasa aku ke dusun mengutip buah-buah durian yang gugur. Dari jauh aku melihat pondok Pak Leman. Fikiranku tiba-tiba terbayang bagaimana Pak Leman melayan Kak Farah. Kak Farah yang muda itu mengerang kesedapan menerima belaian Pak Leman yang seusia bapaku. Kak Farah akan merengek bagai budak kecil bila batang butuh Pak Leman keluar masuk lubang buritnya yang sempit berwarna merah itu. Peristiwa beberapa hari lepas masih amat jelas diingatanku. Aku pendam saja dalam lubuk fikiranku dan aku rasa Kak Farah tidak menyedari yang rahsianya kemas dalam lipatan ingatanku.


    Aku lihat pondok Pak Leman sunyi saja. Pintunya tertutup rapat. Tetapi aku jadi penasaran bila di tangga Pak Leman ada dua pasang selipar. Dadaku berdebar kerana aku seperti mengenali selipar tersebut. Hatiku meronta-ronta untuk membuktikan bahawa aku tak salah terka. Aku berjalan perlahan mendekati pondok Pak Leman. Aku mengelilingi pondok papan dan mencari-cari lubang untuk aku intip. Melalui lubang kecil aku dapat melihat jelas dua lembaga berada dalam pondok remang-remang tersebut. Dan nyata Pak Leman bersama Kak Farah sedang berkhalwat.

    Aku penasaran. Aku rapatkan mataku sedekat mungkin ke lubang papan. JelasPak Leman sedang mengurut Kak Farah. Jelas dapat kulihat Kak Farah dan Pak Leman sedang bertelanjang bulat. Lelaki separuh baya berkulit hitam legam sedang mengurut mesra badan pejal gadis remaja berkulit putih cerah. Kak Farah tengah meniarap dan belakangnya sedang diurut lembut oleh Pak Leman. Sesekali tangan kasar Pak Leman mengurut bahu dan menguli-uli buah dada Kak Farah. Kak Farah mengerang keenakan. Aku lihat tangan Kak Farah juga tidak duduk diam. Walaupun sambil meniarap tangannya sedang memegang dan mengusap-usap batang butuh Pak Leman yang telah keras terpacak.

    Beberapa ketika kemudian Pak Leman mengubah posisi Kak Farah dari meniarap ke keadaan terlentang. Pak Leman meningkatkan aktivitinya di buah dada Kak Farah. Diramas-ramasnya dengan perlahan-lahan dan mesra. Aku lihat putingnya sudah menjadi keras. Kak Farah hanya memejamkan matanya sambil mengeluh manja. Dek penangan ramasan lembut dan mesra dari Pak Leman, Kak Farah tanpa sedari telah sedikit demi sedikit membuka kangkangannya. Pak Leman tersenyum melihat taman rahsia Kak Farah mula merekah. Rekahan tersebut menampakkan kelembapannya oleh cairan nikmat yang mula keluar dari lubang burit Kak Farah. Pak Leman membelai dengan jari-jarinya ke lurah yang merkah tersebut. Dengusan dan rengekan Kak Farah makin kuat bila Pak Leman menggentel kelentitnya yang membengkak. Pak Leman berlama-lama mengusap bibir-bibir lembut yang dihiasi rambut-rambut halus warna hitam.


    Selepas itu Pak Leman secara lembut memasukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan Kak Farah. Jari tersebut digerak maju mundur. Kelihatan air mazi Kak Farah telah melimpahkeluar melalui kemaluannya dan jatuh di atas tikar mengkuang. Aku tengok tangan Kak Farah meraba-raba batang butuh Pak Leman. Pak Leman dapat membaca yang Kak Farah dah stim habis. Kak Farah membuka matanya dan melihat dengan penuh selera ke arah batang butuh Pak Leman. Kemaluan Pak Leman tersembul di depan kedua-dua biji mata Kak Farah. Kemaluan Pak Leman yang berurat-urat itu memang hebat begitu keras kelihatannya.

    Kak Farah tersenyum melihat kemaluan Pak Leman. Batang zakar yang berwarna hitam legam itu tak ubah seperti zakar negro yang pernah aku lihat di laman web lucah. Kepala kemaluannya berwarna merah berkilat macam topi askar Jerman waktu perang dunia kedua. Kak Farah begitu berselera melihat kemaluan Pak Leman yang besar dan panjang itu. Batang itulah yang memberi kepuasan kepadanya beberapa hari yang lalu. Dan batang ini jugalah yang akan memberi kenikmatan kepadanya sebentar lagi. Kak Farah tersenyum manja kepada Pak Leman. Kak Farah yang masih berbaring menarik punggung Pak Leman agar rapat kepadanya. Kemaluan Pak Leman diurut-urutnya manja perlahan-lahan. Pak Leman tersenyum puas melihat Kak Farah yang seusia anaknya itu mengurut mesra batan besarnya. Tangan lembut Kak Farah bermain-main di kepala bulat dan lubang kencing butuh Pak Leman.

    Aku lihat batang besar dan berurat itu makin tegang. Bagiku bentuk batang Pak Leman kelihatan amat hodoh, tapi Kak Farah melihatnya dengan penuh nafsu. Matanya bersinar. Kepala licin yang lembab itu dicium penuh ghairah oleh Kak Farah. Aku dapat melihat Kak Farah menyedut dalam-dalam aroma kepala pelir Pak Leman. Seterusnya Kak Farah menghisap-hisap dan menjilat-jilat kepala pelir Pak Leman dengan penuh nafsu. Kekadang lidah Kak Farah bermain-main dan berlegar-legar hingga kepangkal batang tua tersebut.


    Pak Leman mula mendengus kesedapan. Suara-suara “ooohhh..aaahhhh...oohhh...” dapat kudengari. Oleh kerana kesedapan aku dapat melihat air mazi Pak Leman mula mengalir keluar melalui lubang kencing. Ada benang-benang lendir menempel dari kepala butuh ke hujung lidah Kak Farah.

    Kak Farah semakin berselera menghisap butuh Pak Leman apabila mendengar suara dengusan Pak Leman. Aku seronok memerhati adegan di depan mataku. Lakonan secara live ini membuat diriku juga terangsang. Batang pelirku mengeras di dalam seluar dan maziku juga mula membasahi seluar yang kupakai.


    Pak Leman mula mengubah posisi. Mereka sama-sama berbaring dalam kedudukan 69. Mulut Kak Farah masih mengulum batang hitam Pak Leman sementara mulut Pak Leman menghadap tundun indah berbulu halus. Pak Leman memulakan tugas lidahnya dengan menjilat-jilat kelentit Kak Farah. Kemudian di sekitar bibir lembut yang sepasang itu. Terlihat badan Kak Farah mengejang dan tersentak-sentak bila lidah Pak Leman berlegar-legar di lurah dan kelentitnya. Permukaan puki Kak Farah makin banjir.

    "Farah dah tak tahan. Cepat Pak Leman,” Kak Farah merengek meminta-meminta dan memadang ke arah butuh Pak Leman dengan mata yang semakin layu tetapi penuh nafsu dan ghairah.


    Pak Leman memenuhi hasrat Kak Farah. Pak Leman mengangkat dan mengangkangkan kedua-dua kaki Kak Farah sehingga lutut-lutut dan bahu Kak Farah hampir bersentuhan. Kak Farah sudah pasrah dan menunggu junaman batang kemaluan Pak Leman yang sebentar lagi akan merodok dengan ganas. Kak Farah seperti tak sabar menunggu butuh Pak Leman yang sedang menuju ke arah kemaluannya yang sudah dilimpahi oleh air nikmatnya yang banyak.

    "Auuuu..." Kedengaran jeritan dan lolongan dari mulut Kak Farah apabila kepala butuh Pak Leman telah masuk separuh ke dalam lubang kemaluannya. Pak Leman menarik keluar dan kembali menekan hingga santak ke pangkal. Kepala Kak Farah terdongak dan matanya terbeliak bila kepala bulat kepunyaan Pak Leman menyondol pangkal rahimnya. Burit muda mengepit kuat batang tua. Aku dapat lihat Kak Farah sedang menikmati sepuas-puasnya butuh Pak Leman yang panjang dan besar itu. Beberapa minit gerakan maju mundur secara berirama dilakkukan, Kak Farah mula mengejang dan menendang-nendang angin. Pahanya kelihatan bergetar dan satu jeritan keluar dari mulutnya. Kak Farah kemudiannya terkulai layu di bawah badan Pak Leman yang masih gagah. Kak Farah sedang menikmati orgasmenya yang pertama.

    Pak Leman merendam saja batangnya bila melihat Kak Farah sudah terkulai. Kemudian diteruskan aksinya. Aku dapat melihat dengan jelas batang hitam keluar masuk dalam lubang burit Kak Farah yang berwarna merah muda. Batang besar tersebut terlihat berlendiran dan di selaputi buih putih. Tedengar bunyi crot, crot bila Pak Leman melajukan tikamannya. Bulu-bulu dipangkal kemaluan Pak Leman mengusap-usap bibir kemaluan dan kelentit Kak Farah. Kak Farah mula melawan dan melonjak-lonjak punggungnya dan mengayak kiri kanan kerana terasa kelazatan. Paha isteriku bergetar dan kakinya menendang-nendang udara. Pahanya yang mulus itu rapat ke dada Pak Leman.

    Selepas setengah jam aku lihat Pak Leman makin melajukan hentakannya dan sekali ditekan paling kuat dan terdengar Pak Leman mengerang kuat. Punggungnya terhantuk-hantuk ke celah paha anak dara muda dan serentak itu juga sekali lagi Kak Farah menjerit kesedapan. Pak Leman kelihatan memancutkan maninya ke dalam rahim Kak Farah. Terhenjut-henjut Pak Leman bila melepaskan beberapa das pancutan. Kak Farah menikmati pancutan hangat dan matanya menunjukkan rasa puas.

    Pak Leman membiarkan saja senjatanya terendam dalam terowong nikmat Kak Farah. Kak Farah yang terlentang dipeluk erat oleh Pak Leman yang sedang meniarap di atas perutnya. Selepas beberapa minit bila tiada lagi benihnya yang keluar Pak Leman menarik perlahan kemaluannya dari lubang kemaluan Kak Farah. Batang yang masih berlendir itu terjuntai separuh keras. Lubang nikmat Kak Farah masih ternganga selepas Pak Leman menarik keluar batang balaknya. Cairan putih pekat terlihat meleleh keluar dari lubang burit Kak Farah.

    Kak Farah yang terbaring bogel tersenyum puas kepada Pak Leman. Tangannya memegang dan melurut butuh Pak Leman yang terkulai melambai-lambai di celah paha. Batang licin itu dilurut-lurutnya. Aku terpegun bila melihat Kak Farah menarik Pak Leman rapat ke arahnya dan batang Pak Leman yang terkulai lemah itu dicium dan dijilat-jilat mesra.

    Tanpa sadar aku melajukan lancapanku dan sekali lagi dinding pondok durian menjadi sasaran pancutanku.


    Dari jauh aku mendengar deruan lori Ah Kau yang datang mengambil durian. Perlahan-lahan lori Ah Kau berhenti di sebelah pondok Pak Leman. Memang menjadi kebiasaan Ah Kau akan datang ke dusun sebagai peraih buah-buahan untuk dijual ke kota.

    “Pak Leman.. ada durian hari ni?”

    “Masuklah Ah Kau.”

    Ah Kau menolak pintu pondok yang tak berkunci. Ah Kau terkejut melihat dua manusia terbaring berbogel di atas pangkin. Matanya terbeliak dan tangannya mula meraba benjolan di dalam seluar yang dipakainya....

    Aku makin penasaran. Perasaanku teruja. Apakah apek tua ini akan sama-sama menikmati Kak Farah yang muda belia itu? Bersediakan Kak Farah menerima butuh berkulup cina tua? Bersediakah burit melayu menerima pelir cina yang tak bersunat? Aku tak sabar menunggu adegan seterusnya.
     
  17. bajad

    bajad Junior

    PONDOK DURIAN 3

    Kak Farah yang terbaring bogel tersenyum puas kepada Pak Leman. Tangannya memegang dan melurut butuh Pak Leman yang terkulai melambai-lambai di celah paha. Batang licin itu dilurut-lurutnya. Aku terpegun bila melihat Kak Farah menarik Pak Leman rapat ke arahnya dan batang Pak Leman yang terkulai lemah itu dicium dan dijilat-jilat mesra.

    Tanpa sadar aku melajukan lancapanku dan sekali lagi dinding pondok durian menjadi sasaran pancutanku.


    “Pin.. pin..” aku terdengar bunyi hon kenderaan. Aku yakin kenderaan tersebut adalah lori kepala merah kepunyaan Ah Kau, peraih durian dan buah-buahan.

    Dari jauh aku mendengar deruan lori Ah Kau yang datang mengambil durian. Perlahan-lahan lori Ah Kau berhenti di sebelah pondok Pak Leman. Memang menjadi kebiasaan Ah Kau akan datang ke dusun sebagai peraih buah-buahan untuk dijual ke kota. Aku menyembunyikan diri agar perbuatan skodengku tidak diketahui orang.

    “Pak Leman.. ada durian hari ni?” Ah Kau melaung sambil terjun dari lorinya.

    “Masuklah Ah Kau.” Jawab Pak Leman lesu. “Aku ada di dalam.”

    Ah Kau menolak pintu pondok yang tak berkunci. Ah Kau terkejut melihat dua manusia terbaring berbogel di atas pangkin. Macam gagak dengan bangau, yang seorang putih dan gebu sementara yang seorang lagi hitam legam dan sudah tua. Matanya terbeliak tak berkedip dan beberapa saat kemudian tangannya mula meraba benjolan di dalam seluar pendek berkaki besar yang dipakainya....

    Aku makin penasaran. Perasaanku teruja. Apakah apek tua ini akan sama-sama menikmati Kak Farah yang muda belia itu? Bersediakah Kak Farah menerima butuh berkulup cina tua? Bersediakah burit melayu menerima pelir cina yang tak bersunat? Aku tak sabar menunggu adegan seterusnya... Sungguhpun lututku lembik aku gagahkan juga mengintip lakonan tiga watak.

    “Pak Leman, ini rezeki. Boleh gua tumpang sekaki?” Ah Kau bersuara.

    “Boleh. Kau bertuah hari ni Farah. Kau dapat merasa batang melayu dan batang cina.”

    Aku lihat Kak Farah diam saja. Mungkin kepenatan bertarung beberapa pusingan dengan Pak Leman. Tapi Kak Farah tak membantah permintaan Ah Kau yang rasanya seusia Pak Leman. Memang nasib Kak Farah diratah oleh lelaki tua. Dan kedua lelaki tua tersebut tentu rasa beruntung menikmati daun muda yang sedang mekar.

    “Ah Kau, awak tunjuk lancau lu yang tak bersunat tu. Biar budak ni dapat rasa kulup lu.”

    “OK, OK.. lancau gua pun sudah lama tak guna.”

    “Ini barang bagus Ah Kau, lubang banyak sempit.”

    Aku geram mendengar percakapan dua orang tua tersebut. Seronok mereka memperkatakan tentang Kak Farah. Ikutkan hati aku akan menyerbu pondok tersebut mengajar kedua orang tua tak sedar diri ini. Tapi naluriku membantah. Teringin aku melihat lancau cina yang dikatakan tak bersunat itu macam mana bentuknya. Apakah sama dengan pelir aku waktu aku belum bersunat dulu. Waktu usiaku sepuluh tahun semasa aku di darjah empat.

    Ah Kau duduk di pangkin mendekati Kak Farah yang masih terlentang kaku. Tangan Ah Kau meraba dan meramas lembut buah dada Kak Farah yang sedang mekar. Pangkal dan puting payudara Kak Farah yang kenyal dan berkulit halus dipicit dan digenggam. Ah Kau tersengih melihat gunung kembar Kak Farah yang terpacak bagai busut jantan. Kak Farah yang tadinya terpejam mula mengeliat bila dada bidangnya diusik-usik oleh apek cina.

    Ah Kau makin penasaran. Buah dada mengkal tersebut di usik dan diramas perlahan-lahan. Lembut, kenyal, licin dan seribu satu perasaan menjalar ke otak Ah Kau, cina tua yang sudah lama tak merasai nikmat seks. Ah Kau menarik nafas panjang dan menelan liur.

    Jantung tua Ah Kau pastinya makin bertambah kencang degupannya. Sementara tangannya meramas dan memicit gunung kembar Sarah, matanya tak lekang memandang celah paha Kak Farah. Kesan tindakan tangan Ah Kau di buah dadanya, Kak Farah mula merenggangkan kedua pahanya menampakkan kemaluannya yang tengah mekar itu. Bulu-bulu hitam halus menghiasi tundun yang membengkak. Bulu-bulu hitam pendek itu sungguh cantik pada pandangan Ah Kau. Mata Ah Kau terbeliak melotot pemandangan yang telah lama tidak dilihatnya. Perasaan geramnya bertambah-tambah.

    Kak Farah mengeliat, mulut terbuka sedikit dan mata kelihatan kuyu. Pahanya dikangkang lebih luas menampakkan lurah yang merekah. Bibir kemaluan yang lembut dan merah benar-benar membuat keinginan Ah Kau ditahap maksima. Tak tahan dengan pemandangan indah di hadapannya, Ah Kau terus menerkam cipap tembam Kak Farah. Sudah lama Ah Kau tidak melihat burit perempuan. Burit terbelah merah di hadapannya benar-benar memukau. Dia melutut sambil menghidu bulu-bulu halus di tundun yang membukit. Hidungnya kemudian bergerak ke bawah ke lurah yang sedang merekah lembab. Bau cipap Kak Farah disedut dalam-dalam. Aroma khas kemaluan wanita dihidu, nafasnya ditarik dalam-dalam. Pertama kali dalam hidupnya Ah Kau mencium cipap perempuan melayu. Sungguh segar berbanding bau burit cina kepunyaan isterinya dulu.


    ”Hidu puas-puas Ah Kau, selepas ni belum tentu kau dapat peluang macam ni lagi,” kedengaran suara Pak Leman.

    ”Ini bau banyak bagus ooo,” Ah Kau bersuara sementara batang hidungnya masih menempel di tundun Kak Farah.

    Puas menghidu aroma burit muda, Ah Kau mula menjilat bibir burit Kak Farah yang merah dan lembut, sementara Kak Farah mengangkang lebih luas bila nafsunya mula terangsang. Bukaan yang luas ini memudahkan apek tua bertindak. Kak Farah kedengaran merengek… aahh... ahhhhh.. issshhh... Kak Farah membiarkan saja lidah kasar Ah Kau meneroka lubang keramatnya.

    Aku melihat Ah Kau mula mengigit lembut biji permata Kak Farah. Ah Kau teramat suka kepanasan dan aroma kemaluan Kak Farah. Rasanya Kak Farah terangsang habis kerana cairan lendir banyak meleleh keluar dari belahan bibir burit. Lelehan pekat tersebut dijilat dan disedut Ah Kau. Berdecit-decit bila Ah Kau meneguk air nikmat Kak Farah. Berselera sekali apek cina mencicipi air nafsu Kak Farah. Agaknya Ah Kau tak pernuh meneguk air burit bininya.

    ”Leman, aku belum pernah cuba perempuan melayu. Ini budak banyak best la.”

    ”Rezeki awaklah, Ah Kau.”

    Rupanya Ah Kau belum pernah memantat perempuan melayu sebelum ini. Kerana itulah agaknya Kak Farah diuli dan digomol dengan penuh ghairah. Mungkin dia dapat merasakan perbezaan antara perempuan melayu dan perempuan cina, bininya.

    ”Kawan aku kata burit perempuan melayu ketat dan panas. Aku nak cuba budak ini.”

    ”Sekali cuba, kau boleh ketagih Ah Kau.”

    ”Katagih burit, ok. Jangan ketagih dadah sudahlah.”

    Kedua orang tua tersebut menjadi-jadi carutnya. Kak Farah yang terbaring bogel menjadi bahan bualan mereka. Pak Leman hanya memandang saja mungkin kerana dia sudah teramat puas melayani Kak Farah sebentar tadi. Kini gliran apek cina pula berhadapan dengan hidangan percuma di hadapannya. Bila-bila saja hidangan nikmat ini akan disantapnya. Aku sendiri yang berdiri di luar pondok telah lama menggigil melihat pemandangan di hadapanku. Walaupun Kak Farah adalah kakakku tapi pemandangan indah itu mencabar kelelakianku. Batang pelir aku telah lama meronta-ronta ingin keluar dari celana yang kupakai. Aku tak sabar menunggu Kak Farah diratah oleh apek cina.

    Batang pelir Ah Kau meronta-ronta ingin keluar dari seluar. Secara spontan Ah Kau melurutkan seluarnya. Batangnya yang keras mencanak dengan kulit nipis masih menutup kepala konek. Aku terpegun melihat Ah Kau yang berumur lebih setengah abad masih gagah. Pelirnya biasa-biasa saja, taklah besar, aku rasa kepunyaan Pak Leman lebih besar dan lebih panjang. Cuma pelir Ah Kau lebih cerah dibandingkan kepunyaan Pak Leman yang hitam legam.

    Ah Kau memegang dan melurut batang pelirnya yang sudah keras. Kulit kulup bergerak dan menampakkan kepala licin sungguh merah. Pertama kali aku melihat kemaluan lelaki dewasa yang tak bersunat. Rupanya macam kepunyaanku waktu aku belum berkhatan cuma kepunyaan Ah Kau lebih besar dan lebih panjang. Aku teruja ingin melihat sejauh mana kehebatan kulup apek cina ini bertarung dengan burit Kak Farah yang tengah mekar itu.

    “Ah Kau, suruh budak perempuan tu hisap kulup kau. Bagi dia rasa kau pula. Selama ni dia hanya hisap batang tua aku ni. Hisapan dia banyak sedap ooo..”

    Ah Kau bergerak merapatkan dirinya ke wajah Kak Farah. Aku lihat Kak Farah sudah segar semula. Tindakan Ah Kau sebentar tadi telah mengembalikan kekuatannya dan nafsunya kembali bangkit. Kak Farah mengerling batang pelir cina tua yang menghampirinya. Agaknya dia cuba membandingkan batang melayu yang bersunat kepunyaan Pak Leman dengaan batang cina berkulup kepunyaan Ah Kau tauke durian.

    Ah Kau merapatkan kepala kulupnya ke muka Kak Farah. Digerakkan batang pelirnya ke sekitar bukit kembar, pipi, hidung dan mulut Kak Farah. Aku lihat Ah Kau menarik kulit kulup ke pangkal agar kepala merah itu merayap sekitar muka Kak Farah. Agaknya supaya perasaan geli dan enak akan bertambah bila kepala merah itu tidak dihalang oleh kulit khatan. Terlihat kulit kulup berlipat-lipat dan tersangkut di sekeliling takuk kepala pelir.

    Kak Farah menarik nafas dalam-dalam bila kepala merah menempel di batang hidungnya. Agaknya Kak Farah ingin menikmati aroma kepala pelir apek cina. Kepala merah yang kelihatan lembab itu menari-nari di batang hidung Kak Farah yang agak mancung. Tiap kali Kak Farah menarik nafas, badannya akan bergetar dan mengeliat. Agaknya bau kepala pelir Ah Kau menimbulkan sensasi nikmat dan membakar nafsu birahi Kak Farah.

    Semasa aku belum bersunat dulu memang ada sejenis bau bila aku mengoles jariku ke kepala pelirku yang lembab dan aku menghidunya. Aku tak berapa suka baunya. Tapi mungkin bau yang tak disukai oleh orang lelaki malah disukai oleh orang perempuan. Sama seperti bau burit yang disukai oleh orang lelaki. Tapi sejak aku bersunat bau itu tak ada lagi.

    Ah Kau tersengih-sengih bila Kak Farah menikmati kepala butuhnya. Sengihnya makin lebar bila lidah Kak Farah mula menjalar dan menari-menari di kepala merah yang terdedah itu. Hanya beberapa ketika air jernih mula keluar dari lubang kecil di hujung kepala butuh.

    Bila saja Ah Kau menjarakkan sedikit lacaunya itu, terlihat seperti bebenang jenih terbentang dari hujung lidah Kak Farah dan kepala pelir apek cina. Nampaknya air mazi Ah Kau telah mula keluar membasahi kepala merah. Air mazi yang berfungsi melicinkan kemasukan pelir ke lubang burit dijilat dan ditelan oleh Kak Farah. Lendir licin dan agak masin itu menjadi pembuka selera bagi hidangan seterusnya.

    Kak Farah nampaknya makin bersemangat. Batang sederhana besar itu dikulum dan dinyonyot penuh nafsu. Kepala merah menyelam dalam mulut Kak Farah. Bibir Kak Farah yang merah segar itu melingkari batang tua apek cina. Beberapa minit saja aku lihat badan Ah Kau menggeletar.

    “Cukup, cukup Farah. Gua tak tahan. Gua tak mau pancut dalam mulut lu. Gua mau rasa lu punya cibai pula.” Terlihat Ah Kau menarik keluar batang pelirnya yang basah kuyup dari mulut comel Kak Farah. Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Kak Farah. Agaknya dia belum puas menghisap batang pelir apek cina. Mungkin batang berkulup cina tua tersebut sedap rasanya.

    “Kangkang Farah, kangkang luas-luas bagi Ah Kau rasa lubang burit kamu yang sempit tu,” Pak Leman bersuara.

    Ah Kau mula bergerak menghampiri kangkang Kak Farah yang terbuka luas. Pelirnya yang masih tegang itu terhangguk-hangguk mencari pasangannya.

    “Ini peluang kau Farah dapat rasa butuh tak bersunat. Kau sedut habis-habis kulup Ah Kau biar dia teringat-ingat kamu siang malam,” Pak Leman berceloteh.

    Kak Farah hanya menunggu tindakan Ah Kau seterusnya. Kangkangnya dibuka luas bagi memudahkan Ah Kau melayari bahteranya. Burit muda berbulu hitam jarang-jarang dengan bibir merahnya seperti tersenyum menanti kepala merah yang akan bertandang. Lurah yang merkah itu telah lama banjir dengan air nikmat yang keluar dari telaga keramat Kak Farah.

    Ah Kau menempelkan torpedonya ke pintu gua. Digerak naik turun supaya kepala merah bertambah basah dengan cairan pelicin. Badan Kak Farah tersentak-sentak bila kepala merah menyondol biji kacang di penjuru belahan bahagian atas. Kepala butuh Ah Kau bertambah licin dipaliti dengan lendir yang telah lama membanjiri taman pusaka Kak Farah.

    “Gelilah Leman, banyak sedap.” Ah Kau bersuara. Kepala merahnya belum lagi membelah bibir lembut di celah kangkang Kak Farah.

    “Apa lagi kau tunggu, jolok sajalah barang kau tu,” Pak Leman mencabar Ah Kau agar bertindak cepat. “Aku tengok budak Farah ni dah tak sabar nak merasa kulup kau tu.”

    Ah Kau merapatkan lagi badannya ke badan Kak Farah. Kepala merah yang dah terbuka itu menyondol lebih kuat dan terus menyelam ke terowong nikmat. Digerak badannya maju mundur dan balak keras Ah Kau keluar masuk dengan lancar ke lubang burit Kak Farah. Kak Farah kelihatan menendang-nendang angin dan mengerang kesedapan bila Ah Kau menggerakan batang pelirnya maju mundur.

    Tiba-tiba aku teringat peristiwa silam. Waktu aku berumur 10 tahun aku cukup takut bila melihat tok mudim. Aku akan bersembunyi di semak bila aku akan disunatkan. Rakan-rakanku datang memujuk mengatakan aku tidak boleh berkahwin jika tidak bersunat. Bimbang tak boleh kahwin bila dewasa, aku memberanikan diri untuk berkhatan. Separuh pengsan bila pisau tok mudim mencantas kulit kulupku. Dua minggu aku terkengkang-kengkang bila berjalan.

    Sekarang dihadapanku Ah Kau yang tak bersunat sedang rancak berkahwin dengan Kak Farah. Butuh berkulup itu begitu selesa keluar masuk lubang burit Kak Farah yang sedang mekar. Jelas sekarang aku tertipu dengan helah Pak Usuku dan kawan-kawan yang mengatakan orang tak bersunat tak boleh kahwin.

    Ah Kau makin rancak membenamkan batang pelirnya ke celah kangkang Kak Farah. Makin lama makin laju dan tak sampai lima minit aku lihat badan Ah Kau menggigil seperti orang demam kura dan pinggulnya seperti tersentak-sentak. Aku rasa Ah Kau sedang memancutkan air nikmatnya ke dalam burit Kak Farah. Seminit kemudian aku nampak Ah Kau dengan nafas tercungap-cungap rebah di sebelah Kak Farah. Batang pelirnya mula mengecil dan kepala merah kembali bersembunyi ke dalam kulit kulup.

    “Banyak sedaplah Leman. Lubang budak ini sungguh sempit. Aku tak boleh tahan, lancau aku rasa geli. Rugi aku pancut cepat sangat.”

    Apek tua ini terlalu cepat mengalah. Agaknya sudah lama dia tak memburit hingga dia tak dapat mengawal maninya. Atau memang resam pelir tak bersunat cepat pancut kerana kepalanya amat sensitif. Berbeza dengan Pak Leman yang boleh bertahan lama. Hampir satu jam Kak Farah dikerjakannya.

    Kangkang Kak Farah terbuka luas. Cairan putih berlendir meleleh keluar dari lubang burit yang sedikit terbuka. Terlihat lubang yang sedikit ternganga itu berkerinyut dan berdenyut terkemut-kemut. Aku rasa Kak Farah belum lagi mendapat kepuasan tetapi apek cina terlampau cepat menarik keluar batang pelirnya. Apek cina kalah bertarung terlampau cepat. Kak Farah kecewa.

    Aku rasa tak rugi aku bersunat. Aku harap bila besar nanti aku mampu bertahan lama bila bersama kekasihku. Aku mau seperti Pak Leman yang mampu bertahan hampir satu jam. Aku harap isteriku akan mendapat kepuasan maksima.
     
  18. bajad

    bajad Junior

    RUMAH BARU

    Aku dan suamiku bersetuju agar kami menyewa sebuah rumah selepas kami berkahwin sebulan yang lalu. Aku bekerja di selatan sementara suamiku bekerja di utara. Suamiku akan berusaha agar dia dapat bertukar tempat kerja berhampiran tempat kerjaku.

    Aku dan suamiku telah memutuskan untuk menyewa sebuah rumah berkembar setingkat di sebuah taman perumahan yang baru di buka. Belum ramai penghuni yang berpindah ke taman perumahan ini. Oleh kerana tempatnya cantik dan hanya beberapa kilometer dari tempat kerjaku maka kami bersetuju menyewa walaupun sewanya agak mahal.

    Pagi minggu itu aku memandu Honda Cityku ke tempat menyewa lori. Di bandar tempat kerjaku ada satu tempat dimana lori-lori kecil maupun besar berkumpul menunggu pelanggan. Belum sempat aku mematikan keretaku, beberapa pemuda telah datang mengerumuniku menawarkan lori mereka. Aku beritahu akan memilih lori yang aku berkenan. Aku hanya memerlukan lori kecil sahaja sebab barang-barangku dirumah sewaku yang lama taklah banyak. Aku menyewa bilik bersama beberapa orang kawanku.

    Seorang pemuda india nampaknya tak berputus asa. Dia mengekoriku sambil menawarkan lorinya. Dia mula berkeras bila aku menolak. Wajahnya kelihatan bengis seperti anggota Hindraf yang menunjuk perasaan di ibukota tempoh hari. Aku jadi takut dan akhirnya aku bersetuju dengan tawarannya.

    Seperti dijanjikan, pada hari minggu lelaki india tersebut bersama pembantunya yang masih muda datang ke rumah sewaku yang lama. Mereka berdua dan dibantu oleh rakanku mengangkat barang-barang ke atas lori. Selesai saja kami telah bergerak ke rumah sewaku yang baru.

    Lelaki india bersam pembantunya bertungkus lumus mengangkat barang-barangku dan diletakkan di dalam bilik seperti arahanku. Lebih kurang satu jam urusan perpindahan selesai.

    “Encik, semua barang dah angkat.”

    “Terima kasih. Saya ambil duit dalam bilik.” Aku bergerak ke dalam bilik tidurku mengambil duit di dalam beg tangan yang aku simpan dalam almari.

    Tanpa aku sedari rupanya pemuda india itu mengikutku ke dalam bilik. Dia menghampiriku dan memeluk tubuhku. Aku terperanjat diperlakukan begitu. Tanpa aku sempat bertindak pemuda india tersebut menolak tubuhku ke atas katil. Dia bersama pembantunya memegang tangan dan kakiku yang telah terbaring di katil. Salah seorang lelaki menarik tudung yang kupakai dan mengikat mulutku agar aku tidak dapat berteriak. Aku masih panik dan terkejut waktu itu hingga aku tak mampu untuk berbuat apa-apa.

    Aku terbaring di katil. Seorang lelaki berada di bahagian kepala sambil memegang kedua-dua tanganku. Seorang lagi di bahagian kaki memegang kedua-dua kakiku. Aku cuba meronta dan menendang-nendang. Lelaki itu memegang kuat pergelangan kakiku. Aku cuba lagi meronta tetapi seluar aku yang terlondeh. Lelaki itu menarik keluar seluar yang kupakai. Paha dan kakiku terdedah menampakkan seluar dalam yang menutupi taman rahsiaku.

    Lelaki di hujung kaki bertindak sepantas kilat. Seluar dalam yang kupakai ditarik pantas dan sekarang aku berbogel. Taman rahsiaku terdedah tanpa ditutupi walau seurat benang. Aku tak mampu melawan lagi. Kudratku telah habis dan sia-sia saja aku beradu tenaga dengan dua orang lelaki yang kuat. Aku menyerah dan bersedia menerima apa saja yang berlaku. Jika aku melawan mungkin nyawaku yang terancam. Melihat aku tidak meronta lagi maka kedua lelaki ini bertindak lebih lembut. Baju yang kupakai ditarik diikuti dengan baju dalam yang kupakai. Aku sekarang tak ubah seperti bayi yang baru lahir. Tiada apa yang menutupiku lagi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain dari menahan rasa malu.

    Kini terserlahlah tetekku yang sederhana besar dan juga pantatku yang bersih tembam kemerahan. Hanya suamiku sahaja yang pernah melihat tubuh bogelku. Sekarang orang asing yang tak kukenali sedang meneroka tubuhku. Lelaki itu mula membelai rambutku dan mengusap pipiku dgn perlahan-lahan. Aku cuba meronta dengan sisa-sisa kekuatan yang masih ada. Kemudian dengan lembut lelaki itu mencium pipiku dan juga leherku dengan penuh nafsu. Aku pada ketika itu teramat geli kerana leherku sensitif dan dia menjilat-jilat telingaku. Bila lidahnya berlabuh di ketiakku yang mulus menyebabkan aku meronta-ronta kerana geli.

    Aku mula rasa sedap tetapi aku tidak mahu melayan. Lelaki itu meneruskan dengan mula meramas tetekku dengan begitu lembut sehingga aku terasa nikmatnya dan tetekku menjadi keras. Mungkin kerana usia mudaku, apatah lagi aku baru saja berkahwin dan baru saja dapat merasai nikmatnya berhubungan kelamin maka nafsuku mudah bangkit. Walaupun secara paksa tapi tindakan kedua lelaki itu menimbulkan perasan nikmat juga.

    Lelaki india yang lebih tua menjilat tetekku, membelai tetekku, menghisap putingku dan menggentel serta menggaru sedikit di putingku. Aku mula seronok dan sedikit sebanyak telah mula lupa apa yang sedang berlaku. Setelah bermain dengan tetekku, lidahnya turun menjalar di lurah dadaku sehingga ke perut. Dia menjilat pusatku. Aku kegelian kerana aku belum pernah dilakukan seperti ini sebelumnya. Pembantunya yang lebih muda hanya melihat sambil memegang kedua tanganku.

    Lelaki yang bertubuh sasa ini mula mengusap tundunku yang montok. Tundun gebuku dihidu dan dicium. Bulu-bulu nipis diraba-raba dan ditarik-tarik lembut. Jari telunjuknya dijolok ke dalam lubang cipapku. Nafasku makin laju dan perasaan aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Apabila dia mula menjilat buritku dengan penuh kelembutan, aku rasa seperti ada cairan panas mula meleleh keluar dari dalam rongga cipapku. Lelaki itu mula menjilat biji kelentitku. Terasa seperti aliran elektrik di sekujur tubuhku. Sedap dan penuh nikmat. Dia teruskan dengan menghisap dan menggentel kelentit dan cuba menyucuk lidahnya kedalam lubang pantatku. Kini aku sudah lupa bahawa aku sedang dirogol dan menikmatinya sebaik mungkin. Semakin dia menghisap dan menjilat, semakin sedap aku rasakan.

    Sementara yang berbadan kekar meneroka bahagian bawah perutku, lelaki yang lebih kecil yang berada di kepalaku tidak tinggal diam. Tetekku yang telah mekar keras diramas-ramasnya. Tangannya nampak sedikit menggeletar bila dia menyentuh kulit tetekku yang halus. Rasanya lelaki ini belum ada pengalaman dengan wanita. Wajahnya nampak seperti budak sekolah menengah. Terasa sunguh nikmat bila cipapku dijilat-jilat sementara tetekku di ramas-ramas.

    Setelah puas melakukan demikian, lelaki kekar mula membuka seluarnya dan terpancullah satu batang yang besar dan menarik. Batang hitam legam itu terpacak di pangkal pahanya. Terlihat bahagian kepalanya masih tertutup kulup. Agaknya semua lelaki india seperti ini, tak bersunat. Kemudian dia menindih badanya ke atas badanku dan batang balaknya dihalakan ke permukaan buritku. Dia tidak terus masuk, tetapi memainkan kepala berkulup itu di alur kemaluanku. Aku menjadi sangat bernafsu sehingga aku tak sabar bila ia akan masuk ke dalam pantatku itu. Aku sudah tidak tahan. Lelaki tersebut secara perlahan melumurkan batangnya dengan cairan lendir yang keluar dari buritkuku. Ditujah-tujahnya kepala bulat itu ke kelentitku. Digerakkan kepala koneknya meluncur lurah yang sudah basah di antara dua bibir kemaluanku yang telah membengkak.

    Kakiku bergetar menahan geli bercampur nikmat. Kubukakan pahaku lebih luas sambil menanti tindakan selanjutnya. Kepala konek dan batangnya berlumuran degan cairan licin. Pelan-pelan dia menolak kepala licin ke mulut cipap. Aku seronok dan amat bernafsu, aku biarkan sahaja kepala bulat masuk malah aku cuba mengangkang kakiku dengan lebih luas agar batang itu masuk ke dalam pantatku. Walau pada mulanya aku berasa sakit kerana balakny yang besar tetapi sakit itu mula berubah menjadi seronok, geli dan sangat nikmat. Aku merangkul kuat kakiku ke pinggangnya bagi menahan gerakannya. Lelaki kekar itu seperti tahu kemahuanku maka didiamkan saja gerakannya sambil merendam batang balaknya di rongga cipapku yang hangat. Bila aku sudah selesa dan tiada lagi rasa sakit maka aku melonggarkan pautan kakiku. Kini aku ingin sekali disetubuhi lelaki itu.

    Maka bermulalah adegan sorong tarik. Lelaki itu melakukan dengan begitu perlahan sehingga tidak terasa sakit tetapi kenikmatan yang tidak terhingga. Rasanya lelaki ini sudah cukup berpengalaman kerana tindakannya tidak gelojoh. Mungkin aku sudah lemas dengan nafsuku, aku sendiri berbisik pada lelaki itu agar dia mendayung dengan lebih laju lagi. Lelaki itu melakukan seperti apa yang aku suruh dan dia melajukan dayungannya. Kini nikmat yg kurasa tidak dapat kubayangkan lagi.

    Agaknya lelaki kecil di kepalaku tak tertahan lagi melihat adegan yang berlaku di hadapannya maka dengan tangkas dia melondehkan seluar yang dipakainya. Terpacak batang konek yang tidak begitu besar. Hitam legam mendongak ke arahku. Kepala bulatnya masih terbungkus kulup seperti kawannya juga. Dirapatkan batang koneknya ke mulutku. Tak takut pula remaja ini kalau batang pelirnya aku gigit putus. Mungkin kerana aku teramat bernafsu maka batang konek remaja itu aku kulum dan aku hisap. Meliuk lintuk badannya menahan geli bila kepala koneknya aku belai dengan lidahku yang kasar. Hanya beberapa minit cairan licin masin mula keluar dari hujung kepala koneknya.

    Aku mula menggerakkan punggungku dan mula bergerak seirama dengan lelaki kekar di celah pahaku. Aku rasa ghairah yang amat sangat. Dengan tidak semena-mena satu nikmat yang amat sangat telah kurasai. Pantatku tiba-tiba mengemut dengan begitu kuat seperti mencengkam batang lelaki itu. Cairan hangat banyak keluar membasahi permukaan cipapku. Lelaki itu juga mengalami kenikmatan bila badannya mengejang dan terasa cairan panas menyembur ke mulut rahimku. Cairan maninya telah dipancutkan ke dalam cipapku. Direndam balaknya dalam cipapku hingga beberapa minit kemudian dia mencabut batangnya yang terkulai dan terduduk lemas di atas katil.

    Lelaki yang berada di kepalaku mula mengambil giliranya. Lelaki ini agak kecil badannya. Aku kira umurnya dalam lingkungan 14 tahun. Batang koneknya terpacak tetapi tidak sebesar lelaki kekar tadi. Dimasukkan batangnya ke dalam cipapku yang masih basah. Mudah saja koneknya meluncur masuk dan dia mula menggerakkan punggungnya maju mundur. Mungkin ini adalah pengalaman seksnya yang pertama maka hanya beberapa minit maninya dah terpancut. Dia mengerang kuat bila maninya bergerak keluar dari batang koneknya yang kecil. Badannya terhempas lemas di atas badanku. Nafasnya laju seperti pelari maraton.
    Aku ditinggalkan terkapar lesu di atas katil rumah sewaku yang baru setelah kedua lelaki ini mengucapkan terima kasih di telingaku. Perlahan aku bangun dan mengenakan semula pakaianku. Badanku terasa letih tapi nikmat. Aku tak meneruskan kerjaku mengemas rumah sebaliknya aku terus tidur hingga ke petang.

    Aku menerima akibat kerana tak sabar untuk berpindah ke rumah baru. Sepatutunya aku menunggu suamiku turun dari Pulau Pinang. Kerana kegopohanku dan kerana ingin menunjuk lagak bahawa aku mampu mengurus seorang diri maka kedua lelaki india tersebut berpesta menikmati tubuhku yang sedang mekar dan segar. Aku menyesal dan nasi telah menjadi bubur.
     
  19. bajad

    bajad Junior

    GURU TUISYEN

    Hari itu hujan turun dengan lebatnya. Aku basah kuyup sungguhpun aku berkereta tengah hari itu. Hujan dengan lebatnya menyiram tubuhku waktu aku turun membuka pintu pagar rumahku. Kerana hujan tiba-tiba sahaja turun maka aku terlupa membawa payung. Tiada sesiapa di rumah kerana aku tinggal seorang diri. Suamiku sedang berkursus di Jepun selama setahun. Telah enam bulan suamiku meninggalku. Aku tidak dapat bersamanya kerana aku bekerja sebagai guru siswazah di sebuah sekolah menengah.

    Dari jauh aku melihat Robert Lim memecut laju basikalnya ke arah rumahku. Pakaiannya juga basah kuyup. Aku puji sikap Robert Lim yang rajin itu. Budak cina ini telah meminta aku mengajarnya pelajaran bahasa melayu. Selain Robert Lim ada beberapa lagi kawannya yang mengikuti tuisyen yang aku jalankan di rumahku. Aku mengajar tuisyen di sebelah petang selepas waktu sekolah sekadar suka-suka saja sebab aku kesunyian.

    Kami sama-sama masuk ke dalam rumah. Aku ke bilik dan mengambil tuala kering dan kuberi kepada Robert. Aku mengarahnya mandi di bilik air di sebelah ruang tamu. Aku ke bilik tidurku untuk mandi dan menukar pakaian. Sewaktu aku melepaskan pakaianku yang basah tiba-tiba telefon bimbitku berdering. Dengan hanya berkemban tuala aku meluru ke luar mengambil HP aku yang berada dalam beg tanganku.

    Sambil berbual terdengar bunyi air pancuran di bilik mandi. Mataku mengarah ke bilik air yang diguna oleh Robert. Terlihat pintu bilik air tersebut renggang sedikit. Mungkin kerana terburu-buru Robert terlupa menutup pintu bilik air.

    Aku menghampiri bilik mandi. Perasaan ingin tahuku menyebabkan kakiku tanpa sadar berjalan mendekati pintu bilik. Terlihat sesosok tubuh telanjang sedang mandi. Aku terkaku dan terpegun bila melihat remaja cina tersebut sedang melurut-lurut batang kemaluannya yang sedang keras. Agak besar dan panjang kemaluan remaja tersebut berbanding umurnya yang 15 tahun tersebut. Robert belajar di tingkatan tiga sekolah tempat aku mengajar.

    Aku leka memerhati tingkah Robert. Dilurut batang koneknya yang berwarna coklat muda itu. Kepalanya berwarna merah, sekejap kelihatan sekejap tidak. Baru aku tersedar yang konek remaja cina itu masih berkulup kerana tidak berkhatan. Berbeza dengan konek suamiku yang berwarna coklat tua yang kepalanya sentiasa terbuka.

    Nafsuku mula membakar diriku. Berahiku bangkit. Dalam usia 25 tahun dan baharu setahun berkahwin, ghairahku mudah meledak. Kadang-kadang bila melihat gambar lelaki gagah cipapku boleh basah. Sekarang di hadapanku adalah zakar lelaki yang sedang terpacak keras. Aku terlupa yang berdiri di hadapanku adalah muridku. Yang terlintas di fikiranku ialah seorang lelaki. Naluri wanitaku bagaikan dipangil-panggil. Hormon berahiku mengalir deras dalam pembuluh darahku. Terowong nikmatku bergetar ingin menyedut batang kemaluan lelaki. Rahimku bagaikan tak sabar menunggu siraman benih lelaki.

    Seperti ada yang mendorongku aku medekati Robert. Terkejut Robert bila aku sudah berada dalam bilik air. Aku lihat Robert menutup koneknya yang keras dengan kedua tangannya. Mukanya merah padam kerana malu. Aku memegang bahunya. Aku raba-raba badanya yang basah.

    ”Jangan malu, cikgu dah tengok burung Robert,” bisikku di telinganya. “Cantik burung Robert, kepalanya merah. Boleh cikgu pegang?”

    Aku memegang lembut konek Robert. Tanpa membantah Robert menarik tangannya yang sedang menutup kemaluannya. Konek coklat muda tersebut masih keras kaku. Aku melurut-lurut lembut dengan tangan kananku dan terlihat jelas kepala merah yang licin. Kepala bulat tersebut lebih besar daripada batangnya. Kata orang tua-tua konek jenis ini disebut kepala singa dan mampu memberi kepuasan maksima kepada pasangannya. Terbayang zakar suamiku yang berkepala kecil yang disebut kepala tikus, tapi aku tetap puas bila bersama suamiku.

    Aku melepaskan tuala yang membelit badanku. Kulihat mata remaja cina tersebut merenung tubuhku tak berkelip. Ditatapnya tubuhku dari atas ke bawah. Aku membuka pancuran air. Pelan-pelan aku membasahi badanku sambil menarik Robert mandi bersamaku. Sambil tersenyum aku menggosok-gosok badan Robert yang telah basah. Aku mengambil sabun yang berada di dinding dan menyabun badan Robert hingga badannya ditutupi dengan buih sabun. Aku gosok-gosok hingga buih sabun rata di setiap inci kulit tubuh Robert yang kuning langsat itu. Sambil sabun masih berada di tapak tangan aku menyabun konek Robert yang separuh tegang. Terlihat Robert menikmati urutan-urutanku pada batang pelirnya.

    Berlama-lama aku bertindak pada batang muda tersebut. Kulurut-lurut batang konek dengan sabun. Batang konek coklat muda diselaputi dengan buih sabun yang putih. Tiba-tiba konek Robert mengeras bila kugosok-gosok. Makin kugosok makin tegang batang pelir budak cina tersebut. Tanpa lengah kutarik kulup yang menutupi kepala konek hingga kepala konek coklat muda berkilat terdedah. Kugosok-gosok kepala konek dengan sabun. Robert bergerak-gerak kegelian. Lama kugosok-gosok kepala singa agar betul-betul bersih kerana batang coklat muda keras ini akan menjadi habuan mulutku sebentar lagi.

    ”Kenapa Robert tak bersunat macam budak melayu?”


    ”Takut sakit cikgu. Bapa saya, abang saya dan semua ahli keluarga saya tak bersunat, cikgu. Cikgu tak suka penis tak sunat?”

    ”Suka. Cikgu tengok dalam internet lelaki barat juga tak bersunat.”

    ”Sepupu saya kahwin dengan perempuan melayu, dia masuk islam tapi dia juga tak bersunat. Sekarang dia ada dua anak,” cerita Robert.

    ”Sekarang cikgu nak rasa penis Robert yang tak bersunat. Tentu sedap, boleh?” bisikku di telinga Robert.

    ”Boleh, saya juga nak rasa burit melayu, burit cikgu. Cikgu bersunat ke? Tentu sedap,” balas Robert tanpa malu.

    Tiba-tiba aku terasa ingin kencing. Aku mencangkung di lantai untuk kencing. Cipapku kelihatan merekah merah. Begitu saja kencingku keluar, Robert segera menahan tangannya sambil menadah air kencingku. Air kencingku yang berwarna kuning itu dicium dan dijilat dengan lidahnya.

    ”Masin dan hangatlah cikgu,” Robert berkata pelan.

    ”Sekarang kau pula kencing. Cikgu nak rasa pula kencingmu,” pintaku pada Robert.

    Robert memegang koneknya dan mula kencing. Mungkin kerana koneknya sedang mengeras maka kencingnya tidak keluar. Dipaksa meneran dan beberapa saat kemudian cairan kuning cair mulai meleleh keluar dari lubang kecil ke hujung kepala merah. Aku menadah mulutku dan memang benar seperti kata Robert. Air kencing rasanya masin dan hangat. Air kencing Robert aku luahkan ke lantai. Sambil senyum aku menjentik lembut konek Robert yang masih menegang. Mungkin Robert terangsang melihat cipapku yang ternganga merah sewaktu aku kencing tadi.

    Kuarahkan Robert menyiram tubuhnya sambil membersihkan sisa-sisa buih sabun. Badan Robert kugosok-gosok hingga tiada lagi buih sabun di badannya. Kulihat ke bawah, konek Robert masih mengacung keras. Kurendahkan badanku hingga mencangkung. Wajahku betul-betul berada di hadapan batang coklat muda yang sedang keras. Kukecup kepala konek yang licin sebagai salam permulaan. Kucium batang coklat muda yang masih basah. Harum segar baunya bercampur bau sabun.

    Aku mengarah Robert menyabun badanku. Masih dalam perasaan serba salah Robert menyabun badanku. Robert menggosok-gosok lembut badanku dengan sabun hingga buih melitupi seluruh badanku. Robert menggosok perlahan tetekku kiri dan kanan dengan buih. Tetekku yang kenyal diramas-ramas. Aku kegelian dan nafsuku mulai bangkit. Lama tetekku digosok Robert. Aku tak tahan diperlakukan begitu. Aku mengerang kesedapan.

    Dengan perasaan masih bergetar Robert menyabun badanku hingga ke pangkal paha. Tundun gebuku digosok-gosok. Memutih buih sabun di pangkal paha. Lama sekali Robert menyabun cipapku. Kelentit dan bibir cipapku menjadi sasaran gosokan Robert. Mungkin juga Robert ingin memastikan cipapku benar-benar bersih kerana kurasa Robert ingin menghidu dan menjilat cipapku. Tiba-tiba saja Robert mengoles sedikit sabun dengan hujung lidahnya. Lidah yang bersabun itu disapu-sapu pada kelentitku. Aku geli melihat kelentitku berbuih. Seterusnya lidah bersabun itu diusap-usap pada bibir cipapku yang basah. Aku geli campur nikmat. Aku terkejut dengan tindakan budak cina yang aku anggap masih mentah itu.

    ”Clitoris cikgu kecil, cikgu bersunat ke waktu kecil? Clitoris kakak ipar saya besar dan panjang.” Aku hairan dengan pertanyaan Robert tersebut. Macam mana dia boleh membandingkan kelentit aku dengan kelentit kakak iparnya.

    Setelah puas membelai tubuhku dengan sabun, Robert membuka pancuran air sehingga sekujur tubuhku disirami air. Robert menggosok seluruh tubuhku sehingga tiada lagi sisa-sisa buih sabun. Badanku sekarang benar-benar bersih. Sebagai balasan apa yang kulakukan padanya, Robert melutut di hadapanku sehingga cipapku berada di hadapan mukanya. Dengan lembut Robert mengecup bibir cipap dan kelentitku yang masih basah. Aku geli bila hujung lidah yang kasar membelai kelentitku yang licin.

    Robert mencapai tuala tersangkut di pintu. Tuala lembut dilapkan ke badanku hingga kering, kemudian Robert mengeringkan badannya juga. Sambil beriringan kami menuju ke bilik tidur. Kukerling ke konek Robert, masih mengeras konek 5 inci itu. Aku seperti tak sabar ingin menikmati konek keras tegang. Tiba di pinggir katil aku menolak keras tubuh Robert. Robert jatuh terlentang di tilam empuk. Kujatuhkan tubuhku ke atas dada Robert. Bibir basah Robert kugigit. Lidahku bergerak lancar dalam mulut Robert. Robert membalas dengan mengisap lidahku. Aku hampir tak bernafas bila Robert mengisap kemas lidahku tanpa mau melepaskannya. Aku meronta, sambil tersenyum Robert melepaskan lidahku.

    Robert masih terlentang di katil. Konek coklat muda 5 inci terpacak bagai tiang bendera. Kudekati mukaku ke konek tegang. Dengan kedua tanganku kutarik kulit kulup Robert. Kulup tertarik membentuk kelongsong. Kumasukkan hujung lidahku ke dalam lubang kelongsong. Kulup Robert sekarang membungkus hujung lidahku. Tanpa lengah lidahku yang berada dalam kelongsong kulup kuraba kepala konek. Kujilat kepala singa yang membengkak. Kepala konek Robert sungguh licin. Robert kegelian dan mengerang kenikmatan. Lidahku yang kasar memberi sensasi luar biasa pada kepala pelir yang licin halus. Kujilat-jilat agak lama hingga Robert benar-benar terangsang.

    Setelah agak lama lidahku beroperasi dalam kelongsong kulup, aku kemudian mengurut-ngurut batang keras. Terasa kulit konek seperti tidak melekat pada batang. Selesa saja aku gerakkan tanganku naik turun. Aku lancap batang konek perlahan-lahan. Kepala konek terbuka dan tertutup mengikut gerakan tanganku ke bawah dan ke atas. Kutarik terus ke pangkal. Kulit kulup tertarik ke bawah dan tersangkut di takuk konek. Kulit kulup melingkari batang konek membentuk seperti simpai berlipat-lipat. Sekarang kepala coklat muda berkilat terdedah seluruhnya. Kudekatkan hidungku ke hujung konek. Kucium bau segar konek yang telah dicuci bersih. Aku terangsang sekali dengan bau kepala konek. Aku mencium dan menghidu lama sekali. Bau jantan dari kepala zakar Robert membuat aku khayal. Aromanya membuatkan nafsu berahiku mendidih. Kepala pelir suamiku tidak menerbitkan aroma sebegini. Punggung Robert bergerak-gerak menahan nikmat.

    Batang coklat muda tegak kugigit-gigit lembut. Mula dari hujung hingga ke pangkal kubelai dengan lidahku yang lembut basah. Telur Robert yang berkedut-kedut kujilat. Basah bulu telurnya yang jarang-jarang itu dengan air liurku. Robert mengerang-ngerang kesedapan. Punggungnya terangkat-angkat menahan nikmat. Batang coklat muda kurasa makin keras. Lantas kukulum dan kusedut kepala licin berkilat. Dapat kurasa batang Robert berdenyut-denyut di dalam mulutku. Aku gerakkan mulutku maju mundur sambil lidahku membelai kepala konek. Robert mengeliat menikmati kelazatan. Cairan licin masin mula keluar dari hujung konek.

    Perasaan Robert menjadi tidak keruan. Dengan pantas dia menolakku lembut hingga aku terbaring telentang. Robert menerkam tetek kenyalku. Puting warna pink dinyonyot-nyonyot, dihisap-hisap. Aku menggelinjang kegelian. Geli dan nikmat di pangkal tetek dan di puting susu. Bibir Robert yang basah amat terampil melayan gunung mekar. Ketiakku yang licin dicium Robert. Kulit ketiakku yang putih dijilat-jilat. Basah lencun ketiakku kiri dan kanan oleh air liur Robert. Lidah besar dan kasar kepunyaan Robert membuatku terasa seperti melayang-layang. Aku bertambah geli dan badanku bergerak-gerak ke kiri dan kekanan penuh kelazatan.

    ”Ahhh..ohhh..sedap Robert, lagi, lagi,” suaraku tiba-tiba tak terkawal lagi.

    Dengan perlahan Robert bergerak ke bawah. Kulit perutku dielus-elus. Pusatku dijilat-jilat. Aku tak tertahan lagi. Ku ayak punggungku kiri kanan. Kutonjol tundunku tinggi-tinggi ke atas. Muka Robert melekat di tundunku yang putih gebu. Dengan cermat Robert menempelkan hidungnya ke tamanku yang sentiasa kujaga rapi. Robert menggeselkan hidungnya ke kelentitku yang tertonjol. Robert menikmati aroma cipapku yang segar, benar-benar membuat Robert khayal. Robert melurutkan hidungnya ke bawah, ke celah rekahan bibir lembut kemaluanku. Lama sungguh muka Robert berada di permukaan cipapku. Robert benar-benar ingin menikmati aroma cipapku. Aroma burit melayu yang menjadi idaman remaja cina yang sedang membesar.

    "Burit cikgu sedap baunya. Burit sepupu saya tak harum dan segar macam cikgu punya. Kelentit cikgu kecik, kelentit sepupu saya lebih panjang." Aku indah tak indah saja mendengar celoteh Robert. Geli dan nikmat di rongga buritku membuat aku tak dapat berkata-kata.

    Nikmat sungguh bila Robert membelai cipapku dengan lidahnya. Kelentitku yang bulat licin dan bibir cipapku yang lembut dijilat dengan lidah kasar Robert. Nafsuku kian memuncak. Cairan hangat mula meleleh keluar dari rongga cipapku yang sempit. Lidah Robert makin dijolok di lubang sempit. Lubang keramat aku diteroka. Aku mengemut lidah Robert yang berada di rongga cipapku. Lidah Robert kuramas halus dengan otot-otot cipapku yang mekar. Aku mengerang lagi, “Ahh...ohhh...argh....sedap..sedap...” Terasa cairan panas mengalir keluar makin banyak dari kemaluanku.

    Robert melajukan lagi jilatan. Maju mundur lidah Robert di lorong sempit. Aku mula mengerang, merengek, dan mataku terasa tak mampu lagi terbuka. Kurasa pahaku bergetar, kurapatkan paha dan kepala Robert tersepit antara kedua pahaku. Aku mengerang keras, badanku mengejang dan tiba-tiba cairan cipapku menyirami seluruh muka Robert. Aku terkulai lemas. Aku dah sampai ke puncak. Kulihat Robert menghirup penuh nafsu jus cinta yang mengalir keluar dari lubang syurgawi kepunyaanku.

    Aku sudah lemah longlai. Robert terus mengganas. Cairan cipapku disedut kering. Ditelan cairan pekat licin. Kelentitku dijilat rakus. Ghairahku kembali bangun. Kutolak Robert hingga terlentang. Aku bangun. Badan Robert kukangkangi. Mukaku menghadap Robert. Tetek pejal tergantung kemas di dadaku. Robert geram melihat tetek kembarku yang sedang mekar. Tangan Robert tak sabar-sabar mencapai dan meramas tetek kembarku.

    Aku menurunkan badanku pelan-pelan. Muara cipap merah basah merapati konek coklat muda keras terpacak. Konek Robert menunggu penuh sabar. Bibir lembut cipapku mengelus-elus manja kepala singa licin berkilat. Muara yang telah lembab mengucup lembut kepala licin coklat muda yang sudah terloceh. Aku dan Robert melihat bibir merah basah mula menelan batang coklat mudanya. Punggung ku makin rendah hingga seluruh kepala konek Robert berada dalam lubang hangat. Kumula mengemut pelan. Aku menurunkan lagi pantatku. Seluruh konek Robert menerjah masuk ke gua keramatku yang ketat dan sempit.

    Tetekku dipegang dan diramas lembut oleh tangan berkulit halus. Kedua-dua tangannya bekerja keras. Aku merasa keenakan bila tetekku diramas. Kurasa sungguh nikmat. Perasaan yang amat lazat menjalar ke seluruh badanku. Perasaanku seperti melayang-layang di awangan. Sekali sekali Robert menujah batang butuhnya. Punggungnya diangkat tinggi-tinggi supaya seluruh pelirnya berada dalam rongga buritku. Batang kulup tak bersunat budak cina menyelam penuh lazat dalam burit perempuan melayu yang kehausan. Butuh murid bersatu dengan burit cikgu. Zakar remaja 15 tahun terbenam dalam lubang faraj wanita 25 tahun. Dan keinginanku menikmati zakar tak berkhatan sudah tercapai. Sedap juga kulup budak cina ini.

    "Sedap cikgu. Burit cikgu hangat. Cikgu pandai kemut, saya rasa macam nak terkencing."

    Aku mengemut dengan kuat, dinding cipapku yang kenyal meramas-meramas batang keras Robert. Aku kemut secara beirama supaya Robert betul-betul merasa nikmat dengan rongga cipapku yang sempit. Punggungku naik turun dengan laju. Batang sederhana besar Robert penuh padat mengisi rongga sempitku. Aku terasa seperti rongga cipapku digaru-garu. Terasa geli, lazat dan nikmat. Sebagai reaksi kemutanku, Robert melonjak-lonjak dan mengangkat punggungnya tinggi-tingi. Aku terasa batang 5 inci keseluruhannya dah berada dalam rongga cipapku. Kepala konek Robert membelai-belai pangkal rahimku. Sungguh sedap dan nikmat. Aku mengerang kuat, “Ahh.... Ohhh....Arghhh... enak Robert, enak”.

    Badanku mengejang. Otot-otot tubuhku terasa kaku. Nafasku seperti tersekat. Aku hanya mampu mengerang, “Aahhh...oohhh...aaahhhh...” Cairan panas memancar dari dalam cipapku. Cairan panas menyirami kepala konek Robert. Robert nampak mengeliat-ngeliat menahan kesedapan. Aku terkulai lesu, sendi-sendiku terasa lemah dan aku jatuh terjelepuk di dada Robert. Lebih dua minit aku terbaring kaku. Konek Robert masih tetap terpacak keras di dalam cipapku.

    Bila tenagaku pulih sedikit, aku berbisik di telinga Robert, "Tahan Robert, jangan pancut lagi. Aku masih ingin menikmati kehebatanmu".

    Robert mengerti kemahuanku dan dia tersenyum saja. Akhirnya aku bangun perlahan. Kucabut cipapku dari konek Robert. Kukerling ke konek 5 inci. Tegak kaku basah berlumuran lendirku.

    Aku merangkak di tilam empuk. Aku mengarahkan Robert memasukkan koneknya dari belakang, stail doggie. Tanpa lengah Robert bangun degan konek terpacak keras. Aku menunggu sambil membuka sedikit kangkangku bagi memudahkan konek Robert meneroka ke alur cipapku. Tiba-tiba aku terasa benda tumpul licin menempel ke muara cipapku. Pelan-pelan aku rasa kepala konek menyelam kecipapku. Enak terasa bila Robert menekan pelan.

    "Robert, masukkan separuh sahaja," pintaku.

    Aku mahu Robert menggosok zone G-spotku. Robert akur dan menggerakkan koneknya maju mundur. Bila G-spotku digaru-garu dengan kepala konek, aku terasa sungguh nikmat sekali. Hanya erangan sahaja yang keluar dari mulutku.

    Lima minit Robert bermain degan separuh panjang koneknya. Aku tak tertahan kerana geli dan nikmat. Tiba-tiba Robert menekan kuat ke pantatku. Seluruh batang 5 inci tenggelam. Robert menggerakkan punggungnya maju mundur laju sekali. Aku faham bahawa Robert akan mencapai klimaks. Badanku terhayun depan belakang mengikut gerakan maju mundur Robert. Tetekku tergantung terbuai-buai. Robert memegang pinggangku dengan kedua tangannya supaya aku tak terdorong ke depan. Bila Robert menolak koneknya ke depan, tanganya menarik pinggangku ke belakang. Badanku dan badannya rapat melekat. Robert menggerakkan punggungnya laju sekali dan akhirnya badanya bersatu melekat kecipapku. Konek Robert terasa mengeras dan memanjang dalam rongga cipap. Hujung konek menekan pangkal rahimku hingga terasa senak. Aku dah berada dipuncak nikmat, Robert juga berada di penghujung pertarungan.

    "Aaarhhh...argghhhh," kuat sekali erangan Robert. Cairan panas terpancut dalam rongga cipapku. Enam das Robert menembakkan cairan maninya. Aku terasa maninya deras mengalir memasuki rahimku. Kalau aku subur waktu itu mungkin aku akan mengandungkan anak Robert.

    Robert lemah longlai selepas memancutkan maninya. Dia terjatuh di atas belakangku. Aku tak terdaya menahan badan Robert yang berat. Aku jatuh meniarap. Lima minit Robert berada di atasku. Aku juga lemah, aku biar sahaja.

    Robert mencium dan membelai belakang leherku dengan hidungnya. Lidahnya menjalar di kulit belakangku, aku kegelian. Akhirnya aku rasa konek Robert mengecil dan memendek dalam liang cipapku. Robert mencabut koneknya dari cipapku dan terbaring terlentang di sisiku kepuasan. Aku sempat melihat koneknya yang basah berlendiran terkulai lesu di pahanya. Kepala singa bersembunyi ke dalam kulup.

    "Hebat kau Robert. Saya benar-benar puas. Dari mana kau belajar?" tanyaku penuh kehairanan.

    "Saya lihat CD porno bapa saya. Saya ambil dari lacinya bila dia bekerja," jawab Robert polos.

    "Cikgu rasa seperti kamu sudah ada pengalaman," ujarku minta penjelasan.

    "Saya kerap tidur bersama sepupu saya. Umur dia 19 tahun," Robert menjelaskan lagi.

    "Patutlah kau pandai," kataku sambil memuji.

    "Saya juga diajak tidur bersama oleh kakak ipar saya bila abang saya berurusan di luar negara. Dia ajar saya macam-macam stail."


    Tak kusangka budah remaja yang kuanggap mentah ini banyak pengalamannya. Patutlah dia membandingkan kelentitku dengan kelentit kakak iparnya. Rupanya dia pernah lihat alat sulit kakak iparnya. Tapi tak kisahlah, yang penting aku puas. Kegersanganku yang ditinggal suami telah terpenuhi. Daripada jari yang memuaskan nafsuku lebih baik batang konek yang lebih segar.
     
  20. bajad

    bajad Junior

    HARAPKAN PAGAR, PAGAR MAKAN PADI

    Petang itu aku duduk termenung di sebuah bangku di Tasik Titiwangsa. Kerja pejabatku yang bertimbun membuat aku rungsing. Boss hanya memberi masa dua hari saja bagi menyelesaikan kerja yang menjadi tanggungjawabku. Seperti biasa bulan Januari, PA yang telah setahun bertugas denganku menghantar setimbun borang Laporan Penilaian Prestasi untuk aku nilai sebagai Pegawai Penilai Pertama. Untuk memberi markah kepada kakitangan inilah yang selalu memberi masalah kepadaku.

    “En. Azman jangan lupa. Boss nak borang ni dua hari lagi.” Terngiang pesanan PAku sebelum meninggalkan bilikku.

    Sambil aku termangu-mangu tiba-tiba terlintas seorang gadis di hadapanku. Dengan tracksuit biru dia berjalan pantas di hadapanku. Aku sempat melihat wajah ayu gadis tadi dan tiba-tiba saja peristiwa 13 tahun lalu terpampang di mindaku. Paras rupa gadis itu seiras dengan wajah Kak Noor.

    Sewaktu usiaku 15 tahun aku tinggal bersama keluargaku di sebuah perkampungan terpencil. Pak Hamid yang bertugas sebagai penghulu adalah orang terbilang dan dihormati oleh semua penduduk. Pak Hamid yang kaya raya mempunyai tanah yang amat luas. Ada kebun dan ada dusun. Sungguhpun kaya Pak Hamid tidak sombong. Dialah tempat orang kampung meminta pertolongan.

    Satu hari kampung kami didatangi oleh seorang lelaki separuh baya. Aku kira umurnya lewat lima puluhan. Dia meminta pertolongan Pak Hamid agar memberi tempat berteduh kepadanya. Lelaki yang dikenali sebagai Pak Abu itu kelihatan baik orangnya. Terkenal dengan sifat penolongnya maka Pak Hamid membenarkan Pak Abu tinggal di pondok di dalam dusun buah-buahannya. Memang menjadi kebiasaan orang kampung membina pondok kecil di dusun masing-masing. Tapi pondok Pak Hamid lebih besar daripada rumah keluargaku.

    Pak Abu diamanahkan menjaga kebun dan dusun Pak Hamid. Segala keperluan Pak Abu ditanggung Pak Hamid dan bila musim buah-buahan Pak Abu diberi saguhani secukupnya.

    Pak Abu rajin orangnya. Siang hari dia menjaga dusun Pak Hamid. Segala semak samun dibersihkannya dan pokok-pokok buah-buahan dibubuh baja. Pada malam hari Pak Abu secara sukarela menjadi siak di surau kampung kami. Orang kampung menyukai Pak Abu kerana dia ringan tulang dan rajin membantu orang kampung. Di mana ada kenduri kendara, di situ ada Pak Abu yang membantu tuan rumah mengurus majlis.

    Pak Hamid ada seorang anak perempuan yang biasa aku panggil Kak Noor. Nama sebenarnya ialah Puteri Noorhidayah Elyana. Kak Noor cantik orangnya dan berumur 18 tahun. Selepas habis SPM Kak Noor tak bekerja. Dia tinggal dikampung membantu keluarganya. Aku yang berumur 15 tahun waktu itu jatuh cinta kepada Kak Noor yang cantik. Biasalah cinta sebelah pihak, cinta monyet. Aku sentiasa memerhati gerak geri Kak Noor. Aku cemburu dan sakit hati bila Kak Noor berbual dengan lelaki lain.

    Tiap kesempatan aku akan ke rumah Kak Noor. Pura-pura berkawan dengan adik Kak Noor yang sebaya denganku padahal aku ingin berdekatan dengan Kak Noor. Pernah aku mencuri seluar dalam Kak Noor yang dijemur diampaian dan aku akan melancap sambil memegang seluar dalam Kak Noor dan membayangkan wajah cantik Kak Noor.

    Pada hari-hari tertentu aku melihat Kak Noor membawa makanan dan lauk ke rumah Pak Abu. Kadang-kadang aku menemani Kak Noor ke rumah Pak Abu yang agak jauh di tengah dusun. Pak Hamid dan isterinya menyukai Pak Abu yang baik dan rajin kerana itu bila mereka memasak maka selalulah di hantar ke pondok Pak Abu yang tinggal bersendirian itu. Biasanya Kak Noor memberi langsung kepada Pak Abu atau ditinggalkan di hadapan pondok kalau Pak Abu tiada di pondok.

    Petang itu aku sedang memancing di anak sungai tak jauh dari pondok Pak Abu. Dari jauh aku melihat kelibat Kak Noor sedang menjinjing mangkuk tingkat menuju ke rumah Pak Abu. Bila sampai di pondok Kak Noor memanggil Pak Abu. Dari jauh aku melihat Pak Abu yang hanya memakai kain pelikat tanpa baju membuka pintu. Kak Noor menapak anak tangga dan naik ke atas pondok. Pintu pondok tiba-tiba tertutup. Aku hanya memerhati dan selepas beberapa minit Kak Noor tidak juga keluar. Biasanya Kak Noor tak pernah masuk ke dalam pondok.

    Aku jadi penasaran. Perlahan-lahan aku bergerak mendekati pondok Pak Abu. Aku ingin melihat apa yang berlaku dalam pondok. Dengan langkah berhati-hati aku mendekati pondok berdinding papan itu dan mencari lubang yang boleh aku intip. Kebetulan ada bahagian papan yang telah reput dan terbentuk lubang kecil.

    Aku merapatkan mataku ke lubang dinding. Tersirap darahku bila melihat Pak Abu sedang merangkul tubuh genit Kak Noor di dalam pondok. Kak Noor pula membalas pelukan itu sambil Pak Abu meramas-ramas punggung Kak Noor yang selama ini menjadi idamanku. Mereka lalu berkucupan penuh nafsu, lidah bertemu lidah berkulum-kuluman. Selepas puas melumat bibir Kak Noor, bibir Pak Abu berlabuh pula di pipi dan leher gadis pujaanku.

    Dua makhluk berlainan jenis itu berpelukan erat. Lelaki separuh baya berkulit hitam tapi masih kekar sementara gadis sunti berkulit putih bersih dan cantik. Kak Noor mengeliat kegelian bila dilayan penuh pengalaman oleh Pak Abu. Kak Noor kelihatan membalas tindakan Pak Abu. Tangannya mula meraba kain pelikat yang dipakai Pak Abu. Diraba-raba paha Pak Abu mencari tongkat sakti Pak Abu.

    Kak Noor membuka gulungan kain pelikat yang membelit pinggang Pak Abu. Bila terurai Kak Noor melondehkan kain yang dipakai Pak Abu dan pantas memegang batang pelir Pak Abu. Terpaku aku melihat batang pelir Pak Abu sungguh besar dan panjang. Kepalanya bulat dan batangnya berurat-urat. Batang pelir Pak Abu sungguh hitam seperti batang keropok lekor. Pak Abu membiarkan Kak Noor mengocok-ngocok batang pelirnya.

    Pak Abu kemudian menyelak t-shirt Kak Noor lalu meramas-ramas dan mengusap tetek Kak Noor. Tetek Kak Noor yang putih bersih itu tidaklah besar sangat tapi bentuknya amat tegang. Di puncak gunung kembar itu terdapat puting sebesar kelingking warna merah muda. Pak Abu kelihatan geram dengan gunung kembar Kak Noor lalu diuli dan dipicit-picit lembut dan penuh mesra. Tangan kasarnya melekat erat di payudara gadis pujaanku.


    Tidak puas dengan itu, Pak Abu terus menjilat dan menghisap puting tetek Kak Noor silih berganti. Kak Noor mendesis kecil lalu memaut rapat kepala Pak Abu ke dadanya. Gayanya seolah-olah menyuruh Pak Abu menelan keseluruhan teteknya. Genggaman tangan Kak Noor pada batang pelir Pak Abu semakin erat dan Kak Noor semakin melajukan tangannya melancap batang pelir Pak Abu.

    Selepas beberapa ketika, Pak Abu berhenti menghisap tetek Kak Noor dan kembali mengucup bibir kekasihku itu. Kak Noor menjadi semakin tidak keruan. Dia melepaskan tangannya dari batang pelir dan memeluk Pak Abu dengan eratnya. Agak lama juga mereka berkucupan sambil berdiri. Pak Abu melepaskan kucupan dan dengan cekapnya menarik kain yang dipakai Kak Noor. Terburai kain batik Kak Noor dan tubuh indah Kak Noor yang menjadi idamanku terdedah tanpa ditutupi seurat benang. Sungguh indah tubuh Kak Noor yang putih melepak dan bayangan hitam terlihat di celah pahanya. Bulu-bulu hitam yang jarang-jarang menghiasi taman rahsianya yang menjadi igauan aku selama ini.


    Bahagian inilah yang selalu aku bayangkan bila aku melancap. Aku membayangkan mencium tundun indah Kak Noor dan kelentit merahnya aku gigit mesra. Aroma burit Kak Noor aku sedut sepuas-puasnya. Lurah Kak Noor yang merekah merah aku jilat dan lubang sempitnya yang basah aku benamkan batang pelirku yang teramat keras. Semakin aku bayangkan Kak Noor makin laju pergerakan tanganku dan beberapa ketika kemudian terpancutlah maniku. Aku terduduk kepuasan.


    Pak Abu kembali merangkul Kak Noor. Kali ini dipeluk dari belakang. Pak Abu merapatkan tubuhnya dan menggesel-geselkan batang pelirnya pada belahan punggung Kak Noor yang tak berbungkus. Pak Abu mengeselkan batangnya turun naik sambil menjilat dan mengucup tengkuk dan telinga Kak Noor. Kak Noor mengeliat kenikmatan. Punggungnya yang sedia tonggek itu semakin menonggek kebelakang menekan batang pelir Pak Abu lebih rapat sambil membiarkan tangan Pak Abu melingkari tubuh dan meramas-ramas teteknya.


    Tangan Pak Abu kemudian turun ke pinggul Kak Noor. Pak Abu meramas-ramas sambil menariknya kebelakang membuatkan punggung Kak Noor semakin rapat menekan batang pelirnya. Pak Abu pula yang semakin tidak keruan dengan reaksi punggung Kak Noor itu. Daging punggung kenyal yang dua ketul itu menimbulkan rasa geram kepada Pak Abu. Pak Abu terus melutut dan merapatkan mukanya pada belahan punggung Kak Noor. Pak Abu terus menjulurkan lidahnya bermain-main di celah kelangkang Kak Noor. Layanan Pak Abu tersebut membuat Kak Noor seperti terbang di kayangan. Matanya terpejam dan kepalanya terdongak ke atas.

    Semakin lama Pak Abu menjilat kelangkang Kak Noor semakin membuatkan Kak Noor bertambah tidak keruan. Kedua-dua tangannya mencapai kepala Pak Abu dan terus menariknya supaya makin rapat sambil tubuhnya dilentikkan. Perlakuan Kak Noor itu menambahkan ghairah Pak Abu. Dia lalu bangun dan menghunuskan batang pelirnya kecelah lurah pada belahan punggung Kak Noor. Pak Abu menggeselkan kepala pelirnya berulang-ulang. Aksi Pak Abu pada celahan pantat Kak Noor membuatkan gadis yang menjadi pujaanku itu semakin kuat mengerang.

    Pak Abu memegang batang pelirnya dan kepala bulat diarah ke lurah Kak Noor mencari lubang yang berdenyut-denyut. Dengan terampil Pak Abu menyumbatkan batang pelirnya ke dalam lubang pantat Kak Noor. Batang pelir Pak Abu yang hitam berkilat itu semakin dalam menjunam ditelan belahan pantat Kak Noor. Kak Noor berterusan mendesah kenikmatan. Tanpa membuang masa lagi Pak Abu mulai menghayun batang pelirnya keluar masuk sambil Kak Noor yang masih berdiri itu semakin melentikkan tubuhnya memudahkan batang pelir Pak Abu keluar masuk dari belakang.

    Tiba-tiba tubuh Kak Noor mengejang dan menggigil. Kak Noor menarik tangan Pak Abu supaya memeluknya dari belakang. Pak Abu memberhentikan hayunan tetapi menekan rapat batang pelirnya supaya masuk lebih dalam sambil memeluk Kak Noor. Pak Abu sengaja menyeksa Kak Noor dengan merendam batang kerasnya berlama-lama. Suara rengekan dan erangan Kak Noor makin kuat.


    Beberapa ketika kemudian Pak Abu merangkul tubuh genit Kak Noor lalu membaringkan terlentang ke atas lantai beralas tikar mengkuang. Jaraknya hanya beberapa kaki saja dari tempatku mengintip. Bila Kak Noor membukakan pahanya aku tercium bau buritnya yang merah itu. Bau tersebut membuat batang pelirku yang telah keras sejak tadi menjadi lebih keras. Kalau boleh aku ingin menerkam dan menghidu lurah Kak Noor yang merekah basah. Aku dapat melihat dengan jelas gayanya yang sangat mengghairahkan itu.

    Sambil melutut Pak Abu celapak ke celah kelangkang Kak Noor yang sudah terkangkang luas. Jelas di hadapanku batang pelir Pak Abu terhangguk-hangguk menunggu untuk menyelam dalam lurah sempit gadis sunti. Kemudian Pak Abu memasukan kembali batang pelirnya yang masih berlendiran kedalam lubang pantat Kak Noor yang sedia basah lalu terus menghayun keluar masuk.

    Agak lama juga Pak Abu menghenjut lubang pantat Kak Noor yang terus mengerang menahan asakan berahi Pak Abu itu. Henjutan Pak Abu semakin laju dan diselang selikan dengan hentakan padu. Akhirnya sekali lagi tubuh Kak Noor menggigil dan mengejang. Dipeluknya tubuh Pak Abu rapat-rapat. Pak Abu mencium dan menjilat leher serta cuping telinga Kak Noor berkali-kali membuatkan Kak Noor bertambah kuat memeluk Pak Abu disertakan suara erangan yang kuat dan tidak terkawal. Agak lama juga tubuh Kak Noor mengejang hinggalah keadaan agak reda sedikit, barulah dia melonggarkan pelukannya.

    Pak Abu belum mengalah. Batang pelirnya didayung makin laju keluar masuk lubang burit gadis remaja yang sedang berkembang. Lelaki tua tersebut amat berbangga dapat menikmati anak gadis tok penghulu yang muda belia. Kak Noor pula seronok dilayan Pak Abu yang banyak pengalaman. Beberapa ketika kemudian terlihat badan Pak Abu menggigil dan dihentak kuat lubang burit Kak Noor. Kak Noor menjerit dan matanya terbeliak. Benih-benih Pak Abu terpancut menyirami rahim Kak Noor yang tengah subur.


    Pak Abu terkulai lemas di sebelah Kak Noor yang juga terkulai layu. Dua tubuh hitam putih itu terbaring dengan mata terpejam menikmati kelazatan berhubungan kelamin.

    Selepas peristiwa itu aku sentiasa mencari peluang mengintip pasangan kekasih itu memadu asmara. Bila aku melihat Kak Noor membawa bekalan makanan ke pondok maka secara diam-diam aku mengekori Kak Noor. Dan peristiwa semalam berulang kembali. Aku hanya memerhati dan melancap batang pelirku hingga air maniku terpancut. Pak Abu dan Kak Noor menikmati bersama sementara aku menikmatinya bersendirian.

    Tiga bulan kemudian kampung kami gempar. Sudah dua hari Pak Abu tak datang ke surau. Beberapa penduduk berkunjung ke pondok Pak Abu dan dapati pondok tersebut kosong. Dua minggu selepas itu Pak Hamid telah mengadakan kenduri kahwin Kak Noor dengan seorang pemuda di kampung kami. Dari cakap-cakap orang pemuda tersebut telah mendapat habuan tujuh ribu ringgit kerana sudi mengahwini Kak Noor. Bisik-bisik orang mengatakan pemuda tersebut dibayar untuk menjadi pak sanggup. Enam bulan kemudian Pak Hamid mendapat seorang cucu lelaki dan wajah bayi tersebut mirip wajah Pak Abu.
     

Share This Page

Something Useful About Us