Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Pembelajaran

Diskusi di 'Karangan Sendiri' dimulai oleh thenet, 17 Jun 2013.

  1. thenet

    thenet Junior

    [ Akhirnya masih bisa upload cerita lagi nih, Ini merupakan karangan gue yg sebelumnya gw posting di wordpress berhubung DS masih belum resmi, so sekarang gue pindahkan ke saluran resmi gue.. he.. he. Enjoy....]

    Dalam kegelapan ruangan kamar Indra mencoba menahan erangan nikmat penisnya yang sedang dikulum Endang,

    “hm..argh…..ah..” Indra mengerang pelan menikmati gelitik permainan lidah Endang.

    “slrum..ump..” Endang mengulum penis Indra penuh hasrat, pelan dia mainkan lidahnya diseputar penis Indra dan turun mengulum pelirnya dan memainkannya dengan jari-jarinya, lalu naik lagi dan mengulum kepala penis Indra dan menyedot serta membuat gerakan keluar masuk.

    “ah.. ah…” Indra menikmatinya sambil mengelus rambut Endang dan menekan kepala Endang kuat agar penisnya lebih masuk lagi kedalam mulut Endang hingga kepala penisnya menyentuh tenggorokan Endang.

    “ehm..uhuk..uhuk..ueek..” Endang sebenarnya merasa mual saat kepala penis Indra menekan ke dalam tenggorokkannya, tetapi melihat Indra menikmatinya, Endang membiarkannya saja. Dia ingin agar Indra menikmati persetubuhan ini dan tidak merasa terpaksa melayaninya, jikalau bisa malah dia ingin Indra ketagihan.

    Tangan Indra lalu bergerak turun meremas payudara Endang, jari-jarinya memainkan putingnya. Pelan Endang bergerak naik ke dada Indra dan dengan lidahnya dia memainkan puting Indra,

    “uh..uh..ah..,” Indra mengerang tertahan menikmatinya, tangan kanannya meremas-remas pinggul montoknya Endang, lalu mengelus kemaluan Endang yang ditumbuhi bulu-bulu halus, jari-jarinya lalu menekan kelentitnya dan jari telunjuknya masuk ke dalam vagina Endang,

    “oh…ah…ssaa..ah..” desis nikmat Endang, mereka berdua memang tidak bisa bersuara keras karena takut kedengaran anak-anak lainnya yang lagi tidur di kamar sebelah dan hanya di batasi dinding papan. kedua tangan endang lalu menahan tubuhnya dan dia beranjak makin naik lalu membisiki Indra agar mulai memasukkan penisnya, tangan Indra lalu mengarahkan pinggul Endang agar berada tepat di atas penisnya, lalu menekan masuk penisnya ke dalam vagina Endang. Dengan posisi Endang duduk diatas mulai menaik turunkan pinggulnya pelan berirama menikmati kerasnya penis Indra.

    “hm…akh…akh…” Indra menikmati jepitan dinding vagina Endang yang memberikan sensasi hangat tersendiri. kedua tangannya memainkan payudara Endang yang belum kedodoran dan berukuran lumayan besar, lalu dia condongkan kepalanya hingga mulutnya menyentuh puting payudara Endang dan menjilatinya, mengulum dan memainkan lidahnya,

    ” oh..ah..s.sss.,” tubuh Endang mengelinjang hebat menikmati permainan lidah Indra, dan menggenjot pinggulnya naik-turun makin cepat saat dia merasakan sensasi geli-geli nikmat yang makin hebat menerjang di sekitar dinding vaginanya, tak tertahankan lagi Endang lalu mengambil bajunya dan disumpalkan ke mulutnya dan menggigitnya kuat agar tidak berteriak kenikmatan. Gerakan pinggul Endang lalu mulai pelan dan berhenti, dilepaskan gigitan bajunya , lalu dia bergerak memeluk kuat Indra dan memutarkan tubuhnya hingga Indra yang berada di atas, gantian Indra yg mulai menggenjot cepat pinggulnya naik turun hingga saat dia merasa sensasi nikmat di penisnya hampir meledak keluar, dicabut penisnya keluar dari vagina Endang dan bergerak cepat menyodorkan penisnya ke dalam mulut Endang dan membiarkannya mengemut penisnya kuat hingga ledakan sensasi nikmatnya kedalam mulut Endang,

    “sss..argh.enak sekali bu Endang.” Bisik Indra mengerang tertahan menikmati sensasi emutan mulut Endang, semua spermanya ditelan, terasa oleh Indra nikmat spermanya yang dihisap-hisap Endang, sebenarnya jika dikeluarkan dalam vagina Endang juga tidak bermasalah karena Endang mandul, tetapi sensasi hisapan mulut Endang lebih nikmat, maka Indra lebih suka nembak ke dalam mulut Endang. Semula Endang hanya mencoba memberikan kenikmatan oral pertama sekali untuk Indra, tetapi Indra yang saat itu masih perjaka terkaget-kaget mendapatkan kenikmatan oral mulut Endang tidak tahan lalu tanpa aba-aba menembakan sperma perjakanya dalam mulut Endang ,semenjak itu Indra ketagihan menembakkan spermanya ke dalam mulutnya, awalnya Endang memang merasa jijik tetapi lama-kelamaan dia menikmati juga rasa sperma Indra, sekarang dia malah menjadi ketagihan sperma Indra. Sudah banyak macam permainan mereka coba, tetapi Indra paling suka style Woman On Top karena tangannya bebas terus menerus meremas-remas payudara bu Endang yang menurut Indra kenyal-kenyal nikmat dan tidak membosankan.

    Indra merebahkan badannya di samping bu Endang, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal letih, setelah nafasnya normal, Indra mengenakan pakaiannya dan beranjak keluar menuju kamar anak laki-laki. Sementara bu Endang rebah menikmati sisa sensasi orgasmenya ,dia memang ingin memberikan semua kemampuan permainan seksnya agar Indra merasa puas, dia tahu diri bahwa dirinya sudah tidak muda lagi, di usia 39 tahun dia berusaha menjaga bentuk badannya, tetapi sulit karena sebagai seorang janda yang di tinggal mati suaminya Jono sekitar 5 tahun lalu, Endang tidak punya banyak waktu ataupun harta untuk perawatan kecantikan kelas atas, suaminya dulu hanya seorang guru yang bersama dirinya mendirikan sekolah untuk anak-anak kurang mampu yang diberi nama Istana kecil , mereka berdua memang tidak memiliki anak, Walaupun Jono tahu jika Endang yang mandul, tetapi karena cintanya Jono tetap setia. Berdua mereka mengurus sekolah tersebut hingga maut menjemput Jono yang meninggal akibat tertabrak mobil seorang pemabuk. Sekolah mereka tetap berdiri dengan sumbangan dana dari beberapa warga dan pejabat pemerintahan kenalan mendiang Jono.

    Indra merupakan generasi kedua yang memberikan Endang kenikmatan seksual menggantikan Budi yang telah lulus dan saat ini sedang kuliah hukum siang hari dan bekerja sebagai seorang satpam malam hari untuk biaya kuliahnya. Budi yang digunakan oleh Endang sebagai pelampisan nafsu seksnya yang masih menggebu-gebu di usianya sekarang ini menggantikan Jono suaminya. Budi dan Indra berbeda usia 2 tahun merupakan yatim piatu yang ditampung oleh Jono dan Endang, bersama mereka ada beberapa anak-anak lain.Saat ini hanya Indra yang merupakan anak laki-laki yang paling dewasa, 17 tahun usianya sekarang dan duduk di bangku SMU kelas 2 dengan biaya dari panti asuhan, sepulang sekolah Indra ikut mengajar kelas dasar Istana kecil. Permainan Budi bersamanya juga terjadi tanpa sengaja saat suatu malam Endang menangkap basah Budi sedang mengintipnya mandi, karena ketahuan Budi menurut saja saat Endang mengajaknya ke dalam kamar dan semenjak malam itu Endang memanfaatkan keluguan Budi sebagai pengganti suaminya. Masih terbayang oleh Endang saat ini kenikmatan perjaka si Budi yang dia nikmati malam itu, awalnya Endang emosi juga saat mengetahui jika si Budi suka mengintip dia mandi, dengan cepat dia membalut badannya dengan handuk dan menjewer telinga Budi yang ketakutan saat ketangkap basah olehnya. Badan Budi yang kekar sebenarnya mudah saja melawan, tetapi dia sadar siapa dirinya dan kesalahannya dan terlihat hampir menagis, dia sangat takut di usir oleh bu Endang, panggilan Budi terhadap Endang. Budi saat itu masih duduk di bangku sekolah SMU tahu diri walaupun dia dengan mudah hidup di luar jika di usir bu Endang tetapi dia berhutang banyak terhadap keluarga Endang yang telah membesarkannya selama 5 tahun ini, Budi menunduk saja saat dia dibawa ke dalam kamar bu Endang,

    “Hei, Kamu sekarang kok berani Kurang ajar gitu!” Desis Endang menahan amarahnya, dia juga tidak berniat mempermalukan Budi dari anak-anak lainnya. Dengan memelankan suaranya tetapi tetap ketus Endang melanjutkan marahnya,

    “Kamu yang paling dewasa kok malahan memalukan begini, cemana jika kelakuanmu ini ditiru adik-adik kamu!!!”

    “Maaf bu….” Budi menjawab memelas lirih, dia lalu bersujud di depan bu Endang.

    “Ibu.. kecewa dengan kamu Budi.!” Suara Endang agak normal, melihat Budi hampir menangis,

    “Budi janji gak akan melakukannya lagi bu..”

    “Janji yah Budi, jangan kau lakukan lagi yah,” Endang mengelus kepala Budi,” Kamu ibu harap bisa berkelakuan lebih baik, karena kamu sekarang ini pengganti bapak,”

    “Iyah bu” Budi mengisut merebahkan kepalanya ke pangkuan bu Endang dan membiarkan kepalanya dibelai.

    “Jangan nakal lagi sekarang kamu sudah dewasa Budi” suara Endang makin lembut, “Sekarang kamu keluar dulu, ibu mau ganti baju dulu”.

    Budi mendongak melihat wajah bu Endang, wajah Cantik bu Endang sekarang mulai terlihat tersenyum, terlihat manis, rambut panjangnya yang terurai lurus menambah kecantikannya, hidung mancungnya dan bibirnya yang sensual sangat menggairahkan walaupun badannya sedikit lebih gemuk. Endang juga memandang wajah Budi yang ganteng mirip dengan pemeran pria sinetron favorit dia, Tubuhnya yang atletis dan kekar karena setiap hari mengangkat meja dan kursi. Budi lalu berdiri tegak memperlihatkan dadanya yg bidang membuat Endang menelan ludah, berbeda jauh dengan dada mendiang suaminya yang kurus melesak ke dalam. Budi lalu beranjak keluar Kamar meninggalkan Endang yang membayangkan Budi yang telanjang memeluknya. Endang lalu memakai dasternya, kali ini dia sengaja tidak memakai kutang dan celana dalam, seperti ada bisikan setan kepada dirinya memberanikan diri untuk menggoda Budi dan bercinta dengannya. Sudah 2 tahun lebih Endang tidak merasakan penis lelaki, selama ini dia hanya melakukan masturbasi dengan elusan tangannya sambil membayangkan sedang bercinta dengan aktor sinetron kesayangannya. Endang lalu membuka pintu kamar dan mendapati Budi sedang menunggu, lalu dengan lambaian tangan Endang mengisyaratkan Budi masuk ke kamarnya.

    “Duduk saja di sini Budi, ibu hanya ingin ngobrol sebentar dengan kamu” Endang mempersilahkan Budi duduk di sampingnya diatas ranjang.

    “Budi,.. ibu pengen nanya, kamu kenapa mengintip saya? kenapa bisa punya pikiran seperti itu?”

    “Er.. saya hanya ingin melihat saja,bu,” Budi menjawab sambil menunduk malu,” Kadang saya nonton tv melihat wanita seksi jadi penasaran ingin tahu tubuh telanjang wanita kayak gimana gituh bu”.

    “oh..gituh toh.. sudah berapa lama kamu mengintip saya?” sambil tersenyum Endang mengangkat wajah Budi agar terlihat olehnya. Melihat bu Endang tidak marah dan tersenyum Budi makin berani berterus terang,

    “Sudah lebih dari setahun ini bu, lubang di pintu sengaja Budi buat tinggi biar gak kesampaian sama adik-adik,”

    “Jadi Budi sudah gak penasaran lagi sekarang?hi..hi..” bu Endang tertawa pelan menggoda Budi.

    “Eeng… gak lagi bu,” Budi meringis malu.

    “Eh.. ada anak-anak lain selain Budi yang tahu masalah ini atau yang pernah ngintip saya?”

    “Gak ada bu,.. berani sumpah gak ada selain Budi”

    “Hm.. Budi bisa menyimpan rahasia ini?”

    “Bisa bu, akan Budi bawa mati”

    “Hush, jangan bawa-bawa kata mati…”

    “Maa..af..bu”

    “Tidak apa-apa, saya mau Budi jaga rahasia ini, dan yang selanjutnya”

    “Se..se..selanjutnya” Budi heran,” maksudnya apa yah bu”

    ” Maksud saya rahasia ini juga” Endang lalu mencium mulut Budi dan menggigit lembut bibir Budi, Sedari tadi Endang sudah gemes ingin mencium dan memeluk Indra. Indra yg awalnya kaget tetapi langsung merasa enak sekali saat berciuman dengan bu Endang, Budi juga merasakan kenyalnya payudara bu Endang yang menekan dada bidangnya. Endang melepaskan ciumannya tetapi tetap memeluk Budi dan mencium wajah Indra lalu berbisik dekat ke telinga Budi,

    “Kamu harus janji yah tidak bilang sama siapapun yah”

    Mengerti apa yang sedang terjadi Budi balas berbisik,

    ” Pasti bu, tidak akan ada yang tahu, Budi janji”

    Mendengar bisikan Budi, Endang lalu melepaskan pelukannya dan melepaskan dasternya, payudaranya yang mulus dan besar dengan putingnya yang mungil terlihat begitu menantang Budi yang terbelalak dan terpesona melihat secara dekat saat ini payudara bu Endang yang selama ini selalu dibayangi olehnya saat onani.

    “Mulai sekarang Budi harus nurut yah, jangan nakal sama saya, tidak perlu intip lagi sekarang ” bu Endang menggoda Budi dan mulai melepaskan baju budi, dan melorotkan celana Budi berikut celana dalamnya sehingga terlihat penis Budi yang besar tegak menantang, maklumlah Budi tidak pernah merasakan pelukan seorang wanita dewasa. Endang lalu berdiri dari ranjang dan menyodorkan puting payudaranya ke mulut Budi,

    “Bud.. cium dan mainkan dengan lidahmu” bisik Endang. Budi lalu mulai menciumi puting bu Endang dan memainkan dengan lidahnya sementara kedua tangannya tanpa dituntun mulai meremas-remas payudara bu Endang.

    “Oooh..argh..hmm” Endang mengerang menahan desahan kenikmatan yang baru sekarang dia rasakan kembali setelah hampir 3 tahun lalu. Endang menekan nekan kepala Budi ke payudaranya yang terasa sensasi geli-geli nikmat sekali saat lidah Budi memainkan putingnya, Tangan kiri Budi masih meremas payudara kanan bu Endang sementara mulutnya mengulum puting payudara kiri, tangan kanan Budi mengelus punggung mulus bu Endang, perlahan turun hingga pinggul dan meremas pantat montok bu Endang, lalu perlahan turun mengelus paha mulusnya. Endang merasakan elusan tubuhnya oleh tangan Budi, lalu dia memegang tangan Budi yang sedang mengelus pahanya dan menuntunnya ke selangkangannya, Endang mengarahkan jari tengah tangan Budi ke dalam vaginanya, Matanya merem merasakan jari tengah Budi sambil menggoyang pinggulnya pelan agar jari Budi semakin melesak ke dalam. Budi juga menikmati sensasi hangat dinding Vagina bu Endang di jarinya, ditekannya lebih dalam hingga dia rasakan sebuah tonjolan dalam vagina bu Endang, dielus-elus tonjolan itu dengan ujung jarinya, Budi merasakan tubuh bu Endang menggelinjang hebat saat dia elus tonjolan tersebut.

    “oh..oh..argh.. ah..enak ssseekali Bud, mainkan terus Bud” Desis nikmat Endang.

    Sesaat kemudian Endang menjauhkan diri dan kini dia bisa melihat Penis Budi yang keras tegak menantang, dia lalu jongkok dan mendekatkan wajahnya ke penis Budi. Endang melihat secara dekat penis Budi dan mencoba membayangkan berapa persen lebih besar daripada milik mendiang suaminya. Tangan Endang lalu mulai mengelus lembut penis Budi seakan-akan mudah patah jika terlalu kuat, dan memainkan kantung zakarnya, lalu dia bergerak dekat mencium kepala penis Budi dan perlahan turun menjilati batang penisnya lalu bergerak naik kembali dan mengulum kepala penisnya, Endang lalu mendorong kepalanya agar penis Budi makin masuk ke dalam mulutnya, dimain-mainkan lidahnya menikmati kepala penis Budi, dulu seluruh penis suaminya bisa masuk ke dalam mulutnya, tetapi milik Budi hanya separuh masuk, itupun sudah menyentuh dinding tenggorokannya.

    “Ooooh… oh…ummmhp ” Budi menutup mulutnya agar tidak kedengaran suara erangan nikmatnya permainan lidah bu Endang.

    Budi merasakan sensasi hangatnya dalam mulut bu Endang, seumur dia sekarang tidak pernah rasakan sensasi nikmat ini, geli-geli hangat lidah bu Endang, sebuah dorongan aneh terasa dari sekujur tubuh Budi, Budi merasakan sekujur tubuhnya merinding menahan dorongan nikmat yang semuanya bergerak menuju penisnya yg sedang diemut-emut bu Endang, tak tahan lagi Budi melepaskan semua dorongan kenikmatan itu keluar melalui penisnya,

    “argh….akh……sssssssss….” Budi mengerang dan tubuhnya bergetar menahan nikmat saat merasakan cairan spermanya keluar dari penisnya.

    Endang merasakan ada terjangan cairan dari penis Budi dalam mulutnya, karena Endang juga dalam puncak birahi tetap saja dia kulum dan mencoba merasakan sperma Budi ,tanpa peduli dihisap kuat penis Budi agar semua spermanya keluar dan berusaha menelan semua sperma Budi, karena Endang pernah mendengar mitos tentang sperma perjaka dapat membuat awet muda. Endang menyeka mulutnya dari sisa sperma Budi dan berdiri serta tersenyum pada Budi.

    “Enak Bud,.. mau lagi?”

    Budi tersenyum malu dan tidak menjawab, matanya mengikuti tubuh bu Endang yang sekarang beranjak naik ke tengah ranjang dan merebahkan dirinya terlentang dan mengangkang lebar hingga terlihat oleh Budi gundukan kemerahan di balik bulu-bulu halus di selangkangan bu Endang. Budi memberanikan diri mendekati selangkangan bu Endang, dia juga penasaran rupa dan bentuk bibir vagina bu Endang. Budi berhenti tepat depan bibir vagina bu Endang, terasa olehnya tangan bu Endang mendorong kepalanya lebih dekat ke selangkangan bu Endang dan terdengan bisikan bu Endang,

    “sst.. dicium dan dijilati memek saya Bud”

    Budi lalu mencium rekahan daging sekitar vagina bu Endang lalu lidahnya mulai menjilati bagian atas vaginanya. Tubuh bu Endang menggelinjang hebat dan mendesah nikmat, membuat Budi makin rajin memainkan lidahnya bahkan tanpa diajari tangan Budi ikut bermain membuka bibir vagina bu Endang sehingga lidah Budi bisa menjilati bagian dalam dan terus kebawah menjilati lubang anus, sementara jari-jarinya memainkan kelentit dan bibir vagina bu Endang. Endang menggunakan bantal menutup wajahnya agar desahan kenikmatannya tidak kedengaran oleh anak-anak lain, permainan mendiang suaminya dulu tidak pernah senikmat ini. Endang lalu menegakkan badannya dan menyuruh Budi berhenti dan tidur terlentang di sampingnya. Endang melihat penis Budi sudah tegak kembali, dia lalu naik ke tubuh Budi dan memegang penis Budi, Endang mengarahkan penis Budi ke vaginanya dan lalu duduk di atas, Perlahan Endang menggerakkan pinggulnya naik turun teratur dengan penis Budi tetap berada dalam vaginanya, ukuran penis Budi yang besar terasa sekali menekan dalam vaginanya, membuat Endang makin kuat mengigit bibirnya mengerang menahan nikmat. Budi yang baru pertama kali merasakan hangat vagina wanita menikmati sekali sensasi nikmat cengkraman dinding vagina bu Endang yang berdenyut teratur dan lembut, pokoknya jauh beda dengan cengkraman tangannya saat masturbasi. Kedua tangan Budi memeluk erat dan mengelus punggung, lalu meremas pantat bu Endang yang sedang menggenjot penisnya. Endang lalu menegakkan posisi tubuhnya, Budi bisa melihat payudara bu Endang yang berguncang mengikuti gerakan pinggulnya, kedua tangannya langsung meraih kedua payudara itu dan meremas-remasnya. Sambil mengenjot ,Endang memutar-mutar pinggulnya mencari posisi paling enak menikmati penis besar Budi. Endang memeremkan matanya menikmati remasan payudaranya dan sensasi keras dan hangat penis Budi yang menekan dinding vaginanya, semakin cepat dia bergoyang saat merasakan dorongan kenikmatan makin memuncak dari vaginanya menyebar ke seluruh tubuhnya,

    “Ahh….oh….” Endang memekik nikmat.

    Budi terkejut melihat bu Endang memekik dan menutup matanya, melepaskan remasan pada payudaranya, lalu dia menaikkan tubuhnya memeluk erat bu Endang sambil berbisik,

    “Ada apa bu,…sakit yah?”

    “hi..hi.. “, Endang terkikih pelan melihat keluguan Budi,” Tadi giliran saya yang keenakan”

    Endang balas memeluk erat Budi dan merebahkan diri ke ranjang sehingga sekarang Budi yang berada di atasnya, Budi lalu melanjutkan genjotan penisnya, dilumatnya bibir bu Endang dan mereka saling berpagut bibir dan memainkan lidah mereka dalam mulut dengan penuh nafsu. Budi menggenjot lebih cepat pinggulnya saat dia merasakan desiran nikmat menjalari sekujur tubuhnya menuju ke penisnya,

    “hm..ah..ah….ssss..ah…” Budi mendesah nikmat saat dia menembakkan spermanya ke dalam vagina bu Endang, dilesakkan penisnya kuat dan sedalam-dalamnya ke vagina bu Endang sambil memeluk kuat tubuh bu Endang hingga dia merasa sesak nafasnya. Budi melemaskan pelukannya dan merebahkan tubuhnya menimpa bu Endang sesaat setelah berhenti mengeluarkan spermanya, bu Endang lalu mencium kepala Budi. Budi menaikan wajahnya memandang bu Endang, Budi beringsut naik sedikit agar bisa mencium bibir bu Endang yang langsung dibalas dengan penuh birahi oleh bu Endang, mereka berciuman dengan bernafsu dan sesaat kemudian Budi merasakan penisnya kembali mengeras, sekali ini dia sudah bisa mengarahkan sendiri penisnya ke dalam lubang vagina bu Endang dan mulai mengenjot naik turun menikmati kembali cengkraman dinding vagina bu Endang. Budi yang berstamina muda dengan penuh nafsu menggenjot pinggulnya dengan posisi tubuhnya di atas tubuh bu Endang. Endang memandangi tubuh kekar Budi sambil sesekali mengelus dada Budi yang bidang dan merangkulnya agar bisa mencium wajah tampan Budi.

    “oh..ah..ah.. teruskan Budi sayang..ssssahhh…”

    Endang mendesah pelan menikmati genjotan Budi, dirasakannya penis Budi yang menghujam dalam sekali ke lubang vaginanya, memberikan sensasi yang sangat nikmat sekali di sekujur dinding vaginanya yang bergesekan dengan penis Budi. Tidak pernah dia rasakan nikmat ini semasa masih bercinta dengan Jono suaminya, membuat dia melupakan semuanya, segala aturan dan dosa telah terjadi tidak terpikir lagi olehnya, yang saat ini Endang nikmati sangat-sangatlah enak sekali membuatnya berkeinginan melakukannya lagi dan mungkin besok malam lagi, lusanya lagi dan lagi,

    “ssshh..ah.ah…ah…”, Endang mendesah nikmat sambil sesekali memutar pinggulnya agar lebih terasa gesekan penis Budi. Endang memejamkan matanya saat dia merasakan orgasmenya yang kedua, dan sekali ini lebih nikmat dengan merasakan tembakan sperma Budi dalam lubang vaginanya. Endang memeluk kuat Budi dan berbisik agar besok malam melakukannya lagi, Budi tentu saja menyanggupinya karena seumur-umur baru dia sekarang baru merasakan nikmatnya bercinta walaupun dengan seorang wanita dewasa, dan semenjak itu mereka berdua melakukannya hampir tiap malam kecuali saat bu Endang sedang menstruasi. Selama setahun lebih tanpa ketahuan anak-anak lain mereka berdua bercinta hingga saat Budi tamat SMU dan berniat pindah keluar dan bekerja agar tidak menjadi beban panti asuhan, Budi juga yang mengusulkan agar Indra menggantikannya bercinta dengan bu Endang. Semula Endang ragu-ragu, takut Indra tidak bisa memegang rahasia, tetapi Budi meyakinkannya dengan fakta Indra adalah seorang anak pendiam, malahan lebih tertutup dibandingkan dengan dirinya. Budi lalu menyusun rencana, dia membohongi Indra bahwa bu Endang selalu tidur telanjang dan susah terbangun walaupun diraba-raba. Indra yang lugu percaya saja kepada Budi hingga pada malam itu dia mengikuti Budi memasuki kamar bu Endang dan melihat tubuh bu Endang telanjang terlentang di atas ranjang, lalu Budi mengajak Indra mendekat ke ranjang dan mulai meraba-raba tubuh mulus bu Endang hingga meremas payudaranya, Indra baru pertama sekali melihat tubuh telanjang wanita dewasa menelan ludah, tak sabaran dia juga mulai menggerayangi tubuh mulus bu Endang dan meremas-remas payudara bu Endang. Endang tentu saja tahu apa yang terjadi, sesuai rencana Budi, dia pura-pura tidak sadar tubuhnya digerayangi kedua anak muda tersebut, dipicingkan matanya mengintip tingkah mereka berdua dan berusaha agar tidak tertawa oleh kekonyolan Indra yang takut-takut menyentuhnya. Budi membisiki Indra agar membuka bajunya dan membiarkan penisnya digesekkan ke bibir bu Endang,

    ” Enak sekali Indra, saya sering lakukan gak usah takut,.. hayo.. buka bajumu sekarang”

    Meskipun kecut takut ketahuan tetapi Indra menuruti dan menanggalkan semua bajunya hingga telanjang, didekatkan penisnya ke bibir bu Endang, digesek-gesekan, tiba-tiba saja tangan bu endang mencengkram penis Indra membuat Indra terpekik menahan terkejut,

    “psstt…” jari Endang mengisyaratkan agar Indra tidak bersuara, lalu dimasukkan penis Indra ke dalam mulutnya dan mulai mengemut serta memainkan lidahnya pada kepala penis Indra sambil sesekali menjilati batangnya, hm.. sama panjang dan besarnya kedua penis anak muda ini, dalam hati Endang mengguman, makan apa kedua anak laki-laki ini sampe punya penis gede dan panjang segini. Budi tersenyum pada Indra dan memberi Isyarat agar diam, lalu dia berbisik pada telinga Indra dan menyuruhnya menikmati saja dan jangan berisik. Budi yang terangsang meraba-raba bu Endang tadi tanpa sungkan menanggalkan pakaiannya , posisi bu Endang saat itu memang sedang nungging sambil mengemut penis Indra, Budi lalu bergerak ke arah pinggul bu Endang dan melihat rekahan bibir vagina bu Endang di antara kedua pantat montoknya menantang, Budi lesakkan penisnya ke dalam lubang vagina bu Endang, dengan gaya doggy style Budi mulai menggenjot bu Endang. Indra sendiri sudah tidak peduli pada Budi, dia meremkan matanya menikmati emutan bu Endang pada penisnya , Dia memang sering masturbasi saat mandi, tetapi kenikmatan ini sangat berbeda . Indra merasakan dorongan nikmat pada penisnya, sepertinya dia hampir ejakulasi, dia mencoba menahannya, tetapi tak sanggup sehingga spermanya muncrat dalam mulut bu Endang, terasa oleh Indra penisnya dihisap-hisap oleh bu Endang, sepertinya semua spermanya tertelan bu Endang, Indra merasa nikmat ejakulasinya lebih lama dalam hisapan mulut bu Endang dibandingkan saat dia bermasturbasi. endang memang tidak mau menyia-nyiakan sperma perjaka Indra. Endang tetap mengulum penis Indra agar mengeras kembali, tidak butuh waktu lama, dengan stamina mudanya, penis Indra kembali mengeras,Endang lalu berbisik,

    “Budi.. kamu tukaran posisi sama Indra”

    Budi berhenti dan mengeluarkan penisnya, dia lalu memberi isyarat lambaian tangan agar Indra berpindah posisi ke arahnya, dengan menunjuk dan berbisik Budi memberitahu posisi lobang Vagina, Indra lalu melesakkan penisnya masuk ke lubang vagina Bu Endang.

    “Oh..oh…ah..ssssahh..” Endang mendesis nikmat saat dia rasakan genjotan penis Indra.

    Indra membungkuk sedikit ke depan agar kedua tangannya dapat meraih payudara bu Endang yang berguncang hebat setiap dia menghujamkan penisnya ke dalam vagina, diremas-remas dan dimain-mainkan puting payudara bu Endang. Budi lalu berdiri di samping ranjang dan menyodorkan penisnya ke dalam mulut bu Endang, dibelai-belai kepala bu Endang dan mencengkram rambut bu Endang sehingga dia yang mengontrol gerakan kepala bu Endang, Budi sudah tidak peduli lagi karena dia sekarang sudah terbiasa menciptakan kenikmatan pada dirinya, dia tidak perduli apakah bu Endang merasa nikmat atau kesakitan yang penting dirinya enak, yah semakin dia dewasa, Ego Budi mulai ikut tumbuh dalam dirinya. kedua tangan Budi menekan kuat kepala bu Endang ke arahnya sehingga seluruh penisnya melesak masuk ke dalam mulut bu Endang, Budi merasakan kepala penisnya sepertinya melesak masuk ke tenggorokkan bu endang, terasa olehnya jepitan kerongkongan bu Endang yang sepertinya lebih nikmat daripada jepitan vaginanya, Budi lalu memaju-mundurkan pinggulnya membuat gerakan menggenjot penisnya ke kerongkongan bu Endang, Budi merasakan ujung penisnya enak sekali. Endang yang kaget dengan gerakan Budi mencoba mendorong Budi agar kepalanya bisa menjauh dan mengeluarkan penis Budi dari tenggorokannya, tetapi cengkraman Budi sangat kuat dan ukuran penis Budi yang besar memenuhi mulutnya sehingga membuatnya susah untuk bicara, Endang menyerah dan membiarkan saja perbuatan Budi sambil sesekali menahan mual di tenggorokannya saat kepala penis Budi melesak terlalu dalam, Endang lebih fokus pada kenikmatan penis Indra dalam Lubang vaginanya, remasan tangan Indra pada payudaranya, dia rasakan penis Indra melesak begitu dalam dan terasa olehnya gesekan kepala penis Indra pada bagian sensitifnya dalam vagina sehingga nikmat sekali setiap genjotan Indra. Budi menarik agak keluar kepala penisnya dan menabrak-nabrakan kepala penisnya ke bagian dalam pipi kiri dan kanan mulut bu Endang, tanpa melepaskan cengkramannya Budi tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada bu Endang untuk memuntahkan penisnya keluar, kembali dia lesakkan masuk dan sesekali menggoyang pinggulnya membuat gerakan memutar penisnya dalam mulut bu Endang, Budi akhirnya merasakan orgasme dan penisnya hampir ejakulasi , dengan mengatur kepala bu Endang agar penisnya berada pada posisi tengah mulut bu Endang , Budi menembakkan spermanya dalam mulut bu Endang, Budi membelai belai kepala bu Endang saat dia ejakulasi dan bu Endang sepertinya mengerti isyarat ituh bahwa dia wajib menghisap penis Budi dan menelan spermanya.

    “oh..ah…uenak.. tenant.. bu .. Endang…ah…”, Budi mendesah.

    Sementara Indra di belakang juga menembakkan spermanya dalam vagina bu Endang, bedanya Indra di barengi suara melonglong nikmat saat dia orgasme. Endang yang kesal dengan permainan Budi menahan diri dan pura-pura tersenyum dan membisiki Budi agar keluar kamar karena dirinya belum orgasme. Budi menurut dan keluar dari kamar meninggalkan bu Endang dengan Indra.

    “Psst…Indra masih mau lagi..” suara bu Endang pelan hampir berbisik.

    “he.. eh. lagi bu..” jawab Indra tersipu malu.

    Endang lalu memeluk Indra dan menciumi mulutnya, ciuman mereka makin menggebu dan ciuman Endang mulai berpindah ke dagu lalu leher dan turun memainkan puting Indra.

    “Hm.. geli.. bu Endang…” suara Indra lirih.

    “hi…hi.. geli-geli enakkan..Dra..”

    “He.. eh…ah.. sssh…” Indra mendesis menahan geli-geli nikmat permainan lidah bu Endang pada putingnya.

    Endang lalu turun menjilati pusar Indra dan turun lagi hingga penisnya, tetapi dia tidak langsung mengulum penis Indra tetapi menjilati selangkangannya dan kantung zakar hingga lubang anusnya, membuat Indra menggelinjang dan mengerang menahan kenikmatan permainannya. Endang kemudian menjilati batang penis Indra yang mulai mengeras dan bergerak perlahan ke atas sampai kepala penis Indra dan mencium lembut, Endang membuka lebar mulutnya dan mulai melahap penis Indra, Endang mengemut dan menghisap serta memainkan lidahnya pada kepala penis Indra membuat Indra bergeliat menahan nikmat hangatnya bagian dalam mulut Endang. Endang mencoba memasukkan semua bagian penis Indra ke dalam mulutnya, terasa olehnya kepala penis Indra melesak masuk sedikit ke tenggorokannya, Endang merasakan gelinjang hebat tubuh Indra saat kepala penisnya menyentuh tenggorokannya, sepertinya sangat nikmat bagi Indra, hm ….Endang mengguman dalam hati sepertinya dia harus membiasakan diri dengan permainan tenggorokan, nikmat sekali mungkin bagi laki-laki walupun terasa mual bagi dirinya. Pelan-pelan Endang mulai merasa terbiasa dengan masuknya kepala penis dalam tenggorokannya, yang penting Indra puas dan bisa ketagihan, Endang menghentikan permainan oralnya dan bergerak menduduki Indra yang sedang terlentang, diarahkan penis Indra pada vaginanya dan Endang lalu menggenjot serta memutar-mutar pinggulnya mencoba menikmati penis Indra dalam berbagai arah, dan berhenti saat dia rasakan kepala penis Indra menyentuh bagian sensitif vaginanya, hm.. nikmat sekali sentuhan tersebut, Endang mengenang saat bercinta dengan mendiang suaminya sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan penis suaminya pada bagian sensitif vaginanya, hanya dengan Budi dan Indra dia rasakan sensasi ini, dulu orgasme hanya dia peroleh saat masturbasi, tidak pernah dia rasakan sama sekali saat bercinta dengan suaminya semenjak mereka menikah. Endang sekarang maklum apapun permainan Indra harus dia penuhi walaupun kadang sedikit kasar, yang penting dia bisa orgasme saat mereka bercinta, karena semenjak bercinta dengan Budi, orgasme Endang sering terjadi lebih dari sekali saat bercinta, kadang bisa sampai tiga hingga empat kali jika dia baru selesai puasa penis Budi akibat datang bulan, dan setiap kali makin nikmat dan panjang orgasmenya.

    “Oh..ah..sssh….ah..” Endang mendesis menikmati orgasmenya yang kedua, tadi dia membohongi Budi bahwa dirinya belum orgasme, bagaimana bisa mendesah nikmat jika mulutnya dipenuhi oleh penis Budi. Endang melanjutkan genjotannya hingga terasa olehnya cairan sperma Indra menembak dalam vaginanya. Semenjak hari itu Indra resmi menempati posisi Budi sampai sekarang ini.

    Endang tersenyum mengingat petualangan seksnya saat threesome bersama Budi dan Indra malam tersebut, dia lalu tertidur dengan wajah puas walaupun malam ini hanya orgasme sekali.
     
    piamAja, co_casanova and Candiwalang like this.
  2. bimakendal

    bimakendal Junior

    Mantap alur ceritanya nyangkut nih,....lanjut bro
     
  3. thenet

    thenet Junior

    Mo lanjut kemana lagi bro...:))..tq sudah mampir...:-bd
     
  4. co_casanova

    co_casanova Senior

    pembukaan ceritanya sangar om tidak pake basa basi langsung adegan permainan
    hahaha
     
  5. thenet

    thenet Junior

    :)):)) belajar nulis gaya Flash Back...
     
  6. co_casanova

    co_casanova Senior

    hahahaha
    pembukaannya kayak di film2 XX omm
    kayaknya pas nulis lagi sange tuh
    :p:p
     
  7. thenet

    thenet Junior

    Huss:mad:...biasanya abis nulis baru sange,...cuman pengen yg baca bisa ikut terhanyut kayak naik tongkang oleng gituh...:)):))
     
  8. co_casanova

    co_casanova Senior

    paling habis baca langsung coli omm
    hahaha
     
  9. baddung

    baddung Newbie

    jd dapet id buat sekolah model gitu khusus. cewek..
     
  10. piamAja

    piamAja [DS] Super Sabun

    nakal juga tuh ya bu endang :-?
     

Share This Page

Something Useful About Us