Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Ringkasan Serat Centhini 12 Jilid

Diskusi di 'Misteri Dunia Lain' dimulai oleh joe purwono, 26 Dec 2010.

  1. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    Ringkasan Serat Centhini Pendahuluan
    Serat Centhini adalah buku kesusastraan Jawa yang aslinya ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat
    (Note: tembang Macapat adalah sejumlah tembang Jawa dengan irama tertentu, jumlah suku kata tertentu, akhir kata tertentu dalam satu bait tembang dan sangat popular untuk refleksi peristiwa tertentu menggunakan tembang yang pas dengan suasana yang ingin ditimbulkan, sejumlah nama tembang Macapat: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Pocung, Megatruh, Jurumedung, Wirangrong, Balabak, Girisa) dan selesai ditulis pada tahun tahun 1814.
    Buku aslinya berjudul Serat Suluk Tambangraras dan ditulis berkat prakasa KGPA Anom Amengkunagoro III putera Pakubuwono IV, raja Surakarta (1788 – 1820), yang kemudian menggantikan raja sebagai Pakubuwono V (1820 – 1823). Sedangkan penulisan dan penyusunan dilaksanakan oleh:
    1. Ki Ng. Ranggasutrasna, pujangga kerajaan
    2. R. Ng. Yasadipura II, pujangga kerajaan
    3. R. Ng. Sastradipura, juru tulis kerajaan
    4. Pangeran Jungut Manduraja, pejabat kerajaan dari Klaten
    5. Kyai Kasan Besari, Ulama Agung dari Panaraga
    6. Kyai Mohammad, Ulama Agung kraton Surakarta.
    Buku aslinya saat ini masih ada di Sanapustaka di kraton Surakarta. Ada beberapa salinannya di Reksapustaka Mangkunegaran, Paheman Radya-Pustaka Sriwedari, Museum Sana Budaya di Yogyakarta dan Museum Gajah di Jakarta dan mungkin juga di tempat-tempat lain.
    Buku ini terdiri dari 12 (duabelas) jilid dengan seluruhnya berjumlah 3500 halaman. Berisi semacam “Ensiklopedia Kebudayaan Jawa” karena berisi hampir semua tata-cara, adat istiadat, legenda, cerita dan ilmu-ilmu lahir bathin yang beredar dikalangan masyarakat Jawa pada periode abad ke 16-17 dan masih banyak yang hidup dan lestari sampai dengan saat ini.
    Sumber tulisan saya ini adalah Serat Centhini yang sudah ditranskripsi dari tulisan Jawa menjadi tulisan Latin tapi masih menggunakan bahasa Jawa.Transkripsi ini juga terdiri dari 12 (dua belas) jilid. Transkripsi dari tulisan Jawa menjadi tulisan Latin dilakukan oleh Kamajaya, Ketua Yayasan Centhini, Yogyakarta, diterbitkan oleh Yayasan Centhini, 1991. Referensi juga diambil dari buku Pustaka Centhini – Ichtisar Seluruh Isinya karangan Ki Sumidi Adisasmita, Penerbit UP Indonesia, Yogyakarta, tahun 1975.
    Sampai saat ini belum ada terjemahan Serat Centhini ke bahasa Indonesia. Pernah dicoba oleh Yayasan Centini, tapi terhenti hanya sampai jilid 1. Kemungkinan ada kesulitan pembiayaan, mungkin juga faktor waktu dan tingkat kesulitan tersendiri.
    Kandungan isi dari Serat Centhini adalah sangat luar biasa yang mencakup banyak sisi dari kebudayaan Jawa. Pokok ceritanya adalah kisah pelarian dari dua putra, dan satu putri dari Sunan Giri III (Giri Parapen) ketika ditaklukkan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1636. Putra pertamanya bernama Jayengresmi diiringi dua santri Gathak dan Gathuk. Berpisah dengan dua adiknya, Jayengsari dan Niken Rancangkapti, diiringi oleh santri Buras.
    Kisah perjalanan melarikan diri dari kejaran prajurit Sultan Agung ini yang direkam dalam cerita perjalanan dengan menemukan banyak peristiwa pertemuan dengan berbagai tokoh di seluruh Jawa yang menceritakan berbagai cerita, legenda, adat istiadat dan berbagai ilmu lahir dan bathin.
    Kisah ini juga diisi dengan kisah perjalanan Mas Cebolang seorang santri yang nantinya akan menjadi suami Niken Rancangkapti dan berganti nama jadi Sech Agungrimang. Sebagai anak-anak Sunan Giri Parapen yang adalah tokoh terkemuka penyebaran agama Islam di Jawa, sudah barang tentu kisah perjalanannya juga dalam rangka mencari kesempurnaan hidup sebagai seorang Muslim. Harus diingat bahwa Islam yang berkembang di Jawa adalah Islam Jawa yang sudah melalui proses sinkretisasi yang lebih cenderung pada tasauf dalam pencarian hakekat untuk pencapain makrifat.
    Serat Centhini mendapat pujian dari Denys Lombart – orientalis asal Perancis – pengarang buku Le Carrefour Javanais dalam bahasa Perancis yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Nusa Jawa Silang Budaya, mengatakan dalam bukunya sebagai berikut:
    Walaupun teks itu sering dianggap salah satu karya agung kesusastraan Jawa, baru sebagian saja yang sudah di terbitkan dan meskipun Serat Centhini mungkin bisa merupakan salah satu karya agung kesusatran dunia, untuk sementara yang terdapat hanyalah sebuah ichtisar pendek dalam bahasa Belanda dan satu lagi dalam bahasa Indonesia.
    Salah satu versi yang masih tersimpan, tidak kurang dari 722 pupuh panjangnya, terbagai atas dua belas bagian besar (Note: duabelas jilid). Setiap pupuh terdiri dari bait-bait yang jumlahnya tidak tetap, antara 20 dan 70 buah, semuanya disusun menurut tembang tertentu (Note: Macapat), yang memberikan kepada pupuh itu baik konsistensinya maupun warna nadanya. Tergantung dari tembangnya, bait dapat terdiri dari 4 sampai 9 larik, dan setiap larik mengandung sejumlah tertentu kaki matra dan rima tertentu. Belum ada yang menghitung jumlah bait dalam Serat Centhini, tetapi seperti diihat, jika setiap pupuh mengandung rata-rata 40 bait dan setiap bait 7 larik, maka diperoleh 200.000 larik lebih. Hendaknya diingat bahwa wiracerita-wiracerita Yunani karangan Homeros: Iliad dan Odyssey masing-masing hanya mengandung 15,537 dan 12.363 larik.
    Komentar tersebut diatas menandakan bahwa Serat Centhini adalah salah satu hasil kesusastraan Jawa yang tak ternilai harganya. Bisa diakui sebagai salah satu kesusastraan klasik dunia. Tapi sangat sungguh ironis, buku yang menarik para budayawan dunia untuk mendalaminya, tidak begitu dikenal oleh bangsanya sendiri. Ringkasan yang akan saya buat setiap jilid satu sesi (artikel) ini adalah salah satu usaha untuk memperkenalkan Serat Centhini kepada masyarakat bangsa Indonesia.


    masih ada sambungannya nich bila ada yg minta dilanjutkan akan dilanjutkan......
    rich___man likes this.
  2. blue kristal

    blue kristal Junior

    Joined:
    15 Aug 2008
    Pesan:
    92
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    cepet disambung ya
  3. metoo

    metoo Junior

    Joined:
    19 Aug 2010
    Pesan:
    10
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    inggih pakdhe ..mbok dipun terasaken....
  4. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    Serat Centhini Jilid 01


    1. Badad Giri (1487 – 1636)
    Seh Wali Lanang dari Jeddah tiba di pelabuhan Gresik pada masa kerajaan Majapahit, menikahdengan Putri dari kerajaan Belambangan yang berhasil disembuhkan ketika menderita sakit.
    Karena Raja Belambangan tidak mau masuk Islam, Seh Wali Lanang meninggalkan Belambangan pergi ke Malaka. Istrinya sudah mengandung kemudian melahirkan bayi laki-laki. Bayi dimasukkan ke-kendaga dibuang ke laut, ditemukan Nyi Semboja yang sedang berlayar, diangkat anak diberi nama Santri Giri.
    Santri Giri belajar agama Islam kepada Sunan Ngampel, berteman baik dengan Bonang, anak Sunan Ngampel. Setelah dewasa Santri Giri dan Santri Bonang mau pergi naik ****, mampir di Malaka ketemu Seh Wali Lanang, disuruh pulang lagi. Santri Giri diberi nama Prabu Setmata dan Santri Bonang diberi nama Prabu Anyakrawati. Kemudian Prabu Setmata menjadi raja di Giri.
    Ketika Sunan Giri jadi raja di Giri, Majapahit menyerang Giri karena tidak senang adanya kerajaan Islam. Sunan Giri sedang menulis dengan kalam, kalam tersebut dilempar berubah jadi tombak yang mengamuk ke barisan tentara Majapahit yang lari kocar-kacir. Tombak diberi nama Kalam Munyeng.
    Sunan Giri meninggal digantikan anaknya Sunan Giri Kedaton, kemudian digantikan cucunya Sunan Giri Parapen. Pada masa Sunan Giri Parapen, Majapahit menyerang lagi dan berhasil menduduki istana tapi saat mau merusak makam Sunan Giri, dari dalam kubur muncul beribu-ribu kumbang yang menyerang tentara Majapahit yang lari kocar-kacir.
    Giri ditaklukkan Sultan Agung dari Mataram tahun 1636 karena Sultan Agung tidak mau ada dua raja di tanah Jawa. Sunan Giri Parapen ditawan dan dibawa ke Mataram. Sedangkan anaknya: Jayengresmi, Jayengrana dan Niken Rangcangkapti melarikan diri.
    2. Perjalanan Jayengresmi diikuti santri Gathak dan Gathuk.
    Rute perjalanan: bekas istana Majapahit, candi Brawu, candi Bajangratu, candi Panataran di Blitar, arca Ki Gaprang di Gaprang, gong Kyai Pradah di hutan Lodhaya, ketemu Ki Carita di Pakel, mata air Sumberbekti di Tuban, sendang Sugihwaras di hutan Bago – Bojonegara, tulang-tulag besar di gunung Phandan, gunung Gambiralaya, ketemu Ki Pandang di Phandangan, sumber api alam di Dhander, sumber minyaktanah di Dandhangngilo, ketemu Ki Jatipitutur di Kesanga, sumber air asin di Kuwu, ketemu Kyai Pariwara di Sela, lihat gunung Merapi di Gubug ketemu Dathuk Bhani, bekas istana Prawata ketemu Ki Darmajati, Mesjid Agung Demak, Jepara, gunung Muria ziarah ke makam Sunan Muria ketemu Buyut Sidhasedya, ketemu Wasi Kawiswara di Panegaran – Pekalongan, gunung Slamet ketemu Seh Sekardelima, gunung Siwal ketemu Wasi Narwita, gunung Cereme ketemu Resi Singunkara, gunung Tampomas ketemu Seh Trenggana, gunung Mandhalawangi ketemu Ajar Suganda, Bogor ketemu Ki Wargapati, membangun pertapaan di gunung Salak. Diangkat anak dan dibawa ke Gunung Karang, Pandeglang, Banten oleh Ki Ageng Karang yang bernama Seh Ibrahim.
    Sedangkan cerita, legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang bijak yang menyepi di pedalaman adalah:
    Cerita/Legenda: Ular Jaka Nginglung asal muasal air asin Kuwu; Ki Ageng Sela menangkap petir dan pepalinya.
    Adat Istiadat: Arti kicau burung dandang & prenjak; Perhitungan hari baik untuk berbagai keperluan; Ukuran pembuatan keris tombak dan bagian-bagian rumah; Penanggalan Jawa menggunakan 30 Wuku; Candrasangkala.
    Pengetahuan Spirituil: Serat Nitisruti; Suluk Wali Sanga – cerita tentang Wali Sanga; Waringin Sungsang; Suluk Tapa Lima; Suluk Langit Sapta; Puji Dina; Tanda-tanda kiamat.
    3. Perjalanan Jayengrana dan Niken Rangcangkapti diikuti santri Buras.
    Rute perjalanan: pesantren Ki Amat Sungeb di Sidacerma, sendang Pasuruan, telaga Gati, Banyubiru, air terjun Baung di gunung Tengger, candi Singasari, sumber Sanggariti di Sisir, candi Tumpang, candi Kidal, Tosari ketemu Buyut Sudarga lihat kawah Bromo dan lautan pasir, ketemu Resi Satmaka di Ngadisari, Klakah ketemu Umbul Sadyana malam hari ke telaga Dago lihat api gunung Lamongan, Kandhangan – Lumajang ketemu Seh Amongbudi, Argapura ketemu Seh Wadat, gunung Rawun ketemu Retna Tan Timbangsih, Nglicin – Banyuwangi lihat candi Selacendhani ketemu Ki Menak Luhung, ketemu Ki Hartati saudagar dari Pekalongan, diangkat anak oleh Ki Hartati dibawa naik perahu ke Pekalongan, diterima dengan senang hati oleh Nyi Hartati, Nyi Hartati meninggal dunia, seribu harinya disusul Ki Hartati juga meninggal, meninggalkan Pekalongan pergi ke gunung Prahu ketemu Ki Gunawan diajak ke pegunungan Dieng melihat sumur Jalathunda, kawah Candradimuka, candi-candi di Dieng, Sokayasa – Banyumas dikaki gunung Bisma, perjalanan diantar oleh Ki Gunawan ketemu Seh Akhadiyat lalu keduanya diangkat anak.
    Sedangkan cerita, legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang sempat dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang bijak yang menyepi di pedalaman adalah:
    Cerita/Legenda: Cerita tentang Sri – Sadana, asal mula padi; Sifat-sifat tokoh wayang purwo / Mahabarata: Duryudana, Sengkuni, Durna Pendowo Lima, Sri Kresna, Istri-istri Arjuna: Sumbadra, Ulupi, Manuhara, Gandawati, Srikandi.
    Adat Istiadat: Cara tradisionil mengobati orang sakit dan ibu setelah melahirkan anak; Arti impian; Perhitungan selamatan orang meninggal.
    Pengetahuan Spirituil: Penjelasan agama Hindu – Sambo, Brama, Indra, Wisnu, Bayu dan Kala; Syariat agama Nabi: Adam, Sis, Nuh, Ibrahim, Daud, Musa, Isa, Nabi penutup Nabi Muhammad s.a.w.; Uraian tentang wudlu dan salat; Penjelasan tentang Dzat, Sifat, Nama, dan Keberadaan Allah menggunakan sifat dua puluh; Kadis Markum Baslam tentang empat nafsu: Luamah, Amarah, Supiyah, dan Mutmainah.
  5. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    Serat Centhini Jilid 02

    Serat Centhini Jilid-2 berisi 87 pupuh dari pupuh 88 s/d 174, berisi perjalanan Mas Cebolang (diikuti santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti) anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Ahkadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.
    Rute perjalanan: meninggalkan Sokayasa, sampai di makam Dhukuh ketemu Ki Demang Srana lalu diantar ke makam Seh Jambukarang di gunung Lawet, pancuran Surawana yang bermata air di Muncar ketemu Ki Dati, bendungan Pancasan di Banyumas, naik rakit sungai Serayu, berhenti di Arjabinangun ketemu Ajar Naraddhi, lihat gua Limusbuntu, lihat gua Selaphetak yang berbentuk pendapa rumah, sampai di Segara Anakan, naik perahu menuju Karangbolong, di Ujung Alang gunung Ciwiring bisa kelihatan pulau Bandhung tempat bunga Wijayakusuma yang dijaga burung Bayan, di Jumprit lihat mata air sungai Praga di gunung Sindara ketemu Ki Gupita,
    gunung Margawati di Kedu ketemu Ki Lehdaswaninda, gunung Sumbing di sendang Bedhaya ketemu dhanyang Ki Candhikyuda dan istrinya Nyi Ratamsari, lihat mata air Pikatan, sampai di Ambarawa di gunung Jambu siarah makam Prabu Brawijaya dari Majapahit, suasana jadi gelap karena hujan abu dari letusan gunung Merapi, berjalan dalam gelap sampai di gunung Tidhar ketemu Seh Wakidiyat, lihat candi Borobudur, lihat candi Mendut, sampai di Mataram pada masa Sultan Agung, tinggal di Kauman tempatnya modin istana Ki Amat Tengara, siarah makam Panembahan Senapati di belakang Mesjid Agung, ketemu dengan banyak orang dengan berbagai keahlian: Ki Amongtrustho ahli ulah asmara, Empu Ki Anom ahli pembuatan keris, Ki Bawaraga ahli gending dan gamelan, Ki Madiaswa ahli tentang hal-ihwal kuda, Ki Pujangkara ahli perhitungan hari dan berbagai pertanda alam, jagal Nyai Cundhamundhing ahli hal-ihwal nama daging bagian-bagian dari kerbau, Nyai Padmasastra ahli batik tulis, Nyai Sriyatna ahli sajen untuk pengantin, Nyai Lurah Kraton ahli ha-ihwal pengantin, modin Ki Goniyah juga ahli hal-ihwal pengantin, Kyai Amat Kategan memberi penjelasan beberapa hal tentang agama Islam, Ki Rasiku jurukunci makam Glagaharum di Demak menjelaskan cerita Sunan Kalijaga ketemu Puntadewa, Ki Harjana santri dari Jatisari ahli perhitungan hari, Ki Amat Setama cerita tentang Raja Istambul, Ki Wirengsuwigna ahli berbagai tarian, Ki Demang Basman ahli perhitungan pembuatan rumah, Kyai Sumbaga ahli pembuatan wayang kulit, Ki Toha menjelaskan tentang mandi Rebo-an, Ki Sopana ahli huruf-huruf kuno, Nyai Atikah bercerita tentang Ni Kasanah yang berbakti sama suami , Ki Narataka jurukunci meriam pusaka kraton, Ki Candhilaras juru dongeng dan tembang..
    Pada Jilid 2 ini Serat Centhini lebih banyak mencerikan Mas Cebolang ketemu banyak orang di sekitar istana Mataram bercerita tentang legenda, adat istiadat dan ilmu yang mereka punyai sesuai keahlian mereka masing-masing.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut adalah:
    Cerita/Legenda: Sri Kresna dengan bunga Wijayakusuma; Permaisuri Raja Bagdad dan perdana mentrinya; Sunan Kalijaga ketemu Puntadewa raja Amarta; Raja Istambul yang hafal Al-Qur’an; Cerita tentang asal muasal bahasa dan huruf tatkala membangun menara Bibel; Ni Kasanah yang berbakti sama suaminya Suhul; Siti Aklimah yang dituduh serong pada jaman Rasul; Nabi Sulaiman mencoba kesetiaan cinta kasih antara Dara Murtasyah dengan Sayid Ngarip; Cerita wayang lakon Partadewa, Patih Satama dan Nyai Satami yang berubah jadi meriam di kerajaan Galuh;
    Adat Istiadat: Perilaku asmara enam macam; Aturan berkenan dengan nikah, cerai, idah, rujuk, rukun, khuluk, dan maskawin; Keterangan tentang delapan belas wanita yang tidak boleh diperistri; Uraian tentang muhrim wali; Uraian tentang cerai tanpa talak, rapak, syarat nikah, doa nikah, tata-tertib nikah; Perihal ulah asmara, pembuka pembangkit rasa maupun penahan rasa; Hal-ihwal nama dan macam-macam bagian daging kerbau; Hal ihwal keris, bentuk keris, bagian keris, macam ragam bentuk keris lurus dan keris berluk, tentang keris berluk: 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29, bentuk mata tombak lurus dan berluk; Seluk beluk gending dan gamelan; Hal ihwal berkenaan dengan kuda, cara mengendarai kuda, mencemeti kuda, menjinakkan kuda, bentuk dan warna kulit berkaitan dengan watak kuda; Perhitungan hari memperbaikai rumah, hari pasaran bayi, arti tanda-tanda gejala alam seperti gerhana, lintang kemukus, gempa bumi; Hal-ihwal dengan berbagai kain batik tulis, lukisan kain yang menjadi pantangan dan pantangan-pantangan dalam membuat batik lukis; Uraian sajian buat acara pengantin; Tata cara pengantin, lamaran, peningset, bubak kawah (bermenantu anak sulung), tumplak punjen (bermenantu anak bungsu), midodareni, upacara temu pengantin, kelengkapan pakaian pengantin; Perhitungan menoreh orang sakit; Macam ragam tari wireng dan asal mula tari bedhaya-serimpi; Bermacam-macam wayang (wayang gedhog, wayang klitik, wayang golek, wayang topeng), Mandi Rebo-wekasan (hari Rebo terakhir dalam bulan Sapar); Ruwatan Murwakala.
    Pengetahuan Spirituil: Penjelasan tentang turunnya Lailul-kadar; Kisah Nabi Kidir dan Nabi Musa; Pahala orang yang hafal Al-Qur’an apalagi kalau mengerti artinya; Penjelasan tentang puasa sunah.
  6. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    Ringkasan Serat Centhini 12 Jilid bab 03-07

    Serat Centhini Jilid 03

    Serat Centhini Jilid-3 berisi 82 pupuh dari pupuh 175 s/d 256, masih meneruskan perjalanan Mas Cebolang yang diikuti empat santri: Palakarti, Kartipala, Saloka, Nurwiti. Mas Cebolang adalah anak Seh Akadiyat dari Sokayasa, Banyumas. Seh Akadiyat pada akhir Jilid-1 diceritakan mengangkat anak Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.
    Rute perjalanan: masih di ibukota Mataram ketemu: Ki Cendhanilaras berbicara soal pasugihan (ilmu hitam menjadi kaya), Tumenggung Sujanapura diberi wejangan Sastra Jendra Hayuningrat, Ki Ajar Sutikna berbicara hari baik untuk beberapa keperluan, bersama-sama Ki Ajar Kepurun meninggalkan ibukota Mataram bermalam di desa Kepurun berbicara tentang hal-ihwal wanita, ketemu Lurah Harsana lihat candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Roro Jonggrang dan bercerita legenda berkenaan dengan candi tersebut, sampai di desa Kajoran ketemu Ki Ngabdulmartaka bercerita tentang Serat Suluk Hartati, diajak oleh Ki Ngabdulmartaka ketemu Panembahan Rama bercerita tentang ilmu kasunyatan tentang asal usul kehidupan, liwat hutan nginep di planggrongan (rumah diatas pohon kayu) kepunyaan Ki Wreksadikara berbicara soal kayu dan rumah, desa Tembayat ketemu Modin Ki Sahabodin bercerita tentang Sunan Gede Pandhanaran dan Seh Domba, Panaraga ketemu Ki Wanakara berbicara tentang jamu untuk berbagai penyakit dan ura-ura (lagu) sifat-sifat manusia yang kurang baik, Pajang ketemu Ki Mastuti bercerita silsilah raja Pajang s/d Sultan Agung di Mataram, diantar oleh Ki Mastuti ke makam Laweyan, di mesjid Laweyan ketemu Ki Ngabdul Antyanta dan Ki Sali bercerita tentang ramalan Jayabaya..
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut diatas adalah:
    Cerita/Legenda: Ki Harda yang cari pesugihan (ilmu hitam cari kekayaan) di hutan Roban; Serat Lokapala serita asal usul Rahwana (Ramayana); Cerita penyebaran agama Islam di Jawa dari masa Sunan Ngampel s/d Sultan Agung; Cerita Prabu Dewanata di Pengging; Cerita Prabu Dipanata di Salembi melawan Prabu Karungkala di Prambanan, Cerita Bandung Bandawasa asal mula Candi Sewu dan Candi Roro Jonggrang; Cerita Ke Gedhe Pandanaran dan Seh Domba; Silsilah Sultan Pajang s/d Sultan Agung di Mataram; Cerita tentang Ramalan Jayabaya.
    Adat Istiadat: Sifat-sifat dalam penangalan Jawa dan perhitungan baik buruknya perjodohan; hal-ilhal bermain kartu; pemilihan jodoh berdasarkan bibit, bebet, bobot; tanda-tanda baik buruknya sifat wanita, hal-ihwal olah asmara; delapan hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan pekerjaan; sebelas macam kayu dan masing-masing manfaatnya; berbagai jenis rumah Joglo 7 macam, Limasan 10 macam, Kampung 9 macam, Mesjid 3 macam; empat puluh empat macam gendhing terbangan; penjelasan makna selamatan orang meninggal dari 3 hari s/d 1000 hari; sifat-sifat wanita dilihat dari hari lahir pada penanggalan Jawa; jamu untuk macam-macam penyakit; ura-ura (lagu) tentang sifat-sifat manusia yang kurang baik;
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Perihal unsur kehidupan api, bumi, udara, air; Sastra Jendra Hadiningrat; Serat Suluk Hartati; Berbagai ilmu Kasunyatan tentang asal usul kehidupan; Pancadriya dan Pancamaya; Penjelasan tentang fasik, munafik, najis,makruh, kekah.

    Serat Centhini Jilid 04

    Serat Centhini Jilid-4 berisi 65 pupuh dari pupuh 257 s/d 321, meneruskan perjalanan Mas Cebolang dari Laweyan, Surakarta menuju ke tenggara dan berakhir di Wirasaba – Jawatimur.
    Rute perjalanan: masih di Mesjid Laweyan – Surakarta Ki Sali melanjutkan bicara tentang ramalan Jayabaya, Ki Atyanta berbicara tentang 40 macam tanda-tanda kiamat yang berasal dari Hadits dan cerita tentang Seh Markaban dari Mesir, desa Majasta ketemu Ki Jayamilasa jurukunci makam Jaka Bodho putra raja Majapahit, ditepi sungai Dengkeng diceritakan tentang riwayat Jaka Tingkir,
    ziarah di makam Banyubiru diceritakan tentang Ki Buyut Banyubiru murid Sunan Kalijaga, desa Taruwangsa ziarah ke makam Ki Ageng Banjarsari, melihat sendang Selakapa, sendang Purusa, sendang Banyubiru, desa Teleng lihat sendang Tirtamaya, menuju ke Pacitan di Girimarta ketemu Endrasmara anaknya Ketib Winong dari Mataram, ketemu mertua Endrasmara bernama Kyai **** Nurgirindra bercerita tentang Asma’ulhusna, diajak kerumahnya Nyai Wulanjar di Paricara – Wonogiri, maksudnya mau ke Panaraga kesasar samapi ke laut selatan, tiba di desa Karang ketemu Ki Darmayu, ketemu rombongan Brahmana Sidhi dari Hindustan berbicara tentang agama Budha, sampai di desa Salaung ketemu Ki Nursubadya berbicara tentang warok dan gemblakan, sampai di asrama Majenang di gunung Wilis ketemu Seh Matyasa, sampai di Wirasaba ketemu ki Jamal, lalu jadi pemain kentrung dan berakhir ditanggap di kediaman bupati Wirasaba.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut diatas adalah:
    Cerita/Legenda: Cerita ramalam Jayabaya pada jaman Kalabendu yang disisipi serat Kalathida karangan R.Ng. Ranggawarsita, cerita tentang tanda-tanda kiamat berdasarkan Hadist, cerita Seh Markaban dari Mesir, cerita Jokobodho berguru ke Sunan Tembayat, cerita Jaka Tingkir yang menjadi raja di Pajang dengan gelar Sultan Adiwijaya, cerita Ki Buyut Banyubiru murid Sunan Kalijaga, Serat Rama tentang Wibisana dan Kumbakarno, cerita Sultan Abdulkarim Kubra, cerita tiga batu yang bisa memberikan apa yang diminta, cerita tentang Parbu Nursiwan yang sangat adil, cerita orang Arab bernama Katim Tayi yang sangat pemurah, cerita tentang tokoh-tokoh pewayangan.
    Adat Istiadat: cerita para warok dan reog Panaraga, Serat Waduaji berisi nama-nama punggawa (pegawai) dan prajurit kerajaan serta kewajiban masing-masing, cerita tentang kehidupan sinden dan pemain kentrung.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Antara Fikih dan Tasauf; Khasiat dari Asma’ulhusna; Tingkatan Siswa di Agama Budha; Karma; Antara Ilmu dan Laku; cerita perlambang Dewa Ruci.

    Serat Centhini Jilid 05

    Serat Centhini Jilid-5 berisi 86 pupuh dari pupuh 321 (mulai tembang 40) s/d 356, perjalanan pulang Mas Cebolang dari Wirasaba ke Sokayasa, Banyumas, perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari, Rangcangkapti meninggalkan Sokayasa menuju Wanataka dan perjalanan Jayengresmi meninggalkan Gunung Karang, Pandeglang, Banten untuk mencari adik-adiknya sampai ke Wanamarta diselatan Gunung Giri, Jawa Timur.
    Rute perjalanan pulang Mas Cebolang: sebagai sinden kentrung bermain dikediaman adipati Wirasaba; lari dari kadipaten Wirasaba karena ketahuan Mas Cebolang selingkuh dengan para selir adipati Wirasaba; naik ke gunung Semeru ingin ketemu buyut Danardana tapi tidak ketemu; pergi ke gua Sigala setelah bertapa selama 7 hari baru bisa ketemu buyut Danardana disuruh pulang ke Sokayasa.
    Rute perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari dan Rangcangkapti: Jayengsari dan Rangcangkapti sudah diambil anak oleh Seh Akadiyat di Sokayasa; Mas Cebolang sampai di Sokayasa; setelah beberapa lama Mas Cebolang dinikahkan dengan Rangcangkapti; tidak beberapa lama kemudian Seh Akadiyat dan istrinya meninggal dunia; pada suatu hari ada tamu dua santri dari Surabaya disangka utusan dari Pangeran Pekik (adik ipar Sultan Agung) yang juga Bupati Surabaya untuk mencari mereka; karena khawatir Mas Cebolang, Rangcangkapti dan Jayengsari meninggakan Sokayasa; menyusuri hutan Gunung Kidul menuju ke barat; sampai di gunung Lima ketemu pendita Hercarana diminta tinggal di dhukuh Wanataka dan berganti nama Jayengsari jadi Seh Mangunrasa, Mas Cebolang jadi Seh Anggungrimang, santri Buras jadi Monthel, sedangkan Rangcangkapti tidak dirubah.
    Rute perjalanan Jayengresmi: Jayengresmi yang diangkat anak oleh Ki Ageng Karang di gunung Karang, Pandeglang, Banten sudah berganti nama jadi Seh Amongraga sedangkan santri Gathak & Gathuk ganti nama jadi Jamal dan Jamil; Jayengresmi pamitan Ki Ageng Karang untuk mencari adik-adiknya; disuruh pergi ke Wanamarta ketemu Ki Bayi Panurta; mampir di Maledari gunung Gora ketemu Buyut Wasi Bagena; sampai di dhukuh Andong Tinunu sebelah timur laut gunung Sindoro ketemu Seh Sukmasidik; sampai di dhukuh Wanamarta (sekitar Mojokerto, Jawa Timur), ketemu Ki Bayi Panurta yang punya anak tiga yaitu: Niken Tambangraras, Jayengwesthi dan Jayengraga; setelah beberapa lama Seh Amongraga dinikahkan dengan Niken Tambangraras, perayaan pernikahan Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras yang diramaikan dengan nanggap sinden ronggeng.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut diatas adalah:
    Cerita/Legenda: masih melanjutkan petualang seks Mas Cebolang ketika jadi sinden kentrung di kediaman adipati Wirasaba dengan selir-selir sang Adipati sampai ketahuan dan melarikan diri waktu mau ditangkap; cerita tentang penari ronggeng dengan petualangan seksnya.
    Adat Istiadat: keutamaan wanita dalam pernikahan.
    Pengetahuan Spirituil/Agama (pada jilid-5 berisi sebagian besar pengetahuan sprituil berkenaan dengan agama Islam ataupun sinkretisasi agama Islam), beberapa yang dijelaskan cukup panjang: Mukmin linuhung; Tempatnya Hyang Agung di gedung Retna Adiluhung; Tahapan pengetahuan tasauf: syariat, tarekat, hakekat dan makrifat; Curiga manjing rangka, rangka manjing curiga.
    Pengetahuan Spirituil/Agama yang dijelaskan hanya sekilas sehingga sulit dimengerti: Wahyu Jatmika; Mati dalam hidup, hidup dalam kematian; Asal mulanya alam semesta dan Datulah; Roh-ilapi, budi dan nafsu, penjelasan tentang nafsu amarah, aluamah, mutmainah, supiyah, budi baik dan buruk, rasa jati; Keutamaan ilmu; La-takyun-kun, nukat gaib, wilayat, gaibulguyub, gaib-uluwiyah; Penjelasan tentang malaekat, nabi, wali, mukmin kas, cahya, mujijat mangunah, keramat.

    Serat Centhini Jilid 06

    Serat Centhini Jilid-6 berisi 15 pupuh dari pupuh 357 s/d 372, berlainan dengan jilid-jilid sebelumnya pada jilid ini bukan berisi cerita perjalanan tapi lebih fokus pada cerita pernikahan antara Jayengresmi yang sudah berganti nama Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras anak dari Ki Bayi Panurta dari Wanamarta, Mojokerta.
    Pada jilid ini untuk pertama kali disebut nama Centhini yang adalah rewang (pembantu) Niken Tambangraras. Serat Centhini ini pada awalnya bernama Suluk Tambangraras yang kemudian diganti dengan nama Serat Centhini, sebagai penghargaan terhadap kesetiaan Centhini yang selalu mendampingi Niken Tambangraras.
    1. Upacara Akad Nikah: Seh Amongraga minta agar perayaan tidak dengan cara yang mengandung maksiat seperti nanggap sinden ronggeng; Diceritakan juga pakaian yang dikenakan baik oleh pengantin laki-laki dan wanita maupun ayah bunda pengantin wanita yang memakai pakaian tradisional di daerah pesantren. Dilaksanakan di mesjid oleh Ki Pengulu yang menikahkan pengantin disaksikan wali ayah pengantin wanita Ki Bayi Panurta serta para saksi lainnya.
    Note: pada umumnya dikalangan yang pengaruh pesantrennya masih kuat akad nikah dilakukan tanpa kehadiran pengantin wanita, hal ini masih berlaku sampai saat ini. Berlainan dengan upacara pengantin dikalangan keraton (istana) yang diadaptasi rakyat secara umum.
    2. Upacara Pertemuan Pengantin: Pertemuan pengantin dilakukan didepan pintu pendapa dengan kedua pengantin lempar-lemparan daun sirih, pengantin laki-laki memecah telur dan pengantin wanita membasuh kaki pengantin laki-laki yang kotor karena pecahan telur. Semuanya ini mengandung perlambang. Kemudian pengantin disandingkan di pelaminan didepan krobongan.
    Note: Upacara temu pengantin berlaku umum, hampir tidak ada perbedaan diseluruh pulau Jawa sampai dengan saat ini.
    3. Setelah acara temu pengantin: Acara ngabekti yaitu pengantin laki-laki ngabekti (mencium suku) bapak dan ibu pengantin wanita; Pengantin wanita ngabekti ke pengantin laki-laki; Seh Amongraga minta agar ibu pengantin wanita Ni Mintarsih agar membuang semua sesaji karena hal tersebut termasuk kepercayaan menyembah berhala. Ini berkenaan transisi tradisi Jawa kuno maupun Hindu yang penuh dengan saji-sajian menuju tradisi Islam yang tidak memerlukan sesaji.
    4. Seh Amongraga mengajari pengantin wanita perihal ilmu agama: Tentang sejatinya sahadat, rukun solat, tempatnya rasa sejati, kewajiban istri; Esok harinya kedatangan tamu dari Gresik, Surabaya, Sidayu, Tuban dan Rembang yang mengantarkan sumbangan hal ini berkenaan dengan kedudukan Ki Bayi Panurta sebagai guru sprirituil para Bupati bang wetan (Jawa Timur); Ki Bayi Panurta meminta Seh Amongraga memberi penjelasan kepada yang hadir tentang kitab Ibnu Hajar yaitu: kedudukan Rasul, solat sunah dan solat wajib.
    5. Perayaan pengantin di tempat para keluarga: Ini berkenaan dengan tradisi ngunduh mantu (ikut merayakan) yang dilakukan oleh keluarga dekat. Pengantin diarak menuju ketempat Jayengwesthi (kakak Niken Tambanraras) diadakan kenduri disana; Pengantin diunduh (dirayakan) ditempat Jayengrana (kakak yang satu lagi dari Niken Tambanraras) dengan gamelan yang mengumandangkan berbagai tembang. Jamal-Jamil mempertunjukan kebolehan olah kanuragan (seperti debus di Banten).
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-6 adalah:
    Cerita/Legenda: jalannya upacara pernikahan antara Seh Amongraga dan Niken Tambanraras maupun kebiasan ngunduh mantu (perayaan ulangan) ditempat keluarga dekat. (Note: kalau saat ini ngunduh mantu adalah perayaan yang dilakukan di tempat keluarga pengantin laki-laki, karena perayaan utama selalu dilakukan ditempat keluarga pengantin wanita).
    Adat Istiadat: tatacara, pakaian, dan upacara pengantin dikalangan pesantren yang berbeda dengan tatacara, pakaian dan upacara pengantin dikalangan keraton (istana); penjelasan tentang khasiat berbagai daging binatang; penjelasan adanya berbagai tembang: Kakawin, tembang Ageng, Tengahan dan Macapat, tembang Ageng biasanya yang dilagukan oleh Dalang Wayang Purwa; penjelasan tentang penanggalan Jawa berdasarkan Wuku (pengaruh Hindu yang saat ini juga berlaku di kalangan masyarakat tradisionil di Bali).
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Sejatinya sahadat, rukun solat, tempatnya rasa sejati, kewajiban istri; Kitab Ibnu Hajar tentang kedudukan Rasul, solat sunah, solat wajib; Wirid syariat, wirid tarekat, wirid hakekat, wirid mahrifat; sajatining Pangeran.

    Serat Centhini Jilid 07

    Pada Serat Centhini jilid-7, awalnya masih melanjutkan sedikit tentang tradisi budaya pesantren, sedangkan sisanya perihal pola pendalaman ilmu agama atau spiritual yang umum berlaku pada saat itu.
    Ada beberapa kontradiksi pada Serat Centini jilid-7 ini, dikarenakan sejak abad ke-16 ketika cerita ini berlangsung telah terjadi pengaruh budaya luar lainnya, yaitu:
    1. Pola penyiaran agama Islam yang datang kemudian lebih menekankan kepada syariat atau syarat-syarat menjalankan kewajiban agama dimana tidak terhindarkan adanya pengaruh berbagai mazab-mazab dalam Islam. Sedangkan pola yang diajarkan oleh para walisanga adalah pengetahuan spiritual yang menekankan ilmu tasauf yaitu hakekat dan makrifat yang tidak jauh berbeda dengan pola pendalaman sprirituil masyarakat Jawa pada saat itu yang sudah dijalani berabad-abad lamanya dengan satu dan lain cara. Oleh karena itu masyarakat Jawa bisa menerima agama Islam pada saat itu karena pendekatan yang tepat dari wali sanga.
    2. Pengaruh budaya Barat telah merubah paradigma pengertian tentang ilmu yang sama sekali berbeda dengan pengertian ilmu yang ada di budaya Jawa pada abad ke-16. Ilmu dalam budaya Jawa adalah pendalaman kehidupan spiritual, sedangkan di budaya Barat ilmu adalah pengetahuan alam dalam rangka explorasi alam untuk kepentingan duniawi. Bahkan kita bisa pertanyakan apakah ada pendalaman spiritual dalam budaya Barat?
    Apakah pengaruh yang terjadi adalah suatu kemunduran atau suatu kemajuan? Kita serahkan saja penilaian pada diri kita masing-masing dengan melihat kecenderungan saat ini bahwa syariat agama hanya dijalankan sebagai rutinitas ritual tanpa pendalaman spiritual yang menyebabkan kemunduran etika dan moral dalam masyarakat.
    Kontradiksi yang terdapat dalam Serat Centhini jilid-7 ini adalah:
    1. Seh Amongraga meninggalkan Niken Tambangraras setelah menikah selama 40 hari. Adalah perlambang bahwa pendalaman sprituil lebih penting dari segalanya termasuk dalam membina keluarga. Sangat kontradiktif dengan nilai-nilai yang berlaku saat ini.
    2. Seh Amongraga sudah berguru di padepokan (pesantren) tiga kali, dengan ayahnya Sunan Giri, dengan Kyai Ageng Karang di Banten, dengan Ki Bayi Panurta di Wanamarta. Tapi ilmu yang didapat dianggap tidak cukup untuk memahami keagungan Allah SWT oleh karena itu diperlukan laku (tarekat atau tirakat) dengan cara lelanabrata ketempat-tempat sepi dan angker dalam rangka pemahaman segi-segi yang ajaib (gaib) tentang kehidupan termasuk keberadaan mahluk halus. Ini adalah pola pemahaman sprirituil di budaya Jawa yang berumur sangat tua. Bisa diartikan sebagai bentuk sinkretisasi agama Islam, tapi juga bisa diartikan bahwa pada tataran hakekat dan makrifat agama apapun punya tujuan yang sama yaitu mengagungkan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Ini yang dijadikan dasar adanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa di ideologi Pancasila).
    3. Pola tersebut diatas kontradiktif dengan pola yang berlaku saat ini dimana pelajaran di pesantren adalah besifat final. Kalau sudah tamat, yang harus dilakukan adalah berdakwah dengan apa yang telah dipelajari di pesantren tersebut baik dengan cara dakwah berkeliling ataupun dengan cara mendirikan pesantrennya sendiri. Sudah sangat jarang santri yang melakukan lelanabrata untuk pemahaman sprituil yang lebih mendalam dalam menyelami keagungan Allah SWT. Kalau dilakukan malahan dianggap menyimpang dari ajaran agama yang sudah baku. Sebagai hasilnya adalah masyarakat Indonesia saat ini yang mayoritas beragama Islam, tanpa disertai perilaku etika dan moral yang terpuji. Bukan agamanya yang salah tapi pola pemahamannya yang mengalami banyak distorsi.
    Sedangkan cerita/legenda adat istiadat dan ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-7 adalah:
    Cerita/Legenda: asal usul gua Sraboja yang dulunya adalah istana kerajaan.
    Adat Istiadat: pembicaraan tentang Wuku; hari baik dan hari naas; tatacara menempati rumah baru; perihal burung dara (merpati); penolak hama. Kesemuanya saat ada di buku-buku Primbon.
    Pengetahuan Spirituil/Agama sangat fokus kepada ilmu tasauf, diantaranya adalah:
    1. Hakekat doa puji-pujian (dalam tembang Dandanggula):
    Wruhana sajatining puji, dudu lapal kang muni ing lesan, swara lawan kumandange, pan unen-unen dudu, dene puji sajatine, pan iya karepira kang suci sumunu, pangidhangsih karsa juga, ingkang datan kajeg-kajeg iku jayi, yen kajeg iku aral.
    Artinya: Bukan sekedar keindahan kata-kata yang diucapkan, hakekatnya adalah keinginan dan kehendak hati yang suci yang harus dilakukan terus menerus tanpa henti.
    2. Riba: riba badan: meniru perbuatan orang kapir, riba ucapan: banyak melakukan hal-hal yang haram dan makruh, riba hati: berbohong dan tidak menepati janji.
    3. Pengamalan ilmu tasauf:
    a. Syariat – pengamalan keimanan dengan cara mengabdi pada Allah SWT.
    b. Tarekat – pengamalan keimanan dengan cara memuliakan Allah SWT.
    c. Hakekat – pengamalan keimanan dengan cara pemusatan pada Allah SWT.
    d. Makrifat – pengamalan keimanan dengan cara pemahaman keajaiban Allah SWT.
    4. Daim (kekekalan, selalu) sikap terhadap Allah SWT: fardlu daim – selalu ingat; niat daim – selalu mengasihi; sahadat daim – selalu mengagungkan; ilmu daim – selalu memaklumi, sholat daim – selalu mendekat, makrifat daim – selalu mendengarkan, taukhid daim – selalu percaya, iman daim – selalu menghadap, junun daim – selalu memuliakan, sekarat daim – selalu menerima apapun keadaannya, mati daim – selalu mensyukuri nikmat.
    5. Rukun Islam: sahadat, sholat, zakat, puasa, ****.
    6. Kewajiban dunia: berbuat baik bagi sesamanya, menyempurnakan mayat, menikahkan anak perempuan, menghukum kesalahan, mengembalikan hutang. Kewajiban akhirat: mempelajari ilmu syariat-tarekat-hakekat-makrifat, sholat lima waktu, memandikan dan menyalatkan mayat, sabar dan tawakal, tenggang rasa.
    7. Empat hal yang merusak kesempurnaan hidup: kibir (sombong), tidak percaya dalil atau berbantahan (tentang hukum agama), membuka rahasia (tidak bisa dipercaya), berbohong (tidak mengatakan yang sebenarnya).
  7. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    Ringkasan Serat Centhini 12 Jilid bab 08-12

    Serat Centhini Jilid 08

    Serat Centhini Jilid-8 berisi 103 pupuh dari pupuh 404 s/d 506, isinya lanjutan perjalanan Seh Amongraga dan perjalanan kakak-kakak serta paman Niken Tambangraras yaitu Jayengwesthi, Jayengraga, Kalawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga.
    Rute perjalanan Seh Amongraga: Di gua Sraboja 4 hari; Gunung Sakethi, Bungkak, Bau, Lerek, Kunci, Patak, Tekong; gua Kalak ketemu Ki Lokasraya 21 hari; Turun ke lembah masuk ke gua Songputri yang indah seperti keputren; Menuju barat laut lewat gunung Salumbat, Curak, Purak, Belah, menyebrangi sungai Bendha; Naik gunung Senggami lihat telaga Madirdo tempat minum kuda sembrani; Pertapaan Andhongdhadhapan di gunung Retawu 4 malam; Gunung Wiratha wilayah Wonogiri;
    Gunung Delapih lewat hutan Tireban; Sampai di puncak gunung Delapih yang dikelilingi gunung-gunung kecil terlihat banyak binatang-binatang besar, setelah berdoa hilang yang kedengaran kemudian suaranya pimpinan mahluk halus; Setelah bersemedi Seh Amongraga bisa melihat bunga yang indah di tengah telaga Celereng yang airnya sangat bening didalamnya ada batu-batu kecil warna-warni; Gua Selamunggul kelihatan seperti mulut raksasa besar dan didalamnya ada batu seperti tempat tidur, diselanya mengalir air jernih, terlihat gua Jatharatu Kenyapuri; Di Delepih ini ada legenda tentang Penembahan Senapati (pendiri kerajaan Mataram) yang menikahi Nyi Loro Kidul dan anak perempuannya bernama Ratu Widanangga; Menuju ke timur laut sampai di gunung Lawu; Melewati akar batu sampai di Pangaribaya; Naik sampai Marcukundha; Berhenti di Pekelengan kemudian tiba-tiba keadaan jadi gelap dan hawa menjadi dingin dan terdengar banyak suara orang ramai teriak-teriak seperti sedang berperang; Menuju ke Arga Dalem, Melewati Prepat Kepanasan sampai di gunung Diyeng; Berhenti di Arga Dalem 4 hari; Ke Arga Dumilah; Ada burung jalak-gadhing memberi petunjuk jalan; Mengikuti burung jalak-gadhing sampai di kawah Candradimuka, duduk di batu Mandragini, karang Widadaren, terus ke Sanggar-gung dan gunung Petha-pralaya, ke tenggara sampai di Tejomaya, Cemarasewu, turun ke Telagapasir, Telagasandi; Naik lagi ke desa Gandasuli; Sampai di Sela-bantheng, Cemara-lawang, gua Padhas; Kembali ke Arga-Dalem; Sampai di Jati Jempina di puncak gunung Tiling; melewati gunung-gunung: Arga Pawenang, Arga Bayu, Arga Candhirengga, Arga Rimbi, Arga Kathili, Arga Aji, Arga Bintulu, Arga Sukuh, Arga Tambak yang banyak terdapat arca-arca; ketemu Ajar Wregasana yang menceritakan tentang pucak gunung Lawu yang semua ada 15, 7 disebelah selatan dan 8 disebelah utara; Ajar Wregasana menjelaskan tentang agama Budha; Berdebat tentang kesempurnaan hidup; Ajar Wregasana merasa kalah sehingga masuk agama Islam dan diganti namanya jadi Ki Wregajati kemudian ikut serta Seh Amongraga lelanabrata; Menyebrang Sungai Sara, kebarat sampai di gunung Adeg; Tirakat di gunung Bangun 15 hari; Jamal dan Jamil mengajarkan ilmu karang (debus) dan ilmu sulap, orang-orang desa sangat kagum dan dianggap guru; Ketemu Lurah desa Lemahbang bernama Sutagati; Jamal dan Jamil menjemput Seh Amongraga dengan banyak santrinya lalu disuruhnya mendirikan mesjid; Memasuki daerah Mataram lewat Jatisaba, gunung Sarembat (Sapikul), Kabaseng, menyebrang Sungai Oya, keselatan sampai ke hutan Jaketra; Tiba di gunung Pagutan; Gunung Sakethi; Keselatan sampai di gunung Jimbaran, berhenti di gunung Sambirata bersama para santrinya yang berjumlah 760 orang; Gunung Gora diwilayah hutan jati Giring dibagian pinggir laut selatan yang ada tiga gua yang menyeramkan, gua Manganti, gua Celor, gua Songpati; Di wilayah Giring terdapat banyak bekas pertapaan, memilih dusun Kanigara sebagai tempat persinggahan dan membuat mesjid disini; Ke gunung Jakatuwa diikuti 1800 santri; Tirakat di gua Celor, masuk gua Manganti di tepi kali Oya tempat Sultan Agung bersemedi; Sampai Meladan ketemu jurukuncinya bernama Ki Batulata; terus ke Drekaki; berhenti di gunung Bungas, masuk ke gua Song-pati tempat Sultan Agung jadi pertapa bernama Seh Bangkung; terus kembali ke Kanigara yang kepala desanya bernama Ki Wanamennggala; jumlah santrinya sudah menjadi 3000 orang.
    Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: sampai di desa Kepleng di rumah Suradigdaya yang punya anak bernama Matiyah dan keponakannya janda muda; Kulawirya mengajak tetabuhan sambil tayuban. Sindennya bernama Gendra; Jayengwhesti tidak mau ikut-ikutan; Jayengraga menggoda Matiyah tapi ditolak, yang didapat si janda muda. Kulawirya kesampaian mendapatkan sinden Gendra; Paginya keluar desa masuk hutan Selambur, hutan Bagendhul, desa Palemahan, desa Mamenang, ke kedung Bayangan, gunung Klothok; Di desa Pakuncen ketemu Ki Wanatawa bertanya apakah pernah ketemu Seh Amongraga dijawab tidak pernah; Malamnya nginep di gua Selamangleng dulu padepokannya Dewi Kilisuci – pendita wanita; ke Pakareman ketemu Seh Ragayuni dari padepokan di gunung Kalengleng, menanyakan keberadaan Seh Amongraga yang dijawab berada di daerah barat daya tapi dianjurkan tidak usah disusul, nantinya Seh Amongraga akan bertempat tinggal di Wanataka dan semuanya akan bisa ketemu disana; Esok paginya setelah pamitan, Ki Ragyuni menghilang, semuanya keheran-heran; Sampai di desa Pulung menuju rumahnya penghulu Jabalodin; diceritakan petualangan maksiat antara Kulawirya dengan Randha Sembaga yang gemar laki-laki maupun Jayengraga dengan sinden Kecer; Jayengwesthi sebetulnya kurang begitu berkenan tapi tidak bisa apa-apa.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-8 adalah:
    Cerita/Legenda: puncak Gunung Lawu yang angker dianggap kahyangan seperti di Pewayangan; Panembahan Senapati (pendiri kerajaan Mataram) yang menikahi Nyi Loro Kidul sebagai penjaga dilautan dan sekaligus anak perempuannya bernama Ratu Widanangga sebagai penjaga didaratan.
    Adat Istiadat: Pakuwon, Pranatamangsa, Padewan, Padangon, Pancasuda, Sengkanturunan, Taliwangke, Samparwangke, Paringkelan yang kesemuanya sifat-sifat hari menurut penanggalan Jawa.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Perihal agama Budha; wajib rasul dan mokal rasul; langkah tobat laku maksiat.

    Serat Centhini Jilid 09

    Serat Centhini Jilid-9 berisi 93 pupuh dari pupuh 507 s/d 599, isinya lanjutan perjalanan Jayengwesthi (Jayengresmi), Jayengraga, Kulawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga karena merasa kasihan melihat keadaan Niken Tambangraras.
    Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: Masih di desa Pulung, tayuban dirumah Randha Sembada yang hyperseks, diceritakan bisa melayani siang tiga laki-laki dan malamnya tiga laki-laki; Cerita sekitar tajuban, sinden dan ronggeng maupun perilaku maksiat dari Randha Sembada, Jayengrana dan Kulawirya;
    Paginya melanjutkan perjalanan sampai di gua Padhali yang sangat luas menginap 1 malem; Kedatangan Ki Sinduraga diajak mampir kerumahnya bercerita tentang desa Wengker atau Pura Katongan yang dulunya istana Batara Katong; Sholat di mesjid Tajug yang dibuat oleh Kyai Tajug dari Giri; Menuju gunung Padhangeyan diiringi petunjuk jalan Ki Wanalela, lewat desa Seladhakon sampai di Astana Pakuncen tempat makam Batara Katong leluhur Panaraga; Sampai di Jenangan ketemu petingginya Narakosa bercerita tentang Watu Towok (Batu Towok) yang dikaitkan dengan cerita Panji Asmarabangun; Sampai di padhepokan Ki Seh Sidalangu teman akrab Ki Bayi Panurta di gunung Padhangeyan; Ke gua Sentor tinggal selama 10 hari (yang bisa tembus ke gua Pedhali) tempat pertapaan Dewi Kilisuci; Diiringi Ki Pakuwaja menuju gunang Bajangkaki yang angker; Ketemu Ki Dathuk diajak mampir kerumahnya di desa Pranten; Sampai di gua Sangsangan terus naik ke puncak gunung Bajangkaki; Sampai di desa Tegaren menginap di rumah Cangrageni yang sebetulnya adalah kepala begal (perampok); Malamnya barang-barangnya mau di ambil, dilawan oleh Kulawirya, semua perampok kalah dan lari; Sampai di desa Longsor ketemu petingginya Ragamenggala dan modinnya Nurbayin; Malemnya Jayengraga melayani tiga anaknya modin Nurbanin yang perawan tua karena kurang cantik bernama Banem, Banikem, Baniyah; Lewat desa Padakan yang sedang tawuran dengan desa Mungur rebutan tempat menggembalakan hewan piaraan (dua desa ini dari dulu selalu bermusuhan); Sampai di kedhung Bagong banyak ikannya tapi angker tinggal 1 malam; Sampai didesa Trenggalek Lembhuasta di kediaman Ki Demang Ngabei Kidang Wiracapa temen akrab Ki Bayi Panurta, diterima oleh istri Ni Widaryati dan adik-adinya Wirabancana, Wirangkara, dan Wirabraja, punya anak satu namanya Retna Ginubah senangnya menjelajahi hutan, hanya sekali-kali saja pulang.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-8 adalah:
    Cerita/Legenda: Batara Katong leluhur orang Panaraga; Cerita tentang Panji Asmarabangun; Cerita tentang sembilan teman akrab Ki Bayi Panurta yaitu: Cariksutra, Carikmuda, Kidang Wiracapa di Trenggalek Lembhuasta, Wargasastra atau Ki Seh Sidalaku di gunung Pandhangeyan, Harsengbudi, Sinduraga, Melarcipta punya santri bernama Bawuk yang setelah jadi Penghulu ganti nama jadi Basarudin, Arundaya atau Ki Bayi Panurta di Wanamarta, Danumaya atau Ki Dhatuk.
    Adat Istiadat: Ilmu-ilmu berkaitan dengan kejahatan: perhitungan hari baik untuk keberhasilan kejahatan, penggunaan kata-kata sandi dikalangan para penjahat, mantera maupun ajian dikalangan para penjahat; Sandi-sastra dan Sandi-kirana; Perhitungan dan syarat berkaitan dengan pertanian agar subur dan tidak terkena hama.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Sembilan tingkat derajat Islam; Serat Panitisastra; Hal-ihwal keduniawian dan keakhiratan; Cacat-cela watak-tabiat manusia; Hubungan antara topeng, gamelan, gendhing, wayang dan dhalang dengan menyembah kepada Allah SWT.

    Serat Centhini Jilid 10

    Serat Centhini Jilid-10 berisi 38 pupuh dari pupuh 600 s/d 637, isinya: setelah tidak menemukan Seh Amongraga, Jayengwesthi (Jayengresmi), Jayengraga, Kulawiryo diiringi santri Nuripin memutuskan untuk kembali ke Wanamarta serta ditangkapnya Seh Amongraga kemudian dilarung (dibuang) di laut selatan karena Jamal dan Jamil dianggap bikin rusuh diwilayah kekuasaan Sultan Agung di Mataram..
    Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: Masih dikediaman Ki Kidang Waracapa di Trenggalek Lembhuasta; Jayengrana menikah dengan Rara Widuri yang sering bikin onar karena obsesif (cemburuan) adalah anak dari Ki Demang Prawirancana dari Trenggalek Wulan;
    Ki Kulawirya terkena penyakit rajasinga, mimpi ketemu Jamal dan Jamil yang mengatakan bisa sembuh asal memenuhi salah satu dari tiga sarat yaitu bersetubuh dengan gadis yang masih perawan atau dengan wanita yang sedang menstruasi, atau bersetubuh dengan kuda; Karena sulit mendapatkan gadis yang masih perawan, takut dosa kalau bersetubuh dengan wanita yang sedang menstruasi, akhirnya terlaksana dan bisa sembuh setelah bersetubuh dengan kuda; Diadakan perayaan ngunduh mantu oleh Ki Demang Prawirancana dengan mengundang ronggeng; Setelah tujuh hari, Jayenwesthi, Jayengraga, Kulawiryo dan Nurupin berpamitan mau meninggalkan Trenggalek Lembhuasta; Rara Widuri yang ditinggal di Trenggalek Lembhuasta menjadi linglung kemudian disembuhkan oleh Retna Ginubah dan dibawa pulang oleh orang tuanya ke Trenggalekwulan; Menuju gunung Rajegwesi, lewat gunung Purwa sampai di desa Gubug ketemu Seh Ekawerdi teman akrabnya Ki Bayi Panurta; Sampai di desa Saren, gunung Bajak, gunung Bundhel, gunung Tengeng, desa Wajak Watu-urip, nyebrang hutan Rawa, lihat Sendang Patimbulan, masuk gua Menak satu malam; Paginya sampai di desa Bopong, desa Wunut, hutan Wratsari, desa Sarengat, gunung Pegat, gunung kecil Bagendhul di hutan Salembut; Sehari kemudian sampai Wirasaba yang sudah dekat Wanamarta; Sesampainya di Wanamarta langsung menghadap Ki Bayi Panurta dan menceritakan bahwa belum bisa ketemu dengan Seh Amongraga yang makin menambah kesedihan Niken Tambangraras maupun kedua orang tuanya.
    Rute perjalanan Seh Amongraga: sudah beberapa lama berada di desa Semanu, Gunung Kidul, Mataram dan senantiasa manekung (kosentrasi memuji kepada Allah SWT) di grobogan dalam mesjid; Jamal dan Jamil setiap hari membuat pertunjukan ilmu karang dan ilmu sihir yang menghadirkan ribuan penonton, lama-lama kedengaran oleh Sultan Agung karena dianggap membuat onar, sehingga mengutus Tumenggung Wiraguna untuk menangkap Seh Amongraga; Seh Amongraga tidak melawan ketika ditangkap, kemudian dimasukkan dalam keadaan hidup kedalam bronjongan (kurungan) dilarung (dibuang) di laut selatan, bronjongan kembali kedaratan dalam kedaaan kosong dan terdengar suara dari Seh Amongraga: “Kyai Wiraguna, katakan pada Sultan Agung telah terlaksana kehendaknya saya sudah terlepas dari keduniawian”; Jamal dan Jamil melarikan diri kembali ke Wanamarta menceritakan apa yang terjadi yang makin menambah kesedihan Niken Tambangraras dan semua keluarganya; Tumenggung Wiraguna menceritakan apa yang terjadi kepada Sultan Agung dan dijawab bahwa apa yang terjadi bukan hukuman hanya sarana untuk mengantarkan Seh Amongraga ke alam kesempurnaan melalui wibawa raja; Sunan Giri Parapen yang setelah kalah perang, disandera dalam lingkungan istana di Mataram mendengar cerita bahwa anaknya Seh Amongraga meninggal dilarung dilaut selatan, menjadi sangat sedih yang mengakibatkan wafatnya.
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-10 adalah:
    Cerita/Legenda: Cerita tentang Arya Banyakwulan dari Singasari, perihal asal usul ikan kramat di kedung Bagong;
    Adat Istiadat: Perbedaan wayang *saya-tukang-spam* dan wayang Purwa.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Perlambang wayang sebagai perlambang hakekat yang sejati; Makna rasa topeng; Hakekat pengabdian; Hakekat ilmu kajatmikan (ketenangan hati).
    Serat Centhini Jilid 11
    Serat Centhini Jilid-11 berisi 52 pupuh dari pupuh 638 s/d 690, isinya: perjalanan menuju pertemuan seluruh keluarga yang saling berpisahan di Jurang Jangkung (Wanataka).
    Perjalanan Niken Tambangraras: Niken Tambangraras menolak banyak lamaran, ada yang sakit hati mengirim penjahat tapi tidak berhasil menyakitinya; Niken Tambangraras memutuskan pergi dari Wanamarta diiringi Ni Centhini; Ganti nama Ni Selabrangti, keluar masuk hutan akhirnya sampai di Wanataka padepokannya Seh Mangunarsa dan Seh Agungrimang; Setelah beberapa lama mereka saling tahu bahwa Ni Selabrangti adalah Niken Tambangraras istri Seh Amongraga dan Seh Mangunarsa adalah adik dari Seh Amongraga;
    Niken Rancangkapti (istri Seh Agungrimang) sangat sedih mendengar kakaknya Seh Amongraga telah meninggal dunia dilarung di laut selatan, sehingga mendadak meninggal dunia; Pagi harinya sebelum mayat Niken Rangcangkapti dimandikan ada keajaiban dengan kedatangan Seh Amongraga; Semua terkejut dan berbakti ke Seh Amongraga yang mengatakan bahwa dia sudah hidup di alam kesempurnaan; Niken Rancangkapti dibangunkan oleh Seh Amongraga, hidup kembali seperti baru bangun tidur; Seh Amongraga memerintahkan Seh Mangunarsa untuk menikahkan Ni Centhini dengan Ki Monthel dan membuat padepokan tempat menyepi Seh Amongraga dan istrinya di Jurang Jangkung; Sewaktu-waktu mereka bisa ketemu setelah menjalankan iktikap (i’tikat – berdiam diri bertafakur memuji kebesaran Allah SWT) di Sendhang Kalampeyan.
    Perjalanan Jayengresmi dan Jayengrana: Ki Bayi Panurto menyuruh Jayengresmi dan Jayengrana menyusul kakaknya Niken Tambangraras; Menginap di tempat Nyi Randa Tilarsa di desa Sindureja; Meneruskan perjalanan lewat gunung Ujungan, desa Simpar, di desa Sidapaksa ketemu orang tua bernama Kaki Tuwa; di Ngardipala ketemu Seh Malangkarsa yang mendengar bahwa Niken Tambangraras berada di Wanataka; Ki Monthel datang dari Wanataka membawa surat dari Seh Amongraga untuk Ki Bayi Panurta; Ki Monthel meneruskan perjalanan menuju Wanamarta, sedangkan Jayengresmi dan Jayengraga tinggal di Ngardisalah mendalami ilmu agama.
    Perjalanan istri Jayengraesmi (Ni Turida) dan istri Jayengrana (Ni Rarasati): Ni Turada dan Ni Rarasati meninggalkan Wanamarta menyusul suaminya, mengalami banyak halangan dijalan akhirnya bisa ketemu Jayengresmi dan Jayengrana di Ngardisalah dan ikut mendalami ilmu agama bersama suaminya.
    Perjalanan Ki Bayi Panurta dan istrinya: Ni Malarsih mengajak suaminya Ki Bayi Panurta menyusul anak-mantunya yang pergi semua; Ki Monthel datang membawa surat dari Seh Amongraga dari Wanataka; Ki Bayi Panurto dan istrinya menuju Wanataka ganti nama jadi Ki Arundaya dan Ni Malaresmi; Ketemu banyak teman-temannya di sepanjang perjalanan di Ngardimuncar, di gunung Bustam, lewat hutan Jembul kesasar malahan ketemu Ki Cariksutra dan Ki Carikmudha, keduanya mengantarkan ke Ngardipala lewat sendang Balara; di Ngardipala ketemu Seh Malangkarsa yang kemudian menyuruh santrinya pergi ke Ngardisalah untuk memanggil Jayengresmi dan Jayengrana; Seh Raras (Jayengresmi) dan Seh Resmi (Jayengraga) tidak mau ketemu kedua orangtuanya, nanti saja akan bertemu di Jurang Jangkung; Diiringi oleh Seh Malangkarsa, Ki Cariksutra dan Ki Carikmuda menuju Wanataka; Melewati sendhang Kalampeyan sampai di Wanataka ketemu Seh Mangunarsa, Seh Agungrimang dan istrinya Niken Rancangkapti; Seh Mangunarsa memberithu bahwa anak dan mantunya akan menemui di Jurang Jangkung; Setelah tirakat selama tiga hari, Seh Amongraga, Jayengrana, Jayengraga beserta istri-istrinya yang berada di alam kesempurnaan memperlihatkan diri dan berbakti kepada Ki Bayi Panurta dan istri; Pertemuan berikutnya di Sendang Kalampeyan mengajak juga Seh Malangkarsa dkk.; Diadakan perjamuan tapi Seh Amongraga dan istrinya tidak makan agar tetap berada di alam badan halus sedangkan Jayengresmi dan Jayengraga dan istri-istrinya-nya disuruh makan oleh Seh Amongraga agar kembali ke alam badan kasar seperti layaknya manusia biasa; Ki Bayi Panurta mengajak Jayengresmi dan Jayengraga dan istri-istrinya pulang ke Wanamerta tapi tidak mau, masih mau melanjutkan menyepi di Wanataka, berjanji pada saatnya akan pulang; Ki Malangkarsa dkk. pulang ke Ngardipala; Setelah 10 hari Ki Bayi Panurta dan istrinya pulang ke Wanamarta.
    Perjalanan Seh Amongraga di alam alimut: Jayengresmi dan Jayengraga membuat padepokan di dekat Jurang Jangkung di Wanatawang dan Wanasonya; Seh Amongraga dan istrinya berkelana kemudian mencipta Kota Baja; Pulau tersebut seperti sebuah istana dihias sangat indah dan banyak terdapat emas rajabrana, sutera, maupun barang beraneka warna; Orang-orang banyak yang datang, boleh mengambil apa saja semaunya; Berita ini terdengar Ki Dathuk Ragarunting dari Bengkulu yang datang naik perahu beserta empat puluh muridnya; Setelah ketemu selain mengambil barang semaunya juga minta Niken Tambangraras juga diberikan; Setelah ditinggal istrinya, Seh Amongraga memusatkan ciptanya menghancurkan Kota Baja dan mengambil kembali Niken Tambangraras; Ki Dathuk keheranan tiba-tiba Niken Tambangraras menghilang dan perahu diterjang badai, semua santri terdampar dipantai dalam keadaan telanjang dan semua barang-barangnya hilang; Kemudian Seh Amongraga dan istrinya kembali berkelana, sampai di gua Langse di Laut Selatan, kedatangan Ki Darmengbudi; Ki Darmengbudi diminta terjun ke lautan dan merasa ketemu Seh Amongraga dan diajari ilmu kesejatian, terpental jatuh di sebuah mesjid di Palembang yang daerahnya sedang ada wabah penyakit, seketika wabah penyakit menyurut; Ada ulama bernama Ki Ragaresmi mencari kesempurnaan kematian, diajari oleh Niken Tambangraras bab kesejatian Allah SWT yang kasih dan kekuasaan tidak ada batasnya sampai pada ilmu kesempurnaan, kemudian jadi muridnya dan diajak ikut ke Wanataka.
    Perjalanan Jayengresmi dan Jayengraga: Seh Amongraga menyuruh Jayengresmi, Jayengrana dan istri-istrinya pulang ke Wanamerta menemui bapak ibunya yang sedang sakit, diikuti oleh Seh Mangunarsa, Ki Agungrimang dan Niken Rangcangkapti sampai di sendang Balara ketemu Basriman pengulu di Ngardipala dan diantarkan ketemu Seh Malangkarsa yang sangat senang bisa ketemu mereka lagi.
    Tidak ada Cerita/Legenda & Adat istidat.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Iman dan Islam, mandi wajib yang dilakukan oleh wanita dan pria; ugeran ilmu sarengat, tarekat, hakekat, makrifat; tekad tama.

    Serat Centhini Jilid 12

    Serat Centhini Jilid-12 berisi 31 pupuh dari pupuh 691 s/d 722, isinya: perjalanan Jayengresmi dan Jayengraga pulang ke Wanamerta, meninggalnya Ki Bayi Panurto dan istrinya, reinkarnasi Seh Amongraga beserta istrinya agar bisa menurunkan raja.
    Perjalanan Jayengresmi dan Jayengraga: Seh Mangunarsa, Ki Agungrimang dan Niken Rangcangkapti ikut serta; Menginap di Ngardipala di tempat Seh Malangkarsa, diadakan acara terbangan, Nyi Pelangi istri Seh Modang jatuh hati kepada Jayengrana hal ini diperhatikan oleh istri Jayengraga – Ni Rarasati, Seh Amongraga beserta istrinya dan Seh Ragaresmi juga hadir dari alam gaib dalam acara terbangan; Seh Malangkarsa, Seh Modang dan Nyi Pelangi ikut dalam rombongan dan Ki Basariman selaku penunjuk jalan; Bermalam di desa Gunungsari ditempat Ki Cariksutra dan Ki Carikmuda, Ki Cariksutra dan istrinya Nyi Wilapa ikut serta dengan rombongan; Lewat hutan Jembul yang angker, banyak melihat keberadaan machluk halus selama di hutan Jembul; Ni Pelangi masih mencoba menarik perhatian Jayengrana, tiba-tiba mendengar banteng menarik rumput, terkejut lalu menubruk dan merangkul Jayengraga, Nyi Pelangi jatuh kerasukan, dari kemaluannya mengeluarkan darah, ditolong oleh Seh Mangunarsa, setelah siuman bercerita bahwa dirinya diperkosa oleh orang yang tinggi besar, dinasehati agar tidak berangan-angan yang kurang baik;
    Bermalam di desa Bustam ditempat Ki Arsengbudi yang kemudian juga ikut serta dengan rombongan; Rombongan sudah berjumlah 20 orang, menyebrang sungai Lumut, menginap di desa Ardimuncar tempat Seh Adimuncar dan istrinya Nyi Purnaningsih, adiknya Seh Arundarsa yang bergabung juga ikut serta dengan rombongan; Menginap di tengah hutan Kakas, ada 20 orang yang datang memaksa ikut menginap dengan rombongan membawa buah-buahan dan ubi-ubian yang belakangan ketahuan ternyata harimau siluman; Keluar hutan lewat desa Kepleng, masuk hutan Taruman, bukit Manik dan hutan Jenggalamanik, siang hari sampai hutan Saba wilayah Wirasaba; paginya sudah sampai wilayah Wanamerta ketemu Ki Nuripin di Pagutan menginap semalam.
    Di Wanamarta: Ki Bayi Panurta baru saja sembuh dari sakitya selama 4,5 bulan; Kedatangan Ki Nuripin dan Ki Monthel yang memberitahukan bahwa putra-putranya dan rombongan sebentar lagi akan sampai; Karena gembiranya menjadikan sakitnya sembuh sama sekali; Ki Bayi Panurto dan istri sangat senang melihat anaknya Jayengrresmi dan Jayengraga beserta masing-masing istrinya diiringi banyak teman-teman dari Ki Bayi Panurta datang; Pada hari ketiga, Seh Amongraga, istrinya dan Seh Ragaresmi datang dari alam kasampurnaan ikut membicarakan berbagai ilmu kasampurnaan; Pada hari keempat para tamu pulang yang tinggal hanya Jayengresmi dan Jayengraga beserta masing-masing istrinya.
    Serat Centhini Jilid XII selesai sampai disini, ada tambahan berupa penutup yaitu yang dinamakan Serat Centhini Jalalen, kematian Ki Bayi Panurta dan keinginan Seh Amongraga dan istrinya untuk menurunkan raja.
    Serat Centhini Jalalen: Ada seorang ahli tapa dari negara Campa (note: mungkin Kerajaan Campa yang ada di daerah Vietnam/Kamboja) namanya Ki Jatiswara menjelajah tanah Jawa mencari adiknya bernama Ki Sejati; Ia mendapat wangsit agar bertemu dengan Seh Amongraga; Bertemu dan beradu ilmu dengan Seh Amongraga tapi kalah; Pergi ke Wanacandra ketemu Seh Ragamana berbicara ilmu; Anak perempuan Seh Ragamana bernama Ken Sakati jatuh hati kepada Ki Jatiswara yang menolak secara halus; Pergi ketemu Seh Baka disuruh bertapa ditepi samudra, disuruh mengambil permata di dalam gua, setelah melalui sembilan pintu gua baru didapat permatanya; Pulang ke negeri Campa, dijalan ketemu Ki Sejati adiknya yang tidak lain adalah Seh Ragaresmi murid Seh Amomgraga; Adiknya diajak pulang ke Campa untuk merebut kembali kerajaannnya yang dikuasai raja Prakolah; Akhirnya Jatiswara jadi raja dan Ki Sejati jadi patihnya di negara Campa.
    Meninggalnya Ki Bayi Panurta dan istri: Tidak berapa lama kemudian Ki Bayi Panurta jatuh sakit lagi; Seh Amograga dan istrinya sudah mengetahui bahwa saat wafatnya ayah bundanya sudah tidak lama lagi; Mereka berdua datang dan menyaksikan kedua orang tuanya Ki Bayi Panurta dan Nji Makarsih meninggal dunia pada saat hampir bersamaan; Sepeninggal Ki Bayi Panirta, Jayengrresmi dan Jayengraga menggantikan kedudukan ayahnya mengelola padepokan Wanamarta, Jayengresmi sebagai guru, Jayengraga mengatur tata-tertib desa.
    Reinkranasinya Seh Amongraga dan istri: Seh Amograga dan istri berkeinginan menurunkan raja; Mereka bertemu Sultan Agung dalam pertapaannya di bukit Telamaya; Setelah berdebat demi hasratnya agar bisa menurunkan raja, Seh Amongraga dan istri diminta menjelma menjadi “gendhon” (lundi – semacam ulat) dua ekor, lalu dibawa ke istana Mataram; Sultan Agung memanggil Permaisurinya, Kanjeng Ratu Pandhansari (adik Sultan Agung) dan suaminya Pangeran Pekik (Bupati Surabaya), minta bumbung (tabung bambu), bumbu dan anglo (alat memasak dengan arang). Lundi dikeluarkan dari bumbung, diberi bumbu dan dimasak kemudian dimakan oleh mereka berempat; Permaisuri kemudian hamil dan melahirkan seorang putra, Kanjeng Ratu Pandhansari melahirkan seorang putri, pada saat dewasa keduanya dinikahkan, putra Sultan Agung setelah dewasa menjadi Sultan Amangkurat I yang kurang bijaksana yang dikalahkan oleh pemberontakan Trunojoyo yang berakhir dengan kematiannya di Tegalarum jauh dari para leluhurnya, anaknya Adipati Anom lebih bijaksana yang pada akhirnya menjadi raja dengan gelar Sunan Amangkurat II; Melalui proses reinkarnasi, Seh Amograga dan istri ikut andil menurunkan raja-raja di Mataram (Wallahu Alam).
    Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-12 adalah:
    Cerita/Legenda: Cerita machluk halus di hutan Jembul; Cerita tentang Ki Jatiswara; Serat Wiwaha (Arjuna Wiwaha).
    Adat Istiadat: Candrasangkala beberapa Candi di Jawa; Keratabasa – makna huruf-huruf Jawa dalam nama seseorang; Dasanama – sepuluh sebutan nama-nama yang punya arti sama.
    Pengetahuan Spirituil/Agama: Hidup menemukan mati, mati menemukan hidup; Isbat dan
    Sifat; Kodrat dan Iradat (Wiradat); Hakekat sembah dan sukma.
    Serat Centhini Penutup
    Serat Centhini secara keseluruhan terdiri dari 722 pupuh, 31.837 tembang (bait), 3.467 halaman pada 12 jilid buku ukuran 15cm X 21cm. Tembang yang dipergunakan adalah: Asmaradana 64 kali – 3.117 tembang, Balabak 16 kali – 676 tembang, Dhandhanggula (Sarkara) 73 kali – 5.207 tembang, Dudukwuluh (Megatruh) 52 kali – 1.929 tembang, Durma 17 kali – 483 tembang, Gambuh 55 kali – 975 tembang, Girisa 30 kali – 897 tembang, Jurudemung 42 kali – 1.168 tembang, Kinanthi 65 kali – 3.505 tembang, Lonthang 9 kali – 470 tembang, Maskumambang 42 kali – 1.704 tembang, Mijil 46 kali – 2.563 tembang, Pangkur 40 kali – 1.469 tembang, Pucung 58 kali – 2.388 tembang, Salasir 12 kali – 522 tembang, Sinom 64 kali – 2.675 tembang, Wirangrong 37 kali – 1.089 tembang. Serat Centhini mungkin karya sastra terpanjang yang pernah ditulis oleh umat manusia diseluruh dunia.
    Secara keseluruhan, tidak ada kata lain bahwa memang Serat Centhini adalah suatu karya sastra Jawa yang luarbiasa, baik dari segi tatabahasa tembang Jawa yang indah maupun dari segi isinya yang terdiri dari rangkuman Budaya Jawa yang hidup pada abad ke-18, ilmu agama Islam maupun pengetahuan spirituil khas Jawa lainnya. Bisa merupakan sumber bahasan dari berbagai disiplin ilmu yang tidak akan ada habisnya.
    Serat Centhini dibuka pada Jilid-1, Pupuh 1, Tembang 1 (Sinom): Sri narpadmaja sudigbya, talatahing tanah Jawi, Surakarta Adiningrat, agnya ring kang wadu carik, Sutrasna kang kinanthi, mangun reh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, ingimpun tinrap kakawin, mrih kemba karaya dhangan kang miyarsa.
    Artinya: Sang putra mahkota, berwilayah tanah Jawa, Surakarta Adiningrat, memerintahkan jurutulis, Sutrasna yang dipercaya, mengumpulkan cerita lama, keseluruhan pengetahuan Jawa, digubah dalam bentuk tembang, agar mengenakkan dan menyenangkan yang mendengar.
    Sedangkan penutupannya pada Jilid-12, Pupuh 708, Tembang ke 672 (Dandanggula): Kadarpaning panggalih sang aji, kang jinumput wijanganing kata, tinaliti saturute, tetelane tinutur, titi tatas tataning gati, sakwehnung kang tinata, wus samya ingimpun, ala ayuning pakaryan, kawruh miwah ngelmuning kang lair bathin, winedhar mring para muda.
    Artinya: Didorong oleh keinginan Sang Raja, yang diambil makna kata-katanya, diteliti urutannya, nasehat yang disampaikan, teliti tuntas teratur maksud tujuannya, semua sudah diceritakan, semua sudah dikumpulkan, baik buruknya perbuatan, pengetahuan maupun ilmu lahir bathin, diuraikan buat para kawula muda.
    Pupuh 722, Tembang ke 55 (Asmaradana): Titi tamat ingkang tulis, telas ingkang cinarita, Seh Mongraga lalakone, kongsi amadeg narendra, kendhang tekeng pralaya, kran Sunan Tegalarum, pisah sumarenira.
    Artinya: Sudah tamat tulisannya, selesai ceritanya, riwayat Seh Amongraga, sampai menjadi raja, terusir meninggalnya, diberi nama Sunan Tegalarum, terpisah makamnya.
    Dari tembang pembukaan dan penutup, maksud dan tujuan penulisan Serat Centhini adalah untuk melestarikan Budaya atau Pengetahuan Jawa agar bisa jadi pelajaran buat generasi muda. Tapi sungguh disayangkan generasi muda saat ini tidak banyak yang tertarik untuk membaca karya sastra adiluhung ini, justru para peneliti asing yang tertarik mempelajari Serat Centhini.

    Serat Centhini juga mengandung hal-hal yang kontroversi dibandingkan nilai-nilai Budaya Jawa (Indonesia) yang berlaku saat ini, yaitu:

    1. Kandungan cerita tentang seksualitas: Walaupun Serat Centhini bercerita tentang perjalanan para santri, dalam mengungkap masalah seksualitas (bisa dikatakan beraliran “naturalis”) secara detil dan blak-blakan. Termasuk perilaku seks yang menyimpang yang memang hidup dalam masyarakat pada saat itu maupun ilmu yang berkaitan dengan seksualitas.
    2. Persaingan antara Budaya Kraton dan Budaya Pesantren: Setelah Sunan Giri dijatuhkan oleh Sultan Agung, budaya kraton dan budaya pesantren mengalami perkembangan yang terpisah.
    Ulama Islam saat itu ada yang bersikap akomodatif terhadap kerajaan dengan menjadi ulama dikalangan kraton. Ada juga yang mengambil sikap independen atau tidak mau tunduk dengan aturan kerajaan dengan mengembangkan budaya pesantren yang tertutup pada kalangan mereka sendiri tapi tidak menunjukkan perlawanan terhadap kerajaan.
    Serat Centini adalah cerita tentang para santri dari sudut pandang kerajaan (kraton). Seh Amongraga dan istri, setelah susah payah menimba ilmu agama Islam dan mencapai kesempurnaannya, pada akhir cerita tertarik untuk menjadi raja.
    Seolah-olah ingin mengatakan bahwa kekuasaan sebagai raja lebih bernilai dibandingkan dengan kesempurnaan ilmu agama. Kalau cerita ini hanya karangan maka makna sebenarnya dari penulisan Serat Centhin adalah ingin menegaskan dominasi kerajaan terhadap para ulama agama Islam. Akhirnya para ulamapun pada titik kesempurnaan agama masih tertarik pada kekuasaan untuk menjadi raja.
    Refleksi ini masih tergambar pada masyarakat Indonesia saat ini yaitu sikap ketertarikan para ulama (atau partai berhaluan Islam) untuk ikut partisipasi dalam kekuasaan negara.
    3. Penekanan pada ilmu tasauf: Penekanan ajaran agama Islam di Serat Centhini adalah limu tasauf yaitu suatu sikap berserah diri secara total kepada kehendak Allah SWT melalui tahapan pendalaman ilmu syariat, tarekat, hakekat, makrifat. Ini adalah ajaran agama Islam di Jawa berdasarkan warisan ajaran walisanga. Pengetahuan spriritual Jawa seperti Sastra Jendra Hadiningrat, sudah ada sejak sebelum kedatangan agama Islam. Ilmu tasauf dalam agama Islam menemukan kemiripan dengan pengetahuan sprituil Jawa yang sudah ada, oleh karena itu keduanya bertemu dalam sinkretisasi agama Islam di Jawa.
    Hal ini adalah kontroversi dengan apa yang umumnya diajarkan oleh ulama agama Islam di Indonesia saat ini yang sangat fokus pada ajaran syariat (bisa terhenti pada rutinitas ceremonial) yang malahan berakibat merosotnya nilai-nilai moral masyarakat pada umumnya
  8. blue kristal

    blue kristal Junior

    Joined:
    15 Aug 2008
    Pesan:
    92
    Likes Yg Diperoleh:
    0
  9. blue kristal

    blue kristal Junior

    Joined:
    15 Aug 2008
    Pesan:
    92
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    dijadikan satu donk supaya ga bingung yg baca
  10. rich___man

    rich___man Mania

    Joined:
    28 May 2009
    Pesan:
    508
    Likes Yg Diperoleh:
    92
    makasih infonya, kebetulan serat ini lagi saya cari buat tambahan literatur. Cuma sekedar nambahin aja, kalau bisa tiap paragraph dikasih jeda 1 enter jadi bacanya gampang
  11. bigdim1988

    bigdim1988 Addict

    Joined:
    6 Jan 2010
    Pesan:
    1.737
    Likes Yg Diperoleh:
    273
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    Puyengg bacanya, gak rampung satu hari :(
  12. joe purwono

    joe purwono Enthusiast

    Joined:
    17 Nov 2006
    Pesan:
    270
    Likes Yg Diperoleh:
    53
    makasih atas masukan semuanya bro nanti diperhatika lagi....
  13. Revolusi1945

    Revolusi1945 Enthusiast

    Joined:
    11 Jul 2010
    Pesan:
    323
    Likes Yg Diperoleh:
    37
    menambah pengetahuan ane nih brader, nice share :)

Share This Page

Something Useful About Us