Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Ririn Istri Tetanggaku yang Cantik

Diskusi di 'Karangan Sendiri' dimulai oleh kecoak_gaul, 14 May 2009.

  1. kecoak_gaul
    Offline

    kecoak_gaul Junior

    Joined:
    11 May 2009
    Pesan:
    2
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    Aku punya tetangga yang mempunyai seorang istri cantik sebut saja namanya Ririn. Aku sering bertemu dengan Ririn karena tempat kostku berada tepat dibelakang rumah mereka. Ririn adalah seorang istri yang pendiam tapi diluar itu aku seorang yang cukup menawan. Dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang lurusnya dipadukan dengan tinggi badan dan bentuk body yang aduhai. Ririn yang belum setahun menikah dan belum mempunyai anak itu berumur 23 tahun.
    “Hai Rin!”sapaku saat bertemu didepan rumahnya. Maklum aku sering lewat depan rumah mereka. “Eh, hai Rin! “Suamimu mana?” tanyaku. “Lagi keluar kota Mas”, jawabnya. Saat itu memang suaminya sedang pergi keluar kota untuk urusan kantor selama seminggu dan dirumah hanya ada istrinya saja yang tinggal.

    Kebetulan pikirku, toh selama ini aku cuma bisa curi-curi pandang menahan hasrat. “Oh…. Kamu sendiri dirumah yah, kataku basa-basi. “Gila…”pikirku saat aku melihat Ririn begitu cantik dan lekuk tubuhnya yang menawan. Buah dadanya mencuat keatas seperti jarang dijamah. Istri tetanggaku ini memang luar biasa betul. Kulihat Ririn agak risih ketika aku hendak mampir kedalam rumah mengingat sudah agak malam dan suaminya tak dirumah tapi terlihat sungkan untuk menolak ketika aku beralasan mau memakai PC dirumahnya untuk buat laporan mendesak dan laptopku sedang rusak. Rumah mereka adalah type kecil yang hanya mempunyai satu kamar tidur maka PC tersebut ditaruh dikamar tidur mereka.

    Pada awalnya Ririn tidak enak berada sekamar denganku tapi ketika kudesak agar menemaniku akhirnya aku mau juga duduk disisi ranjang. Sembari pura-pura mengerjakan laporan, aku sengaja melirik-lirik kearah dadanya dan benar saja akhirnya aku melihat payudara berbalut bra warna kuning dari sela-sela kausnya. “Ehm…. Suami kamu beruntung yah bisa punya istri kayak kamu.”kataku padanya. “Hah?? Beruntung gimana maksudmu?” tanyanya penuh selidik. “Yah beruntung, dapat cewek cantik dan berbody aduhai kayak kamu.”lanjutku. Kata-kataku ternyata dapat membuat telinganya merah padam juga wajahnya karena malu. “Ah..kamu ini bisa aja…” Ririn tersipu malu. “Memang wajahku ini cantik apa? Lagipula tubuhku juga gak bagus-bagus amat kok.”sahutnya lagi. Aku hanya tertawa kecil dan mendekatinya, sambil duduk disampingnya aku berkata, ”Siapa bilang tubuhmu nggak bagus? Jujur saja kalau aku suamimu aku tak akan biarin kamu meninggalkan kamar ini walau sedetik.”kataku lagi. Mendengar semua itu wajahnya tambah merona karena malu. “Kamu ini muji atau apa sich…”tanyanya lagi. Langsung aku memandang Ririn dan secara tak sengaja mata kamipun bertautan.

    Entah setan mana yang membuat aku dan aku lupa diri karena tahu-tahu bibir kami berdua sudah bersentuhan. Aku mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan sedangkan Ririn juga membalasnya dengan pagutan yang tak kalah hebat. “Hebat cewek ini, ciumannya maut…”kataku dalam hati. Selama ini mungkin ciuman Ririn lah yang paling hebat dari semua cewek yang pernah kucium. Sambil terus melakukan French Kiss dengan Ririn, tangankupun menjelajah tanpa batas lagi. Kuremas buah dadanya yang masih berbalut kaus dan bra itu.

    Tak perlu lama-lama akhirnya seluruh baju Ririn sudah aku preteli, sambil aku mencumbu leher dan telinganya. Sekarang aku sudah telanjang bulat didepanku.
    “Mas……ini salah Mas. Aku sudah punya suami, lagipula gimana kalau ada yang tau perbuatan kita barusan?”. Aku takut Mas.”kata Ririn lirih.

    “Sudahlah tak akan ada yang tau Rin.” hiburku. Lalu kulepas juga seluruh pakaianku dan mulailah pergumulan kami di ranjang. “Ahhhh…..ochhhh…”desahnya setiap kali aku meremas buah dadanya dan menciumi puting payudaranya itu. Tangannya aku tuntun menggapai batang kemaluanku yang sudah membesar dari tadi karena menahan nafsu. “Mas punyamu kok gede banget.” katanya polos. Aku hanya tersenyum saja saat aku berkata itu dan dengan perlahan tapi pasti aku membimbing penisku itu kearah bibir vagina Ririn yang sudah sangat basah. “Baru juga bentuknya Rin, belum kemampuannya. Ntar kalau sudah tau rasanya bakalan minta terus lho.”selorohku. “Mas jangan…aku nggak mau mengkhianati suamiku.” katanya berusaha menolakku. Tapi apa daya, nafsu mengalahkan logika. Sekali dorong penisku sudah masuk setengah kedalam vagina Ririn. “Ahhhhhh….Masss….sakitt…….”rintihnya. Tak kupedulikan lagi toh tinggal separuh jalan. Dan bleshhhh, masuk sudah semua penisku kedalam vaginanya. “Ahhhh….Mas….aku……ahhh” katanya terbata-bata. Kumulai goyangan pinggulku dengan gerakan maju mundur yang semakin lama semakin cepat durasinya. “Ohhh…..ahhh……ohhh…..ahhh…….ahhh…” desah Ririn. Dengan bantuan cairan kewanitaan, gerakanku terasa lebih leluasa dari tadi. “Rin, memekmu bener-bener legit. Ternyata selain cantik kamu juga berpotensi besar dalam urusan ranjang.” selaku. Dia hanya terdiam tersipu sambil menahan sejuta rasa nikmat dan keperihan di liang kewanitaannya yang sekarang sedang dijarah batang kekemaluanku.


    Setelah kurang lebih dua puluh menit berlangsung acara persetubuhan itu, akhirnya aku merasakan akan segera keluar. “Rin…aku keluar nih. Keluarin di dalam yah….?” kataku lagi sambil mempercepat genjotanku. “Jangan Mas, ntar aku hamil ama kamu …..” pinta Ririn tapi sudah terlambat, aku segera mengejang dan memeluk aku sangat erat saat muntahan spermaku keluar dari ujung penisku dan membasahi seluruh liang vagina Ririn. “Ohh……..Rin……ahhhhhh…”desahku sementara Ririn hanya terpejam matanya sambil setengah menangis.

    Usai pergulatan itu, Ririn menyambar pakaiannya dan setengah berlari keluar kamar dan buru-buru kebelakang masuk kamar mandi. Lama tak keluar dari kamar mandi, aku menyusul masuk kedalam, kulihat Ririn sudah mengenakan pakaiannya dan terduduk disudut dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Sambil terisak-isak aku memintaku untuk pergi tapi sebelumnya aku memohon padaku supaya tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Aku sih setuju saja asal aku tidak kapok melayaniku dan malam ini permainan dilanjutkan lagi karena aku belum puas. Mendengar persyaratanku aku terlihat gusar tapi hanya bisa tertunduk diam. “Kamu jahat … jahat” katanya bergetar ketika aku mulai menciuminya lagi tapi aku tak terlalu peduli lagi. Bibirnya aku kulum, selang beberapa lama mempermainkan lidahku didalam mulutnya, Ririn berusaha mendorongku, mungkin merasa dilecehkan karena aku benar-benar bernafsu tanpa peduli dengan perasaannya.

    “Mas … tolong tinggalkan aku … tolong mengerti … aku mohonnnn” pintanya pelan. “Aku bingung … takut” lanjutnya lagi. “Okey Rin, aku akan biarkan kamu sendiri dulu … aku akan pulang tapi tunggu agak tengah malam biar ga ada yang liat, aku mau menyelinap lewat belakang”. Sebenarnya aku tau waktu itu sudah pukul 22.45 dan sudah tak mungkin ada yang lihat kalau aku menyelinap lewat belakang karena posisinya pas gang sepi disamping kost’an ku tapi aku cuma cari-cari alasan dulu biar bisa menikmati tubuh Ririn lagi. “Rin … aku mengerti perasaanmu tapi kamu harus ngerti juga dengan keinginanku” kataku sekenanya. “Maksud kamu ..?” Ririn terlihat gusar. “Maksud aku .. aku baru mau pergi setelah kamu melayani aku sekali lagi.” Lanjutku.
    “Gila kamu, ga berperasaan sama sekali” sesegukan Ririn mulai menangis, mungkin menyesal telah berbuat mesum denganku. “Terserah kamu kalau ga mau … aku akan tetap disini sampai besok pagi biar semua orang tau kalau kamu sudah selingkuh, tak ada ruginya buatku paling pindah kost abis perkara” ancamku.

    Tak ada pilihan, akhirnya Ririn mau melayaniku lagi. Setelah berada didalam kamar lagi dan sama-sama telanjang … aku suruh Ririn berlutut dihadapanku dan batang kemaluanku yang sudah keras aku sodorkan kemulutnya. “Isep kontolku Rin” perintahku. Ririn memalingkan wajahnya mencoba menolak “jangan, aku ga mau … sama suamikupun aku belum pernah” elaknya. Sedikit memaksa akhirnya bibirnya terbuka sedikit demi sedikit dan dengan perlahan batang kemaluanku mulai masuk kedalam rongga mulutnya. Perlahan-lahan aku maju-mundurkan seolah-olah sedang bercinta dengan mulut Ririn. Entah berapa lama Ririn mengoralku yang walaupun belum mahir tapi kuluman bibirnya terasa begitu hangat dan lembut dibatang kemaluanku.

    Ririn hanya mengangguk pelan ketika kusuruh berbaring diranjang, lalu aku lebarkan kedua pahanya dan dengan dua jari aku membuka bibir vaginanya. Dengan cepat aku mengarahkan batang kemaluanku kearah bibir vaginanya yang sudah membuka itu. Aku memasukkan batang kemaluanku semakin dalam menembus rongga liang kewanitaannya. “Mas…akhhh…” desahnya nyaris tak karuan ketika seluruh batang kemaluanku masuk kedalam liang vaginanya dengan sempurna. Setiap kali pula ciumanku mendarat di leher atau payudaranya yang tak lepas dari jamahan tangannya. Ririn mungkin tidak pernah membayangkan bahwa aku bebas menjarah vaginanya dengan batang kemaluanku bahkan dirumahnya sendiri. “Aku cepetin sekarang yah?” ucapku sambil mempercepat sodokan penisku. Sambil kedua tungkai kakinya kuangkat, sekarang aku memompa penisku secara vertikal sehingga membuat tusukannya semakin dalam. Kedua lututku sampai menyentuh payudaranya seiring dengan semakin buasnya sodokan batang penisku diliang vaginanya. Desahan demi desahan menghiasi persetubuhan kami ini bahkan aku mungkin sudah tidak peduli lagi jika ada yang melihat perselingkuhan kami ini. “Rin, kamu benar-benar menggairahkan… aku sayang kamu Rin.” Ucapku sambil terus mempercepat genjotannya atas tubuhnya.

    Sebelum ejakulasi aku cabut batang kemaluanku dari vaginanya, sambil duduk mengangkang diatas dadanya dan merasakan empuknya “jok” payudara Ririn kusorongkan batang kemaluanku kemulutnya. “Diisep aja sampe keluar, Rin” kemudian aku minta Ririn menciumi batang kemaluanku sambil terus mengusap-usapkan ujung kemaluanku yang seperti topi baja tentara itu ke pipi dan lehernya. Ketika sudah tidak sabar lagi aku lalu meminta, …"Emutin Rin." Langsung kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan diemut-emutnya. "Rin sambil diemutin di dalam mulut dijilatin juga dong. Terus sekali-kali jilatin juga di luar mulut." Instruksiku mengingat Ririn belum berpengalaman. Ada perasaan senang di hatiku karena Ririn menuruti perintahku mungkin aku ingin cepat-cepat menyudahi permainan ini. Setiap kali aku menyuruhnya ini dan itu nafsuku semakin naik saja dan tak pernah ingin menyudahinya. Seakan paham dengan jalan pikiranku, sempat juga Ririn bertanya ragu ingin tahu, "Mas, kapan selesainya aku udah capek, udah malem … tolonglah Mas”. “Kalau mau cepet improvisasi dong biar cepet keluar” sekenaku. Lalu Ririn meningkatkan jilatannya. Bukan hanya batang kemaluanku yang dijilati, tapi juga kantong buah pelir, selangkangan dan pahaku. "Rin, jago juga ya main mulutnya." Ledekku.
    "Rin, aku keluarin dimulut kamu ya?" Mungkin karena takut menolakku, Ririn hanya mengangguk pelan. Kusuruh Ririn membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan lidahnya … ujung penisku aku tempelkan dilidah Ririn. “Rin’ kocokin kontolku dong” pintaku. Ririn mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan sebelah tangannya … dan dan rasa berdenyut mulai keras terasa … dan sambil tetap menggenggam batang kemaluanku didepan wajahnya, spermaku menyembur dengan deras kedalam rongga mulutnya dan sebagian membasahi pipi dan dagunya. “Rin, telen .. jangan dibuang!” perintahku. Walau sempat menggeleng ga mau tapi Ririn mau juga menelan cairan sperma yang memenuhi rongga mulutnya.

    Kulihat dia mulai mual seperti mau muntah tapi karena aku masih duduk diatas tubuhnya aku hanya bisa tetap berbaring sedikit tak berdaya. Kulirik jam didinding sudah hampir jam 2 subuh. “Rin, aku balik dulu tapi besok malam kita lanjutkan lagi, kamu mau?” pancingku. “Mas, sebaiknya jangan diteruskan aku takut nant … “ belum sempat Ririn melanjutkan kata-katanya mulutnya aku bekap dan kubisikkan kalimat sedikit mengancam ditelinganya .. “Awas, kalau kamu menolak, semua orang akan tau perbuatan ini, ngerti!!!” Ririn terdiam dan kembali mengangguk pelan.

    Keesokan harinya …

    Menjelang siang, kutelpon Ririn ke nomer HP-nya dan agak lama baru diangkat mungkin aku masih ragu-ragu menerima telpon dariku. “Kok lama sih ngangkatnya?!” hardikku. “Sudah cepetan kesini aku tunggu!” perintahku lagi sambil menyebutkan sebuah alamat. Sengaja aku cari tempat yang lain agar lebih leluasa dan aman. Kebetulan lumayan jauh dari tempat tinggal kami diluar kota ada bungalow yang bisa disewa dan harganya relative murah karena tidak terlalu mewah tapi lumayan dan memang biasa dipake berkencan atau berselingkuh bahkan banyak wanita panggilan yang melayani tamunya ditempat ini karena lokasinya cukup tersembunyi.

    Dua jam kemudian Ririn tiba, kulihat wajahnya sedikit pucat dan matanya bengkak seperti kurang tidur. “Kamu knapa?” tanyaku. Sebenarnya Ririn sangat takut dengan apa yang telah dilakukannya denganku, semalaman katanya tak bisa memejamkan mata karena takut dan rasa bersalah kepada suaminya dan memohon kepadaku agar perbuatan ini jangan lagi diteruskan. Ririn terlihat lemas mungkin sedang sakit, kuraba tengkuknya dan dahinya memang agak panas dan dari Rona wajahnya terlihat jelas Ririn sedang tertekan dan ketakutan. “Trus gimana dong, aku dah nafsu perlu pelampiasan” kejarku lagi seolah-olah tak mau mengerti.

    Ririn benar-benar terpojok tak tau harus gimana. Aku memang sengaja mengerjainya. “Pokoknya aku ga mau tau, kamu harus melayaniku atau semua orang akan tau!”, kataku. Ririn terlihat terhenyak. “Kamu pasrah aja … pokoknya layani aku sekarang” kataku sambil menarik tangannya kedalam kamar. Didalam kamar Ririn berdiri sempoyongan, tubuhnya sedikit gemetar mungkin aku memang sedang benar-benar tak enak badan atau sakit tapi sudahlah Aku tak ingin memperdulikannya walaupun sedikit ada rasa kasian juga. Kusuruh Ririn ke kamar mandi dulu membersihkan badannya karena sedikit berkeringat.

    Setelah mandi Ririn pasrah kubaringkan diatas ranjang dalam keadaan telanjang dan membiarkan batang kemaluanku memasuki liang vaginanya dan sesaat kemudian aku agak mengerang kesakitan saat liang vaginanya tertembus oleh batang penisku. Tubuhnya terasa dingin ketika kutindih dan tampaknya aku mulai menangis saat aku memompa liang vaginanya.
    Walaupun aku sudah pernah meyetubuhinya kemarin malam kulihat Ririn benar-benar seperti tersiksa melayaniku. Aku remas kedua payudaranya dengan gemas, seolah melampiaskan segala nafsuku yang tak kesampaian untuk menikmati tubuhnya sejak dulu. Sedangkan Ririn hanya bisa terus menggeliat kesakitan. “Rin… punyamu enaak”, erangku sambil terus menggenjotnya.

    Ririn hanya bisa merelakan liang vaginanya ditembusi oleh laki laki lain yang mungkin mulai dibencinya tapi aku memang sudah kesetanan. Aku mencumbunya dengan sangat bernafsu. Bibirnya aku lumat dengan ganas, sementara kedua payudaranya aku remas-remas dengan kuat sambil terus memompa liang vaginanya dengan gencar. “Oh Rin … kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desahku.

    Aku lihat Ririn makin menderita dalam kenikmatan ini, mungkin dia merasakan harga dirinya telah hilang, sementara aku dengan kejam terus memompa liang vaginanya. Kedua puting susunya aku kulum dan menyedoti dengan kuat. Ketika aku menyedot puting susunya sambil meremasi payudaranya Ririn sedikit menggeliat kesakitan tapi aku terus melakukannya sampai puas sementara Ririn hanya bisa menggigil menahan sakit.

    Kurasakan penisnya berdenyut keras di dalam sana, segera aku cabut batang penisku dari liang vagina Ririn dan menempelkan penisku ke mulutnya. “Rin, ayo kulum”, perintahku. Ririn hanya bisa menurut, toh sudah tak ada gunanya lagi aku membantah. Perlahan Ririn membuka mulutnya dan batang penisku yang masih belepotan cairan vagina menerjang masuk ke dalam mulutnya. Rasa asin mungkin membuatnya ingin muntah. Ririn terus mengulum penisku dan akhirnya aku yang sudah tak tahan mengerang panjang dan menyemprotkan sperma dimulutnya dan memaksa Ririn menelannya. Kemudian aku suruh Ririn menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dibatang penisku sampai bersih.

    Setelah memberinya kesempatan beristirahat selama setengah jam, hasratku kembali naik dan kali ini aku ingin melakukan “deepthroat” pada Ririn. Ketika itu aku utarakan kepadanya, Ririn agak shock terlebih dengan kondisi tubuh yang benar-benar telah lemah. “Mas, aku mohon jangan sakiti aku …” katanya dengan menghiba dengan suara parau dan berlinang air mata. “Gimana ya, aku sebenarnya kasian dengan kamu tapi mau gimana lagi kontolku dah ngaceng nih” jawabku tanpa perasaan. Ririn sempat memandangku seolah tak percaya bahwa aku akan setega itu dengannya. “Besok aku antar kamu ke dokter tapi sekarang kamu turuti semua keinginanku, awas kalau ga mau!” ancamku.

    Ririn aku bawa keruang tamu agar lebih lapang. Setelah menggeser meja dan kursi yang ada disana tanpa perlawanan tubuh Ririn aku rebahkan diatas lantai. Sebagai pemanasan aku menduduki tubuhnya dan meletakkan batang penisku diantara kedua payudaranya lalu Ririn aku suruh mendempetkan kedua payudaranya sehingga batang penisku terjepit ditengah-tengahnya. Aku merasakan betapa empuknya payudara Ririn dan mulai memaju-mundurkan penisku beberapa lama. Selang kemudian dengan posisi mengangkangi kepalanya aku memasukkan batang penisku dalam-dalam kedalam mulutnya sampai bibirnya menyentuh kantong pelirku. Ririn kulihat tersedak dan tangannya berusaha mendorong tubuhku tapi karena kepalanya aku tekan kuat-kuat usahanya jadi sia-sia dan batang kemaluanku tetap tertancap berusaha menembus tenggorokannya. Ririn mulai menggelepar menahan sakit dan mungkin mulai kehabisan nafas, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
    Ririn terbatuk-batuk ketika batang penisku aku tarik dan memberinya kesempatan untuk bernafas sebentar. Tak lama setelah itu, berulang kali aku menghujam-hujamkan batang penisku kedalam mulutnya dalam-dalam dengan cepat bahkan sesekali aku tahan bebrapa saat sampai Ririn terlihat kehabisan nafas. Entah berapa kali sudah Ririn terbatuk-batuk, tersedak dan mungkin menahan perih ketika ujung penisku menyentuh tenggorokannya sampai tak terasa setengah jam sudah aku melakukan “deepthroat” kepadanya.

    “Rin, kita coba yang lebih asik ya”. Kataku kemudian. Ririn ketakutan ketika aku mengutarakan niatku untuk melakukan “anal sex” padanya tapi tak berdaya untuk menolaknya. Aku membalikkan tubuh lalu menempelkan kepala penisku ke lubang anus Ririn. Aku langsung mendorong batang penisku masuk, lobang anus Ririn perlahan membuka, dan perlahan pula kepala penisku masuk. Ririn merasakan sakit yang tak terkira, anusnya terasa panas. Ia memekik tertahan dan berusaha menarik pantatnya. "Jangaaaaaan! hentikan! Jangan masukin! Sakit sekali! Nggak tahan, sakiiiiit! Ampuuuuun!" jerit Ririn. "Ampun, aku mohoon!" Sambil tertawa Aku sekarang menggunakan berat tubuhnya mendorong penisnya agar masuk semua ke dalam anus Ririn. Ririn benar-benar kesakitan. Anusnya serasa robek dan ia mungkin dapat merasakan setiap urat dan otot dari penisku setiap kali penis itu masuk sedikit demi sedikit masuk ke anusnya. Ririn berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Sudah sepertiga batang penisku yang masuk ke dalam anus Ririn ketika aku berhenti dan bertanya, "Gimana? kamu suka nggak Rin? Enak kan? "Nggak, sakit sekali!" "Kalo gitu, gimana kalo yang ini?!" Aku berkata sambil medorong keras-keras hingga sekarang seluruh penisnya masuk ke dalam anus Ririn. "Ya Tuhan, ampun! hentikan, sakit! Nggak kuat! Keluarin! Ampun, saya mohon Mas! Ampun!" mohon Ririn sambil menangis pilu. "Oh, kamu mau aku keluarin, oke aku keluarin" Aku lalu menarik penisnya keluar pelan-pelan. Ririn pun kembali merasakan sakit, tangannya mengepal menahan sakit ketika penis Aku bergesekan dengan dinding anusnya. "Gimana udah mendingan sekarang?" ledekku ketika penisnya hampir keluar semua. Hanya tinggal kepalanya saya yang masih masuk. "Iya Mas, iya Mas" jawab Ririn sambil melemaskan diri setelah mengejang menahan sakit tadi. "Tapi keluarin semua, saya mohon!"

    "Ups, sori sayang nggak bisa tuh!" Aku langsung mendorong penisnya masuk kembali ke dalam anus Ririn. Dan sekali ini dengan cepat dan keras. Sekali lagi Ririn menjerit keras, Ririn sudah hampir pingsan. Ririn hanya bisa merintih dan mengerang mengiringi gerakan penisku yang benar-benar keras dan cepat. Dan melihat itu aku semakin senang. Aku sangat menikmati ketidak berdayaan tubuh Ririn yang sekarang mengkilat basah karena keringat. Tubuh Ririn seakan terpaku di lantai aku tindih dan terhentak-hentak. Ririn cuma memohon agar Aku berhenti menyakiti anusnya dan tak kuperdulikan sampai aku merasakan ada yang mau keluar.

    Tubuh Ririn aku balikkan lagi dan mencekoki mulutnya dengan batang kemaluanku. Walau Ririn berusaha mengelak tapi dengan kondisi badan yang lemah dengan mudah aku membenamkan batang penisku itu kemulut Ririn. Nampak Ririn seperti akan muntah, karena mulutnya merasakan batang kemaluanku yang masih basah oleh cairan dari anusnya. Setelah itu aku kembali memopakan batang kemaluanku didalam rongga mulut Ririn, wajah Ririn memerah jadinya, sesekali aku terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Aku dengan santainya terus memompakan keluar masuk didalam mulut Ririn, sesekali juga dengan gerakan memutar-mutar. "Aahhhh....", sambil memejamkan mata aku merasakan kembali kenikmatan di batang kemaluanku itu mengalir kesekujur tubuh.
    Rasa dingin, basah dan geli aku rasakan di batang kemaluanku dan akhirnya, "Oouuuuhhhh...Ririinn ...sayanggg... ..", Aku mendesah panjang ketika kembali batang kemaluanku berejakulasi yang dimulut Ririn. Dengan terbatuk-batuk Ririn menerimanya, walau sperma yang aku muntahkan jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Ririn hingga meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan sperma aku mencabut batang kemaluan dari mulut Ririn, dan Ririnpun langsung muntah-muntah dan batuk-batuk aku nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu namun sebagian besar sperma tadi telah mengalir masuk ketenggorokannya.

    Saat ini wajah Ririn sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya. Dengan wajah puas sambil menarik tangannya kekamar dan menghempaskan keranjang akupun menyeringai melihat Ririn yang masih terbatuk-batuk. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan kembali tenagaku. Sementara itu tubuh Ririn meringkuk dikasur sambil terisak-isak.


    Waktupun berlalu, kulihat tubuh telanjang Ririn tergolek lemah dihadapanku, kemaluannya nampak membengkak. Setelah setengah jam lamanya aku bersitirahat, kini aku bangkit mendekati tubuh Ririn. Sejenak Aku mengagumi keindahan tubuh Ririn, kulitnya putih bersih, pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan Ririn. Tubuh Ririn nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali tergetar menantikan apa yang akan terjadi terhadap dirinya.

    Sementara itu diluar tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, udara dingin mulai masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu. Udara dingin itulah yang kembali membangkitkan nafsu birahi Aku. Setelah hampir sejam lamanya memberi istirahat kepada batang kemaluanku kini batang kemaluanku kembali menegang tapi aku perlu makan malam dulu biar ada tenaga. Setelah mandi aku keluar mencari makanan diwarung makan tak jauh dari bungalow itu, Ririn aku suruh juga mandi dan berdandan secantik mungkin sekembalinya aku nanti. Sengaja Ririn aku biarkan sedikit kelaparan sendirian, aku memang berniat mengerjainya secara psikis dan fisik.

    Setelah cukup tenaga aku lanjutkan lagi permainan setibanya di bungalow itu tapi Ririn yang sudah terlihat agak segar dan cantik tapi kelelahan diwajahnya terlihat jelas. Kuhampiri Ririn, “Kamu masih sanggup melayaniku sayang" tanyaku sambil melepas pakaianku hingga telanjang didepannya “ampuunnn Mas...udah dong.... aku minta ampunn Mas...oohhh....", Ririn nampak memelas memohon-mohon kepada Aku. Aku hanya tersenyum saja mendengar itu semua, Aku mulai meraih badan Ririn dan mempreteli pakaian yang dikenakan sampai telanjang. Kini aku balikkan tubuh telanjang Ririn hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu aku tarik tubuhnya hingga ditepi tempat tidur, sehingga kedua lutut Ririn menyentuh lantai sementara dadanya masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur.

    Akupun berada dibelakang Ririn dengan posisi menghadap punggung Ririn. Setelah itu kembali aku rentangkan kedua kaki Ririn selebar bahu dan "Aaaaaaaaakkkkhh.........", Ririn melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Aku menanamkan batang kemaluanku didalam lobang anus Ririn. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, kembali aku berhasil menanamkan batang kemaluanku didalam lobang anus Ririn.
    Setelah itu tubuh Ririnpun kembali aku sodok-sodok, kedua tanganku meraih payudara Ririn serta meremas-remasnya dengan keras. Setengah jam lamnya Aku menyodomi Ririn, waktu yang lama bagi Ririn yang semakin tersiksa itu. "Eegghhh....aakkhhh....oohhh...", dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok- sodok Ririn merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tanganku. Setelah puas menyodominya aku cabut batang kemaluanku dari lobang anus Ririn dan aku balik tubuh Ririn itu hingga kini posisinya terlentang. Secepat kilat pula aku yang kini berada diatas tubuh Ririn menghujamkan batang kemaluanku kembali didalam vagina Ririn. "Oouuffffhhh......", Ririn merintih dikala Aku menanamkan batang kemaluannya itu. Bebrapa lama aku memompa batang kemaluanku didalam liang vaginanya kembali batang penisku terasa akan memuntahkan sperma. “Rin, telen lagi ya?” bisikku menggoda ditelinga Ririn. Sambil mengocok batang penisku, ujungnya aku masukkan kemulut Ririn dan crooot kembali penisku memuntahkan sperma memenuhi rongga rongga mulutnya dan Ririn berusaha menelannya tanpa sisa dan tiba-tiba pingsan.

    Beberapa saat tak sadarkan diri, tubuhnya aku guncang-guncang. Ada sedikit rasa cemas, jangan-jangan tapi ah … kecemasan itu hilang tatkala aku melihat tubuhnya mulai mennggeliat walaupun lemah sekali dan aku mulai membuka matanya. “Oke Rin, aku kasian sama kamu … ini yang terakhir, aku masih ingin melakukan sesuatu sama kamu”. bisikku ditelinganya sambil menciumi pipi dan bibirnya. “Kamu mau khan?” tanyaku basa-basi. Aku tak tau apa yang ada dibenaknya tapi aku hanya menatap lemah kepadaku.

    Lalu Ririn aku tarik turun dan berlutut dilantai kamar. Aku menyodorkan batang penisku yang kembali tegak kewajahnya dan menyuruh Ririn mencium dan mengocok dengan tangannya. Lalu pelan pelan aku cium batang penisku sambil dikocoknya perlahan hingga aku mendesah. "Aahh iyah Rin isep ****** aku … ooh, enak sekali". Dan Ririn pun perlahan mulai mengulum dan menjilati kepala penisku hingga batangnya dan mengulumnya lagi, lalu tiba tiba aku menjambak rambut Ririn dan berkata.. "Yah Rin, begitu caranya jilatin terus, jilat pelernya juga donk!". Gila, saat ini aku tak hanya berhasrat untuk menyetubuhinya tapi sekaligus melakukan “sexual abuse” kepadanya.

    Kemudian aku menjambak rambut Ririn dan memaksa Ririn untuk menjilat biji pelirnya. Lalu Ririn menjilat dan mengulum biji pelernya sambil mengocok batang penisku. Lalu aku menjambak dan memasukkan seluruh batang penisku ke dalam mulut Ririn sampai Ririn hampir muntah setiap kali aku menyodokkan penisnya ke dalam mulut Ririn. Sambil menjambak Rambut Ririn aku meracau … "Nih, aku entot mulut kamu, aku entot ampe tenggorokan kamu, ahh mulut kamu memang enak,". Tak ada pilihan bagi Ririn kecuali menuruti dan membiarkan aku melakukan apa saja kepadanya, mungkin dia sadar tak ada berdaya menolak. Akupun semakin gila, menghujamkan batang penisku kemulutnya dengan kasar, seringkali Ririn hampir muntah karena batang penisku masuk terlalu dalam.

    Kemudian aku mengeluarkan batang penisku lalu dengan menjambak kasar rambutnya aku menampar-namparkan batang penisku ke muka Ririn, lalu dengan rambutnya aku mengelap penisku. Seterusnya aku duduk di atas ranjang dengan kaki diangkat ke atas, aku menjambak rambut Ririn lalu kudekatkan muka dan hidung Ririn ke daerah anus.


    "Rin, jilatin juga lobang pantatku" perintahku. Dengan ragu-ragu, perlahan Ririn menjilatinya. Ririn bukan hanya kupaksa menjilat lubang anusku tapi juga menyedot-nyedotnya. Ririn berusaha menuruti kemauanku, lidahnya berputar-putar menyapu lobang anusku. Kenikmatan yang luar biasa. Ketika Ririn sedang menjilati lobang pantatku.

    Kemudian aku mengangkat Ririn keatas ranjang dan dengan cepat aku memasukkan batang penisku ke dalam vagina Ririn, lalu dengan keras menyodok-nyodokkan seluruh batang penisku ke dalam vagina Ririn hingga Ririn terlihat kesakitan, mungkin vaginanya mulai terasa perih.

    Tak lama terdengar rintihan Ririn yang cukup menyayat, "Aahh aku tah tahan Mas … sakiiittt, ampuunnn” Lalu aku membalikkan tubuh Ririn dengan posisi menungging sambil berkata, "Udah tahan aja aku mau nyobain pantat kamu lagi, kataku. " Jangan mas, jangan please jangan donkk, pleasee!" rintihnya. Tanpa menghiraukan permohonannya, aku lalu mengambil dan dengan cepat batang penisku ke lubang pantat Ririn. Aku semakin ketagihan melakukan “anal sex” jadinya.

    "Aah perih.. mas perihh, sakitt, ahh udah mas udah aku bisa mati mas.." "Tenang sayang! Sebentar lagi pasti akan terasa enak!" dan lama kelamaan Ririn tak lagi berusaha menolak dan membiarkan aku mengerjai pantatnya. "Sayang aku mau keluar nih, aah gila, enak banget pantat kamu, aah.." Setelah merubah posisi, lalu Ririn aku berjongkok didepanku dan mengocok dan mengulum batang penisku. "Ahh aku keluar nih Rin!”. Cairan sperma menghambur keluar dari penis aku menyemprot wajah Ririn. Kemudian sprema yang melumuri aku usapkan keseluruh wajahnya dan sperma yang berceceran dilantai aku paksa Ririn menjilatnya sampai bersih. "Kamu memang wanita paling enak yang aku entot ….." kataku.

    Sambil melewati waktu payudara Ririn yang begitu putih dan mulus, sampai-sampai pembuluh darahnya yang biru kehijauan terlihat di balik kulitnya itu aku remas-remas. Bergantian kiri dan kanan aku meremasnya. Tak satupun terlewatkan memilin-milin dan menarik-narik putingnya. Bahkan, akupun menjilati dan mengulum daging kenyal itu. Ririn menggigit bibir dan memejamkan matanya dan berusaha menahan sakit. Tak sadar puting payudaranya aku gigit agak keras. Ririn hanya merintih-rintih kesakitan karena aku melakukannya dengan kasar dan keras.

    Air mata Ririn mengalir deras membasahi pipinya, kedua matanyapun bengkak kemerahan. Wajahnya kini terlihat sangat memilukan diantara penyiksaan yang aku lakukan tapi penderitaan Ririn semakin membakar birahiku untuk terus melanjutkan permainan ini sampai pagi tapi apa daya aku mulai diserang rasa ngantuk dan sedikit lelah dan tertidur disamping Ririn.

    ---To be Continued--
  2. mobil tua
    Offline

    mobil tua Junior

    Joined:
    7 Feb 2007
    Pesan:
    42
    Likes Yg Diperoleh:
    5
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    sikaaattttt, hajarrrr broo... bagi2 sama teman jika diperlukan!!!
  3. cakep_bo2002
    Offline

    cakep_bo2002 Mania

    Joined:
    20 Mar 2006
    Pesan:
    411
    Likes Yg Diperoleh:
    22
    lanjutanya kapan nin bro, penasaran abis
  4. rangga
    Offline

    rangga Mania

    Joined:
    7 Apr 2006
    Pesan:
    198
    Likes Yg Diperoleh:
    5
    Pertamanya enak di ikuti cerita ini, tapi selanjutnya gak bisa untuk fantasi....
  5. Sex_man
    Offline

    Sex_man Junior

    Joined:
    19 Jul 2006
    Pesan:
    28
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    enak ya, punya tetangga kaya ririn
  6. kodoksex
    Offline

    kodoksex Junior

    Joined:
    30 Apr 2010
    Pesan:
    19
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    enaknya punya tetangga kaya mbak ririn....
  7. cowokpengen
    Offline

    cowokpengen Senior

    Joined:
    13 Apr 2010
    Pesan:
    704
    Likes Yg Diperoleh:
    52
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    waduh...aku kok malah jadi kasihan sama mbak ririn....
  8. jaimdikit
    Offline

    jaimdikit Enthusiast

    Joined:
    24 Nov 2006
    Pesan:
    594
    Likes Yg Diperoleh:
    6
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    awalnya si oke bacanya..lama2 jadi illfeel...sory no offence yah...keep post..
  9. masnoex
    Offline

    masnoex Junior

    Joined:
    9 Feb 2008
    Pesan:
    233
    Likes Yg Diperoleh:
    8
    Kasian Si Ririn Ts Egois Main Paksa.......
  10. clandy
    Offline

    clandy Junior

    Joined:
    23 Apr 2006
    Pesan:
    166
    Likes Yg Diperoleh:
    22
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    seremmmm..... sadis..... tapi jadi pingin nyoba nih kayaknya cari tetangga dulu ah yang bisa dimangsa.....
  11. m0d4r
    Offline

    m0d4r Junior

    Joined:
    6 Sep 2006
    Pesan:
    4
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    Hanjar trus sampe mampus keenakan, lanjutannya juga trus dong...:-bd
  12. unyilbotak
    Offline

    unyilbotak Newbie

    Joined:
    24 Feb 2013
    Pesan:
    32
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    sambungannya ga ada yahhh????
  13. zhaate
    Offline

    zhaate Newbie

    Joined:
    10 Apr 2013
    Pesan:
    2
    Likes Yg Diperoleh:
    0
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    duh, klo dah soal paksaan gini, kurang enak di jadiin fantasi, jd kasian sm mba ririn, soalnya menurut w, hrs sama2 enak..
    sorry bro, newbie dan no offense, just comment ;) keep post ya;)
  14. Ijahgb
    Online

    Ijahgb Junior

    Joined:
    2 Sep 2013
    Pesan:
    92
    Likes Yg Diperoleh:
    28
    Iya, awal cerita asyikkkkk, tapi seterusnya bener" mnjadi cerita yg tdk asyikkk lagi...... Trlalu kejam juga sadis......... Bener" cerita yg tdk menarik
  15. maulan
    Offline

    maulan Junior

    Joined:
    10 Apr 2010
    Pesan:
    300
    Likes Yg Diperoleh:
    43
    Jenis Kelamin:
    Cowok
    Terlalu kasar n sadis....bukan keindahan melainkan pemerkosaan....
    traveler likes this.

Share This Page

Something Useful About Us