Warning!

Khusus untuk dewasa. Bagi yang belum cukup umur, sok muna, alim atau tidak suka sex, jangan protes, silahkan tutup halaman ini sekarang juga. Tetapi bagi kamu yang gemar duduk-duduk menghabiskan waktu untuk melihat dunia yang asik-asik, silahkan dilanjuti...

Umum Serial: Ranjang Yang Ternoda Bagian 1 - 11c

Diskusi di 'Cerita Cerita Seru' dimulai oleh pangeran007, 6 Mar 2007.

  1. Frx74

    Frx74 Junior

    SERIAL: RANJANG YANG TERNODA
    BAGIAN SEPULUH (PART 10 OF 12)
    NAMANYA LIDYA
    Oleh Pujangga Binal & Friends
    [​IMG]Lidya

    “Apa?” Lidya Safitri terbelalak kaget. Bola matanya yang indah menatap suaminya yang saat itu tengah membaca koran di ruang tamu. Kalau saja Lidya tidak mampu menguasai emosinya, kopi yang ia bawakan untuk Andi akan tumpah.
    “Apa kenapa, sayang?” Andi balik melihat ke arah istrinya yang sedang berdiri kaku dengan heran.
    “K – K – Kamu barusan bilang apa……..??”
    “Sudah panjang lebar cerita ternyata masih harus diulang, makanya kalau ada orang ngomong itu didengerin,” keluh Andi, “tadi aku bilang, aku sudah menemukan rumah kontrakan yang bagus. Tempatnya tidak jauh dari sini, fasilitas lumayan, harganya juga murah. Aku sudah ajak Bapak ke sana, katanya sih cocok.”
    Lidya mengangguk, bukan kabar ini yang membuatnya kaget. Kabar ini justru membuatnya senang sekali. Adalah kalimat – kalimat selanjutnya yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.
    “Dalam waktu dekat Bapak mau pindah ke sana.” Lanjut Andi, “Tapi… kata Bapak sebelum dia menempati rumah kontrakan yang baru, dia pengen balik sebentar ke desa. Berpamitan, ziarah atau apalah…” Andi membalik halaman koran yang ia baca sambil terus menerangkan hal yang sebenarnya baru saja ia sampaikan pada Lidya, “…berhubung aku harus mengurus kontrakan baru Bapak ditambah kerjaan yang belum selesai di kantor, maka kamu yang nganterin Bapak ke desa.”
    Inilah yang membuat Lidya terkejut setengah mati.
    “T – t – tapi, mas… kenapa Bapak tidak pulang sendiri saja?”
    “Ah, kamu ini!” Andi menatap Lidya dengan tatapan mata galak. Pria itu paling benci kalau Lidya tidak mau berkumpul atau menyatu dengan keluarganya. “Bapak kan sudah tua, kasihan dong harus pergi jauh seorang diri walaupun hanya untuk sebentar. Biar bagaimana juga dia itu bapakku! Masa gitu aja kamu nggak mau? Kalau saja aku ada waktu, aku yang akan mengantarkannya ke desa! Aku tidak akan minta bantuanmu!”
    “Bukan begitu. Bapak kan masih kuat, Mas. Aku pikir…” Lidya terus mencari celah untuk menghindar, si cantik itu meletakkan kopi Andi di meja tanpa sedikitpun menatap matanya. Dia tidak berani bertatapan mata langsung dengan suaminya, ia takut Andi akan mencurigainya. Lidya tidak ingin suaminya tahu ayahnya sendiri hampir tiap hari menidurinya. Lidya melanjutkan kalimatnya, ia mencoba mencari alasan yang tidak akan menyinggung perasaan Andi. “Aku juga tidak yakin beliau mau aku temani pulang ke desa…”
    Andi mengeluarkan nafas panjang. “Aku kemarin sudah ngobrol sama Bapak. Tadinya dia memang menolak ditemani siapa – siapa, dia bilang tidak mau merepotkan. Tapi setelah aku bujuk lama – lama luluh juga. Bapak akhirnya setuju kamu antar.”
    Lidya membalikkan tubuh untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi. Tubuhnya bergetar ketakutan dan keringatnya mulai menetes. Andi memang tidak tahu kalau Pak Hasan yang terhormat telah memperlakukan istrinya dengan tidak senonoh. Bayangkan apa yang akan dilakukan lelaki tua cabul itu jika Andi memberikan peluang bagi Pak Hasan untuk berdua saja dengannya?? Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana menolaknya?
    “Kapan Bapak mau berangkat, Mas? Berapa lama di sana?” tanya Lidya dengan penuh harap. Tidak ada gunanya melawan Andi kalau sedang seperti ini.
    “Berangkat besok lusa, naik bis. Mungkin sekitar empat hari, kalian menginap di rumah sahabat Bapak di desa, namanya Pak Raka. Kebetulan yang punya rumah malah baru pergi ke kota. Keluarganya juga kenal dengan aku kok, keluarga Pak Raka sudah seperti keluarga kita sendiri, dulu waktu kecil aku sering tidur di rumah Pak Raka……” jawab Andi sambil terus membaca korannya tanpa melirik sedikitpun ke arah Lidya.
    Lidya memejamkan mata dan berusaha menahan geram. Sial.
    ###
    Sudah hampir setengah jam Lidya menunggu, ia melirik ke arah jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bis belum juga datang, padahal hari sudah semakin larut. Jika mereka berangkat terlalu malam, mereka baru akan sampai di desa esok siang. Perjalanan cukup jauh dan wanita cantik itu tidak begitu suka berduaan saja dengan mertuanya untuk waktu yang cukup lama. Bus malam yang akan membawa mereka pulang ke desa sudah dibeli tiketnya dan sudah dijadwalkan akan berangkat dari tempat ini… setengah jam yang lalu.
    Seorang lelaki botak bertubuh gemuk berjalan pelan mendekati Lidya. Ia duduk di samping wanita cantik itu sambil menikmati cemilan kacang yang sudah hampir habis. Mulutnya terus berkomat – kamit mengunyah kacang.
    “Bis itu pasti datang, Nduk. Sabar saja.” Kata pria yang baru datang dengan tenang. “Penjual tiketnya bilang jalan macet, jadi busnya terlambat masuk terminal.”
    Lidya menggerutu. Walaupun tidak menyukai keterlambatan, dia justru berharap bis yang mereka naiki tidak kunjung datang hingga tahun depan. Si manis itu beringsut menjauh dari posisi duduk yang berdekatan dengan si pria gemuk yang sangat ia benci hidup mati. Pria gemuk itu tentunya adalah ayah mertuanya yang bernama Hasan. Lidya cukup kesal karena Andi tidak bisa menemani mereka, paling tidak sampai bisnya datang. Andi malah hanya mengantar sampai pintu terminal dan buru – buru berangkat ke kantor. Suaminya itu tidak tahu, dia tengah mengumpankan anak ayam ke kandang buaya.
    Pak Hasan bukan orang bodoh, ia sadar Lidya berusaha menghindarinya. Pria tua mesum itu melirik ke arah menantunya yang mempesona. Sungguh pemandangan indah yang tiada duanya, rambut panjang yang indah, tubuh tinggi dengan kaki jenjang, kulit putih mulus bagai pualam, lekukan tubuh menggiurkan, wajah cantik rupawan dan buah dada yang sempurna. Seorang bidadari yang turun dari khayangan.
    Pria tua itu tersenyum bangga, semua keindahan itu… kini jadi miliknya.
    …paling tidak untuk empat hari ke depan.
    Pak Hasan terkekeh kalau mengingat anaknya yang bodoh. Mudah sekali Andi ditipu. Pak Hasan berpura – pura tidak mau diantar Lidya pulang ke kampung, padahal dalam hati ia ingin sekali membawa menantunya yang molek itu dan menidurinya setiap hari di sana. Hawa di desa agak dingin dan berangin, pasti enak kalau tidur kelon dengan Lidya. Dengan sedikit tipu daya, bukan dia yang merengek ingin membawa Lidya, malah Andi yang memaksa dia mengajak si cantik itu. Ini mungkin yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba. Pak Hasan pun berhasil mengajak Lidya menemaninya ke kampung.
    Sambil menghabiskan kacangnya, Pak Hasan mengamati kanan kiri. Beberapa orang di terminal sepertinya tidak tahan untuk tidak melirik ke arah Lidya. Hampir semua laki – laki yang ada di sana tidak mampu menjauhkan mata dari pesona menantunya, tidak tua tidak muda. Bahkan ada beberapa orang laki – laki yang berjalan bersama pasangannya melirik diam – diam ke arah si cantik itu. Geli juga Pak Hasan melihat ekspresi benci seorang wanita melihat pasangannya ngiler melihat Lidya.
    Dilihat dari cara berpakaiannya kali ini sebenarnya Lidya tidak terlalu menampilkan kemolekan tubuhnya, hanya saja karena dia memang terlampau menarik, orang dengan mudah terpesona. Saat ini Lidya mengenakan baju putih kancing depan berlengan panjang yang ditekuk hingga tiga perempat. Baju itu agak ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya namun tidak terlalu seksi. Seperti biasa, Lidya melepas satu kancing teratas karena rasanya sesak dan memperlihatkan sedikit saja belahan dada sentosa. Ia mengenakan rok pendek selutut dengan warna abu – abu tua yang membalut pahanya yang mulus dan memperjelas keindahan kakinya yang jenjang.
    Menyadari banyak laki – laki melirik ke arahnya Lidya memilih diam dan mengenakan kacamata hitamnya, ia berpura – pura memperhatikan bis yang datang dan pergi dan tidak menghiraukan mereka. Toh tidak ada gunanya ditanggapi.
    Lama kelamaan si cantik itu melamun, benaknya melayang tak tentu arah. Lidya menyesalkan kehidupan yang telah dikacaukan oleh ayah mertuanya yang mesum dan cabul. Ia sudah mengkhianati suaminya dengan menyerahkan barangnya yang berharga pada Pak Hasan. Belum lagi ketidakjelasan kakak – kakaknya yang juga entah bagaimana nasibnya…
    Sampai sejauh ini ia sudah…
    Terbangun dari lamunan, Lidya baru menyadari kalau tangan gemuk Pak Hasan telah melingkar di pundaknya dan beberapa kali memencet buah dadanya. Dengan risih Lidya menggoyangkan badan untuk melepaskan kaitan lengan sang ayah mertua.
    “Apaan sih Bapak?!” Kata Lidya ketus, ia memasang muka masam, “ini tempat umum. Jangan macam – macam.”
    Pak Hasan mencibir. “Dulu kamu pernah seperti ini di mal dan pasar, bahkan saat itu keadaan lebih parah. Apa bedanya dengan terminal? Sama – sama tempat umum kan?”
    “Pokoknya aku nggak mau seperti dulu lagi… aku ini…”
    “Jangan banyak omong!!” tiba – tiba saja Pak Hasan menghardik dengan galak.
    Lidya tercekat kaget, dia tidak mengira Pak Hasan akan membentaknya. Satu hal yang ia takutkan pada saat ini adalah mengundang perhatian orang sekitar. Melihat emosi Pak Hasan meledak, Lidya mengalah karena melihat beberapa orang melirik ke arah mereka. Dengan terpaksa ia membiarkan tubuhnya yang indah digerayangi sang mertua.
    Dengan berani pria tua itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lidya. Orang – orang yang melihat akan menganggap kedua orang ini sebagai pasangan karena mesra sekali. Rabaan tangan Pak Hasan melaju tanpa henti di tubuh Lidya, menggerayangi dan menikmati setiap lekuk tubuhnya yang indah. Membuat iri mereka yang melihatnya, bagaimana mungkin seorang pria botak, gemuk dan jelek seperti Pak Hasan bisa menaklukan wanita seindah Lidya sungguh di luar daya khayal mereka.
    Untunglah penderitaan Lidya tak berlangsung lama karena bus yang mereka tunggu – tunggu akhirnya datang juga.
    Pak Hasan mendengus kesal melihat bus memasuki terminal, menganggu orang seneng aja, baru seru malah masuk. Tapi beberapa saat kemudian pria tua itu terkekeh sambil menepuk pantat Lidya dan berjalan mendahului menantunya ke tempat bus parkir.
    Lidya kembali menggerutu.
    ###
    Lidya dan Pak Hasan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Berangkat di sore hari dengan menggunakan bus malam antar kota, mereka baru sampai di tujuan besok siang. Karena bus penuh dan mereka berdua sedikit terlambat memesan tiket, Lidya dan Pak Hasan mendapatkan tempat duduk di belakang, dekat dengan toilet dan sejajar dengan pintu belakang. Lidya jelas kurang suka posisi duduknya ini sedangkan Pak Hasan menganggapnya keberuntungan karena tidak akan ada gangguan selama perjalanan. Posisi tempat duduk adalah 2 – 1, dua kursi di kiri dan 1 kursi di kanan. Pak Hasan dan Lidya duduk berdampingan, pria tua itu memilih duduk di dekat jendela.
    Lidya yang tidak biasa menempuh perjalanan jauh menggunakan bus malam merasa tidak nyaman dengan jalan yang bergelombang tidak rata. Sayangnya hanya dia sendiri yang sepertinya tidak merasa nyaman, penumpang lain tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Keadaan di dalam bis sendiri sudah sangat gelap sejak lampu – lampu dimatikan. Pak Hasan sudah tertidur sejak tadi, dengkurannya yang keras cukup mengganggu Lidya. Kepala mertuanya itu disampirkan sengaja di bahu kanan Lidya, ia tidur dengan enak sementara menantunya tak sedikitpun sanggup memejamkan mata.
    Untunglah kelelahan yang menghinggap perempuan jelita itu akhirnya membuatnya terlelap. Rasa capek yang amat sangat membuat Lidya bisa tertidur nyenyak.
    Beberapa jam perjalanan berlalu, Pak Hasanlah yang terbangun terlebih dahulu, ia melirik jam tangan dan menengok pemandangan di luar. Perjalanan masih jauh dan keadaan di luar terlalu gelap untuk dinikmati. Pak Hasan mengangkat bahu dan tertawa kecil, kalau pemandangan di luar tidak terlihat, sebaiknya menikmati saja pemandangan indah yang ada di dalam.
    Pak Hasan menengok ke arah Lidya dan mengagumi kulit sang menantu, begitu halus dan mulus, putih laksana pualam, bahkan di kala gelap seperti ini, putihnya kulit Lidya seperti menyala. Bagian atas pakaian Lidya memperlihatkan sedikit balon buah dadanya yang lumayan montok. Menggiurkan sekali, pikir Pak Hasan. Pikiran kotornya mulai menggelora. Posisi kursi yang ada di belakang membuatnya bebas melakukan apapun karena tidak ada orang lain duduk di samping kursi mereka, lagipula hampir semua orang tidur. Pak Hasan menarik selimut kecil yang ia pakai turun ke bagian selangkangan dan dengan pelan membuka kancing celananya sendiri. Pak Hasan mengeluarkan kemaluannya sambil menyeringai lebar.
    Setelah mengeluarkan penisnya yang mulai mengeras, tangan kanan Pak Hasan dengan nakal menjelajah ke bagian dada perempuan cantik yang terlelap disampingnya, meremas pelan dan membelai buah dadanya yang menggiurkan sementara tangan kirinya mulai membetot penisnya sendiri. Dengan berani pria tua melepas beberapa kancing baju Lidya agar ia bisa lebih leluasa menikmati buah dada sang menantu. Tangan keriput Pak Hasan makin tak terhalangi setelah dua kancing atas baju Lidya dilepas. Ia kini menyelipkan tangan ke bawah beha Lidya, meremas payudara montoknya dan memainkan puting yang makin lama makin menegak dengan sesuka hati.
    Pak Hasan menyukai buah dada Lidya yang menurutnya berukuran sempurna, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Remasan pada payudara Lidya pas dengan tangkup jemarinya. Kenyalnya balon buah dada sang menantu makin membuat Pak Hasan tak tahan, beberapa kali ia mengenduskan hidung di buah dada Lidya, menikmati baunya yang harum. Ia tak puas berhenti di payudara Lidya, Pak Hasan meraba bagian lain seperti pantat bulat dan paha mulus sang menantu yang hanya terlindungi oleh rok mininya.
    Dengan gerakan selembut yang ia bisa, jari – jari keriput Pak Hasan meraba paha Lidya, menaikkan roknya sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia mampu melihat lamat – lamat celana dalam sang menantu dalam kegelapan. Gundukan berbelah yang ada di selangkangan Lidya membuat Pak Hasan meneguk ludah, ia menarik bagian bawah celana dalam Lidya ke samping, membuka akses utama menuju liang kewanitaan sang menantu dan mulai memijat lembut bibir vagina sembari mencoba mencari kelentitnya.
    Apa yang dilakukan Pak Hasan tentu membuat Lidya terbangun, masih dengan mata yang setengah terpejam, si cantik itu berbisik pelan. “Bapak? Apa yang..?”
    Pak Hasan tidak menjawab, ia menengadah, menaikkan kepala dan mengenduskan hidung di pipi sang menantu. Pak Hasan mencium pipi dan leher Lidya dengan lembut sambil berbisik, “sudah, kamu diam saja…..”
    Gerakan jemari nakal Pak Hasan yang menjelajah di selangkangannya membuat Lidya tersadar, mana ada orang yang tidak bangun kalau dirangsang seperti ini. “Esssst….,” desahan pelan keluar dari mulut mungil Lidya. Ia tidak menyukai sedikitpun apa yang dilakukan Pak Hasan, tapi ini… ini… enak sekali.., “…ja… jangan… essstt…” tolak Lidya. Ia menggelengkan kepala dan mendesah manja, entah keenakan atau menolak.
    Lidya mencoba mendorong tangan Pak Hasan namun gerakannya seperti setengah hati, hal yang justru membuat Pak Hasan meningkatkan serangannya dan membuat si cantik itu merem melek. Tak perlu waktu lama bagi pria tua itu untuk bisa mengeluarkan cairan pelumas yang segera meleleh keluar dan membasahi belahan liang cinta Lidya. Cairan itu juga mulai membasahi jemari Pak Hasan yang berkuasa penuh di memek menantunya. Lidya menggelengkan kepala dan terus menolak, “…jangan… jangan di sini… jangan…”
    Ketika menggelengkan kepala untuk mencoba menolak, mata Lidya tertumbuk pada gundukan yang makin lama makin membesar di selimut yang menutup selangkangan mertuanya. Lidya semakin tidak percaya, jangan – jangan mertuanya yang gila itu sudah membuka celana? Tidak mungkin selimut itu menggunduk sebesar itu jika kemaluannya masih ada di dalam celana. Sudah pasti kemaluannya sudah ada di luar. Gila, mereka sedang berada di bus! Ada dua orang yang saat ini duduk di depan mereka!
    “Saatnya mengulum sekarang, Nduk.” bisik Pak Hasan.
    Mata indah si cantik itu melotot! Lidya menggelengkan kepala semakin keras, ia tidak mau! Jelas ia tidak mau! Ini gila! Mereka sedang dalam bus… dalam bus… yang gelap dan sepi… dalam bus yang hampir seluruh penumpangnya tertidur. Lidya mencoba melihat sekitarnya dalam kegelapan, orang yang berada di kursi – kursi terdekat telah tidur.
    “Hgghh!!!” Lidya tercekat ketika ia merasakan sentakan di selangkangannya.
    “Cepat kulum penisku!!” bisikan galak mengagetkan Lidya, hardikan itu semakin mengena karena pada saat yang bersamaan Pak Hasan menyentil klitorisnya. Pria tua cabul itu telah berhasil menemukan titik kelemahan Lidya. Tubuh wanita jelita itu menggelinjang tanpa henti, kalau ia tidak segera mengulum penis sang mertua bisa – bisa ia berteriak – teriak seperti orang gila karena Pak Hasan terus menerus merangsang kelentitnya.
    Dengan takut – takut Lidya melihat ke kursi sekitar sebelum membungkukkan tubuhnya dan menarik selimut mertuanya. Penis tua Pak Hasan langsung menyambut dengan tegak wanita cantik itu, Lidya bersyukur saat itu gelap sehingga dia tidak harus menyaksikan penis keriput milik pria tua cabul yang sudah sering memperkosanya. Dengan jemarinya yang lentik Lidya meraih kemaluan Pak Hasan.
    “Naaah… begitu.” Pak Hasan menarik nafas penuh kepuasan.
    Lidya menurunkan kepala untuk mencapai kemaluan mertuanya. Pria tua itu mulai merasakan lidah yang lembut memutari kemaluannya. Pak Hasan terkekeh keenakan. Susah sekali menahan lenguhan jika Lidya menyepongnya seenak ini. Lidah sang menantu naik turun di batang kemaluan Pak Hasan, merasakan setiap cm kulit kemaluan yang telah keriput, menjilati urat yang menegang pada benda kebanggaan Pak Hasan. Tidak perlu waktu lama bagi penis Pak Hasan untuk menegak seperti tiang bendera dan sekeras kayu.
    Namun ketika Lidya tidak juga segera memasukkan penisnya ke dalam mulut, Pak Hasan mulai gusar. Melepaskan tangan kanan dari selangkangan sang menantu, Pak Hasan meraih bagian belakang kepala Lidya, menjambak rambutnya pelan dan menggiring bibirnya ke penis keriput yang telah menunggu.
    Lidya benci sekali disuruh melakukan hal ini tanpa kesempatan untuk menolak. Karena dia tidak ingin ada keributan terjadi di dalam bus, si cantik itu menurut saja apa kehendak Pak Hasan. Pria tua itu terus saja mendorong kepala Lidya ke bawah, melesakkan penisnya ke dalam mulut sang menantu sedikit demi sedikit. Lidya tak mampu mengangkat kepalanya karena ditahan oleh Pak Hasan, itu sebabnya dia membiarkan ayah mertuanya memasukkan kepala penisnya ke dalam mulut.
    Makin lama makin dalam penis itu melesak masuk. Pak Hasan bisa merasakan gerakan tubuh Lidya yang meronta, mulut si cantik itu megap – megap mencari udara, ia mencoba mencari nafas karena mulutnya penuh dijejali penis. Merasa kasihan, Pak Hasan memberikan kesempatan pada Lidya untuk menarik nafas selama beberapa saat. Lidya megap – megap ketika kepalanya diangkat ke atas dan berusaha menarik nafas panjang. Tapi Pak Hasan belum puas, ia membiarkan Lidya menarik nafas sebelum akhirnya melesakkan lagi penisnya dalam – dalam.
    Tapi mungkin Pak Hasan memasukkan penisnya terlalu dalam. Ketika sodokan kepala penis Pak Hasan menyentuh dinding terdalam kerongkongan Lidya, si cantik itu tersedak! Pak Hasan menjambak rambut Lidya dan untuk kedua kalinya ia melepaskan penisnya dari dalam mulut sang menantu. Lidya memekik lirih ketika penis Pak Hasan lepas dari bibirnya.
    “Hak…! Hak…!” Lidya terbatuk.
    Bukannya berhenti setelah Lidya tersedak, Pak Hasan justru kembali mendorong kepala si jelita untuk melanjutkan sepongan pada kemaluannya. Lidya menatap Pak Hasan tak percaya, mertuanya ini sudah gila atau benar – benar tidak punya perasaan?!!
    Untungnya untuk yang kali ini Pak Hasan lebih lembut, Lidya pun melanjutkan sepongannya dengan lebih pelan, ia mencoba menikmati kemaluan keriput yang sebelumnya membuatnya merasa jijik. Pak Hasan membantu menantunya menyepong dengan kecepatan tetap, lidah Lidya bergerak lincah menjilat batang dan ujung gundul penis sang mertua sebelum akhirnya menelan batang kemaluan Pak Hasan.
    “Harghhh!!” Pak Hasan mencoba menahan kenikmatan yang diberikan oleh Lidya.
    Setelah beberapa saat lamanya mulut, lidah dan bibir Lidya bekerja tanpa henti, Pak Hasan akhirnya bergetar… ia sudah tak kuat lagi! Sekali mengejang, penisnya melontarkan semprotan demi semprotan cairan kental ke dalam mulut sang menantu. Karena tidak bisa bernafas, Lidya terpaksa menelan cairan cinta sang mertua. Ia memejamkan mata mencoba menahan diri agar tidak muntah.
    Pak Hasan menarik penisnya dari mulut Lidya dan melepaskan rambutnya. Si cantik itu mengangkat kepalanya dan merasa lega. Akhirnya selesai juga… eh?!!
    Lidya yang mengira penderitaannya sudah berakhir ternyata salah besar. Jari nakal pria tua yang juga mertuanya sendiri itu kini bergerak lincah memainkan bibir vaginanya! Lidya memejamkan mata mencoba menahan rangsangan luar biasa. Tangan Lidya mencoba mendorong tangan Pak Hasan tanpa hasil. Pria tua itu masih terlampau kuat.
    Pak Hasan puas sekali melihat tubuh menantunya bergetar hebat mencoba menahan kenikmatan yang terus menerus ia terima. Lidya berusaha menahan teriakannya dengan memejamkan mata dan menutup mulut dengan tangannya. Ia menggelengkan kepala karena tak kuat bertahan. Ia harus berteriak… ia ingin berteriak… ia tak tahan lagi!!!
    Lidya menarik bajunya ke atas dan menggigitnya.
    Akhirnya Lidya mengejang beberapa kali. Matanya melotot dan ia berteriak tertahan sambil menggigit baju untuk mengurangi suara. Cairan cinta meleleh dari dalam vaginanya. Lidya menggigil sebelum akhirnya lemas. Pak Hasan tertawa dalam hati melihat Lidya berusaha bertahan mati – matian agar tidak mengeluarkan suara. Untuk terakhir kalinya tubuh Lidya mengejang hebat dan akhirnya lemas.
    Lidya menatap benci ayah mertuanya, dia membalikkan badan dan merapikan pakaiannya.
    Pak Hasan mengancingkan celananya dan menepuk kepala Lidya.
    “Gitu dong, Nduk.”
    ###
    HARI PERTAMA
    Lidya mengejapkan mata, sinar matahari yang sudah menembus masuk ke dalam bus menerangi wajah para penumpang yang mulai terbangun dari tidur. Tubuh Lidya terasa pegal, ia merenggangkan tangan untuk menghilangkan penat. Karena masih mengantuk, Lidya menguap. Hm, perjalanan masih jauh nggak ya? …hm… Rasanya ada yang aneh, ada yang salah. Tapi apa ya? Entah kenapa, Lidya merasa ada sesuatu janggal. Ketika akhirnya benar – benar sadar dari kantuknya, barulah Lidya tahu apa sesuatu yang salah itu, ia membuka selimut kecil yang sedang bertengger didadanya. Tangan kanan Pak Hasan masih berada di dalam behanya! Jadi semalaman pria tua itu terus saja memainkan payudara dan putingnya setelah Lidya tertidur??!! Dasar terkutuk!
    Dengan sengit Lidya melepas tangan Pak Hasan dan merapikan bajunya.
    “Kasar sekali kamu.” Maki Pak Hasan.
    “Ini sudah pagi, aku tidak ingin ada orang yang melihat…”
    Pak Hasan menguap, ia terkekeh dalam hati.
    “Kita sudah hampir sampai.” Kata Pak Hasan sambil melihat jam tangannya.
    Lidya mencoba mencari cara untuk menjauhkan jari jemari Pak Hasan dari buah dadanya. Ia pun berusaha mengalihkan perhatian ayah mertuanya dengan menunjuk pemandangan di luar sambil merapikan pakaiannya yang semalaman terbuka, “Desa Bapak… kenapa namanya Desa Kapukrandu?”
    Pak Hasan mengeluarkan nafas panjang. “Seperti yang kamu lihat, Nduk.” Kata Pak Hasan kemudian, dia membuka tirai jendela agar Lidya bisa melihat pemandangan di jendela samping, “di sekitar sini tanah kering, namun justru di tempat kering seperti ini pohon kapuk randu tumbuh subur. Nama pohon itulah yang yang jadi asal muasal nama desa.”
    Desa Pak Hasan bernama Desa Kapukrandu, dinamakan demikian karena di sepanjang perjalanan menuju desa, pohon – pohon besar kapuk randu berjajar di sisi jalan membentang hingga jauh. Karena ditumbuhi oleh banyak pohon kapuk randu, selain bertani dan berternak, usaha kebun kapas pun menjadi penghasilan utama masyarakat desa. Desa Kapukrandu sendiri adalah tempat yang asri dan hijau, berbeda dengan tempat ini. Tanah di Desa Kapukrandu subur dan hawanya sejuk karena dikelilingi oleh perbukitan yang menghijau.
    “Pohon kapuk randu?” tanya Lidya kembali sambil memperhatikan sepanjang jalan yang dilalui oleh bus, pohon – pohon besar berdiri tegak menyambut mereka di sepanjang jalan. Pohon – pohon besar yang menaungi daerahnya bagaikan payung raksasa dengan dahan – dahan yang menjorok ke langit.
    “Biasa disebut juga Kapas Jawa. Tinggi pohon yang besar bisa mencapai 65 bahkan 70 meter, begitu besarnya, hingga garis tengahnya kadang mencapai dua meter.” Lanjut Pak Hasan menjelaskan. “dulu sekali aku sering memotong kayunya.”
    Ketika angin bertiup, sebagian serat biji Kapuk Randu lepas dari cangkangnya, terbang berputar mengikuti arah angin. Ribuan serat yang lepas menghujani jalanan bagaikan salju yang tiba – tiba muncul di pagi yang cerah. Bis kecil yang melintasi jalan pun melaju seperti disambut hujan kapas oleh para penghuni hutan kapuk randu.
    “Di sini anginnya kencang, begitu juga Desa Kapukrandu. Kalau di kampung hawanya lebih sejuk karena tempatnya berada di lembah perbukitan yang mengitari.” Kata Pak Hasan sambil memperhatikan dahan – dahan pohon yang bergoyang dan serat kapuk yang berterbangan kesana kemari.
    Ketika melirik ke arah menantunya yang kagum melihat pemandangan menuju desa yang indah, Pak Hasan justru mengagumi kecantikannya yang natural. Lidya memiliki hidung mancung yang seperti seluncur dan pipi putih mulus menggemaskan. Alis matanya runcing alami bertengger di atas sepasang mata bulat yang tajam dan indah.
    Pak Hasan menekuk lehernya sedikit untuk mendekatkan kepalanya ke arah kepala Lidya.
    “Jadi berapa lama lag…”
    Dengan satu gerakan pelan Pak Hasan mencium bibir mungil Lidya yang kaget. Mata si cantik itu terbelalak karena ciuman mertuanya begitu tiba – tiba. Lidya tak sempat mengelak dan menolak, lagipula gerakan sedikit apapun akan mengakibatkan kecurigaan tak penting dari kernet atau penumpang lain. Satu – satunya yang bisa dilakukannya adalah pasrah.
    Pasrahnya Lidya membuat Pak Hasan leluasa mengulum bibir merah menantunya. Bibir mungil si manis itu sangat menggemaskan, sisa lipstik yang tadi sempat disapu lembut masih sedikit terasa. Tak mau berhenti begitu saja, Pak Hasan mengeluarkan lidahnya untuk merajai bibir Lidya. Lidah itu bergerak liar bagai seekor ular menggeliat di atas bibir sang menantu, menjilat dan menusuk ke dalam. Lidah Pak Hasan berusaha menemui pasangannya, lidah Lidya yang masih bersembunyi di lorong mulut.
    Tak perlu waktu lama bagi lidah Pak Hasan untuk menemukan lidah Lidya, keduanya langsung bertaut dan menarik pasangannya, berpagut bagai saling merindu. Lidya tidak menduga dia akan menerima saja dicumbu seperti ini.
    Pagutan Pak Hasan baru lepas ketika seorang penumpang berjalan ke belakang menuju kamar kecil. Pria tua itu menggerutu sementara Lidya menarik nafas dan bersyukur. Seperti apa kira – kira nasib empat harinya di Desa Kapukrandu?
    Empat hari di Desa Kapukrandu. Dimulai hari ini.
     
  2. Frx74

    Frx74 Junior

    Lanjutan....

    Desa Kapukrandu yang berada di pelosok tentunya tidak dilewati oleh bus malam. Pak Hasan dan Lidya harus turun di pinggir jalan, tepatnya di sebuah pertigaan dimana terdapat jalan kecil menuju desa. Karena jaraknya masih jauh, keduanya harus memilih menggunakan ojek atau angkutan pedesaan yang biasa disebut angkudes. Saat itu kebetulan tidak ada ojek yang berada di pangkalannya, hingga Pak Hasan dan Lidya harus menanti angkudes.
    Perjalanan menggunakan angkudes tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar seperempat jam Lidya dan Pak Hasan telah sampai di tempat tujuan yaitu rumah Pak Raka, salah seorang sahabat Pak Hasan yang pada saat yang sama kebetulan pergi ke kota sekeluarga. Selama empat hari mereka akan tinggal di rumah sahabat Pak Hasan ini.
    Rumah yang akan ditinggali adalah sebuah rumah sederhana namun rapi, dengan empat kamar tidur, kamar mandi dalam dan air dari sumur pompa. Bu Raka berbaik hati membelikan satu tabung gas ukuran kecil seandainya Lidya atau Pak Hasan ingin memasak. Tetangga terdekat berjarak beberapa meter saja, seorang diantaranya menyambut kedatangan Pak Hasan dan Lidya dengan gembira.
    “Mbak Mirah. Sudah berapa lama ya kita tidak ketemu.” Kata Pak Hasan sambil bersalaman dengan tetangga yang menyambut. Orangnya gemuk, berwajah ramah dan suka sekali tertawa. Hanya dengan sekali lihat saja Lidya tahu wanita ini adalah orang yang baik dan sederhana, ia mengenakan daster besar dan memakai selendang, sepertinya memiliki seorang anak yang masih balita karena ia membawa piring plastik berisi bubur.
    “Iya nih, Pak Hasan sudah lama sekali pergi ke kota. Di sana betah ya, Pak? Eh, ini siapa, Pak?” tanya Mbak Mirah sambil menunjuk Lidya.
    “Ini mantuku. Istrinya Andi, namanya Lidya.”
    “Ya ampun, istrinya Mas Andi to… walah walah cantiknya… kok bisa – bisanya Mas Andi menikah dengan orang secantik ini ya? Saya Mirah, Mbak. Tetangga Pak Raka - yang rumahnya kalian pinjam ini. Kebetulan beliau menitipkan kunci rumah sama saya. Mbak Lidya ini bintang sinetron atau apa ya? Kok cantik banget?”
    Lidya tersenyum ramah menyambut salam perkenalan itu. “Saya bukan bintang sinetron mbak.”
    “Lho? Bukan bintang sinetron? Wah, sayang cantiknya lho, Mbak… maaf ya, Mbak. Aku kira bintang sinetron atau film atau iklan gitu. Coba saja mendaftar ke sinetron mbak. Pasti diterima jadi bintangnya….”
    Lidya baru sadar kalau Mbak Mirah ini tentunya seorang ibu rumah tangga yang hiburan terbaiknya adalah tayangan sinetron stripping yang disiarkan tiap malam oleh tv swasta. Lidya membalas ucapan Mbak Mirah dengan tertawa kecil.
    “Kuncinya, Mbak?” tanya Pak Hasan sopan.
    “Oh iya, bentar, Pak. Saya ambilkan dulu di dalam rumah… bentar ya. Tunggu saja di teras. Saya susul kesana.” Usai mengatakan itu, Mbak Mirah lari ke rumahnya.
    Pak Hasan dan Lidya duduk di teras rumah Pak Raka.
    “Jadi bagaimana pendapatmu tentang desa ini?” tanya Pak Hasan sambil duduk di kursi yang ada di teras. Ia mengeluarkan nafas panjang, lega sudah sampai di tempat tujuan.
    Lidya mengerutkan kening, tumben – tumbenan pria tua cabul ini bertanya seperti itu. “Memangnya bapak peduli dengan pendapatku?”
    “Tidak.” Pak Hasan mengangkat bahu. “Aku tidak peduli. Yang penting aku akan menidurimu setiap malam selama kita ada di desa ini.”
    Lidya mendengus kesal. Dasar bajingan.
    ###
    HARI KEDUA
    Malam telah larut dan desa sudah sepi. Tapi di sebuah pos siskamling di ujung sawah, suara tawa cekakakan memecah kesunyian. Tawa yang berasal dari empat orang yang duduk bersila di dalam pos siskamling dan asyik bermain gaple. Pos siskamling ini terletak tak jauh dari rumah Pak Raka, rumah tempat Pak Hasan dan Lidya sementara tinggal.
    Pos siskamling itu berada di ujung terluar sawah yang membentang beberapa hektar, agak terpisah dari jalan kampung. Posisinya yang pas berada di mulut jalan setapak menuju hutan kapuk randu menjadi salah satu alasan dibangunnya pos di tempat itu. Atau setidaknya itulah alasan mahasiswa KKN yang membangunnya. Kini pos itu sudah jarang digunakan untuk ronda karena di desa sudah dibangun pos yang baru dan letaknya yang terlalu jauh.
    Pak Hasan membanting kartu dominonya. “Payah nih Ecep ngocoknya! Masa dari tadi aku dapatnya balak enam melulu?”
    Ecep, Edi dan Eko tertawa hampir bersamaan. Keempat orang ini adalah kawan lama, walaupun tiga orang kawan Pak Hasan usianya jauh lebih muda darinya. Malam ini Pak Hasan sengaja menyempatkan diri untuk bermain gaple bersama dengan ketiga sahabatnya untuk mengenang masa lalu.
    …sekaligus berharap dapat meraup uang.
    Ya, keempatnya memang dikenal hobi judi domino atau gaple. Sejak awal permainan, Pak Hasan sudah menderita kekalahan. Ia bahkan harus merelakan uang saku dari Andi lepas dari tangannya. Agak bahaya juga seandainya ia tidak bisa memenangkan kembali uang itu, karena uang saku dari Andi rencananya akan dipakai untuk membayar hutang pada Koh Liem besok. Koh Liem adalah tengkulak dan tuan tanah yang cukup disegani di Desa Kapukrandu dan ketiga orang yang saat ini bersama Pak Hasan dikenal sebagai anakbuahnya.
    “Ngomong – ngomong, Pak… siapa cewek yang Pak Hasan ajak itu?” tanya Eko. “Cantiknya gila, bodynya juga mantap. Tadi pagi aku lihat dia jalan – jalan ke pasar pojok. Segerrr beneerrrr… Boleh nih kalau dia dibagi – bagi?”
    Kata – kata Eko itu langsung disambut gelak tawa dua temannya yang lain. Pak Hasan hanya tertawa kecil.
    “Heh, jangan ngawur. Dia itu istrinya Andi. Dia itu menantuku.”
    “Wah hebat punya menantu sebahenol itu. Bisa juga Andi milih cewek. Tapi… Andi kan nggak ada, Pak? Kalau bisa sih tetap dibagi – bagi.” Balas Eko yang kembali disambut gelak tawa Edi dan Ecep. Eko memang tidak bisa melepaskan pandangan sejak pertama kali berjumpa dengan Lidya. Kecantikannya yang natural dan tubuhnya yang indah membuat Eko panas dingin.
    “Hm… mungkin itu bisa diatur?” Pak Hasan terkekeh, sebuah rencana menyeruak memasuki ruang pikirannya yang kotor. “Coba aku pulang dulu, aku tanyakan ke dia.”
    Pak Hasan langsung meninggalkan ketiga kawannya dan bergegas pulang ke rumah. Entah nasib buruk apa yang selalu menggelayuti Lidya, kebetulan si cantik itu sedang menyapu teras rumah. Rambutnya yang panjang diikat kucir kuda, pakaian yang dikenakan hanyalah daster tipis sederhana, namun karena pada dasarnya ia memiliki pesona, kecantikan Lidya menerawang sampai jauh. Seakan – akan ada cahaya keemasan keluar dari tubuhnya yang indah. Pak Hasan yang sudah beberapa kali menyetubuhi menantunya itu masih tidak percaya ia bisa meniduri wanita seindah ini.
    “Nduk.” Panggil Pak Hasan menghampiri Lidya.
    “Ya.” Balasan keluar dari mulut yang terbuka tipis tanpa semangat.
    “Berhubung ada kamu di sini, aku mau minta bantuan, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil menatap mata menantunya dengan tajam. Ia menarik bagian atas lengan Lidya dan memegangnya erat – erat supaya Lidya menanggapinya dengan serius.
    “Ba – bantuan apa?” Lidya menatap mata mertuanya dengan takut – takut. Begitu eratnya pegangan Pak Hasan pada lengannya sampai – sampai sapu yang sedang ia pegang terpaksa ia jatuhkan ke lantai.
    “Yah, kamu kan tahu aku baru saja darimana? Teman – teman lamaku itu mengambil cukup banyak uang yang diberikan Andi. Kita harus memenangkannya kembali, uang itu aku butuhkan untuk membayar hutang besok. Aku mau kamu datang dan membantu…”
    Lidya tahu Pak Hasan pergi bermain kartu di pos kamling, tapi ia tidak tahu apa yang dimaksud mertuanya itu. “Mengambil cukup banyak uang??? Maksud Bapak??”
    “Judi.”
    Lidya menepuk dahinya dengan kesal. “Judi?!! Bapak memakai uang Andi untuk judi?!! Astaga…!!”
    “Makanya bantu aku memenangkannya.”
    “Tidak mau! Aku tidak mau membantu Bapak kalau untuk alasan seperti itu… aku tidak mau berjudi!”
    “Aku tidak menyuruhmu berjudi. Aku menyuruhmu membantuku mengambil kembali uang Andi yang mereka ambil. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan judi.”
    “Maksudnya…?”
    “Aku ingin kamu mengalihkan perhatian ketiga temanku itu.”
    Lidya mengernyit heran, “Memang bagaimana caranya?”
    “Kamu diam saja kalau mereka menggerayangimu, kalau perlu kau rayu mereka supaya mau menyentuh tubuhmu. Dengan begitu perhatian mereka teralih dari permainan ke kamu.”
    Kata – kata itu bagaikan guntur yang membelah lautan di batin Lidya. Merayu teman – teman judi mertuanya! Dia pikir dia ini siapa? Pelacur yang bisa dipesan dan dibagikan kapan saja? Siapa pula Pak Hasan pikir dirinya itu? Germo yang menawarkan pelacur? Lidya menggerutu kesal. Dia ini menantunya!
    “Aku tidak mau melakukannya! Gila!” tolak Lidya tegas.
    Pak Hasan menggaruk kepalanya, “kenapa?”
    “Jelas jawabannya tidak! Sadar dong, Pak. Aku ini menantumu sendiri, masih menikah dengan Andi, anakmu! Sekarang Bapak ingin aku merayu orang – orang yang tidak aku kenal demi uang judi? Aku tidak sudi! Apa yang pernah aku lakukan di mal dan pasar dulu sudah keterlaluan, aku tidak ingin melakukannya lagi.”
    “Betul sekali. Tapi coba pikirkan ini baik – baik… jika Andi tahu apa yang terjadi pada dirimu, pada hubungan kita berdua, pernikahanmu yang sempurna akan hancur berantakan. Siap menerima resiko itu? Aku sih tidak ada masalah…”
    Kata – kata Pak Hasan menohok Lidya. Wajah si cantik itupun berubah seratus delapanpuluh derajat.
    “Kumohon, Pak… jangan lakukan ini… kalau Mas Andi sampai tahu…” rengek Lidya. Wajah pasrah dan kalah sang menantu membuat Pak Hasan makin berani menekan sang menantu. Si cantik itu jelas tidak ingin semua yang telah dilakukannya diketahui oleh Andi dan itu selalu menjadi kartu as bagi Pak Hasan.
    “Sebenarnya sih semua terserah padamu, Nduk. Kalau kamu membantuku mendapatkan uangku kembali serta mendapatkan keuntungan tambahan, maka semua akan baik – baik saja. Teman – temanku itu juga bisa dipastikan tidak akan memberitahu Andi. Tapi kalau kamu tidak mau, ya terpaksa kita beritahu saja Andi apa yang sebenarnya terjadi. Begitu saja kok repot.”
    “Kumohon, Pak….” Lidya masih terus merengek. “Aku mau melakukan apa saja asal jangan yang seperti itu…”
    Terus menerus ditolak Lidya membuat Pak Hasan menunjukkan wajah yang sangat masam. Pria itu mendengus kesal dan dengan geram melempar gelas yang ia ambil dari atas meja teras, menumpahkan sisa kopi yang tadi sore dibuatkan oleh Lidya dan berjalan kembali ke arah pos siskamling meninggalkan Lidya yang berdiri dalam kegamangan. Pria tua itu sempat melihat Lidya menghapus tetes air mata dari pipinya. Melempar gelas itu hanya tipuannya saja supaya terlihat marah, ia bisa melihat Lidya ketakutan melihatnya mengamuk. Masalah mengganti gelas punya Bu Raka sih masalah gampang.
    Lidya memunguti pecahan gelas yang tadi dilempar Pak Hasan dengan hati – hati, si cantik itu menimbang – nimbang sebentar apa yang harus dilakukan. Ia menggeram marah dan dengan langkah jengkel berjalan menuju pos siskamling setelah mengunci pintu rumah. Tak ada jalan lain, dia harus menurut pada mertuanya. Pos ronda tempat Pak Hasan dan teman – temannya bermain judi berbentuk balai – balai dengan empat kaki penyangga dan tiga sisi tertutup dinding kayu hingga langit – langit. Bagian depannya terbuka tiga perempat dengan separuh dinding bagian atas terbuka.
    Kawan – kawan judi Pak Hasan adalah begundal dan preman desa, mereka dikenal dengan nama Eko Tompel - si gondrong kurus berhidung pesek yang memiliki tompel besar berambut di pipi, Edi Gagap - yang gundul dan bertubuh besar namun kurang lancar bicara, serta Ecep Sumbing - si penderita bibir sumbing yang tidak pantas dikasihani.
    Ketiga orang kawan lama Pak Hasan ini membuat Lidya bergidik, ketiganya sangat lusuh dan kotor karena jarang mandi. Bau ketiganya juga membuat menantu Pak Hasan itu ingin muntah. Ketika melihat sosok wanita jelita itu datang, ketiga orang itu langsung mengamati Lidya dari atas ke bawah seperti hendak menelannya hidup – hidup. Desa Kapukrandu tentu tidak kehabisan stok warga yang cantik, tapi karena Lidya adalah wanita yang luar biasa mempesona maka penampilannya membuat Edi, Eko dan Ecep menahan nafas. Tubuhnya yang indah dan wajahnya yang cantik menjadi perhatian warga sejak kedatangannya bersama Pak Hasan di desa ini.
    “Bapak – bapak sekalian, kenalkan ini menantu saya, namanya Lidya.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum bangga. Dia mengedipkan mata pada Eko, Ecep dan Edi penuh arti. Karena sudah lama bergaul dengan Pak Hasan maka ketiganya langsung mengerti apa maksud Pak Hasan. Lidya melihat kedipan Pak Hasan pada tiga temannya, tapi dia tidak tahu apa artinya. Tanpa ia sadari, sesungguhnya Lidya telah jatuh ke perangkap maut yang sudah bertahun – tahun dipraktekkan oleh keempat orang ini pada gadis – gadis desa atau istri warga kampung yang terlalu lugu.
    “Wah, ca – ca – ca – cantiknya menantu Pak Hasan! Sungguh beruntung Andi mendapatkan istri semacam ini… kalau yang seperti ini, a – a – a – aku juga mau!” kata Edi Gagap. Walaupun gagap, apa yang diucapkan Edi kadang keluar tanpa ia pikir dulu.
    “Nyantik…” sambung Ecep. Karena sumbing, dia jarang bicara. Lidya biasanya merasa kasihan pada penderita bibir sumbing, tapi Ecep bukan orang seperti itu, tubuhnya yang hitam kekar nyaris penuh oleh tatto dengan bentuk tidak jelas karena gambarnya tumpang tindih. Lidahnya yang panjang menjilat – jilat bibirnya sendiri ketika melihat sosok Lidya yang seksi. Pandangan mata Ecep tajam menghujam mata Lidya yang ketakutan.
    “Afa liat – liat?!!!” bentak Ecep.
    “Ti – tidak… aku tidak… aku tidak…” Lidya mundur teratur mendengar bentakan Ecep, ia tidak ingin dianggap menghina bibirnya yang sumbing hingga membuat orang menyeramkan itu tersinggung. Tapi belum sempat Lidya kabur, tangannya sudah dipegang oleh Eko.
    “Sini… sini, Nduk… jangan takut. Kenalkan namaku Eko. Kalau di desa sini sering dipanggil Eko Tompel. Dua temanku ini Edi Gagap sama Ecep Sumbing.” Tanpa rasa malu Eko menarik tangan Lidya, dengan berani dia bahkan mendudukkan Lidya sangat dekat dengannya. Tubuh mereka seakan tidak ada jarak, Lidya duduk tepat di tepat di depan Eko yang bersila. Dengan berani Eko memeluk tubuh Lidya yang kebingungan dari belakang.
    “Ja – jangan kurang ajar…!” bentak Lidya takut – takut. Ia menundukkan kepala karena tidak berani beradu pandang dengan Pak Hasan yang melotot di hadapannya.
    “Kurang ajar kenapa? Kamu mau pilih duduk sama siapa? Ecep? Atau Edi? Boleh saja…”
    Lidya menggeleng, dari ketiga orang teman Pak Hasan, sepertinya Eko yang paling normal.
    “Ini, coba kamu aja yang pegang kartu aku…” kata Eko sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepala Lidya. Uuh, begitu baunya tubuh Eko sampai – sampai Lidya enggan menarik nafas karena akan langsung tercium bau tidak sedap, apalagi mereka terlalu berdekatan. Nafas orang yang jarang sikat gigi bukan nafas yang pantas dipamerkan batin Lidya, apalagi nafas Eko juga berbau alkohol bercampur rokok. Rambut Eko yang keriting gondrong sepertinya juga tidak terurus, membuatnya semakin tidak sedap dipandang apalagi dibau.
    Posisi Lidya terus ditarik oleh Eko hingga kini duduk tepat di depannya. Si cantik itu awalnya bersimpuh namun kini terpaksa duduk bersila dengan kaki Eko mengapit paha kanan dan kirinya. Si tompel itupun dengan santai memeluk tubuh Lidya dari belakang dan menyuruhnya memegang kartu. Ketika Lidya menolak, kedua tangannya dipegang erat oleh Eko hingga tak bisa digerakkan. Begitu dekatnya tubuh mereka sehingga Lidya bisa merasakan ada tonjolan yang makin lama makin besar di selangkangan Eko. Tonjolan itu menyentuh sisi kanan pantatnya membuat Lidya bergelinjang jijik.
    Lidya mencoba mencari bantuan, namun Pak Hasan sepertinya tidak peduli apa yang dilakukan oleh Eko Tompel pada menantunya. Setelah Lidya tidak bisa melakukan protes lagi, keempat pria yang ada di pos kamling itu melanjutkan permainan kartu domino mereka. Laki – laki buruk rupa yang ada di belakang Lidya makin berani, ia menempelkan dadanya ke punggung si cantik. Tangan Eko juga mulai nakal sesekali mengelus – elus paha mulus Lidya. Si cantik itu mengutuk dirinya sendiri karena memutuskan memakai daster malam ini. Dengan berani Eko mengendus harum rambut panjang Lidya sementara tangannya bergerilya di pahanya.
    “Kucirnya aku lepas saja, ya?” tanya Eko.
    Lidya mengangguk.
    “Kamu lebih cantik jika rambutnya digerai.” Kata Eko sambil melepas kucir rambut Lidya.
    Tubuh Lidya mulai bergetar karena takut. Pak Hasan sepertinya sudah tidak mempedulikan dirinya lagi, ia tidak ambil pusing apa yang dilakukan oleh Eko padanya. Namun berkat kehadiran Lidya, pria tua itu berhasil memenangkan satu putaran karena Eko sudah tidak bisa berkonsentrasi. Eko Tompel sendiri bagaikan raja karena dibiarkan bebas mengerjai tubuh Lidya. Ketika si pesek itu mengenduskan hidungnya yang rata ke tengkuk Lidya, tubuh si seksi itu langsung bergetar hebat. Makin berani, Eko mencium leher Lidya sementara tangannya makin naik menyusur paha sambil mengangkat dasternya sedikit demi sedikit.
    “Jangan…..” bisik Lidya pada Eko. “Jangan, aku…”
    Tapi kucing mana yang akan berhenti jika sudah mendapat suguhan ikan? Bibir Eko melaju tanpa henti di leher dan bahu Lidya. walaupun menolak, tidak bisa dipungkiri kalau dijadikan mainan seperti ini membuat Lidya lama kelamaan sedikit terangsang terutama pada saat Eko menggunakan gigi untuk melepas tali daster menuruni bahunya yang mulus. Lidya menggelengkan kepala seakan jika ia melakukan hal itu ia sanggup menghapus nikmat yang diberikan pria buruk rupa di belakangnya. Eko menggunakan gigi karena tangannya masih sibuk menghajar paha Lidya. Si cantik itu memejamkan mata ketika ia merasakan selangkangan Eko mulai bergerak maju menumbuk pantatnya berulang.
    Pak Hasan, Edi dan Ecep menahan tawa geli ketika melihat Lidya mulai gelisah antara keenakan, takut dan malu. Tanpa bisa ditahan, Lidya menggerakkan pantatnya ke belakang secara reflek. Eko tambah bersemangat, ia mengangkat bagian bawah daster si cantik itu sedikit demi sedikit, semakin lama semakin naik dan makin menunjukkan celana dalam yang dikenakannya. Kini Edi dan Ecep bisa melihat jelas underwear berwarna merah jambu yang dikenakan menantu Pak Hasan yang seksi. Mata keduanya tidak bisa lepas dari belahan yang nampak di bagian bawah celana dalam itu.
    Pak Hasan mengedipkan mata pada Eko yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. Lidya yang memejamkan mata tak bisa melihat kode dari Pak Hasan kepada Eko itu.
    Tanpa menunggu lama Eko mengelus bagian terbawah dari celana dalam Lidya. Menyentuhnya pelan dan menggeseknya dengan lembut.
    “Oooooohhhhh….. essstttt…..” Lidya mendesis penuh nikmat ketika Eko menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Ia tidak bisa bertahan dan menjatuhkan kartu – kartu Eko yang sebelumnya ia pegang.
    Melihat Lidya sepertinya sudah jatuh ke dalam jebakan nafsu, Edi dan Ecep melepas kartu mereka dan maju dengan air liur menetes ke arah Lidya. Keduanya tak ingin ketinggalan menikmati tubuh seksi Lidya, Ecep yang meyukai perut yang rata dan ramping meraba dan mengelus perut Lidya. Sementara Edi lebih berani lagi, si gagap itu sudah tak tahan melihat ranumnya bibir Lidya dan memutuskan untuk menciumnya. Bibir manis Lidya dikulum oleh bibir tebal Edi Gagap. Bau mulut yang jarang sikat gigi begitu busuk terasa di mulut Lidya. Jika si cantik itu merasa jijik, sebaliknya Edi gembira sekali bisa merasakan bibir ranum milik istri Andi, bibir milik seorang wanita yang seharusnya tidak bisa dijamah sama sekali.
    Lidya yang merasa jijik diserang oleh tiga orang secara bersamaan menolak bibir Edi. “Aku tidak mau! Jang…”
    Belum selesai Lidya mengucapkan kata – kata, Edi menarik kepalanya dan kembali menciumnya. Kali ini rangsangan dari semua arah membuat Lidya tak kuat bertahan, dengan tidak mempedulikan bau yang ia cium, Lidya membalas ciuman Edi. Si gagap itu bahagia sekali.
    Tangan Ecep pun tak kalah nakal, melihat Edi berhasil mendapatkan bibir Lidya, Ecep menyerang payudaranya. Tangan Ecep menggerayangi buah dada Lidya yang masih berada di balik daster. “Euuuuuhhhh…” Serangan Ecep membuat Lidya melenguh keenakan di sela – sela ciuman Edi.
    Melihat Edi telah mencium bibir Lidya dan Ecep menggerayangi payudara si cantik itu, Eko Tompel segera memasukkan jemarinya ke balik celana dalam Lidya untuk menyentuh kemaluannya. Bibir vagina Lidya sudah basah oleh cairan pelumas yang keluar karena rangsangan bertubi ketiga preman membuat Eko makin girang. Dengan lancar Eko melesakkan jari tengahnya ke dalam memek Lidya.
    “Huaagghhh!!! Uuuhhh!! Hiikkkghhh!!!” Lidya mengembik mencoba menolak semua yang menyerangnya, ia tidak bisa bergerak karena tiga orang teman Pak Hasan menghajarnya tanpa henti, membuat tiga bagian tubuh utamanya merasa keenakan. Sementara jari Eko bergerak lincah menusuk – nusuk vaginanya, pantat Lidya digerakkan maju mundur dengan gerakan seirama.
    Tiba – tiba saja…..
    “Hei, hei, hei… kalian mau ngapain? Itu menantuku.”
    Suara itu menggelegar menghentikan semua gerakan yang dilakukan oleh Edi, Eko dan Ecep. Lidya terengah – engah di tengah mereka, bajunya sudah acak – acakan, sebagian besar terbuka dan memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus. Pak Hasan yang duduk tenang di depan mereka tersenyum jumawa sambil mengocok kartu domino yang ia pegang.
    “Walaupun aku tahu menantuku itu seksi dan kalian sangat ingin bisa memasukkan ****** ke memeknya, tapi maaf… aku tidak bisa menyerahkan dia pada kalian.” kata Pak Hasan.
    “Yaaa, kok gitu sih, Pak?” Eko melepas cengkramannya pada Lidya dengan kecewa.
    “Nyanggung amat niyh, Pak.” Sambung Ecep.
    “Pa – padahal tadi i – i – ini kan su – su – sudah hampir…” Edi terduduk menahan kesal.
    “Jangan sedih gitu dong, jangan khawatir. Kita kan kawan lama? Aku punya tawaran lain untuk kalian bertiga.” Pak Hasan mengeluarkan rokok dari kantongnya dan menyalakannya. “Begini lho, Lidya ini kan menantuku sendiri, aku tidak bisa membiarkan Andi sedih melihat istrinya dijadiin lonthe sama orang – orang kampung sini. Jadi kalian tidak boleh menyentuhnya…”
    Edi, Eko dan Ecep mengeluh bersamaan, nafsu mereka hilang dalam sekejap.
    “Hahaha, sudah aku bilang jangan sedih begitu, aku ada pengecualiannya untuk kalian. Supaya seru, kita bikin permainan. Bagaimana?” Pak Hasan terbahak sambil menarik Lidya dari kepungan ketiga kawannya. Untuk pertama kalinya malam ini, Lidya merasa lega sudah diselamatkan, tapi… permainan apa yang dimaksud Pak Hasan, ya?
    “Kita lanjutkan permainan domino ini. Orang yang memenangkannya akan aku ijinkan menyentuh Lidya, hanya saja tidak boleh melakukan dikenthu. Kalau aku yang menang, permainan dibatalkan.” Pak Hasan menyeringai penuh kemenangan. “Tapi ada syaratnya, kalau kalian mau menerima tantanganku ini, kalian harus membayarnya dengan semua uang yang kalian bawa malam ini. Anggap saja untuk biaya administrasi…” Pak Hasan tertawa terbahak – bahak.
    Lidya menggemeretakkan giginya dengan kesal. Ternyata belum selesai.
    Edi, Eko dan Ecep saling berpandangan. Mereka mengangkat bahu dan berbisik – bisik kecil, lalu ketiganya mengangguk dan tertawa bersama. Mereka mengosongkan isi kantong dan memberikannya pada Pak Hasan.
    “Dasyar merytua gila.” Geleng Ecep sembari tertawa.
    “Si – si – sial, padahal ma – ma – malam ini aku bawa uang banyak.” Sambung Edi yang langsung menguras isi dompetnya.
    “Tidak masalah! Kita kan temen lama, Pak. Atur aja dah.” Kata Eko yang langsung melemparkan dompetnya ke depan Pak Hasan. “Ambil berapapun Pak Hasan mau. Tapi kita juga butuh jaminan nih. Bagaimana kalau Pak Hasan minta menantunya yang cantik ini untuk membuka baju?”
    “Bisa…. bisa…” Pak Hasan lalu menatap Lidya dengan galak. “Buka.”
    Lidya menggeleng ketakutan. Tadinya ia merasa sudah diselamatkan, sekarang? Ia merasa seperti binatang tak berdaya yang sedang diumpankan kepada para pemburu.
    “Aku bilang buka!” hardik Pak Hasan.
    Lidya kembali menggeleng.
    Mata Pak Hasan melotot melihat Lidya menolak membuka baju. Awalnya dia emosi karena Lidya melawan perintahnya, tapi kemudian dengan tenang Pak Hasan menyunggingkan senyum. “Aku akan memberikan pilihan, Nduk. Mana yang akan kau pilih? Buka baju sendiri atau aku minta mereka bertiga ini merobek – robek dastermu dan kamu akan pulang ke rumah tanpa sehelai benangpun?”
    Lidya menundukkan kepala. Lagi – lagi dia tidak bisa membantah.
    Dengan perasaan kalah, Lidya membuka dasternya. Ketika daster itu luruh ke tanah, Edi, Eko dan Ecep bertepuk tangan kegirangan. Tubuh Lidya kini hanya tinggal dibalut oleh pakaian dalam berwarna merah jambu. Melihat tatapan galak Pak Hasan, Lidya melanjutkan aksinya membuka baju. Dalam hati Lidya, ada sedikit perasaan ingin berbuat nakal di hadapan mertua dan ketiga temannya. Lihat saja Edi, Eko dan Ecep, seperti anak kecil yang berlomba untuk melihat mainan baru.
    Lidya akhirnya melepas kait behanya dan menurunkan celana dalamnya.
    Edi, Eko dan Ecep berteriak – teriak senang karena pada akhirnya bisa menyaksikan tubuh seksi Lidya tanpa balutan seutas benang pun. Ini benar – benar kecantikan yang sempurna karena dengan atau tanpa pakaian, Lidya sangat mempesona. Si cantik itu menundukkan kepala karena malu, wajahnya memerah.
    Setelah Lidya telanjang, permainan dimulai kembali, kali ini Edi, Eko dan Ecep bermain dengan sungguh – sungguh. Tidak ada yang ingin melewatkan tubuh Lidya yang seksi itu walaupun hanya bisa menyentuh tanpa melakukan eksekusi. Sekali dua kali mereka yang bermain melirik ke arah tubuh Lidya.
    Lidya yang lemas duduk di pojok pos siskamling. Memperhatikan empat orang pria sedang bermain domino untuk memperebutkan dirinya. Tidak pernah ia bayangkan selama hidup bahwa pada suatu ketika ia akan melayani tiga orang lelaki dari desa terpencil.
    “Dingin?” bisik Pak Hasan lembut di tengah – tengah permainan.
    Lidya mengangguk, ia memang tengah menggigil. “Di… dingin…”
    “Coba pakai ini.” Pak Hasan melepas jaketnya yang tebal dan memberikannya pada Lidya. “Aku sudah pakai baju dobel.”
    Terkejut juga Lidya menyaksikan mertuanya. Tumben sekali dia baik?
    Sesaat kemudian Pak Hasan kembali asyik bermain, lupa pada Lidya yang kini mengenakan jaketnya. Untuk sesaat itu, Lidya merasakan kehangatan melebihi apa yang pernah ia rasakan. Sisi yang belum pernah ia lihat dari Pak Hasan. Untuk pertama kalinya, ia ingin memberikan semangat pada ayah mertuanya. Ia ingin Pak Hasan yang menang.
    Tapi setelah beberapa putaran ternyata Eko Tompel yang memenangkan permainan.
    Begitu menang Eko langsung melepas celananya. “Aku sudah tidak sabar lagi!” teriaknya penuh nafsu. Lidya langsung ketakutan melihat bentuk kemaluan Eko. Penis Eko sangat hitam dengan urat kemerahan melingkarinya, bentuknya agak bengkok dengan tonjolan – tonjolan di sekeliling batang yang besar. Rambut kemaluan Eko yang dibiarkan tumbuh tak teratur menambah kesan kotor pria itu.
    Eko tidak mau berlama – lama, ia menarik Lidya yang ketakutan ke bagian tengah pos kamling. Lidya dibaringkan di tengah sementara Eko naik ke perut Lidya dan duduk di sana. Lidya berusaha meronta dan memukul dada Eko, namun pria bertompel itu lebih kuat darinya. Dengan mudah ia mengunci tubuh Lidya dan melepas jaket Pak Hasan yang melindungi bagian atas tubuh si molek.
    “Tak ada memek, susupun jadi.” Kata Eko sambil menjilat lidah penuh nafsu melihat payudara Lidya.
    “Tidak… aku tidak mau… aku tidak mau… aku tidak mauuuu…!!!” Lidya menjerit panik. Tapi Edi dan Ecep memeganginya dengan erat sehingga si cantik itu sama sekali tak mampu menggerakkan tubuh. Eko Tompel meletakkan penisnya di antara buah dada Lidya dan mulai bergerak maju mundur dengan teratur. Lidya menggelengkan kepala tak percaya, Eko tengah memperkosa buah dadanya! Penisnya kini digesekkan di dada Lidya, tepat di antara kedua payudaranya. Tangan Eko meremas susu Lidya dan mencoba mempertemukan kedua balon buah dada si cantik itu.
    “Hghhh! Haghhhhh!! Hnghhh!!!” Lidya menghembuskan nafas setiap kali ujung gundul penis Eko bertumbuk dengan dagunya karena pada saat itulah beban tubuh Eko menekan dadanya. Ia meringis karena remasan tangan Eko menyakiti payudaranya. Air mata menetes perlahan dari pelupuk mata indahnya. Tidak hanya menyakitinya, tapi penisnya yang kotor itu membuat Lidya begitu jijik. Lidya meronta sejadi – jadinya tapi tanpa hasil, sementara Eko demikian bernafsu menungganginya.
    Tiba – tiba saja…
    “Haaaaaaaakkkkkhhh!!!” Mata Lidya melotot seakan ingin keluar dari lubangnya. Si molek itu menggeram karena merasakan sakit yang amat sangat di liang cintanya.
    Tanpa aba – aba dan tanpa persiapan apapun, Pak Hasan tiba – tiba saja beringsut ke belakang Eko dan melesakkan penisnya ke dalam vagina Lidya dalam – dalam. Lidya yang kaget tentu saja langsung meronta – ronta sebisa mungkin. “Jangan Pak! Jangan!!! Jangaaaan!! Aku belum siap!!!”
    Tapi kedua orang yang kini mengerjai Lidya tentu tidak ingin berhenti sampai mereka mendapatkan kepuasan puncak. Lidya menjerit – jerit sekuat tenaga, dia tidak peduli lagi jika ada orang yang akan datang. Dia justru sedang membutuhkan pertolongan! Lidya memejamkan matanya, rasa sakit di selangkangannya begitu ngilu, kasar sekali Pak Hasan menyetubuhinya. Gerakan maju mundurnya bukan gerakan yang lembut, tapi menyentak – nyentak dengan sangat cepat. Kaki Lidya dinaikkan ke pundak pak Hasan untuk mempermudah pria tua itu menghentakkan kemaluannya dalam – dalam dengan sekuat tenaga. Setiap sodokan membuat Lidya menggigil dan melenguh sakit.
    Keringat deras membasahi tubuh ketiga anak manusia yang kini tengah bergulingan di pos ronda itu. Eko terus saja memangsa dan mengocok penisnya di antara buah dada Lidya. Rasa yang ditimbulkan antara gesekan penis bertonjolan dengan buah dada putih mulus membuat Eko dan Lidya sama – sama melayang. Setiap kali penis Pak Hasan menyentak masuk dan bertumbukan dengan dinding terdalamnya, saat itu pula ujung gundul penis Eko menyentuh dagu Lidya. Edi dan Ecep yang memegang tangan Lidya mengutuk ketidakmampuan mereka mengalahkan Eko dalam bermain domino, lihat betapa binalnya wanita kota ini.
    “Gimana rasanya, Pak?” tanya Eko penasaran. “Gimana rasanya?”
    “Sempit banget, Ko! Sempit!!! Enakk!!” jawab Pak Hasan sambil tertawa.
    “Tantangan terakhir, Pak! Ayo semprotkan di dalam! Hamili dia!!! Hamili menantumu sendiri!!” kini giliran Eko yang tertawa terbahak – bahak.
    “Siapa takut?!!!” Pak Hasan membalas.
    Lidya menggeleng ketakutan, tidak! Itu yang dia tidak inginkan! “Jangan Pak! Jangan di dalam, keluarin di luar saja… aku tidak mau, Pak! Aku mohon!!! Aku mohon, Pak!!”
    “Te – terus… kalau dia punya anak nanti, ma – ma – manggil Pak Hasan apa dong? Ba – ba – Bapak atau Kakek?” tanya Edi Gagap disusul tawa teman – temannya.
    “Ayolah, Nduk. Kamu suka kan? Aku yakin anak kita akan jadi anak yang berbakti pada orangtua dan kakeknya.”
    “Tidaaaaaak!!!” jerit Lidya, dia sudah menjerit sekeras mungkin, kenapa tidak ada orang menolongnya? Kenapa seandainya ada orang mendengar mereka membiarkan saja dia digumuli empat orang ini? Lidya meronta – ronta tanpa daya karena eratnya jepitan Eko pada perut dan payudaranya. Sesungguhnya orang – orang desa sudah terbiasa mendengar teriakan wanita di tengah malam datang dari pos siskamling. Itu karena Edi, Eko dan Ecep sudah terbiasa menyewa lonthe untuk mereka nikmati di sana. Jadi mereka tidak heran kalau malam itu ada teriakan dari pos kamling.
    “Auuuuuhhhh!!!” Eko sudah mencapai orgasmenya, Lidya memejamkan mata dan menutup mulutnya. Penis Eko muncrat – muncrat tanpa halangan, membasahi bagian atas dada Lidya dan dagunya. Si cantik itu berusaha menahan mulutnya terkatup agar ia tidak sampai menelan sperma Eko. Tapi agak susah membersihkan bibirnya yang sudah belepotan sperma seperti ini. Belum selesai Lidya membersihkan bibir dan mendorong tubuh Eko menjauh, sentakan keras menghantam dinding terdalam liang cintanya.
    “Haaaaaaghhh!!!” Lidya menahan sakit yang luar biasa. Tapi ia tidak bisa melawan Pak Hasan lagipula tidak ada gunanya, Pak Hasan tidak akan peduli. Pria tua itu menyemprotkan cairan cintanya begitu mencapai puncak kepuasan. “Hggghhhhh!! Sempit banget memekmu, Nduk!”
    Lidya menjerit ketika dia merasakan semprotan cairan kental dari ujung gundul kemaluan Pak Hasan membanjiri liang cintanya. Rupanya Pak Hasan telah mencapai puncak!
    “Bagaimana kalau akhirnya kamu membuatkan aku seorang cucu, Nduk?” tanya Pak Hasan sambil terus menyemburkan spermanya ke dalam liang cinta Lidya. Bagaikan mulut yang kehausan, vagina Lidya menyedot semua sperma yang disemprotkan oleh Pak Hasan. Lidya menggelengkan kepala lemas karena tak percaya, tidak hanya baru saja disetubuhi ayah mertuanya di depan tiga kawanan berandal desa yang seharusnya bertugas menjadi penjaga kampung, tapi bajingan tua itu juga berniat menghamilinya. Membayangkan dirinya dihamiliki ayah mertuanya sendiri di hadapan banyak saksi membuat Lidya ingin muntah.
    Plop! Pak Hasan menarik penisnya dari dalam memek Lidya sambil meninggalkan bunyi lepasan yang nyaring. Tubuh Pak Hasan ambruk karena lemas, menimpa tubuh Lidya yang masih terlentang.
    Dengan susah payah si cantik itu mencoba menyingkirkan tubuh Pak Hasan agar dia bisa berdiri tegak dan menutup ketelanjangannya. Ia membenahi tali behanya, lalu mengenakan roknya kembali. Vaginanya yang sedari tadi terus menerus diserang masih terasa perih, tapi Lidya sudah tidak tahan ingin meninggalkan tempat terkutuk ini. Dia bahkan tidak mampu berdiri, berjalanpun sempoyongan.
    “Menantu yang hebat, Pak,” kata Eko sembari mengenakan kembali kaos dan jaketnya. “Lain kali kalau main kartu lagi, selalu ajak dia juga ya, Pak.”
    Semua yang disana tertawa kecuali Lidya.
    Malu sekali rasanya Lidya. Malu sekali. Wajahnya memerah tak tertahan. Walaupun semburat merah itu menambah manis wajahnya yang cantik, tapi tidak ingin dia mempersembahkan keindahan apapun kepada orang – orang ini. Tubuhnya seharusnya hanya menjadi milik Mas Andi, suaminya! Ingin rasanya Lidya cepat – cepat lari dan pergi dari tempat ini. ‘Menantu yang hebat’, menantu! Bukankah seorang menantu itu seharusnya dianggap sebagai anak sendiri? Bukan budak seks yang setiap saat disetubuhi? Untunglah malam kali ini begitu gelap sehingga baik Pak Hasan, Edi, Eko maupun Ecep tidak melihat merah wajah Lidya yang malu sekaligus marah. Setelah akhirnya nafasnya kembali normal dan rasa nyeri di selangkangan dan dadanya mulai menghilang, dengan buru – buru Lidya pergi meninggalkan pos ronda dan lari pulang ke rumah, meninggalkan Pak Hasan yang berjalan mengikutinya dengan santai sambil mengepulkan asap rokok.
    Untuk pertama kali dan terakhir, ketiga orang yang duduk bersama dan meronda malam itu menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Mereka tidak akan pernah melupakan saat – saat terindah dalam hidup mereka ini. Saat – saat rahasia yang hanya mereka bertiga, Pak Hasan dan Lidya yang tahu.
    Semuanya akan baik – baik saja, jika mereka diam.
    Ketiga orang itu berbaring di pos ronda dan memejamkan mata mereka, berharap kejadian yang baru saja mereka alami akan berulang di kemudian hari. Oh, betapa inginnya mereka memiliki Lidya yang mempesona. Sungguh beruntung Pak Hasan, memilik menantu jelita seperti Lidya.
    Edi Gagap, Ecep Sumbing dan Eko Tompel tidur dengan senyum mengembang.
    ###
     
  3. Frx74

    Frx74 Junior

    Lanjutan....

    HARI KETIGA
    Hari ini hampir seharian Lidya menghabiskan waktu di kebun. Dimulai dari menikmati indahnya pagi dengan sarapan gurameh bakar kiriman Mbak Mirah, lalu mengagumi angin yang bersemilir sambil makan rujak buah – buahan buatan sendiri di siang hari dan akhirnya mengobrol dan bercanda dengan Mbak Mirah dan saudara – saudaranya di sore hari. Anak Mbak Mirah yang masih balita lucu sekali. Bersama dengan orang – orang ini, Lidya ingin melupakan kejadian sial yang terjadi kepadanya. Suasana Desa Kapukrandu yang tenang, asri dan bersahabat membuat Lidya sedikit demi sedikit merasa tenang dan nyaman, begitu nyamannya sehingga seandainya diminta, Lidya akan betah tinggal di sana. Bahkan jika dia harus tinggal di rumah pinjaman bersama dengan mertuanya yang bejat dan hanya memikirkan seks.
    Itu pagi sampai sorenya. Tapi malamnya?
    Malam ini sepertinya Lidya harus menepati janji pada Pak Hasan, janji apa? Janji melayani sang mertua di tempat tidur. Lihat saja pandangan buas Pak Hasan di meja makan hari ini, seperti hendak menelannya hidup – hidup. Setelah kemarin malam diancam akan dibuka rahasianya pada Andi, bisakah wanita cantik itu menolak?
    “Malam ini, kamu tidur di kamarku.” Kata orang tua cabul itu dengan dingin sambil mengunyah nasi.
    “Tidak.” Tolak Lidya.
    “Kenapa?” tanyanya galak.
    “Rumah Mbah Mirah tidak jauh dari rumah ini, kamar mereka juga dekat dengan kamar Bapak. Kalau sampai keluarga mereka mendengar jeritan…” wajah Lidya memerah ketika ia menyadari apa yang ia katakan. Ia segera meralat kata – katanya. “….kalau sampai keluarga Mbak Mirah mendengar suara mencurigakan, kita bisa digrebek. Aku tidak mau Mas Andi malu. Lagipula tadi malam Bapak sudah… sudah dapat.”
    “Malu? Kenapa harus malu? Setelah apa yang kita lakukan di bus, di pasar atau di mal? Atau saat main kartu kemarin? Apanya yang bikin malu?” Pak Hasan tertawa renyah. “Tidak akan terjadi apa – apa. Malam ini kamu tidur di kamarku.”
    Lidya meneguk ludah. Tiba – tiba saja nasi sayur yang ia makan terasa hambar. Ia tahu tidak ada gunanya menolak. Dengan gerakan kepala pelan, si jelita itu mengangguk.
    Pak Hasan tersenyum puas, “habiskan makananmu, Nduk. Aku tidak mau Andi melihat istrinya kurus sepulang dari desa. Untuk nanti malam, pakai kaos tipis dan rok mini yang sekarang kamu pakai itu dan jangan memakai beha saat kamu masuk kamarku nanti.”
    Lidya mengeluarkan nafas panjang, sudahlah, ia sudah letih melawan… ia menyerah. Si jelita itu kembali mengangguk.
    Malam datang sangat cepat hari itu, detik demi detik yang biasa datang lambat justru berpacu dengan hening malam. Lidya sempat beristirahat sebentar usai mencuci piring, ia tahu ia harus masuk ke kamar sang mertua dan melayaninya bermain cinta. Bukan hal yang paling menyenangkan hari ini, tapi ia tahu dirinya tidak bisa mengelak. Cepat atau lambat, Pak Hasan pasti akan menikmati ranum tubuhnya.
    Dengan langkah malas Lidya bangun dari pembaringan tempatnya bermalas – malasan sepanjang hari dan berjalan menuju kamar Pak Hasan. Walaupun kamar mereka hanya dibatasi oleh ruang keluarga, namun Lidya merasa dirinya bagaikan seorang narapidana yang berjalan melalui lorong penjara menuju hukuman mati. Ketika mendengar langkah kaki Lidya, Pak Hasan bergegas untuk membukakan pintu. Pria tua itu hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan sarung yang melilit. Dengan gerak langkah ringan, Lidya duduk di pembaringan. Tanpa bicara, tanpa kata. Lidya hanya diam dan menunggu.
    Pak Hasan duduk di samping menantunya, lalu dengan lembut ia mencium bibir mungil Lidya. Sapuan lembut bibir sang mertua membuat gairah Lidya perlahan – lahan naik. Ini dia, seorang pria yang bukan suaminya mencium bibirnya dengan bebas. Tapi anehnya, hampir – hampir Lidya berharap Andi bisa menciumnya seperti yang dilakukan oleh Pak Hasan, begitu dominan, kuat dan jantan. Si cantik itu tentu saja tidak mau menikmati permainan kasar Pak Hasan dengan membayangkan suaminya. Ia tidak ingin menikmati ini, tapi… ketika bibir dengan bau tak sedap itu menyapu bibirnya dan menjelajah semua sisi rongga mulut dan bibir penuhnya, pagutan bibir mertuanya membuat Lidya menyeberang kenikmatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
    Tubuh gemuk Pak Hasan bertengger di atas tubuh Lidya yang ramping. Celananya sudah turun hingga lutut dan lidahnya yang cabul menjelajah mulut menantunya yang cantik sementara tangan nakalnya menjelajah seluruh lekuk tubuh Lidya. Tangan itu meremas – remas buah dada sang menantu yang kenyal dan sempurna yang masih ada di balik pakaian tipis. Bibirnya yang tebal terus saja menjajah bibir mungil Lidya, lidahnya menggeliat, memaksa sang menantu membuka mulut sedikit dan meneteskan air liur diantara bibir merah yang ranum.
    “Haunnng…” Lidya mengerang sambil memejamkan mata keenakan ketika Pak Hasan menarik lidahnya yang nakal dan mulai menjilati sisi wajah dan dagu sang menantu sambil tak lupa sesekali mengecup bibir mungilnya yang menggemaskan.
    Lidya memandang ke arah sang pencium dengan mata berkaca – kaca dan bibir yang menebal bahkan hampir luka karena ciuman kasar pria tua bejat yang kini sedang menciuminya penuh nafsu. Lidya berupaya mengangkat kepalanya, tapi bibir sang mertua yang bau itu mengejar bibirnya lagi, sekali lagi kepala Lidya terjerembab ke bawah.
    “Ummmpphhhhh… glkkk… Ppaaakkk…” kepala Lidya bergerak tanpa henti karena kasarnya ciuman Pak Hasan. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati ciuman buas seperti ini? Walaupun dalam hati menolak, tak urung Lidya merem melek juga dengan rangsangan hebat yang kini menderanya. Pak Hasan terus saja menumbuk bibir manis Lidya dengan bibirnya yang kasar dan mulutnya yang bau, belum lagi dengan air liur yang terus menetes dari mulut sang mertua membuat bibir Lidya benar – benar serasa dijajah. Lidya mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa mengatur kuasa tubuhnya. Bukannya merasa jijik, Lidya malah semakin menikmati ciuman menuju puncak orgasme. Orgasme, hanya dengan berciuman dengan Pak Hasan. Lidya malu sekali.
    Penis Pak Hasan keras seperti kayu, menyembul dari sarungnya. Lidya bisa merasakan hawa nafsu yang menghangat keluar tiap kali tubuhnya bergesekan dengan kemaluan sang mertua. Bahkan ketika penis yang masih ada di balik sarung itu disandarkan dengan santai di perutnya yang rata. Lidya masih merem melek menerima serangan ciuman bertubi. Si cantik itu hampir tidak bisa bergerak dan berkonsentrasi untuk melakukan apapun karena intensitas serangan terus – menerus meningkat.
    Tangan kasar sang mertua bergerak lincah dengan cepat, menyadari menantunya yang jelita kini ada dalam kuasanya, tangannya segera melucuti celana dalam pink mungil milik Lidya. Si cantik bahkan tak sadar bahwa bagian bawah tubuhnya kini telah telanjang.
    “Sudah waktunya.” Kata Pak Hasan setelah melepas pagutannya yang liar pada mulut Lidya. Ia berdiri dan melepas sarungnya yang kumal.
    Lidya tak menjawab, tapi matanya gelisah penuh penantian. Antara ingin dan jijik. Bola matanya yang indah memandang tubuh mertua yang tidak ada bagusnya, perut gembul berbulu dengan kemaluan yang keras menggantung di bawah, air cinta pelumas membasahi ujung gundul penis dan perlahan menetes membasahi roknya yang berantakan. Setelah mencopot pakaiannya sendiri, Pak Hasan menarik lepas celana dalam sang menantu yang tadi masih tergantung di kaki.
    Ketika sedang melamun, Lidya dikagetkan oleh Pak Hasan yang tiba – tiba memegang paha mulusnya.
    “Siap?” tanya Pak Hasan sambil menyeringai. “Hari ini sepertinya kamu juga menikmati.”
    Lidya memandang geram ke arah mertuanya yang cabul. Tapi apa mau dikata, nafsunya sudah terlanjur naik, lagipula tidak ada gunanya lagi melawan seorang pria bertubuh gemuk yang kini berada di atas tubuhnya yang telanjang. Lidya mengangguk pasrah tanpa suara. Dengan kasar Pak Hasan merenggangkan kaki Lidya, lalu menarik pinggulnya dan mendekatkan tubuh si cantik itu kepadanya. Tak perlu waktu lama bagi Pak Hasan untuk melesakkan penisnya masuk ke dalam vagina si jelita yang telah basah.
    “Ini dia, Nduk. Ini dia…. ini dia….!!! Hggghhhhhhh!!!” Pak Hasan memejamkan mata penuh kenikmatan saat penisnya berusaha menembus masuk ke vagina sempit bidadari yang jelita itu.
    “Aaaaaauuuuhhhhhhh……. essssstttttt!!!!!” Lidya mendesis penuh nikmat ketika pria tua yang kini berada di atas tubuhnya melesakkan kemaluan ke dalam liang cintanya.
    “Sudah berkali – kali aku menyetubuhimu, Nduk… tapi tetep sempit rasanyaaaa…”
    Rasa sakit bercampur nikmat membuat Lidya tak bisa menahan diri, kepalanya berpaling kesana kemari dan mulutnya menghembuskan nafas berulang untuk mencoba menenangkan batin.
    Sambil duduk bersimpuh dan memegang pinggang ramping Lidya, Pak Hasan memutar – mutar kemaluannya dan mengaduk isi liang cinta sang menantu. Bagian atas tubuh Lidya masih beralaskan kasur, namun pantatnya kini terangkat ke atas. Pak Hasan mulai menumbuk dengan kecepatan teratur, melesakkan barangnya yang hitam ke dalam liang cinta yang seharusnya hanya boleh dimasuki penis anak kandungnya. Lidya tak tahan lagi, rasa nikmat bercampur sakit membuatnya tak kuat, ia menggunakan punggung tangan untuk menghapus air mata yang kadang leleh keluar tanpa ia inginkan.
    Dengan satu gerakan cepat Pak Hasan menggerakkan seluruh tubuhnya ke depan, hampir – hampir meremukkan tubuh mungil menantunya yang jelita dan melesakkan dalam – dalam kemaluannya hingga berbenturan dengan dinding dalam vagina Lidya. Pak tua bejat itu memejamkan mata keenakan, “hggghhh!!!”
    “Eesssst!!!” Lidya meringis kesakitan ketika mertuanya menjejalkan penisnya.
    Namun Pak Hasan tidak berhenti begitu saja. Sekali lagi dengan satu gerakan cepat, Pak Hasan menggulingkan tubuhnya dan merubah posisi mereka, kini justru Lidya yang berada di atas, duduk dan menunggangi ****** mertuanya.
    “A… apa yang… oooooohhhhh!!! Esssttt!!” Lidya tak sempat mengeluarkan protes atau kata apapun karena kemaluan sang mertua mulai bergerak naik turun menikam liang cintanya yang sudah basah.
    Melihat Lidya bergerak naik turun dengan erotis sambil mengendarai penisnya menuju puncak kenikmatan, tak urung Pak Hasan naik kembali nafsunya. Ia meremas – remas buah dada sentosa milik Lidya.
    “Aaaaaahhhhh!!” desah Lidya, tangannya yang lentik bertumpu pada perut gembul sang mertua. Harga dirinya lenyap ditelan nafsu maut, Pak Hasan tidak hanya telah menyetubuhinya, tapi entah bagaimana kini Lidya justru berada di atas dan mengatur gerakannya sendiri. Mertuanya yang cabul telah membalik posisi mereka tanpa ia sadari.
    Lidya masih belum melepas rok mininya yang kini menutup bagian selangkangan mereka berdua. Ia benci sekali posisi ini karena berkesan dialah yang sedang menyetubuhi Pak Hasan dan bukan sebaliknya. Entah kenapa Lidya terus menggerakkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Si cantik itu ingin cepat memperoleh kepuasannya, dia ingin cepat, lebih cepat, semakin cepat, lebih cepat lagi… naik turun, naik turun, terus, terus… terus! Terus!!!
    Saat itulah tiba – tiba telepon genggam Lidya berdering, mengeluarkan ringtone lagu cinta salah satu band lokal. Lidya kaget mendengarnya dan kehilangan fokus dengan cepat, ia mencoba menarik diri dari atas tubuh Pak Hasan dan melepas penisnya dari dalam vagina.
    Namun satu tangan gemuk menahan pinggangnya.
    “Jangan berhenti.” Kata Pak Hasan tegas. Lidya yang kebingungan melanjutkan gerakannya sesuai perintah, naik turun untuk memberikan kenikmatan pada penis keras sang mertua. Namun matanya tak lepas dari telepon genggam yang ternyata tak sengaja ia bawa ke kamar ini. Konsentrasi si molek itu sudah buyar.
    Karena posisinya yang berada di bawah dan tangannya bebas, Pak Hasan meraih telepon genggam yang ada di atas meja di samping kasur, entah kapan Lidya meletakkannya di sana. Ia harus memicingkan mata untuk bisa melihat nama orang yang menelpon wanita jelita yang kini tengah mengendarai penisnya dengan penuh nafsu. “Ini Andi.”
    Wajah Lidya pucat pasi, ia menggelengkan kepala. Tidak! Ia tidak mau! Ia tidak mau menerima telepon suaminya sementara penis sang mertua tengah menancap di dalam vaginanya. Si cantik itu terus menerus menggelengkan kepala, ia hampir menangis ketika Pak Hasan tidak mempedulikan gelengan kepala menantunya yang pucat pasi dan memencet tombol penerima telepon.
    Lidya langsung merebut telepon genggamnya dari tangan sang mertua. Keringat dingin mengalir deras membasahi dahinya. Pak Hasan hanya tertawa kecil tanpa suara.
    “Ha… halo?” tergagap Lidya berusaha menyesuaikan suaranya senormal mungkin.
    “Halo sayang.” Suara mesra Andi menyambut istrinya.
    “Ha – halo, mas…” Lidya berusaha mengeluarkan suara lembut tanpa ekspresi, sangat sulit mengingat penis Pak Hasan terus berdenyut di dalam liang cintanya.
    “Gimana kabarmu? Aku susah sekali mencari waktu untuk menelpon. Baru bisa menelpon sekarang, pekerjaan banyak banget.”
    “A… aku baik, Mas. Iya… di sini sinyal juga sering susah… jadi tidak bisa sering telepon dan… tidak pasti ada sinyal…. henghhh…”
    “Sayang? Kamu kenapa?” sentakan nafas Lidya mengagetkan Andi. “Kamu tidak apa – apa kan?”
    “Ti… tidak apa – apa… a… aku tersandung saja. Iya, tersandung.” Walaupun Andi tidak akan melihatnya, Lidya menganggukkan kepala, mencoba membenarkan kebohongannya. Pak Hasan tergelak melihat kepanikan menantunya, Lidya melotot galak melihat mertuanya itu.
    “Suaranya kok tidak seperti tersandung? Seperti menahan sesuatu… memangnya kamu jalan kemana?”
    “Beneran, Mas. Aku tersandung. Aku sedang… aku sedang mau ke dapur.” Lidya melirik ke arah mertuanya yang hampir – hampir tidak bisa menahan ketawa, ingin rasanya ia membungkam mulut mertuanya itu saat ini dan menghapus senyuman menghina dari wajahnya. “Ta… tadi tersandung… ta… tapi tidak apa – apa.”
    Melihat Lidya memfokuskan perhatian kepada telepon genggam, Pak Hasan mulai nakal, ia menggerakkan pinggulnya dan menggoyang penisnya untuk menyengsarakan sang menantu. Lidya melotot kepada mertuanya, namun rasa enak yang ia rasakan di selangkangan tak bisa ia pungkiri. Tubuh Lidya bergetar hebat, rangsangan luar biasa yang ia rasakan dari sodokan penis Pak Hasan ditambah suara Andi yang sedang ia dengar di telepon membuat si cantik itu gelagapan tak tahu harus berbuat apa. Rangsangan hebat itu pula yang kini justru membuatnya menaiki puncak kenikmatan. Cairan cinta meleleh deras di dalam liang kewanitaannya, membuat sodokan Pak Hasan kian mudah.
    “Hgnghh! Hgnghh…!!! Hgnghhhh…!!!” Pak Hasan menekan penisnya dalam – dalam dan pada tiap tusukannya ia berusaha melesakkan semakin dalam.
    “Suara apa itu, sayang?” tanya Andi, ia mendengar dengusan teratur di belakang suara Lidya yang bergetar.
    “Su… suara apa maksud kamu, mas?” Lidya bertanya balik, ia benci sekali melihat senyuman geli di bibir sang mertua. Ingin rasanya ia menampar wajah penuh kemenangan itu. Lidya memejamkan mata, ingin menangis rasanya.
    “Seperti ada yang terengah – engah?” kata Andi bingung.
    “Ti… tidak ada siapa – siapa di sini…” Lidya membuka mata dan menggemeretakkan gigi, menahan diri agar tidak mengeluarkan lenguhan yang mencurigakan atau menjerit tiba – tiba. Susah sekali rasanya menahan teriakan karena vaginanya terus menerus digempur. “Mu – mungkin ada gangguan di operator…”
    “Iya, mungkin saja. Kamu tidak apa – apa kan?”
    “Ti… henghhh… tidak apa – apa…” Lidya memejamkan mata. Tangannya berusaha menjauhkan tubuh Pak Hasan untuk sementara waktu, susah sekali rasanya menerima telpon dari suaminya kalau memeknya terus saja dihajar oleh sodokan penis mertuanya sendiri seperti ini. “ti… tidak apa – apa, hgnnngghhh!!!!!”
    “Kok menggeram gitu? Memangnya kamu sedang apa sekarang?” suara Andi mulai terdengar gelisah.
    “Ti – tidak sedang apa – apa kok… beneran.. henghhh… a – akuu sedang memasak… ini sedang menumbuk… enghh… bum… bumbu……”
    “Memasak? Jam segini?”
    “I… iya… Bapak belum makan…”
    “Oooh gitu… kenapa kok sampai jam segini belum makan?”
    “Ta – tadi Bapak keluar, barusan pulang dan katanya… katanya… minta dibuatin makanan….” dia bukan pembohong yang baik, batin Lidya.
    “Oh gitu.” Suara Andi terdengar gamang, “baiklah, sehari lagi kamu pulang kan? Hati – hati di jalan ya, SMS aku kalau kamu sudah mau pulang besok.”
    “Iya mas…..”
    “Bye sayang. Love you.”
    “Bye.”
    Terdengar suara telpon ditutup. Tak terasa beberapa titik air mata menetes dari bola mata yang indah yang kini berkaca – kaca. Lidya baru saja berbohong kepada suaminya. Ia berbohong kepada orang yang paling ia cintai. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa saat ini tubuhnya yang indah sedang telanjang dan disetubuhi oleh Pak Hasan, ayah Andi sendiri!!!
    Pak Hasan menyeringai puas.
    “Kurang – ajar….!!!” Lidya mengumpat. Saat itu dia benci sekali laki – laki tua bejat yang kini tengah tertawa dengan penis tertancap dalam – dalam di lubang memeknya. Tapi umpatannya hilang ditelan gerakan maju mundurnya sendiri. Kemarahan yang dirasakan Lidya justru membuat nafsunya kian tak terkendali, ia bagaikan binatang yang tak bermoral dan menghamba pada nafsu. Tanpa dirasa, walaupun membenci mertuanya hingga ke ujung ubun – ubun, dia jugalah yang memberikan Lidya kenikmatan permainan cinta yang sesungguhnya.
    Mereka tidak sedang bermain cinta, atau bahkan bergerak menekan satu sama lain. Pak Hasan hanya diam saja terbaring di atas kasur, penisnya yang menjijikkan bagi Lidya beraksi penuh kuasa di dalam liang cintanya. Selangkangan mereka masih bertaut ketika telepon genggam Lidya dilempar ke samping tempat tidur oleh si molek.
    “Cium aku dulu, sayang…” Pak Hasan mengeluarkan seringai menjijikkan sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
    “Menjijik… keuuuuhhhhhhhhh!!! Aughhhh!!!” Lidya memejamkan mata ketika penis Pak Hasan membesar di dalam liangnya yang sempit.
    Lidya mencondongkan tubuh ke depan, buah dadanya yang kenyal ia tekan ke dada sang mertua yang gemuk. Si cantik itu tidak percaya ia melakukan ini dengan kemauan sendiri tanpa diminta oleh Pak Hasan, sungguh gila. Tidak hanya ia membiarkan Pak Hasan menyetubuhinya tanpa perlawanan, kini ia malah bersedia memuaskan nafsu sang mertua yang bejat. Mertuanya yang arogan hanya terbaring di sana sementara Lidya mencium bibirnya dan menaikturunkan pinggulnya, sebisa mungkin ia melesakkan penis sang mertua dalam – dalam tiap kali diturunkan. Lidya membuka mulutnya, menanti lidah sang mertua menjelajah ke dalam mulutnya.
    Pak Hasan menyapu bibirnya yang basah oleh liur Lidya yang bercampur dengan cairan lain dari mulut sang menantu. Lidya berusaha mengangkat bagian atas tubuhnya agar bisa bernafas sementara selangkangannya terus menerima sodokan dari bawah, ditusuk hingga ke dinding terujung. Penis gemuk yang menjelajah di liang terdalam kewanitaan Lidya berdenyut pelan seperti menikmati ditekan oleh dinding yang sempit.
    Masih dengan mulut yang saling berpagut, Pak Hasan membalik tubuh Lidya dan membaringkan menantunya di atas kasur, memutar posisi mereka. Perut gemuknya ditekan hingga pipih di atas perut Lidya yang ramping. Pakaian si cantik itu sudah acak – acakan ketika Pak Hasan mulai memajumundurkan pinggang untuk menyetubuhi sang menantu. Menumbuk tubuh mungilnya di atas ranjang acak – acakan dan basah oleh keringat keduanya.
    Kaki jenjang Lidya direntangkan lebar – lebar dan lututnya ditekuk. Wajahnya yang cantik acak – acakan oleh ulah Pak Hasan yang tak henti – hentinya mencium. Lidya berulang memejamkan mata merasakan batang kemaluan sang mertua keluar masuk di liangnya. Tubuh berat Pak Hasan membebani tubuh Lidya yang kecil dan ramping.
    Pak Hasan melenguh keras, ia meremas payudara Lidya beberapa kali sebelum mengangkat bulat pantat si cantik itu dan menusukkan penisnya dalam – dalam. Makin lama makin cepat.
    “A… aku tak kuat lagi…. haaaaarrrgghhhh!!!” teriak Pak Hasan yang akhirnya tak mampu bertahan dan menghamba menginginkan kepuasan.
    Pria tua itu mengangkat kepalanya tinggi – tinggi ketika ujung gundul penisnya meledak di dalam kemaluan sempit sang menantu. Buah pelirnya bekerja dengan baik memberikan supply sperma yang berlebih dan membantunya memancarkan cairan kenikmatan di dalam liang kemaluan Lidya hingga penuh tanpa menghentikan gerakan maju mundur pinggulnya.
    Lidya berteriak kencang sambil mencakar bahu sang mertua, si cantik itu rupanya juga mengalami orgasme yang telah ditunggu – tunggu. Ia mengejang sesaat dan kemudian terbanting lemas.
    Saat kemudian ia sadar, Lidya hampir – hampir tak bisa bernafas karena tubuh gemuk Pak Hasan ambruk menimpanya. Lidya tak mampu menggerakkan tubuh karena terkunci pelukan sang mertua. Kakinya yang jenjang masih terbentang lebar, untuk memudahkan Pak Hasan melakukan penetrasi. Cairan cinta mereka yang beradu di dalam liang kemaluannya terasa berat dan kental, membuat ia merasa becek. Lama kelamaan Lidya megap – megap karena tak kuat lagi menahan beban.
    “Kamu memang benar – benar kuda binal yang enak ditiduri, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil berguling turun dari tubuh si cantik yang masih tersengal – sengal, perlahan – lahan orang tua bejat itu menarik keluar penisnya dari dalam kemaluan sang menantu. Lidya sempat tersentak kecil ketika penis itu keluar dengan menimbulkan bunyi plop yang nyaring.
    Karena tidak mampu berpikir dengan jernih Lidya hanya bisa mendesah tanpa arti. Ia juga tak bisa melakukan apa – apa ketika lengan gemuk Pak Hasan memeluk tubuhnya erat. Si cantik itu terlalu lelah untuk mengeluarkan kata. Dia hanya ingin tidur dengan nyenyak malam ini.
    ###
    HARI KEEMPAT
    Sejuk semilir angin membawa damai di hati ketika hembusannya yang nakal sesekali mengibarkan helai demi helai rambut Lidya yang indah. Untaian udara dingin malam yang tertinggal dalam dekapan pagi tersebar di seluruh Desa Kapukrandu, menyatu dalam kabut yang hanyut, memberikan nuansa syahdu dalam kesederhanaan yang bersahaja menyambut pagi yang ceria.
    Langkah kaki jenjang Lidya yang menyusur jalanan desa tidaklah sendiri di pagi yang dingin ini. Si cantik itu menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepala berapa kali saat bertemu anak – anak desa berpakaian sekolah yang asyik bersenda gurau dan mengayuh sepeda mereka agar tidak terlambat masuk sekolah. Di pengkolan di ujung kampung, ibu – ibu penjaja dagangan sudah membuka lapak bahkan sebelum sang surya hadir menyambut pagi. Sayur mayur dan bumbu dapur digelar untuk menarik minat pembeli. Ramainya ibu – ibu bersenda gurau dan bertukar berita hanya bisa disaingi oleh teriakan penjual mainan anak – anak.
    Lidya sengaja berjalan pelan. Si molek itu tidak ingin sedikitpun kehilangan momen indah di Desa Kapukrandu karena hari ini adalah hari terakhirnya di desa yang sejuk ini. Lidya teringat, beberapa hari yang lalu ia malas sekali pergi ke tempat ini karena takut dengan perlakuan Pak Hasan. Kekhawatirannya beralasan dan apa yang ditakutkan benar terjadi bahkan lebih parah lagi, ia melakukan hal – hal yang sebelumnya tidak ia sangka akan ia lakukan. Pak Hasan telah memperlakukannya dengan kasar, mencabuli dan memperkosanya.
    Tapi……
    Desa Kapukrandu yang sejuk ini telah memberikannya pelajaran berharga, untuk tidak menilai seseorang hanya dari sisi buruknya saja. Tiap orang memiliki dua sisi kehidupan yang saling mendukung walaupun dasarnya bertolak belakang. Bisa juga setiap orang membutuhkan keduanya karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Jika hendak mengagumi seseorang karena sisi baiknya, persiapkan hati saat mengetahui sisi buruknya. Seorang pejabat tinggi yang terlihat santun, sopan dan berwibawa ternyata koruptor yang doyan tidur dengan gadis yang jauh lebih muda dan bukan istrinya. Bandingkan dengan orang yang kasar, kotor dan tidak berpendidikan tinggi namun rela membantu dan berkorban demi orang lain tanpa memungut biaya.
    Siapa sangka dibalik wajahnya yang menjijikkan dan selalu membuat Lidya bergidik ketakutan, Pak Hasan adalah orang yang sering dimintai bantuan bahkan pernah menjadi teladan bagi rakyat Desa Kapukrandu? Bagaimana tidak, mertuanya itu dulu pernah bertugas sebagai kepala desa!
    Hari ini Pak Hasan pergi ke kelurahan untuk berpamitan dengan teman – temannya di sana. Setelah bercinta habis – habisan semalam, rasanya asyik juga kalau hari ini Lidya pergi mandi ke sungai. Pak Hasan bilang kalau ada satu tempat di mana Lidya bisa mandi tanpa perlu khawatir ada orang yang mengintipnya, tempat itu sepi, tak diketahui banyak orang dan airnya jernih. Sepertinya menyenangkan membasuh tubuhnya yang terasa kotor karena semalam dihujani cairan cinta Pak Hasan.
    Untuk sampai ke tempat itu Lidya harus melalui jalan yang agak susah dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, tidak – apa – apa batin si cantik itu, hitung – hitung olahraga pagi. Dari ujung jalan di dekat pengkolan penjaja sayuran, Lidya berjalan lurus ke arah sungai. Tidak banyak yang pergi ke sungai karena hampir sebagian besar masyarakat desa sibuk dengan pekerjaan pagi mereka. Setelah sampai di tepian sungai Lidya menyusurinya hingga masuk jauh ke dalam rerimbunan pepohonan. Di tempat ini pohon – pohon rindang berbaris tak rapi melindungi jalan setapak yang menurun, suasana yang masih asli dan asri, tak akan bisa ditemui di kota. Pantas saja Pak Hasan bilang kalau malam minggu anak – anak muda Desa Kapukrandu sering berpacaran di sini sementara pada malam hari para dukun mencari wangsit juga di tempat rimbun ini.
    Berbeda dengan wilayah lain di luar Desa Kapukrandu yang cenderung gersang dan kering, tempat ini seperti hutan oase di tengah padang pasir dengan sungai yang mengalir dari sisi pegunungan hingga turun untuk memberikan sumber penghidupan bagi rakyat desa.
    Karena jauh dari jalan utama, tempat itu jarang dilewati orang. Sejak menyusuri sungai Lidya tidak melihat siapa – siapa lagi. Bahaya juga kalau – kalau dia tersesat. Untung saja Pak Hasan mengatakan asal dia menyusuri sungai, Lidya tidak akan tersesat. Si cantik itu berusaha menghapal lokasi tempatnya berjalan, mencoba menghapal beberapa pohon yang bisa membantunya pulang nanti.
    Dinginnya air, sejuknya angin, nyamannya suasana. Semua mendukung Lidya untuk menikmati pagi. Bahkan mungkin ia terlalu menikmati… ketidakhadiran Pak Hasan membuat Lidya bebas melakukan apa saja hari ini. Apalagi setelah dari kelurahan, mertuanya itu akan mengurus penyelesaian beberapa hutang dengan teman – temannya yang lain, kalau tidak salah namanya Koh Liem atau siapa. Hari yang bebas.
    Akhirnya Lidya sampai di sebuah tempat yang seperti Pak Hasan bilang, tersembunyi dan aman baginya untuk mandi. Lidya berhenti sejenak sebelum melangkah.
    Yakinkah dia tempat ini aman?
    Lidya melihat ke arah sekitar, rimbunnya pepohonan tinggi membuat tempat ini seperti hutan yang terlindung dari cahaya sang surya. Peralihan udara dari dingin ke hangat disambut kabut tipis yang mulai menghilang dan semilir angin menyejukkan. Udara pagi ini juga sangat cerah, hampir tidak ada awan bergantung di langit dan burung – burung mulai berkicau ramai menyenandungkan lagu ceria menyambut mentari.
    Benar apa kata Pak Hasan. Tempat ini memang cukup tersembunyi, pepohonan rindang menutupi sisi dengan dahan saling berkait dan tumbuh – tumbuhan berduri menghalangi pandangan siapapun dari arah seberang. Sebaliknya tempat ini juga cukup baik untuk memantau seandainya ada orang yang datang karena tempatnya agak lebih tinggi dari jalan setapak dan sungai yang mengalir ke desa. Air yang mengalir begitu jernih dan bening sehingga nampak segar sekali.
    Jadi… amankah tempat ini? Mungkin tidak, tapi dia tidak lagi peduli.
    Lidya melepas pakaian yang ia kenakan, mulai dari kaos, celana selutut hingga pakaian dalamnya. Melihat suasana, Ia cukup merasa aman untuk mandi telanjang. Lidya geli dengan keberaniannya, mungkin karena sudah pernah melakukan hal – hal aneh di mal dan pasar, Lidya menjadi sedikit berani membuka pakaian.
    Sedikit demi sedikit Lidya mencelupkan ujung kakinya yang jenjang ke dalam air, merasakan lembutnya sapuan air dingin yang menyentak dan menyegarkan. Sambil memejamkan mata, si jelita itu masuk ke air. Mulai dari ujung jari kaki, lalu betis, lutut, paha, pinggul, perut dan akhirnya dada serta kepala. Seluruh tubuh Lidya kini sudah masuk ke dalam dinginnya air di pagi hari. Untuk sesaat ia menggigil kedinginan, namun sinar mentari yang akhirnya berhasil menembus payung alami di atas rindang pepohonan membuat tempat di mana Lidya berendam jadi terasa hangat.
    Lidya tidak menyukai apa yang ia alami di Desa Kapukrandu karena memberikan kenangan yang tak menyenangkan baginya. Namun tempat ini bagaikan mutiara dalam tiram. Penyejuk jiwa dan pemberi keseimbangan batin. Mengherankan, di tempat gersang seperti Desa Kapukrandu ada juga wilayah hijau seperti ini, indah, asri dan asli. Sejenak Lidya terdiam, lalu tersenyum sendiri, ia akan meralat kata – katanya barusan, ia menyukai apa yang ia alami Desa Kapukrandu.
    Lidya segera membasuh bagian – bagian tubuhnya, menikmati deburan air menumbuk tubuhnya yang telanjang. Segar sekali rasanya, ia merasa bersih, merasa tenang dan pada akhirnya, ia merasa nyaman.
    Setelah sekian lama berada di dalam air, si cantik itu naik kembali ke darat, menyeka seluruh tubuhnya dengan handuk kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia menyeka buah dadanya, yang masih memiliki bercak merah bekas cupang bibir Pak Hasan. Sebenarnya, seluruh tubuhnya masih memiliki bekas cupang.
    Lidya membersihkan tubuhnya dengan hati – hati sekali, merasakan kesegaran angin berhembus di tubuhnya yang basah. Begitu enaknya hingga si cantik itu memejamkan mata. Hembusan angin begitu sejuk hingga benak Lidya melayang jauh dan jauh dan semakin jauh. Ia seperti memilliki sayap yang terkembang dan terbang naik ke awan.
    Dalam khayalnya, Lidya membayangkan ada alunan suara yang memintanya untuk merenggangkan kaki. Bisikan gaib yang menghipnotisnya untuk menuruti kehendak jiwanya. Suara yang datang entah dari mana namun meminta Lidya untuk menurut apa kata hatinya. Ia merenggangkan kaki selebar – lebarnya. Telunjuk jari tangan kanannya menyentuh bibir dengan lembut, merasakan gesekan antara jari dan bibir, merasakan sentuhan ringan yang membuatnya merasa nyaman. Tanpa ia sadari, handuk kecilnya telah terjatuh…
    Lidya membuka bibir dan memasukkan jari ke dalam ke dalam mulutnya, suara gaib yang menuntunnya kini memintanya mengulum jarinya sendiri. Bagaikan kesurupan, Lidya patuh dan menghisap jari jemarinya sendiri seperti permen. Tapi ia tak melakukannya lama – lama…
    Dengan tangan bergetar Lidya menyentuh selangkangannya, mencoba mencari bibir memeknya yang mungil. Tanpa sadar, Lidya mulai mengusap bibir kemaluannya dengan dua jari tangan kirinya. Kepuasan… dia menginginkan kepuasan… saat ini juga… segera… cepat… semakin cepat… segera…. Tangan kanan yang jarinya sempat ia kulum kini meraih bulat buah dadanya yang kenyal. Jemarinya menarik puting susunya sendiri, memilin dan memijatnya, memohon kepuasan. Lidya mulai menghamba pada nafsunya sendiri tanpa disadari…
    Perlahan – lahan Lidya berbaring di rerumputan yang ada di samping sungai, ia tidak peduli lagi tempat itu kotor atau tidak. Bidadari molek itu mengangkat kakinya dan merenggangkannya lebar – lebar. Matanya yang indah dipejamkan bersamaan dengan keluarnya lenguhan nafsu dari bibirnya yang mungil. Ia seperti sedang kerasukan, mencari kepuasan dengan menikmati tubuhnya sendiri.
    Jari jemari jenjang turun ke bawah, masuk di antara selangkangan. Dengan jari telunjuk dan jari manisnya sendiri, Lidya membuka lebar – lebar pintu cinta kewanitaannya, pintu cinta yang telah basah. Sudut ibu jari digesekkan ke bagian atas bibir memek untuk mencari kunci kenikmatan dan ketika ia menemukannya, Lidya melenguh pelan. Jari tengah dimasukkan ke dalam vagina, diputar untuk menjelajah dinding kemaluannya sendiri. Desahan demi desahan manja keluar dari mulutnya yang dahaga oleh nafsu.
    Jemari Lidya yang lentik basah oleh cairan cinta yang meleleh dari dalam liang kewanitaannya. Jari jemari itu bergerak lincah keluar masuk sementara remasan tangan pada buah dada menjadi sumber kenikmatan lain. Ia terus menerus meremas, memilin dan meraba bagian membusungnya yang indah.
    “Eessssttt….. hmmmm….” desah Lidya keenakan. “Aku… tidak mau… seperti ini…” entah siapa yang diajak bicara oleh Lidya, karena saat itu dia seorang diri. Dalam bayangannya ia sedang bergumul dengan seseorang yang tak terlihat, yang mencoba menyetubuhinya, yang berkuasa dan memaksanya, yang terus menerus menjamahnya.
    Kepalanya berdenyut seakan ada bunyi genderang bertalu – talu yang memekakkan telinga. Semua rasa takut dan malunya sudah hilang ditelan nafsu, ia kian merenggangkan kaki dan mendesah tanpa bisa bertahan.
    Gerakan jemari Lidya makin lama makin cepat, makin buas, berubah dari gerakan lembut menjadi gerakan liar yang penuh tuntutan. Lidya tidak peduli lagi dimana saat ini dia berada. Seandainya ada orang datang, mereka pasti akan melihat aksi si jelita itu membuka lebar – lebar bibir memeknya yang basah.
    Tiba – tiba terdengar bunyi dedaunan disibakkan oleh seekor hewan yang melintas.
    Suara gemeresek dedaunan yang muncul seharusnya membuatnya tersadar, tapi Lidya sudah terbang terlampau tinggi terkungkung awan kenikmatan sampai – sampai ia enggan turun. Bunyi yang muncul justru membuatnya makin seperti orang kesurupan, ingin sesegera mungkin merasakan kenikmatan.
    Tubuh wanita cantik itu melejit ke atas lalu terbanting ke bawah dengan cepat, demikian berulang – ulang. Bayangan dalam batin akan adanya orang yang saat itu datang dan menyaksikannya memainkan vaginanya sendiri membuat Lidya makin memuncaki tangga nafsu.
    Makin naik… makin cepat… tambah naik… tambah lagi… terus…
    Dan akhirnya…
    “Hnnghhhhh!!!” geram Lidya mencoba melepas kepuasan yang tertahan. Mata wanita jelita itu dipejamkan rapat – rapat, tubuhnya mengejang. Ia merasakan cairan hangat lepas di dalam liang cintanya, seperti ratusan burung yang dilepas dari sangkar dan terbang ke awan bebas.
    Lidya membuka matanya.
    Tetes cairan kenikmatan kental meleleh melalui sela – sela jari jemari di selangkangannya.
    Si cantik itu terengah – engah. Ia menyandarkan siku di atas rerumputan untuk menopang tubuhnya yang bermandikan keringat. Ia baru saja memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri. Sesuatu yang sebelumnya tidak ia perkirakan akan ia lakukan di tempat seperti ini. yah, Paling tidak ia telah puas…
    Puas?
    Benarkah ia telah puas?
    Lidya mencoba menyerap pertanyaan itu dan ia tahu jawaban yang muncul sedikit menyakitkan jiwanya.
    Tidak. Ia tidak puas sama sekali.
    Ya, ia tidak puas.
    Kenapa?
    Kenapa rasanya lain? Kenapa seperti ada kekosongan dalam hatinya?
    Kenapa ia tidak bisa mendapatkan kepuasan sederhana itu?
    Lidya jatuh terduduk. Tanpa bisa ia tahan, tetes demi tetes air mata meluncur. Harusnya tidak begini… harusnya tidak seperti ini. Harusnya semua selesai, harusnya semua perasaan itu tidak muncul. Harusnya ia bisa puas hanya dengan… hanya dengan… harusnya ia bisa puas… kenapa tubuhnya mengingkari apa yang ia inginkan, kenapa batinnya menjerit penuh dahaga nafsu yang menggelegak tak terbayar?
    Apakah ketakutannya menjadi nyata?
     
  4. Frx74

    Frx74 Junior

    Lanjutan....

    pakah benar sudah terjadi hal yang paling ia takutkan? Ia takut seandainya Pak Hasan gencar melatih nafsunya agar terus menerus terlampiaskan ia akan menjadi maniak pemuja seks. Ia takut ia tidak bisa lagi merasakan nikmat bermain cinta dengan suaminya, dia takut dia hanya bisa dipuaskan oleh Pak Hasan! Itu ketakutan utamanya! Dan kini… kini sepertinya itu benar – benar terjadi! Ia bahkan tak mampu memuaskan dirinya sendiri… tak sama, rasanya tak sama…..
    Cairan cintanya memang mengalir, tapi rasa itu tidak hadir. Kosong rasanya.
    Lidya masih mengeluarkan air mata untuk beberapa saat lamanya. Ia membasuh wajah dan membilas air mata yang terus meleleh.
    Dia tidak ingin pulang dengan mata sembab.
    Ini hari terakhirnya di Desa Kapukrandu dan dalam hatinya Lidya tahu pasti, dia akan pulang kembali ke kota sambil membawa kekosongan dalam hati karena ada sesuatu yang hilang dan mungkin tidak akan kembali padanya…
    Sampai saat ia menemukan kembali apa yang hilang itu, Lidya mungkin tidak akan pernah lagi merasakan kepuasan.
    Lidya tahu apa yang sebenarnya hilang darinya, tapi ia ingin mengingkari perasaannya.
    Ia tidak boleh membiarkan perasaan itu berlanjut.
    Ia tidak boleh menghamba pada nafsu semata.
    Ia tidak boleh… tidak bisa… tidak mau… tidak akan pernah!
    …tapi…
    Ah sudahlah, pokoknya, dia tidak ingin pulang dengan mata sembab.
    ###
    SEMINGGU KEMUDIAN
    Seminggu telah berlalu sejak Lidya dan Pak Hasan pulang dari Desa Kapukrandu.
    Tas berisi pakaian dan semua keperluan Pak Hasan sudah diletakkan di ruang tamu. Pria tua itupun sudah memesan taksi. Sekitar setengah jam lagi dia akan meninggalkan rumah Andi dan pergi menuju kontrakannya yang baru, jaraknya memang tidak jauh dari rumah ini, sekitar setengah jam perjalanan, namun segala sesuatunya pasti akan berubah.
    Dengan santai Pak Hasan duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi susu yang dihidangkan sang menantu. Rokoknya yang masih mengepul ia letakkan di atas asbak.
    Rencananya Pak Hasan akan pindah dan menempati rumah kotrakan baru mulai hari ini tapi karena Andi lagi – lagi ditugaskan keluar kota, Lidya yang akan melepas kepergian ayah mertuanya. Kadang Pak Hasan heran dengan anaknya itu…. dia sibuk sekali mencari uang dan tergila – gila dengan pekerjaan, bahkan sampai melupakan istrinya yang cantik dan seksi di rumah sendirian, seakan – akan tidak takut hal – hal buruk akan menimpa Lidya. Pak Hasan geleng – geleng kepala. Orang memang kadang tidak menyadari apa yang sesungguhnya telah ia miliki, sampai pada saat ia kehilangan.
    Kepulan asap rokok menyeruak di ruang tamu rumah Andi, asap yang terbang mengendarai angin kecil dan kemudian lepas ke alam bebas melalui jendela berteralis yang dibuka lebar. Udara sejuk semilir berhembus sesekali ke dalam rumah, memberikan kenikmatan alami bagi Pak Hasan.
    Langkah kaki ringan menghampiri sang lelaki tua. Harum wangi semerbak memenuhi ruangan, tanpa harus menengokpun Pak Hasan tahu siapa yang datang. Lidya duduk di kursi yang ada di hadapan Pak Hasan. Wajahnya yang cantik terlihat muram, kepalanya menunduk.
    “Sudah saatnya kita bicara dari hati ke hati, Nduk.” Kata Pak Hasan sambil menebar senyum mesumnya yang khas.
    Lidya terdiam tanpa ekspresi.
    “Kamu pasti senang aku keluar dari rumah ini, kita tidak bisa bercinta lagi sesering biasanya. Aku akan sering berkunjung kalau kamu kangen… hmm…” tiba – tiba Pak Hasan menghentikan kallimatnya, untuk pertama kalinya di hadapan Lidya, pria tua itu gelisah. “Tidak. Tidak. Sudah cukup. Ya. Sudah cukup apa yang aku lakukan selama ini. Tapi… ah… tapi aku akan memberikanmu pilihan.”
    Lidya masih terdiam.
    “Aku rasa sudah cukup yang aku lakukan selama ini terhadapmu. Sejahat – jahatnya orang tua, aku ingin anakku juga bahagia. Aku ingin kamu membahagiakan Andi dan itu artinya aku harus melepaskanmu, urus anakku itu baik – baik. Walaupun tidak selamanya, tubuhmu terlalu indah untuk dilepaskan. Kalau aku butuh memekmu, ya kamu harus menyediakannya. Tapi untuk sementara waktu, biarlah Andi yang memenuhi nafsu liarmu…”
    Lidya menatap mertuanya dengan tatapan tanpa ekspresi.
    “Sebelum aku melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, kamu harus memilih, Nduk.” Pria tua itu berdiri dengan tenang sambil meraih rokoknya. Ia menenteng tas yang sepertinya cukup berat. “Apapun permintaanmu, akan aku kabulkan. Jadi pilih dengan hatimu. Apapun yang kamu mau akan aku penuhi. Kali ini janji pasti aku tepati… termasuk jika kamu ingin bebas dariku.”
    Lidya berdiri gamang dan menatap orang yang telah menghancurkan kesuciannya sebagai seorang istri setia itu dengan pandangan tak percaya. Lidya yang sudah sangat sering tidur dengan orang tua itu belum pernah melihat ekspresi wajah Pak Hasan yang sedemikian santai namun serius. Sosok lain Pak Hasan yang ini tidak pernah dilihat Lidya sebelumnya, mungkin pernah dulu.. sebelum dia berubah menjadi binatang pemerkosa yang menghancurkan statusnya sebagai istri setia dan menantu. Akankah dia bisa dipercaya untuk menepati janji?
    “Aku ingin kamu memilih…” Pak Hasan melangkah menuju pintu.
    Lidya masih tak bergeming, bola matanya yang tajam berkaca – kaca.
    “…tetap menjadi budak seks… atau…”
    “…atau?” desah suara Lidya pelan sekali, hampir berbisik. Seperti ada sesuatu yang mengganjal kerongkongan wanita molek itu.
    “…bebas.”
    Kata – kata yang diucapkan oleh Pak Hasan seperti tetes air di tengah padang pasir. Kata yang sudah lama sekali ia nantikan. Bebas. Betapa mahalnya harga kata – kata itu. Bebas. Lepas dari Pak Hasan, lepas dari eksibisionisme paksaan, lepas dari hubungan tak senonoh, lepas dari mertua cabul. Sejuk sekali di dalam hatinya mendengar kata – kata itu… ‘bebas’.
    Tapi…
    Tapi… apakah benar bebas adalah hal yang dia inginkan?
    Keringat mulai menetes di dahi si cantik. Dia harus segera memutuskan. Dia harus bebas. Dia harus lepas dari pengaruh mertuanya yang cabul. Dia harus… harus…
    “Jadi?” Pak Hasan mengulang pertanyaannya, “pilih menjadi budak atau bebas?”
    Lidya tak menjawab, hatinya gamang. Si cantik itu bimbang dan bingung, walaupun ia sendiri masih tak tahu apa sebenarnya yang menyebabkannya kebingungan. Bisa dibilang Lidya bingung akan kebingungannya.
    Bukankah sudah jelas pilihannya? Yaitu bebas? Lalu apa yang sebenarnya dia inginkan?
    Apa suara yang bergejolak dalam hatinya?
    Apa….?!
    “Ini yang terakhir. Pilih… tetap jadi budak atau bebas?” kali ini Pak Hasan bertanya untuk yang terakhir kali, nada suaranya sudah terdengar lain. Ayah mertua Lidya itu sudah siap melangkah kaki keluar dari rumah. Tangannya telah membuka pintu dan menenteng tasnya keluar.
    Lidya tahu dia harus menjawab pertanyaan itu sebelum Pak Hasan melangkahkan kaki keluar. Lidya tahu jawabannya, tapi lidahnya kelu dan bibirnya terkatup rapat. Jelas dia ingin bebas, dia tahu pasti dia ingin bebas, dia yakin sekali ingin bebas dari perangkap cabul Pak Hasan yang telah membuat dirinya kotor dan tak berharga. Tapi susah sekali bagi Lidya mengucapkan kata “bebas” itu. Ada yang menghalanginya, sesuatu yang berat dan nyeri sekaligus menghinggapi hatinya.
    Dengan satu usaha terakhir, Lidya akhirnya mengucapkan apa yang benar – benar dia inginkan dalam hati sebelum Pak Hasan pergi.
    “Aku memilih…” suara Lidya terdengar bergetar.
    Pak Hasan terhenti dan menunggu.
    “Budak…” Lidya mengucapkan sebisik kata dengan pelan dan gemetar.
    Si cantik itupun luruh ke lantai dan menangis tersedu – sedu, Lidya menyadari konsekuensi pilihannya. Ia menyesali keputusan sekaligus mengutuk hatinya sendiri. Ia tak mengerti kenapa ia justru memilih hal yang terkutuk itu. Kenapa?
    Senyum tersungging di bibir Pak Hasan.
    “Telpon aku kalau Andi tugas keluar kota, Nduk. Aku akan datang.”
    ###
    PENUTUP
    Sumarto menatap bosan pesawat televisi yang menyala. Tangannya bergerak malas memindah channel menggunakan remote yang sudah mulai kehabisan baterai. Ia harus menepuknya beberapa kali sebelum channelnya berpindah. Ia sebenarnya sudah mengusulkan pada majikannya untuk membeli baterai remote baru, tapi sampai saat ini sang majikan enggan menanggapi, mungkin karena mereka memiliki pesawat televisi sendiri di dalam kamar sehingga malas membeli baterai baru untuk televisi ruang tengah yang memang hanya dipakai oleh Marto. Majikannya sudah beberapa hari ini bepergian ke luar kota, meninggalkan Marto sendiri di rumah. Walaupun milik orang yang lumayan berada, rumah ini tidak begitu besar, sehingga Marto tidak kerepotan mengurusnya tanpa teman.
    Ketika channel diganti, sinetron demi sinetron mengisi layar televisi. Tidak satupun yang memuaskan Marto. Bagi pembantu rumah tangga seperti dia, menonton sinetron adalah hiburan utama, walaupun begitu ia sudah bosan menonton cerita sinetron yang begitu – begitu saja, sinetron – sinetron yang menjual cerita usang dan mengandalkan bintang – bintang muda berwajah indo. Ia heran kenapa pembantu sebelah mengidolakan acara semacam ini, hanya menjual mimpi dan wajah cantik penuh polesan. Sesungguhnya Marto hanya tertarik pada satu hal di layar televisi yaitu pertandingan sepakbola. Sayang tidak ada pertandingan bola hari ini. Yah, paling tidak dia bisa dipuaskan melihat wajah cantik pemain sinetron, dada – dada mereka yang membusung, pantat mereka yang bulat dan kaki mereka yang jenjang, sosok – sosok impian yang menggiurkan.
    Omong – omong soal wajah cantik, Marto jadi teringat pada satu sosok menarik yang ia lihat beberapa minggu yang lalu. Wajah yang tampil sangat mempesona tanpa noda dan tanpa polesan bedak tebal seperti para bintang sinetron itu. Wajah yang bisa dibilang sempurna namun sayang statusnya adalah istri orang kaya yang tidak mungkin bisa ia sandingi. Marto menarik nafas panjang dan kembali menonton acara televisi yang menurutnya sangat tidak menarik dan membosankan.
    Siapa wanita cantik yang sangat memukau Marto itu?
    Sebenarnya dia sedang teringat pada Bu Lidya, istri Pak Andi yang tinggal di sebelah rumah. Wajahnya cantik, tubuhnya indah, perangainya halus dan sopan, benar – benar tipe istri setia yang pasti asyik sekali dikeloni di tempat tidur.
    Dulu ketika keluarga Andi baru saja pindah, ia pernah mendengar bapak – bapak yang sedang ronda membicarakan kemolekan Lidya, mereka iri dan mengatakan kalau Andi sangat beruntung bisa menikahi wanita seseksi Lidya. Saat itu ia sedang mengantar gorengan yang dipesan sang majikan yang sedang ronda. Bahkan majikannya sendiri mengatakan kalau dia tidak keberatan kalau Andi mau tukar tambah dengan istrinya sekarang, ia bersedia membayar berapapun untuk mendapatkan Lidya. Dasar majikannya memang tidak tahu malu…
    Tapi Marto tak sepenuhnya menyalahkan majikannya yang hidung belang, tidak ada lelaki yang tidak meneguk ludah kalau ditawari sesosok makhluk cantik seperti Lidya. Hanya dalam waktu singkat, Lidya sudah menjadi warga yang dikagumi dan terkenal, tentunya karena semua orang ingin dekat dengan wanita seseksi dan semolek dia. Kecantikannya membuat Lidya punya banyak kawan, Bapak – bapak ingin menikmati keindahan tubuhnya sedangkan ibu – ibu sangat menyukai sikapnya yang ramah dan manis. Pak Andi memang sangat beruntung, pikir Marto.
    Pembantu berkulit gelap itu mengeluh, entah kenapa sejak tinggal di rumah ini dia belum pernah sekalipun memiliki pacar. Sejak putus dengan Narti yang pulang ke desa, Marto tak pernah dekat lagi dengan wanita. Dulu ia punya istri dan anak, tapi istrinya memilih untuk pergi tanpa pamit dengan seorang juragan bawang di kota lain. Sampai hari ini Marto tak pernah berjumpa lagi dengan istri dan anaknya.
    Tiba – tiba, bel rumah berbunyi, Marto beranjak dari duduknya dengan satu desahan malas yang sangat panjang, hancur sudah lamunannya. Dengan dengusan kesal ia membuka pintu depan.
    Betapa kagetnya Marto ketika ia tahu siapa tamu yang datang. Matanya terbelalak dan lidahnya kelu, dia tidak tahu harus berkata apa. Ini di luar dugaan dan ada di batas impian.
    “Selamat malam, Pak.”
    “Se – selamat malam, Bu Lid… eh… ma… maksud saya, Bu…. Bu Andi…”
    Memang benar, Marto sama sekali tak mengira Lidya akan datang berkunjung malam itu, inikah yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba? Belum lama Marto membayangkan kemolekan tubuh sang tetangga, eh… dianya datang! Benar – benar panjang umur! Sampai terbata – bata dia menyambut kedatangan si makhluk seksi satu ini. Mimpi apa dia semalam?
    Tapi senyum lebar Marto berubah lemas ketika tahu ternyata Lidya tidak datang sendiri. Dia datang dengan seorang laki – laki tua yang senyumnya aneh. Kalau tidak salah, orang ini adalah Pak Hasan… ayah Pak Andi, mertua Lidya!
    “Kami tidak menganggu, kan?” tanya Lidya lembut.
    “Ti… tidak! Tidak kok! Tapi rumah baru kosong ini, Bu! Pak Toni sama keluarga kebetulan baru pergi keluar kota.” Jawab Marto kikuk. “Mungkin seminggu lagi baru pulang. Ada acara nikahan.”
    “Oh, tidak apa – apa.” Kata Pak Hasan, “yang kami cari bukan Pak Toni sekeluarga, kami mencari anda.”
    Marto tambah kebingungan, jangan – jangan ia sudah melakukan hal yang menyinggung keluarga Pak Andi ini. Orang kecil seperti Marto memang selalu khawatir jika menyinggung ‘kaum majikan’, karena nasib mereka tentunya ada di tangan kaum majikan. Tubuhnya jadi merinding karena ia takut sekali seandainya berbuat salah di luar kemauannya. “Saya? Memangnya ada perlu apa ya, Pak? Perasaan saya tidak berbuat salah kan, Pak?”
    “Ha ha ha, tidak kok, Pak Marto. Anda tidak melakukan kesalahan apa – apa. Kami hanya ingin berbincang – bincang sejenak. Kami tahu Pak Toni sekeluarga baru pergi, jadi kami sengaja datang malam ini karena kebetulan hari ini saya menginap di rumah anak saya, si Andi kan baru pergi keluar kota.” Jawab Pak Hasan sambil tertawa terbahak – bahak. Ia suka sekali melihat orang seperti Pak Marto ini kebingungan.
    “Boleh kami masuk dulu?” tanya Lidya dengan lembut.
    Suaranya bagai biduan surga menyenandungkan lagu yang indah, enak sekali didengar. Suara yang menyejukkan.
    “Bo… boleh… si… silahkan…”
    Lidya dan Pak Hasan masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa di ruang tamu setelah dipersilahkan oleh Marto.
    “Jadi, kira – kira apa yang mau dibicarakan ya, Pak?” tanya Marto dengan cemas. Dia tidak mau dipecat gara – gara kesalahan kecil yang ia sendiri tidak tahu apa yang telah ia perbuat… eh tunggu dulu… jangan – jangan ini gara – gara beberapa minggu yang lalu ia melihat Lidya menjemur pakaian hanya dengan mengenakan kemeja kedodoran yang membungkus tubuh seksinya. Jangan – jangan ia ketahuan mengintip???
    Jantung Marto berdetak dan nafasnya naik turun ketakutan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Keringatnya menetes deras dan membasahi wajah yang pucat pasi.
    “Kalau tidak salah beberapa minggu yang lalu… Pak Marto mengamati menantu saya ini sedang menjemur pakaian?” tanya Pak Hasan pelan.
    Mati dia! Jantung Marto makin keras berdetak bersamaan dengan bertambah derasnya keringat yang mengaliri jidatnya. “Su… sungguh, Pak! Saya tidak sengaja! Saya benar – benar menyesal melihat ke atas saat itu! Saya benar – benar tidak sengaja! Saya minta maaf… Pak… Bu…. saya minta maaf… saya…”
    “Menurut Pak Marto, menantu saya ini cantik tidak?”
    Kaget juga Marto mendengar pertanyaan lanjutan dari sang pria tua gemuk yang senyumnya aneh ini. “Ca… cantik.”
    “Seberapa cantik?”
    “Se… seperti bidadari…” gagap Marto mencoba mengeluarkan kata. Walaupun akan terdengar aneh, namun Marto berucap jujur.
    Wajah Lidya bersemu merah mendengar pujian dari pembantu sebelah rumahnya. Ia tersipu – sipu, menambah manis wajahnya yang menggemaskan.
    “Kalau tubuhnya? Seksi tidak?”
    Marto benar – benar tercengang, kok pertanyaannya aneh – aneh begini? “Se…seksi, Pak.”
    “Seberapa seksi?”
    “Sa… saya takut menjawab pertanyaan ini, Pak… saya takut kalau – kalau saya jadi kurang ajar. Sungguh, Pak. Saya mohon ampun kalau kemarin saya berbuat salah… bukan maksud saya untuk…..”
    “Seberapa seksi menantu saya ini, Pak Marto?”
    Marto gelagapan, ia benar – benar takut menjawab pertanyaan yang diajukan itu. Ia bagaikan seorang tahanan perang yang sedang dimintai keterangan oleh pihak lawan, salah menjawab, kepalanya akan dipenggal. Keringat pembantu rumah tangga yang sederhana itu menetes deras, pakaian yang ia kenakan basah kuyup oleh keringat. “Bu – bu Andi… se… seperti bintang film… tubuhnya sek… seksi sekali…”
    Mendengar jawaban itu Pak Hasan tertawa terbahak – bahak dan bertepuk tangan sementara wajah Lidya yang manis kembali memerah.
    “Luar biasa. Luar biasa.” Kata Pak Hasan, “karena Pak Marto telah menjawab pertanyaan kami dengan jujur, maka menantu saya ini akan memenuhi satu keinginan Pak Marto sebagai hadiahnya. Apapun keinginan itu! …termasuk jika Pak Marto ingin menyentuh… atau memeras, atau mencium bagian dari tubuh menantu saya…” kata Pak Hasan sambil mengedipkan mata.
    Samber geledek!! Marto sampai melompat dari duduknya.
    Sumarto adalah pria desa yang sederhana, apa yang baru saja dikatakan Pak Hasan membuatnya kaget setengah mati. Ia mengira apa yang pernah dilakukannya akan menyebabkannya dihukum, ia tidak menyangka Pak Hasan dan Bu Lidya justru memberikannya hadiah. Yang lebih mengagetkan adalah hadiah yang diberikan oleh mereka adalah… pelayanan dari Bu Lidya!!!
    “A… apapun?”
    “Apapun.” Tegas Pak Hasan.
    “I… ini main – main kan?”
    “Tidak.”
    “Tidak bohong?”
    “Tidak.”
    Marto meneguk ludah. “Ka… Kalau begitu saya ingin… saya ingin…”
    “Apapun. Kecuali yang ‘itu’.” Pak Hasan terkekeh, ia tahu dengan pasti apa yang diinginkan Marto bahkan sebelum ia mengucapkannya. Pembantu rumah sebelah itu tersipu – sipu malu karena ketahuan.
    “Yang ‘itu’ tidak boleh, ya?”
    “Sayangnya tidak boleh. Mau diapakan saja boleh, asal jangan ada ‘sesuatu masuk ke ‘sesuatu’.” Kata Pak Hasan. “Baiklah, apa keinginan Pak Marto?”
    Marto mencoba mengamati Lidya dari jempol kaki hingga ke ujung rambut. Seorang bidadari yang sempurna. Apa yang akan kamu minta seandainya kamu bisa meminta seorang bidadari untuk mewujudkan impian terliarmu?
    “Boleh apa saja?” Marto mengulang pertanyaannya.
    “Apa saja.” Pak Hasan mengulang jawabannya.
    “Ka… kalau begitu, sa… saya ingin Bu Andi menari di pangkuan saya…” Marto meneguk ludah dengan nafsu. “…tanpa mengenakan celana dalam.”
    Mendengar permintaan itu, Lidya sedikit panik, si cantik itu tahu ia tidak bisa menolak permintaan Marto. Pak Hasan akan marah dan hal – hal yang buruk bisa terjadi. Satu – satunya harapan bagi si cantik itu adalah dengan menuruti kemauan pembantu sebelah rumah yang sederhana ini, lagipula Lidya sudah sangat sering menari di pangkuan mertuanya yang cabul.
    Kebetulan Lidya mengenakan rok model mini flare yang hanya menutup hingga di atas lutut. Dia bisa dengan mudah melepas celana dalamnya karena bagian bawah rok berbentuk mekar. Dengan hati – hati sekali Lidya mengangkat bagian bawah roknya, mengait karet di pinggir celana dalam dan menarik turun satu – satunya pelindung kemaluannya itu. Lidya melakukan ini dengan pelan – pelan sekali.
    Justru karena Lidya melakukannya dengan perlahan, apa yang dilakukan si cantik itu ibarat pertunjukan striptease, langsung di depan mata Marto! Pembantu sebelah rumah itu langsung meneguk ludah dan belingsatan melihat aksi Lidya. Ia bisa melihat dengan jelas paha mulus istri Pak Andi, benar – benar tiada duanya! Ini benar – benar pucuk dicinta ulam tiba! Dengan mata kepala sendiri Marto bisa menikmati celana dalam Lidya menelusuri kakinya yang jenjang dan seputih pualam lalu lepas di ujung kaki tanpa halangan.
    “Berikan padanya…” bisik Pak Hasan pada Lidya yang tadinya hendak meletakkan celana dalam di lantai.
    Dengan langkah yang bagi Marto luar biasa seksi, Lidya maju perlahan sambil membawa celana dalam mungil berwarna merah muda yang baru saja dilepas dari dekapan kemaluannya yang harum. Ia memberikannya kepada Marto yang menerimanya dengan tangan bergetar. Lidya membungkukkan badan sedikit agar ia bisa mencapai telinga Marto.
    “Simpan baik – baik.” Bisik Lidya dengan suara bergetar. Siapa bilang ia juga tidak takut?
    Marto menerimanya dan memasukkannya ke dalam kantong celana. Ia meneguk ludah.
    Berada di dekat Lidya sudah membuat Marto belingsatan. Ia tak mampu mengendalikan nafsunya lagi, kemaluannya menegak dengan cepat. Pembantu rumah tangga itu bisa melihat kerling mata Lidya menyapu selangkangannya dan melirik ke arah tonjolan yang muncul di sana. Entah ia harus malu… atau malah…
    Marto hanya duduk saja, terdiam tak tahu harus berbuat apa. Tiba – tiba saja hari menjadi semakin gelap baginya. Lidya duduk di sampingnya, bahkan gerakan si jelita duduk pun membuat Marto jadi semakin tidak karuan. Lidya menautkan satu kaki ke paha Marto dan mulai mengambil posisi untuk duduk di pangkuannya. Melihat keringat Marto makin deras, Lidya mulai kasihan, namun tatapan mata tajam Pak Hasan memerintahkannya untuk menggoda. Ia mengangkat perlahan roknya untuk memperlihatkan kakinya yang panjang dan seksi dan sedikit mempertontonkan bulat pantatnya yang ranum.
    Perlahan – lahan Lidya naik ke pangkuan Marto.
    Marto meneguk ludah, tangannya tak berani digerakkan, terkungkung walau tak terikat. Matanya menatap tak lepas belahan indah di selangkangan perempuan cantik yang kini duduk di pangkuannya. Lidya meletakkan kakinya ke lantai dan tangannya di lutut Marto, si cantik itu duduk membelakanginya. Bidadari jelita itu bisa merasakan gesekan antara belahan pantatnya dengan gundukan pada selangkangan Marto. Gundukan yang cukup keras, Lidya mulai membayangkan seberapa besar sebenarnya barang milik Marto karena gundukan itu terus saja membesar.
    Lidya memejamkan mata setelah melirik Pak Hasan, senyum kejam yang tersungging di bibir sang mertua jelas merupakan perintah baginya untuk memuaskan sang pembantu rumah sebelah. Si cantik itu mulai menggerakkan pantatnya yang seksi dan menggesek gundukan kemaluan Marto, mencoba meletakkan gundukan itu di tengah belahan pantatnya, mempertemukan celana Marto dengan selangkangannya yang kini sudah telanjang.
    Tubuh Marto bergetar, ia bisa merasakan bibir kemaluan Lidya menggesek celananya. Bibir kemaluan yang sepertinya sudah basah. Marto sudah tak mampu lagi bertahan… jika ini terus berlanjut… dia bisa… dia bisa keluar…
    Melihat Marto sudah mulai tak tahan lagi, Lidya mengubah posisi. Dia berbalik ke belakang, berhadapan langsung dengan Marto. Tubuh mereka begitu dekat, hembusan nafas Lidya bisa dirasakan hangat menyentuh wajah Marto. Si cantik itu melepas kaos ketat yang membelit bagian atas tubuhnya, menyembulkan buah dada sentosa yang membusung di dalam bra. Mata Marto hampir copot melihat keindahan tubuh wanita jelita yang kini duduk di pangkuannya.
    “Lepas behamu, Nduk.” Kata Pak Hasan, pria tua itu memilih menonton Lidya dan Marto di belakang. “Biar Pak Marto bisa melihat susumu…”
    Malu sekali rasanya Lidya mendengar mertuanya mengatakan hal itu kepada orang yang tidak pantas melihat tubuhnya telanjang. Dengan jantung berdebar Lidya melepas kait belakang penyangga payudaranya.
    Bagaimana dengan Marto? Tubuh pria sederhana itu bergetar hebat ketika ia secara langsung bisa menikmati buah dada wanita cantik yang menjadi pujaan semua orang ini. Balon payudara Lidya memiliki ukuran yang pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Putingnya yang berwarna merah jambu gelap menjorok keluar seperti menunjuk ke arah dada Marto.
    Marto tak kuat lagi, matanya terpejam dan iapun terpekik tertahan. Oh tidak! Tidak! Jangan! Jangaaaaan!!! Aaaahhh!!! Siaaaaal!!! Ia telah mencapai puncak!!! Dengan segenap kekuatan, Marto menembakkan air cintanya, sayang… masih di dalam celana. Habis bagaimana lagi? Dia sudah tidak kuat.
    Ketika selesai, tubuh si pembantu itu melemas. Lidya bisa merasakan denyutan penis Marto yang menggesek selangkangannya. Penis yang tadinya kencang kini melemas selepas mengeluarkan cairan yang membasahi celananya sendiri. Lidya ikut kebingungan dan berulang kali menengok ke arah Pak Hasan.
    Pak Hasan malah tertawa tergelak. Lidya masih duduk di pangkuan Marto dan payudaranya kini memantul – mantul di depan wajah pembantu sebelah rumah yang ketakutan setengah mati. Pria sederhana itu tak akan pernah mengira hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Pak Hasan baru saja menjadikan impian Marto menjadi kenyataan. Sayang Marto sudah… lemas.
    Pria tua itu tersadar ketika Lidya memandangnya dengan pandangan takut. Pak Hasan tergelak lagi, ia mengatupkan jemari, membuat semacam lingkaran dengan menekuk ibu jari dan menemukan ujungnya dengan ujung telunjuk dan jari tengah. Pak Hasan menggerakkan tangannya itu naik turun. Lidya mengangguk mengerti.
    Jemari Lidya meraba selangkangan Marto dengan gerakan pelan, tubuh si pembantu yang sudah lemas bergetar kembali. Untungnya penis pembantu itu belum sepenuhnya lemas, dengan rangsangan wanita semolek Lidya, gairah Marto pasti kembali naik.
    Melalui gerakan pelan yang sepertinya sudah sangat terlatih, Lidya menurunkan celana Marto. Si cantik itu terpekik pelan melihat penis hitam besar menyentak keluar seperti seekor tikus meluncur lepas dari jebakan. Dengan jemari yang sama bergetarnya, Lidya meraih penis itu dan menggenggamnya. Marto merem melek merasakan barang berharganya digenggam oleh tangan halus seorang bidadari, ia tambah tak tahan ketika Lidya menaikturunkan tangannya untuk mengocok penis Marto.
    Marto membalas dengan meremas buah dada Lidya, mencubit pentilnya yang menjulang dengan gemas dan menelusuri lekuk tubuh Lidya sebelum akhirnya meremas pantatnya yang bulat. Tidak berhenti di situ saja, tangan Marto makin berani dengan menyentuh paha Lidya dan mengelusnya. Telapak tangan yang kasar milik Marto meraba paha putih mulus Lidya, membuat si cantik itu bergetar menahan rasa. Walaupun tidak boleh memasukkan penisnya ke dalam memek Lidya, tapi bola yang ada di kantung kemaluan Marto sudah sejak tadi terantuk – antuk bibir liang cinta Lidya. Lidya yang keenakan menggesekkan kantung kemaluan Marto ke bibir memeknya seiring tangannya mengocok penis yang kembali mengeras.
    Marto berbisik kepada Lidya, menyatakan betapa ia ingin memasukkan penis ke dalam memeknya, namun si cantik itu tersenyum dan menggeleng. Marto tahu ia tidak mungkin bisa menyetubuhi Lidya, tapi tak ada salahnya meminta ijin dan bertanya kan? Lidya yang merasa kasihan tahu kalau Marto sudah sangat terangsang, ia mengulum ujung telinga Marto dan meneruskan kocokannya agar lelaki sederhana itu bisa segera mengeluarkan cairan cintanya. Ia membiarkan Marto menjilati leher dan buah dadanya.
    “Ouuughhhhh…. ssstttt….” desah Lidya manja ketika lidah Marto bergulat dengan puting susunya.
    Mendengar desahan Lidya, Marto tak tahan lagi, ia berteriak kencang ketika kembali sampai di puncak kenikmatan… “Hraaaaghhhhh!!!!”
    Cairan kental berwarna putih gading terlontar berulang dari kepala kemaluan Marto. Muncrat dari ujung gundulnya dan membasahi jemari lentik Lidya yang saat ini tersenyum, akhirnya selesai juga, ia bisa pulang dan…
    “Bersihkan dong, Nduk.” Perintah Pak Hasan, “kasihan Pak Marto kalau barang – barangnya kotor.”
    Lidya mengutuk mertuanya yang tidak punya perasaan. Dengan memejamkan mata Lidya pertama – tama membersihkan jemarinya dulu, ia jilat seluruh cairan cinta yang menempel di sana dan ditelannya dalam – dalam. Dengan hati – hati pula Lidya menjilati batang kemaluan Marto dan menelan seluruh pejuh yang tadi sempat keluar. Kasihan sekali pembantu itu sekarang, merem melek keenakan.
    Pak Hasan terkekeh melihat menantunya menjilati penis milik pembantu tetangga dan menelan cairan cinta yang keluar dengan segenap perasaannya. Ini akan jadi pertunjukan yang lama dan menarik.
    Pak Hasan membuka tutup botol air mineral yang sudah ia siapkan dan meminumnya. Pertunjukan yang lama dan menarik, ulang batinnya. Pak Hasan bertepuk tangan ketika Marto menggenggam pinggiran kursi tempatnya duduk dan mengejang akibat menahan rangsangan hebat yang ditimbulkan oleh sepongan Lidya.
    Benar sekali. Rasanya malam ini akan jadi malam panjang.
    Pak Hasan tertawa.
    Ini pasti akan menyenangkan!
    “Ayo, Nduk! Bikin punya Pak Marto berdiri lagi!”
    Benar – benar malam yang panjang.
    Beruntung sekali Pak Hasan punya menantu satu ini. Menantu, yang namanya Lidya.
    ###
    BAGIAN SEPULUH
    TAMAT
     
  5. biccu

    biccu Junior

    bro bagian 8 nya mana ???
    gw cari2, koq ga ada yah ???
    tolong yah bro...
    thanks...

    rock ms.V everyday...
     
  6. Black_Eye

    Black_Eye Junior

    Wah udah baca dari main sourcenya nih (tuh properti gambarnya muncul tapi gambarnya gak ada),,,Moga dah izin ma empunya cerita...
     
  7. nyanyu

    nyanyu Junior

    ranjang ternoda is the best story which ever made...
     
  8. marconah

    marconah Junior

    Cerita yang saatu ini memang gak pernah ada matinya...
     
  9. bijiman

    bijiman Junior

    hhm..

    Gileee... kayaknya ini penulis pro ya ? terlalu mulus buat nubi... Mantap banget bro..! thumb up !=D>
     
  10. arjuna s

    arjuna s Junior

    yg 11 ma 12 nya mana bos dah kebelet nich hehehe.........cerita nya ok pisan bos
     
  11. magenta.lite

    magenta.lite Junior

    ranjang yg ternoda 10 akhirnya keluar juga..
    puas gw..
    sayang ini yg terakhir ya katanya..
     
  12. hendra92

    hendra92 New Member

    serial ranjang yang ternoda 08 dah keluar bro, kalo nggak salah dah sampai yang seri ke 10 bro. coba aja search. sekalian juga ngasi tau+minta ijin, kalo yang serial ranjang yang ternoda 08 kayaknya ada filmya yang mirip deh. dah ku post di forum->duniasex undercover->action->asia he....he.... he... maaf nggak bisa ngasi link lwengkapnya, soalnya pakai proxy bro. yang keluar link proxynya waktu d copy-paste.... cheerrsssss..................
     
  13. madlyee

    madlyee Junior

    bener mantap..
    minta link thread yang no 8 dong ketinggalan nih....:(:(:(
    nyelak2 ngak ada..
     
  14. APRIL

    APRIL Junior

    Cerita Seru di DS emang yang paling top markotopppp... :cool:
     
    candiwalang likes this.
  15. lexlee

    lexlee Member

    *********************************
    STANDARD DISCLAIMER

    Cerita bersambung ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non-konsensual. Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal-hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA.
    Masih banyak cerita yang ditulis penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.

    Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja.

    Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan.

    Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu.

    Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini.

    Copyright (c) 2008 Pujangga Binal & Friends. Special Script-Credits : BbG, St, AreQ, Don2. (Thank you all for your support & permission!) Pbinal.SensualWriter.Com.
    *********************************

    SERIAL: RANJANG YANG TERNODA BAGIAN DELAPAN (PART 8 OF 12)
    PERNIKAHAN DINA Oleh Pujangga Binal & Friends

    Hari pernikahan adalah hari yang banyak ditunggu-tunggu oleh pasangan yang saling mencintai. Hampir semua orang yang sedang dilanda asmara akan beranggapan bahwa hari pernikahan adalah sebuah hari besar dimana mereka akan melangkahkan kaki menuju gerbang kebahagiaan yang sejati, dimana mereka bisa merasakan nikmatnya hidup bersama orang yang paling dikasihi untuk selama-lamanya. Hari pernikahan adalah ujung sempurna dari sebuah hubungan asmara. Sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang wanita jelita yang bernama Dina Febrianti. Baginya, hari pernikahan adalah bencana. Esok lusa dia akan menikah. Pernikahannya yang kedua. Dengan seorang lelaki idiot yang tidak dia kenal sama sekali. Dina tidak bisa mengelak dan menolak pernikahan yang telah direncanakan ini. Dia hanya bisa pasrah menghadapinya, sebagaimana ia juga pasrah menghadapi semua masalah yang datang bagaikan badai yang menghantamnya bertubi-tubi. Suaminya sendiri telah pergi dan menjual Dina pada laki-laki lain demi menyelamatkan diri dari hutang yang bertumpuk. Anton adalah laki-laki brengsek dan mungkin saja Dina beruntung telah berpisah dengannya. Kadang Dina heran pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bertahan menghadapi semua masalah ini? Kalau saja tidak ingat pada anak-anaknya yang masih kecil Dina pasti sudah bunuh diri sejak pertama kali dia disetubuhi Pak Pramono yang bejat itu. Dina hanya bisa pasrah menghadapi semua masalah ini. Yang akan terjadi terjadilah. Suatu saat kelak, keadaan pasti akan menjadi lebih baik. Wanita jelita itu memperhatikan pantulan dirinya pada cermin yang terdapat di kamarnya yang besar. Usianya memang sudah lebih dari 30, tapi wajah dan tubuhnya masih bisa bersaing dengan remaja belasan tahun. Dina masih cantik dan masih tetap seksi. Lekukan tubuhnya yang matang sangat menggiurkan bagi seorang pria normal, wajahnya yang cantik namun tidak membosankan menimbulkan kesan mendalam bagi mata yang memandang, kulitnya putih bagaikan pualam, tubuhnya harum bagaikan bunga, rambutnya yang sebahu menambah aksen kedewasaan yang lembut yang didamba seorang pria. Dina adalah seorang wanita yang mendekati kata ‘sempurna’. Walaupun tidak telanjang, keindahan tubuh Dina masih terlihat jelas di cermin. Dina tidak tahu apakah dia harus berterima kasih ataukah malah mengutuk semua karunia ini. Apakah kecantikan dan keseksiannya merupakan anugerah atau justru kutukan? Saat ini Dina sedang mencoba baju pengantin yang akan ia pakai esok lusa. Ia mengenakan baju berwarna putih tulang yang sangat indah dan cantik. Gaun putih yang diberikan oleh Pak Bambang sebagai baju pengantin sangat pas ia pakai, selain menampilkan lekuk tubuhnya yang indah, Dina makin terlihat bercahaya jika mengenakannya, pas sekali dengan warna kulitnya yang seputih pualam. Dengan baju indah yang tentunya harganya sangat mahal ini Dina bisa memamerkan pundaknya yang halus putih mulus, leher yang sempurna dan belahan dada yang aduhai. Dia pasti terlihat sangat cantik dengan baju pengantin ini, jauh lebih cantik dari saat dia pertama kali menikah dulu. Sungguh sayang, dia akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai calon suaminya kalau bertemu saja belum pernah? Walaupun terpaksa mencoba baju pengantin, tapi Dina tak bisa memungkiri kalau baju yang sedang ia pakai sangatlah indah. Bahannya halus dan nyaman digunakan, harganya sudah pasti sangat mahal. Berulang kali Dina melenggak-lenggokkan badan di depan cermin. Karena asyik mencoba baju seperti layaknya seorang calon pengantin baru, perlahan-lahan Dina lupa kalau esok lusa dia akan dinikahkan paksa dengan putra Pak Bambang yang idiot. Pak Bambang memang hebat, dia bisa tahu pasti pakaian pengantin mana yang bagus dikenakan Dina tanpa perlu memastikan ukurannya. Baju tersebut membuat kemolekan tubuh mulus Dina makin bercahaya, seperti seorang bidadari. Selayaknya seorang wanita yang menggemari baju bagus, Dina menyukai gaun pengantinnya. Kamar yang saat ini digunakan Dina berada di lantai atas villa raksasa milik keluarga Pak Bambang, letaknya jauh di luar kota. Dina tidak tahu dengan pasti di mana mereka sebenarnya berada karena Pak Bambang masih merahasiakannya, Dina hanya tahu mereka berada jauh di luar kota dan berada di lokasi yang asing baginya. Agaknya Pak Bambang masih takut Dina akan ketakutan dan melarikan diri dari pernikahannya nanti. Selain melarang Dina menggunakan telepon dan melarangnya keluar villa, kakek tua itu juga membatasi pertemuan Dina dengan anak-anaknya. Mereka hanya bertemu beberapa jam saja perhari. Pak Bambang sengaja membatasi pertemuan itu agar Dina tahu pasti, nasibnya dan nasib anak-anak berada di tangan laki-laki tua itu. Sesudah pernikahannya dengan putra Pak Bambang, barulah Dina bebas menemui anak-anaknya lagi. Anak-anak Dina dijadikan jaminan supaya Dina tetap menurut kepadanya. Terlalu asyik melamun dan mengamati dirinya sendiri di cermin membuat Dina terlena dan lengah. Dia tidak menyadari ada sesosok laki-laki tua masuk ke dalam kamarnya. “Cantik.” Ungkapan kagum Pak Bambang membuat Dina kaget, ia terhenyak dan mundur ke belakang. “Kamu cantik sekali. Aku puas punya menantu seperti kamu.” Wajah Pak Bambang yang sudah terbakar nafsu birahi membuat Dina bergidik ketakutan. Saat masih menjadi boneka Pak Pram saja kakek tua ini dengan mudah bisa menidurinya, apalagi sekarang saat mereka tinggal serumah. “Kalau nanti si Dudung absen meniduri istri barunya, Bapak bersedia mengambil alih pekerjaan itu. Mempercepat memperoleh keturunan.” Katanya sambil terkekeh-kekeh. “Ma-maaf… tapi saya sedang tidak ingin diganggu, bisa Bapak keluar dulu sementara saya berganti…?” Belum sempat Dina melanjutkan, Pak Bambang sudah maju ke depan mendekatinya. Kepala Dina menunduk takluk, ia tidak berani melawan kakek cabul ini. “Aku tidak akan mengganggumu bersolek.” “Saya hanya sedang mencoba baju, bukan bersolek…” “Bagus! Itu artinya kamu sudah siap menikah dengan anakku esok lusa, kamu sudah sadar dan menerima siapa kamu serta apa posisimu sekarang. Jujur saja, aku akan jauh lebih lega kalau kamu akhirnya dapat menikmati hidup bersama anakku, Dudung.” Kata Pak Bambang. “Tapi kalau melihatmu dengan baju itu, sayang sekali rasanya harus memberikanmu pada Dudung… kamu terlihat sangat cantik dengan baju pengantin.” “Terima kasih atas pujiannya, tapi…” “Tidak perlu takut seperti itu, aku tidak akan menyentuhmu hari ini. Aku masih lelah. Kecapekan gara-gara kemarin sore meniduri sekretarisku yang baru. Aku tidak ingin penyakit punggungku kumat gara-gara kebanyakan meniduri wanita cantik yang mengantri, walaupun harus kuakui, tubuhmu yang indah itu benar-benar menggiurkan.” Kata Pak Bambang sambil menjilat bibirnya. Dina mengeluarkan nafas lega, sepertinya dia selamat kali ini. “Tapi tidak ada salahnya kalau kamu ingin memuaskan calon ayah mertuamu dengan seponganmu yang nikmat itu.” lanjut Pak Bambang. Dina yang tadinya sudah lega kini menunduk kesal dan mengumpat, sekali bejat ternyata tetap bejat, dasar laki-laki tua busuk! Melihat Dina kesal, Pak Bambang tersenyum puas dan kembali menambahi. “Sangat tidak sopan kalau kamu tidak menyuguhkan hidangan yang menarik untuk calon mertuamu, kan, Mbak Dina?” Dina mengangguk sambil menggemeretakkan gigi menahan jengkel. Pak Bambang duduk dengan jumawa di tepi ranjang Dina. pria tua itu lalu membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya dari dalam celana dalam tanpa rasa risih sedikitpun. “Dihisap-hisap sedikit saja.” Katanya sambil menyunggingkan senyum tanpa dosa. “Seperti biasanya.” Senyuman yang sangat menjijikkan dan membuat harga diri Dina jatuh ke dasar lantai terbawah. Si cantik itu terhina sekali namun tak bisa melakukan apa-apa, dia harus melakukan apapun yang diminta Pak Bambang. “Kamu punya wajah yang sangat cantik,” kata Pak Bambang, “bibir yang indah…” Dina tidak ingin mendengar kata-kata gombal dari kakek tua itu lebih panjang lagi, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan langkah pelan ibu muda yang cantik itu berjongkok di hadapan calon ayah mertuanya, perut Pak Bambang yang gemuk menggelambir membuat Dina muak, tapi dia harus menahan diri agar tidak muntah di hadapannya. Pria tua itu sendiri kegirangan melihat Dina sudah siap mengulum kemaluannya. Dengan jari jemari lentik yang terawat rapi Dina mengangkat kantong kemaluan Pak Bambang dan memainkannya dengan lembut. Ketika tangan kirinya sibuk mengelus kantung Pak Bambang, tangan kanan Dina mengangkat batang kemaluannya. Jari jemari Dina yang sangat halus dan lembut membuat kakek tua itu harus menggigit bibir agar bisa menahan nafsunya yang menggelegak. Baru dipegang saja sudah nafsuin, apalagi nanti kalau sudah masuk ke mulutnya… Wajah Dina kian mendekati penis Pak Bambang, entah kenapa makin lama dia semakin ingin mengulum kemaluan laki-laki tua itu. Dia malu pada dirinya sendiri karena tak mampu mempertahankan harga diri dan lemah pada nafsu birahi yang selama ini telah dilatih dan dibangkitkan oleh Pak Pramono. Kemaluan Pak Bambang tidak menarik, keriput dan terlihat tua, tapi seperti apapun bentuk penis Pak Bambang, Dina mau tidak mau harus menikmatinya. Pak Bambang terus mengamati wajah cantik dan jari-jari lembut yang kini memegang alat vitalnya. Wajah Dina yang segar dan sangat cantik membuat laki-laki tua itu hampir-hampir tak tahan. Dina melirik ke atas, menatap wajah Pak Bambang yang diselimuti nafsu birahi. Wajah laki-laki tua itu berkeringat deras, matanya terbelalak tajam seakan hendak keluar dari wajahnya dan air liur menetes pelan dari ujung mulutnya. Dina tahu pasti, wajah yang sedang menatapnya bukanlah wajah yang tampan, wajah itu adalah wajah seorang kakek tua bejat yang penuh nafsu dan berkuasa penuh atas dirinya. Mulut Dina terbuka, lidahnya keluar dan dengan lembut ia menjilat bagian bawah batang kemaluan keriput milik Pak Bambang. Kakek tua itu bergetar karena nikmat yang ia rasakan. Ia menatap tajam mata indah milik Dina ketika ibu muda dua anak itu mulai memasukkan ujung gundul kemaluan Pak Bambang ke dalam mulutnya yang mungil dan perlahan menghisapnya. “AAARRGHH!!!” teriak Pak Bambang. Kakek tua itu tak mampu menahan dirinya lagi, ia merasa tubuhnya melayang dan melambung tinggi ke awan, ia merasa dirinya bagaikan raja yang sedang dilayani oleh hambanya. Rasa nikmat yang ia rasakan tak terucapkan, penis tuanya yang lelah masih bisa diperlakukan dengan lembut oleh wanita terhormat seperti Dina. Pak Bambang memejamkan mata ketika lidah Dina mulai berputar di ujung kemaluannya. Pak Bambang memang sering bermain cinta dengan wanita muda, dengan istri atau bahkan dengan anak gadis orang. Tapi nikmat yang ia rasakan tidak setulus ini, kelembutan wanita dewasa yang anggun seperti Dina membuat Pak Bambang merasakan nikmat yang luar biasa. Sementara bibir Dina terus bergerak mengulum dan lidahnya menjilat, Pak Bambang mengelus rambut indah Dina yang lurus sebahu dengan jari jemarinya yang gemuk. Kedua tangan Pak Bambang lama kelamaan menjepit kepala Dina dan menyorongkannya maju mundur seiring gerak hisapan si cantik itu. Dina tak melawan sedikitpun. Pak Bambang mulai menggerakkan kepala Dina dengan cepat, mendorong kemaluannya masuk ke kerongkongan ibu muda yang jelita itu dan menariknya keluar, lalu mendorong masuk lagi secepatnya. Kakek tua itu melakukannya berulang dan semakin lama semakin cepat. Ia sangat menikmati kuluman bibir mungil Dina. “Arrrggghhhh, …enaknyaaaa!!” kata Pak Bambang yang mulai kehilangan kontrol. Dina tetap meneruskan sepongannya sementara Pak Bambang menggerakkan pinggulnya agar bisa melesakkan penisnya dalam-dalam ke mulut Dina. Jepitan tangan Pak Bambang di kepala Dina makin rapat dan dorongannya makin dalam, hal itu membuat Dina terbatuk-batuk. “Aaaaggghh, aku mau keluar! Di dalam mulutmu! Aku mau keluarin di dalam mulutmu!” kata-kata itu diucapkan Pak Bambang sambil memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi. “Yaaaaa!! Yaaaaaaaaaa…!!! Ahhhhhhhh!!!” Tanpa basa-basi, kontol Pak Bambang menyemprotkan cairan kental ke dalam kerongkongan Dina seperti keran bocor. Dina harus berusaha menelan air mani kakek tua itu agar tidak tersedak. Semprotan kontol keriput itu hanya berlangsung beberapa detik, tidak terlalu lama dan tidak banyak. Pak Bambang mengangkat kepala Dina agar wajah si cantik itu menatapnya. “Kamu cantik. Sungguh sangat cantik.” Pak Bambang tak pernah bisa menahan diri di hadapan wanita anggun yang jelita ini. Setelah tetesan terakhir mani kakek tua itu turun, Pak Bambang menarik kontolnya dari mulut Dina. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan. Dina berdiri dengan goyah, ia meneguk semua mani Pak Bambang agar tertelan ke perut, hanya itulah satu-satunya cara agar tidak tersedak. Tanpa menunggu Pak Bambang yang masih dibuai kenikmatan, Dina berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin berkumur dan membersihkan mulutnya yang kotor oleh penis peyot si kakek tua bejat. Pak Bambang mengawasi Dina yang melangkah pelan ke kamar mandi. Pantatnya yang bulat dan buah dadanya yang kenyal membuatnya meneguk ludah. Alangkah senangnya dia bisa memperoleh menantu seperti Dina yang bisa dipakai kapanpun dia mau. Pak Bambang tertawa penuh kemenangan.

    ###

    Hari sudah semakin siang, jam dinding di ruang tamu sudah berdentang sepuluh kali. Piring sarapan sudah dibersihkan oleh para pembantu, menyisakan beberapa buah gelas bersih dan satu pitcher minuman sari jeruk serta satu botol air putih mineral. Dina masih duduk bermalas-malasan di balkon ‘rumah’ barunya. Rumah yang kini ia tempati sangat besar dan mewah, mirip rumah-rumah yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron lokal. Belum pernah seumur hidupnya ia membayangkan bisa tinggal di rumah sebesar ini, tapi apakah pantas semua ini ia raih? Apakah pantas semua ia dapatkan? Apakah pantas ia memperoleh semua ini dengan mengorbankan tubuhnya? Dina mengelus bibirnya pelan, masih terasa di mulutnya – air mani Pak Bambang yang meleleh membasahi bibir dan pipinya. Walaupun baru kemarin ia melakukan oral seks dengan kakek tua bejat itu, tapi sampai sekarang ia tidak bisa melupakannya. Masih bisa dirasakannya penis keriput Pak Bambang keluar masuk mulutnya. Dina memejamkan mata, mencoba menghapus semua kenangan buruk yang mengganggunya. Ia kehilangan cinta, ia kehilangan martabat, ia kehilangan harga diri, tapi demi kedua anaknya yang masih kecil, Dina tidak mau kehilangan kewarasannya. Entah di mana, entah kapan, Dina yakin, masih ada harapan. Terdengar ketukan pelan di pintu kaca balkon, salah seorang pembantu menemui Dina dengan langkah tertahan. Gadis yang manis dan masih sangat muda, mungkin berasal dari desa. Dia berusaha sopan saat menemui Dina. “Maaf, Bu. Tapi Pak Bambang ingin mengajak Ibu makan di ruang makan. Beliau juga berpesan agar Ibu mengenakan baju yang sudah disiapkan.” Kata sang pembantu. Dina mengeluh kesal, mau apa lagi kakek tua itu sekarang? Dengan malas Dina masuk ke dalam kamar dan melihat baju yang sudah disiapkan oleh Pak Bambang tergeletak di atas ranjang. Ia sudah menduga kakek tua cabul itu memberikan baju yang sangat seksi. Baju yang diberikan Pak Bambang berupa rok terusan yang sangat ketat bila dikenakan. Ujung bagian bawah hanya bisa menutupi sampai ke paha, sehingga seandainya Dina membungkuk atau duduk maka selangkangannya akan terlihat jelas. Sementara itu atasan baju menutup dada agak rendah, baju ini tidak cocok dipakai dengan BH, karena memang difungsikan untuk mempertontonkan belahan sekaligus memamerkan kemolekan buah dada Dina. Baju yang sangat seksi dan merangsang, bukan baju yang pantas dipakai seorang ibu rumah tangga. Sambil mendesah kesal Dina mengenakan baju pemberian Pak Bambang. Dina melangkahkan kakinya dengan berat hati ke ruangan yang dimaksud sang pembantu. Ruangan itu berada di ujung villa, di lantai bawah. Saat Dina melangkah anggun menuruni tangga, beberapa orang pembantu Pak Bambang yang sedang membersihkan ruang tengah berdecak kagum melihat kemolekannya. Mereka tahu Dina cantik, tapi mereka kini jauh lebih kagum melihat keseksiannya. Ibu muda itu cukup pantas kalau berprofesi sebagai artis sinetron atau model pakaian dalam. Dina membuka pintu ruang makan, melangkah masuk dan menutupnya kembali. “Ah. Dina! Akhirnya datang juga!” sambut Pak Bambang dengan gembira. Sambutan itu agak di luar dugaan Dina. Biasanya Pak Bambang jauh lebih tenang dan cool. Ia tidak mengira laki-laki tua itu akan menunjukkan perangai yang seperti ini. “Ada perlu dengan saya, Pak?” tanya Dina sopan. Pak Bambang mengayunkan tangan meminta Dina mendekat. Dengan langkah perlahan wanita cantik itu mendekati sang kakek tua. Ia melihat seorang laki-laki muda duduk di samping Pak Bambang. “Perkenalkan. Ini Dudung, anak saya.” Senyum Pak Bambang terkembang. “Calon suami kamu.” Dina terperangah.

    ###

    Dudung Haryanto adalah putra Pak Bambang Haryanto. Banyak yang tidak menyangka kalau orang cerdas dan licik seperti Pak Bambang memiliki anak idiot seperti Dudung. Walaupun keberadaannya disembunyikan di sebuah tempat terpencil seperti villa yang kini ditempati pula oleh Dina, tapi sebenarnya Pak Bambang sangat menyayangi putranya ini. Pak Bambang bahkan ‘membeli’ Dina untuk disandingkan dengan Dudung walaupun wanita cantik itu juga menjadi obyek pemuasan nafsu birahinya. Saat berhadapan dengan Dina, Dudung tidak berani menatapnya langsung, pemuda itu hanya menunduk malu tanpa berani sedikitpun mengangkat kepala. Walaupun kecantikan dan keseksian Dina membuat kejantanannya bergolak dan membuatnya melirik sedikit demi sedikit. “Dina,” kata Pak Bambang sedikit ketus, wajahnya terlihat sangat serius, “cepat beri salam pada calon suamimu.” Dina mendekati Dudung dan membungkuk sambil menawarkan jabat tangan. “Saya Dina.” Dudung malah berbalik dan menjauhi Dina, ia tidak membalas jabat tangan ataupun salam perkenalan Dina. Dudung membungkuk sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas dan sangat pelan. Pak Bambang tersenyum lembut sambil mendekati anaknya yang menggumam tidak karuan. “Dudung, ini Dina. Calon istri kamu.” Dudung masih tidak bereaksi. “Dudung, ini Dina. Calon istri kamu. Cantik tidak?” ulang Pak Bambang. Dudung masih terdiam. “Dudung…” “Ca-ca-cantik sekali.” Tiba-tiba saja Dudung menjawab. Kata-katanya terdengar berat dan terpatah-patah. Walaupun begitu, tidak ada perubahan posisi, Dudung masih membungkuk dan menghindari bertatapan langsung dengan Dina yang berdiri di belakangnya. Dudung bertubuh sedang, dengan rambut panjang yang acak-acakan. Wajahnya tersembunyi di balik rambut, namun Dina bisa melihat kalau Dudung adalah versi muda dari Pak Bambang. Keduanya mirip sekali! Hanya saja kalau Pak Bambang sangat gemuk, Dudung biasa-biasa saja. Yang jelas, Dudung bukanlah orang yang tampan. Tubuhnya membungkuk seperti udang dan gayanya berpakaian sangat aneh, seperti anak-anak. Kalau dilihat-lihat, mungkin Dudung dan Dina sebaya. “Dudung?” tanya Pak Bambang sekali lagi. Dudung kembali terdiam tak menjawab. Pak Bambang berdiri, lalu menggandeng Dina mendekati Dudung. Ibu muda yang cantik itu masih belum tahu apa yang diinginkan Pak Bambang, tapi tiba-tiba saja… Pak Bambang menarik tangan Dudung dan meletakkannya di payudara Dina! Dina menjerit lirih karena kaget. Secara reflek Dina ingin melepaskan tangan Dudung dari dadanya, namun ketika dia hendak menepis tangan lelaki idiot itu, Pak Bambang menatapnya galak. Dina terpaksa menurut. Sial sekali… buah dadanya harus dikorbankan untuk menarik perhatian Dudung! Pada awalnya Dudung tersentak, ia kaget dan menarik tangannya saat ditempelkan ke payudara Dina, apalagi si cantik itu tidak mengenakan bra sehingga tangannya bisa langsung merasakan lekuk keindahan buah dada Dina. Tapi ketika Pak Bambang mengulangi aksinya, Dudung tidak menolak. Walaupun masih malu dan tidak mau memandang ke arah Dina, tapi tangannya meremas dan menelusuri buah dada Dina yang kenyal dengan liar. “Ungghhh…” Dina mendesah. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya, antara sakit secara fisik dan bergairah secara khayal. “Bagaimana, Dudung? Enak tidak?” tanya Pak Bambang pada anaknya yang masih malu-malu. Dudung belum menjawab, tapi butiran keringat mulai deras membasahi wajahnya. Laki-laki dewasa yang masih seperti anak kecil itu kebingungan harus menjawab apa. Untuk sesaat Dina merasa kasihan pada Dudung, dia hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya yang bejat. Dudung tidak punya pendirian, harus selalu dibimbing. “E-enak…” tiba-tiba saja Dudung menjawab. Pak Bambang dengan kasar menarik dan membuka baju Dina, kedua balon buah dadanya kini terpampang dengan jelas di depan kedua lelaki itu. Dina menjerit ketakutan, tapi remasan tangan Pak Bambang di pergelangan tangannya membuat si cantik itu bungkam. Pak Bambang mendekati Dina dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Dina berbicara dengan nada bergetar. “D-Dudung… i-ini susu saya…” Tiba-tiba saja Dudung berbalik! Cukup cepat bahkan, sampai-sampai Dina kaget dibuatnya. Kedua tangan Dudung langsung beraksi, meremas, memilin dan memutar-mutar buah dada Dina dengan liar. Kali ini Dudung beraksi tanpa bimbingan ayahnya dan tanpa rasa malu. “E-enak… susu…” kata Dudung sambil menyeringai bahagia. “Susu… susu…” Tanpa basa-basi Dudung nyosor ke dada Dina, menangkup puting susu Dina dengan mulutnya. Dengan buas, Dudung menyedot-nyedot pentil payudara Dina yang kuncup. Kelakuan Dudung persis seperti seorang bayi yang menetek pada bundanya. “Aaaahh!!” Tubuh Dina bergetar, rasa nikmat dan geli membuatnya gelisah, enak sekali pentilnya dikulum-kulum laki-laki berbibir monyong seperti Dudung. Ukuran bibirnya yang besar membuat payudaranya seperti dioles oleh sepon besar basah yang mengitari balon buah dadanya. Entah harus senang atau malah risih, membingungkan Dina. Ia tidak ingin terlena oleh orang seperti Dudung, tapi ini enak sekali. Tangan Dudung yang besar masih tak terhentikan, meremas dan memilin buah dada Dina sebelah kanan sementara mulutnya nyosor kesana kemari di dada kiri. Pak Bambang duduk di kursi yang agak jauh dan membiarkan anaknya menikmati keindahan payudara ibu muda yang cantik itu. Ini bukan pertama kalinya buah dada Dina menjadi sasaran laki-laki asing, namun entah kenapa Dina tidak ingin menghentikan Dudung menikmati tubuhnya. Entah kenapa pula Dudung bersikap sangat agresif sekaligus kebingungan, gerakannya patah-patah dan ragu-ragu, seperti seorang laki-laki penuh nafsu yang baru pertama kalinya mengenal payudara wanita. Dudung menggerakkan bibirnya berputar liar di sekitar pentil susu Dina, lalu menangkupnya berulang, menghisap kenikmatan erotis yang diberikan oleh buah dada ibu muda yang cantik itu. Tangan Dudung tidak tinggal diam, bergerak bebas menyusuri perut dan pinggang Dina, menambah sensasi erotis bagi mereka berdua. Dina hanya bisa mendesah-desah menahan perasaannya. Ia menutup mata sambil menggigit bibir bawah untuk mempertahankan diri. Sayangnya lama kelamaan Dudung berubah menjadi semakin buas, sedotan bibirnya pada payudara Dina mengencang dan menguat, cenderung menggigit. Karena gemas, Dudung juga mencubit puting dan meremas buah dada Dina kuat-kuat, tentu saja rasanya sakit sekali. Dina berusaha bertahan, tapi ketika Dudung menggigit puting payudaranya, wanita cantik itu tak kuat lagi, ia menjerit kesakitan. “Aaaaahhh!!” Rasa sakitnya tak tertahankan, gigitan Dudung meninggalkan bekas memerah di sekitar pentil Dina. Karena kaget mendengarkan teriakan Dina, Dudung melepaskan gigitannya dan melompat mundur. “Maaf! Maaf! Maaf! Maaf!” ulang Dudung berulang-ulang, wajahnya ketakutan sekali. “Ti-tidak apa-apa…” Dina berusaha meraih Dudung yang ketakutan, ia khawatir Pak Bambang akan tersinggung melihat Dudung ketakutan seperti ini. Benar saja, pria tua itu bangkit dari kursinya dan mendekati Dina dengan penuh amarah. PLAAKK!! Pipi kanan Dina memerah karena tamparan keras Pak Bambang. Wajah pria tua itu berubah sadis, rahangnya mengeras. “Dengar baik-baik, pelacur brengsek! Aku tidak peduli sekalipun pentilmu itu putus digigit anakku! Pokoknya apapun yang dia mau, bagaimanapun caranya, harus kamu berikan! Mengerti?! Jangan sekali-sekali membuat dia kaget atau takut!” “Tapi… tapi…” Air mata Dina mengalir, ia menutup dadanya yang telanjang dan menggigil ketakutan. “TIDAK ADA TAPI!” bentak Pak Bambang. Tangannya sudah diangkat, bersiap menampar sekali lagi. “Ja-jangan!” Pak Bambang dan Dina sama-sama terkejut. Belum sampai Pak Bambang menampar Dina, Dudung sudah menahan tangan sang ayah. Rupanya ia tidak ingin Pak Bambang menyakiti Dina. “Jangan. Jangan. Jangan…” Dudung menggelengkan kepala berulang kali. “Jahat. Jahat…” Pak Bambang menurunkan tangannya dan mendesah, ia mengeluarkan nafas panjang dengan berat hati. Tangannya yang gemuk membelai rambut Dudung dengan penuh rasa sayang. Wajahnya berubah menjadi lembut. Dina akhirnya mengeluarkan nafas lega, dengan takut-takut ia meninggalkan Pak Bambang dan Dudung berdua di ruang itu. Beruntung, keduanya tidak mempedulikan kepergian Dina. Ibu muda yang cantik itu segera lari ke kamarnya yang berada di atas. Dina hanya bisa menangis.

    ###

    Dina tidak ingin hari pernikahannya tiba, tapi tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menghentikan atau memutar waktu. Mau tidak mau, terpaksa atau tidak, hari ini, dia akan menikah dengan Dudung. Awalnya Dina takut dan kecewa setelah melihat penampilan Dudung yang kurang mengesankan, tapi kebaikan hatinya mengagetkan Dina. Ia menghentikan Pak Bambang sebelum ia menampar Dina, itu membuktikan walaupun Dudung bodoh dan idiot, ia bukanlah orang yang jahat. Ada sedikit rasa tenang di batin Dina, kalaupun ia terpaksa menikahi seorang lelaki idiot, setidaknya ia menikah dengan orang idiot yang baik. “Bagaimana, Mbak Dina? Sudah?” Dina tersadar dari lamunannya. Ia sedang berada di kamar dan sedang dirias oleh penata rias pilihan Pak Bambang, wajahnya kini terlihat sangat cantik, ia bagaikan seorang artis yang sedang melakukan pernikahan di sinetron atau film, cantik sekali. Seandainya nanti sudah dipadu dengan gaun pengantin yang indah dan mewah, Dina akan tampil sempurna bagaikan seorang ratu. “Bagaimana menurut Mbak Dina, sudah cukup riasannya?” tanya penata rias itu untuk kedua kalinya. “I-Iya… sudah…” jawab Dina sambil memperhatikan dirinya di dalam cermin. “Terima kasih.” “Mbak Dina ini cantik sekali, jadi saya tidak perlu mendandani terlalu berlebihan, semua riasan saya hanya untuk memperjelas kecantikan Mbak Dina saja.” Kata penata rias itu lagi, sedikit terlalu cerewet. “Saya iri sekali, bisa-bisanya Mbak Dina punya kulit yang halus, wajah cantik dan rambut yang sesempurna ini. Wah, kalau saya, bukannya Mas Dudung, saya lebih pilih bintang sinetron, penyanyi band terkenal atau pengusaha kelas atas sebagai suami saya, Mbak. Ah, tapi itu kan saya ya… bukan Mbak Dina. Nah, sekarang… kita pakai gaun pengantinnya, ya?” Dina hanya bisa tersenyum lemas mendengar komentar jujur dari sang penata rias, seandainya bisa memilih, ia tidak akan memilih Dudung. Sebelum gaun dipakai, tiba-tiba saja pintu kamar Dina terbuka dan sosok seorang lelaki tua yang gemuk masuk ke dalam. Rupanya Pak Bambang yang datang, entah apa maunya. “Kalian sudah selesai?” Sang penata rias mengangguk dan menghampiri Pak Bambang. “Sudah, Pak. Hanya tinggal menata rambut dan memakaikan gaunnya saja. Mbak Dina ini cantik sekali, jadi riasan saya cukup sekedarnya, wajahnya sudah sempurna dan…” “Ya sudah, kamu keluar dulu sana, saya ingin bicara dengan Dina.” kata Pak Bambang ketus. Mata lelaki tua itu melirik ke arah beberapa orang asisten sang penata rias, ia membuka pintu lebar-lebar, menyuruh mereka semua keluar. “Saya ingin bicara dengannya sendiri. Nanti kalau sudah selesai, kalian boleh masuk lagi.” Tak perlu diminta untuk kedua kalinya, sang penata rias dan asistennya berbondong-bondong pergi ke luar meninggalkan Pak Bambang dan calon menantunya di dalam kamar. Mereka semua takut pada pria tua yang sangat kaya dan berkuasa ini. Dina berpura-pura membenahi bedak di wajahnya untuk menghindari bertatapan mata langsung dengan Pak Bambang. “Dina.” panggil Pak Bambang. Dina menengok ke arah Pak Bambang dengan malas. “Ya?” “Sebentar lagi kamu akan menikah dengan anakku, ijinkan aku mencicipimu untuk yang terakhir kali sebelum kamu menikah.” Mata Dina terbelalak kaget. “Angkat rokmu tinggi-tinggi dan buka celana dalammu, ini tidak akan lama.” Tubuh Dina bergetar ketakutan. Sekarang? Bandot tua ini hendak menyetubuhinya sekarang? Beberapa jam sebelum pernikahan dengan anaknya dimulai? “Buka!” Pak Bambang maju mendekati Dina yang ketakutan. Ibu muda yang cantik itu kebingungan mencari beribu alasan, tapi mulutnya tercekat, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Apa yang harus dilakukannya? Sebentar lagi dia akan menikah!

    ###

    Tempat pernikahan telah tertata, Dudung duduk sendiri di tengah ruangan. Beberapa orang saudara mengitarinya dan menyiapkan tempat duduk. Dudung melihat ke arah jam tangannya berulang-ulang kali, ia gelisah sekali, mana ayahnya? Kenapa tidak turun-turun? Ia tidak suka kalau ada banyak orang yang mengerumuninya seperti sekarang ini, ia tidak suka. Mana ayahnya? Dudung menggerakkan kerah bajunya dengan sebal. Baju ini tidak enak dipakai, terlalu ketat, terlalu panas, ia tidak suka. Ia ingin pakai kaos saja. Mana ayahnya? Dua orang pembantu yang kebetulan berada di dekat Dudung saling berbisik. “Mana Pak Bambang? Mas Dudung sudah gelisah tuh.” “Katanya sih tadi ke atas, nyari Mbak Dina.” “Nyari Mbak Dina? Bukannya Mbak Dina baru dandan juga? Emang Pak Bambang mau ngapain?” “Ngapain lagi coba? Ya pengen itu…” “Astaga! Sekarang?” “Iya. Sekarang.” “Gila. Bener-bener gila. Kasihan sekali Mbak Dina.” Hubungan Dina dan Pak Bambang memang sudah menjadi rahasia umum, terutama di kalangan karyawan-karyawan kakek tua itu. Kebanyakan dari mereka menyayangkan kemolekan Dina yang tersia-sia karena harus melayani bandot tua seperti Pak Bambang. Hampir semua karyawan bersimpati pada Dina.

    ###

    Keringat Dina bercucuran, bola matanya yang indah berulang kali mengawasi jam dinding yang berdetak pelan di atas dinding. “Ja-jangan lama-lama…” bisik Dina. “Ki-kita sudah ditunggu… ah!” Pak Bambang tidak menanggapi kata-kata Dina, ia putar tubuh calon menantunya itu agar menghadap ke arah dinding dan membelakanginya. Dengan gerakan ringan laki-laki tua yang sudah dilanda nafsu syahwat itu mengangkat rok Dina, lalu menarik celana dalamnya tanpa basa-basi. Celana dalam Dina yang mungil merosot ke bawah melewati kakinya yang jenjang dan indah. Pantat bulatnya yang putih kini tinggi menantang sang pria tua. “Ja-jangan…” desah Dina lagi. “Jangan apa?” kali ini Pak Bambang menanggapi dengan nada ketus. Pria tua itu sedang melucuti celananya sambil menikmati keindahan bibir kemaluan Dina yang terlihat jelas di selangkangan sang calon menantu. “Buka kakimu lebar-lebar!” Dengan gerakan patah-patah dan gelisah, Dina membuka kakinya. Tubuhnya bergetar, sebagian karena takut, sebagian lagi mengantisipasi kalau-kalau Pak Bambang melesakkan kemaluannya tanpa pemanasan. “Jangan apa?” ulang Pak Bambang. “Ti-tidak…” Dina menggelengkan kepala dengan takut. “Buka kakimu! Lebih lebar!” Karena takut, tanpa sadar Dina malah menutup kaki dan mengunci selangkangannya. Hal ini tentu saja membuat Pak Bambang jengkel. Dia menampar pipi pantat Dina keras-keras! PLAKK!! PLAKKK!! PLAKKK!! Dina yang takut dan kesakitan membuka kembali kakinya, memberikan akses pada Pak Bambang untuk bisa segera melanjutkan niatnya. Tubuh Dina bergetar ketika tangan-tangan Pak Bambang mulai menyentuh dan meremas pantatnya. Lalu… “HNGHHHHH!!!” Dina memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Sakit! Sakit sekali rasanya! Tiba-tiba saja Pak Bambang melesakkan kemaluannya! Tanpa pemanasan dan tanpa aba-aba! Liang kenikmatan Dina belum sepenuhnya mengeluarkan cairan pelumas sehingga masih kering dan rapat. Penis Pak Bambang yang mendesak masuk membuat Dina sangat kesakitan! “ANNGHHH!! Sakit!!!” desah Dina, ia mengerang berulang, tubuhnya mengejang dan berontak. Tapi Pak Bambang sudah siap, ia erat mengunci tubuh Dina dan mendorongnya ke depan – ke arah tembok. Karena tidak tahan, Dinapun menjerit. “Sakit!!! Sakit!!” Pak Bambang tidak peduli, walaupun air mata menetes di pipi Dina dan merusak make-up tipis yang tadi dioleskan oleh penata rias, Pak Bambang tetap melaksanakan niatnya. Dengan ganas kakek tua itu memaju-mundurkan pinggulnya, menusukkan kemaluannya dalam-dalam ke memek Dina yang rapat. Kenikmatan bagi Pak Bambang, siksaan luar biasa bagi Dina. Dina memejamkan mata menahan sakit, ia menggigit bibir, mencoba memberontak, merenggangkan kaki, tapi tidak ada yang bisa membuat permainan Pak Bambang jauh lebih nyaman baginya. Dia juga tak mungkin berteriak minta tolong karena tidak ada yang bisa menghalangi niat Pak Bambang menyetubuhinya. Setelah beberapa saat lamanya penis laki-laki tua itu keluar masuk liang kenikmatannya, Dina merasakan cairan pelumas mulai meleleh membasahi dinding vaginanya. Sayang sakit yang tak tertahankan masih terus terasa. Pak Bambang menyetubuhi Dina dengan ganas, ia lepaskan semua penat yang ia rasakan dengan memanfaatkan tubuh calon menantunya yang aduhai. Semua cara ia lakukan untuk bisa meraih kepuasan tertinggi, ia meremas buah dada Dina, menciumi punggung dan tengkuk lehernya sembari berulangkali menghunjamkan batang kemaluan ke liang kenikmatan sang bidadari dari arah belakang. Tubuh ibu dua anak itu memang masih sangat sintal dan padat, menggiurkan sekali, tak rela rasanya Pak Bambang kalau dia harus menikmati keindahan tubuh Dina ini untuk terakhir kali. Walaupun resmi akan dinikahi Dudung, ia akan terus mencicipi kenikmatan sang bidadari setiap ada kesempatan! Kemolekan Dina terlalu sayang untuk dilewatkan! Gerakan pinggul laki-laki tua gemuk itu makin lama makin cepat, ia memompa sekuat tenaga dengan gerakan bertubi, menumbuk memek Dina tanpa kenal henti. Untuk lelaki seumur Pak Bambang, hal ini sebenarnya luar biasa sekali, siapa sangka kakek tua gemuk itu masih punya tenaga ekstra? Selagi kelaminnya bekerja keras, mulut Pak Bambang tak mau kalah, ia mencium dan menjilat bagian belakang leher dan telinga Dina, membuat bidadari itu merintih dihajar nafsu birahi. Rengekannya bagaikan musik yang merdu bagi sang lelaki tua, membuatnya semakin meningkatkan kekuatan tumbukan kontolnya pada liang kemaluan sang ibu muda. Walaupun awalnya kesakitan, namun lama kelamaan Dina bisa merasakan kenikmatan yang muncul dengan cepat. “Paaaakkk!!!” jerit Dina tak kuat menahan nafsu birahinya yang mendesak keluar, matanya merem melek merasakan kenikmatan, tubuhnya bergetar dan bibirnya tak lelah mengeluarkan desahan. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa. Kedua lengannya bertumpu ke dinding sementara calon mertuanya terus memompanya dari belakang, pipinya sampai menempel ke tembok dan berulangkali terhantam karena kuatnya dorongan dari belakang. Dina benar-benar tak kuat lagi, dia ingin teriak… “Paaaakk!!” Pak Bambang merasakan tubuh Dina mengejang, kedua mata Dina naik ke atas dan hampir-hampir memutar ke belakang. Si cantik itu telah sampai ke ujung kenikmatannya. Kini giliran Pak Bambang, dia hampir sampai ke titik penghabisan, dia pastinya tak mau kalah. Gerakan laki-laki tua itu menggila, ia pompakan semua tenaganya, ia fokuskan pada kemaluannya. “Harrrrghhh!!!!!” Letupan sperma kental melesat ke dalam liang rahim Dina, berulang-ulang. Puas sekali Pak Bambang. Memek Dina yang tadinya sudah basah kini makin banjir oleh campuran cairan cinta mereka berdua. Pijatan liang kenikmatan pada penis Pak Bambang mulai mengendur, tubuh gemuk laki-laki tua yang kelelahan itu ambruk dan bersandar di punggung Dina. Air mata tipis meleleh di pelupuk mata sang bidadari, Dina malu sekali. Dia tidak ingin diperlakukan seperti ini terus menerus. Tapi dia tidak bisa mengingkari kenikmatan yang ia rasakan, bagaimana mungkin ia mengaku terpaksa, kalau dia juga mencapai orgasme? Pak Bambang menarik keluar kemaluannya dengan satu sentakan kasar, Dina sampai mendesis dibuatnya. Habis manis sepah dibuang. Setelah merasa puas, laki-laki tua itu berdiri dan memakai kembali celananya tanpa peduli pada Dina yang ambruk kelelahan. Air mani Pak Bambang meleleh dari sela-sela memek Dina, turun hingga sampai ke paha. “Bersihkan dirimu, sebentar lagi kamu akan menikah.” Kata Pak Bambang ketus. “Besok kita lanjutkan lagi.” Dina diam saja, dengan tenaga yang tersisa ibu muda yang cantik itu menyeret tubuhnya ke atas ranjang dan rebah di sana. Ia tak berkutik lagi karena lelah. Ketika Pak Bambang melangkah keluar dari kamarpun, Dina tak beranjak. Dina hanya bisa menangis tanpa suara.

    ###

    Pak Bambang keluar dari kamar Dina dengan langkah kaki jumawa dan wajah yang sangat puas. Ia segera disambut penata rias dan para asistennya yang rupanya sudah menunggu sedari tadi. “Bagaimana, Pak? Sudah selesai bincang-bincangnya?” tanya sang penata rias. “Sudah. Sana masuk, bereskan yang tadi.” angguk Pak Bambang. “Baik, Pak…” Sang penata rias melambaikan tangan mengajak para asistennya masuk ke kamar sementara Pak Bambang meninggalkan tempat itu. “AH!” Sang penata rias menjerit! Ia melihat Dina tertelungkup di atas ranjang pengantin dengan make-up berantakan dan baju yang acak-acakan. Calon pengantin itu nyaris telanjang! Apa yang baru saja terjadi? Apa yang Pak Bambang lakukan pada menantunya? Sang penata rias rupanya belum mengetahui rahasia umum yang beredar di kalangan pembantu Pak Bambang. Penata rias itu menjadi lemas karena harus mengulangi semuanya dari awal, terlebih lagi wajah Dina kini acak-acakan. Secantik apapun Dina, butuh waktu untuk mengembalikan semuanya seperti semula.

    ###

    Matahari bersinar cerah, mendung yang menggantung sepanjang siang kemarin tidak nampak sedikitpun pagi ini. Awan yang berarak tipis tak mampu menghalangi terangnya sinar mentari yang menerawang menembus langit biru. Burung-burung berkicauan sepanjang pagi, mereka bertengger di ranting-ranting pohon mendendangkan pujian hari yang indah. Villa besar milik keluarga Haryanto yang berdiri megah di atas bukit sejuk hari ini ramai oleh mobil-mobil mewah yang parkir di sepanjang halaman hingga ke jalan raya. Siapapun yang mengenal Bambang Haryanto, hadir hari itu di villa keluarganya yang megah. Tenda berwarna biru dan putih penuh hiasan digelar di halaman, meja penuh santapan lezat tak pernah sepi dikelilingi para tamu. Para tamu tidak tahu kalau Pak Bambang punya seorang anak yang sebelumnya tidak pernah terlihat di kota, tapi tahu-tahu sekarang akan menikah. Hari itu adalah hari pernikahan Dudung Haryanto dan Dina Febrianti. Prosesi pernikahan diadakan di ruang tamu di dalam villa. Pak Bambang duduk dengan santai di depan meja pernikahan sementara Dudung yang gembira tak mampu menutupi keceriaannya. Dudung yang sudah berjumpa dengan Dina bahagia sekali mendapatkan seorang pengantin wanita yang sangat cantik. Pak Bambang juga sama bahagianya, ia melakukan semua ini demi Dudung. Melihat putra yang paling dikasihi sekaligus paling memalukan itu bahagia membuat Pak Bambang menarik nafas lega dalam-dalam, tugas untuk merawat Dudung kini ia serahkan pada Dina. Pak Bambang terkekeh sendiri kalau teringat dia baru saja mencicipi pengantin wanita yang cantik. Pasti butuh waktu agak lama bagi Dina untuk mempersiapkan diri lagi setelah Pak Bambang menyetubuhinya beberapa saat yang lalu. Petugas KUA yang sudah ditunjuk dan disuap oleh Pak Bambang duduk dengan tenang memeriksa semua berkas-berkas catatan yang ada di meja pernikahan. Akhirnya, Dina datang diiringi kedua putranya yang membawa bunga dan saudara-saudara jauh Dudung. Wanita dewasa yang cantik jelita itu semakin nampak seksi dalam balutan baju pengantin berwarna putih tulang yang sangat indah. Kalau saja ada orang yang memeriksa, bercak-bercak pejuh Pak Bambang yang tadi bertebaran di sekujur paha dan selangkangan Dina mungkin saja menempel di baju pengantinnya. Si cantik itu hanya bisa membersihkan diri di beberapa bagian saja. Dudung makin ngiler melihat calon pengantinnya datang, seksi sekali memang Dina saat itu. Langkah kakinya anggun memasuki ruang pernikahan. Walaupun kepalanya tertunduk dan wajahnya pucat, tapi semua orang yang berada di tempat itu setuju, Dina Febrianti menantu Pak Bambang adalah wanita yang sangat cantik dan seksi. Mereka juga sangat kasihan sekali melihat wanita secantik Dina disandingkan dengan pria seperti Dudung. Dina duduk di samping petugas dari KUA, di depan Dudung. Prosesi pernikahan dimulai.

    ###

    Dina menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Prosesi pernikahannya telah berlangsung dengan lancar tanpa gangguan dan kini namanya telah tertera resmi dalam buku penikahan dan catatan sipil sebagai istri dari Dudung Haryanto. Bukankah seharusnya ia bahagia? Sebaliknya, ia sakit hati sekali, ia merasa hancur, ia merasa kotor seperti seorang pelacur. Ia berharap Anton akan datang dan menghentikan pernikahan ini, ia berharap mantan suaminya akan datang dan menyelamatkannya. Tapi tak seorangpun datang untuk menyelamatkannya, tak ada seorangpun yang peduli, tak ada yang berani. Dina tidak peduli kalau make-upnya berantakan dan wajahnya belepotan, ia tidak peduli kalau ia berubah menjadi jelek seperti orang-orangan sawah sekalipun. Ia hanya ingin pergi dari tempat ini bersama kedua anaknya dan kembali bersatu dengan Alya dan Lidya. Sayang semua itu tidak bisa ia lakukan, ia terjebak dalam genggaman laki-laki tua brengsek tapi kaya raya bernama Bambang. “Mbak Dina? Mbak Dina ada di dalam? Mas Dudung sedang menunggu sendirian di luar, kasihan dia, masih banyak tamu yang ingin bersalaman. Ayo cepat keluar!” panggil salah seorang saudara dari luar kamar mandi. “I-iya… sebentar.” Jawab Dina terbata-bata. Buru-buru wanita cantik itu mencermati cermin yang ada di kamar mandi dan membenahi make-upnya yang berantakan karena menangis. Tak lama kemudian, Dina keluar dari kamar mandi dan menemani Dudung yang masih terus menemui beberapa orang tamu. Beberapa kali Dudung berteriak-teriak ingin masuk ke kamar karena capek dan bosan, tapi Pak Bambang selalu melarang. Untunglah Dina keluar dan menemaninya, karena setiap kali bersanding dengan pengantin barunya, Dudung menjadi pendiam dan sangat sopan.

    ###

    Lampu dinyalakan sedikit temaram, beberapa batang lilin dinyalakan di pojok ruangan, lagu-lagu lama yang melodius dan menyejukkan penuh syair cinta dinyalakan dari satu CD player. Ranjang besar sudah tertata rapi. Wangi bunga yang semerbak mengharumkan seisi ruangan. Kamar pengantin yang sempurna. Entah siapa yang telah merapikan ruangan ini, mungkin penata rias yang siang tadi mendandani Dina. Dina duduk terdiam di ujung ranjang, ia sendirian. Bukannya takut ataupun khawatir, tapi Dudung tak nampak batang hidungnya sejak acara tadi siang. Mungkin dia kelelahan. Dina juga sudah sangat lelah, baik pikiran maupun fisik. Menurut Dina akan lebih baik kalau Dudung tidak datang ke kamar pengantin malam ini. Dina akan sangat bahagia kalau diperbolehkan tidur sendiri tanpa harus melayani suami barunya. Dia tidak peduli ini malam pertama atau bukan. Dina merebahkan diri ke atas ranjang, ia memejamkan mata, lelah sekali rasanya hari ini, banyaknya tamu yang datang membuat Dina harus selalu tersenyum dan memasang wajah bahagia. Ia lelah harus berbohong sepanjang hari, apalagi vaginanya masih terasa nyeri karena diperkosa Pak Bambang pagi tadi. Lalu, ketika Dina merasa aman, pintu kamarnya terbuka. Satu sosok masuk ke dalam dengan langkah ragu. Pintu kamar ditutupnya. “Di… Dina?” bisik suara asing itu selembut mungkin. “Mas Dudung?” “I… Iya… Dudung.” Dina bangkit dari tidurnya. Tapi sosok Dudung tetap tidak bergerak, pria itu masih berdiri di dekat pintu, seakan-akan takut mendekat ke ranjang. Dina menunggu dan duduk terdiam di atas ranjang. Dina menunggu. Dan menunggu. Masih menunggu. “Mas Dudung?” “I… Iya?” “Kenapa berdiri di situ terus? Mas Dudung mau tidur kan?” “I… Iya…” Masih dengan langkah ragu, Dudung bergerak maju ke arah ranjang. Ia duduk di tepi pembaringan, dengan tubuh membelakangi Dina. Dina duduk menjauh, dia hanya berharap laki-laki bodoh ini sudah terlalu lelah sehingga mereka tidak perlu bermain cinta. “Mas Dudung capek?” “Iya…” “Mas Dudung mau tidur?” Dudung menggelengkan kepala dengan semangat. “Katanya capek?” tanya Dina. “Kalau capek tidur saja, ya?” “Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur… boleh?” Dina terhenyak, dasar kakek tua, tidak bisa membiarkannya beristirahat dengan tenang! “Iya… tentu saja boleh, kita kan sudah suami istri? Tapi aku lelah sekali… kita bisa melakukannya besok. Hari ini kita tidur saja, ya?” “Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…” Dina jengkel. Wanita cantik itu akhirnya merebahkan diri tanpa mempedulikan Dudung. Dia ingin tidur! Kalau Dudung ingin menidurinya, maka dia akan meniduri wanita yang sudah tidur. Dina memejamkan mata dan membiarkan Dudung terdiam di tepi ranjang. Dina heran juga, walaupun bodoh – Dudung sepertinya tahu apa fungsi alat vital laki-laki dan perempuan. Dasar, anak bapak sama saja, batin Dina menggerutu. “Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…” ulang Dudung lagi. Kali ini Dudung tidak diam saja, dia bergerak dan mendekati Dina yang berusaha untuk tidur. Dengan gerakan patah-patah karena takut akan mengganggu Dina, Dudung mulai membuka baju Dina. Dina yang tidak tahu harus berbuat apa terdiam ketika Dudung membuka baju dan celananya. Dina diam tanpa perlawanan, ia seolah berubah menjadi boneka yang pasrah dilucuti busananya. Walaupun bodoh, tidak perlu waktu lama bagi Dudung untuk menelanjangi Dina. Setelah selesai melepas semua pakaian Dina, Dudung melucuti pakaiannya sendiri. Telanjang dan tersenyum polos, Dudung membungkuk di antara selangkangan Dina, batang kemaluannya yang ukurannya luar biasa besar menggelantung di bawah, siap disentakkan ke dalam memek Dina. Dudung mencoba merenggangkan kaki Dina, ia menikmati pemandangan indah yang dipamerkan bibir vagina ibu muda yang cantik itu. “Mas Dudung…! Apa… apa yang…?” Dina menjerit tertahan, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Dudung, setelah sekian lama, akhirnya Dina sadar. Betapa terkejutnya Dina ketika dia melihat ukuran alat kelamin Dudung yang menggantung. “Jangan, Mas!” “Kenapa… kenapa Dudung tidak boleh? Apa gara-gara punya Dudung besar? Dina takut? Nanti Dudung paksa supaya bisa masuk…” “Jangan! Ya Tuhan! Jangan… jangan kamu paksakan!” kata Dina kebingungan, bagaimana caranya menolak laki-laki bodoh ini? “Aku tidak bisa… aku… punyaku sempit sekali… punya Mas Dudung besar sekali… tidak bisa masuk! Punyaku tidak bisa menerima barang sebesar itu!” “Tapi… tapi… tapi Dudung tidak tahan! Du… Dudung mau… mau… mau memasukkan ini… ke situ…” kata Dudung terpatah-patah, kepalanya menggeleng dan mengangguk dengan gerakan patah-patah. Pria bodoh itu menunjuk ke arah kontolnya sendiri lalu menunjuk ke bibir vagina Dina. “Du-Dudung mau… Dudung kepingin… Dudung… Dudung tidak mau menyakiti Dina, beneran… pasti enak… beneran. Dina cantik. Dina mau kan?” Dina menggeleng, dia berusaha mendorong Dudung agar menjauh. Tapi pria bodoh itu diam tak bergeming. Secara tak sengaja Dina melihat wajah Dudung. Betapa kagetnya Dina melihat wajah laki-laki itu. Dudung terlihat sangat sedih dan terpukul, wajahnya memerah dan siap menangis. Melihat perubahan wajah Dudung membuat Dina menghentikan dorongannya. Dudung sesunggukan, ia menyingkir dari atas tubuh Dina dan duduk di tepi ranjang. Dina terdiam. Di hadapannya kini, seorang pria dewasa tengah terisak-isak karena penolakannya, sangat berbeda dengan ayahnya yang pernah memaksa dan memperkosa Dina. Kenapa Dina menolaknya? Apa yang telah terjadi pada Dina bukanlah kesalahan Dudung… apalagi Dudung telah resmi menikahinya, sehingga sebenarnya dia berhak atas tubuh Dina. Dina menundukkan kepala, berpikir keras sementara Dudung masih sesunggukan. Dengan satu desahan panjang Dina menggeleng kepala dan menepuk pundak Dudung. Dia yakin akan menyesali keputusannya ini… “Kamu mau melakukannya, Mas? Sekarang?” Dina memandang ke arah Dudung dengan pandangan mata pasrah. Dudung terhenyak kaget, ia menghapus air mata yang mengaliri pipinya. Dina bertanya lagi, “Kenapa? Kenapa kamu ingin melakukannya denganku, Mas?” “Du-Dudung mau karena… karena… karena Dudung suka Dina. Dina cantik.” “Kamu suka sama aku, Mas? Suka atau sayang?” “Dudung sayang Dina. Dina cantik… Du-Dudung tidak mau menyakiti Dina. Janji! Tidak sakit… Dina pasti senang. Pasti…” wajah Dina yang cantik bersinar membuat Dudung makin bersemangat, dalam keluguan dan kebodohannya ia tidak sadar bahwa ia mungkin mencintai Dina sejak pertama kali bertemu dengannya. Dina tidak bisa melepaskan pandangan dari benda menggantung yang ada di selangkangan Dudung, ukurannya, bentuknya… ah! Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada alat vital Dudung? Apakah dia akhirnya bersedia digauli Dudung karena kasihan dan terpaksa, atau karena dia ingin segera merasakan batang kemaluan Dudung itu di dalam memeknya? Dina tahu dia tak akan pernah bisa menjelaskan pada siapapun, bagaimana dia bisa tertarik pada manusia aneh bernama Dudung ini. Dorongan seksual menggebu dalam batinnya menjadi gairah liar tak tertahankan yang mengurung perasaannya sendiri. Dina hanya mengangguk pasrah pada pria idiot yang berdiri tegak di hadapannya. Ibu muda yang cantik itu bahkan membuka kakinya lebar-lebar, mengeluarkan desahan mesra penuh irama kala batang kemaluan raksasa milik Dudung menyentuh paha bagian dalamnya. Sentuhan ringan ujung gundul kemaluan Dudung mengalirkan sensasi dahsyat ke seluruh bagian tubuh Dina, melejitkan nafsu birahinya sampai ke tingkat yang tak terkatakan. Dina hanya terdiam, memejamkan mata dan menunggu. Dudung yang bodoh tidak tahu bagaimana caranya membuai seorang wanita, dia tidak mengerti bagaimana caranya melakukan permainan cinta sejati. Dia tidak tahu bagaimana melakukan pemanasan. Dudung mengulurkan jarinya ke dalam selangkangan Dina, membiarkan jarinya masuk dan mencubit bibir kemaluan sang istri yang berwarna merah jambu, dia melakukannya dengan kasar – tanpa mengelus dan tanpa rabaan. Dina melonjak kaget ketika jari-jari Dudung yang ukurannya sangat besar mengobrak-abrik pukinya yang kini mulai basah. Dina malu pada dirinya sendiri, Dudung belum melakukan apa-apa tapi kemaluannya sudah mulai basah. Hanya dengan melihat penis Dudung yang besar itu, Dina tak mampu menahan nafsu birahinya. Dudung sendiri sekarang mulai maju, penisnya yang mengeras bagai baja seperti tak sabar ingin segera menjajah liang kenikmatan milik Dina. Wanita cantik itu sendiri juga tak sabar, ia ingin Dudung segera melakukannya, ia ingin penis itu segera masuk ke vaginanya yang dahaga. Tanpa ada seorangpun yang meminta, Dina mengangkat kakinya lebih tinggi, memberikan Dudung akses yang lebih bebas, si cantik itu telah menunggu. “Ma… masukkan saja, Mas.” Desis Dina, tangannya mencengkeram dan kukunya menancap di pundak Dudung. “A… aku menginginkannya… berikan padaku… berikan pada istrimu ini…” Kata-kata Dina bagaikan musik yang indah bagi Dudung, belum pernah ia mendapatkan seorang wanita yang mau ia perlakukan seperti ini sebelumnya. Senyumnya yang manis mengundang Dudung untuk segera melakukan apa yang mereka berdua inginkan. Dengan satu lolongan yang keluar dari mulut Dudung, kepala gundul kontol raksasa miliknya mulai masuk ke dalam liang kenikmatan Dina, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan sekali. Awalnya ujung gundul kemaluan Dudung hanya menyentuh bibir kemaluan Dina saja, walaupun begitu vagina si cantik itu sudah basah dan siap menerima serangan. Ketika Dudung benar-benar bersiap melesakkan kemaluannya, mata Dina terbelalak melebar. Ujung kontol Dudung dioles kesana kemari, bibir vagina, rambut kemaluan, paha dalam, seluruh bagian sensitif di sekitar memek Dina dirambahnya. Dudung tidak tahu mana yang enak dan mana yang tidak. Ia hanya mengamati perubahan wajah Dina saja. Lalu dengan satu hentakan pinggul yang kuat, pria bodoh itu memakukan batang penisnya ke dalam liang kenikmatan Dina yang elastis, merenggangkan dinding-dindingnya ke batas maksimal. “Aaaaaaaaaahhhhh!!!” teriak Dina, gabungan rasa sakit dan kenikmatan yang dirasakannya tak terkatakan. Ia hanya bisa melolong tanpa daya. “Ooooohhhhhmmm… enaaaaaaakkkkghhhh…” Luar biasa, kontol Dudung baru masuk hanya beberapa senti saja ke dalam memeknya, tapi Dina sudah melolong tak berdaya. Tubuh Dina bergetar hebat merasakan batang kemaluan yang kerasnya bagai kayu mulai dilesakkan ke dalam kemaluannya, diiringi dengan nafas yang kembang kempis, Dina mengangkat pinggul dan pantatnya agar Dudung lebih leluasa. “Terus… terus, Mas,” bisik Dina yang sudah tak mampu menahan diri lagi. “Tidak apa-apa… pelan-pelan saja… jangan –… jangan terlalu cepat…” Dudung yang sudah sangat bernafsu tidak bisa mendengar kata-kata Dina, pria bodoh itu melanjutkan niat buasnya. Ketika penisnya ditusukkan, rasa sakit menyengat Dina. Si cantik itu mulai memukul-mukulkan tangannya ke pundak Dudung, perihnya tak tertahankan lagi, apa yang awalnya nikmat berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa. Tapi Dudung sudah terlanjur berubah menjadi pejantan yang buas tanpa ampun, saat itu tiba-tiba saja Dina merasa bodoh. Ia menyesal merasa siap menerima kemaluan Dudung yang sangat besar itu. Kini, batang yang keras bagai baja itu telah melesak masuk dan akan terus masuk sampai ujung terdalam. Siap tidak siap, mau tidak mau, Dina harus menahannya. Ukuran kemaluan Dudung yang besar seakan membuat dia hendak merobek bibir kemaluan Dina ketika penisnya ditanam dalam-dalam di memek sang istri. “Gakkghhh!! Aghhh!! Ahhh!” Dina melenguh berulang, tenggorokannya tercekat. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya berontak secara reflek, namun sia-sia, Dudung sudah berubah menjadi makhluk mengerikan yang memangsa tubuhnya dengan buas. Tidak ada kata berhenti atau istirahat, Dudung melanjutkan niatnya, mengobrak-abrik memek sempit Dina dengan batang kemaluannya yang raksasa. Dina mengeluarkan air mata, sungguh dia tidak tahan, dia sudah mencakar, memukul, mendorong, tapi Dudung tetap memompanya. Teriakan Dina juga tak digubris. Si cantik itu berharap dia bisa segera pingsan, lebih baik tak sadarkan diri daripada merasakan sakit yang seperti ini. “Ja-jangan menangis, Dina,” pinta Dudung dengan suara memelas, “…ka-kalau Dina diam saja, Dudung cepat selesai. Kalau diam saja, Dina pasti merasa enak, soalnya Dudung juga enak. Sebentar lagi selesai, janji! Jangan menangis… jangan menangis…” Dina mendengarkan permintaan Dudung yang memelas itu dan membuka matanya. Pandangan matanya buram dan kabur karena baru saja menangis. Rasa sakit itu tidak seberapa… batin Dina, setelah semua yang terjadi… setelah pernikahannya dengan Dudung yang diawali tanpa dasar cinta, ini semua tak seberapa. Bukanlah Dudung yang bersalah, tapi ayahnya. Pak Bambanglah yang telah memaksa mereka menikah. Dina merasa tidak enak hati pada Dudung, pria ini tidak mengenal siapapun kecuali Dina dan Pak Bambang dalam hidupnya. Pria yang kesepian dan tak punya teman. Dia tidaklah sebodoh yang Dina kira, Dudung bahkan sangat cermat dan perhatian, walau kadang terlalu sensitif. Dudung memang bukan suami yang sempurna, tapi Dina bisa belajar mencintai. Ketika Dudung menusukkan lagi kemaluannya ke dalam vagina Dina, si cantik itu memilih memejamkan mata dan menggigit bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Lebih baik dia yang kesakitan, daripada Dudung tahu rasa sakit yang ditimbulkan karena bersetubuh dengannya. Batang kemaluan Dudung tidak berhenti berdenyut dan membesar, seakan-akan batang itu adalah balon gas yang terus membesar, bedanya kontol Dudung yang besar lebih mirip batang baja daripada balon gas. Kontol Dudung terus saja mendesak ke dalam bagian terdalam kemaluan Dina yang menolak kehadiran benda asing itu. Dudung mengira kalau dia sudah selesai menancapkan kontolnya, Dina akan merasa nyaman dan bisa menikmati permainan cinta mereka. Sayang tidak seperti itu keadaan sebenarnya. Dari gayanya — walaupun ada kesan malu-malu – Dina bisa memperkirakan kalau ini bukanlah pertama kalinya Dudung bermain cinta. Entah dengan siapa dulu dia bercinta… tapi bagi Dina sendiri, dari semua ‘lawan main’nya, barang milik Dudunglah yang paling besar. ‘Ampuuuun!’ batin Dina, sungguh dia bisa merasakan setiap senti desakan kontol Dudung dalam liang rahimnya. Kali ini, kemaluan Dudung amblas lebih dalam dari sebelumnya, tanpa ampun menusuk terus ke dalam, sakitnya terasa sampai ke perut si cantik itu. Batang penis Dudung yang keras bagai baja menjajah dan mengobrak-abrik dinding lembut memek Dina, mendesak ke dalam bagaikan paku. Dina tidak ingin berteriak lagi, tapi sungguh dia tidak tahan… dia tidak tahan kalau begini terus… dia tidak tahan kalau Dudung tidak berhenti! Gaya permainan buas ala Dudung membuat Dina terombang-ambing tanpa daya, namun detik detik berikutnya hal yang mengejutkan Dina terjadi. Dudung menggoyang penisnya dan memompa keluar masuk, sekali, dua kali, tiga kali… terus menerus tanpa henti! Dina mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya… kenikmatan yang luar biasa. Terus… terus… terus… jangan berhenti… Dina tidak mau Dudung mengakhiri permainannya, enak… enak sekali… jangan berhenti… Dina tidak percaya ini, setelah semua rasa sakit yang ia terima dan genjotan tanpa ampun dari Dudung, akhirnya ia menerima semuanya dengan penuh kenikmatan. Ia ingin Dudung melanjutkannya tanpa henti, Dina membuka kakinya lebar-lebar, ia ingin Dudung masuk lebih dalam! Lebih dalam! Ia percaya suaminya yang tidak begitu pintar ini ingin membuktikan kalau dia menyayangi Dina, mencintainya… sepenuh hati… Tiba-tiba saja, denyutan batang kontol Dudung terhenti. Ujung gundul penis yang tadinya melesak ke dalam tiba-tiba saja terdiam. Dudung menarik batang kemaluannya dengan perlahan. Dina sudah bersiap melepas, ia merenggangkan kakinya dan memejamkan mata… tapi… tiba-tiba saja… dengan satu sodokan penuh tenaga, Dudung mendorong kemaluannya kembali masuk ke dalam! “Aaaaaaaaaaaaahhhhh!!!” Dina menjerit kesakitan. Seluruh batang kontol Dudung amblas ke dalam memek Dina, semuanya masuk ke dalam, dari ujung gundul sampai batas terbawah. Kantong kemaluan Dudung menampar bagian bawah bibir memek Dina sampai ke lubang anusnya. Ya Tuhan! Dudung benar-benar melakukannya… pria bodoh itu memasukkan semuanya sampai ke dalam! “Sa-sakit?” tanya Dudung yang terkejut mendengar jerit kesakitan Dina. “Sakit…” erang Dina. Dudung memperlambat gerakannya. Wajahnya berubah, ia merasa bersalah. “Ooooohhhh…” Dina melenguh perlahan. Dudung mengubah gaya permainannya. Dia tidak sebuas seperti awal serangannya, dia kini lebih lembut, sepertinya pria bodoh itu mulai sadar kalau apa yang telah dia lakukan tadi menyakiti Dina dan kini ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Dudung memegang lengan Dina dan mengelusnya lembut, bukannya berusaha memaksa kemaluannya masuk secara bertubi, Dudung kini menunggu agar Dina bisa menyesuaikan diri. Dengan sabar pria bodoh itu memperhatikan tubuh Dina mulai relaks dan bisa membiasakan diri dengan ukuran kemaluan Dudung yang memang di atas rata-rata lelaki Asia pada umumnya. Dudung tidak melakukan ini semua karena ia pintar, ia melakukannya secara refleks, intuisi laki-laki yang entah sejak kapan ia miliki. Dina tidak percaya apa yang baru saja terjadi pada dirinya, seluruh batang kemaluan Dudung telah amblas! Masuk ke dalam liang kenikmatannya! Sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya… batang sekeras baja itu kini berada di dalam tubuhnya, masuk ke dalam liang rahimnya, menyodok seakan hendak mengoyak perut. Dina membuka mata dan menatap kekasih barunya dengan pandangan penuh pengertian, ia berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih dirasakannya, rasa sakit yang ditimbulkan oleh sesaknya desakan batang kejantanan Dudung di dalam vagina mungilnya. Setelah gerakan lembut keduanya berinteraksi, otot-otot kemaluan Dudung yang tadinya lemas kini mulai mengeras kembali. Dina mengerang perlahan, ia takut Dudung akan menghentikan gerakannya kalau tahu dia kesakitan. Dengan sekuat tenaga, Dina berusaha bertahan, ia sampai menggemeretakkan gigi karenanya. Entah bagaimana Dudung merasa curiga, ia memperhatikan Dina, menunggu dan bergerak maju mundur kembali. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksa Dina kini sudah mulai banyak berkurang, sekali lagi wanita cantik itu memaksakan senyum pada Dudung. Lagi dan lagi, luapan cinta keduanya saling bertumbukan, tersalurkan melalui tumbukan sebuah batang kemaluan yang sekeras baja. Dudung memperlakukan tubuh Dina dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, ia bergerak pelan, memutar pinggul dan penisnya, menggiling kemaluan Dina dengan tumbukan yang sebisa mungkin tidak menyakitkan, sampai akhirnya dinding memek Dina yang elastis merenggang dan bisa menyesuaikan ukuran dengan kontol Dudung. Dina merasakan kegairahan yang makin lama makin memuncak, membuatnya bingung dibuai kenikmatan yang tak seharusnya terjadi. Dina tidak mampu berpikir dengan jernih, tubuhnya terasa melayang ke atas awan. Ibu muda yang cantik itu membiarkan tubuhnya lepas, ia ikuti kemana saja suami barunya akan membimbing. Dina berharap perlakuan yang begitu nyaman dan enak ini tak akan pernah berakhir. Bidadari jelita itu membentangkan kakinya lebar-lebar, membiarkan lututnya membuka dan mengimbangi gerakan maju mundur suaminya yang idiot dengan hempasan pantat penuh nafsu. Wanita cantik yang tadinya jijik pada suaminya itu kini tergila-gila. Ia mengerang dan menjerit, membiarkan tubuh dan pikirannya terbebas. Setiap hentakan yang dilakukan Dudung membuat Dina makin mabuk oleh kenikmatan yang diberikan suaminya. Kantung kemaluan sang pria idiot menumbuk kuntum liang anus sang istri tanpa kenal lelah sementara jembutnya yang lebat mencambuk kelentit Dina. Enak sekali rasanya. Sangat enak sekali. Tiba-tiba Dudung berhenti dan menarik keluar kemaluannya. Dina menggeleng kepalanya keras-keras, dia lalu merubah posisi agar Dudung lebih nyaman, ia berbalik, merendahkan tubuhnya ke bawah hingga buah dadanya tergencet. Doggie style, siapa tahu Dudung menyukai posisi ini, ia berniat memuaskan Dudung sebisa mungkin, bukankah itu tugas seorang istrii? Permukaan karpet yang kasar merangsang pentil payudara Dina hingga menjorok ke depan. Dina mengembik penuh kenikmatan saat batang kemaluan Dudung yang sangat besar kembali melesat masuk ke dalam liang kewanitaannya tanpa bisa dihentikan. Dina melejit nikmat ketika batang penis Dudung digenjotkan di dalam kemaluannya, wanita cantik itu tidak percaya penis raksasa milik Dudung bisa masuk ke dalam memeknya. Ia sudah pernah merasakan milik Anton, milik Pak Pramono dan milik ayah Dudung, tapi semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria idiot yang kini telah resmi menjadi suaminya ini. Ujung gundul penis Dudung mengoles-oles dinding dalam kewanitaan Dina. Belum pernah ada lelaki yang pernah melesakkan penis sedalam Dudung, nyeri dan sakit yang dinikmati oleh Dina bagaikan gadis yang sedang diambil keperawanannya. Si cantik itu menjerit-jerit dengan bingung, sebenarnya dia kesakitan atau malah keenakan. Saat ini Dina sudah tidak peduli lagi siapa sebenarnya Dudung, suami barunya yang idiot itu menyimpan keperkasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dina bagaikan seorang budak seks yang duduk berlutut dan membiarkan seorang pria bodoh menggenjot memeknya dari belakang, menanamkan nafsu birahinya dalam-dalam di liang kenikmatan yang diberikan oleh Dina. Setelah selama ini dipermainkan oleh pria-pria hidung belang, baru kali inilah Dina tahu bagaimana rasa nikmat yang sesungguhnya. Tidak ada pria yang bisa menandingi Dudung dalam hal memuaskannya, tidak ada. Dina tahu dia ingin selalu menikmati kebersamaan dengan Dudung seperti ini, dia ingin selalu di samping Dudung, Dina ingin selalu menghentakkan tubuhnya yang indah di atas penis tegak milik Dudung. Dina sudah dibuat terpukau oleh penis raksasa Dudung. Dina tidak ragu sedikitpun. Ada sesuatu yang mendesak dan membuncah dalam hatinya yang membuat si seksi itu hampir-hampir gila karena nafsu birahi yang menggelegak. Dina ingin menghisap seluruh kemaluan Dudung dengan memeknya! Malu rasanya Dina mengaku pada dirinya sendiri kalau dia ingin terus menikmati batang penis laki-laki itu! Awalnya dia kalap dan panik ketika Dudung mendekati dan akhirnya menidurinya, tapi semua kini berbalik. Dia ingin menikmati permainan cinta dengan Dudung, dia menginginkan Dudung. Dia membutuhkan Dudung. Kenikmatan dalam tubuh Dina makin lama makin memuncak menuju sebuah ujung yang tak ingin ia capai dengan cepat. Dina tahu inilah saatnya ia merasakan kenikmatan puncak itu! Kenikmatan yang tidak ia dapatkan dari mantan suaminya yang pengecut dan telah menjualnya. Dudung mengerang hebat dan Dina bisa merasakan batang penis suami barunya menegang dengan sangat keras di dalam liang kewanitaannya. Tak perlu waktu lama bagi Dudung untuk segera menyemprotkan air maninya yang putih lengket ke dalam memek wanita cantik yang kini sudah ia miliki itu. Semprotan pejuh Dudung menggila di dalam memek Dina, memenuhi seluruh ruang liang kewanitaan sang istri hingga luber keluar, membasahi pinggul dan kantung kemaluannya sendiri. Tanpa malu-malu Dina memutar-mutar pantatnya dan mengisi seluruh rahimnya dengan sperma kiriman Dudung. Si cantik itu tidak ingin permainan seks yang indah ini segera berakhir, dia ingin Dudung tetap menyetubuhinya selama mungkin. Tapi sekuat apapun Dina berusaha bertahan, dia tetap seorang wanita biasa. Dengan satu teriakan sekuat tenaga, Dina melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang bisa ia rasakan, kenikmatan yang telah dihantarkan oleh seorang lelaki idiot yang ternyata bisa memuaskannya. Dina merasakan tubuhnya meledak akibat aliran sensasi erotis yang dilepaskan, si cantik itu lalu terisak-isak saat mengeluarkan seluruh kegembiraannya yang meluap-luap, sampai-sampai inti sari kehidupannya seakan ikut tersedot keluar. Saat semua usai, kedua insan berbeda jenis itu ambruk terkulai tak berdaya. Puas. Dudung memeluk Dina dengan penuh rasa sayang. Dina memejamkan matanya, ia benar-benar lelah, seluruh badannya terasa linu, tapi ia tidak akan memungkiri, rasa nikmat yang diberikan Dudung benar-benar berbeda. Dia jauh lebih perkasa dari pria manapun yang pernah menidurinya. “Dina… masih… sakit?” tanya Dudung setelah terdiam lama. Matanya yang polos menatap Dina takut, ia tidak mau wanita cantik yang berada di hadapannya ini kesakitan. Ia sangat menyayanginya, ia merasa bersalah tadi sempat menyakiti Dina. Dina tersenyum lembut sambil membelai rambut Dudung, “sedikit.” “Dina sudah hamil?” “Hah?” terkejut Dina mendengar pertanyaan Dudung. “Hamil? Maksud Mas?” “Se-setahu Dudung… kalau sudah memasukkan ke dalam, terus selesai, terus hamil, terus punya anak.” Dina tidak tahu apakah harus tertawa atau sedih mendengarnya. Dengan lembut Dina mengecup dahi Dudung. “Tidurlah, Mas…” bisiknya pelan. “Kalau hari ini gagal, besok kita coba terus sampai aku hamil…” Dudung menurut, pria dewasa yang masih seperti anak-anak itu meringkuk dalam balutan selimut dan pelukan bidadari. Dua orang yang kelelahan itu akhirnya terlelap.

    ###

    Pak Bambang membalik kalender duduk yang ada di meja kerjanya, hari telah berganti, memasuki bulan baru. Tidak terasa cepatnya waktu berlalu, sudah tiga bulan lebih sejak Dina menikah dengan Dudung. Betapa enaknya punya menantu yang cantik dan seksi seperti Dina, tiap seminggu sekali, Pak Bambang selalu meminta Dina datang dan melayani nafsu syahwatnya. Seakan-akan Dina memiliki dua orang suami. Dengan perlahan, laki-laki tua itu melangkah menuju jendela dan melihat ke luar. Di taman villa yang asri, Dina, kedua anaknya dan Dudung sedang berpiknik. Sejak kemarin Dina memasak roti kesukaan kedua anaknya dan membuatkan steak kesukaan Dudung. Entah bagaimana Dina bisa berbincang-bincang dengan Dudung yang idiot itu, tapi makin hari, Dudung terlihat semakin dewasa. Dia semakin terlihat normal. Ketelatenan dan keikhlasan Dina merawat Dudung lama kelamaan membuat Pak Bambang terharu. Setelah apa yang telah dia perbuat pada Dina, setelah semua masalah yang bertubi-tubi ditimpakan pada wanita cantik itu, dia membalasnya dengan perbuatan yang mulia. Pak Bambang geleng-geleng kepala. Dalam hati kecilnya yang terdalam, dalam hati yang ternyata masih berperasaan, Pak Bambang mulai merasakan penyesalan. Dudung bermain bola dengan kedua putra Dina, mereka tertawa dan bahagia. Dina bertepuk tangan dan tertawa lepas ketika kedua putranya berhasil mengalahkan Dudung. Kalau saja tidak mengenal Dudung, mereka terlihat seperti keluarga biasa saja. Keluarga yang bahagia. Pak Bambang terbatuk. Ia tersenyum melihat kebahagiaan Dudung dan bahagia telah menemukan wanita yang tepat untuknya. Mulai hari ini, Pak Bambang tidak akan memanggil Dina ke kamarnya lagi. Biarkan dia menjadi milik Dudung seorang. Semoga mereka berdua membangun kehidupan yang jauh lebih baik dari hari ini. Pak Bambang kembali ke meja kerjanya.

    ###

    Pak Bambang menyalakan lampu kamarnya dan duduk di depan meja kerja sambil memegang pena dan beberapa carik kertas kosong. Apa yang ia saksikan beberapa minggu belakangan ini telah mengubah semua pandangannya, ia tidak menduga kehadiran Dina akan membawa perubahan besar dalam keluarganya, terutama pada Dudung, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Dudung berubah menjadi laki-laki yang lebih baik, lebih menurut dan pada saat-saat tertentu Pak Bambang yakin, walaupun Dudung bukanlah orang yang pintar, paling tidak ia bukan orang jahat seperti dirinya. Semua itu berkat Dina. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Dina meladeni Dudung dengan penuh kesabaran dan telaten. Ia berharap Dina mulai luluh dan jatuh cinta pada putranya yang lugu itu. Dina bisa membuat Dudung melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan dalam kemampuannya yang terbatas. Semua berkat Dina. Dina yang telah ia perkosa dan permalukan. Dina yang telah ia gagahi di depan suaminya sendiri. Dina yang ia paksa cerai. Dina yang ia paksa menikahi Dudung. Bukannya dendam, Dina malah memberikan semua yang terbaik untuk Dudung dan keluarganya. Pak Bambang terbatuk-batuk. Akhir-akhir ini batuknya lebih terasa sakit di dada. Berat dan menyesakkan. Pak Bambang menulis dengan tenaganya yang lemah sambil terbatuk-batuk. Sebuah surat yang panjang. Kalau ada yang bisa ia lakukan untuk Dina, mungkin inilah yang terbaik. Setelah semua yang ia paksakan pada Dina, mungkin inilah cara terbaik untuk membayarnya. Pak Bambang meraih pesawat telepon di mejanya dan memencet beberapa tombol. Terdengar nada tunggu, lalu suara di ujung mengucapkan kalimat sapa. Pak Bambang terbatuk-batuk sebelum berbicara. “Bud, ini aku, Bambang. Iya. Aku sudah menyelesaikan suratnya. Kelak bisa kamu ambil di tempat yang sudah kita janjikan di kamarku. Kalau bisa ajak juga Randy atau anak-anakku yang lain saat mengambilnya. Oke? Ya, begitu saja. Terima kasih.” Pak Bambang meletakkan gagang telpon di tempatnya dan kembali terbatuk-batuk. Pria tua itu tercenung ketika membaca kembali surat yang baru saja ia tulis. Ia tersenyum dan sekali lagi terbatuk-batuk. Kali ini batuknya mengeluarkan darah.

    ###

    Pak Hasan sedang asyik membaca menonton acara televisi ketika telepon berdering. Jengkel juga dia diganggu malam-malam begini. Dengan langkah gontai orang tua itu berjalan menuju meja telepon dan mengangkat gagangnya. Pak Hasan mengangkat telepon dengan malas, “Halo? Siapa ini?” “Ini Dina, Pak. Lidyanya ada?” “Ooh, Mbak Dina. sebentar, saya panggilkan Lidya ya.” Dina menunggu sesaat di ujung telepon yang satu lagi. Dalam hati, Dina iri pada Lidya. Rupanya Pak Hasan benar-benar betah tinggal di rumah adiknya itu, menemani sang menantu yang kesepian ditinggal suaminya saat sibuk bekerja. Baik benar mertua Lidya itu, tidak seperti mertuanya yang kalau malam malah menyuruh menantunya melayani keinginan bejatnya. Seandainya saja Dina tahu. Terdengar suara langkah kaki yang lari dan suara Lidya di ujung telepon, nafasnya kembang kempis. “Ha-halo?” “Halo. Lidya? Ini Mbak Dina.” “Eh? Mbak Dina!!! ini bener Mbak Dina??” Suara Lidya yang terkejut dan gembira terdengar sangat jelas di telepon. “Aduh, Mbak! Mbak Dina kemana aja? Aku sama Mbak Alya khawatir sekali! HP Mbak Dina dimatiin, HP Mas Anton juga. Telpon rumah nggak diangkat, rumah kosong… Mas Andi malah sudah menghubungi bagian orang hilang di kepolisian. Mbak Dina baik-baik saja kan? Mbak Dina kemana aja? Anak-anak bagaimana?” “Semua sehat-sehat saja. Tapi…” suara Dina terputus. Lidya mengerutkan kening. “Tapi apa, Mbak?” “Ceritanya panjang. Terlalu panjang bahkan.” desah Dina. “Aku ingin bertemu dengan kalian, kamu dan Alya. Aku kangen sekali.” “Sama, Mbak! Kami juga…” Lidya menghela nafas sejenak. “Aku kangen sekali, Mbak.” “Jangan khawatir. Aku akan segera pulang. Semua akan baik-baik saja mulai sekarang.” Kata Dina penuh keyakinan. “Semua akan baik-baik saja.” “Syukurlah kalau begitu, Mbak.” Kedua wanita jelita itu menarik nafas lega, hampir bersamaan. Angin sejuk berhembus membuai wajah Dina. Untuk pertama kali sejak berbulan-bulan, harapan yang tak pernah berhenti ia gantungkan, akhirnya datang juga kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Seperti kalimat yang ia ucapkan untuk menenangkan Lidya tadi, semuanya akan baik-baik saja. Dina yakin sekali.

    ###

    Siapa yang bisa menduga nasib manusia? Kadang berada di atas kadang jatuh ke bawah, terdengar klise memang karena kata-kata tersebut selalu diulang dalam setiap pergulatan hidup manusia, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Hidup manusia seperti roda yang berputar. Kala seorang berada di bawah, dia selalu memimpikan puncak kejayaan yang berada di atas. Sebuah impian yang kadang bisa menjadi pemicu semangat untuk bergerak maju dan menggapai prestasi. Sayang kala dia sudah berada di atas, setelah meraih semua yang ia impikan, seorang manusia sering lupa pada semua hal yang mendukungnya, hal-hal kecil yang telah membantunya, semua harapan yang dipikulkan ke pundaknya. Ia lupakan semua yang telah membantu menapaki tangga kejayaan. Bambang Haryanto dulunya adalah seorang pekerja keras, ia sempat bekerja sebagai tukang koran dan tinggal dari kontrakan murah ke kontrakan murah lainnya. Ia hidup sederhana dengan istrinya, seorang wanita sederhana yang berjualan gado-gado untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka dikaruniai beberapa orang anak, sayangnya anak yang paling bungsu dan paling mereka sayangi menderita keterbelakangan mental. Hal yang membuat hidup keluarga Pak Bambang semakin susah dan menderita. Tapi saat itu, Pak Bambang tak pernah berhenti berusaha dan mengeluh, sedikit demi sedikit mereka menabung, uang yang tidak seberapa ia gunakan untuk membeli barang dagangan di pasar dan dijual ke perumahan. Lama kelamaan, karena jujur dan suka bekerja keras, banyak warga perumahan yang bersimpati dan membantu keluarga Pak Bambang. Warung gado-gado istrinya menjadi lebih besar dan laris. Pekerjaan demi pekerjaan serabutan diberikan pada Pak Bambang sampai akhirnya ia dipercaya menjadi karyawan sebuah perusahaan distributor yang sedang berkembang yang kebetulan dikelola oleh salah seorang warga perumahan. Berkat usaha kerasnya perusahaan tersebut sukses besar dan posisinya pun makin lama makin meningkat seiring prestasi dan jasanya pada perusahaan. Berbekal pengalaman dan modal yang ia miliki, Pak Bambang mendirikan perusahaan sendiri. Berkat kerja keras dan relasi yang melimpah, Pak Bambang menuai sukses besar. Perusahaannya maju pesat bahkan mampu mengalahkan tempat kerjanya yang lama. Ia kini dikenal sebagai Raja Midas kecil, pengusaha yang punya sentuhan emas. Sayang gelimang harta yang makin sering menghampiri tak mampu menyelamatkan nyawa istrinya yang terkena penyakit ganas. Setelah sempat menikmati sejenak kehidupan mewah, istrinya meninggal dunia. Hal ini sangat memukul Pak Bambang, ia begitu menyayangi istrinya yang setia. Rasa kehilangan yang amat sangat dirasakannya membuat Pak Bambang lupa diri, ia berubah menjadi lelaki dingin yang kejam. Sepeninggal sang istri, Pak Bambang lalu menikahi banyak wanita dan terus memangsa gadis muda yang cantik sebagai pemuas nafsu birahinya. Ia kucilkan anaknya yang idiot di sebuah villa terpencil karena malu atas keberadaannya. Ia gusur perumahan yang dulu menjadi tempatnya mencari uang untuk didirikan kompleks industri yang sangat luas. Ia buat perusahaan lamanya gulung tikar. Ia menjadi predator yang buas dalam dunia usaha, kekayaannya tak terhitung. Pak Bambang melupakan masa lalunya. Tapi semua kekayaan yang ia dapat semasa hidup tak mampu membahagiakannya. Ia tak mampu mengatur nasib yang ia jalani. Beberapa hari setelah merayakan ulang tahun ke-73, Pak Bambang meninggal dunia, meninggalkan kerajaan bisnis yang sangat besar ke tangan keluarga. Tubuh kakek tua pendek yang sudah beruban itu terbujur kaku di dalam petinya. Inilah pertama kalinya Dina melihat ayah mertuanya itu tak berdaya. Dudung menjerit-jerit dan menangis melihat jenazah ayahandanya diangkat untuk dikebumikan di samping istri pertamanya. Istri-istri muda Pak Bambang datang untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus meminta hak waris, untunglah Pak Bambang sudah menitipkan surat warisan pada sang pengacara yang juga kawan dekatnya. Dina menepuk-nepuk bahu suaminya yang menangis tersedu-sedu. Dina tahu, kini dia bebas. Tak ada lagi pria tua yang membelenggunya dalam jeratan nafsu birahi. Namun walaupun ia kini bebas, Dina tak akan mengkhianati cinta Dudung, dibandingkan Anton yang telah menjerumuskan keluarga mereka dalam hutang yang tak bisa dilunasi dan menjualnya pada laki-laki lain, Dudung mencintainya dengan segala kepolosannya, dengan segala kejujurannya. Dina tak akan meninggalkan Dudung. Apalagi anak-anak juga sudah mulai menyukai ayah baru mereka ini, walaupun mereka menganggap Dudung sebagai teman, bukan ayah. Hanya satu dendam yang masih menyala dalam hati Dina. Dendam pada laki-laki yang telah menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan hidupnya sebagai istri setia dan ibu yang baik bagi anak-anaknya, menghancurkan kepolosannya sebagai wanita baik-baik yang tak ternoda. Hanya tinggal satu orang lagi yang menjadi incarannya. Pak Pramono.

    ###

    “Setelah melihat keabsahan wasiat pemilik perusahaan sebelum beliau meninggal, kami memutuskan untuk mengadakan rapat ini guna mengumumkan bahwa kami dari pihak notaris dan badan hukum telah menerima dengan sah keputusan terakhir pemilik perusahaan sesuai tertera di surat wasiat. Sebelum meninggal Almarhum Pak Bambang telah memilih orang yang beliau pertimbangkan tepat untuk selanjutnya menggantikan beliau memimpin perusahaan ini.” Terdengar desahan bisik dari peserta rapat. “Pemilik seluruh asset dan juga pimpinan perusahaan yang baru adalah…” Desahan bisik mereda, menunggu pengumuman. “…Ibu Dina Febrianti.” Terdengar suara kaget dan terkejut dari mimbar rapat. Semua orang kaget mendengar keputusan itu. Mereka tahu Almarhum Pak Bambang telah menunjuk siapa pengganti pemilik perusahaan raksasa ini dalam surat wasiat yang ia tulis, tapi mereka tidak menduga orang tersebut adalah Dina. Terlebih karena mereka semua sudah mengenal siapa Dina, istri dari putra idiot Pak Bambang. Memang Dina adalah menantu kesayangan Pak Bambang, tapi mereka benar-benar kaget mengetahui wanita itu mewarisi semua kejayaannya. Mereka bahkan kaget mengetahui nama wanita itu tertulis di surat wasiat Pak Bambang. Bagaimana mungkin seorang wanita asing yang tidak tahu apa-apa tentang manajemen bisa menangani perusahaan sebesar ini? Sebagian besar karyawan mengira perusahaan akan dipegang oleh Randy Haryanto, putra Pak Bambang dari istri kedua yang selama ini banyak membantu sang ayah. Itu sebabnya banyak petinggi yang memberikan ‘upeti’ untuk menjilat Randy. Mereka ingin dipertahankan di lingkaran utama manajemen puncak perusahaan. Bagaimana mungkin skenario itu bisa berubah? Dengan penuh kebanggaan Dina berdiri di hadapan semua orang yang hadir, memberikan senyuman termanisnya. Wanita jelita itu tersenyum bangga. “Mulai sekarang, semua akan berubah.” Katanya tegas. Ia mengeluarkan secarik kertas dari tas yang ia bawa, “Saudara ipar saya, Bapak Randy Haryanto telah dipindahtugaskan ke cabang kita di luar negeri atas permintaan pribadi. Oleh karena itu saya kemudian diberi wewenang menjalankan perusahaan ini, sesuai dengan wasiat yang ditulis oleh mendiang Pak Bambang.” Orang-orang yang selama ini menjilat pada Randy mendesah kesal. Mereka tahu Randy terlibat dalam skandal penggelapan dana pemerintah, itu sebabnya sebelum ia diciduk pihak berwenang, Randy dibuang ke luar negeri. Mereka memang sudah memperhitungkan kemungkinan itu, tapi tidak menyangka akan secepat ini Randy hijrah. Mereka menggeleng-geleng kecewa, hilang sudah uang untuk menyuap, sia-sia saja usaha mereka selama ini. “Sebelum berangkat ke luar negeri, Pak Randy memberikan saya catatan berikut,” kata Dina sambil mengangkat kertas berisi daftar nama,”isinya adalah daftar nama orang-orang yang berusaha menyuap Pak Randy, melakukan tindak korupsi dan merugikan perusahaan tanpa pernah menerima hukuman.” Beberapa orang terhenyak kaget. “Nama-nama yang disebut silahkan kembali ke meja kerja, mengemas berkas-berkas dan barang pribadi, lalu mengambil uang pesangon yang saya sediakan di lobby depan dan pulang saat ini juga. Kalian saya pecat!” Kata Dina tegas. “Terhitung mulai hari ini, kalian dinyatakan tidak bekerja di perusahaan ini lagi. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini, semoga mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik.” Rapat itu berubah menjadi ramai. Orang-orang yang selama ini bekerja dengan jujur dan bersih bertepuk tangan sementara mereka yang pernah melakukan kesalahan menjadi risau dan gelisah. Dina telah menancapkan kukunya. Tidak akan ada satu orangpun kini yang akan mempertanyakan kepemimpinannya. Dan yang lebih penting lagi… Dendam akan ia balaskan.
    ###

    BAGIAN DELAPAN TAMAT
     
    candiwalang likes this.
  16. lexlee

    lexlee Member

    *********************************

    STANDARD DISCLAIMER


    Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non – konsensual (normal ataupun paksaan). Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal – hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita milik penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.


    Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita saya lagi sampai sembuh.


    Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu, kita yang bikin loe yang dapet duit, enak aja. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini. Kita udah capek - capek bikin, tolong hormati dikit ya.


    Copyright (c) 2011 Pujangga Binal & Friends. Special Script & Credits : Jay, LustInc, L’esp, Liboy. (Thank you all for your support & permission!)


    *********************************


    SERIAL: RANJANG YANG TERNODA

    BAGIAN SEBELAS A (PART 11(a) OF 12)



    ANISSA TERANIAYA

    Oleh Pujangga Binal & Friends



    Anissa melamun. Si manis itu tenggelam dalam lembah pikirannya yang curam, kadang menukik kadang mendaki, tak tentu arah. Tatap bulat matanya yang indah kosong tanpa arah. Ia seperti menatap ke depan namun lamunannya melayang jauh. Bibirnya berulang kali mengucapkan gumaman tanpa arti dan tangannya sering bergetar tak berhenti. Gadis manis itu gugup dan gelisah tanpa alasan. Sikapnya ini jelas tak biasa karena dulu Anissa adalah seorang gadis yang ceria, sikapnya kali ini berbeda 180 derajat dengan sikapnya yang dulu.

    “Nis? Anis? Kamu kenapa?”

    Suara panggilan lembut seorang gadis membangunkan Anissa dari lamunan yang memenuhi pikiran. Si cantik itu tak sadar kalau sebenarnya ia telah dipanggil lebih dari empat kali sebelum akhirnya sadar dan menjawab.

    “I…. iya…” gugup Anis menjawab. Ia menyeka pelupuk matanya yang seperti berair.

    “Kamu kenapa, say?” tanya Ussy, gadis yang saat itu duduk berdua dengan Anissa. Aprilia Ussy Indriani adalah seorang sahabat yang sudah paham luar dalam Anis, oleh sebab itu sikap Anissa yang berbeda dari biasanya membuatnya khawatir.

    “A… aku nggak apa – apa.” Secara reflek Anissa membenahi rok dan rambutnya yang sebenarnya masih rapi, Ia mencoba tersenyum pada Ussy. Anis tidak sadar lamunannya baru saja melayang begitu jauh tanpa bisa ia kendalikan sampai – sampai ia tidak mendengar Ussy mengajaknya berbincang. Banyak yang ia pendam, banyak yang ia simpan, namun walaupun Ussy adalah sahabat sejatinya, tentu saja ia tak bisa menceritakan segala sesuatunya begitu saja, terlebih lagi… masalah itu… rahasia itu… pria tua bajingan yang telah merenggut kebahagiaannya itu…

    Ussy mengernyit ragu, “…yakin? Aku di sini, say. Kamu bisa cerita apa saja. Sejak dulu kita selalu berbagi susah dan senang. Kamu percaya kan sama aku?”

    “Beneran, aku nggak apa – apa.” Anissa tersenyum manis, senyuman yang telah merontokkan hati banyak pria di kampus yang hanya bisa menikmati dari jauh. Siapapun tahu Anissa telah menyerahkan hatinya pada Dodit sehingga sebagian besar dari mereka sudah mundur teratur. Mereka yang mundur biasanya mengalihkan sasaran dengan mengejar Ussy, sahabat Anis. Ussy sendiri memang tidak kalah cantik dari Anis, bahkan ia lebih tinggi dan beberapa kali menjadi model iklan walaupun skalanya lokal. Namun hingga saat ini, Ussy lebih memilih untuk sendiri, ia belum ingin berpacaran dengan siapapun. Dibandingkan Anis yang introvert, Ussy lebih terbuka dan banyak bicara, namun demikian ia tidak ingin memilih tambatan hati sampai nanti selesai kuliah.

    Saat itu Anis dan Ussy sedang duduk di kursi taman yang ada di samping kantin kampus X yang asri. Keduanya tengah menikmati milkshake yang baru saja mereka beli. Ussy tentu saja sadar kalau sahabatnya tidak menaruh perhatian pada minuman yang terhidang di hadapan mereka. Sejak pulang dari berlibur ke rumah kakaknya beberapa bulan yang lalu, ada yang berbeda dengan Anis. Ia jadi pendiam dan terlihat selalu gelisah. Apa yang telah terjadi pada sahabatnya ini?

    “Say… aku ini sahabatmu. Kita kenal sejak SMP. Aku tahu kamu luar dalam, dari A sampai Z, dari ujung rambut ke ujung jempol kaki. Aku tahu dimana letak semua tahi lalatmu, aku tahu dimana kamu menyimpan foto idolamu, aku tahu berapa uang yang ada di dompetmu. Singkatnya, aku tahu kalau ada yang salah sama kamu.” Ussy menepuk lutut Anis. “Berjanjilah padaku kalau ada apa – apa kamu bakal cerita sama aku?”

    Anissa tersenyum, “janji.”

    “Halo gadis – gadis cantik… apa kabar kalian hari ini?” satu suara serak tiba – tiba datang menghampiri. Ussy dan Anissa mengerlingkan mata dengan sebal, mereka tahu pasti siapa pria pemilik suara yang lantang dan tidak enak didengar itu.

    “Aku kira Non Anis yang cantik jelita bagai bidadari khayangan turun ke bumi sudah tidak lagi menginjakkan kakinya yang jenjang panjang indah dan menawan ke kampus? Sungguh bagaikan sebuah kejutan yang menyejukkan hati di hari yang gersang.” Pria yang baru datang itu langsung duduk di samping Anis sambil mengucapkan kata – kata yang ia pikir sangat romantis dan puitis padahal amat gombal. Ussy dan Anis malah berpegangan tangan erat dan berusaha sekuat tenaga menahan tawa. “Bagaimana kabar kalian, wahai kaum wanita jelita idaman semua pria? Aku begitu rindu pada kehadiran kalian berdua di kampus, kehadiran kalian ibarat tetesan air hujan yang bening yang turun menyegarkan hari.”

    Tubuh Ussy gemetaran menahan tawa dan matanya berkaca – kaca. Melihat temannya sudah tak mampu lagi menahan cekikikan, Anissa dengan sangat terpaksa meladeni kicauan tak enak agar pemuda bersuara parau tidak marah karena mereka tertawakan. “Kabar kami baik. Kabarmu bagaimana, Din?”

    Udin meringis lebar mendengar Anissa membalas sapaannya. Ia tak mempedulikan wajah Ussy yang sudah merah menahan tawa.

    “Kamu semester ini selesai kan, Nis?” tanya Udin lagi.

    “Iya, seharusnya sudah selesai. Tinggal menyusun skripsi dan ambil satu mata kuliah buat perbaikan nilai.” Jawab Anis sambil menganggukkan kepala, ketika ia melirik ke sebelah rupanya Ussy lebih memilih tenggelam menyusuri dunia maya melalui telepon genggam daripada melayani obrolan Udin. Dasar curang, batin Anissa sambil tertawa dalam hati ketika melihat kedipan mata Ussy.

    “Tidak kusangka nona sepintar Anissa ini juga harus mengulang kuliah?” Udin mulai gombal lagi, “mata kuliah apa yang kau ulang, wahai Anissa yang mempesona?”

    “Aku ambil ulang kuliah manajemennya Pak Doni, dulu di semester – semester awal aku banyak bolosnya.”

    “Pak Doni yang mana? Di kampus ini kan ada dua Pak Doninya. Pak Doni yang orangnya kurus rambutnya beruban atau Pak Doni yang gemuk item?”

    “Pak Doni yang gemuk dong, memang Pak Doni yang kurus mengajar mata kuliah X? Nggak kan?” senyum Anis. Wajahnya yang manis membuat Udin makin berdebar, seandainya saja si molek ini belum memiliki tunangan, hanya seandainya saja, betapa bahagianya dia…

    Sesosok tubuh gemuk milik Pak Doni yang baru saja mereka bicarakan terlihat meninggalkan mobil dari tempat parkir dan melangkah menuju kelas. Anis yang melihat kedatangan Pak Doni segera mengemas bawaannya. “Eh, aku duluan ya, itu Pak Doni udah datang.” Ucap Anis yang langsung disambut guratan wajah kecewa Udin.

    “Ok, say.” Angguk Ussy, “Ingat yang tadi ya, kalau ada apa – apa cerita sama aku.”

    Anis terdiam, seperti hendak menjawabnya dengan sebuah kalimat yang panjang, tapi dia kemudian hanya menunduk dan mengangguk tanpa mengeluarkan kata – kata tambahan. Sedetik kemudian ia berlalu pergi menuju kelas. Ussy hanya bisa memandang sahabatnya yang melangkah meninggalkan mereka tanpa berucap, ia bersumpah bisa melihat setitik air mata di ujung pelupuk mata Anissa. Ayolah Anis, apa yang telah terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?

    “Cerita apa memangnya?” Udin bertanya sambil menggaruk – garuk kepala. “aku juga mau dong diceritain.”

    Ussy menggerutu, uh. Kok jadi dia berduaan sama Udin begini? “Kapan – kapan ya, din. Eh, aku cabut dulu ya. Mau ketemuan sama dosen juga.”

    “Dosen siapa?”

    “Siapa aja yang mau ditemuin.” Cibir Ussy.

    Udin kembali menggaruk kepala.

    ###

    Lidah Anissa terasa kelu saat Pak Doni duduk di meja kerja dan memeriksa pekerjaan yang dikumpulkannya. Sebagai dosen yang dianggap sudah senior, Pak Doni memiliki ruangannya sendiri di kampus, dia sering duduk berjam – jam di tempat ini dan memberikan bimbingan pada para mahasiswanya mengenai skripsi atau keperluan lain. Ruangan Pak Doni terletak di lantai empat gedung perkuliahan kampus X, sore ini hanya dialah satu – satunya dosen yang masih memberikan bimbingan untuk mahasiswanya dan dari antrian bimbingan, Anissa adalah yang terakhir.

    Ketika langit mulai gelap, barulah Anis bisa masuk.

    “Silahkan duduk.”

    “Terima kasih, Pak.”

    Dengan sopan Anissa duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja kerja Pak Doni. Keringatnya menetes deras, tubuhnya bergetar dan ia tidak nyaman duduk di kursi. Pikirannya melayang sementara pandangan matanya mulai kabur. Anissa berusaha keras untuk bisa fokus.

    “Saya sebenarnya heran kenapa kamu mau mengulang di kelas saya. Nilai kamu lebih dari cukup untuk mendapatkan IPK yang di atas rata – rata. Bahkan cukup tinggi dibandingkan kawan – kawanmu. Tanpa nilai dari sayapun, kamu sudah bisa lulus dengan memuaskan seandainya ujian skripsimu sukses.” Pak Doni tersenyum puas melihat hasil kerja Anissa, “ini bisa dibuktikan dari revisi laporan kerja praktek yang baru saja kamu kumpulkan, walaupun bukan hasil yang terbaik, ini sudah lebih dari cukup.”

    “Mungkin saya termasuk tipe perfeksionis, Pak. Saya ingin yang terbaik.”

    “Begitu ya….”

    “Karena Pak Doni juga dosen pembimbing PKL saya, maka saya pikir lebih baik saya mengulang mata kuliah terakhir ini di kelas Pak Doni. Lagipula, kalau saya mengulang di kelas Pak Untung, saya takut tidak bisa mendapatkan nilai yang saya inginkan. Pak Untung membenci saya, Pak.” Keluh Anissa sembari menundukkan kepala.

    Anissa memang tidak bohong, dulu gadis itu pernah secara tidak sengaja bertemu dosennya yang bernama Untung itu sedang bermesraan dengan seorang wanita muda yang bukan istrinya di salah satu pusat perbelanjaan. Sejak saat itu Pak Untung membencinya, kebencian Pak Untung terhadap Anissa juga sudah diketahui dosen sejawat termasuk Pak Doni sehingga sudah jadi rahasia umum. Anissa melanjutkan keluhannya, “beliau pernah bilang kalau saya ini mahasiswi yang sok tahu dan senang berdandan menor. Beliau juga bilang… kalau saya norak dan…”

    “Aku tidak bisa mengerti kenapa dia mengatakan itu, dandanan kamu natural. Kamu sangat cantik dan mempesona, seksi dan…” kata yang keluar dari mulut dosen setengah baya itu bagaikan terbang menyesaki isi ruangan, membuat kedua insan yang berada di dalamnya terhenyak kaget saat menyadari apa yang baru saja terucap.

    Mata Pak Doni terbelalak lebar menyadari kesalahucapannya, dia berusaha memperbaikinya dengan gugup, “ma… maksud saya, kamu menarik dan pintar dan…”

    “Menurut saya bapak juga… gagah dan tampan.”

    Kata manis yang keluar dari mulut Anis itu bagaikan petir yang segera menyambar sang dosen, wajah Anissa pun menjadi merah ketika ia sadar kata – katanya membuat Pak Doni salah tingkah, kalau dibilang gagah tubuh besar Pak Doni memang masih cukup gagah, namun kalau tampan? Sepertinya itu jauh dari khayalan. Polah tingkah Pak Doni mendadak menjadi aneh, dia bangkit dari kursinya, melangkah dengan ragu menuju ke arah pintu, wajahnya menunduk seperti memikirkan sesuatu dengan sangat serius.

    Dosen setengah baya itu membuka mulut tanpa mengeluarkan suara, melihat ke bawah, menyunggingkan senyum malu dan memastikan pintu benar – benar sudah tertutup, gerakannya seperti ragu – ragu dan penuh dilema. Ia bersandar di pintu dan memasukkan tangannya ke kantong celana. Ia menatap Anissa lekat – lekat.

    “Anissa, apa kamu tidak sadar? Kata – katamu yang manis tadi membuat dosen tua seperti aku ini merasa muda kembali. Jangan buat aku canggung.” Senyum mengembang di bibir Pak Doni. “Jangan kau ulangi lagi, ya…”

    Anissa menggeleng, keringatnya terus mengalir, ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan ini, mencoba bertahan dari gejolak yang terus menggerogoti dan merangsek menghancurkan ketabahannya… tapi… perasaan ini muncul tanpa bisa ia kendalikan, begitu berdentum, mengeras dan makin mendaki, Anis tak tahan lagi… dia ingin memeluk Pak Doni, menciumnya, membiarkan tangan dosen tua itu menyentuh paha dan dadanya, membiarkan pria setengah baya itu memeluk dan menyetubuhinya… membuatnya merasa… astaga!! Apa yang dia pikirkan?!! Anissa! Apa kamu sudah gila?!!

    Gejolak batin Anissa berperang dalam diri gadis muda itu.

    Dia dosennya, dia dosennya, dia dosennya… berulang – ulang kali kata – kata itu berusaha ditusukkan ke dalam sanubari Anissa. Tapi… perasaan dalam hatinya ini tidak bisa ia tipu… ia menginginkannya, Anis menginginkan Pak Doni. Ia ingin bercinta dengan Pak Doni…! Saat ini juga!

    Si cantik itu terkejut sendiri dengan perasaannya yang tiba – tiba saja menjadi liar. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan, namun sepertinya ia tidak tahan lagi… perasaan ini membuatnya ingin mati saja… Anissa mengutuk orang yang telah dengan kejam membuat ia jadi haus seks seperti ini…

    Tiba – tiba Anissa menyadari sesuatu.

    Celaka! Hanya berdekatan begini saja sudah membuat selangkangan si cantik itu mulai basah! Gadis itupun menggigit bibir bawahnya. Bagaimana menghentikan perasaan ini? Bagaimana meredamnya? Bagaimana membuat dirinya sendiri sadar? Ia benci sekali perasaan yang muncul ini! Benci!

    “Anissa…?” panggil Pak Doni heran, suaranya terdengar parau karena ia berulangkali meneguk ludah berusaha menghadang pesona Anissa yang luar biasa menggoda. Batin Pak Doni berperang… ini gawat sekali, kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya sekejap saja? Mengapa ia tak bisa melepaskan mata dari pesona Anissa? “…ke… kenapa kamu? A..Apa kamu sakit? Ada yang bisa aku… bantu…?”

    “Ma… maaf, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung Bapak… maksud sa… saya…”

    “Apa yang kamu katakan tadi sama sekali tidak menyinggung aku sedikitpun.” Kata Pak Doni lembut, ia berusaha bijak… namun mata dosen tua itu langsung terbelalak kaget ketika melihat tangan Anis mulai menyingkap rok yang ia kenakan sedikit demi sedikit untuk memperlihatkan paha putih mulus bagai pualam. Pak Doni sampai mundur karena takut dan kaget.

    “Anissa…? Apa yang kamu lakukan?” Pak Doni menjadi sangat kebingungan oleh ulah mahasiswinya yang sangat seksi ini. Apa yang harus dia lakukan? Kenapa Anissa malah mulai menggodanya? “Apa yang ingin kamu…” suaranya tercekat karena ia tak mampu menahan panasnya nafsu birahi menggelegak memakan jiwanya.

    “Tidak ada…” Dengan sengaja Anis mengangkat roknya hingga terlihat semakin pendek. Gerakannya begitu jelas terlihat sehingga Pak Doni bisa menduga hal itu disengaja, celana dalam hitam yang kontras dengan kulit putih mulus sang dara menjadi terlihat jelas oleh Pak Doni. Mata dosen setengah baya itu kian terbelalak dengan lebar. Suara mendesah Anissa kian parau, “…Bapak tidak suka?”

    Pak Doni berhenti sejenak, kepalanya berputar keras memikirkan sesuatu. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus diperbuat? Kenapa ini terjadi? Dosen setengah baya itu mulai berpikir mempertimbangkan logika. Ia mencoba menekan nafsunya sekuat tenaga.

    Tapi… tapi sebenarnya ada yang aneh… ini baru pertamakalinya dia menyaksikan Anissa bertingkah laku aneh seperti ini, apakah mungkin…

    “Kamu sengaja mengambil ulang mata kuliah yang aku ajarkan… untuk menarik perhatianku… agar bisa merayuku?” tanya Pak Doni yang terheran – heran, ia memandang ke arah Anis dengan pandangan tajam yang tak bisa dielakkan oleh gadis itu. Tidak mungkin wanita secantik Anissa yang bisa dengan mudah mendapatkan pria manapun yang ia mau mencoba merayu dosen tua seperti dirinya, pasti ada udang di balik batu. Anis menggeleng kepala, mencoba fokus pada apa yang ia kerjakan, mencoba menghindar sebisa mungkin dari nasib buruk yang akan segera menimpa mereka berdua, tapi itu sangat tidak mungkin. Ada pertentangan di batin Anissa, antara apa yang dia inginkan berbeda dengan apa dibutuhkan tubuhnya. Anis tahu ia tidak bisa menghindar. Seorang dosen dan mahasiswi… berdua saja… ini akan jadi skandal di kampus, reputasi keduanya jadi taruhan… tapi… ia benar – benar tidak tahan lagi… ia ingin segera… melakukannya…

    Anis menghunjukkan dadanya ke depan, berharap sang dosen juga melihat keindahan payudaranya. “Apa yang saya lakukan salah, Pak?” tanya Anis dengan suara yang dibuat – buat. Dia bukan perayu ulung, tapi… ada sesuatu yang mempengaruhi alam bawah sadarnya yang membuat Anis ingin mengucapkan kata – kata itu dengan mesra. Ketika melihat ke selangkangan Pak Doni, Anis bisa melihat gundukan kubah yang membesar di bawah sana. Anissa menelan ludahnya. Pak Doni yang menyadari pandangan Anissa tertumbuk pada bagian bawah celananya yang membesar menjadi tersadar dan malu, secara reflek dosen tua itu menutupinya. Wajah Anissa menjadi memerah turut malu.

    “Anissa, mengapa kau harus begitu mempesona?” suara itu tipis bagaikan kabut, lembut hampir tak terdengar. Kewibawaannya menghilang berganti dengan parau penuh nafsu. Dosen hebat itu, yang berwibawa dan dihormati, ternyata juga manusia biasa. Anissa menatap wajah sang dosen yang penuh kerut dan sedikit menyeruak penyesalan tak berdasar dalam batinnya, kenapa… kenapa harus Pak Doni?

    Pak Doni mengunci pintu dan Anis pun bangkit, degup dadanya makin menghebat. Ia makin tegang menanti apa yang akan datang.

    Anissa bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, apakah Pak Doni akan melakukannya? Apakah dia… akan… menyetubuhinya di sini? Di ruang dosen ini? Ruangannya cukup tertutup dan saat ini mereka hanya sendirian di lantai 4 gedung ini sehingga mungkin saja Pak Doni akan… atau… atau jangan – jangan Pak Doni justru akan mengusirnya? Tidak mungkin, pintunya baru saja dikunci. Atau akan mempermalukannya karena telah merayu dosen sendiri? Masa sih? Pikiran si cantik itu mengalir deras tanpa bisa dibendung, dadanya berdentum karena detakan jantung yang menghebat. Anissa sadar sepenuhnya melihat gundukan di selangkangan Pak Doni makin membesar.

    Tiba – tiba saja Pak Doni melangkah mendekati Anis, jemari tua itu bergetar saat menyentuhnya. Dengan gemetar Pak Doni menarik pundak Anis untuk mendekat hingga bibir mereka hanya beberapa centimeter saja jaraknya. Pak Doni menyentuhkan telunjuknya untuk menelusuri bibir merah Anissa dan sensasinya membuat si cantik itu merinding. Tiba – tiba saja Pak Doni mencengkeram pelan wajah Anis yang mungil dan mendorong bibirnya untuk bisa mencium lembut si cantik itu. Anissa mendesah pelan merasakan ciuman Pak Doni, ia menempelkan tubuhnya pada sang dosen, menarik dasi yang ia kenakan dan memintanya mencium lebih hangat lagi.

    Anis memang sudah tidak peduli lagi apa yang akan ia lakukan. Ia bisa merasakan benda mengeras di selangkangan Pak Doni bertumbukan dengan pahanya. Mata keduanya terbuka dan Anissa mundur perlahan, tiba – tiba saja menyadari sesuatu dan merasa malu, tapi kini justru Pak Doni yang sudah bangkit nafsunya tidak bisa berhenti begitu saja, ia menginginkan Anissa!

    Pak Doni yang sudah hilang akal kembali mencium bibir Anissa lagi, kali ini tidak lagi dengan kelembutan, ciumannya keras, menuntut, menginginkan. Lidah pria setengah baya itu maju menusuk bibir Anis, mencari pasangannya. Si cantik pun melenguh mesra ketika lidahnya juga ingin segera bertemu, saling merasakan manisnya bercinta. Tangan mungil Anissa tanpa sadar bergerak naik untuk melepas kancing baju pakaian yang dikenakan oleh sang dosen. Satu persatu kancing lepas dengan mudah, Anissa tak perlu waktu lama untuk meloloskan pakaian luar dan pakaian dalam yang dikenakan oleh Pak Doni. Kulit yang mulai berkerut tidak menjijikkan bagi Anis, ia merasakan gerakan otot yang bergerak di bawah kulit itu. Saat masih muda Pak Doni pasti gemar berolahraga karena dadanya masih menyisakan sedikit keperkasaan masa lalu. Jemari lembut yang menari di atas dada membuat Pak Doni gelagapan, ia memejamkan mata karena keenakan.

    Anissa mencium bibir Pak Doni sekali lagi dan mata pria setengah baya itu mengejap terbuka ketika tangannya diangkat oleh Anis dan diletakkan didadanya yang montok. Anis memejamkan mata sekejap ketika merasakan pentil susunya mengeras di bawah behanya. Si cantik itu mendesah ketika Pak Doni mulai melucuti pakaiannya, sama seperti yang ia lakukan pada sang dosen. Pria setengah baya itu berdecak kagum, ia tengah menyaksikan tubuh terindah yang pernah ia saksikan seumur hidup. Setiap centimeter lekuk tubuh Anissa begitu sempurna. Pak Doni benar – benar terperangah menyaksikan keseksian mahasiswinya ini. Kalau boleh jujur dia pernah membayangkan seperti apa tubuh Anissa, tapi ini tidak seperti bayangannya. Ini jauh lebih menggiurkan!

    Ketika kesabarannya mulai menipis, Pak Doni menyingkirkan baju Anis yang sudah ia copot untuk melepas kaitan beha di punggung si cantik. Sembari mencopot, Pak Doni menghembuskan nafasnya di belahan dadanya. Ini membuat Anis merinding, terlebih lagi ketika dosen itu juga mencium dan menjilati gunung kembarnya ketika behanya sudah terlepas. Tak tahan melihat buah dada yang begitu montok, Pak Doni mendekap erat Anis hingga dada mereka saling menempel, kulit yang bergesekan bagaikan baja yang diasah, menimbulkan percikan nafsu yang makin bergemuruh. Begitu indahnya perasaan itu sehingga tidak bisa dituliskan dengan kata – kata.

    Pak Doni makin tak sabar, ia mengangkat tubuh Anis, mendudukkannya di tepi meja, lalu secara beruntun mengangkat rok yang dikenakan si cantik itu hingga sampai ke pinggang, paha mulus bidadari itu menggugah semangat Pak Doni, apalagi ketika pria setengah baya itu juga melihat celana dalam hitam mungil yang dikenakan. Wajah Anissa memerah karena malu, selain Pak Bejo yang dulu pernah memperkosanya, Pak Doni adalah pria kedua yang bisa mendapatkan akses ke selangkangannya. Padahal tunangannya sendiri, Dodit, malah belum pernah sekalipun menyentuhnya. Ketelanjangannya mulai menyergap relung batin Anis, aneh sekali rasanya ia tampil tanpa busana di hadapan seorang dosen yang biasa mengajarnya. Malu dan aneh.

    Seperti menyadari wajah Anis yang terus saja semburat memerah, Pak Doni mendoyongkan badan ke depan dan berbisik tepat di samping telinga si cantik itu. “Aku menginginkanmu, cantik. Ijinkan aku memiliki tubuhmu…”

    Tanpa perlawanan sedikitpun, Anis menutup mata dan mengangguk. Ia membayangkannya seperti sebuah mimpi, seperti bayangan dalam angan yang berselimutkan hawa nafsu. Dengan senyum nakal si cantik itupun menurunkan celana dalamnya. Melihat ini, Pak Doni buru – buru melepas celana dan boxernya, dia membiarkannya jatuh ke pangkal kaki, Pak Donipun kini telah telanjang menyusul Anis. Pria setengah baya itu mendekati Anis dengan batang kemaluan yang mengeras tegak seperti pancang yang berdenyut dan tebal.

    Ketika membuka mata Anissa terbelalak melihat benda itu telah menegak di hadapannya. Ukurannya yang jauh lebih besar dari milik Pak Bejo juga membuatnya kaget. Anissa menggigil, dia takut… takut sekali… tapi… di tengah rasa takutnya ada… ada perasaan ingin… ingin merasakan benda itu masuk dan menghunjam di dalam liang kewanitaannya. Perasaan menggebu yang membuat jantungnya serasa ingin terlepas.

    Pak Doni menatap mahasiswinya yang molek bagai bidadari itu lekat – lekat. Mereka pernah saling bertatapan saat berada di dalam kelas, tapi tidak seperti ini. Anissa membuka lebar kakinya yang jenjang supaya Pak Doni bisa menyeruak masuk. Tanpa aba – aba, pria setengah baya itu menggiring pancang kemaluannya tepat di mulut liang kewanitaan Anis. Ia mulai menggerakkan batang itu naik turun di bibir kemaluan si cantik, merasakan cairan pelumas yang keluar dari mulut kemaluan dan membuat mahasiswinya itu menyentak – nyentak penuh nikmat. Anissa makin terangsang, itu tidak bisa dipungkiri, terlebih ketika pancang kemaluan Pak Doni menggesek perlahan klitorisnya yang menegang. Anissa mendesah panjang. Merasa tepat sasaran, Pak Doni mengulanginya lagi dan lagi dan lagi dan lagi… tiap kali ujung gundul pancang kemaluan Pak Doni menggesek klitoris Anis, gadis cantik itu melenguh keenakan. Ia benar – benar tak berdaya.

    Namun saat Anis sudah menanti benda keras itu masuk ke dalam liang kewanitaannya, Pak Doni malah menarik tubuhnya, membuat si cantik itu terheran – heran. Mereka bertatapan lagi, kali ini wajah Anis yang sudah penuh nafsu tidak bisa disembunyikan lagi, dia ingin Pak Doni segera melakukannya! Cepat Pak… cepat… setubuhi aku! Batin Anis yang sudah mulai tak sabar.

    Pak Doni rupanya memang ingin bermain sebentar, ia justru menyodokan jemarinya masuk ke dalam liang vagina Anis secara tiba – tiba. Karena tak siap, Anissa pun menjerit tertahan!

    Jemari Pak Doni bergerak cepat menyodok – nyodok di dalam liang kewanitaan Anis, membuat cairan cintanya kian membanjir di atas meja. Dengan wajah yang penuh nafsu Pak Doni menarik jemarinya, mengangkatnya dan menjilati cairan cinta yang ada di telunjuknya dengan penuh kenikmatan.

    Melihat apa yang dilakukan Pak Doni membuat wajah Anis kembali memerah, ia sama sekali tidak menyangka dosennya yang tenang dan berwibawa itu ternyata begitu liar saat bermain cinta. Ini membuat Anissa merasa sangat malu.

    Sekali lagi Pak Doni mendorong tubuhnya ke depan untuk berbisik langsung di telinga Anissa, begitu dekatnya bibir itu sehingga saat terbuka, ia bersentuhan dengan telinga si cantik. “cairan cintamu manis sekali rasanya…”

    Sekali lagi Pak Doni mengambil posisi seperti semula, tiang penisnya berada di depan mulut vagina Anissa yang telah menanti. Anis melirik ke mata sang dosen dan Pak Doni memberikan senyuman selintas. Anis mendengus dan menjilat bibir dengan gerakan manja. Gila! Apa yang ia lakukan? Batin Anis tanpa sadar, apa yang telah ia lakukan? Sekali lagi si cantik itu mendesah penuh penantian, betapa ia menginginkan batang kemaluan Pak Doni segera masuk ke dalam liang cintanya dan mengakhiri penderitaan yang nikmat ini.

    Pak Doni ternyata juga sudah tidak tahan, dengan gerakan pelan tapi pasti dia menyodokkan penisnya masuk ke dalam vagina Anis. Bidadari jelita itu melenguh dalam lautan kenikmatan, penis itu begitu besar dan penuh dalam liang kewanitaannya yang mulai membanjir. Tekanan yang datang dari pinggul Pak Doni mengeraskan batang kemaluan sang dosen dan itu membuat Anissa makin tak tertahankan. Hawa nafsu binatang memenuhi relung batin sang bidadari, dia hanya ingin disetubuhi, terus menerus, keras dan lebih keras lagi, ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan ini bisa datang. Namun ketika dahaga nafsu itu datang, Anis harus menenggak kenikmatan kalau tak ingin kehausan!

    Si cantik melakukan hal yang tak disangka – sangka lagi, ia menarik pantat Pak Doni dan menghantamkan kemaluannya ke dalam berulang – ulang dengan sangat keras seakan ingin meremukkan selangkangannya sendiri. Mata Pak Doni terbelalak dan pria setengah baya itu melenguh sangat keras karena kenikmatan yang tak terperi. Begitu juga dengan Anissa, rasa nikmat tak terbayangkan itu membuatnya menjerit tak tertahan, ia harus menutup mulutnya sendiri supaya teriakan itu tak terdengar dari manapun.

    Dosen setengah baya itu hanya diam saja untuk sesaat, membiarkan Anis terbiasa dengan ukuran penisnya yang terus menerus membuat bidadari mungil itu melenguh antara sakit dan nikmat, ketika Anis sudah mulai enak, Pak Doni kembali mendorong kemaluannya dengan kecepatan yang makin mendaki, Anis menarik kepala Pak Doni dan membisikkan kata – kata yang ia sendiri kaget bisa ia ucapkan pada lelaki yang bukan Dodit.

    “Aku mohon… aku mohon… le… lebih cepat… lebih cepat lagi…”

    Pak Doni yang sempat terkejut mendengar bisikan itu berhenti bergerak dan menatap ke arah Anis, ia menggigit bibir bawahnya ketika menyaksikan kemolekan wanita yang kini sedang ia tiduri. Matanya tak berhenti mengamati, rambut panjang yang halus dan indah, wajah cantik dengan mata bulat yang menyipit karena keenakan, alis tajam bagai burung elang, hidung indah bagai ukiran, bibir mungil yang nikmat dikulum, kulit putih mulus sehalus pualam, buah dada montok yang kenyal, memek yang sempit dan menekan, paha halus mulus, kaki panjang jenjang. Semuanya luar biasa. Pak Doni tengah berada di surga. Pria setengah baya itu bisa merasakan kemaluannya berdenyut di dalam vagina si cantik, seakan menanti. Pak Doni menarik penisnya keluar sedikit… sedikit saja… lalu…

    Jleb! Jleb! Jleb! Tiba – tiba, dengan gerakan yang tak bisa diduga pria setengah baya itu mulai bergerak dengan sangat cepat! Meja tempat mereka bercinta ikut bergoyang dengan kerasnya, menimbulkan bunyi yang tak bisa ditahan. Anissa berkeringat deras, nafas mereka beradu. Dengusan Pak Doni makin keras terdengar, menghembus dengan sangat terasa di buah dada Anis yang telah bermandikan keringat. Anis yang kehabisan nafas mendorong dosennya supaya menjauh dan membagi udara untuk sesaat. Pak Doni melihat ke bawah keheranan ketika Anis tiba – tiba saja memegang lengannya untuk memutar.

    Anis menarik lengan Pak Doni, memutar tubuh mereka, lalu menghempaskan keduanya ke atas meja, tangan pria setengah baya itu bergerak cepat untuk menyingkirkan apa saja yang ada di atas meja yang tadi belum sempat dibersihkan. Anis mengangkat kemaluannya di atas Pak Doni untuk beberapa saat lamanya, menggoda pria tua yang kembali menjadi tidak sabar itu. Si cantik itu menurunkan tubuhnya dan mulai mengendarai penis yang tegak seperti tugu. Mereka berdua kembali bergerak maju mundur, sama – sama memejamkan mata dan menikmati kerja selangkangan mereka yang memberikan kenikmatan hingga ke ujung ubun – ubun. Lenguhan terdengar dari bibir keduanya, lenguhan itu tak lama karena Pak Doni dan Anis seakan tak bisa memisahkan mulut mereka, sebentar saja berpisah, keduanya langsung berpagutan, saling mencium dan menjilat. Anissa merem melek, merasakan gerakan benda panjang dan keras di dalam tubuhnya membuat si cantik itu tak tahan lagi, apalagi ketika tangan Pak Doni mulai meraih pinggang Anis dan ia menarik pantat Anis ke bawah supaya penisnya bisa masuk makin dalam.

    Anissa melenguh dan terengah, keringat sebesar jagung menetes menuruni kening, turun hingga ke buah dadanya yang melonjak – lonjak. Anissa melemparkan kepalanya ke belakang ketika Pak Doni menyentuh klitorisnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain meremas – remas buah dadanya. Berulangkali si cantik itu mengeluarkan lenguhan keenakan yang membuat Pak Doni makin mempercepat kocokannya pada klitoris Anissa. Tak perlu waktu lama untuk membuat vagina Anis banjir cairan cinta. Terus menerus didera kenikmatan, Anis memejamkan mata karena ia merasakan dirinya mulai mendaki ke arah puncak, si cantik itu memeluk Pak Doni erat dan merasakan dinding vaginanya meremas penis yang masih terus bergerak maju mundur.

    Rasa nikmat itu juga dirasakan sang dosen yang meneriakkan kenikmatan, “…ouuughhh Anisssaaa!!” suaranya yang biasanya berwibawa kini penuh dengan nuansa nafsu binatang, Pak Doni tak tahan lagi dan dalam beberapa kali sentakan dosen setengah baya itu akhirnya mengeluarkan cairan cintanya di mulut vagina Anis tanpa halangan, sebagian masuk ke dalam. Cairan cinta meleleh dari mulut kemaluan Anis, ke atas meja tempat mereka bersenggama melalui pahanya yang mulus seputih pualam.

    Setelah beberapa saat saling menarik nafas, Anis menarik tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan Pak Doni dan merasakan penis dosennya itu mulai mengecil sebelum akhirnya ditarik keluar.

    Suasana menjadi tenang, tanpa desahan, tanpa lenguhan, tanpa teriakan.

    Anissa mengejapkan mata seakan tidak percaya apa yang telah dia lakukan. Dia sedang berada di ruang dosen, terbaring di atas meja. Dingin kayu yang menyentak membuatnya sadar dan ingin bangkit, namun tangan besar yang lembut memeluk tubuhnya dan melindunginya dari dingin. Anis mengejap sekali lagi, melihat sepasang mata yang menatapnya dan tubuhnya pun luruh lemas. Senyum lembut sang dosen membuat Anis tak tega untuk berontak, ia paksakan dirinya untuk tersenyum sementara dentum dadanya perlahan mulai kembali normal, dada mereka saling menumpuk. Pak Doni menurunkan kepala untuk kembali mengecup bibir mungil Anis dan mereka berciuman dengan lembut selama beberapa detik, saling menimpa dan melumat. Pak Doni merasa sangat beruntung ia masih bisa menikmati gadis secantik Anis di usianya yang sekarang. Ia berulangkali menggelengkan kepala merasa sangat beruntung.

    “Aku tidak pernah menyangka aku akan tidur dengan mahasiswiku sendiri.” Kata Pak Doni yang masih sedikit terengah. Ketika ia melirik ke samping, si cantik itu masih memeluk tubuhnya sendiri yang tanpa busana, “Nis…?”

    “Ya?” lirih jawaban Anis, seperti merintih. Memang kemaluannya masih terasa perih.

    “Kamu benar – benar luar biasa. Luar biasa… aku belum pernah… maksudku… tubuhmu… kamu… ah, aku kehabisan kata – kata, sayang…”

    Mereka berbaring beberapa saat lamanya tanpa kata, tanpa melanjutkan percakapan. Hanya saling menggugat impian dan bayangan apa yang telah dan akan mereka lakukan selanjutnya.

    Anis menjadi yang pertama membuka suara.

    “Pak Doni… saya ingin Bapak tahu, kalau… jujur… saya bukan wanita nakal, saya bukan wanita penggoda dan saya… saya tidak pernah menggoda suami wanita lain. Saya… saya belum pernah melakukan ini sebelumnya… apalagi dengan… dengan seorang dosen yang saya hormati. Saya minta maaf…” gelimang air mata menyeruak di ujung tipis kelopak mata indah Anissa. “saya minta maaf telah membuat Pak Doni melupakan ibu… dan…”

    Pak Doni mengangkat telunjuk tangannya ke bibir Anissa dan menggelengkan kepalanya, menatap si cantik itu lekat dan berbisik perlahan. “aku tahu kamu bukan gadis semacam itu, kamu spesial, cantik.”

    Pak Doni mencium kening Anissa dan tersenyum, ia menarik lembut kepala Anis ke dadanya. Anis memejamkan mata dengan penuh penyesalan, dia merasa sangat bodoh sekali, dia tidak sanggup menahan air mata yang sudah siap meledak. Seandainya… seandainya saja Pak Doni tahu…

    Keheningan menyelimuti kamar yang kini tenang, lampu pun diredupkan.

    ###

    Dengan langkah yang tertatih karena selangkangannya masih perih usai ditiduri Pak Doni, Anissa menyusuri lorong kampus yang telah gelap. Hanya satu dua orang masih ada di lantai bawah, tapi mereka sibuk dengan kegiatan masing – masing tanpa mempedulikan si cantik yang melewati mereka. Mereka juga tak menyadari air mata belum lagi kering menetes di pipi Anis.

    Langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di halaman parkir, sebuah mobil kijang berwarna merah tua berhenti tepat didepannya. Kaca mobil turun dan memperlihatkan wajah seorang pria tua gemuk yang langsung menyapa Anis. “Halo, apa kabar?”

    Kepala si cantik yang sedari tadi menunduk menengadah untuk melihat siapa yang ada di balik kemudi, benar saja… orang yang paling ia benci, Pak Bejo Suharso! Pandangan mata mereka saling beradu.

    “Sukses?” tanya Pak Bejo sambil memamerkan senyumnya yang menjijikkan.

    Anis menatap preman tua itu dengan pandangan benci, si cantik itu meludah ke tanah. Pak Bejo hanya tertawa melihatnya, ia menelengkan kepala sekali untuk meminta Anis masuk ke mobil. Dalam situasi normal, Anissa tidak akan sudi masuk ke mobil Pak Bejo. Dibayar berapapun, dengan imbalan apapun, matipun ia tidak akan mau. Tapi ini bukan situasi normal, Anissa membuka pintu mobil dan duduk di samping Pak Bejo.

    Pak Bejo tersenyum puas. Ia menginjak gas dan mobil itupun melaju.

    ###

    Pak Doni bangkit dari duduknya, ia mengerang, sudah berapa jam ia ada di ruangannya? Ia merasa aneh, seperti hilang ingatan. Ia baru saja bercinta dengan Anissa, salah satu mahasiswi terbaik dan tercantik di kampus.

    Ia… Ia baru saja mengkhianati janji pernikahannya.

    Pak Doni menepuk wajahnya berulang – ulang kali, ia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri, kenapa ia tergiur pada kemolekan Anis? Kenapa harus terjadi?

    “Apa yang sudah terjadi jangan disesali.”

    Pak Doni hampir melompat karena terkejut. Suara siapa itu?

    Ternyata wajah yang sangat dikenalinya! Orang itu duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, sejak kapan ia ada di sana? Kenapa ia sampai tidak menyadarinya?

    “Kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?” Pak Doni bangkit dari duduknya dan mulai mengeluarkan suara bernada tinggi. “Keluar dari ruanganku!”

    “Enak tidak ngewe Neng Anissa?” kata orang itu tanpa ekspresi, “pasti memeknya masih sempit ya? Permainan kalian cukup hot, cukup lama juga.”

    Wajah Pak Doni langsung pucat pasi. “A… apa yang kamu maksud?”

    “Pura – pura bodoh rupanya. Tidak apa – apa, akan coba saya jelaskan. Suara teriakan Neng Anissa menggema hingga ujung ruangan, mana mungkin saya tidak dengar. Pintu bapak sudah dikunci rapat, ruangan ini juga tertutup, tapi jangan lupa masih ada jendela angin di atas. Tinggal naik di atas kursi saya sudah bisa menonton adegan porno paling hot sore ini. Karena cukup hot itulah saya rekam kejadiannya di telepon genggam saya.”

    Tubuh Pak Doni langsung lemas, tulangnya seperti lolos dari tubuh.

    “Ketika keluar tadi Neng Anissa lupa menutup pintu, jadi saya bisa masuk. Herannya Pak Doni baru sadar sekarang saya masuk. Saya sudah cukup lama menunggu di kursi ini.”

    “Apa maumu?” lemas suara sang dosen.

    Orang itu hanya tersenyum, ia malah berdiri dan melangkah keluar. Sambil menutup pintu, ia memalingkan kepala dan berkata pelan, “Saya sudah dapat apa yang saya butuhkan. Pertunjukan luar biasa dari seorang dosen dan mahasiswi yang sama – sama menjadi idola di kampus ini. Saya salut, Pak. Sayang saya tidak bisa bicara sekarang, saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita bicarakan lagi ini semua di lain hari.”

    Orang itu melangkah keluar sambil bersiul.

    Pak Doni hanya bisa terdiam mematung.

    Apa ini?

    Apa yang telah terjadi?

    ###

    Ruangan tempatnya berada menjadi terasa gelap di bawah lampu yang redup dan hanya menyala dengan kekuatan 5 watt, namun wajah cantik Anissa seperti memiliki aura yang menyala dan sangat enak dinikmati. Sayang wajah itu kini muram dan sedih, mulutnya membungkam seribu bahasa. Anehnya, bagi beberapa orang, justru wajah seorang wanita yang takluk seperti ini yang indah dipandang.

    Setidaknya itu yang dirasakan Pak Bejo yang sedang menikmati rokoknya. Dia duduk di sebuah kursi di samping meja kecil sementara Anissa berada di hadapannya, duduk di tepian pembaringan. Mereka belum bercinta hari ini dan Anis berharap pria tua itu sedang lelah sehingga dia tidak memperkosanya.

    Ruangan tempat keduanya berada hanyalah sebuah kamar kecil di losmen kelas Melati yang menjadi tempat Pak Bejo biasa meniduri Anis, sebuah losmen milik teman Pak Bejo yang bernama Kobar. Pak Bejo dan Kobar kawan akrab sehingga ia tidak perlu membayar sepeserpun untuk menginap di tempat ini. Sejak diperkosa Pak Bejo, Anis memang tak bisa lepas dari cengkraman pria bejat itu. Termasuk ketika ia meninggalkan rumah Mas Hendra dan pulang ke rumah orangtuanya, Anis tetap berada di bawah pantauan Pak Bejo yang terus menerus mengikuti setiap jejaknya. Kemanapun Anis pergi, Pak Bejo akan membuntuti.

    Anissa begitu takut Pak Bejo akan menyebarkan semua gambar dan video rekaman ketika mereka bersetubuh sehingga ia menuruti semua permintaan dan perintah orang tua cabul itu, sepahit apapun permintaannya. Anissa tunduk pada semua perintah Pak Bejo termasuk perintah untuk datang setiap hari ke losmen ini setelah pulang kuliah. Untungnya Dodit akhir – akhir ini juga sering sibuk sehingga tidak mencurigai kepergian Anis yang berkelanjutan setiap pulang dari kampus.

    Adalah Pak Bejo yang memaksa Anis merayu Pak Doni.

    Pak Bejo sadar betul kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mampu menolak kemolekan Anis, terlebih seorang dosen setengah baya yang mungkin sudah tidak lagi dilayani oleh istrinya. Kecantikan Anissa tepat sekali untuk merayu Pak Doni yang tengah mengalami puber kedua dan membuat pria tua itu jatuh ke dalam perangkap yang telah ia dan teman – temannya persiapkan. Anissa tentu saja terpaksa melakukannya.

    Lelehan air mata yang menetes di pipi Anissa seakan tak mampu meluruhkan rasa bersalahnya yang berdentam menghajar relung batin terdalam. Banjir air mata itu tak mampu membersihkannya dari perasaan kotor yang menempel lekat dan tak bisa lepas, membuatnya merasa jijik pada diri sendiri setiap saat. Anis malu, malu sekali, sangat malu, ia bahkan malu saat berkaca dan melihat dirinya dalam cermin, wajahnya seperti berlumuran dosa. Betapa hinanya dia, betapa menjijikkan dan rendahnya dia! Bukankah apa yang telah ia lakukan membuktikan kalau dia tak lebih rendah dari seorang pelacur?! Mengapa dia menuruti saja semua perintah Pak Bejo? Mengapa dia justru terlihat seperti menikmati peran yang rendah dan hina ini? Ketika Anissa memejamkan mata, air mata itu tak berhenti menetes di pipi.

    Pak Bejo yang menyaksikan air mata deras mengaliri pipi mulus gadis yang mirip jelmaan bidadari jelita itu malah tertawa terbahak – bahak. “Kenapa kamu menangis? Aku justru telah memberimu kenikmatan, bukan penderitaan.”

    “Biadab! Bejat!” hardik Anis penuh kemarahan. Dia marah dan takut pada saat yang bersamaan. “Aku melakukan ini semua karena terpaksa!!! Pak Bejo meminumkan obat perangsang itu!! Tega sekali Pak Bejo melakukan ini kepadaku! Aku salah apa, Pak? Kenapa Bapak tega? Kenapa memaksaku?!!”

    Pak Bejo memberikan senyuman menghina, “terpaksa katamu? Terpaksa kok bisa sampai orgasme… lelehan air cintamu membuktikan kalau apa yang telah kamu perbuat dengan dosen sendiri bukanlah paksaan. Akui saja kalau kamu juga menikmati. Kamera hape yang dipakai untuk merekam kejadian di ruang Pak Doni bekerja sempurna hingga aku bisa mengetahui detail sekecil apapun.”

    Anissa naik pitam. “Aku terpaksa!! Aku di bawah pengaruh obat perangsang!!”

    Pak Bejo mengangkat bahu, “memangnya aku peduli? Yang penting apa yang aku perintahkan kepadamu sudah berjalan dengan sempurna. Kerja yang bagus, sayang. Aku akan menghapus satu foto vulgarmu dari telepon genggamku.”

    “Satu??” mata Anis terbelalak, “hanya satu saja? Tapi Bapak sudah janji…!!!”

    “Kamu pikir aku akan menghapus semua fotomu yang ada padaku? Jangan mimpi di siang bolong, anak manis.” Pak Bejo tertawa, “Semua akan aku hapus asal kamu menuruti semua yang aku minta. Aku punya pengharapan besar dengan memanfaatkan tubuhmu yang indah itu… apa yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan.”

    Mata Anissa terbelalak karena marah. Dia telah ditipu! Bajingan tua ini memanfaatkan situasinya untuk memerasnya habis – habisan. Luar dalam. Tidak saja ia dipaksa untuk merayu seorang dosen yang baik, ia juga berniat untuk memerasnya! Laki – laki hina macam apa Pak Bejo ini?

    “Kurang ajar… Pak Bejo pikir saya ini siapa? Pelacur yang bisa dijajakan pada langganan Pak Bejo setiap saat? Enak saja! Jual saja istri Pak Bejo! Jual anak Pak Bejo!!! Jangan saya!!!”

    PLAKKKKKK!!!!!!!!!!!

    Anis hampir saja terlempar tubuhnya karena tamparan Pak Bejo yang sangat keras mendarat dipipinya. Belum lagi panas tamparan itu mendingin dan Anissa mampu bangkit dari sempoyongan, tiba – tiba saja tangan pria tua gemuk yang buruk rupa itu mencekik leher mungil Anis dengan sangat kuat. Gadis itupun megap – megap karena tak mampu bernafas, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, tangannya bergerak cepat mencoba menggapai sesuatu atau mendorong Pak Bejo, namun semua gagal karena pria tua itu lebih kuat dan cekatan.

    “Jangan pernah menghinaku dan jangan pernah menghina keluargaku.” Pak Bejo membisikkan kata ke telinga Anis. Cengkraman tangan di leher Anis masih belum mengendur, membuat nafas gadis itu makin sesak dan tersengal – sengal, tangan Anis mencoba memukul – mukul lengan Pak Bejo, tapi tentu apa daya gadis lemah sepertinya? Melihat Anis sangat tersiksa, Pak Bejo bukannya berhenti malah semakin menjadi. Lidahnya menjulur keluar dan dengan sangat menjijikkan ia menjilati seluruh wajah Anis yang berkeringat. Bau mulut bekas rokok dan minuman keras membuat Anis ingin muntah.

    “Kamu paham, anak manis?” tanya Pak Bejo, ia menarik tubuh Anis ke belakang agar tangannya bisa menjangkau meja untuk meletakkan puntung rokok ke asbak.

    Anis mengangguk sekuat tenaga, ia menyerah, terserah apa mau si tua brengsek ini, ia sudah tak bisa lagi menarik nafas. Ia bisa mati!!

    Pak Bejo akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya. Anissa langsung terbatuk – batuk, ludahnya keluar membanjir dan tubuhnya luruh ke bawah. Orang tua bejat ini hampir saja membunuhnya!

    “Aku tidak pernah memaksa kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai, kamu bahkan bebas untuk pergi dan tidak lagi menemuiku. Tapi lebih baik kamu pertimbangkan juga nasib orang lain yang kamu sayangi. Kalau kamu meninggalkan aku, aku akan melakukan hal – hal yang tidak nyaman pada orang – orang itu.” Ancam si tua bejat itu sambil berkacak pinggang. Ia kembali duduk di kursi dan menarik satu batang rokok dari bungkusnya kemudian menyalakannya.

    “A… uhuk huk…! huk..!. A… A… Apa maksud Pak Bejo?” Anissa mengerutkan kening sambil mencoba menahan batuknya, perasaannya tidak enak.

    Pak Bejo menghembuskan asap rokoknya membentuk bulatan, ia membuka telepon genggamnya dan menelusuri aplikasi, membuka sebuah folder penuh foto dan memperlihatkannya pada Anissa.

    “Ini hanya sekedar contoh. Aku sudah memindahkan salinan fotonya jadi kalau kamu mencoba merebut telepon genggam ini atau membantingnya, aku tidak akan takut karena aku tetap bisa menyebarkannya.” Kata Pak Bejo. “pilihan sekarang ada di tanganmu, anak manis. Mau menyelamatkan dirimu dan orang – orang yang kamu cintai? Tetap turuti semua permintaanku, tanpa membantah sedikitpun. Mau membelot dan melarikan diri dariku? Semua foto yang ada di sini akan tersebar. Mengerti?”

    Mata Anissa terbelalak lebar melihat foto Mbak Alya dalam posisi – posisi vulgar yang sangat menantang birahi! Beberapa foto juga memperlihatkan Mbak Alya dalam kondisi telanjang atau tengah bersenggama! Foto – foto ini… foto – foto ini bukan rekayasa! Apakah… apakah… benarkah… tidak mungkin… tidak mungkin… ini pasti… tapi ini benar – benar terjadi! Pak Bejo rupanya sudah pernah memperkosa Mbak Alya juga?!!

    Anissa menatap layar telepon genggam Pak Bejo dengan pandangan tak percaya ketika menyusuri folder dan melihat satu demi satu foto yang ada sementara orang tua bejat itu tertawa terbahak – bahak. Tidak hanya Mbak Alya, Pak Bejo juga telah merekam kaki jenjang, belahan buah dada yang tidak sengaja terbuka dan paha yang tak sengaja tersingkap dari Mbak Dina dan Mbak Lidya! Benar – benar orang yang sangat bejat!

    Tubuh Anissa menjadi gemetar dan panas karena menahan amarah. “Bajingan bejat… tidak tahu diri… Pak Bejo… benar – benar bejat…”

    “Bukan bejat, aku hanya mengagumi tubuh molek kalian. Aku sudah merasakan memekmu dan Alya. Tinggal memek Dina dan Lidya yang aku incar, sepertinya masih sempit juga.”

    Anis menatap Pak Bejo dengan geram, “Jangan. Pernah. Dekati. Atau. Sakiti. Mereka. Lagi.” Katanya terpatah – patah karena menahan amarah yang menggelegak. Rasa sakit di lehernya juga masih membuatnya tak mampu mengucapkan kata – kata dengan lancar.

    Pak Bejo mencibir hina, ia menebaskan abu rokok ke asbak. “maka dari itu, ikuti semua kemauanku, mengerti? Semudah itu saja syaratnya.”

    “Mengerti…” desahan lirih penuh kekalahan bercampur geram tertahan keluar dari mulut mungil si cantik itu. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menyerahkan tubuhnya pada orang bejat ini? Dia tidak punya pilihan, Anissa benar – benar geram karenanya. Tidak ada pilihan selain memberikan jawaban yang sangat ia benci.

    Sebuah jawaban yang akan sangat ia sesali.

    ###

    Hujan yang turun deras disertai guntur di sekitar kampus menjelang sore itu tak membuat Pak Doni beranjak dari mejanya untuk pulang ke rumah. Ia tak mempedulikan guntur yang menderu di luar ruangan dan menyebabkan kacanya sedikit berderak karena bergetar. Sebaliknya, dosen paruh baya itu justru sibuk berkutat dengan skripsi yang dikumpulkan oleh beberapa mahasiswa bimbingannya.

    Pak Doni menarik nafas panjang dengan berat, entah mengapa ia tak bersemangat pulang cepat beberapa hari terakhir ini, ia lebih memilih lembur di kantor walaupun alasan lembur itu ia buat – buat sendiri. Terlebih sekali hari ini, ruang dosen yang kaku dan tak bersahabat ini justru membuatnya betah dan ingin berlama – lama. Walaupun barisan teks yang berjajar di buku – buku skripsi bagaikan kumpulan tentara berukuran mini yang menembaki matanya hingga terasa pedih karena terlalu banyak dibaca, namun ia tetap urung pulang ke rumah.

    Pak Doni melambaikan lamunannya.

    Dia ingin sendiri, ingin disibukkan, ingin bekerja, ingin melakukan sesuatu yang tidak akan mengingatkannya pada hal yang membuatnya gelisah dan merasa bersalah…

    Pria setengah baya itu tertegun dalam renungannya.

    Benar. Inikah yang dinamakan rasa bersalah? Inikah yang dinamakan pelarian? Apakah pelarian ini bisa menenangkan rasa bersalah yang membuat beban hidupnya sedemikian berat? Ia tahu apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu adalah perbuatan yang salah dan terkutuk. Tak pantas dilakukan oleh seorang guru dengan muridnya, seorang dosen dengan mahasiswinya, seorang pengajar dengan anak didiknya… apa yang telah ia lakukan? Apa sebenarnya yang telah membuat keteguhannya melayang? Kesetiaannya terbuang?

    Pintu ruangan diketuk dari luar, membangunkan Pak Doni dari lamunannya yang lelap.

    “Permisi. Apa Pak Doni ada di dalam?” terdengar suara dari luar, suara laki – laki. Jika orang ini bisa sampai di depan pintu ruangannya, tentunya satpam sudah mengijinkannya masuk. Ia pun tak curiga. Tapi aneh, kenapa satpam tidak menelponnya dulu untuk memberitahukan kedatangan tamu?

    “Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Jawab Pak Doni dengan suara agak keras agar orang yang berada di luar bisa mendengar.

    Pintu dibuka dengan sedikit berderak, seorang laki – laki memasuki ruangan. Mata bertemu mata dan dosen itupun terbelalak karena terkejut.

    “Kamu!!??” Pak Doni seperti tersengat listrik ribuan watt.

    “Saya.” Orang itu adalah Imron, sang penjaga sekolah.

    Imron! Orang yang tempo hari memergokinya bercinta dengan Anissa!

    Penjaga kampus berwajah buruk itu menebarkan senyuman tipis yang membuat Pak Doni jengah.

    Dia memang sudah menduga Imron akan datang kepadanya karena si penjaga kampus itu telah memergokinya menggauli Anis bahkan telah merekamnya! Walaupun begitu ia tetap saja kaget karena tak menyangka si penjaga kampus itu akan menemuinya secepat ini. Dada Pak Doni berdegup kencang melihat senyuman hina dari wajah pria itu.

    “Merasa muda kembali setelah kejadian itu, pak dosen yang terhomat?” Imron sengaja memberi tekanan pada kata terhormat untuk membuat Pak Doni makin gerah.

    “Apa maumu? Aku sedang sibuk.” Kata Pak Doni ketus. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dosen yang tengah berhadapan dengan Imron itu, dia tahu Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya. Keluarganya, istri dan anak – anaknya, orangtuanya, karirnya, segalanya, semuanya bisa lenyap hanya gara – gara kebodohan dan nafsu buta semata. Semua gara – gara dia tak mampu mengendalikan hasrat binatangnya, semua hancur karena dia tergiur kemolekan mahasiswinya yang memang sangat aduhai. Parahnya orang gila bernama Imron ini melihatnya bermain cinta dengan Anis dan semuanya bisa hancur berantakan. Hancur semudah membalikkan telapak tangan.

    Kartu as jelas ada di tangan Imron. Pak Doni ingin melihat bagaimana penjaga sekolah ini memainkan kartunya.

    “Tidak perlu cemberut seperti itu, Pak Doni. Saya cuma ingin berbincang – bicang sejenak sambil membicarakan sebuah proyek yang sepertinya mau tidak mau akan Pak Doni setujui.” Imron kegirangan melihat Pak Doni mulai gelisah, wajahnya yang sejak tadi menampilkan cengiran penuh kemenangan berubah menjadi wajah serius yang menyeramkan. Ia menatap Pak Doni lekat tanpa rasa takut sedikitpun, “tentu saja Pak Doni harus setuju karena kalau tidak rahasia busuk dosen paling terkemuka di kampus ini akan hancur berantakan.”

    “…bajingan kamu, Imron.”

    “Cih… ada maling teriak maling.” Imron mencibir, “Kita kembali ke akar permasalahan, Pak Doni. Siapa suruh bapak meniduri Anissa? Siapa suruh bapak meniduri mahasiswi sendiri? Saya tidak pernah meminta bapak melakukannya, kan? BAPAK MELAKUKANNYA DENGAN KESADARAN SENDIRI!!” Penjaga kampus berwajah buruk rupa itu menggebrak meja Pak Doni yang langsung bergetar karena kaget sekaligus takut, wajahnya pucat pasi. “Jangan lupa kalau bapak sendiri yang telah melakukan perbuatan itu tanpa ada paksaan, ingat itu baik – baik! Semua dilakukan dengan kemauan sendiri! Tidak ada yang meminta dan tidak ada yang menyuruh. Jangan sedikitpun berlagak seperti orang suci karena Bapak tidak pernah menolak ketika Anissa datang kesini dan menawarkan tubuhnya! Kalau Bapak memang orang yang tahu diri, ingat keluarga, ingat anak istri… bapak tidak akan pernah mau dirayu gadis itu! Laki – laki macam apa bapak ini… menggauli gadis yang lebih pantas jadi anaknya dan menolak mengakui perbuatannya…”

    “… dasar… bajingan…”

    “Jangan salah, saya juga tahu logika. Saya tidak akan pernah menyalahkan Pak Doni. Kenapa? Karena saya tahu tidak ada lelaki normal manapun di dunia ini yang sanggup menolak gadis semolek Anissa. Omong – omong, bagaimana rasanya? Pasti enak sekali ya? Paha seputih itu, kulit yang mulus, wajah cantik, tubuh tinggi, susu yang besar… bagaimana memeknya? Masih sempit? Saya sendiri belum pernah mencicipi anak ayam satu itu, mungkin nanti kalau ada waktu…”

    “Begitu rupanya. Ini semua pasti sudah kamu rencanakan. Anissa juga jadi pion kamu, kan? Kalian memang berniat menjebakku… apa mau yang kalian inginkan? Apa untungnya ini semua buat kalian?”

    “Kalau baru tahu sekarang ini semua jebakan, itu bodoh namanya. Yah, tidak percuma Pak Doni jadi dosen senior karena akhirnya berhasil menebak arah tujuan kita. Kami memang ada tujuan tertentu melakukan semua ini.”

    “Baik… baik… BAIK! Kuturuti kemauanmu… bajingan tengik kamu, Imron…” deru nafas Pak Doni menggerus seperti seekor banteng yang hendak melabrak matador yang menggoyangkan kain merah. “Apa maumu? Berapa yang kamu inginkan?”

    “Cih… lagi – lagi sikap meremehkan. Aku tahu berapa gaji bapak dan walaupun cukup besar, uang segitu tidaklah cukup untuk tutup mulut.” Imron memajukan tubuhnya, mendekatkan diri dengan Pak Doni yang menahan amarah. “Kampus ini kampus favorit, Pak Doni. Banyak calon mahasiswa yang bersedia mengorbankan apa saja untuk masuk ke sini namun gagal karena ketatnya persaingan dan susahnya tes masuk…”

    Pak Doni mengernyitkan dahi, apalagi mau Imron tengik ini? Apa yang sebenarnya dia incar?

    “…bayangkan kalau setiap orangtua yang mau memasukkan anaknya ke kampus ini kita tarik bayaran antara empat puluh sampai tujuh puluh juta perkepala untuk memastikan anak mereka bisa menjadi mahasiswa tanpa harus lulus tes tertulis. Kita bahkan akan menyediakan joki resmi sebagai pelengkap administrasi. Dengan mengesampingkan semua birokrasi, anak itu hanya tinggal datang pada saat kuliah dimulai.”

    Pak Doni terbelalak saat menyadari apa yang diinginkan oleh Imron. “Gila kamu Imron… kamu… mau jadi calo?”

    Imron menebarkan senyum sinis, “Boleh jujur? Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Males banget.” Imron duduk dengan santai dan menyilangkan kedua tangan di dada. “Sebetulnya, bukan aku yang akan mengerjakan semua ini, aku bukan tipe orang yang butuh cari uang, yang aku butuhkan gadis – gadis muda yang segar dan seksi.” Imron tertawa terbahak dengan suara yang tidak nyaman didengarkan. “…tapi ada beberapa orang yang aku kenal yang mau masuk ke bisnis ini dan sebagai teman yang baik tugasku adalah menyediakan lahan dan tugas anda, Pak Doni yang terhormat… adalah memastikan kalau segepok uang itu sanggup membawa para pelanggan masuk tanpa halangan ke kampus kita, tentu setelah dikurangi pajak administrasi dari aku dan teman-teman lain.”

    “Gila! Aku tidak mungkin melakukannya. Kampus ini kampus terhormat! Di sini punya sistem, tidak punya celah, aku tidak bisa…”

    “Aku tidak peduli bagaimana caranya. Bapak kan punya banyak kenalan di bagian akademik dan petinggi kampus, Bapak juga punya banyak uang. Aku akan memberikan sebagian dari pembayaran ‘pelanggan’ kita untuk menambah uang pelicin kalau diperlukan.” Imron semakin mendekatkan wajahnya yang sangat bau. “aku akan tutup mulut tentang perilaku liar Pak Doni kalau proyek kita ini lancar, yang mana tentu saja aku tidak akan ikut campur karena semuanya ada di bawah komando seorang teman. Aku hanyalah seorang pengawas yang menjadi perantara.”

    Pak Doni menundukkan kepalanya.

    Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya dia perbuat? Haruskah dia menuruti kemauan orang – orang yang hendak memerasnya ini?

    Cukup lama dosen yang cukup disegani di kampus itu terdiam. Wajahnya mengerut karena pikirannya kalut. Imron menunggu dengan santai, ia tahu hasilnya karena ia sudah sering memeras orang. Apapun pilihan Pak Doni, dia akan kalah, Imron yakin sekali.

    Dengan lemas Pak Doni mengangguk, sepertinya memang tidak ada pilihan lain, “…kalian menang.”

    Imron tertawa menghina, dia berdiri, melenggang keluar sambil terlebih dahulu menepuk pundak Pak Doni dengan kurang ajar. “Prosedurnya kita bicarakan lagi nanti. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya tidak sabar lagi memulai proyek kita ini.”

    Pak Doni menunduk kalah ketika Imron melangkah keluar dari ruangan sambil bersiul.

    ###

    “Kamu kenapa, sayang?” tanya Dodit saat mobilnya melintas di jalan tol yang lengang.

    Tidak ada jawaban. Mulut Anis seperti terkunci dengan rapat, bahkan tipis semburat senyumpun tak nampak. Anissa seperti bukan Anissa, dia seperti batu karang teguh tak tergoyahkan. Mereka baru saja berangkat untuk makan malam di malam minggu pertama yang bisa dilalui bersama setelah beberapa bulan meninggalkan rumah Mas Hendra.

    “Anis?”

    Masih belum ada jawaban.

    Sejak tinggal di rumah Mas Hendra beberapa bulan yang lalu Anissa terlihat berubah, perangainya yang lembut dan ceria kini hilang ditelan sosok pendiam yang menutup diri dan pemarah. Dia jarang sekali tersenyum dan lebih senang melamun. Anissa dan Dodit sendiri sudah cukup lama tidak jalan berdua, calon suami istri ini seperti kehilangan gairah cinta di antara mereka.

    “Kemarin aku sudah bertanya kesana kemari tentang jadwal gedung – gedung yang mungkin kosong pada tanggal yang sudah kita rencanakan tahun depan. Ada tiga gedung, hampir semuanya punya biaya sewa mahal, tapi salah satunya ternyata dikelola teman omku, kita bisa menyewanya dengan potongan harga yang lumayan.” Kata Dodit membuka cerita, ia membicarakan rencana pernikahan mereka. “Untuk pre – wedding kita bisa pergi ke studio foto milik Dimas, dia cukup bisa diandalkan. Baik untuk foto maupun pembuatan kartu undangan. Yang masih bikin bingung itu masalah catering dan baju… bagaimana sayang?”

    Mendengar pernyataan Dodit itu Anis seperti ingin menangis, ingin berteriak dan ingin melemparkan dirinya ke api. Tahukah kamu, Mas Dodit… kalau kekasihmu ini, kalau wanita yang kami cintai ini… telah menjadi wanita yang sangat kotor? Yang telah bersetubuh tidak hanya dengan Pak Bejo yang sangat menjijikkan itu melainkan juga dengan Pak Doni, dosennya sendiri? Kekasihmu ini sudah tidak pantas lagi mendapatkan cinta sejatimu, Mas Dodit. Sudah tidak pantas lagi memperoleh kasih yang tulus… dia telah kotor… sangat – sangat kotor…

    “Aku tidak pantas lagi…”

    “Apa maksudmu, sayang?”

    Anis mendesah kecewa, pandangannya kembali dilemparkan ke luar, “tidak apa – apa. Lupakan saja. Lupakan…”

    Dodit mengernyitkan kening. Ada apa lagi ini?

    “Lupakan apa, sayang?”

    “Bukan apa – apa. Aku… ceritakan lagi mengenai gedungnya….”

    Malam itu berlalu begitu saja dan Anissa masih terdiam seribu bahasa. Bahkan ketika mereka berdua duduk di sebuah kafe sambil menikmati minuman hangat. Sepasang calon pengantin yang biasanya mesra dan saling memuji ini bagaikan kehilangan nyala api mereka. Tidak ada canda, tidak ada kata. Sepi, senyap, kaku dan menjemukan.

    “Sebenarnya kamu ini kenapa, Nis? Kenapa diam terus? Ini tidak seperti biasanya…”

    Anissa terdiam.

    “Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa aku membuatmu jengkel?”

    Tidak ada jawaban.

    “Apa karena aku terlalu sibuk sehingga beberapa hari terakhir ini aku tidak menjemputmu?”

    Anissa menggelengkan kepala, suara lirih keluar dari mulut mungilnya. “Tidak ada apa – apa. Aku hanya capek saja. Akhir – akhir ini aku mudah capek. Kita pulang yuk, aku pusing sekali, mau tidur.”

    Dodit mendesah kecewa, apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu tidak mau cerita? Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan? Tapi Dodit tidak menolak ketika Anissa sudah bangkit dari duduk dan ingin segera pulang. Paling tidak hanya itu yang bisa dilakukannya untuk sang tunangan saat ini, melakukan apa yang diinginkan Anissa tanpa banyak berucap.

    ###

    “Gadis ini berbakat jadi pelacur. Wajah cantiknya seperti tanpa dosa, mana ia juga sangat lembut. Ia penggoda yang hebat tanpa harus mengeluarkan sepatah katapun. Tidak ada laki – laki yang bisa menolak cewek seperti ini. Dia bisa seksi tanpa harus menjadi seksi.” Kata Pak Dahlan memuji kemolekan Anissa. “hebat kamu menemukan barang bagus seperti ini, Bejo.”

    Pak Bejo mengangguk – angguk dengan bangga. “Pastinya.”

    “Lain kali aku ajak kamu keliling kampus buat belanja barang dagangan baru, Jo. Jadi tidak fokus cuma ke tetangga – tetanggamu saja.” Susul Imron yang langsung disetujui oleh Pak Dahlan dan Pak Kobar. Mulut penjaga kampus itu komat – kamit sibuk mengunyah makanan yang sepertinya sangat lezat. “Tapi yang ada di hapemu itu semuanya memang seksi. Lebih lagi yang namanya Alya dan Lidya…”

    “Terima kasih, Bro… tapi saat ini aku cuma pengen kipas – kipas pake duit yang disetor ke kita. Dosen goblok satu itu ternyata menepati janjinya. Kalau begini terus, kita bisa kaya.” Jawab Pak Bejo jumawa.

    “He he he, jangan melecehkan institusi kampus, aku kan juga dosen. Tapi Pak Doni itu memang sok alim, giliran dapet anak ayam saja dia jadi penakut. Dia kan sebenarnya ada niat buat mencalonkan diri jadi rektor di tahun mendatang, satu skandal seperti kemarin bakal menghancurkan reputasinya. Tahu rasa dia sekarang, dasar sok alim, sukanya cari muka.” kembali Pak Dahlan pegang peranan menjelaskan. “Aku tahu awalnya kalian meminta aku menjadi orang dalam, tapi bukankah cara seperti ini lebih seru? Lagipula dengan reputasi yang bersih aku bisa mencalonkan diri menjadi rektor di tahun mendatang tanpa gangguan. Posisiku aman, uangpun datang.”

    Pak Dahlan menghentikan ucapannya dan segera beralih ke orang – orang di sekitarnya, “Silahkan, silahkan dimakan… perjamuan makan seperti ini konsepnya dari Jepang, kebetulan aku baru belajar dan dengan bantuan salah satu lontenya Imron untuk memasak, kami bisa menyajikannya.” Pak Dahlan mempersilahkan semua yang ada di ruangan itu untuk makan, berbagai macam jenis penganan disajikan di tatakan besar.

    Pak Kobar meneguk ludah, “Aku baru tahu ada jamuan makan seperti ini, siapa yang punya ide?” dia mencomot satu makanan berlapis daun. “Ini apa ya? Lemper?”

    Pak Dahlan tergelak, “jamuan makan seperti ini ideku, dan yang anda makan itu namanya Makizushi, bisa dibilang semacam lemper Jepang.”

    “Aneh – aneh aja, lemper ya lemper bukan mitsubishi. Aku sih tidak peduli lempernya, aku peduli sama tatakannya ini…” kata Pak Kobar mengedipkan mata sambil mencolek tatakan makanan yang ia maksud.

    Terdengar suara erangan.

    Pak Bejo dan Pak Dahlan tertawa, sementara Imron berusaha menahan tawa karena masih mengunyah makanan.

    “Lemper yang ini rasanya manis.” Kata Pak Kobar lagi setelah mencicipi makanan yang ia ambil, “ambil lagi boleh, kan?”

    Pak Dahlan mengangguk – angguk sembari juga menjumput satu penganan, “silahkan pak, silahkan…”

    Ketika mengambil sekali lagi, secara sengaja… atau mungkin juga tidak, makanan yang diambil Pak Kobar jatuh ke tatakan. “Aduh… cerobohnya aku. Makanan enak sebaiknya jangan disia – siakan!” Pak Kobar memajukan kepalanya dan memakan apa yang tadi jatuh langsung di tatakan! Mulutnya mengunyah dan menjilat di tatakan itu.

    Saat lidah Pak Kobar menjilat, tatakan itupun bergetar.

    Bukannya jijik, bapak – bapak itu justru tertawa bersamaan.

    Bibir Pak Kobar tidak berhenti begitu saja, ia masih terus menjilat dan mencium, sementara tatakannya juga tidak berhenti bergetar.

    Kenapa bisa demikian?

    Wajar saja, karena apa yang disebut tatakan itu sebenarnya adalah Anissa! Gadis malang itu berbaring telanjang dengan bagian mata ditutup handuk yang dilipat, tubuhnya yang indah dihidangkan tepat di muka Pak Dahlan, Pak Bejo, Imron dan Pak Kobar yang duduk bersila. Di atas tubuh Anis dihidangkan makanan – makanan kecil, ada yang makanan asli lokal, ada yang ala Jepang. Selama makanan dihidangkan dan belum habis, Anissa harus diam saja terbaring mematung tanpa boleh bergerak sedikitpun.

    “Konsep jamuan makan menggunakan tatakan hidangan cewek telanjang seperti ini namanya nyotaimori dan asalnya dari Jepang,” kata Pak Dahlan. “Agar bisa menghidangkan makanan di atas tubuh cewek telanjang seperti ini, tubuh si cewek harus benar – benar bersih. Dimandikan dengan sabun khusus yang memiliki aroma wangi spesial agar membangkitkan selera. Itu sebabnya si Anis ini tadi sudah saya minta mandi sampai bersih. Tentu saja, Pak Bejo yang memandikannya.”

    Pak Bejo terkekeh sementara Pak Kobar tidak peduli apa yang dikatakan oleh Pak Dahlan, ia terus saja menjilati perut Anis, pemilik hotel melati tempat mereka berkumpul saat ini itu mengincar buah dada sang dara jelita. Namun rupanya Imron jauh lebih cepat, dengan cekatan penjaga kampus itu mengambil makanan yang mirip lemper yang diletakkan di atas buah dada Anissa. Geliat lidah Imron yang menyusuri lekuk dada membulat milik Anissa membuat si cantik itu menggelinjang tak henti, antara geli dan jijik. Ia mengeluarkan desahan dan erangan.

    Walaupun mata si cantik itu ditutup oleh handuk, namun Pak Bejo bisa melihat air mata menetes di pipi Anissa. Ia hanya tertawa, “eh, kalau jadi tatakan kamu tidak boleh menangis. Lagipula kamu kan tidak diapa – apain.”

    “Jangan lama – lama ya kalian, kalau makanannya sudah habis aku mau mencicipi tatakannya.” Kata Pak Dahlan. “Aku sudah mengeluarkan uang buat mempersiapkan jamuan ini, jadi pantas kalau aku duluan yang pakai hari ini.”

    Pak Kobar mengerang kecewa karena sebenarnya dia berharap bisa memakai Anissa.

    Pak Dahlan tertawa nakal, dia memberi tanda dengan menyilangkan telunjuk secara vertikal di depan mulut pada Imron dan Pak Kobar agar mereka tidak mempermasalahkan siapa yang akan memakai Anissa hari ini. Imron geleng – geleng kepala, “dasar otak kontol. Tidak bisa lihat barang bagus nganggur sebentar saja.”

    Mendengar apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi, lelehan tangis Anissa makin deras turun meski tidak sampai bersuara. Tubuhnya menggigil saat ia senggugukan.

    Imron memberi tanda pada Pak Bejo yang langsung berbisik pada Anis. “Kalau kamu tidak diam, kami yang ada di sini akan langsung memperkosamu beramai – ramai sampai pagi. Kalau kamu tidak mau itu terjadi biar kami selesaikan makan dengan tenang dan nanti kamu hanya perlu melayani Pak Dahlan. Mengerti?”

    Anissa mengangguk karena ketakutan.

    “Ayo kita lanjutkan pestanya!” teriak Pak Bejo dengan senang. Iapun mengambil kesempatan untuk mencium bibir Anissa yang tengah merekah. Bibir mereka bertemu dan bertumbuk, bibir tebal milik seorang pria berusia lanjut dengan seorang gadis muda yang sangat seksi.

    Lidah Pak Bejo menggeliat cepat di antara struktur manis bibir Anis, menjelajahi dan mengelilinginya. Membuat si cantik itu menggelinjang karena selain dicium begitu nafsu oleh Pak Bejo, Imron tengah menjelajahi buah dadanya sementara perutnya menjadi bagian dari serangan Pak Kobar.

    Pak Dahlan sendiri tidak ikut menyerang karena setelah ini, dialah yang akan meniduri Anissa. Dia menyimpan tenaganya.

    Anissa hanya bisa diam dan pasrah membiarkan para pria tua ini menjilati tubuhnya beramai – ramai. Ia teringat wajah Dodit yang kecewa kemarin, wajah orangtuanya, wajah Pak Doni… mengapa dia sampai jatuh ke perangkap Pak Bejo seperti ini?

    Kenapa dia setuju mengikuti semua perintahnya?

    Anissa kembali melelehkan air mata.

    ###

    Sepeninggal Pak Dahlan dan Anissa yang masuk ke kamar berdua, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo melanjutkan bersenda gurau. Setelah cukup lama berbincang – bincang, tiba – tiba telepon genggam Pak Kobar berdering nyaring.

    “Halo? Ya, aku masih di motel. Kamu mau kesini? Boleh, ya kesini saja.” Pak Kobar menutup hape dan kembali mengantonginya, “Keponakanku. Minta duit buat pinjem bokep di rental, aku suruh kesini saja.” Kata Pak Kobar. “Walaupun sudah sering ngewe tapi ponakanku ini masih malu – malu kucing, kucingnya ya kucing garong, dibilang malu tapi suka nyolong. Daripada belajar dari bokep, mending kita kasih dia pertunjukan langsungnya.”

    Pak Bejo dan Imron tertawa bersama.

    Tak sampai lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu, ketika Pak Kobar membukanya masuklah seorang pemuda. Kulitnya gelap dan wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya yang keriting tak terawat membuatnya makin terlihat kumal. Usianya sebenarnya baru menjelang 20, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari itu.

    “Ini keponakan saya, Bahrudin, tapi panggilannya Udin.” Kata Pak Kobar.

    Pemuda yang berpenampilan kusut dengan rambut semrawut itu segera menyalami kedua orang yang ada di hadapan Pak Kobar. Sambil menunjuk, Pak Kobar mengenalkan mereka, “yang ini Imron, yang itu Pak Bejo. Mereka berdua kawan bisnisku.”

    “Selamat datang, Din.” Kata Imron sambil memberi salam.

    “Salam kenal, santai saja di sini.” Kata Bejo.

    “Rasanya wajahmu nggak asing, Din?” tanya Imron. “kamu kuliah di Universitas X?”

    “Betul. Saya kuliah di sana di Fakultas X.”

    “Ooo, pantes aja kok aku sepertinya pernah lihat.” Lanjut Imron. “Dunia memang sempit. Aku penjaga kampus itu, tapi lebih sering berkeliaran di Fakultas XX.”

    “Oooh, itu sebabnya tadi wajah Om Imron tidak asing.” Kata Udin sambil cengar cengir.

    “Ayo duduk sini, itu ada bir atau kalau tidak minum bir, di sana ada teh botol.” kata Pak Bejo sambil menunjuk ke arah meja sajian. “Kamu sedikit terlambat, tadi di sini ada sajian spesial.” Katanya sambil tersenyum lebar.

    “Iya, Pak.” Udin mengangguk sopan dan duduk di samping Pak Kobar.

    “Gimana, Din? Kamu nggak jadi pinjem bokep ke rental?” tanya Pak Kobar yang disambut gelak tawa Imron dan Pak Bejo. “Di sini saja banyak live show, kenapa harus pinjem di rental?”

    “Itulah, Pakde.” Kata Udin ikut tergelak, “saya jadi tertarik waktu tadi Pakde bilang ada live show. Memangnya live show macam apa?”

    “Pakdemu itu kan orang kreatif, Din.” Timpal Imron, “begitu punya duit, dia langsung pasang CCTV di semua sudut kamar, hasilnya kalau ada pasangan ngewe, pakdemu ini dapat tontonan gratis. Kalau kamu mau lihat, bisa nonton di TV yang ada di kamar pojok. Aku yang bantuin masang kabel CCTVnya tempo hari.”

    “Oooo, gitu. Wah menarik sekali, saya boleh lihat dong, Pakde?”

    “Boleh aja, mau langsung sekarang?” tanya Pak Kobar, melihat anggukan Udin, iapun geleng – geleng sambil tersenyum lebar. “Dasar anak jaman sekarang, otak gak jauh dari selangkangan. Pak Bejo mau ke belakang? Sekalian tolong anterin ya si Udin ya?”

    “Oke.” Pak Bejo yang sedikit mabuk karena kebanyakan minum bir berdiri sempoyongan. Ia harus menjejakkan kaki beberapa kali untuk bisa berdiri tegak. Setelah yakin bisa berdiri, pria tua itu merangkul Udin tanpa lupa menarik satu botol minuman keras. Mulutnya yang bau bir membuat Udin agak sedikit jengah namun dia tetap tersenyum, jangan sampai gagal nonton live show nih!

    Sembari berangkulan Pak Bejo dan Udin berjalan keluar ruangan penjaga motel dan berjalan menuju sebuah kamar kecil di pojok. Kamar itu sebenarnya disediakan Pak Kobar untuk karyawannya yang mau tidur usai jaga malam, tapi hari ini kamar itu sepi karena Pak Kobar meliburkan karyawannya berkaitan dengan jamuan makan spesial bersama Pak Dahlan, Pak Bejo dan Imron.

    Masuk ke ruangan, Udin mengajak Pak Bejo untuk menonton bersama namun orang tua itu menolak, karena mabuk gelengan kepalanya lebih kencang dari seharusnya.

    “Tidak usah, aku mau ke belakang dan tidur setelah ini. Kamu nonton saja di situ, gambarnya lumayan jelas. Aku juga sering nonton kalau lagi ada pasangan ngewe.” Kata Pak Bejo sambil menyalakan layar CCTV, suara desahan terdengar cukup keras ketika suara dikencangkan. Pak Bejo tergelak ketawa, “Itu Pak Dahlan sedang ngentotin kembang baruku, masih muda dan cantik. Kamu kenal Pak Dahlan kan?”

    “Tahu, Pak. Dosen di Universitas X. Saya kan juga kuliah di sana, cuma beda jurusan. Pakde Kobar yang cerita.”

    “Iya betul. Ya sudah, nonton saja.”

    “Iya, Pak. Terima kasih.”

    “Aku tinggal dulu ya,” kata Pak Bejo sambil menenggak birnya sekali lagi.

    “Iya Pak.”

    Udin mengeluskan telapak tangannya mengusir dingin, ini nih! Nonton live show! Seru!

    Layar CCTV itu berwarna dan memiliki suara yang jernih walaupun hanya bisa ditonton melalui sebuah tv berukuran 14”, tapi bagi Udin semua jadi serasa high-def karena dia ingin sekali menyaksikan live show seks semacam ini. Udin cekikikan melihat di layar ada seorang pria yang sudah berumur menggumuli seorang gadis yang sepertinya cukup cantik dan muda belia.

    Ya, gadis itu sangat cantik. Terlalu cantik malah untuk pria seperti Pak Dahlan, wajahnya yang cantik itu…

    Udin memicingkan matanya, kenapa kok rasanya dia mengenal gadis itu ya? Pernah lihat dimana ya? Seperti…

    Udin terbelalak kaget!

    ITU KAN ANISSA??!!

    Lampunya redup, tapi Udin bisa melihat dengan jelas. Gadis yang sangat ia kenal, yang pernah mengisi relung hatinya, yang membuatnya tak bisa tidur siang malam, yang ia inginkan seumur hidup, yang ingin ia jadikan ibu dari anak – anaknya, gadis yang ia cintai… bagaimana mungkin gadis itu sekarang berada di sana sedang bergumul tanpa busana dengan Pak Dahlan?!

    Tak salah lagi, ia hapal benar wajah dan lekuk tubuh Anis! Benar itu Anissa! Anissa ada di sana! Terbaring telanjang di samping Pak Dahlan, salah seorang dosen Universitas X. Tangan Anis bergerak lincah menyusuri penis Pak Dahlan dan mengocoknya pelan sementara dosen itu memainkan payudara Anissa dengan bebas.

    Udin benar – benar terkejut, dia tak mampu menggerakkan badan sedikitpun.

    Bangsat tua itu!! Apa ia lakukan pada Anissa?!

    Namun Udin perlahan menyadari, Anissa tidak seperti terpaksa melakukan ini semua, dia diam saja dan menerima perlakuan Pak Dahlan dengan pasrah, bahkan terkadang membalas perlakukan pria tua itu dengan lembut.

    Apakah… apakah Anis sebenarnya adalah seorang pelacur?

    Tidak mungkin.

    Tidak mungkin…

    Tidak mungkin!

    Tidak mungkin itu Anissa?!!!

    Walaupun besar keinginan Udin untuk mengingkari perasaannya bahwa gadis yang tengah bergumul dan berpagutan dengan Pak Dahlan di ruangan itu adalah Anissa, namun setelah detik demi detik berlalu untuk memastikan gerak tubuh yang sangat ia hapal itu memang benar yang ia kenal, Udin semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis itu memang benar Anissa.

    Jemari Pak Dahlan terus saja memainkan puting susu Anissa dengan bebasnya, gadis itu menggelinjang karena rangsangan yang terus ia terima. Pak Dahlan tak berlama – lama di sana, tangan dosen tua itu akhirnya sampai di bibir kemaluan Anis.

    “Ja, jangan, Pak…” protes si cantik itu ketakutan.

    Pak Dahlan tentunya tidak mau berhenti begitu saja, jari tengahnya dengan lembut mengelus ujung kelentit Anissa.

    “Sa, saya puaskan cuma pakai tangan saja boleh, Pak?” Anis masih terdengar takut.

    “Aku mau merasakan memekmu.” Tangan dosen itu menangkup kemaluan Anis yang merekah merah dengan malu.

    Anissa mendesah ketika jemari Pak Dahlan makin nakal, membuat si cantik itu mau tak mau membuka jenjang kakinya lebar. Salah satu tangan Anis mencoba menahan jemari Pak Dahlan agar tidak terus menerus menggoyang kelentitnya yang makin membuat Anissa gila.

    “Ja, jangan… pak…”

    Pak Dahlan tidak menjawab, bibirnyalah yang bergerak maju untuk mencium bibir mungil Anis. Udin tidak bisa mendengar bunyi ciuman mereka dari tempat ia menonton, tapi ia seakan bisa mendengar kecupan yang berkecipak cukup keras, basah dan lengket. Jelas mereka melakukannya dengan mulut yang terbuka. Tangan Pak Dahlan makin maju, kini masuk ke dalam liang cinta Anis dan bergerak memutar di dalam. Pemandangan ini, suara desahan yang kian lama terdengar makin keras dari keduanya, membuat Udin makin panas, ia tak bisa bergerak sedikitpun.

    Udin bersumpah ia bisa melihat jempol Pak Dahlan bergerak untuk menstimulasi kelentit Anis menggantikan jari tengahnya yang kini masuk ke dalam memek Anissa menemani jari telunjuknya. Kaki Anissa yang jenjang ditekuk lututnya ke kanan dan kiri untuk memudahkan Pak Dahlan bermain. Bahkan pantat Anis pun kini bergerak seiring dengan gerakan jemari nakal Pak Dahlan. Udin bahkan bisa melihat saat Pak Dahlan membuka bibir kemaluan si cantik itu lebar – lebar untuk memperlihatkan bagian dalam liang yang berwarna merah muda. Udin gemetar, itu adalah bibir kemaluan gadis yang ia cintai!

    Detak jantung Udin makin lama makin keras, ia tidak tau apakah sebaiknya menangis atau berteriak. Ia tidak rela Anissa diperlakukan seperti ini, namun ia juga tak bisa mengingkari kalau pemandangan ini membuatnya terangsang hebat. Udin hanya bisa terpaku karena tak percaya apa yang ia lihat, ia bahkan tak percaya ia masih bisa bernafas setelah melihat semua ini.

    Tangan Pak Dahlan kini bergerak dari bawah ke atas kembali, mengincar buah dada sempurna milik Anis, ia meremas – remas kenyal payudara itu dan memilin pentilnya yang mungil. Ia tak lama melakukannya karena kemudian salah satu tangannya segera membimbing penisnya yang sudah mengeras ke bibir kemaluan Anissa. Udin bisa melihat kalau Anis ketakutan melihat penis itu mulai bergerak tanpa henti di mulut vaginanya, benar saja, dengan satu sodokan tanpa aba – aba Pak Dahlan melesakkan kontolnya ke dalam memek Anissa, membelahnya tanpa ampun, Anis hanya bisa menjerit karena sakit. Udin gemetar karena marah dan cemburu, pria itu tak pantas menyetubuhi Anis! Ia tak rela penis Pak Dahlan masuk ke dalam vagina Anissa yang ia cintai! Tapi… tapi pemandangan ini membuatnya… sangat panas… emosi dan nafsu Udin berbaur menjadi satu menimbulkan percikan perasaan yang tak bisa ia gambarkan.

    Bibir kemaluan Anissa merekah menyambut penis Pak Dahlan yang keluar masuk tanpa ampun, bergerak cepat penuh tuntutan. Tubuh Udin gemetar antara tak tega melihat Anis diperlakukan seperti itu dan nafsu birahi binatang yang menggelegak dalam tubuhnya. Gadis yang cantik itu, yang jadi pujaan di kampus, yang telah bertunangan dengan seorang pria yang baik, sedang digauli oleh seorang serigala tua yang buas. Udin masih terus menatap tak percaya.

    Ujung gundul penis Pak Dahlan menumbuk Anissa seperti pejuang yang hendak meruntuhkan tembok pertahanan musuh, cepat dan keras, tubuh Anis berulangkali terlonjak antara rasa sakit dan desakan yang sangat keras dari bawah. Udin sadar tak ada gunanya ia memprotes apa yang terjadi. Dalam alam bawah sadarnya ia ingin ini terjadi, ia ingin Anissa yang telah menolaknya itu dihakimi dan direndahkan seperti ini. Namun kecipak ciuman yang terjadi antara dosen dan mahasiswi dengan rentang usia jauh itu membuat Udin sakit hati.

    Kenapa bukan dia yang ada di sana memeluk sang buah hati?

    Kenapa bukan dia yang ada di sana mencium Anissa?

    “Kamu manis sekali.” kata Pak Dahlan yang masih memeluk Anis.

    Pak Dahlan mencium bibir Anis sekali lagi dan membisikkan beberapa kata yang terlalu pelan bagi Udin untuk bisa mendengarkannya. Tapi ia bisa melihat dengan jelas penis Pak Dahlan masih terus keluar masuk, menguasai vagina Anissa.

    Yang bisa didengarkan Udin adalah suara erangan penuh nafsu yang dikeluarkan dari mulut manis Anissa. Gadis itu mendesah, mengembik dan mengerang ketika penis lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu menguasai liang cintanya yang mungil.

    Air mata hampir menetes di pelupuk mata Udin.

    Sudah cukup. Sepertinya itu semua sudah cukup, batin Udin sambil berdiri dan mematikan TV. Ia tidak butuh melihat ini lebih lama lagi. Ia berhenti bukan karena ia tidak ingin melihat kemolekan Anissa, ia berhenti karena tidak kuat menahan gejolak cemburu dan nafsu yang terus menggelegak dan memangsanya dari dalam. Dengan pilu Udin meninggalkan tempatnya menonton. Pedih rasanya melihat Anissa seperti itu. Kenapa, Nis? Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu jatuh ke dalam situsasi hina seperti itu? Apa yang telah terjadi?

    Tangan pemuda itu terkepal dan nafasnya menjadi tak teratur.

    Ya. Udin tahu apa yang ia inginkan.

    Bukan. Ia tidak menginginkan jawaban kenapa Anissa berbuat demikian.

    Yang ia inginkan adalah Anissa. Ia ingin tubuh indah itu jadi miliknya.

    Ketika ia kembali ke ruangan tempat Pak Kobar, Pak Bejo dan Imron berada, mereka masih saja bersenda gurau dan bermabuk-mabukan. Udin menolak tawaran bir, duduk di pojok dan langsung memeras otak. Besok dia harus bicara dari hati ke hati dengan Anissa.

    Oh ya, hati – hatilah Anissa.

    Udin yang baru telah datang.

    …dan kamu akan membayar mahal atas semua ini.

    ###



    TO BE CONTINUED TO RYT 11 PART B
     
    candiwalang likes this.
  17. lexlee

    lexlee Member

    *********************************

    STANDARD DISCLAIMER


    Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non – konsensual (normal ataupun paksaan). Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal – hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita milik penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.


    Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita saya lagi sampai sembuh.


    Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu, kita yang bikin loe yang dapet duit, enak aja. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini. Kita udah capek - capek bikin, tolong hormati dikit ya.


    Copyright (c) 2011 Pujangga Binal & Friends. Special Script & Credits : Jay, LustInc, L’esp, Liboy. (Thank you all for your support & permission!)

    *********************************


    SERIAL: RANJANG YANG TERNODA

    BAGIAN SEBELAS B (PART 11(b) OF 12)



    ANISSA TERANIAYA

    Oleh Pujangga Binal & Friends



    Burung – burung berkicau di pagi yang indah, matahari bersinar terang dan hembusan angin sepoi membuat pagi itu terasa sejuk. Terlebih di Kampus X yang mahasiswanya sedang mempersiapkan diri untuk masuk kelas, sejuknya angin menjadikan suasana menjadi lebih tenang dan damai.

    Dodit yang saat itu mengantarkan Anissa tengah duduk – duduk bersama tunangannya dan juga Ussy dan Udin. Sebenarnya Udin tidak diundang ke dalam percakapan mereka, tapi tentu saja ketiga kawan lain tidak mungkin menolak kehadiran pemuda aneh itu. seperti biasa, dia selalu bergabung sambil mengucapkan puisi – puisi gombal yang membuat Dodit, Ussy dan Anissa menahan tawa.

    Anissa masih belum berubah, sikapnya sama dengan kemarin, dia masih menjadi sosok yang pendiam dan hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata saja. Dodit sampai kebingungan dibuatnya. Ia melihat jam tangan dan menggelengkan kepala.

    “Aduh, sudah waktunya aku pergi. Aku pamit dulu ya, sayang.” Kata Dodit sambil menepuk punggung tangan Anissa dan mencium kening kekasihnya itu. Anis hanya mengangguk dan tersenyum seulas. Tidak kurang dan tidak lebih. Udin melengos dan menghembuskan nafas karena cemburu melihat kedekatan mereka berdua.

    “Dodit! Kamu mau lewat mana?” tanya Ussy tiba – tiba.

    “Aku.. mungkin lewat pintu timur, kenapa?”

    “Ah, kebetulan! Aku numpang sampai gerbang boleh?” Ussy menggoyangkan gulungan kertas yang isinya cukup banyak. “Aku harus fotokopi catatan kuliah ini semua rangkap lima.”

    Dodit tersenyum, “tentu saja boleh. Yuk.”

    “Oke, eh aku pinjam dulu tunanganmu, ya? Janji tidak akan lama, hi hi…” Ussy melambaikan tangan pada Anis dan Udin yang langsung disambut anggukan Anis dan senyum lebar Udin. Setelah Ussy dan tunangannya pergi, Anissa seperti tidak peduli dan membalikkan tubuh.

    Senyuman Udin semakin lebar, tentu tidak ada yang memperhatikannya.

    Dodit dan Ussy berjalan beriringan, sebenarnya kepergian dengan Dodit ini hanya alasan Ussy saja karena ia butuh waktu untuk membicarakan sesuatu dengan tunangan sahabatnya itu. “Dodit, kamu tahu tidak sikap Anissa akhir – akhir sangat aneh.” Kata Ussy saat mereka sudah jauh dari posisi Anis dan Udin.

    Dodit menundukkan kepala dan memainkan kunci mobilnya dengan kaku, “aku tahu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dia bersikap demikian. Sepertinya aku tidak pernah berbuat salah kepadanya.”

    Ussy menelengkan kepala, “kamu yakin kamu tidak pernah berbuat salah? Yang di sana itu bukan Anissa, dia bagaikan gadis asing yang tidak kita kenal sama sekali! Pasti ada sesuatu!”

    “Aku juga tahu, tapi sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.” Dodit sempat menengok ke belakang untuk melihat Anissa, namun terhalang rindang pepohonan taman di depan kantin tempat tadi mereka duduk – duduk, ia menghela nafas dan menggelengkan kepala. “Entahlah, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu, tapi Anis itu tertutup sekali.”

    Ussy ikut menghela nafas sedih, “yang sabar ya. Aku juga kehilangan Anissa yang dulu.”

    Dodit tersenyum pahit.

    Ketika Ussy dan Dodit melangkah pergi, Anis juga melakukan hal yang sama menuju kelas, namun ke arah yang berlainan.

    Ia diikuti oleh Udin.

    Udin berkali – kali melihat ke arah belakang untuk memastikan Ussy dan Dodit sudah hilang dari pandangan dan ketika saat itu tiba, Udin memanggil gadis jelita disampingnya dengan pelan.

    “Nis…”

    Anissa menengok ke samping dan melihat ke arah Udin. “Ya, Din?”

    Tapi Udin diam saja, ia bukannya menjawab malah menikmati kecantikan Anissa seperti hendak menelannya hidup – hidup. Dari atas, dari ujung rambut yang indah, hingga ke bawah, melalui lekuk tubuh yang seksi dalam balutan pakaian sederhana dan jeans ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh yang indah.

    Pandangan mata Udin sangat menghina, membuat Anissa menjadi jengah. Ia mencoba menghindari tatapan Udin dan melangkah menjauh. Tapi Udin mengejarnya dan memaksakan diri untuk bertatapan muka kembali dengan sang dara jelita itu. Anissa mengerutkan kening, mempertanyakan sikap Udin yang aneh ini.

    “Ada yang ingin kamu katakan, Din?”

    “Aku tahu rahasiamu… Anissa…”

    “Apa maksudmu?” Anis menghela nafas, mau apa lagi anak satu ini? Apa sih yang sudah diketahui Udin? Apakah…

    “Semalam… di hotel melati X.. aku melihat…”

    Mata Anis mulai terbelalak terbuka, tidak mungkin…!

    “…kamu… sedang berduaan dengan Pak Dahlan…”

    Kini mulut Anissa yang terbuka lebar, jantungnya seakan berhenti berdenyut dan nafasnya menjadi sangat berat! Udin tahu??!! Bagaimana dia bisa tahu?? Aduh, bagaimana ini?!! Dengan ketakutan dan panik Anis mencoba mencari alasan. “I…itu bukan aku! Aku semalam ada di ru-… rumah!”

    “Oh ya? Kalian ada di kamar nomer XXX dan bercinta hingga larut malam sampai Pak Dahlan mengantarkanmu pulang. Semalam kamu meninggalkan tas di ruangan penjaga hotel dan aku sempat membuka tas itu untuk mengambil sepucuk kartu mahasiswa sebagai bukti seandainya aku bertemu dengan pemiliknya…”

    Keringat Anis turun deras.

    “Ini punyamu, kan?” Udin mengeluarkan kartu mahasiswa Anissa dari kantong bajunya.

    Kepala Anissa berputar dan pandangan matanya berkunang – kunang. Pantas saja ia tidak bisa menemukan kartu itu tadi pagi! Anis duduk di kursi beton yang ada di belakang mereka dengan hempasan tubuh yang pasrah. Kepalanya menunduk dan tangannya digunakan untuk menyandarkan kening. “Apa maumu, Din?”

    Udin terkekeh sambil duduk di samping Anissa, “Oh aku tidak mau apa – apa. Aku hanya ingin mendapatkan penjelasan darimu.”

    “Penjelasan?”

    Udin meremas – remas jemari Anis dengan gemas, membuat gadis itu merasa risih. Ia menyentakkan tangan Udin dan menatapnya galak.

    “Maumu apa sih, Din? Jangan kurang ajar ya! Awas kamu!” desis Anissa dengan jengkel.

    “Aku hanya butuh waktu untuk berdua saja denganmu dan mendengarkan penjelasanmu tentang apa yang terjadi semalam di Hotel X! Bukan hal yang susah kau iyakan karena selama ini kamu juga sudah melayani banyak lelaki lain.” Bisik Udin dengan pandangan mata yang sangat merendahkan. Sambil mengutarakan maksudnya, tangan Udin tak henti bergerak menelusuri lekuk tubuh Anissa yang aduhai.

    Mata Anissa terbelalak kaget! Bagaimana Udin bisa tahu…

    “Pak Kobar adalah pakdeku, Nis! Aku tahu apa yang kamu lakukan semalam dengan Pak Bejo, Pak Dahlan dan Om Imron! Siapa yang mengira, Nis. Di balik penampilanmu yang sopan dan santun, ternyata kamu adalah seorang pelacur!”

    Langit seakan runtuh menimpa kepala Anissa! Ia kaget setengah mati, tidak saja karena Udin mengetahui rahasianya, melainkan juga karena Udin mengatainya pelacur!

    “Kurang ajar kamu, Udin! Aku melakukan itu semua karena terpaksa! Aku ini bukan pelacur!”

    “Entah bagaimana aku harus menghitung sakit hatiku, Nis.” Udin menunjukkan wajah sedih dan geram. “Yang pertama? Aku selama ini selalu memujamu, menganggapmu suci, menganggapmu sebagai wanita terindah yang jauh dari nista. Kenyataannya? Kamu tak ubahnya lonte pinggir terminal yang hobi mengobral vagina. Selama ini aku mengalah dari Dodit karena aku pikir kalian adalah pasangan serasi. Ternyata…”

    “Sudah aku bilang aku melakukannya karena terpaksa, Din! Walaupun tubuhku pernah dijamah lelaki lain, hatiku selalu dan selamanya akan menjadi milik Dodit.”

    “Tapi justru di situlah sakit hatiku yang kedua, Nis.” Udin masih tak bergeming, matanya berkaca – kaca. “sejujurnya, aku mencintaimu. Aku tak rela kamu dimiliki siapapun kecuali aku. Menyaksikanmu disetubuhi orang lain membuatku sakit, Nis. Sangat sakit. Melihatmu berdua dengan Dodit membuatku ingin mengiris urat nadiku sendiri. Setiap kali aku melihatmu, setiap kali pula aku cemburu.”

    Anissa seperti dihantam palu raksasa yang meluluhlantakkan hati dan perasaannya. “Kamu… mencintaiku…?”

    “Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk bersamamu berdua saja.”

    Anissa menunduk dan airmatanya membayang, demi dewa…kapan ini semua akan berakhir? Kenapa semua orang menginginkannya? Apa kelebihannya? Dia hanya gadis biasa saja! Hanya karena dia cantik?! Hanya karena dia seksi?! Dia hanya gadis biasa saja! Kenapa semua orang ingin mendekatinya dengan alasan yang dibuat – buat? Apakah mereka tidak sadar bahwa dia bukanlah seonggok daging yang tak berperasaan? Dia juga manusia!

    “Bagaimana, lonteku sayang?”

    “Sekali lagi kau panggil aku seperti dan aku akan…”

    “Apa?” tantang Udin, “kamu mau apa? Apa hah? Lonte ya lonte!”

    Air mata menggenang deras di ujung mata Anissa, “baik! Kalau itu maumu! Aku memang lonte! Aku lonte terkutuk! Pelacur murahan! Kamu mau tubuhku? Aku beri! Kamu mau aku telanjang sekarang? Bisa! Di depan semua orang ini aku akan telanjang! Aku akan beri kamu kenikmatan! Itu mau kamu, kan?”

    “Malah nyolot! Siapa bilang aku mau tubuhmu?! Aku hanya ingin penjelasanmu!” Udin makin marah, ia menengok ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada teman yang menyaksikan pertengkaran mereka. “Oke! Kalau itu maumu! Ikut aku sekarang juga ke losmen di utara kampus! Kita pesan short time agar bisa bicara dari hati ke hati tanpa gangguan seorangpun! Kita bicara terus terang dan selesaikan semuanya di sana!!”

    Anissa yang tak berdaya ditarik dengan kasar oleh Udin, kenapa harus ke losmen? Apa yang harus dilakukannya? Sepertinya semua keputusannya selalu salah. Keadaan bukannya semakin membaik, melainkan justru bertambah parah. Kini dia harus menuruti apa permintaan Udin karena kalau tidak Udin akan menyebarkan aibnya dan orang – orang di kampus ini akan mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu. Anis menatap geram ke arah Udin.

    ###

    Anissa melelehkan air mata ketika Udin memeluknya dari belakang dan memberi kehangatan. Udin mengecup pundak Anis yang berpeluh. Ia kagum pada gadis bertubuh indah ini, lihat saja kulitnya yang putih dan mulus ini, bahkan air keringatpun meluncur menuruni pundaknya seakan tak mampu berpijak. Tak ingin rasanya Udin melepas tubuh Anis, ia ingin selalu memeluknya. Udin membelai seluruh tubuh Anissa dari belakang dengan penuh kelembutan dan rasa cinta.

    Tanpa disadari Udin, lelehan air mata Anis menetes dari kelopaknya yang memerah. Seumur hidupnya, Anis tak pernah membayangkan ia akan melayani Udin bermain cinta seperti ini. Tidak saja pernah membayangkan, ia sebenarnya tidak akan sudi melayani Udin seandainya saja tidak seperti ini keadaannya. Dunia seakan gelap bagi Anis, makin lama makin gelap.

    Bahrudin atau Udin, selalu membayangkan Anissa setiap kali dia bermasturbasi di kamar mandi paling tidak seminggu tiga kali. Bulat pantat yang bergoyang menggoda setiap kali Anis berjalan didepannya, paha mulus milik kaki jenjang yang sering diperlihatkan saat Anis mengenakan hot pants, rambut panjang halus yang sebelumnya dia pikir hanya bisa dimiliki oleh seorang model iklan shampoo, kulit mulus seputih pualam yang halus licin, satu tubuh sempurna seorang wanita jelita yang layaknya bidadari khayangan. Dulu sekali, desakan dada kenyal Anis yang menumpuk dada Udin saat mereka berpelukan pada acara ulang tahun gadis jelita itu membuat batang kemaluannya tegang tak mau turun untuk beberapa saat lamanya, kini Udin bisa memeluknya lebih lama.

    “Kenapa kamu melakukannya, Nis?” tanya Udin dengan suara parau. Nafsunya sudah menggelegak tapi ia mencoba bertahan demi berbincang sejenak.

    Anissa yang kebingungan tergagap mencoba menjelaskan duduk masalahnya, “I.. ini.. itu.. maksudku, apa yang… apa yang aku lakukan tidak… tidak seperti.. yang kau bayangkan, Din.”

    “Apa maksudmu tidak seperti yang aku bayangkan? Coba saja kamu menemui teman baikmu sedang bergumul dengan laki – laki lain yang bukan suaminya, bahkan bukan tunangannya.. bermain cinta semalam suntuk! Apa menurutmu yang aku bayangkan?” gertak Udin.

    “A..aku tidak bercinta,” Anissa mencoba bertahan, nada suaranya bergetar karena takut, “aku dipaksa.. aku terpaksa melakukannya karena.. karena orang itu menyimpan.. gambar dan videoku! Orang itu..”

    Udin menatap gadis itu tanpa perasaan iba sedikitpun, membuat Anissa kian turun mental dan percaya diri. “Sekarang coba jawab pertanyaan mudah ini, Nis.” Kata Udin tegas. “Benar atau tidak kamu sudah tidur dengan laki – laki lain yang bukan suami, tunangan bahkan pacar kamu? Mudah kan jawabannya? Benar atau tidak?”

    “Aku tahu, Din! Aku tahu! Aku tahu aku mengacaukan semuanya!” suara Anis makin terdengar getarannya, ia memohon dengan putus asa, “tapi aku akan memperbaiki semuanya, begitu gambar dan video itu dihapus, aku akan baik – baik saja, semua akan baik – baik saja, Dodit tidak perlu tahu.”

    “BODOH!” bentak Udin.

    Bentakan pemuda itu membuat Anissa melompat karena kaget, ia tidak menduga Udin akan mengeluarkan suara sekeras itu. Bibir bawah Anissa bergetar, matanya yang bulat, besar dan indah kini mulai mengambangkan air mata, Anissa gemetar di hadapan Udin, wajahnya yang jelita memerah karena perasaan bersalah, ia bagaikan tengah dihakimi. Batang kejantanan Udin justru makin menegak melihat gadis yang sudah pasrah ini.

    “Yang namanya pengkhianatan tidak ada alasan. Kamu sudah berkhianat atas cintamu pada Dodit, aku seharusnya menghubunginya untuk…”

    “Jangan! Jangan, Din! Aku mohon! Aku mohon!!” Anissa mengangkat tangannya untuk mencoba menahan Udin, karena lengannya mendesak dada dan menyempit, Udin bisa melihat buah dada Anissa seperti ditekan dan menghunjuk ke depan dengan indahnya. Gila, Anissa memang benar – benar gadis yang teramat seksi.

    “Jangan, jangan lakukan itu, Din! A..aku harus pulang, aku akan pulang dan tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, aku janji perbuatan terkutuk itu memang harus dihentikan..”

    “BODOH LAGI!” kembali Udin membentak Anissa. Ia kini benar – benar memuncak emosinya, “kamu sadar tidak semua sudah terlambat? Yang kamu hadapi itu orang – orang berbahaya yang tidak bisa dianggap main – main! Seharusnya dari dulu kamu sudah lapor polisi! Sekarang lihat apa yang terjadi! Kamu sadar tidak pada kebodohanmu?” Udin membalikkan badan dan mencoba meraih telepon genggam yang ia letakkan di meja. Anissa yang terkejut segera mengejar Udin, membalikkan tubuhnya dan menahan tangannya.

    “Bahrudin! Jangan, Din. Aku mohon!!! Aku benar – benar mohon padamu, jangan ceritakan semua ini pada Dodit! Jangan pernah! A..Aku sangat mencintainya, Din! Aku sangat – sangat – sangat mencintainya! Jangan biarkan dia tahu aku telah menjadi wanita yang hina seperti ini! Jangan biarkan hatinya hancur, Din!! Aku mohon!” bola mata indah milik Anissa menjadi sangat sayu saat ia meratap memohon agar Udin tidak menghubungi tunangannya, ia bahkan memanggil Udin dengan nama lengkap tanpa sadar.

    Udin menatap gadis itu iba, ia bisa merasakan nafas berbau mint yang segar dari mulut sang dara dan tetesan keringat membasahi belahan buah dada gadis jelita itu. Tubuh seksi itu kini hampir – hampir memeluk Udin, memohon dengan putus asa. Tanpa perlu dipinta, Udin sebenarnya tidak ingin melaporkan apapun pada siapapun, ia sangat mencintai Anissa, bahkan mungkin lebih dari apa yang ia sendiri bayangkan. Tapi kini rasa sayang itu berubah menjadi nafsu berlipat ganda. Udin mengangkat tangannya dan menyentuh kulit mulus Anissa, lembut dan perlahan ia memainkan jemarinya menelusuri keindahan lekuk tubuh sang dara, mulai dari kerongkongannya hingga ke atas balon buah dada Anissa. Degup jantungnya yang berdetak menghentak berulang kali dalam diri Udin, pikirannya seperti terbang tanpa tujuan, rasionalitasnya terpinggirkan oleh nafsu birahi menggelegak. Satu – satunya yang Udin inginkan sekarang adalah membuka pakaian yang dikenakan Anissa dan menikmati keindahan buah dada gadis itu!

    “U..Udin? ka – kamu ngapain?” kepanikan Anissa membuatnya tergagap, ia benar – benar terkejut melihat kelakuan Udin ini hingga kalimat yang ia ucapkan menjadi terpatah – patah.

    Udin memandangi wajah bingung Anissa sembari menggerakkan tangan yang makin berani, ia kini meremas – remas buah dadanya tanpa peduli. “Kamu bukan orang bodoh, Nis. Kamu tahu pasti apa yang aku lakukan.” Katanya dengan dingin. Melihat Anissa panik dan tak berdaya membuatnya merasa iba, namun di saat yang bersamaan Udin bisa merasakan adik kecil yang ada diselangkangannya justru kian mengeras. “Kamu tahu apa yang akan aku lakukan dan kamu juga tahu tidak ada gunanya melawan. Kenapa? Karena kamu tahu aku memiliki apa yang kamu tahu tidak sepantasnya aku miliki.”

    Udin tidak percaya ia mampu mengucapkan kata – kata ancaman pada gadis yang ia cintai itu. Sejak ia mengenal Anissa, Udin hanya bisa melihatnya dari kejauhan, mengaguminya dan memimpikannya. Ia cemburu saat Anis dan Dodit saling berpelukan mesra, ia cemburu ketika pria lain mengajak gadis itu berbincang atau mengelus bagian tubuhnya pelan. Kini ia bebas menyelipkan jemari ke dalam belahan tengah buah dada Anissa untuk membuat gadis itu sadar siapa yang saat ini menguasainya.

    “Ta…tapi, Din. Kita tidak bisa.. kamu tidak boleh… maksudku kita tidak bisa..” wajah Anissa memerah karena ia tidak sanggup mengucapkan kata yang tepat yang ingin disampaikan. Ia yakin Udin tahu apa maksudnya. “Kita tidak bisa, Din… aku yakin kamu bukan orang seperti itu!”

    “Aku tidak perlu membuktikan apapun pada seorang pengkhianat. Kamu sudah mengkhianati cinta Dodit dan aku bisa saja datang kepadanya membawa bukti yang kuat. Kalian akan berpisah, namamu akan cemar, orangtuamu mungkin bisa sakit keras dan kamu hanya akan dianggap sebagai pelacur jalanan. Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu seperti kamu selama ini tidak peduli padaku.” Udin merespon dengan ketus, tangannya yang bebas mengangkat hape. “Kalau kamu pikir aku bohong, aku bisa menelpon dia kapan saja aku mau untuk menceritakan pelacur kecil yang mengaku sebagai tunangannya.” Udin yakin sekali ancaman ini akan mengena tepat di hati Anis, menohok si cantik yang tak sanggup mengatakan apa yang telah terjadi kepada tunangannya dengan jujur. Dengan berani Udin memainkan telunjuknya untuk merunut kulit mulus Anissa mulai dari belahan dada yang menggiurkan naik hingga ke rahangnya yang mulus. Mereka berdua sama – sama terengah – engah dan Udin tahu Anissa menatapnya dengan panik.

    “Ja..jangan… jangan telepon.” Desah Anissa lirih. “Apa yang kamu inginkan?”

    “Buka bajumu.” Hanya dengan mengatakan itu saja penis Udin menggeliat mengeras, membayangkan tubuh indah wanita secantik Anis tanpa sehelai benangpun membuat teman kuliah Anis itu terangsang hebat. Anis ragu – ragu melakukan apa yang diminta Udin itu, membuat pemuda itu sedikit naik pitam. “Apa yang kamu tunggu? Cepat buka bajumu!”

    Anissa masih ragu – ragu dan mempertimbangkan beberapa hal dalam benaknya untuk beberapa saat, namun ia kemudian membuka kancing bajunya dan segera memperlihatkan sebentuk buah dada sempurna yang kenyal dan empuk. Gadis jelita itu melempar bajunya ke lantai dan menatap Udin tajam, teman kampusnya itu tidak bergerak dan melihat keindahan tubuh bagian atas milik Anissa tanpa berkedip. Perut gadis itu amat tipis, langsing, rata dan seksi sementara payudaranya yang menjulang naik bagai menantang dengan bulat sempurna dan pentil susu yang menjorok keluar hingga membayang di beha mungil berwarna gelap yang dikenakan si cantik itu. Udin meletakkan hape dan mulai beraksi meraba payudara ranum milik Anissa.

    Anissa memejamkan mata dan mendesah panjang saat jemari Udin mengelus dan meremas – remas payudaranya, merasakan buah dada besar itu dalam genggaman tangannya. Udin bisa melihat wajah kacau Anis saat tangan – tangan Udin yang kasar bersentuhan dengan kulit mulus di sekitar balon buah dada Anissa. Dengan tangan gemetar Udin melepas kaitan beha sang dara jelita yang kini wajahnya memerah antara malu dan gelisah.

    Udin seperti disadarkan pada apa yang tengah terjadi, gadis cantik yang selalu muncul dalam mimpi indahnya, dalam mimpi basahnya, dalam masturbasinya, kini hadir secara nyata, darah dan daging, telanjang dada. Menyadari Anissa kini berada dalam kekuasaannya Udin meremas payudara gadis itu lebih kencang lagi, membuat sang pemilik menjerit lirih karena kesakitan. “Susumu ini, Nis…membuatku.. tidak bisa.. ini indah sekali..” nafas Udin menjadi berat seiring nafsu yang semakin membebani batinnya.

    Cengkraman tangan Udin pada balon buah dada Anis membuat puting susu Anis kian lama kian mengeras seperti tutup botol yang menjorok keluar. Udin menciumi dan menjilati buah dada sempurna itu bergantian, merasakan kenyalnya keindahan susu sang bidadari jelita, membuat Anissa menggelinjang dan mengembik pelan. Udin mengoles puting susu Anis dengan jempolnya hingga keduanya benar – benar sampai menghunjuk ke atas. Tak tahan lagi, Udin turun ke bawah untuk melepas sisa pakaian yang dikenakan Anissa dan memperlihatkan tubuh indahnya.

    Anis mengerang pelan karena kebingungan, gadis itu menyilangkan tangan di depan payudaranya saat Udin melepas pelindung terakhirnya. Bulu kemaluan yang halus dan rapi membuat Udin kian kagum, ia berhenti sejenak untuk menikmati keindahan selangkangan Anis yang dipadu sempurna dengan paha mulus yang tidak saja enak dilihat tapi juga nyaman disentuh.

    Tak boleh disia – siakan begitu saja!

    Udin meremas bokong Anissa dengan kedua tangannya, menahan supaya gadis itu tak bergerak, lalu dengan tiba – tiba membenamkan kepalanya ke dalam selangkangan Anis! Mulut dan hidungnya tenggelam di silang kemaluan sementara lidahnya menyusur dan mencari.

    Anis terkejut setengah mati melihat kelakuan Udin ini! Si cantik itu mencoba meronta, mencoba membalikkan badan, mencoba menekan kepala Udin, namun semua sia – sia. Gerakan lidah Udin yang lincah memainkan bibir kemaluan Anissa membuat gadis itu menggelinjang hebat. Ampun! Ini enak sekali! Bagaimana ia bisa bertahan? Ia hanya gadis biasa! Tak bisa menolak kenikmatan seperti ini! Anissa yang tak bisa menemukan apapun sebagai pegangan, mencoba meraih sesuatu, tapi satu – satunya yang bisa ia lakukan adalah justru memegang bagian belakang kepala Udin dan menekannya agar masuk semakin dalam!

    Lidah Udin yang lincah bergerak mengitari bibir kemaluan Anissa, lalu naik hingga mencapai kelentitnya yang menjorok keluar. Rasanya benar – benar susah dibayangkan bagi Anissa. Ia merem melek tak karuan, tubuhnya bagai hancur lebur ditelan kenikmatan yang diberikan oleh Udin! Untuk beberapa saat Udin masih terus memainkan kelentit Anissa dengan pagutan, jilatan dan kuluman yang memabukkan hingga Anissa akhirnya melenguh panjang sebagai penanda kekalahan.

    Mendengar suara erangan Anissa yang pasrah, Udin berdiri dan mencumbu tunangan Dodit itu seperti sepasang kekasih. Gadis ini adalah tunangan orang lain dan kini ia bebas mengelus tubuhnya dan mencium bibirnya! Mereka berciuman lama, lidah dan bibir saling menaut menjadi satu kesatuan. Tangan Anissa kini bergerak bebas mengitari kepala dan pundak Udin menuntut sesuatu segera terjadi. Gadis itu rupanya sudah sangat pasrah dengan nasibnya. Udin melepaskan pagutannya dari mulut Anissa dan menatapnya dengan pandangan penuh nafsu birahi.

    “Jongkok.” Perintahnya singkat sambil mengelus pipi si cantik itu.

    Anissa tahu pasti si Udin kini ingin merasakan anunya disepong. Anissa turun ke bawah tanpa membantah sembari Udin melucuti celananya sendiri. Teman kuliah Anissa yang dijauhi banyak kawan itu kini berdiri telanjang dengan bangga di hadapan Anis dengan penis yang terhunus. Anissa jongkok di hadapan Udin, memandangi kemaluan Udin, dengan tangan gemetar Anis mulai menyentuh benda panjang yang agak lembek itu, merasakan ujung gundul dan batang kejantanan Udin dalam genggaman tangannya. Pemuda itu merasakan hembusan hangat nafas Anissa berada sangat dekat dengan batang kemaluannya. “Ayo anak manis, lakukan saja. Kamu sudah tahu apa yang aku inginkan.”

    Nafas Udin tertahan ketika Anissa membuka mulutnya yang mungil dan mulai menelan ujung gundul kemaluan Udin seperti hendak menelan bola lampu. Udin merem melek hanya membayangkannya saja, wanita termolek yang pernah ia cintai sedang menyepong kontolnya. Hangat dan basah membungkus batang kemaluannya, ia tidak peduli kalau si cantik ini sudah bertunangan dengan laki – laki lain yang juga ia kenal. Anis memandang ke atas, matanya yang indah menatap pria yang tak pantas ia kulum kemaluannya dengan pandangan tajam dan jengkel sementara mulutnya yang manis membuka lebar menangkup batang kemaluan Udin. Mata mereka berpadu, mata tajam Anis dengan mata Udin yang terbelalak lebar karena tak percaya bibir manis Anissa mengelus batang kemaluannya.

    Jemari Udin bermain di rambut indah Anissa dan ia mengangguk – angguk penuh nikmat. Si molek itu menggunakan pinggul Udin sebagai pegangan dan mulai mengulum kemaluan pemuda itu dengan berirama. Lidahnya menyusuri bagian tebal yang menggumpal di bagian bawah batang kejantanan Udin.

    “Gila, Nis..” pandangan mata Udin mengabur dengan sensasi kenikmatan yang bertubi. “kamu sudah sering melakukan ini ya? Enak gila..”

    Anissa diam saja, dia melanjutkan menghisap batang kejantanan Udin bagaikan permen lollypop yang rasanya sangat manis, lidah si cantik itu bergerak lincah mengukur batang dari ujung gundul hingga ke pangkal berbulunya. Beberapa kali Anissa harus memejamkan mata untuk menahan bau tak sedap yang ada di batang kemaluan Udin.

    Sekali – sekali Udin membantu Anissa dengan mendorong bagian belakang kepala si cantik itu dengan lembut agar bisa bergerak lebih cepat. Batang kemaluan Udin kian basah oleh ludah Anissa yang terus menerus dioleskan ke seluruh bagiannya. Suara kecipak mulut yang mengulum, pipi menggembung dan menipis, kenikmatan melihat wajah bidadari membuat Udin kian terangsang.

    Makin lama batang kemaluan itu makin melesak masuk dalam mulut si jelita, dengan lembut Udin menambah tekanan pada bagian belakang kepala Anis supaya gadis itu bergerak lebih cepat. Tidak ada yang bisa dijelaskan dari penis Udin yang ukurannya biasa – biasa saja, namun batang kelelakian Udin itu sangat keras seperti baja.

    Udin memandang takjub bagaimana helai – helai rambut Anissa turun menyentuh pundaknya yang mulus. Lebih turun lagi Udin bisa melihat balon buah dada si cantik itu bergelinjang ringan saat ia menjilati kejantanannya yang menegang. Udin memang bukan perjaka tulen, ia sudah pernah merasakan dan mencicipi pelacur murah yang ia beli di dekat pasar, tapi merasakan bibir manis Anis menaungi kemaluannya dan hangat mengatup batang zakarnya membuat Udin terbang ke langit ke tujuh. Anissa memang bidadari terindah, apalagi ini belum usai, dia masih akan merasakan bibir kewanitaan Anissa yang sangat ia inginkan melebihi apapun.

    Walaupun Udin merasakan rasa nyaman yang ingin ia perpanjang sepanjang hari saat penisnya berkuasa di mulut Anis, namun ia menarik batang kemaluannya dari bibir mungil itu dengan perlahan. Si cantik itu menatap Udin dengan tatapan meminta iba, seakan tak percaya ia baru saja mengulum batang kejantanan orang yang selama ini ia anggap kawan.

    “Seponganmu enaknya luar biasa,” puji Udin dengan jujur, semakin bernafsu setelah menerima rangsangan dari Anis, Udin berniat mendorong si cantik itu ke tempat tidur. Tapi pandangan mata pemuda itu tertumbuk pada satu cermin besar yang digantung di samping ranjang. Alih – alih dilempar ke ranjang, Anis dibimbing Udin ke lemari pakaian pendek yang ada di samping cermin.

    Udin mendorong tubuh Anis ke depan sehingga wajahnya menempel di atas lemari kecil itu. Pantat seksi si cantik itu menghunjuk ke belakang membuat siapapun yang melihatnya akan terangsang hebat. Udin tak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk menampar kedua pipi pantat Anis dengan telapak tangannya.

    “Aduuuh!” Anissa menjerit kecil, dia memandangi Udin dengan pandangan heran. “Sakit, Din! Kenapa ditampar?”

    Udin tidak menjawab, dia terus saja menekan punggung bagian bawah Anissa agar si cantik itu tetap menempel di lemari, posisi ini membuat kemaluan Udin mengeras karena tubuh Anissa jadi terlihat sangat seksi, terlebih lagi mulusnya pantat si cantik itu membuat Udin serasa tak ingin usai merabanya. Tiba – tiba saja Udin ingin sedikit menyakiti bokong Anissa sebelum ia menyetubuhinya. “Kamu ini benar – benar.. anak.. manis.. yang nakal.” Kata Udin sambil menampar bokong Anissa saat menyebutkan kata ‘anak’ dan ‘manis’, Anis mengembik kesakitan dan berusaha meronta. Tapi Udin memeganginya erat, “biar kutunjukkan padamu apa yang seharusnya dilakukan pada.. anak.. manis.. yang nakal!”

    Bokong Anis bergetar setiap kali telapak tangan Udin menamparnya, setiap tamparan pula, buah dada Anissa bergoyang – goyang. Cermin besar yang menggantung di samping tempat tidur menjadi saksi bisu pertemuan pandangan mata mereka. Ada cahaya redup penderitaan di wajah Anissa, tapi di bagian bawah, Udin bisa merasakan selangkangan si cantik itu mulai basah. “Menurutmu, apa yang akan terjadi? Apa yang dilakukan pada seorang anak manis yang nakal, Nis?”

    “..dihukum?” parau terdengar suara Anissa.

    “Benar sekali, aku akan menghukummu, manis. Aku akan memukul pantatmu pakai penggaris karena sudah nakal seperti yang dilakukan guru pada murid.” Kata Udin sambil tertawa, lelucon itu sama sekali tidak lucu bahkan kalimat yang melecehkan itu membuat Anissa semakin geram. Seluruh tubuh Anis bergetar hebat ketika Udin benar – benar memukul pantat Anissa menggunakan telapak tangannya, bukan rasa takut yang membuatnya gemetar, tapi rasa terhina. Si cantik itupun meneteskan air matanya. Udin yang melihat linangan air mata Anis menjadi segan. “Tidak mau disentuh bokongnya? Menurutmu, hukuman apa lagi yang tepat bagi orang sepertimu, Nis? Pelacur kecil yang senang berkhianat sepertimu?”

    Anissa menatap Udin dengan pandangan panik, baru kali ini ia melihat Udin begitu kasar dan jahat kepadanya, biasanya Udin memperlakukannya dengan sangat manis. Anissa menunduk takut, apalagi yang bisa ia lakukan kecuali menuruti permintaan temannya yang sudah hilang akal oleh nafsu birahi ini? Jawabannya jelas hanya satu itu.

    “…dientotin.” suara datar Anissa yang sudah pasrah menjadi musik indah bagi Udin.

    “Benar sekali. Mereka pantasnya dientotin sampai kapok.” Udin mengelus lekuk – lekuk indah pinggul Anissa. Udin menatap puas cermin besar di samping mereka yang memperlihatkan dirinya sedang meraba – raba tubuh indah bidadari yang selama ini mengisi mimpinya. Nafsu birahinya semakin menggelegak.

    Udin mendorong Anissa hingga berdiri dengan berjinjit, dengan kasar ia memisahkan kaki jenjang si cantik itu supaya melebar dan menekan ujung gundul batang kejantanannya ke dalam sela basah di selangkangan Anissa. Sembari terengah – engah Anis menengok ke belakang, wajahnya penuh dengan sejuta emosi. “Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini……”

    “Sekarang harus percaya.” Gumam Udin sembari menikmati saat yang sangat merangsang ketika bagian ujung gundul kemaluannya melesak perlahan ke dalam memek Anissa. Sedikit demi sedikit liang cinta Anis yang mungil itu menelan batang kontol Udin yang sudah keras seperti batang kayu. Anissa berusaha menahan jeritannya dengan menggemeretakkan gigi, matanya terpejam dan tubuhnya mengejang ketika merasakan ada benda asing memasuki liang cintanya.

    “Sudah percaya sekarang?” sindir Udin.

    Sodokan kemaluan Udin tidak lagi pelan dan lembut, ia menumbukkan batangnya ke dalam liang cinta Anis dengan kekuatan penuh hingga gadis itu bahkan sampai terangkat dan berjinjit tiap kali Udin melesakkan kemaluannya. Anissa berulangkali menjerit dan menggunakan pinggiran lemari yang ada di samping tempat tidur untuk menahan desakan dari Udin. Begitu bernafsunya Udin menggiling kemaluannya sehingga Anis berulang kali terangkat bahkan sampai hampir melayang. Sebenarnya Udin tidak sampai hati membuat Anissa kesakitan, tapi merasakan kemaluannya melesak masuk ke dalam vagina Anissa adalah mimpi yang menjadi kenyataan, sangat nikmat sekali.

    Udin menarik penisnya, mundur sedikit lalu dengan kekuatan penuh menyodokkannya lagi ke dalam hingga membuat Anis berulang kali menjerit. “Ogghh, gila… kamu bener – bener enakkkgg…” erang Udin keenakan. Kini tubuh Anis benar – benar menempel di lemari, ia tak bisa bergerak karena Udin terus saja mendesaknya tanpa ampun, keras, cepat dan kencang. Memek Anis yang mulai membanjir membuat Udin kian giat menggenjot penuh nafsu. Tiap kali Udin melesakkan penisnya, Anissa tidak bisa tidak menjerit dan mengerang.

    Dari cermin yang berada di samping ranjang, Udin bisa melihat buah dada Anissa bergoyang setiap kali ia menusuk – nusuk memek si cantik itu. Wajah Anis bersemu merah karena menahan campuran emosi yang hampir tak tertahan ia marah, sedih, geram namun juga merasa nikmat. Udin melihat dirinya sendiri di cermin itu, bukan seperti Udin biasanya, Udin yang dihina, Udin yang dihindari cewek – cewek atau Udin yang dikucilkan. Kini ia berubah menjadi Udin yang kuat, Udin penakluk dan Udin yang berhasil meniduri salah satu gadis paling didambakan lelaki di seantero kampus.

    Udin menekuk tubuhnya dan bersandar di punggung Anissa sembari terus menggoyang kemaluannya di dalam liang cinta tunangan Dodit itu, wajahnya yang menyebalkan diturunkan hingga menempel beberapa senti saja dari wajah Anis, membuat gadis itu muak dan memalingkan muka. “Kamu cantik sekali, Nis. Cantik dan seksi. Memekmu enak gila! Sempit banget!” Udin kembali mengerang – erang keenakan, membuat Anissa menjadi risih. “…kamu tidak pernah tahu, Nis. Kalau aku ingin melakukan ini sudah sejak lama sekali. Aku kira aku hanya bisa melakukannya dalam mimpi. Ka..kamu tahu itu?”

    “Yaaa…” Anis melenguh, “oooughhh… sakit sekali…!! jangan kasar – kasar!!”

    Kata – kata Anissa jelas tidak menghentikan niat Udin, justru makin membuatnya bernafsu. Pemuda itu mulai bermain – main. Ia menarik batang kemaluannya hingga hanya tertinggal ujung gundulnya di dalam liang cinta Anis, lalu setelah bertahan sebentar, ia menumbuk lagi dengan memberikan tekanan yang sangat hebat sampai – sampai Anissa terlempar ke ranjang.

    “Pegang kepala tempat tidurnya.” Perintah Udin, yang segera dituruti oleh Anissa yang merangkak dan menggunakan kepala tempat tidur sebagai pegangan sementara ia merenggangkan kaki kembali karena tadi penis Udin hampir keluar. “Duh, Anis…tahu nggak sih? Memekmu ini enak bangeeeeet!!”

    Tapi Anissa sendiri sebenarnya melakukan lebih dari apa yang diperkirakan Udin, untuk beberapa saat dia merintih dan meringkuk, lalu tiba – tiba saja satu tangannya beralih dari memegang kepala tempat tidur menuju selangkangannya sendiri. Untuk sejenak Anis berhenti saat ia sadar apa yang sedang ia lakukan, tapi Udin memegang pergelangan tangannya agar tidak urung turun, pemuda itu senang melihat Anis mulai terangsang dan menggiring jemari Anis untuk menyentuh kelentitnya sendiri.

    “Ayo sayang… enak sekali kan?” bisik Udin menggoda. “sentuh dirimu sendiri, biarkan kepuasan itu datang lebih cepat.”

    Di bawah bimbingan Udin, jemari Anis bergerak lincah menggosok selangkangannya sendiri. Tangan Udin sendiri kembali menekan bahu Anis sementara si cantik itu terangsang hebat sehingga ia bisa memusatkan perhatian penuh pada rasa nyaman yang ia rasakan pada batang kemaluannya.

    Anissa bukanlah bintang film porno atau pelacur yang sudah sangat sering bermain cinta, dia hanyalah seorang gadis yang terjerat oleh serigala – serigala pemangsa penuh nafsu. Walaupun sudah sering diperkosa oleh Pak Bejo dan pernah bermain cinta dengan Pak Doni atau Pak Dahlan, Anis tetaplah gadis biasa yang mudah dirangsang ketika bercinta. Gadis itu setahap demi setahap hampir mencapai puncak orgasmenya, lenguhannya yang berirama makin lama makin naik dan berubah menjadi teriakan dan jeritan tak tertahan. Seluruh tubuh Anis seakan menjadi menciut ketika jemari si cantik itu bermain sendiri di kelentitnya sementara memeknya tengah menerima sodokan penuh tenaga dari Udin, terasa sekali bagi Anissa betapa kuat cengkraman dinding liang kewanitaannya pada batang kemaluan pria yang tengah menyetubuhinya. Anissa hanya bisa merem melek menerima tusukan demi tusukan penuh nikmat yang menghentakkan tubuhnya. Sensasi itu, bersamaan dengan bergetarnya tubuh indah dan lengkingan kecil jerit kepuasan membahana di ruangan yang sempit, membawa Anissa ke puncak kenikmatan.

    Udin melepas pegangannya pada bahu Anissa dan menangkup buah dada si cantik itu yang membusung besar dengan puting susu yang tegap menjorok keluar, Udin menyingkirkan lengan Anis yang melindungi payudara itu dan meremasnya dengan sangat kuat seakan ingin mencairkan daging kenyal yang membuatnya sangat bernafsu itu. Anissa memang telah mencapai puncak, namun tubuhnya masih terus menghamba pada batang kemaluan Udin, banjir demi banjir pelumas dan cairan cinta bercampur menjadi satu sementara tubuh Anissa sendiri masih terus terhentak – hentak.

    Tekanan yang makin menghebat berkumpul di kantong kemaluan Udin yang membesar seperti sansak. Bagi Udin, kemaluannya terasa seperti hendak melepaskan ledakan hebat yang akan melontarkan dirinya dan Anis ke segala penjuru. Tubuhnya bergetar seperti gunung besar yang menyimpan tenaga untuk memuntahkan material vulkanik. Semua ototnya mengeras, matanya terpejam dan tangannya meremas kencang buah dada Anissa hingga si cantik itu menjerit kesakitan, sedikit lagi… sedikit lagi….. sedikit lagi……. dan ahhhhh!! Semprotan cairan cinta terlontar dari ujung gundul kemaluan Udin bagai pompa air yang baru saja dibuka. Kepala Udin sampai terlontar ke belakang dan ia melolong keenakan saat pejuhnya terlempar banjir demi banjir di dalam liang cinta gadis yang sangat seksi itu.

    “Arraaaaghhhhhhhhh! Aaaahhhhh!! Hhngggg!! Ooooowwwhh!!” Udin mengosongkan kantong kemaluannya sampai ke tetes terakhir sembari memeluk erat tubuh indah wanita cantik yang sangat ia idam – idamkan. “Oaaaaghhhh!!…. ahhh..hah..hah..hah..”

    Tubuh Udin yang kelelahan ambruk ke depan menumpuk di atas tubuh Anis yang masih bergetar. Semua semangat dan keinginan untuk menikmati setiap lekuk tubuh gadis pujaannya lenyap tak bersisa dengan muntahnya klimaks yang ia keluarkan, untuk kali pertama ingatan Udin kembali bisa fokus. Ia baru sadar kalau ia sedang berada di sebuah ruangan di hotel melati yang khusus ia sewa untuk bisa meniduri Anissa. Tubuh yang ada di bawahnya ini adalah gadis yang sangat ia cintai, gadis yang baru saja menerima semprotan air mani darinya.

    Udin menepuk dahinya sendiri. Gila, apa yang telah dilakukannya? Ia baru saja meniduri Anissa! Ia tak ubahnya pria yang dibutakan nafsu yang semalam juga membuat gadis ini menderita walaupun harus diakui, bisa menyetubuhi Anissa adalah impiannya sejak lama. Cairan cinta menetes baik dari sela – sela bibir vagina Anissa maupun sisi – sisi penis Udin. Dengan sepelan mungkin Udin menarik penisnya keluar dari mulut kemaluan Anis, penisnya yang masih sedikit tegak agak lengket sehingga harus ditarik kencang. Ketika Udin menariknya, Anissa mengerang pelan.

    “Kamu, kamu tidak apa – apa, Nis?” tanya Udin pada Anis yang tergeletak bermandikan keringat dengan nafas menderu. “Anissa?”

    Anis hanya menganggukkan kepala sambil mengeluarkan suara letih, “Ya… aku baik – baik saja.”

    “Aku bisa mengambilkanmu sesuatu? Air minum?” sepertinya memang terdengar konyol, tapi Udin sungguh mencintai Anissa, rasa bersalah yang muncul karena memaksanya bermain cinta membuat Udin ingin melakukan sesuatu untuk gadis ini.

    Anis menggulingkan badan ke samping dan menatap wajah Udin dengan kabur, seperti tidak sadar siapa yang ada di sebelahnya kali ini. Agak lama bagi Anissa sebelum ia bisa fokus kembali, “Ya… segelas air. Tolong.”

    Udin bergegas mengambilkan segelas air untuk Anis, gadis itu kemudian minum di depan Udin dengan keadaan masih telanjang, seperti tidak lagi merasa malu memamerkan keindahan tubuhnya. Setelah meletakkan gelas di meja di samping ranjang, Anis menatap Udin lekat – lekat, “…bisakah kamu berjanji tidak akan menceritakan ini pada orang lain? Termasuk orang – orang yang ada di hotel semalam?”

    “Aku janji,” jawab Udin jujur. “Aku mencintaimu, Nis. Aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain, kamu bisa mempercayaiku untuk hal satu itu. Aku ingin bisa hidup selamanya denganmu. Aku ingin menikahimu, menghamilimu, memiliki anak darimu…”

    Anissa seperti tidak peduli dengan kata – kata Udin setelah kata janji. Udin memakai celananya dengan seadanya sementara Anissa mengenakan pakaiannya kembali, tidak ada kata terucap di antara mereka. Seperti ada sebuah ikatan yang tak nampak untuk saling menahan diri.

    “Aku ingin kau merahasiakan semua ini, Din.”

    “Pasti, Nis.”

    “Termasuk di kampus. Jangan ganggu aku lagi seperti tadi. Aku butuh ruang gerak.”

    “Baik.”

    “Aku pergi dulu.”

    “Ya.”

    Anissa merapikan diri dan berjalan tertatih menuju pintu.

    Anissa berdiri termangu di pintu kamar sesaat sebelum dia pergi. Ada pandangan aneh yang ia tujukan pada Udin, pandangan tajam seperti yang biasa ditunjukkan seorang pengadil sebelum menghakimi seorang terdakwa. “Bahrudin. Kita sudah berteman sangat lama, tapi aku tidak pernah menyangka kamu begitu rendah.”

    Udin yang masih berbaring di ranjang menatap pintu yang ditutup dengan keras. Dentuman jantungnya perlahan kembali normal.

    Pemuda itu menerawang ke arah langit – langit, “demikian juga aku, Nis.” Bisiknya pada diri sendiri.

    “Demikian juga aku.”

    ###

    “Halo, Dodit? Ini Alya.”

    Dodit yang sebelumnya tidur jadi terbangun kaget dan gelagapan, dia melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 11 malam. Begitu gugupnya ia hingga hampir – hampir telepon genggamnya lepas dari tangan. “Mb…Mbak Alya? Kenapa, Mbak? Ada perlu dengan saya?”

    “Iya… maaf ya, mengganggu semalam ini.”

    “Tidak apa – apa, Mbak. Memangnya ada apa?”

    “Anu, ini lho… Mas Paidi kan sedang sakit. Dia masuk angin, padahal besok aku harus mengantarkan Opi sekolah dan belanja karena beras dan kebutuhan pokok lain sudah habis. Mas Hendra tentu tidak bisa diminta tolong sedangkan SIM aku saat ini sudah habis masa berlakunya. Habisnya sih sudah sejak beberapa minggu yang lalu, tapi aku belum sempat perpanjangan karena repot. Aku jadi teringat kamu, bagaimana ya kalau aku minta tolong diantar? Daripada naik bis atau taksi, gitu.”

    “Astaga, aku kira kenapa, Mbak. Ya tentu saja bisa. Kemanapun Mbak Alya ingin pergi, aku siap mengantar.”

    “Aduh, terima kasih sekali ya. Oke, besok pagi sekitar jam setengah 10 aku tunggu di rumah ya? Kita antar Opi dulu, setelah itu belanja dan pulangnya jemput Opi lagi. Bagaimana?”

    “Siap, Mbak.”

    “Eh, tapi kamu tidak ada acara kan?”

    “Nggak ada, Mbak. Santai aja.”

    “Oke kalau begitu. Sampai jumpa besok. Terima kasih ya.”

    “Sama – sama.” Dodit menutup hapenya dengan senang, dia akan mengantarkan Mbak Alya belanja! Beruntung sekali! Tidak akan dia sia – siakan kesempatan ini! Sudah sejak lama dia ingin bertemu kembali dengan ipar Anissa itu, wajahnya yang ayu dan tubuhnya yang molek… ahh, Mbak Alya besok memintanya ditemani belanja! Tidak ada yang lebih indah dari itu! Mbak Alya yang selama ini telah menjadi temannya berfantasi setiap kali bermasturbasi! Bukankah ini yang namanya pucuk dicinta ulampun tiba?

    Oooh… Mbak Alya yang ayu…

    Terdengar bunyi ringtone mengalun.

    Ringtone? Dodit mengernyitkan dahi. Oh! Hape Dodit rupanya kembali bergetar dan berdering. Gara – gara bangun terkaget dan mendapatkan kabar gembira dari Mbak Alya membuatnya jadi lupa dering hapenya sendiri. Dodit melirik nomor di hapenya, nomor ini… Anissa?

    “Halo?” suara Dodit sedikit ragu – ragu mengangkat telpon. “Sayang? Ada apa malam – malam begini…”

    “Mas, aku butuh kamu ajak keluar besok pagi. Aku… aku bosan di rumah…”

    “Be… besok pagi?” Dodit menggerutu dalam hati. Bukankah besok pagi dia sudah janji dengan Mbak Alya yang bagaikan dewi khayangan itu? Lagipula akhir – akhir ini Anissa aneh, kalau diajak pergi selalu terdiam seribu bahasa. Ia malas mengajaknya keluar. “Aduh, maaf sekali, sayang, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji terlebih dahulu. Dengan… dengan calon klienku…maaf ya? Bagaimana kalau ditunda lain kali?”

    “Mas, aku mohon mas. Perasaanku tidak enak. Aku ingin pergi denganmu besok.”

    “Anissa sayang, aku benar – benar tidak bisa. Bagaimana kalau lusa saja? Atau sore? Sore dan malam aku bebas.”

    “Tolong Mas, sekali ini saja aku minta tolong. Aku benar – benar butuh keluar.”

    “Anissa, aku tidak bisa… aku kan sudah bilang kalau aku…”

    Klik.

    Telepon sudah ditutup, membuat Dodit termangu.

    Di sisi lain, air mata Anis kembali berurai. Kalau Dodit saja tidak bisa datang dan menyelamatkannya, siapa yang bisa? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia akan melalui hari esok? Perasaannya semakin tidak nyaman. Sejak tidur dengan Udin dia sudah menghindar dari Pak Bejo, tapi orang tua bejat itu terus saja menelpon dan sms, menerornya.

    Dia harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan siapapun.

    Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi. Dia harus pergi.

    ###

    Matahari bersinar terik menghujani bumi.

    Keringat deras menghujani tubuh Anissa, kakinya melangkah tertatih. Dia harus lari, dia harus kabur, tidak boleh ada yang tahu dan tidak boleh ada yang mengikuti. Tapi… dia tidak tahu kemana harus pergi…? Kemana…? Anissa kebingungan. Si cantik itu kini tengah berada di trotoar jalan besar yang jauh dari rumah, ia sampai kesini setelah berputar – putar dengan kendaraan umum. Kini ia menghadang bis namun tidak tahu bis tujuan mana yang seharusnya ia naiki.

    Anissa memang akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah, dia tidak bisa hidup seperti ini terus menerus, dia harus lepas dari jebakan Pak Bejo walaupun untuk itu dia harus diam – diam pergi dari rumah tanpa sepengetahuan keluarga ataupun Dodit. Semuanya harus dilakukan mendadak, hari ini saja dia harus mengendap – endap keluar melalui jalan belakang. Anissa tidak pernah mau merepotkan keluarganya.

    Tinggal di rumah sendiri sudah tidak aman lagi karena Pak Bejo setiap saat bisa tiba – tiba muncul dan menyerang keluarganya. Bukan sekali dua kali saja Pak Bejo mengancam Anis kalau dia akan menyakiti keluarganya seandainya Anis berani macam – macam. Ancaman Pak Bejo jelas tidak main – main dan bukan itu yang diinginkan oleh Anissa. Setelah kondisinya aman nanti, dia baru akan memberitahu keluarganya apa yang terjadi. Dengan begitu mereka bisa mencari cara bagaimana untuk lepas dari tangan Pak Bejo dan preman – premannya.

    Ke tempat Ussy? Ya, hanya ke tempat dialah Anissa sepertinya bisa pergi menyelamatkan diri. Itu artinya dia harus naik bis jalur X jurusan X.

    Kebetulan! Dia sedang beruntung! Itu ada satu yang datang dari kejauhan! Anissa bergegas bersiap di pinggir jalan, tas berisi pakaian ia siapkan agar mudah dibawa. Hati Anis berdetak kencang seiring datangnya bis kota yang melaju pelan.

    Sudah dekat! Anissa kegirangan.

    Pegangan tangan Anis makin erat mencengkeram tasnya.

    Satu kakinya sudah turun ke jalan dan tangannya siap melambai menghentikan bis.

    Tapi sebelum bis itu sampai di tempat Anissa, sebuah mobil kijang berhenti tepat di depan gadis itu. Begitu dekat jaraknya dengan Anis, sampai – sampai gadis itu terperanjat dan mundur.

    Pintu tengah mobil terbuka dan seorang pria bertubuh besar melangkah keluar. Jendela depan turun untuk memperlihatkan penumpang di samping sopir, mau tak mau Anis menengok ke depan.

    “Mau lari kemana kamu, sayang?” wajah tengik Pak Bejo yang tersenyum keji tiba – tiba muncul ketika jendela depan dibuka.

    Anissa menjerit sekencang – kencangnya sebelum ia ditarik masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju kencang.

    ###

    “Hari ini panas sekali, ya?”

    Suara Alya terdengar sangat merdu di telinga Dodit. Lebih merdu dari lantunan lagu yang dinyanyikan penyanyi di pemutar MP3 mobil. “Iya, Mbak. Panas banget. Maaf AC-ku ternyata agak rusak jadi kurang dingin. Jendelanya sudah dibuka sedikit kan?”

    “Sudah. Ya angin dari jendela ini satu – satunya yang bisa bikin agak adem.” Alya mengangkat kepalanya ke dekat jendela untuk menikmati lintasan angin. Saat itu mereka berdua sudah pulang dari belanja dan sedang mengikuti jalan ke arah sekolah Opi. Beruntung jalan tidak macet dan lancar sehingga mobil Dodit bisa melaju cukup kencang.

    Tapi entah kenapa tiba – tiba…

    “Aduh! Aduh!” Alya menutup matanya dengan tangan.

    Dodit pun kaget melihatnya, “Ke… kenapa, Mbak?”

    “Aduh, mataku kelilipan!”

    Dodit meminggirkan mobir ke trotoar, untung jalan sedang sepi. Dia melepaskan sabuk pengaman, mendekati kepala Alya dan membuka tangan yang mengatup di mata. Dodit memperhatikan mata Alya. Mata indah wanita jelita itu berwarna merah dan mengeluarkan air mata. Rupanya ada satu binatang kecil yang secara tidak sengaja ingin masuk menikmati keindahan mata si cantik itu.

    “Sebentar… ada yang masuk…” kata Dodit sambil mendekatkan bibirnya ke mata Alya, “jangan ditutup dulu, Mbak. Aku tiup ya?”

    “Iya… iya…”

    Fuh! Dodit meniup dan binatang itu pergi.

    “Nah, sudah hilang, Mbak.”

    “Aduh… terima kasih….” ketika akhirnya bisa membuka mata kembali dengan jelas, wajah Alya memerah. Ternyata dia sangat dekat dengan Dodit! Pemuda itu hampir – hampir memeluknya!

    “Sama – sama, Mbak.” Begitu juga Dodit yang wajahnya memerah. Karena posisi duduk yang sempit, tanpa disadari, ternyata tubuh mereka sangat berdekatan nyaris berpelukan. Tangan Dodit menyelinap di sela lengan Alya untuk menyangga sementara tangan lain menahan di pintu.

    “Te… terima kasih.” Ucap Alya pelan mengulang ucapan terima kasihnya karena bingung apa yang harus dilakukan. Ia menatap Dodit dengan takut – takut.

    Dodit juga menatap Alya dengan penuh perasaan. “Sama… sama…”

    Entah spontan entah dorongan alam bawah sadar, kepala Dodit menunduk sedikit, bibirnya membuka dan merekah. Bibir Mbak Alya… basah dan mungil…

    “A..apa yang…” ucapan Alya itu tak pernah terselesaikan karena bibirnya segera dilumat oleh Dodit.

    Bibir Alya sangat lembut dan terasa manis, lipstiknya tipis dan bentuk bibir yang mungil sangat nyaman dikecup, dipagut dan dilumat. Untuk beberapa saat Alya tak melawan karena sangat terkejut. Dodit memejamkan matanya dan mulai memberanikan diri memanfaatkan kekagetan Alya. Tangannya bergerak nakal menyusuri bahu hingga ke dada Alya. Ia menangkup buah dada istri Hendra itu dan…

    Bibir mereka lepas mendadak ketika tangan Alya mendorongnya!

    Dodit masih terpejam ketika sebuah tamparan hadir di pipinya! PLAKK!

    Dodit terbelalak kebingungan dan keringatnya menetes deras. A – apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa dia melakukannya? Demi dewa… kenapa dia melakukannya? Ah, sial! Rasa panas akibat tamparan Alya memang sudah sepantasnya ia terima. Tamparan itu tidak keras, ia tahu Mbak Alya tidak ingin menyakitinya, hanya ingin membangunkannya dari mimpi di siang bolong saja.

    Alya mencoba menata hatinya, ini semua kesalahan dan Dodit pasti hanya khilaf saja, ia yakin dan pasti akan hal itu, tidak mungkin membagi hatinya kepada orang lain, terlebih kepada calon adik iparnya. Alya tersenyum sambil mengelus punggung tangan Dodit.

    “Jangan diulangi lagi.” Bisik Alya pelan, “itu tadi untuk pertama dan terakhir kali.”

    Mendengar suara lembut Alya, Dodit justru semakin tidak karuan, ia merasa jengah telah melakukan hal yang tidak sepantasnya pada wanita cantik yang seharusnya ia anggap sebagai kakak ipar ini. Lihat sekarang, Alya malah memberinya ketenangan setelah menamparnya, bukan memarahinya dengan tudingan lelaki kurang ajar.

    “I…. iya, Mbak. A… aku khilaf, Mbak. Aku minta maaf. Aku… aku…”

    “Sshh… tak perlu membuat banyak alasan yang akhirnya nanti akan kau sesali lebih dari apa yang telah kau lakukan.” Kata Alya berusaha bijak walaupun dadanya masih terus berdegup dengan kencang. “Lupakan yang sudah berlalu dan jangan pernah kau ungkit kembali.”

    “I…. iya, Mbak.”

    “Kalau kamu berjanji tidak akan menceritakan apa yang terjadi hari ini kepada orang lain, aku juga tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Yang harus diingat adalah… kita berdua tidak akan pernah bisa mengulanginya lagi karena kita berdua sama – sama tahu, kalau kita mencintai orang lain, telah menjadi milik orang lain dan karenanya tidak bisa mengambil milik orang lain pula seenak perut kita sendiri.”

    “I…. iya, Mbak.”

    “Ya sudah, sekarang jalan.”

    “I…. iya, Mbak.”

    Dodit yang gelagapan meraih kunci mobil dengan tangan bergetar dan memutarnya dengan gugup. Ia begitu lega ketika mobil bergetar lembut dan mesinnya menyala, betapa ingin ia segera membawa mobil ini pulang ke rumah. Punggung tangannya berusaha menghapus keringat yang terus menerus turun. Dodit sangat merasa bersalah, sangat. Tapi…

    Tapi…

    Tapi… bibir mungil Mbak Alya… bibir yang basah itu… begitu manis, begitu lembut, begitu nyaman beradu dengannya. Dodit tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Alya, walau bagaimanapun ia tak akan pernah bisa melupakan ciuman yang sangat indah itu.

    Alya melirik ke samping, melihat ke arah senyuman seiris di bibir Dodit. Ia memalingkan muka, menatap pemandangan, menyimpan seulas senyum.

    Mobil melaju pelan membawa Dodit dan Alya meninggalkan kenangan yang tak akan pernah terulang.

    Tak akan pernah.

    ###

    “Saya mau dibawa kemana ini, Pak?” Anis mulai ketakutan melihat mobil melaju kencang menuju daerah yang sama sekali tidak dikenalnya, melaju dan meliuk melewati dearah perbukitan dan masuk ke jalan sepi yang gelap. Satu – satunya penanda yang bisa ia kenali adalah sebuah komplek rumah sakit besar namun Anis tidak yakin rumah sakit apa namanya karena laju kendaraan ini kencang sekali.

    Sebenarnya sejak siang tadi mobil ini hanya berputar – putar saja melalui jalan tikus yang berbeda – beda dan belasan kilometer dari tempat Anissa tadi diculik, Pak Bejo ingin membingungkan Anissa supaya ia tidak mengetahui lokasi. Gadis itu bukan orang yang mudah menghapal tempat, sehingga usaha Pak Bejo ini berhasil.

    “Sudah diam saja.” kering Pak Bejo menjawab. Wajahnya masih tanpa ekspresi, keras dan kasar.

    Mereka sampai di sebuah tempat yang tersembunyi di balik perbukitan, tak jauh dari sebuah rumah sakit dan kompleks lapangan golf. Di tempat itu terdapat banyak sekali gudang – gudang penyimpanan barang pabrik di sepanjang jalan dan kios warung kopi yang berjajar. Mobil Pak Bejo masuk ke sebuah gudang kecil yang letaknya paling ujung dan jauh dari semua keramaian. Tempatnya sendiri tidak besar, bahkan pengap dan gelap. Gudang itu terletak di samping sebuah rumah sangat sangat sederhana dengan dua kamar.

    Anissa walaupun kecapekan tetap meronta dan berteriak – teriak tanpa henti ketika digiring masuk ke dalam kamar di dalam rumah itu. Suasananya yang dingin dan gelap membuat Anissa makin ketakutan apalagi tasnya juga direbut salah satu anak buah Pak Bejo.

    “Pak, tolong Pak! Kenapa saya disekap di sini? Pak Bejo! Saya mohon, Pak! Bebaskan saya, Pak!”

    Tentu saja pintu itu tidak terbuka.

    Anissa jatuh terduduk dan menangis sejadi – jadinya.

    Siapa yang kini bisa menyelamatkannya?

    ###

    Ruangan yang berada di rumah di sisi sebuah gudang yang ada pinggiran kota itu penuh dengan asap rokok yang mengepul tanpa henti. Wajah – wajah orang yang ada di dalamnya nampak serius, mereka duduk di kursi rotan yang mengelilingi sebuah meja yang menyuguhkan bir dan kacang goreng. Bidak – bidak catur yang belum sempat dibereskan tersebar dimana – mana.

    Di ruangan itu, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo bertemu.

    Imron geleng – geleng kepala dan memperlihatkan wajah tidak senang. “Aku tidak akan pernah setuju dengan cara seperti ini, Jo. Ini sudah tidak menyenangkan lagi. Aku tidak takut polisi, tapi cara seperti ini akan menggagalkan semua rencana kita. Percuma dong kita memeras dosen sialan itu kalau akhirnya cuma begini? Padahal uang yang masuk sudah ratusan juta! Aku tidak peduli dengan uang, aku hanya tidak mau rugi. Itu saja.”

    Pak Kobar mengangguk – angguk setuju, “yang dikatakan Imron benar, Pak Bejo. Kita memang sering memaksa cewek manapun supaya mau dijadikan budak seks. Kita membuat mereka takluk di bawah lutut dan menyembah kita agar mau kita tiduri kapan saja, dimana saja, bagaimanapun caranya. Tapi itu bukan berarti kita akan menculik mereka berhari – hari lamanya. Setelah ini apa yang akan kamu lakukan? Memperkosa mereka, memukuli dan menghajar mereka seperti yang dulu pernah kamu lakukan?!”

    “Dasar kalian semua penakut!!” maki Pak Bejo jengkel. “Kakak ipar gadis ini sudah membuatku malu! Kacungnya sudah menghajar anak buahku, berani pula menantangku! Mau ditaruh dimana mukaku ini kalau orang kurang ajar itu melenggang tanpa maaf? Ini adalah balasan yang setimpal! Akan kubuat gadis itu menderita dengan caraku!”

    “Caramu sama sekali tidak elegan dan kotor. Aku kan sudah pernah bilang, kalau kamu mau cewek, aku bisa sediakan berapapun, tidak perlu cara menjijikkan seperti ini kamu lakukan! Menculik anak orang, cuih.” balas Imron dengan santai.

    “Percayalah padaku, Ron.”

    “Tidak. Ini bukan caraku, Bro. Apa yang aku lakukan kotor tapi elegan, tidak seperti yang kamu lakukan ini! Aku memaksa seorang cewek menjadi budakku dengan bermain cinta dan kemauan mereka sendiri, bukan paksaan dan siksaan. Aku tidak ingin ikut campur urusanmu lagi. Aku keluar dari bisnis ini! Maaf, tapi kamu sendirian mulai sekarang.”

    Pak Bejo terkejut dan kecewa, “Tapi…”

    Pak Kobar ikut mengangguk. “kamu sendirian, Jo. Aku juga tidak mau disangkutpautkan masalah ini. Kamu sudah keterlaluan. Aku tidak mengijinkan gadis itu dibawa lagi ke hotelku. Titik.”

    Pak Bejo ambruk dengan lemas, tapi kemudian kerut wajahnya berubah kesal, “kalau kalian tidak mau ikut campur ya sana! Pulang saja! Aku kecewa dengan kalian!”

    Imron dan Pak Kobar berdiri dan mengangguk hampir bersamaan. Tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang sudah lupa daratan seperti itu. Sepertinya Pak Bejo lupa siapa yang telah menolongnya dulu, siapa yang memberinya uang, siapa yang memberinya makan, siapa yang memberinya penginapan. Orang tua itu hanya ingin mengeruk keuntungan demi keuntungan dengan memperkerjakan Anissa tanpa henti, dia mulai serakah.

    Pak Kobar melirik ke arah Udin yang duduk diam di pojok, pemuda itu memang diam saja sedari tadi menyaksikan pertentangan antara Imron dan Pak Kobar melawan Pak Bejo, Udin tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Pak Kobar tersenyum pada keponakannya itu. “Aku tahu kamu masih ingin berada di sini untuk memastikan nasib gadis itu. Jika kamu berubah pikiran, aku masih tetap berada di motel. Tapi ingat, jika polisi menemukanmu, aku tidak akan pernah mengakui pernah menampungmu.”

    Udin mengangguk dengan pandangan kosong.

    Pak Kobar menepuk pundak Udin dan melangkah menyusul Imron yang sudah berdiri di pintu keluar. Pak Bejo marah – marah melihat kepergian mereka berdua.

    “Kalian pikir kalian siapa, hah?? Kalian pikir aku tidak bisa bekerja tanpa kalian? Kalian pikir kalian siapaaa??”

    Tidak ada gunanya Pak Bejo berteriak – teriak karena Imron dan Pak Kobar sudah melangkah keluar ruangan, meninggalkannya sendirian.

    ###

    TO BE CONTINUED TO RYT 11 PART C
     
  18. Candiwalang

    Candiwalang Penjaga kubur (lagi)

    Thanks banyak bro lexlee...
    Bagian 8 yang hilang telah ditambahkan....
    Plus lanjut update cerita ini.....
     
  19. lexlee

    lexlee Member

    *********************************

    STANDARD DISCLAIMER


    Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non – konsensual (normal ataupun paksaan). Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal – hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita milik penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.


    Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita saya lagi sampai sembuh.


    Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu, kita yang bikin loe yang dapet duit, enak aja. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini. Kita udah capek - capek bikin, tolong hormati dikit ya.


    Copyright (c) 2011 Pujangga Binal & Friends. Special Script & Credits : Jay, LustInc, L’esp, Liboy. (Thank you all for your support & permission!)


    *********************************


    SERIAL: RANJANG YANG TERNODA

    BAGIAN SEBELAS C (PART 11(c) OF 12)


    ANISSA TERANIAYA

    Oleh Pujangga Binal & Friends


    Hingga pagi menjelang, Anissa masih berharap Dodit akan datang dan menyelamatkannya. Itu yang membuatnya tetap bertahan, sinar matahari yang masuk samar melalui jendela dengan tirai yang selalu tertutup membuat harapannya terus terjaga, sepanjang malam hingga pagi ia berjaga. Asanya masih ada, segunung, sebukit, sekepal, sejengkal, setitik, sekecil apapun, berapapun ukurannya asa itu masih menyala.

    Sayang hingga sinar matahari itu mulai redup dan menghilang Dodit masih juga belum datang. Justru Pak Bejo yang datang dan membuka pintu.

    “Selamat sore, anak manis. Maaf membuatmu menunggu lama. Hari ini kursusmu akan segera dimulai.” Kata pria tua itu sambil terkekeh. “Aku akan memanggilkan guru kursus privat untukmu sore ini.”

    Anissa kebingungan, ia meringkuk di pojok ruangan dengan ketakutan, wajahnya pucat pasi dan kepalanya menggeleng – geleng tak mau berhenti, ia benar – benar sangat ketakutan. Di samping Pak Bejo berdiri sosok wajah asing yang tak dikenalinya, wajahnya keras dan tubuhnya kekar, rambutnya yang keriting dipotong membulat.

    “Dia ini panggilannya Kribo,” kata Pak Bejo. “Dia orang kepercayaanku. Dia yang akan menjadi guru privatmu hari ini.”

    Kribo tersenyum meringis, wajahnya sangat bengis dan kejam. Anissa langsung tak menyukainya sejak pandangan pertama. Pria itu maju pelan dan menarik lengan Anis dengan kasar.

    “Jangan! Jangan… saya tidak mau, Pak… jangan…” Anissa mencoba minta pertolongan Pak Bejo namun pria tua itu hanya mendengus tak mau tahu meninggalkan mereka berdua. Ia duduk di sofa yang ada di ruang tengah dan menyalakan televisi. Telinganya seakan tersumpal dengan raungan dan teriakan Anis yang dibawa paksa oleh Kribo keluar dari kamar.

    Gadis itu dibawa paksa menuju gudang yang sepi, di sana hanya ada kayu dan kotak – kotak kardus kosong. Lampu ruangan awalnya dimatikan, sehingga Anissa tak bisa melihat apapun. Ia berjalan dengan tertatih karena digandeng paksa oleh Kribo. Anis bisa mendengar suara pintu dikunci rapat dan tawa beberapa orang yang ada di dalam gudang.

    Ketika lampu kembali dinyalakan, Anissa ternyata sudah berada di tengah ruangan.

    Terpaksa berjalan pelan di tengah gudang yang sudah kosong karena tak tahu harus kemana dan berbuat apa, Anissa menatap ketakutan ke sekelilingnya. Di sana sudah berdiri 5 atau 6 atau 7 orang berwajah sangar yang sama sekali tidak ia kenal yang mengitarinya, ia tidak bisa menghitung dengan pasti jumlah mereka karena ketakutan menatap satu demi satu wajah yang ada. Yang Anissa ketahui dengan pasti bahwa wajah mereka tidak ada yang tampan, hampir semua berkulit hitam dan sawo matang, memiliki otot yang kencang dan masing – masing memiliki tato yang memenuhi bagian tubuh tertentu.

    Yang membuat si cantik itu makin gemetar dan ketakutan adalah karena orang – orang itu tidak mengenakan celana! Mereka tersenyum menjijikkan sambil menjulurkan lidah seperti hendak menelan Anis hidup – hidup sementara batang penis mereka dipamerkan kemana – mana! Tangan mereka bergerak ke selangkangan untuk mengocok kemaluan masing – masing saat Anissa melangkah ke tengah ruangan. Seakan hanya dengan menyaksikan Anissa melangkah saja mereka sudah terangsang, walaupun harus diakui, gerakan si cantik itu memang gemulai.

    Di ujung ruangan terletak sebuah kursi kayu yang memiliki ikat permanen terbuat dari kulit di bagian lengan dan kakinya, bentuknya seperti kursi penyiksaan yang ada di cerita – cerita kuno. Melihat kursi itu Anissa makin merinding, apalagi ia juga melihat lima tripod dengan video kamera yang siap dinyalakan berada di sisi – sisi gudang semua diarahkan menuju ke kursi itu. Apa yang orang – orang ini rencanakan??!

    Seorang laki – laki yang kulitnya hitam dan bibirnya tebal maju ke depan Anis sambil berulang kali menjilat bibirnya sendiri. Gadis yang ketakutan itu hendak mengucapkan sepatah kata… namun tiba – tiba saja orang itu menamparnya tanpa sebab!!

    Anissa jatuh terjerembab dengan pipi yang merah dan tersengat. Walaupun bisa berdiri kembali, namun gadis itu shock berat sembari mengelus pipinya yang panas. Ia menatap orang yang ada di hadapannya dengan wajah pucat pasi. Kenapa dia ditampar? Apa salahnya?

    Namun belum Anissa protes, anggota kawanan yang lain sudah datang mengerumuninya seperti anak – anak berebut es krim.

    “Ck ck ck ck, coba lihat ikan yang kita dapat hari ini, anak – anak. Putri duyung kecil dengan lekukan tubuh yang sangat seksi dan molek. Tubuh macam ini yang aku bilang sangat menggiurkan…” goda salah satu pria yang mencoba mendekati Anissa yang ketakutan setengah mati, dia mencolek pundak Anis dan membuat gadis itu menjerit tertahan, si cantik itu pun bergerak memutar ketakutan sembari menutup dada dan bagian bawah perutnya.

    “Jangan… jangan…” tolak Anissa sambil menggelengkan kepala ketakutan, hampir – hampir ia menangis.

    Namun para serigala buas itu tentu tak berhenti. Salah seorang dari mereka bergerak ke belakang Anis, memegang tangannya dengan erat dan memutar tubuhnya agar mereka berdua bisa saling berhadapan. Anissa langsung menundukkan kepala, tak mau bertatapan wajah dengan orang itu!

    “Senangnya, kita bisa bermain – main dengan putri duyung yang cantik seharian penuh hari ini. Putri duyung kecil yang menyelam di antara hiu sudah sepantasnya disantap kan?” kata orang yang memutar tubuh Anis tadi.

    “Yaaaa…!! Dia ini putri duyung lonte!”

    “Ayo kita lihat apa yang ada di balik pakaian putri duyung lonte ini!”

    “Bokongnya bulet kencang! Aku suka bokongnya!”

    Salah satu dari mereka bergerak maju dan meremas buah dada kanan Anissa. Meremasnya dengan begitu kencang, membuat dara jelita itu mengernyit kesakitan dan akhirnya sadar kalau situasinya saat ini sangat berbahaya sekali, keringatnya mulai menetes deras membasahi tubuh indahnya dan jantungnya berdegup sangat kencang. Nasib malang apalagi yang hendak menimpanya kini? Kenapa dia tidak melihat Pak Bejo?

    “Auuuh! Jangan! Saya mohon, jangan…!!” pinta Anissa memohon ampun, ia berusaha mendorong tangan seorang lelaki yang mengelus paha dan berusaha menyentuh selangkangannya.

    Tentu saja pria itu langsung naik pitam karena ditolak oleh Anissa!

    “Lonte sialan!!” laki – laki yang didorong tangannya menjadi sangat gusar dan dengan kasar menarik kepala Anis ke depan dengan mendorong bagian belakang kepala dara itu, “Kamu dengar baik – baik dan simpan dalam – dalam! Kami akan melakukan apa yang ingin kami lakukan, bagaimana kami melakukannya, kapanpun kami ingin melakukannya! NGERTI KAMU?! Kamu itu cuma lonte murahan! Jadi lebih baik kamu diam saja!! Percuma minta tolong! Tidak akan ada orang yang akan menolong kamu, NGERTI?!”

    “Sudah Yon, langsung saja! Dia ini kan cewek murahan, dia pasti sudah ga sabar mau dientotin! Heh! Pelacur tengik, diam kamu! Jangan buka mulut kecuali mau nyepong kontol!” laki – laki lain membentak Anis dengan galak sambil berusaha menenangkan rekannya yang marah.

    Anissa merasa terbebas sebentar ketika orang yang memegang lengannya tadi melepas cengkramannya. Merasa mendapat angin sesaat, Anis bergegas dan bergerak cepat. Dengan panik, si cantik itu bangkit dan mencoba berlari menuju pintu! Sayang, baru satu kaki melangkah, ia sudah jatuh terjerembab karena tiga pasang tangan sigap menarik tubuhnya. Tentu Anis mencoba meronta dan berusaha melepaskan dirinya dari sergapan, walaupun sia – sia belaka.

    Si molek itu dibawa ke sebuah tikar yang berada di sudut gudang dengan paksa.

    “Mau kabur ya?! Dasar lonte sialan! Tidak tahu diri!”

    “Telanjangi saja!”

    “Ayo diewe sampe mampus!!”

    “Bokongnya! Aku mau bokongnya!”

    “Baunya harum! Aku mau jilati seluruh tubuhnya!”

    Anissa mencoba melihat laki – laki yang mengitarinya satu demi satu untuk menandai mereka, tapi ia tidak bisa menghitung jumlahnya, ia mencoba fokus namun sulit sekali rasanya karena sudah terlalu panik dan degup jantungnya berdetak sedemikian cepat sehingga sekali ia berkonsentrasi, langsung buyar dengan cepatnya. Tangan si cantik itu dengan otomatis melingkar di dada untuk menutup buah dadanya sementara tangan lain melindungi bagian bawah perutnya. Air mata gadis yang sudah pernah diperkosa Pak Bejo itu mulai mengalir karena tahu nasib buruknya hanya tinggal menunggu waktu saja.

    “Jangan.. saya mohon jangan lakukan ini. Berhenti… saya mohon … biarkan saya pergi…”

    Laki – laki yang tadi menamparnya bernama Yono, selain anggota kawanan Pak Bejo, dia juga salah seorang saudara bandot tua itu. ia mengambil satu langkah ke depan ketika Anissa mulai merengek dan menatapnya galak, “kita bisa melakukan ini dengan kasar, atau kita bisa melakukan ini dengan lembut sesuai persetujuanmu. Lepas semua bajumu dan perlihatkan pada kami seperti apa tubuh molekmu kalau kamu bersedia melayani kami! Atau mau aku tampar lagi??”

    “Jangan… saya mohon jangan…” Anissa bergerak mundur ke belakang menjauhi Yono.

    “Memang dasar kamu pelacur kecil yang tengik! Buka bajumu!!” Yono yang sudah gelap mata meraih kerah baju Anis dan menariknya ke depan dengan satu sentakan yang mengagetkan. Tidak berhenti di situ saja, Yono merobek bagian depan baju berkancing Anissa sehingga dadanya terbuka lebar, begitu kasar dan kuatnya gerakan Yono sehingga kancing Anis terlempar dari bajunya. “Ayo buka susumu! Barang segitu gede jangan disembunyikan! Percuma!”

    Tak perlu waktu lama bagi semua pria yang ada di ruangan itu untuk membantu Yono melucuti pakaian Anissa dan membuatnya telanjang bulat di hadapan mereka. Sebenarnya tiga diantara mereka sudah pernah kita kenal sebelumnya, Badu, Kribo dan Jabrik. Kroco anak buah Pak Bejo yang tempo hari dihajar oleh Paidi. Anissa meronta sebisa mungkin dengan hasil sia – sia, seluruh pakaian yang melekat di tubuh lepas tanpa sisa.

    Anissa kini telah bugil. Dara cantik itu berdiri gemetar dengan tangan menyilang melindungi dada dan selangkangannya dari tatapan liar para preman yang buas.

    Anis menangis sesunggukan di hadapan para serigala buas yang telah siap memangsanya itu. Begitu cepatnya para lelaki itu bergerak sehingga bahkan Anissa sendiri kaget ia bisa ditelanjangi dengan amat cepat. Begitu Yono membuka baju Anissa, laki – laki lain ikut maju, menyeretnya ke tikar, menekuk dan mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak dan mulai menelanjanginya. Roknya ditarik ke bawah dengan sentakan demi sentakan yang menyakitkan kakinya, bra dan celana dalamnya ditarik dengan kasar tanpa mempedulikan teriakan sakit yang ia lontarkan.

    Bagai karnivora kelaparan yang berebut daging segar, semua lelaki yang ada di sana menyerang Anissa, tak sabar ingin mempermalukan gadis cantik dan anggun itu. Anis sendiri tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah karena perlawanannya sedari tadi berakhir dengan sia – sia. Apalagi setelah ia telanjang, kawanan preman itu dengan beringas menyerangnya! Tangan – tangan mereka bergerak cepat menjarah keindahan tubuhnya, jari jemari dengan nakal meremas – remas payudara Anis seperti balon, mereka mencubit pentilnya, menggosok bibir kemaluannya dan menyentuh – nyentuh liang duburnya. Orang – orang biadab itu menganggap Anissa bagaikan tak bernyawa, ia dianggap seonggok daging tanpa hati dan perasaan!

    Mereka makin menggila, seorang pria dengan kasar menampar payudara Anissa yang kenyal karena gemas, meremasnya dengan kencang dan menumbukkan sebelah kanan dan kiri bersamaan, yang lain menepuk pantatnya dengan keras berkali – kali hingga warnanya memerah dan yang lain lagi menjambak rambutnya kesana kemari. Anissa menjerit dan menangis histeris, memohon agar mereka berhenti, namun para lelaki yang sudah gelap mata itu terus saja menyentuh dan mengumpatnya.

    “Gila! Lihat susunya! Gede banget! Ini bukan susu! Ini pepaya bangkok!”

    “Hajar terus! Aku suka dengerin jeritannya! Jeritannya manja!”

    “Lonte!”

    “Cewek murahan!”

    “Bibirnya manis banget, emang dasar tukang sepong!”

    “Wew, memang nakal cewek satu ini! Masa rambut memeknya dicukur!”

    Mendengar itu semua, tubuh Anissa makin merinding, ia benar – benar ketakutan.

    “Sudah dengar sendiri kan? Kamu memang pelacur kecil yang nakal.” Kata salah satu dari mereka, “kamu bahkan mencukur rambut kemaluanmu sendiri! Itu tandanya kamu sudah biasa dientoti orang! Kamu memang pengen dientoti kan? Iya kan? IYA KAN??”

    “Berani taruhan! Cewek macam ni begitu ketemu sama cowok, pasti langsung buka celana! Gak tahan dia lihat kontol!”

    “Aku pengen bokongnya. Aku harus dapat bokongnya!”

    Kribo menjambak rambut Anis dan menariknya ke belakang, gadis itu menjerit kesakitan! Tangis Anissa makin mendera karena ketakutan, preman – preman itu membuat bibirnya kelu dan lidahnya beku, airmatanya pun mulai menangis deras tanpa bisa dibendung. Belum selesai begitu saja dengan menjambak rambut indah si dara jelita, kemaluan Kribo ditampar – tamparkan ke pipi Anissa, kanan ke kiri, kiri ke kanan.

    “Kamu pernah dientotin kontol segede ini, sayang?” tanyanya tanpa malu, “kalau belum pernah berarti kamu beruntung hari ini! Kontol gedeku bakal masuk ke semua lubangmu!”

    “Jangan…! Ampun! Saya mohon! Ampuni saya… ampuni saya! Saya mohon! Saya mohooon!!”

    “Dia malah minta tuh, Bo! Ambil aja gih! Emang dasar Lonte tuh! Malah minta dientotin!”

    Anissa begitu bingung dan ketakutan, dia semakin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nasibnya benar – benar dalam bahaya. Pemerkosaannya hanya tinggal menunggu waktu saja. Tanpa bisa memberikan perlawanan berarti, Anis digiring ke kursi yang memiliki ikat. Yono dan Kribo dibantu teman – teman lain mulai bekerja. Mereka membalik tubuh Anis dan membungkukkannya hingga wajahnya menempel di landasan kursi. Kembali gadis itu mencoba meronta dan kembali ia gagal melepaskan diri. Tangan Anis ditarik ke belakang, ditekuk agar lengan bawahnya saling bersilang dan diikat dengan erat menggunakan isolasi berukuran besar. Setelah selesai mereka membaliknya kembali sehingga Anis bersandar dengan tangannya yang sudah terikat di belakang. Posisi yang membuatnya tersiksa.

    Badu mengambil ikat leher anjing yang berada di bawah kursi dan melingkarkannya di leher Anis, mengaitkannya hingga berbunyi klik dan menunjukkan wajah puas ketika melihat penampilan Anissa. “Nah, begitu seharusnya wajah seorang lonte sejati, terikat dan menggunakan ikat leher dalam keadaan telanjang, menunggu kontol datang!”

    Jabrik dan salah seorang teman yang bernama Kemal membuka kaki Anissa lebar – lebar sementara Badu meremas buah dada dara itu dengan gemas, ia menarik puting susu Anissa dengan sangat kencang membuat dara jelita itu mengernyit menahan sakit. Kribo menjambak rambut Anis ke belakang, membuat gadis itu menengadah ke atas tepat berhadapan dengan wajah Kribo. Air mata Anis kini tak terbendung, ia begitu ketakutan sehingga tak bisa berhenti gemetar.

    “Jangan..jangan..jangan..jangan…”

    “Cuh!” Kribo meludahi wajah cantik Anis. Ludah itu tepat jatuh di dekat pelupuk membuat Anis memejamkan mata sekejap. Kribo menyeringai hina “ambil itu, pelacur!”

    Anissa sudah tak bisa berbuat apa – apa, tubuhnya jadi sasaran serangan, seluruh kawanan preman yang ada. Ia disentuh, dicubit dan diremas di sekujur tubuh oleh tangan – tangan para begundal itu. Jabrik dan Kemal menaikkan lutut Anis hingga kakinya terangkat ke atas, membuat bagian bawahnya terekspos tanpa halangan. Tangan – tangan mereka bergerak liar, menyentuh, mencubit dan meremas setiap sentimeter jenjang kaki dan paha mulusnya termasuk meremas pantat bulatnya yang menggoda. Badu masih tetap mengerjai buah dada Anis, ia tak hentinya meremas dan memilin sehingga puting susu Anis menjorok ke depan dengan kencang. Kribo dan Yono kini merabai selangkangannya, mengelus bibir kemaluannya bergantian. Seorang pria berkulit gelap yang sepertinya berasal dari wilayah timur Indonesia, mencium bibir Anis dan memaksanya membuka mulut dengan menjambaknya. Lidah orang bernama Wewengko itu masuk menjelajah di mulut Anis dan menikmati apapun yang ada di sana, ia juga meludahi bagian wajah si cantik itu hingga belepotan air liur.

    Begitu ketakutannya Anissa, sehingga ia tak mampu lagi meronta atau bergerak, ia hanya pasrah menerima apa yang mereka lakukan pada tubuhnya. Gadis malang itu gemetar ketakutan hebat dan selalu berharap kawanan itu selanjutnya akan berhenti.

    “Ko punya tubuh sangat indah, eh! Kami akan bersenang – senang sepanjang malam!” Ejek Wewengko. Walaupun sudah pernah diperkosa oleh Pak Bejo, sudah pernah bercinta dengan Pak Doni dan sudah tidur dengan Udin, namun Anissa tak pernah membayangkan dia akan dijadikan santapan beramai – ramai seperti ini. Semuanya preman anak buah Pak Bejo dan semuanya bertujuan memperkosanya dengan kasar.

    Anissa memejamkan mata dan kembali menangis senggugukan. “Kumohon jangan sakiti aku,” pintanya penuh peluh air mata.

    “Kamu diam aja deh, dasar lonte! Bikin ilang feeling! Tadi kan sudah dibilang jangan banyak omong! Aku kasih tahu biar kamu nggak banyak omong lagi! Kamu tahu apa itu gangbang? Tahu ya? Jangan – jangan kamu malah udah langganan digangbang, dasar lonte! Hari ini kami akan mengangbangmu, memberi kenikmatan!” kata Kribo dengan meringis kejam, “kamu pasti menyukainya nanti, bahkan minta tambah. Kamu hanya perlu dilatih, jadi yang harus kamu lakukan adalah diam saja dan nikmati.”

    Wewengko kini berada tepat di selangkangan Anis, “buka eh! Aku mau lihat dia punya!”

    Badu dan Kemal membentangkan kaki Anis kembali, seakan memberi jalan lebar bagi Wewengko. Anissa tentu berusaha meronta dengan sekuat tenaga, tapi ia tetap tak bisa berbuat banyak, perlawanannya menjadi sia – sia dan tidak berarti. Wewengko kini jongkok di depan selangkangan Anis dan mulai menggunakan jarinya untuk mengerjai bibir kemaluan si cantik itu. Pria berkulit gelap itu mencibir dan menghina Anis, “apa aku bilang tadi eh, dia punya sudah basah. Memang dia ini pelacur!”

    “Jangan! Jangan! Saya mohon! Saya mohon! Saya mohon! Jangan! Jangaaan! Jangaaaan!”

    Dengan menggunakan jari jemarinya yang bergerak liar, Wewengko membuka bibir kemaluan Anis lebar – lebar dan mulai menjilati kelentitnya. Anissa bisa merasakan lidah pria itu bergerak menyusur di semua bagian bawahnya, tubuh si cantik itu menggelinjang tanpa bisa berhenti ketika Wewengko menjilati bibir kemaluannya dan sesekali menembus masuk liang cintanya. Gadis jelita itu memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi. Tak ada satupun hal yang bisa ia lakukan untuk mencegah Wewengko. Seperti sedang menikmati buah yang manis, Wewengko menyeruput cairan yang ada di seputar kemaluan sang dara tanpa merasa jijik, membuat Anissa menggelinjang tak henti.

    “Berhenti… saya mohon…! Saya mohon… berhenti…”

    Selesai mencicipi bibir kemaluan Anis, Wewengko menengadah dan menatap si cantik itu dengan gembira, “Tahu tidak sayang? Rasanya nikmat sekali!”

    Tak mau berlama – lama di bawah, Wewengko berdiri menghampiri kepala Anissa yang masih menggantung karena kakinya diangkat naik oleh Badu dan Kemal. Kemaluan hitam pria itu menggantung di depan wajah Anis, membuat gadis itu risih dan takut. Anissa pun membuang muka karena jijik. Wewengko yang merasa terhina hendak menampar Anis namun dicegah oleh Kribo yang menggelengkan kepala, ia maju menyodorkan kontolnya ke muka Anissa menggantikan Wewengko yang mundur.

    “Kita mulai pelajaran pertama, nyepong kontol!” kata Kribo dengan penuh senyum, namun karena Anis kembali membuang muka, ia jadi sebal. “Oi, balik dia!”

    Badu, Kemal, Jabrik, Wewengko dan Yono membalik tubuh Anissa hingga perutnya mengganjal kursi. Buah dadanya tergencet ke bawah dengan wajah menghadap langsung ke penis Kribo. Batang panjang kemaluan pria bertubuh kekar itu kini ditamparkan berulang kali ke wajah Anis, mengenai hidung dan pipinya. Ia sengaja melakukannya agar Anissa bisa merasakan kerasnya penis itu. Anis tentu saja berusaha memundurkan kepala atau bergerak ke kanan kiri untuk menghindari bersentuhan dengan batang kejantanan Kribo.

    “Jangan..” pinta Anis sia – sia, “lepaskan saya..”

    “Memangnya kenapa?” Kribo menghardik Anis, membuat gadis itu gemetar ketakutan. “Apa kamu takut melihat kontolku? Ini bukan kontol pertama yang pernah masuk ke mulutmu, kan? Ayo dikulum! SEKARANG!!”

    Darah Anis terasa membeku dan wajahnya jadi pucat pasi ketika Kribo meminta Anis mengulum batang kejantanan pria kekar itu. Gadis itu takut sekali, selain ukurannya yang besar, penis Kribo memiliki urat – urat besar yang bertonjolan dan rambut kering yang menggerombol di pangkal. Anissa meneguk ludahnya, membayangkan bagaimana rasanya benda ini pun ia tak berani. Kini ia harus mengulumnya?

    “Lama amat sih!!!” hardik Kribo emosi.

    Anissa masih berusaha meronta ketika penis itu dioleskan dari tepian telinga ke pipi kiri hingga ke pipi kanan melintas wajah cantiknya. Bau batang kejantanan yang pesing membuat Anis mengernyit jengah dan kewaspadaannya pun lengah, mulutnya membuka secara reflek! Kribo pun menggunakan kesempatan ini untuk mendorong penisnya ke mulut Anis. Tidak mau mengalah, Anissa menutup mulutnya rapat – rapat.

    Kribo semakin emosi karena gagal.

    PLAK!

    Tanpa ampun Kribo menampar pipi Anissa. “Mungkin niat kami masih kurang jelas ya? Apa aku perlu menjelaskannya sekali lagi? Kamu ada di sini untuk melayani kami. Tidak akan ada yang menolongmu, jadi jangan pernah berharap akan ada pahlawan kesiangan yang datang! Menolongmu juga percuma karena kami menjaga ketat tempat ini. Kami akan memperkosamu siang malam sampai Bos Bejo memutuskan untuk menjualmu ke lokalisasi atau menggunakanmu untuk memeras bos – bos gendut berduit tebal. Saat kami selesai dengan perkosaan ini, kamu akan menjadi pelacur kelas teri yang siap dijual 24 jam. Pelacur murahan yang cukup tahu bagaimana caranya membuka kaki lebar – lebar. Kamu hanya perlu bekerja sama dengan melakukan apa yang kami minta tanpa perlu melawan, kalau melawan kamu hanya akan sakit sendiri.”

    Selama mengucapkan ancamannya, Kribo menyekik leher Anissa sehingga gadis itupun sesak nafas. Anis megap – megap mencari udara, wajahnya berubah pucat. Melihat Anis semakin kesulitan bernafas, Kribo melepaskannya, dia tidak mau Anissa mati sebelum berhasil diperkosa.

    Sekali lagi dia menjambak Anis, mendekatkan wajahnya ke arah kejantanannya yang mengeras. Ujung gundul kemaluan Kribo dioleskan ke bibir mungil gadis jelita itu dan didesakkan supaya masuk, tapi Anis masih bersikeras menutup bibirnya.

    “Buka mulutmu, pelacur tengik!” maki Kribo tak sabar lagi, tangannya naik ke atas bersiap menampar Anissa sekali lagi.

    Dengan airmata menetes di pipi, Anissa membuka mulutnya pelan supaya ujung gundul kemaluan Kribo bisa masuk. Dengan menggunakan tangan kanannya Kribo membimbing batang kejantanannya untuk menembus bibir mungil gadis jelita itu, tangan kiri Kribo yang bebas digunakan untuk menggerakkan kepala Anis maju mundur menyusuri panjang batang hitam kemaluannya. Penis berkulit tebal berwarna gelap dengan urat yang melingkar – lingkar itu akhirnya berhasil keluar masuk mulut Anissa yang mungil manis.

    “Pelacur sialan, gini aja kok lama banget!” gerutu Kribo tak jelas. “Wah! Sedotanmu enak sekali..”

    Kribo menambah kecepatannya, memaksa si cantik itu bergerak lebih cepat. Kepala Anis terantuk – antuk seperti boneka tak bernyawa.

    “Ayo hajar terus, Bang Kribo!” teriak Kemal penuh semangat.

    “Makan terus batangku!” Kribo ikut terbakar semangatnya.

    Anissa ingin mati saja rasanya. Kemaluan Kribo sangat bau dan tidak enak dikulum, ia jijik sekali namun tidak bisa berbuat banyak. Penis yang sudah keras itu justru makin lama makin keras dan membesar, terasa di dalam rongga mulutnya yang hangat.

    Wewengko tertawa – tawa sambil membantu Kribo menggerakkan kepala Anissa supaya penis Kribo bisa semakin masuk ke dalam mulut sang dara. Benar saja, begitu dalam sodokannya ujung gundul penis Kribo bisa mengetuk dinding kerongkongan Anis! Si cantik itu tersedak dan memejamkan mata kesakitan karena mulutnya terus menelan batang kejantanan Kribo yang sudah mengeras. Gadis itu berontak dan meronta mencoba bebas, ia tak sanggup menarik nafas, belum pernah dalam hidupnya Anissa diperlakukan seperti ini, dia bisa mati! Suara menggelegak keluar dari tenggorokan si cantik itu.

    Di saat Anissa meronta karena lemas tak bisa bernafas, Kribo malah mengeluarkan erangan kenikmatan yang panjang. “Gilaaaaaaaaaa! Enak banget!”

    “Jebol tenggorokannya!”

    “Pelacur!”

    “Kalian harus coba mulutnya, bener – bener enak.”

    Tangis dan air liur menetes dari wajah cantik Anissa yang mulutnya diperkosa secara brutal. Masih dengan kemaluan Kribo dimulutnya, dara cantik itu sesunggukan. Ia tahu pasti mereka semua akan mencoba melakukan hal yang sama kepadanya, memperkosa mulutnya. Tanpa henti. Kantung kemaluan Kribo terlempar – lempar bersamaan dengan gerakan maju mundur penisnya dan berulangkali menampar dagu Anis. Rambut kemaluan yang bau dan tebal berulang kali melesak dan mengkikis bibir indah si cantik itu. Semua preman yang ada di sana tertawa terbahak – bahak melihat wajah jijik Anissa.

    “Top, semuanya ditelen sama lonte satu ini!”

    “Suka makan jembut?”

    Kribo tak berhenti mempermainkan Anissa, seluruh batang kemaluannya amblas ditelan gadis itu. Memang sukar dipercaya bibir semungil milik Anissa bisa menelan utuh kemaluan Kribo yang sudah membesar dan mengeras seperti kayu. Memegang bagian belakang kepala gadis itu, Kribo memaju mundurkan kemaluannya dengan lebih cepat, menggasak tenggorokan Anissa hingga hampir tersedak kembali. Suara basah menggelegak keluar dari mulut Anissa dan lelehan air liur mengalir deras dari mulut gadis itu.

    “Benar, seperti itu. basahi mulutmu. Kontolku lebih enak masuk kalau mulutmu basah.” Kribo mengerang keenakan, menggoyang kemaluannya dan menusuk lagi ke dalam mulut Anissa. “Seperti itu. Seperti itu juga. Seperti itu juga. Seperti itu juga..”

    Ujung gundul penis Kribo mendesak masuk tanpa ampun, Anissa juga tak berhenti meronta. Raung kesakitan dara cantik itu justru membuat Kribo makin terangsang. Suara menggelegak dan tersedak yang dikeluarkan Anis dan pemandangan indah mulut mungil yang terpaksa menelan kemaluannya membuat Kribo naik ke langit kenikmatan. Ia terus saja menggerakkan kemaluannya tanpa henti, ini membuat Anissa kian tersiksa, Kribo tak berhenti memperkosa mulutnya sementara ia kesusahan bernafas. Berhenti, cepat berhenti, cepatlah berhenti, jerit Anis dalam batin.

    “Makan tuh kontol!”

    “Bikin dia mati tersedak, Bo!”

    “Lagi! lagi! lagi! lagi! terus! Lagi!”

    “Telan sampai mampus!”

    Gelegak suara tersedak kembali keluar dari mulut Anissa yang mencoba menarik nafas, namun desakan penis Kribo di mulutnya sangat cepat dan dalam, membuatnya tersiksa.

    Kribo mengelus rambut Anissa yang menangis, “wajahmu kelihatan sangat cantik kalau menelan kontol seperti ini, lonteku…”

    Anissa memejamkan mata, ia semakin tak kuat bertahan, pria bejat ini memperlakukan mulutnya seperti liang kewanitaan! Kribo bukannya berhenti namun malah makin menjadi, terlebih lagi ada semangat dari kawan – kawannya!

    “Telan sampai dalam, lonte sialan! Kamu bisa makan semuanya!”

    “Cekik dia sampai mampus, Bo! Lonte satu ini suka dicekik!”

    “Wajahnya manis kalau mulutnya ngemut kontol!”

    “Dia goyang terus, Bo! Ayo terus! Bikin dia goyang!”

    “Bagus kalau dia suka kontol, dia akan jilat semua kontol kita!”

    “Edan, baru make mulutnya aja sudah bikin aku pengen ngeluarin pejuh!!” Kribo menggelengkan kepala takjub, heran sekali dia. Sekejap kemudian pria berambut keriting itu memejamkan mata dan mendengus penuh nafsu, gerakan pinggulnya kian cepat! “Ya! Ya! Terus! Yaaa! Ohhh!! Uuughh!! Aku mau keluar, lonte sialan! Aku mau keluarin semua di mulut kamu! Semuanya! Semuanyaaa!!”

    Semua preman yang sedang menonton kebuasan Kribo memperkosa mulut Anissa bisa mendengar suara hantaman perut pria itu di kening sang dara, kantong kemaluan laki – laki sadis itu juga menumbuk dagu Anissa hingga menimbulkan suara saat penisnya masuk sangat dalam ke kerongkongan. Bukannya merasa kasihan dengan Anissa yang jelas sangat tersiksa, mereka malah memberikan setiap kali Kribo menggeram dan penisnya melesak. Kribo memang tak peduli, ia menganggap mulut Anissa adalah liang cintanya, ia menumbuknya dengan cepat dan kejam, tak peduli gadis itu tersedak dan tak bisa bernafas.

    Lalu saat yang dinanti Kribo pun tiba! Pria itu menekan kepala Anissa dalam – dalam hingga menempel di bagian perut bawahnya, membiarkan Anissa meronta sementara ia sendiri melenguh sangat lama sembari memejamkan mata. Kribo rupanya telah berhasil mencapai puncak! Dengan hidung yang menempel di pusar Kribo, Anissa bisa merasakan penis yang ditanam di mulutnya berdenyut berulang, benda keras itu bergetar dan makin kencang denyutannya, lalu tiba – tiba saja mengeluarkan cairan hangat yang membanjir di dalam mulutnya, turun melalui kerongkongan dan memenuhi perutnya!

    Pria sialan itu orgasme dalam mulutnya!

    Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi pada dirinya? Batin Anissa sambil menjerit. Dia dipaksa menelan pejuh seorang begundal sadis! Mulut mungil Anissa memberontak, menolak menelan benda yang ia anggap menjijikkan itu, tapi goyangan meronta Anissa malah justru membuat Kribo makin merasa nikmat! Leleran pejuh yang menggumpal dan membuih keluar dari sisi – sisi mulut sang dara, menetes membentuk temali kental yang menuruni bibir dan dagunya. Meskipun sudah mengeluarkan seluruh mani dari ujung gundul kemaluannya, Kribo masih juga belum berhenti berherak maju mundur. Gerakan dan goyangan tubuh Anissa membuat leleran air mani tadi kian turun dari dagu, menetes ke leher dan jatuh ke balon buah dadanya.

    Setelah beberapa saat, akhirnya Kribo menarik penisnya dari mulut Anissa.

    Saat kejantanan Kribo itu dilepas perlahan, dari ujung gundulnya melejit cairan cinta yang membanjiri kerongkongan sang dara. Menebarkan campuran rasa asin – hambar yang kenyal dan lengket di dalam mulut Anissa. Si cantik itupun megap – megap berusaha menarik nafas begitu penis Kribo lepas, ia tersedak dan berulang kali terbatuk. Lega sekali rasanya bisa bernafas dengan bebas kembali. Air mani yang tertinggal di dalam kerongkongan Anis terdorong keluar, menetes melalui pinggir bibir dan menetes ke dagunya. Hingga saat itupun, batang kemaluan Kribo masih belum tuntas mengeluarkan ledakan air cinta, penisnya masih terus berdenyut dan menyemprotkan pejuh ke wajah Anissa. Rombongan preman itupun bersorak – sorai menyambut orgasme pertama yang mendera tubuh sang dara jelita.

    “Tuh dia suka sama pejuhnya!”

    “Pelacur memang suka itu eh?”

    “Telan! Jangan sampai keluar! Telan!”

    “Telan, lonte!” pinta Kribo.

    Anissa yang sudah hancur rasa percaya dirinya, membuka mulut dan menelan semua pejuh yang dikeluarkan Kribo. Lidahnya bergerak memutar di sekitar bibir dan menarik air mani Kribo kembali ke dalam, persis ketika ia sedang makan es krim.

    “Enak kan rasanya? Sedikit asin tapi berkhasiat.” Kata Kribo sambil tertawa. “Masih belum bersih semua, tidak baik kalau masih ada yang tersisa.”

    Kribo menggoyangkan batang kejantanannya beberapa kali dengan tangan untuk mengeluarkan sisa air mani yang masih tersisa. “Keluarkan lidahmu, lonte!”

    Anissa membuka mulut dan menyentuhkan lidahnya ke penis Kribo. Pria itu bisa melihat sisa – sisa mani masih menempel di bibir Anis, namun ia tidak peduli. Mempergunakan penisnya, Kribo menghapus sisa pejuh itu dan menyodokkan batangnya ke dalam tenggorokan si cantik itu sekali lagi.

    “Pelajaran selesai, jalang! Sekarang kamu sudah resmi jadi lonte kami. Wajahmu sudah penuh pejuh dan kerongkonganmu sudah menelan kontol.” Kata Kribo sambil tertawa walaupun tidak ada yang lucu. “Ayo, sekarang giliran kalian.”

    Setelah menarik nafas panjang Anissa memejamkan mata, sepertinya ini semua masih jauh dari usai. Tubuhnya kembali ditarik dan dibalik hingga kepalanya menggantung di ujung kursi. Kemal dan Yono memulai aksi dengan meremas buah dada Anis yang menggantung dan kenyal seperti bantal. Melihat buah dada sentosa milik sang dara, Yono menjadi tak tahan, iapun menggigit puting susu si jelita itu dengan pelan, menggeriginya hingga Anissa menggelinjang, apalagi kemudian Yono menjilatinya penuh nafsu! Kemal maju ke depan dan menjambak rambut sang dara, seperti apa yang dilakukan Kribo tadi, pemuda itu menamparkan kemaluannya ke wajah Anis!

    “Aku mau kamu melakukan seperti apa yang tadi kamu lakukan pada temanku! Rasakan kontolku, di mulutmu, dengan lidahmu, ke tenggorokanmu…”

    Anissa tak menjawab, ia hanya bisa meneteskan air mata.

    “Perempuan jalang sialan, bagaimana, masih mau ngemut kontol lagi?” tanya Kemal sambil memaksa Anissa menganggukkan kepala. “Kamu pasti mau, kamu kan lonte.” Pria bertubuh besar itu membalikkan badan ke arah kawan – kawannya. “Bagaimana, apa kalian mau membantu lonte ini dengan menyediakan kontol?”

    “Ha – ha, ya! Tentu!” hampir bersamaan mereka menjawab. “Yang tadi belum apa – apa!”

    “Ayo ngomong kalau kamu mau ngemut kontol lagi! Ngomong! Cuih!” Yono menampar Anissa pelan dan dengan kurang ajar meludah di wajahnya. “Aku mau mendengar kamu memohon, meminta kami memperkosamu lagi, misalnya meminta kami membuat anusmu lebih lebar dan lubangnya perih karena terluka!”

    Anissa diam dan menatap Yono dengan pandangan benci yang tak terkatakan.

    “Ayo ngomong!” tampar Yono lagi. “Malah melotot!”

    “Aku mohon..!” teriak Anissa.

    “Mohon apa?”

    “Aku mohon..,” Anissa berhenti sejenak, tangis dan rasa malu membuat lidahnya tercekat. “mohon perkosa aku.” Bisiknya tanpa daya.

    “Nah, kalau kamu sendiri yang ngomong gitu kan jauh lebih sopan dan manis.” ejek Kribo yang ikut datang untuk menghina gadis itu. “Yang perlu kamu lakukan kan hanya tinggal meminta..” Kribo berpikir sejenak, “..bagaimana kalau sekarang kita coba dengar pintamu sekali lagi tapi lengkapi dengan kata memek dan anus.”

    “Aku tidak mau… aku tidak..”

    “Katakan.”

    “Ak.. aku mohon…, ak… akku..” Anissa tergagap namun kemudian ia menghela nafas sangat panjang, air matanya menetes ketika ia mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia duga akan keluar dari mulutnya sendiri. “Aku mohon… perkosa memek dan anusku…”

    “Bagus sekali.” Kribo bertepuk tangan, “sekarang katakan kamu ingin nyepong kontol.”

    “Ak… aku ingin… nyepong kon… kont…” Anissa menggeleng, “aku tidak bisa mengatakannya…”

    Kribo mendelik marah.

    Anissa pun menganggukkan kepala sebagai permohonan ampun, “ja…jangan! ak… aku ingin… ingin…. nyep… nyepong kontol… aku ingin nyepong kont… kontol….”

    Yono dan yang lain tertawa terbahak – bahak, “baiklah kalau itu maumu, lonte cantik.”

    Sembari tersenyum licik, Yono membuka bibir Anissa dan mulai mencoba melesakkan kemaluannya ke dalam mulut yang masih menyisakan cairan mani Kribo. Sekali lagi Anis megap – megap mencoba bernafas, apalagi Yono menekan hidung sang dara sehingga mau tak mau Anissa harus membuka mulutnya lebar – lebar.

    “Lonte cantik, sekarang giliranku merasakan mulutmu! Rasakan kontolku masuk ke kerongkonganmu, ke tenggorokanmu, kalau bisa akan kutembus sampai perutmu!! Akan kusemprotkan dalam – dalam pejuhku sampai kamu kenyang minum mani!” kata Yono kembali. Tanpa peduli sakit yang kini dirasakan Anissa, pria sadis itu duduk di atas kepala sang dara dan melesakkan penisnya ke dalam mulut yang terbuka. Dengan satu lenguhan panjang, Yono menjebloskan kemaluannya dalam – dalam. Ketika Anis mulai tersedak, Yono menarik keluar penisnya dengan menyisakan ujung gundul masih berada di mulut sang dara.

    “Sedot, ayo sedot! Lonte sialan! Kenapa harus selalu disuruh?! Ayo sedot!!!”

    Dengan air mata menetes deras, Anissa dengan patuh menghisap dan menjilat ujung gundul batang kejantanan Yono. Kribo datang membantu, ia menekuk kaki Anissa ke depan hingga lutut gadis itu hampir sampai di telinganya sendiri. Dengan tubuh yang ditekuk seperti itu, pantat dan memek Anissa mengundang sekali untuk diserang!

    “Ayo! Lonte ini masih punya dua lubang lagi di belakang! Sumbat saja!” kata Kribo sambil menyunggingkan senyuman. Kalau kakak ipar Anissa yang cantik sudah menolak Pak Bejo mentah – mentah dan memilih bajingan kurus kering yang jadi supirnya itu untuk menghajar mereka tempo hari, kini dia akan lampiaskan semua kekesalan pada Anissa!

    Usai Yono melampiaskan nafsunya pada Anissa, gadis itu bisa merasakan serangan datang silih berganti, tangan – tangan jahil merambah seluruh lekuk tubuhnya yang mulai bermandikan keringat. Ada tangan yang nakal mengelus paha mulusnya yang seputih pualam, ada jemari yang meremas pantatnya yang sekal dan ada telunjuk yang cekatan mengoyak bibir liang cintanya, semuanya hampir bersamaan! Buah dadanya yang sentosa jelas menjadi sasaran empuk, bergantian mereka menjilati, menggigit dan meremas – remas payudara Anis. Puting susunya dipilin dan ditarik – tarik membuat Anis meringis kesakitan sementara para pria buas yang mengitarinya justru tertawa terbahak – bahak. Sial bagi dara malang itu, rasa sakit yang mengitari putingnya justru membuat barang mungil itu menegak dan mengeras, menghunjuk ke atas. Wajah cantik Anis yang panik juga tak kalah parah, terus menerus diserang oleh tamparan kemaluan para penyerangnya.

    “Pelacur!”

    “Lonte!”

    “Cewek murahan!”

    “Sampah!”

    Hinaan dari semua penjuru makin menyudutkan dan membuat Anis terhina sementara detik – detik pemerkosaannya kian cepat datang. Anissa sudah tak bisa lagi mengetahui siapa yang menyerang bagian tubuhnya yang mana, mereka berputar dan bergantian menyentuhnya. Salah seorang dari mereka meletakkan batang kemaluannya tepat di tengah lembah buah dada Anissa dan menggunakan balon payudara gadis itu untuk menekan penisnya, setelah dirasa ketat dan nyaman, orang itu mulai memperkosa payudara Anissa dengan bergerak maju mundur dengan cepat! Tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk kemudian menyemprotkan cairan maninya ke dagu dan dada sang dara! Usai orgasme, ia meludahi dada Anissa dan turun dari atas tubuhnya.

    Tangisan Anissa tak terbendung, entah sudah berapa lama ia menangis, mungkin bahkan hingga kering, tapi para preman itu tak juga berhenti melecehkannya. Hingga akhirnya ia mendengar teriakan Badu.

    “Sudah waktunya ngentot!”

    Preman itu melesakkan penisnya ke dalam memek Anissa perlahan, si cantik itu memejamkan mata ketika merasakan ujung gundul kemaluan Badu masuk hingga memenuhi liang cintanya. Anissa menarik nafas pendek satu dua karena mencoba bersiap dengan serangan Badu. Benar saja, dengan satu sodokan yang keras dan kejam, Badu menanamkan penisnya dalam – dalam! Anissa ingin menjerit kesakitan namun teriakannya terhenti karena ketika mulutnya membuka, satu penis berbau busuk menembus bibirnya!

    Melihat Anissa tak berdaya dengan penis yang melesak di mulut, Badu mengulangi lagi sodokannya dengan lebih kencang lagi! Begitu kencangnya desakan penis Badu, sampai – sampai tubuh Anissa hampir melejit.

    “Memekmu enak sekali!!” teriak Badu puas.

    “Ayo, lonte…bibirmu seksi sekali, aku suka merasakan bibirmu…” orang yang sedang memperkosa mulut Anis, yang ternyata adalah Kemal mulai merem melek keenakan. Sama seperti Badu, ia juga bergerak maju mundur dengan cepat, menanamkan kemaluannya di dalam mulut Anissa. Saat gadis itu mulai tersedak, Kemal menarik penisnya dan tanpa disangka, ia telah mencapai puncak! Semprotan air mani meledak di mulut Anissa. Tembakan demi tembakan cairan kental memenuhi mulut, membasahi bibir dan menempel di lidah sang dara jelita itu.

    “Ayo telan! Telan semua!” teriakan Kemal begitu nyaring rasanya di telinga Anissa. “Ayo, lonte sialan! Telan semuanya!”

    Anissa hendak menelan, tapi kerongkongannya terasa begitu sakit sehingga ia terbatuk – batuk karena tersedak. Ketika gadis itu membuka mata, semprotan mani lain membasahi wajahnya! Entah siapa yang kali ini menyemprotkan air mani ke wajah Anissa karena gadis itu sudah kembali memejamkan matanya untuk mencegah semprotan itu masuk ke matanya. Kemal mengoleskan ujung gundulnya di pipi Anissa untuk membersihkannya dari air maninya sendiri. Para preman itu bersorak – sorak melihat wajah Anissa yang makin tak karuan belepotan cairan cinta.

    “Begitu seharusnya wajah lonte!”

    “Aku tidak mengira dia bisa menelan segitu banyak!”

    “Lonte seperti dia pasti minta lagi! lanjut!”

    “Lanjut!”

    “Lanjuuuuttt!”

    Dengan mulut megap – megap, Anissa berusaha bernafas. Rasanya susah sekali membuka mulut dengan cairan kental yang membanjir di mulutnya. Ia merasa seperti tenggelam dalam lautan air mani. Berulang kali gadis itu tersedak dan terbatuk – batuk. Setiap kali ia menelan atau mengeluarkan cairan itu melalui sela bibir, seperti masih ada sisa yang tertinggal hingga ia terus – menerus bisa merasakan cairan sperma dalam mulutnya. Satu garis panjang kental menetes dari bibir mungil Anissa, menetes melalui dagu turun hingga leher dan bagian atas dadanya. Ketika ia masih berusaha menata diri untuk bersiap, tiba – tiba Badu melenguh panjang penuh kenikmatan, preman yang masih memperkosa memeknya itu mengejang dan menarik keluar penisnya. Tak pelak lagi, satu semprotan hebat membanjir di buah dada dan perut sang dara!

    Anissa sesunggukan dengan air mata yang kering, malam masih panjang. Orang – orang ini pasti belum akan berhenti…

    “Sepertinya bagian yang ini sudah matang, ayo kita balik!” kata Kribo yang langsung disambut sorakan teman – temannya.

    Mereka mengangkat tubuh Anissa dan berusaha membuatnya berdiri, namun karena tidak kuat dan kedua tangannya masih terikat isolasi, si cantik itu ambruk dan jatuh berlutut. Wewengko menarik kursi ke depan Anissa dan membungkukkan tubuh gadis itu ke depan hingga tubuhnya bersandar di kursi dengan kepala yang tergantung di ujung kursi dan pantatnya naik ke atas. Kini Kribo menarik kaki Anis dan mengikatnya di kursi, begitu juga dengan pinggangnya yang ramping.

    “Pantat pelacur ini mulus sekali.” kata Jabrik yang langsung disambut sorakan teman – temannya, mereka memang tahu Jabrik sangat menyukai pantat mulus wanita cantik. “Kalian boleh menyoraki aku, tapi coba lihat lobang anusnya! Pasti sempit dan nikmat sekali!”

    Jabrik menampar pipi bokong Anis dengan sekeras – kerasnya! Anissa pun menjerit sekuat tenaga! Ketika kepalanya tegak, ia bisa melihat sekeliling dan melihat wajah – wajah pemerkosanya sedang meringis puas melihat gadis itu ketakutan. Lebih ketakutan lagi karena kini penis dua orang yang berada di samping kepalanya kembali membesar dan mengeras. Dua orang itu adalah Wewengko dan Yono.

    Keduanya tertawa terbahak – bahak melihat wajah Anissa yang memucat. Kembali penis – penis mereka ditamparkan ke pipi dan wajah Anissa yang walaupun sudah belepotan air mani namun masih terlihat sangat mempesona. Pipi, hidung, bibir, dahi, rambut, semua bagian wajah sang dara jelita terkena tamparan batang kejantanan. Anissa mulai menangis lagi walaupun kini tenggorokannya terasa kering, gadis itu tahu tinggal tunggu waktu saja sebelum salah satu batang kemaluan itu kembali masuk ke tenggorokannya.

    Rambut Anissa yang panjang dan indah dijambak ke arah kiri, gadis itupun mengernyit kesakitan.

    “Jilat kontolku.” Kata Yono dengan kasar.

    Walaupun dengan tetesan airmata deras, Anissa menuruti permintaan Yono. Ia mengeluarkan lidahnya yang mungil dan dengan perlahan dan gugup menempelkannya di penis sang preman. Dengan gerakan lembut Anissa menggerakkan lidahnya naik turun menyusuri batang kejantanan Yono, membiarkan preman yang sebelumnya menyakitinya itu merasakan kenikmatan hingga merem melek dan menggelinjang. Anissa bahkan mengulum ujung gundul penis Yono, lalu melepaskannya hingga mengeluarkan suara letupan kecil yang membuat preman itu melenguh keras penuh kenikmatan.

    Tak lama kemudian, giliran Wewengko yang menarik kepala Anissa. Kemaluannya yang keras, panjang dan hitam sudah menunggu. Pria itu tak lama – lama menunggu, begitu kepala Anis berbalik,penisnya langsung dilesakkan melalui bibir mungil sang dara. Untuk beberapa saat, Anissa memainkan penis Wewengko dalam mulutnya dan memberikan service yang sama seperti sebelumnya ia lakukan pada Yono. Gadis itu beranggapan, jika ia mau menuruti mereka, mudah – mudahan mereka tak menyakitinya dan ini semua cepat berakhir.

    Sama seperti Yono, Wewengko pun akhirnya melenguh keras dan bahkan bisa mencapai puncak dengan cepat! Sekali lagi air mani disemprotkan ke wajah Anissa. Semua preman itu tertawa melihat wajah Anissa makin tak karuan. Tadi mereka mengocok penis masing – masing selama Anis mengulum penis Wewengko dan kini mereka siap menyemprotkan cairan sperma ke seluruh wajah sang dara. Tanpa ampun, cairan kental itu membanjiri wajah cantik Anissa, membuat gadis itu hanya bisa pasrah menerima dengan memejamkan mata.

    Para preman itu tertawa lagi.

    Kribo menowel dagu cantik Anis dan menatapnya tajam, “lihat aku baik – baik, lonte sialan.”

    Anissa mencoba membuka matanya, namun karena ada leleran air mani yang lekat membasahi bagian matanya, ia hanya bisa mengejap beberapa kali sebelum menutup lagi matanya.

    “Kamu sudah mulai mengerti apa yang harus kamu lakukan, betul?”

    Anissa tak menjawab, bukan karena ia tak mau tapi karena ia sibuk menelan sisa mani dalam kerongkongannya. Dengan ketakutan gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.

    Sayangnya Kribo tetap marah melihat dara itu terdiam, iapun menjambak dan menarik rambut Anissa. “Betul tidak? Jangan diam saja, dasar lonte!!!”

    “Be..benar.” jawab Anissa sekuat daya.

    “Dasar pelacur murahan…”

    “Aku mau bokongnya,” kata Jabrik menyela Kribo, “kira – kira muat atau tidak ya?”

    “Tentu saja muat.” Kribo terkekeh, “kamu bahkan bisa memasukkan lenganmu ke dalam sana kalau mau!”

    “Cewek ini pantatnya mulus banget.”

    “Bagaimana pelacur sialan? Kamu mau menikmati permainan baru kami?”

    Anissa sudah berniat menggeleng namun karena ketakutan akan kembali disakiti, ia hanya bisa terdiam menggigil dengan wajah pucat pasi. Jabrik mengoleskan satu jarinya di bibir anus Anis yang mungil dan bersih, lalu perlahan menusuk ke dalam, menjajal sempitnya tempat itu. Anissa mengeluarkan satu erangan panjang karena sakit dan memejamkan matanya pedih.

    Jabrik berujar gembira, “ini sempit banget!! Kontolku bakalan kegencet. Oh, tapi jangan takut, lonteku… kamu pasti akan terbiasa.”

    Mendengar apa yang akan dilakukan Jabrik kepadanya membuat Anissa tak bisa lagi berdiam diri, ia meronta habis – habisan! Sayang ia tak bisa berbuat banyak karena terikat erat, bahkan kemudian Badu maju kembali dan menyodokkan penisnya ke dalam mulut sang dara, membuat gadis itu terkunci tak sanggup bergerak! Dengan mencengkeram pipi bokong Anissa dan menggerakkannya ke kanan dan kiri, Jabrik membuka akses ke anus gadis itu lebar – lebar. Ia sempat menampar pantat mulus dara itu sehingga berwarna merah, Anissa hanya bisa memejamkan mata dan menahan perih yang dirasa. Jabrik maju ke depan dan berbisik di telinga sang dara, “baiklah lonte sialan. Siap dientotin bokongnya?”

    Jabrik meludahi jemarinya sendiri, lalu mengoleskannya di belahan pantat Anissa. Dengan penuh harap, ia meletakkan ujung gundul kemaluannya yang sudah menegang di lubang pembuangan Anis yang mungil dan bersih.

    Jabrik mendorongnya masuk.

    Anissa terbelalak lebar! Ia mengernyit kesakitan namun tak bisa berteriak karena mulutnya juga sedang diperkosa. Ia hanya bisa mengatupkan kedua kepalan tangannya erat – erat seakan hendak meremukkan sesuatu. Penis Jabrik yang memasuki wilayah sempit terangsang hebat dan kian lama kian membesar, sodokannya juga menguat dari saat ke saat, menguasai daerah jajahan baru, tempat yang seharusnya tidak boleh dimasuki oleh penis. Anis menangis hebat, rasanya sakit. Sakit sekali. Seakan lubang anusnya hendak dirobek dengan kasar.

    Melihat gadis itu menderita, Jabrik malah tertawa. “Rasanya pasti enak sekali, ya sayang?”

    Badu yang sedang menyumpal mulut Anis ikut menimpali, “pelacur yang doyan disodomi. Kamu pasti pelacur murahan yang sudah tidak laku lagi.”

    Tanpa ancang – ancang, Jabrik melesakkan penisnya dalam – dalam, membuat Anissa kembali ingin menjerit. Seluruh urat gadis itu menegang dan wajahnya memerah.

    “Bukankah kamu yang menginginkan kontol kami masuk di semua lubangmu, hei lonte?”

    Jabrik masih terus menusuk dengan kasar. Lalu, di saat rasa sakit itu tak tertahankan, Anissa merasakan lubang anusnya mulai membuka dan penis milik Jabrik mulai bisa masuk dengan bebas. Suara menggelegak dan erangan menjadi satu – satunya protes yang bisa dilakukan sang dara jelita itu. ia tidak bisa berbuat apa – apa dengan mulut dipenuhi penis. Gadis itu bisa merasakan liang duburnya mulai menyesuaikan ukuran penis Jabrik dan mengatup mencengkeram penis preman itu. desahan nikmat Jabrik menjadi pertanda perasaannya benar, pria sadis itu tidak berhenti, ia menusuk semakin dalam.

    Jabrik belum menusukkan seluruh penisnya ke dalam pantat sang dara, namun tiap kali ia menusuk, Anissa merasa pantatnya akan jebol. Duburnya memanas dan tubuhnya menegang, ia sangat kesakitan. Jabrik yang memaksa masuk membuat lubang anus Anissa terpaksa merenggang karena harus membuka jalan. Ini jauh lebih sakit daripada saat pertamakali Pak Bejo memperkosanya dulu. Yang kali ini seperti terasa ada batang pedang yang masuk tubuhnya untuk menjajah perut menembus hingga ke dada.

    Tangisan Anis kian tak terbendung. Hentikan… hentikan… hentikan…

    Menahan perih dan sakit seperti itu membuat mata Anissa berkunang – kunang, ia merasa pandangannya kabur, tubuhnya mulai melemah… dia tak tahan lagi… sepertinya dia… akan… pingsan… dia… akan…

    PLAKK!! Tangan Badu menampar Anissa, untuk menyadarkannya. Gadis itu membelalakkan mata karena kini pipinya pun terasa panas dan perih. Tepat di saat Anissa sadar kembali, ia merasakan kantong kemaluan Jabrik sudah menampar pipi pantatnya! Penis pria itu sudah masuk semua ke duburnya!

    “Auughhh… bokongnya sempit banget.” Ujar Jabrik sambil menggemeretakkan giginya dengan gemas, ia menggoyangkan pantatnya dengan penuh kenikmatan. “Aku sukaaa sekali bokongmuuuu, sayaaaang!!”

    Kribo terbahak – bahak, “itulah pelajaran kedua, lonte sialan! Sodomi!”

    Badu menarik penisnya yang sudah hampir orgasme dari mulut Anissa dan langsung menyemprotkan spermanya ke seluruh wajah si cantik itu. Hidung, bibir, kening, pipi, bahkan pelupuk mata, semua kena cairan lengket berwarna putih gading yang kental itu. Untungnya Anissa sudah tidak peduli lagi, karena begitu Badu menarik kemaluannya, Anissa langsung tersedak dan terbatuk – batuk, ia juga menggeram kesakitan karena Jabrik masih menggoyangkan penis di anusnya. Dengan kurang ajar, Badu membersihkan ujung gundul batang kejantanannya di rambut indah Anissa.

    Kribo, Yono dan Wewengko memberi semangat pada Jabrik untuk terus menghajar dubur dara jelita yang malang itu.

    “Kasih dia neraka, Brik! Hajar terus!”

    “Mantap!”

    “Lonte! Cuih!”

    “Terus! Bikin dia pingsan!”

    “Duburnya enak ya? Sempit ya? Habis ini aku juga mau!”

    “Lonte sialan itu pasti suka!”

    “Pantat putih montok kayak bakpao! Ditusuk – tusuk biar kempes!”

    “Jangaaan…… jangaaaan! Saya mohon! Kasihani saya……! Saya salah apaa sama kalian? Jangaaan! Saya mau melakukan apa sajaa! Apa sajaaa! Asal jangan itu! Jangaaan…!” jerit tangis Anissa dengan putus asa.

    Ketika Jabrik menarik mundur batang kejantanannya, Anissa menarik nafas lega, namun belum lagi setarikan nafas, Jabrik sudah melesakkan kembali dalam – dalam! Tubuh gadis itu seperti terlontar ke depan dengan penuh tenaga, kepalanya bahkan terlempar ke atas karena sodokan itu! Karena sudah mulai longgar, Jabrik kini bisa leluasa memaju mundurkan penisnya di dalam dengan cepat. Bagi preman itu, rasanya luar biasa enak. Bagi Anissa, ia seperti dihukum cambuk berulang – ulang. Gadis itu menjerit kesakitan tiap kali Jabrik menancapkan batang penisnya dalam – dalam.

    Yono yang risih dengan jeritan Anissa mengambil posisi dan menyiapkan penisnya, begitu gadis itu menjerit dengan sigap Yono melesakkan penisnya ke dalam mulut sang dara! Sekali lagi Anis diserang atas belakang! Kini, tiap kali Jabrik mendorong ke depan, Yono yang merasakan nikmat luar biasa! Ia merem melek karenanya.

    Di saat Anissa kembali tersedak dan kesakitan karena mulutnya diperkosa, para preman itu kembali tertawa terbahak – bahak dan bersemangat. Mereka seperti berlomba menyakiti gadis jelita itu! Jabrik yang bersemangat ikut meloncat – loncat dan menusuk semakin dalam dan semakin dalam!

    “Hebat, Brik! Lontenya mulai suka kamu sodomi!”

    “Sakit ya? Sakit ya? Syukurin!”

    “Jabrik hebat!”

    “Ini baru dua lubang, bagaimana kalau tiga lubang sekaligus?”

    “Cepetan, Brik! Aku juga mau tuh pantatnya!”

    “Memang dasar lonte murahan.”

    “Dasar pelacur! Suka ya?” Diberikan semangat oleh teman – temannya, Jabrik menghajar dubur Anissa dengan satu sodokan sekuat tenaga, tubuh mungil Anissa bagai terlempar ke depan hingga hidungnya masuk ke rimbunnya rambut kemaluan Yono yang masih terus memaksa Anis mengulum penisnya. “Kamu suka kan, sayang? Kamu suka, kan?” tanya Jabrik lagi.

    Dengan sekuat tenaga, Anissa mencoba berteriak ketika penis Yono sedang ditarik mundur.

    “TIDAKKKhghhmmpp!!!”

    “Tidak suka ya sudah, nikmati saja ini!” sekali lagi Jabrik menghajarkan penisnya dalam – dalam.

    “Hauuughhhhhhkkkgghhh!!!! Jangaaannmmpphh!! Sakiiittttmmmpghhhhkk!!”

    Yono geleng – geleng kepala melihat Anissa masih mencoba berteriak walaupun mulut gadis itu sudah dipenuhi batang kemaluannya. “Lonte! Cuih!” maki preman itu sambil meludahi kepala sang dara.

    Jabrik menggoyangkan kemaluannya yang tertanam dalam – dalam dan ini membuat Anissa makin menderita karena liang itu kian merenggang. Tubuh gadis malang itu menggelinjang hebat karena tak tahan dengan penderitaan ini, melihatnya, bukannya simpati, Jabrik malah tersenyum sadis. “Kamu kesakitan ya? Kasihan banget, ya sudah aku tarik saja….” Batang kemaluan pria itu ditarik perlahan keluar, namun bukannya lega, Anissa malah semakin kesakitan ketika penis itu membuka jalan keluar. Jabrik menarik mundur semua batang kemaluannya kecuali ujung gundulnya. “Bagaimana? Sudah enakan?”

    Anissa tahu apa yang akan dilakukan oleh Jabrik, ia menangis dan menggelengkan kepala.

    Jabrik tertawa, “maaf sayang, aku tidak bisa mengeluarkannya sekarang, sempit sekali jalannya. aku coba maju saja ya?” dengan kekuatan penuh Jabrik mendesakkan kemaluannya ke dalam, lalu ditarik, lalu disodokkan lagi, ditarik, sodok lagi, tarik, sodok lagi, tarik, sodok lagi, lagi, lagi, lagi, lagi….

    Tiap sodokan membuat Anissa menjerit dan menangis dalam penderitaan dan rasa malu. Tangisnya bisa terdengar dari sela – sela penis Yono yang masih menguasai mulut gadis itu. Mendengar tangis itu, Jabrik malah semakin cepat dan kencang melakukan sodokan. Anissa yang terikat di kursi hanya bisa melenguh dan mengembik penuh derita saat kedua orang preman sadis kini tengah memperkosanya habis – habisan.

    Entah beruntung entah tidak, di mulutnya tiba – tiba saja membanjir cairan sperma kental. Lagi, lagi, terus, banjir itu terus datang hingga Anissa harus menelannya supaya bisa bernafas. Namun belum sempat Anissa bernafas lega, penis lain milik Wewengko datang menyerang mulutnya! Penis demi penis menjejal mulutnya tanpa henti, Anissa merasakan bibirnya mulai perih dan berasa seperti hendak robek karenanya. Wajahnya yang cantik kini makin kabur karena wajahnya basah oleh cairan mani kental yang menempel di sana – sini, di pipi, leher, kening, hidung, semua.

    Begitu juga anus Anissa yang terasa panas dan perih berkelanjutan karena diperkosa oleh Jabrik. Preman itu masih juga terus menyakitinya tanpa henti, bahkan bukannya melunak malah semakin keras.

    “Bokongnya sempit banget! Enak gila! Kayak ngentotin perawan!”

    Sekali lagi dia menghunjamkan penisnya dalam – dalam lalu menariknya dan melesakkan lagi dengan cepat, menembakkan kantong kemaluannya seperti peluru hingga menampar bibir liang cinta Anissa, berulang – ulang kali sampai dia akhirnya hampir mencapai klimaks.

    “Ambil itu, lonte sialan! Ambil semua kontolku! Hancur anusmu!”

    Anissa mengembik menahan pedih, ia memejamkan mata sembari mengeluarkan lenguhan berulang di balik kuluman penis Wewengko, “Oh! Oh! Oh! Oh!”

    “Terus aja, Bro! Dikenthu terus sampai pingsan!” teriak Yono memberi semangat.

    “Hajar bokongnya, Bro!”

    Sekali lagi Jabrik mengulang kekurangajarannya, ia menarik penisnya hingga ke ujung gundul dan dilesakkan dengan cepat dan kejam hingga sangat dalam. Ia memang berniat menyiksa dan menghancurkan dubur gadis tak bersalah itu.

    “Aku akan membuatmu menyesal dilahirkan, sayang.” Erang Jabrik penuh nikmat. “Ooooh yaaa…” ia mengerang tiap kali penisnya masuk ke dalam. “Ambil semua kontolku, sayang. Ambil semua! Semua untuk kamu!”

    Anissa kian lemah melawan, ia ingin ada yang memotong batang kejantanan Jabrik dan mengeluarkannya dari anus mungil gadis itu, tapi tentu saja itu mustahil. Jabrik bergerak sangat cepat dan kencang merusak anusnya seperti orang gila yang kesetanan.

    “Ooooh, ini dia datang, sayang….!” teriak Jabrik menuju puncak kenikmatan. “Ini dia datang!!”

    Dengan satu sodokan kencang, Jabrik menanamkan batang kejantanannya dalam – dalam di dubur Anissa. Cairan kental meluncur deras dari ujung gundul kemaluan Jabrik memenuhi lorong belakang sang dara cantik. Batang kemaluan Jabrik berdenyut beberapa lama ketika semprotan itu mengalir deras dan membanjiri liang dalam Anissa, lalu beberapa saat kemudian berhenti. Akhirnya, setelah beberapa saat yang menyiksa, penis itu mengecil lemas dan dikeluarkan dari pantat Anis. Saat penis itu keluar, leleran cairan cinta menetes dari anus hingga ke bibir kemaluannya.

    Anissa berharap pemerkosaannya yang brutal oleh kawanan preman ini selesai. Tapi asa itu pudar ketika sekali lagi ia merasakan pantatnya dielus seseorang dan penis lain perlahan mulai memasuki anusnya. Cairan cinta yang sedari tadi disemprotkan Jabrik ke dalam liang belakang membuat penis yang ini masuk lebih mudah, orang ini bisa melesakkan penisnya dalam – dalam hingga kantong kemaluannya mentok menampar pipi pantat Anissa. Ia menyodominya untuk beberapa menit, menariknya dan melesakkannya dalam – dalam ke liang cinta sang dara. Preman ini rupanya tidak puas hanya dengan satu lubang saja. Anissa tetap memejamkan mata karena tak ingin melihat siapa pemerkosanya kali ini, tapi penisnya begitu kencang dan keras menghajar memeknya, berulang – ulang kali dia menggauli Anissa hingga akhirnya ia mencapai klimaks dan cairan cintanya disemprotkan ke dalam vagina si cantik itu.

    Wewengko menggoyang kepala Anissa ke depan dan belakang dengan sangat kasar, rambut panjang dan halus milik si cantik itu bagai terbang memutar seperti baling – baling. Dara itu bisa merasakan air mani yang menetes dari mulutnya dan jatuh ke perut, tapi ia hanya bisa meneguk sedikit ke dalam mulut dan kerongkongannya.

    “Mulai sekarang kamu tak lebih dari seorang pelacur hina yang harus menyediakan mulut, memek dan bokong untuk semua laki – laki yang menginginkanmu eh!” ujar Wewengko. “Kamu pikir kamu ini gadis suci yang masih perawan eh? Pikir lagi baik – baik! Semua kehormatanmu sudah kami renggut!”

    Anissa tidak menjawab karena ia sekali lagi tersedak. Bibirnya tepat berada di ujung terdalam kejantanan pria itu tapi ia tahu kalau ucapan preman itu tepat sekali, dia sudah bukan lagi gadis perawan yang masih suci, dia sudah kotor dan menjijikkan. Saat tersedak, kerongkongan Anis bergejolak dan tubuhnya menggelinjang, hal itu justru membuat sang preman yang sedang memperkosa mulutnya menjadi semakin terangsang dan akhirnya melepaskan cairan lengket ke dalam tenggorokan dara jelita itu.

    Saat penis preman itu ditarik, Anis berusaha menarik nafas dalam – dalam. Pria itu hanya tertawa, “Luar biasa, cewek satu ini memang jago kalau disuruh nyepong kontol.” Cengirnya, “lain kali kita harus mengundang lebih banyak orang lagi.” preman itu dengan kurang ajar membersihkan penisnya yang masih belepotan air mani menggunakan rambut halus Anis yang kini acak – acakan.

    Selesaikah mereka? Tidak. Tubuh si cantik itu kembali ditarik, satu penis masuk ke mulut dan satu ke dalam memeknya, dengan brutal mereka memperlakukan tubuh Anis seperti boneka tak bernyawa. Yang memperkosa mulutnya tanpa ampun mendorong pinggulnya hingga kantong kemaluannya bisa menampar – nampar dagu Anissa. Gadis itu sudah tak mampu lagi merasakan dan memahami bagaimana, kapan dan apa yang terjadi. Yang bisa ia rasakan hanyalah penis yang keras, besar dan panjang yang dilesakkan ke dalam semua lubang di tubuhnya. Anis menggeram sebentar ketika satu batang kemaluan ditarik dari pantatnya dan digantikan penis lain, tetesan mani menetes hingga membasahi pahanya yang mulus. Lututnya terluka karena tergesek – gesek karpet yang dibentangkan di bawah kursi saat tubuhnya dipaksa membungkuk sembari terikat di atas kursi ketika ia berulangkali diperkosa.

    Badu mengeluarkan sebuah spidol boardmarker warna merah yang biasa digunakan untuk menulis di papan tulis dari kantongnya. Saat itu Anissa masih diperkosa oleh Kemal yang merem melek saat merasakan kontolnya dipijat oleh liang cinta sang dara. Di pipi pantat kiri Badu menulis kata ‘PELACUR’ dengan spidolnya, sementara di pipi pantat kanan ia menulis kata ‘LONTE’, di tengah kedua kata itu, sembari membubuhkan tanda panah ke bawah menuju bibir anus Anissa, ia menulis ‘SILAHKAN MASUK’. Kemal tertawa terbahak – bahak karenanya dan gagal mencapai klimaks, dengan bercanda Ia memaki Badu yang membuatnya kehilangan konsentrasi.

    Rasanya seperti tiada akhir, semuanya berlangsung terus dan terus. Penis berwarna hitam berulangkali berpindah dan bergantian, mengisi mulutnya sampai ia tersedak, membanjirinya dengan air mani di kerongkongan dan wajahnya. Vaginanya sudah bukan barang rahasia lagi karena semua preman di sana telah membanjirinya dengan sperma mereka, jika sampai Anissa hamil, ia tidak akan tahu siapa ayah anaknya karena semua orang ini telah memperkosanya tanpa ampun. Pantatnya yang molek telah diacak – acak dan anusnya begitu perih karena berulangkali disodomi. Dara itu kini seperti orang lumpuh, tak bisa bergerak dan hanya mampu terkulai pasrah, satu – satunya protes yang kini ia lakukan hanyalah menggeram dan mengerang, tangisnya tak berhenti mengalir sampai kering, ia kini hanyalah boneka mainan yang jadi sumber pelampiasan kebejatan para preman. Bagi mereka, Ia boneka yang hanya pantas diperkosa. Mereka tidak peduli ketika ia tersedak dengan mulut masih mengulum kontol ketika penis lain mendesak memeknya. Mereka tidak peduli ketika mereka bersamaan membanjiri lubang – lubangnya dengan pejuh deras. Mereka adalah binatang buas dan gadis itu tak lebih dari seonggok daging. Parahnya lagi, mereka sering memaksa Anissa membuka mulut untuk mengatakan bahwa ia menikmati perkosaan ini.

    “Lonte satu ini suka digangbang! Lihat nih, airnya keluar terus! Kamu memang pelacur murahan! Lonte pinggir jalan! Kamu suka disodomi! Kamu suka ngemuk kontol! Kamu nggak bisa hidup tanpa ada kontol di memek! Ayo bilang kamu suka kontol! Ayo bilang!”

    “A… aku suka kontol…” desah Anissa lemah. “Aku pelacur… aku lonte… aku suka disodomi… ngemut… kontol… memek… aku…”

    “Kamu mau kontolku kan? Ayo bilang kamu suka kontolku!”

    “A… aku suka kontolmu… aku mau… aku mohon…”

    Pemerkosaan bergilir dan berantai ini telah menghancurkan kemurnian pikiran dan tubuh Anissa yang indah dengan rasa sakit dan penghinaan. Bertubi – tubi dan bergantian penis demi penis menjajah tubuhnya, menusuk, mendera dan menyakitnya. Satu selesai, diganti yang lain, lalu yang lain lagi, kemudian yang lain lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi… tanpa henti.

    Ketika Anissa kembali terikat di kursi, Wewengko mengincar pantat Anissa, ia mengelus bokong mulus si cantik itu dengan perlahan – lahan, merasakan kemulusan pantat yang bulat indah dan putih bersih, walaupun saat ini sudah belepotan cairan sperma dimana – mana.

    “Pelacur.” Ia memandang Anis dengan jijik, “coba katakan pada kami eh, seberapa ingin pantatmu disodomi?”

    Dengan berani pria berkulit gelap itu mencelupkan jemarinya ke mulut sendiri, membasahinya, lalu mengelus bibir anus Anis, membukanya dengan perlahan dan tanpa memberitahu, langsung memasukkan kemaluannya yang keras seperti kayu ke dalam anus Anissa hanya dengan satu sodokan! Anissa melolong kesakitan dan menjerit – jerit.

    “Bagaimana? Kamu bilang apa?” tanya Wewengko lagi.

    Anissa sudah sangat lemah dan pasrah saat ini, dia tidak bisa berbuat banyak dan tidak ingin melawan kecuali menuruti apa yang mereka inginkan. “aku…aku.. mau disodomi.. aku mau dientoti bokongnya.. pantatku…tolong entoti pantatku.. aku akan melakukan apa saja…” kata gadis itu dengan sesunggukan menahan rasa sakit dan perih yang luar biasa di liang belakangnya, air matanya tak pernah kering mengalir.

    “Teman – teman sudah dengar semua?” tanya Wewengko sambil menengok – nengok ke belakang, “pelacur baru ini mau dientotin bokongnya. Bagaimana kalau kita wujudkan saja keinginannya eh?”

    Karena tadi sudah digunakan dan masih basah, Wewengko bisa menyodomi Anissa dengan mudah. Gerakannya ringan dan cepat, membuat tubuh Anissa bergoyang – goyang tak berhenti.

    “Ada yang mau ikut? Masih ada lubang kosong.” Tanya Wewengko pada teman – temannya yang langsung disambut tawa. Posisi Anis yang disetubuhi secara vertikal memang membuat bagian depannya terekspos. Liang cintanya mengundang birahi preman lain.

    Jabrik yang tadi menghancurkan anus Anissa yang akhirnya maju ke depan, ia menarik tangan Anis agar berpelukan padanya sementara tangannya sibuk menempatkan ujung gundul kemaluannya di liang kewanitaan sang dara. Tak butuh waktu lama bagi Jabrik untuk bisa melesakkan penisnya dalam memek Anissa. Tanpa ampun, tanpa malu, keduanya menghukum vagina dan dubur Anissa bersamaan! Gadis itu hanya bisa meringis menahan perasaan tak tergambarkan yang kini dialaminya, dua penis memasuki dan menjajah tubuhnya! Keringat deras membasahi tubuhnya yang telanjang bulat.

    “Kau menyukainya kan? Suka kan? Suka dientoti bersamaan gini?” Wewengko menampar pantat Anissa.

    Anissa menggeram sembari memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi menahan sakit, “I..iyaaa.. aahhhhh!! Iyaaa!! IYAAAAAA!!”

    Gadis cantik yang sedang menjadi bulan – bulanan itu tak bisa berbuat apa – apa selain membiarkan dubur dan vaginanya diperkosa oleh kawanan preman anak buah Pak Bejo, dia hanya bisa merengek minta ampun saat dua penis bergerak bersamaan memperkosanya. Setelah beberapa menit berselang, penis ketiga muncul di depan wajahnya!

    “Aku mau disepong.” Kata Kemal. “Kamu suka nyepong kontol kan?” Ketika Anissa terdiam, Kemal menjadi naik pitam. “Jawab, lonte sialan!! Kamu suka nyepong konyol atau tidak? Jawab!!”

    “Su…..suka,” kata Anissa pelan, kalimatnya bergetar karena ia merasa sangat terhina.

    “Coba katakan begini : ya, saya lonte yang suka nyepong kontol.”

    Anis meneguk ludah, “ya…… saya…… lonte yang su..suka nyepong konyol.” Tubuh Anis bergetar dan terasa menciut saat kawanan preman itu tertawa mendengar kata – katanya.

    Kemal menjebloskan penisnya ke mulut Anissa dengan kantong kemaluan menggantung di dagu sang dara. Kemal di mulut, Wewengko di dubur dan Jabrik di vagina! Kribo bertepuk tangan melihat ketiga liang yang ada di tubuh Anissa dimasuki bersamaan! “Ini yang namanya asyik!” teriaknya puas melihat tontonan hebat, seorang gadis cantik jelita bertubuh indah dan seksi tengah diperkosa oleh tiga preman berwajah buruk rupa secara bersamaan!

    Perkosaan tiga arah ini berlangsung cukup lama, membuat Anissa tersiksa melebihi apa yang ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya yang sudah lemah tergantung tak berdaya seperti boneka yang mudah diombang – ambingkan oleh tiga pria buas yang memperkosanya tanpa ampun. ketika penis Kemal ditarik dari mulut, ia sempat menamparkan batang kemaluan itu di pipi Anis. Entah batang kemaluannya yang keras atau Anissa yang sudah sangat lemah, tamparan itu bisa membuat kepala Anissa bergeleng dari kanan ke kiri.

    Preman yang sedang menamparkan kejantanannya ke wajah si cantik itu meraung, dari ujung gundul kemaluannya ia menyemprotkan mani ke seluruh wajah dan mulut Anis yang masih megap – megap mencari nafas. Semburan demi semburan dituangkan ke wajah cantik gadis itu, sebelum akhirnya iapun luruh dan terengah – engah di pundak sang dara karena puas dan kelelahan.

    “Aku nyerah deh, kalian lanjut.” Kata Kemal pada dua temannya yang masih asyik memasukkan penis ke dalam bokong dan memek sang dara.

    Tapi kedua teman Kribo itu juga tak mampu lagi bertahan lama, setelah beberapa menit memperkosa Anissa dengan brutal, mereka akhirnya mendaki kenikmatan menuju puncak, hampir bersamaan! Tak main – main, semprotan pejuh mereka tanamkan dalam – dalam di anus dan rahim Anissa. Gadis itu sudah tak tahu lagi berapa banyak air mani yang sudah masuk ke dalam rahimnya.

    Anus Anissa terasa panas karena terus menerus dimasuki kemaluan secara bergantian, mereka tidak peduli kotor atau jijik, yang penting bisa menghajar seluruh lubang gadis cantik itu! Anissa terguncang – guncang dan hanya bisa mengembik kesakitan ketika kembali bokongnya menjadi sasaran. Suara yang keluar dari bibir mungil sang dara sangat beragam, mulai dari melenguh lirih hingga menjerit tertahan.

    “Ayo bilang kamu ingin disodomi lagi, lonte sialan!” kata Badu penuh harap.

    “A… aku mau disodomi lagi…”

    “Mana mohonnya?”

    “Mo…mohon saya di..disodomi lagi…”

    “Nah begitu.”

    Kembali Anissa menjerit – jerit saat anusnya diperkosa untuk kesekian kalinya.

    Mereka semua memperkosanya, menggunakannya, membuatnya tersiksa. Semua lubang yang ada di tubuhnya. Semuanya digunakan tanpa terkecuali, tanpa henti, tanpa ampun. Anissa tahu semua lelaki yang ada di ruangan itu sangat menyukai tubuhnya dan gilanya mereka memiliki cara yang berbeda – beda memperlakukannya. Mereka begitu ingin mempermalukan seorang gadis baik – baik yang datang dari keluarga berada yang tidak mungkin mereka dapatkan dengan cara biasa. Mereka memperkosa dan menghancurkan rasa percaya dirinya, menghancurkan semangat dan mentalnya. Tanpa rasa kasihan mereka menyodominya dengan begitu menyakitkan, membuat mengulum penis mereka dan menyemburkan mani dalam kerongkongannya. Sadis, brutal, merendahkan. Mereka menganggap Anis seperti sampah, seperti pelacur yang bisa digunakan semua lubangnya, seperti pelacur yang mau digangbang oleh pria berkasta rendah, seperti pelacur murahan yang hanya perlu dibayar semurah – murahnya.

    Waktu terus berjalan, terus menyayat hati dan nurani Anissa. Tubuhnya yang kelelahan banjir oleh keringat dan cairan cinta yang meleleh dari semua lubangnya. Wajahnya penuh lelehan air mani, rambutnya basah oleh air mani, buah dadanya, selangkangannya, pahanya, kakinya, semua. Ia terus menerus digangbang, depan belakang, atas bawah, mereka silih berganti menggunakan tubuhnya. Ia tidak tahu bagaimana mereka bisa terus menerus mengeluarkan mani dan semangat untuk memperkosanya, ia sudah begitu lemas, lemah dan tak berdaya.

    Tapi mereka terus saja memperkosanya dan memompa air mani ke seluruh tubuhnya, seakan tanpa henti. Tanpa sepengetahuan Anis, mereka semua telah minum obat kuat dan pemacu daya tahan tubuh sehingga mampu berbuat seperti ini.

    Hingga suatu ketika, Kribo adalah yang terakhir memperkosa memek Anissa. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi mengeluarkan cairan cinta, bahkan penisnya sudah sangat terasa panas. Kawan – kawan lain mentertawakan Kribo yang sudah lemas.

    “Payah! Begitu saja letoy!”

    “Apa itu? sudah selesai? Begitu saja?”

    Kribo mengayunkan tangan sambil bercanda dan terkekeh. “Aku sudah lelah. Kalian teruskan saja, aku mau ke tempat bos dulu.”

    “Payah!”

    Kribo kembali terkekeh, ia mengambil celana dan mengenakannya. Preman itu beristirahat sejenak, menenggak bir yang ada di meja dan meninggalkan kawan – kawannya yang masih lanjut mengerumuni Anissa. Preman itu melangkah keluar gudang menuju ruang tengah yang ada di rumah samping. Di sana, duduk di sofa yang ada di tengah ruangan sambil menonton sinetron sambil mengocok penisnya, adalah bandot tua pemimpin kelompok preman itu, Pak Bejo Suharso.

    ###

    Langkah kaki Udin terasa berat. Kepalanya pun pening.

    Menyaksikan apa yang terjadi di dalam gudang membuat hati Udin tersayat pedih, betapa tidak, ia tak menyangka Pak Bejo akan tega memberikan Anissa pada preman – premannya untuk diperlakukan sehina ini. Udin tidak mungkin bisa melawan mereka, dia hanya pemuda tolol yang lemah dan bodoh!

    Udin meneteskan air mata saat ia berjalan meninggalkan gudang, betapa tololnya dia mau terjebak ke dalam permainan para preman ini, betapa malunya dia dulu telah memanfaatkan kelemahan Anissa hanya untuk bisa menidurinya. Dia tak akan pernah bisa meminta maaf padanya, pada gadis yang untuk selamanya akan ia cintai. Bagaimana mungkin dia berhadapan kembali dengan Anis setelah apa yang telah ia lakukan? Ia tak akan pernah bisa menatap mata indahnya lagi dengan jenaka. Ia tak akan sanggup bercanda lagi seperti dulu. Ia telah berubah menjadi pria terkutuk yang tak ada bedanya dengan para preman yang kini tengah memperkosanya tanpa ampun!

    Apa yang membedakannya dengan para begundal itu? Ia sama menjijikkannya! Bukankah ia mengaku mencintai Anissa? Kenapa ia malah pergi? Kenapa ia tak melindunginya? Anis memang bukan perawan lagi, ia sudah kotor, tapi Udin merasa ia jauh lebih kotor. Dia yang seharusnya melindungi dan menyelamatkan, malah menggali nafsu binatang.

    Langkah kaki Udin yang meninggalkan gudang tempat Pak Bejo dan kawan – kawan memperkosa Anis kian terasa berat. Hendak dibawa kemana kaki ini sekarang? Seluruh dunia seperti menatapnya jijik… benar, ia memang menjijikkan. Udin menutup telinga rapat – rapat karena ia tak sanggup mendengar teriakan Anissa yang masih bisa terdengar walau samar.

    Wajah cantik Anis yang berkeringat deras, tubuh telanjangnya yang carut marut diperkosa oleh para lelaki buas, pandangan mata indah yang dulu mempesona kini runtuh dan selalu memohon ampun agar semuanya diakhiri… semua yang terjadi pada Anissa menghantui langkah kaki Udin.

    Ia memejamkan mata, mencoba melupakan, mencoba mencari terang di hati dan pikiran.

    Teriakan itu terdengar lagi…

    Ia tak bisa membantu Anissa. Ia tak bisa…

    Wajah Anissa yang mengajaknya makan siang di kampus terbayang dengan manis dan lembut…

    Ia tak bisa membantu Anissa. Tak bisa…

    Suara mesra Anissa saat memanggil namanya tak akan pernah ia lupakan…

    Anissa… Anissa!

    Batin Udin bergejolak, perasaannya… perasaannya pada Anis…

    Ini semua salah! Semuanya salah! Kenapa ia malah pergi? Kenapa ia justru lari?!! Ada yang harus dia lakukan! Ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Anissa! Ada yang bisa membuatnya kembali menjadi manusia! Batinnya.. perasaannya… semua meyakinkan Udin kalau dia tidak akan pernah sanggup dan tega meninggalkan Anis di dalam sana, menjadi mangsa para pria menjijikkan yang memanen keindahan tubuhnya.

    Ia tidak sanggup.

    Ia tidak boleh seperti ini…

    Ia bukan orang seperti mereka!

    Ia tidak dididik menjadi orang tidak bermoral seperti mereka!

    …demi dewa, apa yang telah dia lakukan? Apa yang telah membuatnya sesat?

    Ia memang telah kotor, tapi ia masih bisa menyelamatkan Anis. Ia masih bisa! Ia yakin masih bisa! Persetan dengan bajingan tengik seperti Pak Bejo dan kawan – kawannya! Udin tahu apa yang terbaik dan yang terbaik adalah menyelamatkan Anissa! Seandainya ini semua membuatnya harus masuk bui, tapi ia tahu mana yang baik dan mana yang buruk!

    Masih ada waktu! Masih ada waktu!

    Udin berlari sekuat tenaga.

    Masih ada waktu!

    ###

    “Halo, Bos? Baru sibuk?” kekeh Kribo yang menangkap basah Pak Bejo bermasturbasi.

    Pak Bejo cuek sembari melanjutkan ‘pekerjaannya’ tanpa merasa risih sedikitpun. “Percayalah, nak. Marsha Timothy ini cewek yang hot sekali. Sekali waktu aku ingin menidurinya. Kebetulan aku ada teman yang bekerja di bidang foto artis di studio Naga Langit, pernah dengar? Dia biasa menjebak artis – artis dengan obat bius di minuman untuk membuat mereka pingsan dan mengambil foto mereka saat telanjang. Setelah itu memaksanya bercinta dengan ancaman akan menyebarkan gambar ke internet, saudara, orang tua dan teman.”

    Kribo menganggukkan kepala setuju saat ia melongok ke TV, Marsha Timothy yang mengenakan kaos ketat dan celana hot pants memang tidak bisa dilewatkan, tapi gadis yang ada di gudang juga tidak kalah hot. “Bos. Sepertinya cewek itu sudah mau pingsan, yakin tidak mau ambil bagian?” tanya Kribo pada Pak Bejo yang awalnya cuek.

    “Gila kalian, aku kira sudah berhenti sejak tadi sore. Sudah berapa jam kalian perkosa dia?”

    “Cukup lama juga, kami tidak menghitung waktunya.”

    “Bagaimana keadaannya?”

    “Sejauh ini masih sadar, tapi dia sudah di ambang batas.” Kata Kribo, “kalau Bos mau pakai, sekarang saatnya. Mumpung cewek itu masih sadar.”

    “Baguuuus!” Pak Bejo memasukkan batang zakarnya ke celana, bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Kribo, ia menepuk bahu anak buahnya itu dengan bangga, “gadis itu komoditi bagus yang bisa dijual kemana saja, jangan biarkan ia sakit, pingsan berlebihan atau mati. Layani dia dengan layak setelah ini, aku tidak ingin punya budak seks yang kurus kering karena kelaparan dan kedinginan. Aku ingin dia tetap seksi dan montok.”

    “Siap, Bos.”

    “Tapi saat ini kontolku juga sudah tidak tahan ingin masuk lagi ke memek sempit lonte sialan itu.”

    Kribo tertawa, “silahkan saja dipakai, bos. Kami semua sudah mencicipi.”

    “Ya… ya… kamu kembalilah dahulu ke gudang, nanti aku susul.”

    “Siap, Bos.”

    Saat kakinya hendak melangkah keluar, Kribo jadi teringat sesuatu.

    “Si Udin kemana, Bos? Kok tidak kelihatan?”

    “Mana aku tahu?! Dia tidak menyusul kalian?

    “Tidak bos, dia tidak kelihatan sejak awal.”

    “Ah, paling – paling dia ke WC. Dia kan pecundang, takut lihat ceweknya kalian perkosa habis – habisan. Sudah, nanti juga dia datang lagi minta jatah. Kamu balik saja ke gudang.”

    “Siap, Bos.”

    Kribo pun melangkah keluar, namun ia beristirahat sebentar di luar gudang. Preman sadis itu sempat menghabiskan sebatang rokok sebelum kembali ke dalam. Semua kawannya duduk bermalas – malasan di dalam, beberapa sudah mulai memakai baju, yang lain sedang membersihkan kemaluan mereka menggunakan pakaian yang diambil dari tas milik Anissa. Beha dan celana dalam menjadi kain pembersih favorit mereka.

    Hampir semua orang yang ada di situ menatap ke arah si cantik yang tak berdaya. Tubuhnya yang sudah carut marut karena diperlakukan dengan kejam masih terikat di kursi, pantatnya masih tersumbat dildo yang masih bergerak karena baterainya tidak dimatikan dan cairan cinta yang bercampur melekat hampir di semua bagian tubuhnya. Entah darimana dildo itu berasal, Kribo tak tahu. Melihat kondisi sang gadis, preman itu sedikit merasa iba melihat seorang wanita bisa diturunkan derajatnya seperti ini.

    Suara erangan yang keluar dari mulut Anissa mengingatkan Kribo sewaktu mereka menggilir mulut mungil Anis dan menyemprotkan air maninya ke wajah si cantik itu. Kini hampir seluruh wajah Anissa tertutup oleh masker mani yang belepotan. Dia hampir tak bisa dikenali. Satu desahan pelan dan lembut keluar dari mulutnya, sedikit terdengar seperti menggelembung karena masih adanya mani yang tersimpan di mulut. Bibir kemaluan Anis kini berwarna merah terang, terbuka dan membengkak dengan cairan cinta meleleh dari semua bagian dan menetes hingga lantai.

    Kribo berjalan mendekat dan memegang rantai anjing yang mengikat leher Anissa. Wajah gadis itu sudah tidak karuan lagi, penuh air mani dan terlihat pucat tanpa nyawa. “Kamu kelihatan cantik, sayang. Beginilah seorang lonte seharusnya terlihat.”

    “Aku menunggu lama untuk bisa melihat seorang lonte diperlakukan seperti ini,” kata Pak Bejo saat ia melangkah masuk ke ruangan, ia melepas celananya, meletakkannya di sebuah meja dan berjalan menuju Anis yang wajahnya berantakan. Kribo menarik rambut Anis agar si cantik itu menengadah melihat Pak Bejo.

    “Sepertinya seseorang baru saja bermain cinta habis – habisan,” goda Pak Bejo tanpa perasaan, “kamu terlihat seperti seekor babi yang baru saja bermain di lumpur, anak manis. Kamu adalah sampah hidup paling kotor yang pernah aku lihat!”

    Anissa tak bergeming, ia memang sudah tak mau dan tak bisa lagi melawan. Ia sudah tidak peduli apa kata dan perbuatan mereka.

    “Lihat apa jadinya kamu sekarang, manis?” gelak Pak Bejo. “Itu akibatnya kalau kamu berusaha lari dariku. Kamu hanya akan menjadi lonte murahan yang diperkosa beramai – ramai oleh orang – orang rendahan seperti anak buahku. Kamu jadi sesosok tubuh tanpa jiwa yang hanya tahu bagaimana ngewe dan membuka kaki lebar – lebar buat jalan masuk kontol! Yang lebih parah lagi aku tahu kamu sangat menyukai hidup seperti ini!”

    Sembari mengoleskan sejumlah besar air mani yang ditumpahkan ke wajah Anissa dengan kemaluannya sendiri, Pak Bejo menggoda gadis muda yang malang itu, “kamu ini kalau makan sering belepotan. Biar aku bantu.”

    Jabrik, Badu dan Kribo semuanya maju untuk melihat.

    Tanpa merasa jijik, dengan menggunakan penisnya yang mengeras seperti kayu layaknya sebuah sekop, Pak Bejo mengumpulkan air mani yang ada di wajah Anissa dan melesakkannya masuk ke dalam mulut mungilnya yang terbuka lebar. Tegukan demi tegukan terdengar saat Anis menelan semua pejuh yang masuk ke mulutnya. Terakhir sekali sembari memegang kepala Anissa, Pak Bejo melesakkan penisnya ke dalam mulutnya.

    Tanpa mempedulikan bagaimana kondisi Anissa, Pak Bejo berpikir dengan santai, dia hidup menyenangkan. Lihat saja saat ini, seorang wanita yang teramat molek dan seksi ada dalam kuasanya, dia bisa melakukan apa saja dengan gadis ini, termasuk mengisi mulutnya dengan penisnya yang gemuk tanpa perlawanan sama sekali.

    Untuk beberapa lama, Pak Bejo memperkosa mulut Anissa sampai ia mencapai puncak kenikmatan. “Buka matamu lebar – lebar, anak manis. Aku ingin melihat matamu yang indah saat aku mengucurkan pejuhku.”

    Anissa membuka matanya perlahan, namun susah sekali karena dia sangat lemah. Anis hanya bisa membuka sebelah matanya.

    “Ini dia!!” raung Pak Bejo sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar saat ia merasakan sendiri luncuran cairan mani melesat dari dalam tubuhnya ke dalam mulut si cantik itu. Sekali lagi, cairan cinta meleleh dari pinggir bibir Anissa, menetes hingga turun hingga ke dagunya.

    “Sudah? Pak Bejo mau apalagi?” bisik Anissa lemah karena kelelahan.

    “Kita akan bersama selamanya, Anissaku yang cantik. Aku akan menggunakan memekmu setiap malam tanpa henti, aku akan membawa serta teman – temanku agar mereka juga bisa memakai semua lubangmu. Intinya, apapun yang aku minta, kau akan lakukan dengan sepenuh hati.” Kata Pak Bejo yang menginginkan agar Anissa menjadi budak seksnya, untuk melakukan apapun yang ia minta, untuk menjadi pelacur seandainya ada orang yang mau membayar.

    Dengan kondisinya yang sudah seperti ini, apa gunanya melawan dan menolak? Anissa sudah terlampau lemah.

    “Anak manis, aku ingin mendengar kau mengulang kata – kata yang tempo hari kau ucapkan saat kita bercinta…” bisik Pak Bejo di telinga Anissa sambil mengarahkan hapenya ke wajah mereka berdua. “…dan jangan lupa tersenyum saat mengatakannya.”

    Anissa yang sudah tak berdaya berusaha untuk membuka mata tapi susah sekali. ia hanya bisa berkata pelan, “A…aku mencintaimu, Pak Bejo.”

    Bejo Suharso, preman dan pemerkosa itu tertawa terbahak – bahak diikuti oleh kawanannya. Tingkah laku mereka mirip serigala yang meraung bersamaan di bawah cahaya bulan penuh yang menerangi langit malam.

    Pak Bejo yang keji puas.

    Ya, dia puas!

    Dia sangat puas!

    ###

    Seperti hari – hari biasa, suasana perpustakaan kampus X sangat tenang siang itu. Sebagian mahasiswa yang berada di sana sibuk mencari bahan untuk kuliah atau skripsi. Satu diantaranya adalah seorang gadis cantik berambut panjang yang diikat ekor kuda. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang berbinar membuat gadis ini gampang dikenali dari kejauhan, apalagi dia juga pernah beberapa kali menghias sampul majalah sebagai model sehingga kecantikannya tidak asing lagi. Beberapa pemuda sengaja masuk ke perpustakaan hanya untuk duduk di dekat si cantik ini.

    Namun wajah itu kini begitu serius, selain mencoba menyalin beberapa bagian keterangan dari buku yang ia baca, ia juga nampak sangat sedih. Satu pikiran menggelayut di benaknya dan terus menganggu tak mengijinkannya berkonsentrasi. Gadis yang sedang membaca itu bernama Aprilia Ussy Indriani, panggilannya Ussy, sahabat Anissa.

    Sebagai seorang sahabat, Ussy benar – benar khawatir dengan keberadaan Anis yang hingga kini masih belum diketahui dimana. Anis nampak begitu berbeda dan aneh akhir – akhir ini sehingga beribu pikiran buruk membuat Ussy gelisah. Terlebih lagi ketika terakhir kali mereka bertemu, Anis juga tidak pernah lagi pulang bersama tunangannya, Dodit. Apa gerangan yang membuat Anis menjadi seperti ini?

    Ussy mendesahkan nafas yang amat panjang, dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi kecuali berharap ada yang menolongnya dengan memberitahukan keberadaan Anis. Keluarga Anis sudah menghubungi pihak yang berwenang sehingga mereka semua hanya bisa berharap. Ada di mana sebenarnya Anissa?

    Saat Ussy menghela nafas untuk yang kedua kalinya, tiba – tiba pintu perpustakaan terbuka lebar dengan kerasnya, mengagetkan semua orang yang ada di dalam. Petugas perpustakaan pun bangkit dari duduknya dan menghardik marah, “siapa itu yang masuk ribut – ribut? Ini perpustaka…”

    Belum selesai kata – kata sang petugas perpustakaan, sesosok tubuh lunglai berlari ke arah Ussy. Semua yang di dalam makin kaget karena mereka mengenal sosok yang sangat kumuh, kotor, berdebu dan berkeringat deras ini, bukankah ini Udin?

    “Cepat… cepat… kita… harus… menolong… menolong… Anis… cepat…” kata Udin dengan suara patah – patah pada Ussy.

    Suasana di sana langsung gempar. Banyak orang yang mengenali Udin dan Ussy mendekat untuk mencari tahu, mereka bertanya – tanya apakah yang sedang terjadi? Kenapa Udin masuk ke perpustakaan dengan cara seperti ini?

    “Apa maksud kamu, Din?” Ussy mengernyitkan dahinya sembari menutup buku yang ia baca. Detak jantung Ussy berdebar dengan kencang. Penampilan Udin kacau balau dan berantakan. Dia juga sangat bau seperti sudah beberapa hari tidak mandi namun justru itu yang membuat Ussy penasaran, dia tahu pasti Anis sudah beberapa hari ini menghilang – kalau Udin tahu sesuatu tentang itu…

    “Anis… dia… Anissa… dia… dia… aku tahu dimana dia…” mulut Udin yang masih megap – megap mencoba mengeluarkan kata yang dia inginkan walaupun seluruh kalimat seperti tercekat di dalam tenggorokannya, terasa berat sekali rasanya berucap. Betapa Udin seperti ingin membatukkan apa yang ada di dada, menumpahkan semua kata. Dia orang jahat, dia orang busuk, dia telah membuat Anis menderita, tapi dia tidak akan membiarkannya lama – lama, dia harus menyelamatkan gadis yang sangat ia cintai itu… “cepat… cepat… selamatkan Anis…”

    Udin ambruk dengan lemas ke lantai, mengagetkan Ussy yang langsung menjerit, mengagetkan semua orang yang ada di sana.

    “Udin? Kamu kenapa, Din? UDIN?!! UDIIIN!??? Tolooong! Toloooong!!”

    Suara panik Ussy menggema di perpustakaan itu.

    ###

    Anissa semakin tenggelam dalam khayal yang dalam, daya pikirnya melemah, tubuhnya sudah tak bisa dikendalikan lagi. Ia merasakan detak jantungnya sendiri melemah dan tarikan nafasnya kian tipis. Ia bahkan tak mampu lagi mengeluarkan suara selain erangan, ia sudah benar – benar tidak kuat lagi bertahan.

    Mungkinkah sebentar lagi ia akan mati?

    Mungkin lebih baik begitu…..

    Tubuhnya yang lemah terbaring tanpa daya di tikar, sementara kelompok preman Pak Bejo beristirahat di sekeliling Anissa, menunggu kembalinya nafsu mereka untuk meneruskan pemerkosaan terhadap gadis malang itu. Mereka duduk dan bercanda sambil bermain kartu, minuman keras dan makanan kecil ditebarkan begitu saja di sekitar gudang.

    “Kalian sudah capek? Aku lagi, ya? Gadis satu itu memang cantik, cuma istirahat sebentar sudah bisa bikin naik lagi.” Pak Bejo tertawa melihat penisnya kembali menegang hanya dengan melihat Anissa yang telanjang terbaring tanpa daya, kawan – kawannya pun tertawa dan mempersilahkan pria tua itu menikmati kembali nikmat liang cinta Anissa.

    Pria tambun berwajah buruk itu berdiri dan melangkah menuju si gadis malang. Baru tiga langkah ia berjalan, tiba – tiba pintu depan dibuka dan cahaya terang lampu senter menyorot wajahnya! Siapa yang membuka pintu? Sejak kapan pintu itu tidak dikunci?

    “Hei! Siapa nih main – main?” teriak Pak Bejo marah.

    Sambil mengejapkan mata, Pak Bejo mencoba melihat siapa yang dengan kurang ajar menyorotkan lampu senter ke arahnya. Pria tua itu makin jengkel karena orang itu hanya berdiri saja di pintu tanpa menjawab, dari sosoknya, orang itu adalah seorang lelaki. Lampu senter yang disorotkan pria itu akhirnya dimatikan dan Pak Bejo bisa melihat siapa sebenarnya yang telah datang. Preman tua itupun terbelalak melihat siapa yang baru saja datang! Ia tak percaya ini! Bagaimana mungkin?!!

    Pak Bejo pucat pasi. Wajah itu… adalah… adalah…

    …Paidi!!

    “Bajingan tengik! Berani – beraninya kau muncul di sini!” maki Pak Bejo marah, ia berbalik meninggalkan Anissa, mengambil sebatang kayu yang ada di lantai dan membawanya untuk menghadapi Paidi. Dia tidak tahu bagaimana Paidi bisa menemukan tempat ini ataupun bagaimana orang itu bisa datang di saat yang tidak tepat, tapi dia berniat mengakhiri kesombongan sang mantan napi itu sekali untuk selamanya! Pria gemuk itu berkacak pinggang menantang Paidi. Bisa apa si kurus kering ini di hadapan Kribo, Yono, Wewengko dan yang lain?! Mereka akan mengeroyoknya sampai mampus! Biar tahu rasa dia!

    Penuh kegeraman, Pak Bejo mengancam. “Bagus kalau kau datang! Kami akan beri kamu pelajaran supaya jangan sok tahu!”

    Badu, Jabrik dan Kribo yang tempo hari dihajar Paidi berdiri di belakang Pak Bejo dengan wajah penuh amarah, mereka juga punya dendam yang harus dibayar lunas!

    Paidi tersenyum sinis, wajahnya tenang dan ia tak mundur selangkah pun menghadapi Pak Bejo dan preman – premannya. Ia justru menyilangkan tangan sembari maju beberapa langkah, sebelum maju Paidi membuka pintu lebih lebar dan dibelakangnya muncul deretan pria – pria kekar yang berwajah garang, jauh lebih garang dari Pak Bejo dan kawanannya! Satu orang masuk, dua orang, tiga orang, empat, lima, enam… berapa sebenarnya jumlah mereka? Susul menyusul orang berwajah kekar masuk ke gudang dan menatap marah kawanan Pak Bejo!

    Ketika orang terakhir masuk, Pak Bejo akhirnya sadar jumlah lawan mereka lebih dari duapuluh orang dan tidak ada yang menatap ramah. Dari ukuran tubuh, kawanan yang dibawa Paidi jauh lebih besar dan kekar dibanding kawanan Pak Bejo.

    Kawanan preman anak buah Pak Bejo yang sebagian masih ada yang telanjang buru – buru memakai celana dan tentu saja sedikit bergidik menghadapi rombongan orang yang datang. Mereka mundur teratur, apa – apaan ini? Siapa mereka? Siapa yang diajak Paidi datang ke sini?

    “Ini kawan – kawanku saat masih di penjara dulu, Pak Bejo.” Kata Paidi tanpa ekspresi. “Kami akan mengambil Anissa kembali dengan atau tanpa persetujuanmu dan mengembalikan gadis itu pada keluarganya. Oh, dan kami tidak akan mengampuni kalian setelah apa yang kalian lakukan terhadap neng Anissa, itu sudah pasti. Kalian tuntas malam ini.”

    Walaupun mendengar namanya disebut, Anissa hanya mengerang tak berdaya saat melihat kedatangan Paidi, ia sudah terlalu lemah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia juga hanya bisa mengerang saat teman – teman Paidi menyerang Pak Bejo sambil mengeluarkan suara nyaring yang nyaris memekakkan telinga. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh disusul jeritan kesakitan yang menyayat. Entah kenapa, suara teriakan minta ampun dari Pak Bejo, Kemal, Yono, Wewengko dan yang lain terdengar menyenangkan bagi gadis itu.

    Paidi mendekati Anissa, melepaskannya dari ikatan dan memberikan jaketnya untuk menutup tubuh telanjang gadis itu.

    “Semua sudah aman… kami datang untuk menyelamatkanmu..” Dengan menggunakan kain handuk kecil, Paidi membersihkan wajah Anissa agar ia bisa lebih mudah bernafas. “Mas Dodit, Bu Alya dan yang lain ada di depan menunggu kita.”

    Anissa hanya bisa mengeluarkan erangan pelan dan meneteskan air mata kembali.

    Kembali Paidi berbisik, “Semua sudah aman sekarang..”

    Anissa memejamkan mata dan tersenyum.

    ###

    Paidi dan Dodit membawa Anissa meninggalkan gudang dan meletakkannya di ruang tengah rumah sebelah dimana terletak sofa panjang. Alya, Lidya dan Ussy langsung menangis melihat kondisi Anissa yang mengenaskan. Mata Anis terbuka tapi pandangannya jauh seperti tak sadarkan diri, nafasnya satu dua dan dari mulutnya hanya keluar erangan yang tak jelas.

    Ussy mengeluarkan tissue dan langsung membersihkan bagian tubuh sahabat karibnya yang kotor dan basah. Dodit, Alya dan Lidya ikut membantu. Tangan Anissa terkulai lemas, wajahnya sayu dengan cairan mani berlumuran di sekujur tubuhnya. Dodit terus menerus menciumi dahi Anis yang telah bersih dan mendekapnya hangat. Ia juga terus berusaha mengajak bicara tunangannya itu tapi Anissa tak menjawab sepatah katapun. Wajah pemuda itu terlihat sangat khawatir.

    Paidi membungkuk untuk memeriksa Anis, ia memeriksa mata, detak jantung dan luka – luka yang mungkin diderita tunangan Dodit itu.

    “Bagaimana dia?” tanya Dodit.

    “Keadaan Neng Anissa cukup parah, kita harus membawanya ke rumah sakit, segera.” Jawab Paidi saat melihat kondisi Anissa yang menyedihkan, “kawanan preman itu memperkosanya tanpa ampun. Seandainya kita terlambat datang, mungkin saja ia bisa mati.”

    “Pak Bejo memang bajingan!” maki Lidya marah.

    Alya segera mengeluarkan kunci mobilnya, “Ini pakai mobilku saja. Akan terlalu lama kalau menunggu mobil ambulance datang, apalagi rumah sakit tidak jauh kalau kamu ngebut. Kami akan baik – baik saja karena orang – orang sialan itu sudah tidak berdaya, apalagi polisi sebentar lagi juga datang. Mas Paidi tolong antar Dodit, Ussy dan Anis ke rumah sakit.”

    “Baik, Bu. Saya akan jemput Bu Alya dan Bu Lidya setelah menurunkan Neng Anissa.” Jawab Paidi.

    Sambil menunggu Anissa diberi pakaian layak dan dipersiapkan menuju rumah sakit, Paidi berlari menghampiri kawan – kawannya yang masih duduk menjaga kawanan Pak Bejo. Semua kawanan Pak Bejo sudah tak berdaya, mengerang kesakitan karena dikeroyok. Mereka terkulai di lantai dengan wajah babak belur bahkan ada yang patah tulang.

    “Aku tidak bisa berjaga berlama – lama, harus mengantarkan Neng Anissa ke rumah sakit. Kalau boleh minta bantuan sekali lagi, aku harap kalian bersedia jaga di sini sampai nanti polisi datang, pastikan tidak ada satu bajingan pun yang lolos.” Kata Paidi.

    “Jangan khawatir. Kamu jaga diri. Begitu polisi datang, kami pergi.” Seorang pria berkulit gelap, berwajah burik dan berusia sekitar empatpuluh tahun menjawab.

    “Terima kasih Mas Wakidi dan yang lain… terima kasih banyak atas bantuan kalian,” kata Paidi. Kawan – kawan Paidi menepuk pundaknya seakan berterima kasih, selama ini, Paidi selalu membantu mereka tanpa pamrih, ini saatnya bagi mereka untuk membalas jasa.

    “Kapan saja butuh bantuan, hubungi kami lagi.” kata orang yang bernama Wakidi. Ketika Paidi hendak beranjak pergi, Wakidi yang kikuk menahan sebentar. “Anu… tapi… aku sebenarnya mau sekalian pamit. Teman – teman yang lain mungkin bisa membantu menjaga orang – orang sialan ini untuk beberapa saat ke depan, tapi kami berenam harus segera pergi karena.. kamu tahu sendiri status kami masih pelarian. Kami tidak bisa bertemu polisi.”

    “Kemana kalian akan pergi?” tanya Paidi lagi sambil melihat lima orang yang berdiri gelisah di belakang Wakidi karena takut polisi akan segera datang. Dia tidak begitu mengenal mereka sebaik Wakidi. Kalau tidak salah nama mereka Rustam, Asep, Bagong… dan ia tidak kenal yang lain.

    “Entahlah, kami berpikir akan pergi ke pantai dan pergi ke pulau lain.”

    Paidi mencabut dompetnya dan menarik secarik kertas bertuliskan nama dan alamat seseorang. “Ini alamat temanku, dia tinggal di pantai dan sudah berjanji akan memberikan kapal gratis untuk aku seandainya aku minta, dulu aku pernah membantunya hingga dia bisa bebas dari penjara. Kalian bisa kesana dan ambil kapal itu.”

    Wakidi mengambil kertas itu dan mengangguk – angguk sambil mengucapkan terima kasih, matanya berkaca – kaca. “aku tidak tahu apa yang bisa kami beri…”

    “Sudah, yang penting kalian semua selamat. Berhati – hatilah, semoga kalian mendapatkan yang terbaik. Jangan lagi berbuat jahat.” Kata Paidi sambil berlari. Ia menengok ke belakang dan tersenyum pada Wakidi, “cuaca laut sedang buruk, hati – hati.”

    Wakidi mengangguk dan tersenyum.

    Dodit dan Paidi segera bergegas membopong Anissa yang sangat lemah ke mobil diikuti oleh Ussy yang datang membantu. Alya dan Lidya hanya bisa melihat dengan pandangan iba, kedua kakak beradik itu berpelukan. Air mata tak berhenti menetes dari pelupuk mata mereka. Kasihan sekali nasib Anissa. Alya tak mengira Pak Bejo bisa sekejam ini.

    Seperempat jam setelah mobil Alya pergi membawa Anis meninggalkan gudang tua, beberapa mobil polisi datang.

    ###

    Raungan sirene polisi mengaung tanpa henti. Masyarakat sekitar yang penasaran apa yang terjadi bergerombol di sekitar gudang tua tempat Pak Bejo menyekap Anissa. Tanpa tahu permasalahannya, satu dua orang warga nekad maju untuk sekedar memukul anggota gang preman yang sedang digiring masuk ke truk satu persatu untuk dibawa ke kantor polisi. Pak Bejo, Jabrik, Badu, Yono, Kemal dan Wewengko semua tertangkap. Hanya Kribo yang tak terlihat, entah dimana dia berada. Sepertinya dia berhasil meloloskan diri.

    Polisi sebenarnya datang terlambat karena anak buah Pak Bejo semua sudah babak belur setelah dihajar teman – teman Paidi. Saat sirene polisi datang, teman – teman Paidi lari dan berpencar karena ada sebagian dari mereka yang hanya bebas bersyarat, kalau sampai tertangkap tangan sedang main hakim sendiri, mereka bisa masuk bui kembali. Saat kawanan Pak Bejo ditangkap polisi, hanya ada sekitar empat belas orang tersisa.

    Pak Bejo digiring terakhir, walaupun sudah tertangkap dan diborgol, sifat arogannya masih terlihat dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

    Dengan darah yang mengucur dari pelipisnya orang tua bejat itu kesulitan menggunakan indera penglihatan, Pak Bejo memicingkan mata untuk melihat dua sosok tubuh yang sepertinya sudah sangat ia kenal dan melihat Alya serta Lidya memandang kearahnya dengan pandangan marah dan jijik. Pria tua yang tangannya sudah diborgol itu malah tertawa. Ia yang sedang digiring beberapa orang polisi masih sempat mendekati Alya dan Lidya, para polisi itu langsung mengencangkan pegangan mereka.

    “Ini belum berakhir… semua belum berakhir… lihat saja nanti… aku pasti kembali…” tawanya yang serak terdengar parau dan tidak nyaman didengarkan. “Kau akan melayaniku lagi.. dengan penuh kepatuhan..” kata Pak Bejo pada Alya, ia melirik ke arah Lidya, “..dan kau bersiaplah menjilati kontolku…”

    Alya menggelengkan kepala. “Tidak. Semua sudah berakhir. Kamu akan membusuk di penjara, bajingan jahanam!”

    Pak Bejo tertawa terbahak – bahak.

    Pak Bejo menundukkan kepala ketika dia digiring ke mobil polisi, beberapa orang yang berkumpul di tempat itu memaki – makinya, beberapa bahkan sempat melayangkan pukulan ke arah kepala dan tubuh Pak Bejo. Wajahnya juga masih berbilur biru karena sempat dihajar Paidi tadi.

    Di kejauhan, dua sosok manusia sama – sama mengepulkan asap rokoknya dengan tenang. Mereka tahu apa yang terjadi dan mereka sebelumnya juga sudah memperingatkan Pak Bejo. Kalau ada apa – apa yang terjadi sekarang, itu jelas di luar tanggung jawab mereka. Mereka juga tidak takut akan diseret oleh Pak Bejo ke pengadilan karena keduanya sudah menyiapkan alibi yang sangat kuat dengan bantuan teman – teman mereka. Kalau Pak Bejo jatuh, dia harus jatuh sendiri. Itu resiko yang sudah dia ambil karena tidak mengikuti anjuran mereka.

    Dua orang itu adalah Imron dan Pak Kobar.

    “Kita pergi sekarang?” tanya Pak Kobar.

    Imron melepas rokok yang ia hisap, dilempar ke tanah dan menginjaknya pelan. Pria buruk muka itu mengangguk dan tersenyum lebar pada Pak Kobar. Dia sudah punya rencana baru untuk membuat kampus menjadi mimpi buruk bagi seorang dosen cantik. “Pak Kobar kenal Bu….”

    Percakapan mereka tak terdengar lagi begitu mereka berbalik dan berjalan menuju kegelapan. Setelah beberapa saat hanya siulan Imron yang terdengar lamat – lamat.

    Keduanya hilang ditelan malam tanpa seorangpun melihat keberadaan mereka.

    ###

    Beberapa minggu kemudian, di tempat lain…

    Dina menguap sambil meletakkan novel yang baru ia baca di atas meja di samping kursi santainya, capek sekali rasanya beberapa hari ini. Apa sebaiknya tidur saja? Besok ada janji dengan seorang klien penting yang harus ia dapatkan kontraknya sehingga ia harus bangun pagi – pagi sekali agar tidak terkena macet di jalan. Mungkin memang lebih baik tidur saja sekarang, apalagi suami dan anak – anak juga sudah terlelap jauh lebih awal dan para pembantu sudah kembali ke kamar masing – masing.

    Sebelum beranjak untuk mematikan lampu, mata Dina terpaku pada surat kabar yang ada di atas meja, tepatnya pada satu berita yang secara tidak sengaja ia baca judul artikelnya. Dina yang risih mengangkat koran dan mulai membaca berita yang menarik minatnya itu.

    “Hari ini, seorang dosen ternama dari Fakultas X Jurusan X Universitas X, sebut saja namanya Dn (xx tahun) ditemukan tewas dirumahnya di kawasan X, pria setengah baya ini diduga keras meninggal dunia karena bunuh diri karena tidak nampak adanya tanda – tanda penganiayaan dan meninggal dengan cara gantung diri. Saat ini polisi masih terus melakukan olah TKP untuk mendapatkan keterangan yang lebih lengkap. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih bersekolah yang pada saat kejadian sedang tidak berada di rumah karena berlibur di Bali. Selain surat wasiat, Dn juga meninggalkan sepucuk surat pendek yang berisi permohonan maaf karena telah menyakiti perasaan sang istri dan mengaku tidak sanggup menahan beban dan dosa lebih lama lagi. Berdasarkan penelusuran ke pihak akademik, almarhum diduga keras terkait dengan skandal joki tes masuk Universitas X yang akhir – akhir ini merebak di media massa dan merugikan para korban hingga ratusan juta rupiah. Pihak universitas konon sudah melayangkan surat resmi pemanggilan pertanggungjawaban kepada almarhum namun sebelum sidang dimulai, Dn sudah melakukan bunuh diri, hal ini makin menguatkan…”

    Dina menggelengkan kepala. Aneh – aneh saja sekarang ini, dosen terkenal kok jadi joki, eeh begitu dipanggil untuk pertanggungjawaban malah bunuh diri. Bukankah itu sama saja mengakui perbuatannya? Lagipula gaji dosen kan besar, kok mau – maunya dia jadi joki yang paling – paling tidak seberapa besar dapat persennya? Udah gitu bunuh diri pula, benar – benar pengecut yang tidak berani melangkahkan kaki menuju masa depan.

    “Mama Dina sudah makan?”

    Terdengar kata – kata lembut dari pintu yang terbuka. Dina tersenyum melihat Dudung membawakan roti tawar yang dioles dengan selai yang sedikit berantakan dan susu karton yang diambil dari lemari pendingin. Dia pikir tadi suaminya sudah tidur, Dina pun segera meletakkan koran yang ia baca.

    “Belum. Mau makan sama – sama?” Dina berbohong, dia tadi sebenarnya sudah makan malam, tapi ia tidak tega menyaksikan Dudung memberinya perhatian berlebih dengan membuatkan roti dan membawakan susu. Dengan gerakan elegan Dina melangkah ke arah Dudung dan mencium bibirnya dengan lembut. “Kita makan sama – sama yuk.”

    Dina menggandeng Dudung yang tersenyum untuk duduk di meja.

    Dina tak peduli lagi seberapa larut malam ini.

    Mereka berdua makan bersama.

    ###



    BAGIAN SEBELAS

    TAMAT
     
  20. lexlee

    lexlee Member

    Diatas adalah penyampaian dari penulis, bro pbinal...

    Sayangnya kita masih harus bersabar... karena pengumuman itu sudah sejak sekitar bulan Sept. 2010 yg lalu, dan sampai saat ini belum ada update lagi...

    Mari kita beri Support untuk bro Pbinal untuk dapat melanjutkan dan menyelesaikan PR-nya...

    PS: Plis, diedit judul seri nya, biar smp ke 11C ... nama ane sih ga perlulah...
     

Share This Page

Something Useful About Us